Apakah Menjadi Polyglot itu Sulit atau Sebaliknya?

Polyglot adalah sebutan untuk orang - orang yang bisa menguasai lebih dari dua bahasa. Banyak orang - orang di dunia ini yang memiliki kemampuan menjadi seorang polyglot termasuk banyak sekali contohnya di Indonesia misalnya seperti K.H Agus Salim, mantan Menlu Indonesia dan Diplomat ulung di era Kemerdekaan Indonesia yang menguasai setidaknya 8 bahasa seperti bahasa Inggris, Arab, Prancis, dan Belanda. Lalu ada juga tokoh dunia seperti Emil Krebs yang dikenal sebagai seorang hyper-polyglot karena menguasai setidanya 68 bahasa yang ada dunia.

Lalu beberapa pesohor dunia seperti misalnya artis dan pemain sepak bola dunia terkenal seperti Romelu Lukaku dan Kevin De Bruyne juga ternyata merupakan seorang polygot yang menguasai setidaknya 7 sampai 8 bahasa. Jika melihat orang - orang dengan kemampuan berbicara dengan berbagai bahasa seperti itu tentunya mengundang decak kagum dalam diri kita. bagaimana bisa mereka dapat menguasai bahasa- bahasa yang sekian banyak itu sementara kebanyak dari kita mungkin hanya menguasa bahasa ibu dan bahasa inggris saja.

Nah menurut youdics sekalian, menjadi polyglot itu sulit atau mudah ?

Susaaah ahahahaha :rofl:
Berbahasa adalah kemampuan, karena dikatakan sebuah kemampuan, berarti posisi bahasa disini bisa dipelajari seperti bidang ilmu lainnya (bermusik, bernyanyi dll). Nah menurutku, mereka yang bisa menguasai lebih dari 2 bahasa tidak terlepas dari kemudahan akses untuk dapat menguasainya, at least no worries about money untuk kursus bahasa. Pun juga denganku yang mengatakan sulit, karena yang terjadi padaku adalah sebaliknya. Memang benar jika belajar bahasa asing tidak melulu atau tidak harus ikut kelas bahasa atau kursus, tetapi setiap orang pasti memiliki gaya belajarnya masing-masing, khusus belajar bahasa asing, aku lebih suka jika memiliki seorang mentor, karena ada yang bisa membimbing, menguji, dan memotivasi untuk terus upgrade kemampuan bahasa. Aku pernah mencoba untuk belajar sendiri, tetapi nyatanya aku tetap merasa kesulitan, karena tidak ada yang mengevaluasi belajarku, jadi aku gatau kemampuanku udah sampe stage mana. Tetapi pernyataanku ini murni pengalaman pribadi, aku sendiri masih merasa sulit untuk mempelajari bahasa. Kesimpulannya, menguasai banyak bahasa sangat mungkin, cukup dengan niat, banyak belajar dan berlatih. Namun untuk sampai ke taraf poliglot yang mampu menguasai belasan bahasa, dibutuhkan lebih dari sekadar kerja keras.

Menurut aku susah.
Memahami bahasa inggris aja butuh perjuangan, butuh stress untuk grammar nya padahal sejak sd sudah diajarkan pendidikan bahasa inggris.
Kemudian memahami bahasa korea yang di dapat dengan menonton drama korea, cukup sulit karena dengan pelafalan nya yang berbeda baik itu dengan mother tongue ataupun foreign language (as usual english)

tapi jika memang bertekad menjadi polyglot seperti fiki naki mungkin kalian bisa melakukannya, tekad + ambisi yang ga luntur = menghasilkan dirimu menjadi apa yang kamu mau.

Menurutku untuk menjadi polyglot susah namun sangat menyenangkan. Selain bahasa inggris aku juga sedang mempelajari dua bahasa asing lainnya, jadi ketika aku mempelajari bahasa asing tersebut hal yang aku rasa adalah susah dan senang. Susah karena ilmu bahasa itu luas, tidak melulu soal vocabs yang harus diperkaya namun tata bahasanya juga harus dipelajari, selain itu aku yakin semua bahasa juga ada yang formal dan informal, kita harus benar-benar bisa membedakan hal penting tersebut agar kita tidak salah berbicara. Menyenangkan karena setiap aku mempelajari bahas baru, aku merasa mendapat ilmu baru, budaya baru dan pengalaman yang baru, sehingga aku sama sekali tidak merasa rugi ketika aku membuang waktuku untuk mempelajari bahasa baru yang nantinya bisa menjadi kemampuan

Bagi orang yang memiliki kecerdasan linguistik mungkin akan jauh lebih mudah. Sebaliknya, bagi orang yang memiliki kecerdasan selain lingustik mungkin akan sedikit lebih sulit. Orang dengan kecerdasan linguistik akan lebih mudah memahami dan menerapkan aspek-aspek kebahasaan yang baru saja dipelajarinya. Dilansir dari Tirto.id, terdapat perbedaan antara struktur otak manusia yang cepat mempelajari bahasa dengan yang tidak. Kepadatan area putih atau white matter (WM) di Heschl’s gyrus (HG) lebih tinggi pada otak pembelajar cepat, yang mana berperan penting dalam proses masuknya informasi ke otak secara efisien. Tak hanya itu, volume WM juga ditemukan lebih besar di HG sebelah kiri. Heschl’s gyrus dalam hal ini merupakan girus yang terletak di area korteks pendengaran dan tertimbun sulcus lateralis.
Namun, bukan berarti orang yang tidak memiliki kecerdasan linguistik tidak bisa menjadi poliglot. Tentu saja bisa, asalkan ia memiliki motivasi dan konsistensi yang tinggi.

Informasi detailnya dapat kamu baca di sini:

Perbedaan Struktur Otak Poliglot, si Penguasa Banyak Bahasa

Multilingual atau Polyglot merupakan suatu fenomena yang didefiniskan bahwa seseorang memiliki mampu dan memakai dua atau lebih bahasa dalam membangun interaksi sosial yang berbeda. Dalam beberapa keadaan, manusia dituntut untuk menggunakan beberapa bahasa, terutama saat dihadapkan pada kehidupan komunitas masyarakat yang majemuk dengan mobilitas penduduknya yang tinggi sehingga menuntut untuk berkomunikasi dengan masyarakat pengguna bahasa-bahasa yang berbeda.

Lalu apakah pemenuhan untuk menjadi seseorang yang multilingual itu sulit? Menurut saya adalah tidak. Masyarakat Indonesia mayoritas adalah bilingual dan tidak menutup kemungkinan untuk menjadi polyglot. Layaknya belajar bahasa Indonesia atau bahasa daerah, belajar bahasa asing sebenarnya bukan sesuatu yang sulit. Satu syarat yang harus anda penuhi adalah waktu. Untuk faktor biaya menurut saya tidak terlalu krusial untuk diperhatikan.

Yang saya amati, bahwa apa yang menjadikan belajar bahasa itu sulit adalah karena kita tidak memprioritaskan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa tersebut. Waktu kita sudah banyak dihabiskan untuk melakukan aktivitas yang lain sehingga seringkali belajar bahasa ‘hanya’ dijadikan aktivitas mengisi kekosongan. Selain itu, faktor lingkunagn sekitar juga bermain penting di sini. Seperti saat kita merantau ke daerah lain sehingga dituntut untuk menguasai bahasa setempat, belajar bahasa asing juga seharusnya didukung dengan komunitas sosial di sekitarnya.

Apakah menjadi polyglot itu sulit atau sebaliknya? Tidak sulit yaa.

Referensi

Rifa’i, A. M. (2021). Multilingual dan Perkembangannya Dalam Perspektif Pendidikan. 14 (2): 147-156.

Menurutku sulit atau tidaknya menjadi seorang polyglot tergantung pada invidu masing-masing. Jika individu tersebut telah memiliki kecerdasan linguistik maka akan menjadi lebih mudah. Pun jika individu tersebut tidak dianugrahi kecerdasan linguistik, asalkan niat belajar dan motivasinya kuat, aku rasa akan mudah saja jalannya. Mungkin memang beberapa halangan akan ditemui, seperti perbedaan struktur bahasa yang berbeda dan lain sebagainya, tapi kembali lagi, mudah tidaknya, tergantung individu masing-masing.

Untuk sebagian orang, saya rasa jawabannya adalah sulit. Namun sebenarnya tidak juga karena sebenarnya, di sekitar kita ada banyak sekali polyglot. Barangkali kalian hanya belum menyadarinya saja.

Merujuk pada definisi yang disajikan, orang yang mampu menguasai lebih dari dua bahasa adalah polyglot. Kalau begitu trilingual juga termasuk polyglot. Coba lihat di sekeliling kita, sebenarnya ada banyak orang yang menguasai tiga bahasa sekaligus. Mungkin saja itu adalah orang tuamu, temanmu, kakek nenekmu, atau tetanggamu. Mungkin banyak dari mereka yang menguasai Bahasa Indonesia, Inggris dan Jawa. Mungkin ada yang Indonesia-Inggris-Sunda, Indonesia-Inggris-Mandarin, Indonesia-Inggris-Arab. Mungkin masih ada generasi tua yang fasih berbahasa Indonesia-Jawa-Belanda. Dan masih banyak lagi kombinasi lain.

Sebuah fakta menarik bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi trilingual terbesar di dunia. Survei dari SwiftKey menunjukkan bahwa 17.4% penduduk negeri kita adalah trilingual, disusul oleh Israel di peringkat dua (11.4%) dan Spanyol (10.4%). Kombinasi paling umum dari trilingual Indonesia adalah Indonesia-Inggris-Jawa. Saya rasa format trilingual di Indonesia kebanyakan akan seperti ini: Indonesia-Inggris-Bahasa Daerah, hanya kebetulan bahasa Jawa yang paling banyak.

Jadi, bisa dikatakan bahwa 17.4% penduduk Indonesia adalah polyglot, jika merujuk pada definisi diatas. Tidaklah mengherankan karena orang Indonesia memang sudah diajarkan dua bahasa di sekolah, yaitu Inggris dan Indonesia. Plus, bahasa daerahnya masing-masing jika mereka masih menggunakannya. Ada tiga, kan?

Nah kembali lagi ke pertanyaan, apakah menjadi polyglot itu sulit? Jika 17.4% orang Indonesia bisa melakukannya, dan mereka ada di sekitarmu, saya rasa hal itu bukanlah sesuatu yang amat sukar.

Referensi

Admin. (2015). Report: Indonesia is the Most Trilingual Country in the World!. Diambil dari Report: Indonesia is the most trilingual country in the world! | Coconuts Jakarta

Admin. (2021). Indonesia Ranks as the Top Trilingual Country in the World. Diambil dari Indonesia Ranks As The Top Trilingual Country In The World | WowShack