Apakah Keadaan Kedelai di Indonesia Baik-Baik Saja?

Kedelai merupakan salah satu tanaman polong-polongan sebagai bahan dasar makanan, seperti kecap, tempe, dan tahu juga produk-produk lain yang merupakan makanan populer dan menjadi menu keseharian masyarakat Indonesia. Di Indonesia, kedelai yang dibudidayakan setidaknya terdiri dari 2 spesies, yaitu kedelai putih (Glycine max) dan kedelai hitam (Glycine soja). Sebagai bahan pangan nasional, kebutuhan kedelai akan terus meningkat dengan pertambahan penduduk dan peningkatan pendapatan masyarakat. Tingginya tingkat konsumsi masyarakat akan produk berbahan kedelai telah berpengaruh pada stabilitas komoditas ini. Lantas, apakah kondisi kedelai di Indonesia baik-baik saja?

Referensi

Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. (2004). Profil kedelai (Glycine max). Buku 1. Direktorat Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian. Departemen Pertanian. Jakarta.

Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan yang bisa diolah menjadi beberapa produk, baik produk konsumsi maupun sebagai sumber energi. Oleh karena kegunaannya ini, kedelai sangat terkenal di berbagai negara. Kedelai putih maupun kedelai hitam akrab kita jumpai di sekitar kita. Keduanya memiliki rasa, tekstur, dan warna anggota dalam biji tetap sama. Perbedaan mencolok hanya pada warna kulitnya saja, dan kedelai hitam terbatas digunakan pada pembuatan kecap dan saus kedelai hitam.

Namun, karena konsumsi kedelai ini meningkat sedangkan produksi nasional cenderung menurun sehingga kurang mampu mencukupi pasokan dalam negeri. Ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi kedelai nasional menyebabkan impor kedelai yang cukup besar setiap tahunnya.

Kondisi laju produksi dan konsumsi kedelai di Indonesia

Laju produksi

Kebutuhan kedelai setiap tahunnya mencapai 1,8 juta ton dan bungkil kedelai 1,1 juta ton. Kebutuhan tersebut setiap tahunnya cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan berkembangnya pabrik pakan ternak. Sentra produksi kedelai di Indonesia menyebar di 6 provinsi, diurut berdasarkan yang tertinggi produksi kedelainya adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat.
image
Data BPS dan FAO menunjukkan bahwa puncak produksi kedelai (1,87 juta ton) dicapai pada tahun 1992 dengan luas panen 1,67 juta ha, sedangkan produksi kedelai terendah terjadi pada tahun 2007, yaitu hanya 0,59 juta ton dengan luas panen 0,46 juta ha. Produksi kedelai nasional menurun dalam periode 2000–2014, yaitu dari 1.017.634 ton (2000) menjadi 953.956 ton (2014) dengan laju sekitar 0,45 persen/tahun dan sedikit naik menjadi 963.183 ton pada tahun 2015.

Keadaan ini menggambarkan bahwa pengembangan kedelai tidak mendapat perhatian yang cukup dari pihak terkait; pemerintah, pengusaha dan petani. Rata-rata produktivitas kedelai masih rendah yakni tertinggi sekitar 15,68 kuintal/ ha/panen pada tahun 2015. Dengan tingkat produktivitas yang relatif rendah ini, maka untuk memenuhi kebutuhan saat ini (sekitar 2,5 juta ton) diperlukan luas panen sekitar 1,7 juta ha setiap tahunnya. Padahal luas panen cenderung fluktuatif dan menurun dari 824.484 ha (2000) menjadi 615.019 ha (2014) kemudian turun menjadi 614.095 ha (2015). Artinya, luasan yang sekarang ada masih perlu digandakan setidaknya dua kali lipat.

Laju konsumsi

Produksi kedelai di dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 65,61% konsumsi domestik (FAO, 2013). Kebutuhan kedelai dalam negeri sebesar 35% dipenuhi dari kedelai impor dengan laju peningkatan impor rata-rata mencapai 0,05% per tahun (Departemen Pertanian, 2008). Hampir 90% kedelai di Indonesia dikonsumsi dalam bentuk pangan olahan, seperti tahu, tempe, kecap, tauco, dan berbagai bentuk makanan ringan (snack). Berkembangnya teknologi pengolahan pangan telah memicu berkembang pesatnya industri pangan berbahan baku kedelai.
Sebaran pola pemanfaatan kedelai di Indonesia:
image

  1. Data BPS menunjukkan bahwa selama periode 2003–2013 sekitar 86% kedelai Indonesia dikonsumsi dalam bentuk pangan, terutama dalam bentuk tahu dan tempe. Bahkan Soetrisno (2010) mengungkapkan bahwa sekitar 91% kedelai Indonesia dijadikan bahan baku tahu dan tempe.
  2. Data BPS maupun data FAO menunjukkan bahwa tidak ada kedelai Indonesia yang digunakan untuk cadangan nasional (stock) dan hanya 0,35% digunakan untuk pakan (feed). Bungkil kedelai digunakan terutama sebagai sumber protein dalam pakan unggas (pedaging dan petelur), sapi (daging dan susu) dan babi.
  3. Penggunaan kedelai untuk reekspor sangat kecil, yaitu hanya 0,04%, sedangkan untuk benih sekitar 1,29%.
  4. Volume kedelai yang tercecer (waste) mencapai sekitar 5%.

Polemik impor kedelai di Indonesia

Konsumsi kedelai yang meningkat tidak diikuti dengan produksi sehingga ada gap atau kesenjangan. Salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi kebutuhan kedelai yang eksponensial tersebut adalah dengan melakukan impor kedelai. Pada tahun 2013/2014 yang lalu, total impor biji kedelai diperkirakan mencapai 2,1 juta ton, 70 persen di antaranya dari Amerika Serikat. Indonesia mengimpor bungkil kedelai mencapai 4,3 juta ton pada tahun 2014 dan impor minyak kedelai mencapai 25.000 ton pada tahun 2014.

Iklim yang tidak pasti dapat menyebabkan instabilitas dalam produksi pangan dan berpotensi menimbulkan kenaikan kualitas pangan ke depan. Kondisi ketersediaan kedelai dapat dilihat di pasar internasional. Apabila Indonesia tergantung oleh kedelai impor, maka hal tersebut tidak menguntungkan bagi Indonesia. Ketersediaan kedelai di pasar internasional yang fluktuatif akan mempengaruhi harga kedelai di pasar domestik dan juga akan berdampak pada ketersediaan kedelai di Indonesia.

Gejolak komoditas kedelai di Indonesia

  1. Peningkatan konsumsi produk industri rumahan (tahu, tempe), yang mana jenis makanan ini semakin populer digunakan sebagai substitusi untuk produk hewani pada beberapa kondisi (Departemen Pertanian, 2006 dan 2007).
  2. Peningkatan konsumsi kedelai tidak diimbangi oleh gairah petani dalam budidaya kedelai karena masih rendahnya tingkat produktivitas dan keuntungan usahatani kedelai dibanding komoditas lain seperti padi dan jagung, sehingga petani kurang berminat menanam kedelai dan berpindah ke usahatani tanaman lain yang lebih menguntungkan (Suyamto dan Widiarta, 2010).
  3. Tidak adanya regulasi yang menjamin harga di tingkat petani. Akibatnya, harga kedelai menjadi tidak menentu dan petani mengalihkan ke tanaman lainnya.
  4. Semenjak Bulog tidak lagi menjadi importir tunggal, mudahnya importir swasta mengimpor kedelai, menyebabkan volume impor kedelai cenderung meningkat karena harga kedelai di pasar internasional lebih murah. Data FAO menunjukkan bahwa selama periode 2002-2011 rasio harga kedelai impor (CIF) terhadap harga produsen kedelai lokal rata-rata 0,67. Dengan kata lain harga kedelai lokal di tingkat produsen rata-rata 1,5 kali lebih mahal daripada harga kedelai impor (CIF), sehingga kedelai lokal tidak mampu bersaing dengan kedelai impor.
    image
  5. Fluktuasi harga yang terus terjadi sepanjang tahun yang menyebabkan ketidakpastian dalam industri pengolah kedelai nasional sehingga berpengaruh terhadap industri hilir dan konsumen.
Referensi

Badan Pusat Statistik. 2004–2014. Neraca Bahan Makanan. Kerja sama Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian dengan BPS. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Bantacut, Tajuddin. (2017). Pengembangan Kedelai untuk Kemandirian Pangan, Energi, Industri, dan Ekonomi. Jurnal Pangan. 26 (1): 81-96.
Departemen Pertanian. 2006. Program dan Kegiatan Departemen Pertanian Tahun 2007. Jakarta: Departemen Pertanian. http://www.deptan.go.id/renbangtan/Progkegdeptan2007.pdf.
Departemen Pertanian. 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kedelai, Edisi Kedua. Jakarta: Badan Litbang Pertanian. http://www.litbang. deptan.go.id/special/publikasi/doc_tanamanpangan/ kedelai/kedelai-bagian-a.pdf.
Departemen Pertanian. 2008. Mutu Kedelai Nasional Lebih Baik dari Kedelai Impor [Siaran Pers]. Jakarta: Badan Litbang Pertanian. http://pustaka.litbang.deptan.go.id/ bppi/lengkap/sp1202081.pdf.
Nuhung, Iskandar A. (2013). Kedelai dan Politik Pangan. Forum Penelitian Agro Ekonomi. 31 (2): 123-135.
Suyamto dan IN. Widiarta. (2010). Kebijakan Pengembangan Kedelai Nasional. hlm. 37– 50. Dalam: Prosiding Simposium dan Pameran Teknologi Aplikasi Isotop dan Radiasi. Jakarta, 27–28 Oktober.
Swastika. (2015). Kinerja Produksi dan Konsumsi serta Prospek Pencapaian Swasembada Kedelai di Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi. 33 (2): 149-160.
Thakur M, Hurburgh CR. (2007). Quality of US Soybean Meal Compared to the Quality of Soybean Meal from other Origins. J. Am. Oil Chem. Soc. 84: 835–843.