Apakah multitasking itu berbahaya untuk kesehatan?

image

Multitasking adalah keterampilan dalam mengerjakan beberapa aktivitas atau pekerjaan sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Multitasking kerap dilakukan untuk menghemat waktu. Namun, pada kenyataannya, multitasking sering kali tidak efisien dan bahkan dapat mengganggu kesehatan.

Tak sedikit orang yang beranggapan bahwa mengerjakan beberapa aktivitas atau pekerjaan secara bersamaan akan menghemat waktu dan energi. Padahal, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Multitasking sering kali menghabiskan lebih banyak energi dan mengurangi kualitas pekerjaan.

Apakah kalian sering melakukan multitasking dalam suatu pekerjaan-pekerjaan? bagaimana dampak terhadap kesehatan kalian?

1 Like

Terkadang jika memang dalam keadaan mendesak, dan tidak bisa ditinggalkan, hal yang paling memungkinkan memang multitasking dan akhir-akhir ini saya sering melakukannya karena tuntutan tertentu. Namun, jika memang tidak mendesak saya lebih memilih untuk tidak melakukan hal ini, saya lebih senang bila semua pada porsi nya dan sistem mencicil pekerjaan. Prinsip yang saya gunakan, lakukan yang paling mudah terlebih dahulu, karena kita tidak tahu kedepannya apakah ada tugas baru atau tidak.

Nah, terlebih lagi otak kita tidak didesain untuk menampung beberapa tugas berat dalam waktu bersamaan. Mungkin kita tidak merasa bahwa tugas tersebut berat, namun melakukan bolak-balik pergantian tugas dalam waktu yang cepat dan bersamaan adalah hal yang berat dilakukan oleh otak. Ada lagi alasan mengapa melakukan multitasking tidak baik untuk otak, hal ini tentunya bisa berdampak pada kesehatan mental dan tubuh kita.

Seperti kasus pada peneliti dari University of California Irvine mengukur denyut jantung karyawan yang bekerja dengan atau tanpa akses konstan pada email kantor. Mereka yang konstan mendapat email menunjukkan denyut jantung yang meningkat. Sedangkan, mereka yang tidak secara konstan mengakses email, lebih sedikit melakukan multitasking , dan tingkat stresnya pun lebih rendah.

Berdasarkan pengalaman saya, saya juga masih sering melakukan multitasking dan saya juga tidak menyadari kalau itu termasuk multitasking karena memang sudah kebiasaan. Hal yang sudah saya rasakan dampaknya dari multitasking sepertinya sedikit cemas dan adanya stress. Mungkin karena bobot yang harus ditanggung otak banyak, jadi efeknya menjadi sedikit stress.

Dan ternyata pernyataan ini benar, penelitian menunjukkan multitasking dapat mengganggu kesehatan para pekerja kantoran dan pelajar, dan orang yang sering melakukan multitasking cenderung akan terkena stress dan kecemasan.

Suatu penelitian pada 2007 menemukan bahwa pengetahuan karyawan yang diinterupsi setiap tiga menit oleh email dan gangguan lain akan menurunkan kemampuan mereka secara umum untuk menyelesaikan sesuatu.

Penelitian tersebut memperkirakan bahwa gangguan seperti itu akan merugikan suatu perusahaan dengan 50.000 karyawan sebesar US$1 miliar akibat waktu yang hilang, kreativitas yang menurun, kesalahan dan stres berlebihan.

Summary

bbc.com. (1922, 18 Oktober). Apakah multitasking membuat karyawan menjadi produktif?. Diakses pada 23 Juli 2021, dari https://www.bbc.com/indonesia/vert-cap-38530626

Multitasking diartikan sebagai mengerjakan banyak pekerjaan dalam waktu yang bersamaan atau bahkan berpindah sari satu pekerjaan ke pekerjaan lain atau disebut task switching. Biasanya, multitasking ini dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan mereka sehingga mengharuskan mereka untuk mengerjakannya dalam waktu yang bersamaan untuk mempersingkat waktu dan berharap memiliki hasil kerja yang baik. Contoh dari multitasking ini seperti makan sambil membaca buku, atau mengerjakan tugas ekonomi dengan tugas statistika bisnis. Hasil penelitian menunjukan bahwa terbukti hampir dua decade penelitian menunjukkan hasil negative terhadap job performance individu terkait multitasking. Hasil penelitian lain juga mengungkapkan bahwa orang yang multitask membuang 40% waktu produktif (Sanda, 2018).

Menurutku seseorang akan jauh lebih efektif saat berkonsentrasi dalam mengerjakan satu tugas, sebab jika kita mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus pada waktu yang sama akan sulit untuk bisa fokus, sehingga hal tersebut dapat menurunkan kualitas hasil kerja. Menurut Bartel (2017) dalam Sanda (2018), mengatakan bahwa dengan mengurangi multitasking, organisasi atau industry tidak hanya dapat meningkatkan produktivitas, namun juga memperoleh manfaat dan wawasan yang lebih baik.

Dengan demikian, jelas bahwa multitasking dapat berbahaya bagi kesehatan. Berikut merupakan berbagai dampak yang ditimbulkan dari multitasking terhadap kesehatan:

  1. Memicu strees
    Orang yang sering melakukan multitasking cenderung sering stress dan merasa cemas, karena multitasking dapat membuat hasil pekerjaan menjadi kurang baik kualitasnya atau justru tidak cepat selessai karena terlalu lama menghabiskan waktu untuk mengerjakan pekerjaan sekaligus.

  2. Meningkatkan tekanan darah
    Ketika multitasking, tubuh akan bekerja lebih keras dan mengeluarkan lebih banyak hormone stress yang dapat memicu peningkatan tekanan darah, detak jantung dan rasa cemas.

  3. Mengganggu daya ingat
    Sebuah penelitian menyatakan bahwa multitasking dapat menyebabkan gangguan ingatan, baik ingatan jangka pendek terkait pekerjaan (working memory) atau kemampuan untuk menyimpan dan mengingat informasi untuk jangka waktu panjang.

  4. Menurunkan kreativitas
    Melakukan pekerjaan dengan multitasking menjadikan otak bekerja lebih berat. Sebuah studi menunjukkan bahwa kondisi ini dapat menurunkan kemampuan berpikir kreatif karena kapasitas otak yang sudah penuh.

  5. Meningkatkan resiko terjadinya kecelakaan
    Multitasking dapat menimbulkan bahaya, contohnya ketika berkendara sambil melakukan kegiatan lain seperti menelfon, mengetik pesan singkat sehingga membuat kita tidak bisa focus untuk memperhatikan jalan yang dapat menimbulkan resiko kecelakaan.

Sumber

Sanda, Veronica Dwi. 2018. Hubungan Antara Multitasking dengan Job Perfomance. Skripsi. Fakultas Psikologi: Universitas Muhamadiyah Malang.

Ini Buktinya Multitasking Tidak Efisien dan Mengganggu Kesehatan - Alodokter

Tentunya aku pernah melakukan multi-tasking saat kuliah. Mengerjakan dua hal atau bahkan lebih secara bersamaan pastinya gak gampang untuk dilakukan, terlebih lagi fokus kita terbagi-bagi. Yang aku rasain ketika itu adalah capek, stress, cemas, dan berharap agar satu per satu perkenjaanku cepet selsai. Alhasil, hasil pekerjaan aku juga gak maksimal. Jadi menurut aku, selain ganggu kesehatan, multi-tasking juga dapat mempengaruhi output pekerjaan kita.

Ada beberapa hal yang dapat memengaruhi tubuh dan otak Anda saat melakukan multitasking . Jadi, berhati-hatilah. Berikut beberapa bahaya multitasking yang dapat timbul:

  1. Menurunkan Produktivitas

Bukannya meningkatkan produktivitas Anda, dampak multitasking justru menurunkan produktivitas. Mengerjakan beberapa tugas secara bersamaan akan membuat fokus terpecah.

Hal tersebut akan membuat Anda membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikannya. Karena itulah pekerjaan Anda tidak dapat selesai tepat waktu.

  1. Mengurangi Daya Ingat

Dalam studi yang dipublikasikan di PubMed, salah satu dampak multitasking disebut-sebut dapat menurunkan kemampuan otak untuk menyimpan informasi di saat melakukannya.

Selain itu, efek multitasking lainnya adalah berpotensi menurunkan kemampuan menyimpan atau mengingat memori jangka panjang.

  1. Rentan Kehilangan Fokus

Salah satu efek kerja multitasking adalah rentannya kehilangan fokus. Orang yang sering melakukan lebih dari satu tugas atau kegiatan dalam satu waktu, lebih gampang teralihkan perhatiannya atau kehilangan fokus.

Bahkan, para peneliti menjelaskan bahwa dengan semakin sering kehilangan fokus, maka para multitaskers akan kesulitan membedakan mana interupsi yang penting dan tidak penting.

Studi lain membandingkan antara pelaku multitasking yang mengerjakan hal berat serta ringan. Hasilnya, multitasker yang mengerjakan hal berat tampil buruk dalam tes kemampuan pengalihan tugas. Penyebabnya adalah mereka menghadapi kesulitan yang lebih besar dan membutuhkan pusat perhatian berlebih pada satu objek.

  1. Meningkatkan Stres

Peneliti dari University of California, Irvine, menemukan bahwa orang yang bekerja multitasking cenderung memiliki detak jantung yang lebih tinggi dan tingkat stres yang tinggi dibandingkan mereka yang tidak. Hal ini disebabkan oleh menumpuknya informasi yang sulit dicerna oleh otak.

Lalu, semakin banyak kegiatan multitasking , maka semakin banyak pula beban pikiran dalam otak. Dalam jangka panjang, mereka yang pikirannya terbebani akan menderita depresi, rasa cemas berlebih, penyakit kronis, penyalahgunaan obat, dan lain-lain.

  1. Kehilangan Momen

Dampak lain dari bekerja multitasking adalah Anda akan melewatkan berbagai momen di dalam kehidupan. Pasalnya, saat Anda melakukan dua kegiatan ataupun pekerjaan di saat bersamaan, fokus Anda akan teralihkan pada dua hal tersebut.

Jangan Dibiasakan! Ini Dampak Buruk Kerja Multitasking.

Mengenai multitasking, saya setuju dengan opini Gita Savitri pada lama youtube-nya yang membahas tentang ini. Kesimpulan yang dikemukakannya adalah bahwa fokus pada satu tugas akan lebih baik daripada mengerjakan beberapa hal sekaligus.

Berdasarkan pengalaman saya, jika mengerjakan satu hal major dan satu hal minor (misalnya setrika baju sambil mendengarkan podcast) maka multitasking masih dapat dilakukan. Tetapi jika yang dikerjakan adalah lebih dari satu major, maka seringkali semua hal tersebut tidak berakhir optimal.

Menurut alodokter, multitasking dianggap tidak efisien, karena dapat menganggu kesehatan. mungkin saat kita lihat bahwa dengan multitasking maka pekerjaan dapat dilakukan secara bersamaan. Namun ternyata multitasking juga menimbulkan resiko buruk lainnya.

Beberapa contoh dari pekerjaan multitasking ini yaitu :

  1. Makan sambil memainkan handphone
  2. Membalas pesan singkat sambil berkendara
  3. Memasak sambil menonton TV

Adapun resiko buruk yang dapat disebabkan karena sering melakukan pekerjaan multitasking tersebut, yaitu :
- Multitasking Memicu Penurunan Produktivitas Kerja
Saat sedang melakukan multitasking otak berusha keras untuk fokus dan berkonsentrasi agar pekerjaan segera cepat diselesaikan, sehingga otak mudah kehilangan energinya yang menyebabkan otak menjadi sangat mudah lelah.

  • Berakibat Buruk Untuk Diri Sendiri
    Akbat buruk lainnya yang dapat berdampak pada kesehatan diri sendiri, yaitu :
  1. Memicu Timbulnya Stres
    Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa kebiasaan melakukan pekerjaan ganda secara bersamaan dapat mengganggu kesehatan mental pada seseorang dan cenderung menjadi cemas dan stres.

  2. Tekanan Darah Meningkat
    saat melakukan multitasking, maka tubuh akan bekerja lebih ekstra dan mengeluarkan hormon stres. Sehingga memicu adanya peningkatan tekanan darah, jantung dan rasa cemas.

  3. Terganggunya Daya Ingat
    Penelitian mengungkapkan bahwa multitasking dapat menyebabkan gangguan ingatan baik dalam jangka waktu yang singkat maupun jangka yang panjang.

  4. Menurunnya Daya Kreativitas
    Sebuah studi menunjukkan bahwa kondisi ini dapat menurunkan kapasitas otak dalam berfikir kreatif karena otak sudah penuh oleh pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan. sehingga otak kurang optimal dalam bekerja.

  5. Resiko Terjadinya Kecelakaan
    Contohnya saat sedang memainkan gawai saat sedang berjalan keluar rumah, saat otak hanya fokus pada gawai maka tingkat kewaspadaan memperhatikan jalanan menjadi berkurang. Yang menyebabkan potensi terjadinya kecelakaan kaena kurang berhati-hati menghindari kecelakaan tersebut.

Menurut saya pribadi, terkadang seseorang tidak menyadari bahwa pekerjaan yang termasuk pada hal-hal kecil multitasking seperti makan sambil memainkan hp juga dapat memicu dampak yang buruk, bahkan seperti saya pun masih suka mengabaikan dan tetap melakukannya beberapa kali. Saya menyadari bahwa memang multitasking dapat memicu stres dan rasa tingkat cemas saya menjadi meningkat. Bukannya pekerjaan dapat diselesaikan sekaligus hal ini malah membuat otak saya menjadi mudah lelah. Oleh karena itu, saya setuju bahwa multitasking berbahaya bagi kesehatan terlebih jika tidak disadari secepatnya. Maka segera mengatur pola kerja yang lebih baik dan terstruktur kembali.