Apakah Kita Bisa Menjelajahi Waktu (Time Travel)?

Penjelajah waktu sudah ada di antara kita. Berkat teori Einstein relativitas Einstein, astronot yang mengorbit di Stasiun Antariksa Internasional mengalami perubahan waktu yang lebih lambat. Pada kecepatan itu efeknya sangat kecil, tapi kecepatan dan efeknya memungkinkan manusia melakukan perjalanan ribuan tahun ke masa lalu, namun beberapa fisikawan telah merangkai sebuah cara rumit untuk melakukannya dengan menggunakan Black Hole dan pesawat ruang angkasa.

Para ahli fisika menuturkan bahwa secara teori, mesin waktu tidak mustahil dibuat. Hal ini didasarkan pada teori Albert Einstein tentang ruang-waktu. Lantas bagaimana caranya? Salah satunya adalah mempertemukan dua titik pada dimensi ruang-waktu dengan menggunakan wormhole.

Jika mesin waktu memang bisa diproduksi oleh manusia, benda tersebut harus mampu membuat wormhole dan mengontrolnya sedemikian rupa agar dapat mewujudkan perjalanan lintas waktu. Berdasarkan teori relativitas Einstein dan penelitiannya bersama Nathan Rosen, ia memperkirakan kalau wormhole adalah sebuah jembatan sempit yang dinamakan Einstein-Rosen bridge.

Jalan pintas antara dua tempat berbeda hanya muncul selama sepersekian detik dan kemudian akan hilang. Untuk menggunakan wormhole sebagai mesin waktu, kita butuh energi untuk menahannya supaya tetap terbuka. Energi tersebut berupa negative energy (energi negatif) sesuatu yang sangat langka dan sulit dibuat. Energi negatif yang diperlukan juga sangatlah banyak dibutuhkan energi hampir sebesar planet Jupiter untuk membuka wormhole seluas 1 m. Namun, para ilmuwan belum tahu cara memproduksi wormhole. Hingga saat ini pun keberadaan wormhole masih sebatas hipotesis; mereka masih belum dapat membuktikan eksistensi wormhole secara empiris.

Bagaimanapun, wormhole bukanlah satu-satunya dasar ilmiah dalam perjalanan lintas waktu. Dasar lain yang dapat digunakan adalah kecepatan cahaya. Waktu bergantung pada kecepatan objek yang mengalaminya. Semakin cepat kita bergerak, semakin lambat waktu (relatif terhadap acuan objek lain yang bergerak lambat). Ketika kita bergerak sama cepat dengan kecepatan cahaya, waktu akan terhenti menurut acuan tersebut. Ketika kita kemudian bergerak lebih cepat daripada cahaya, mungkin saja kita bisa menjelajahi waktu.

Sumber: