Apakah Instagram membuat Orang terlalu Memikirkan Citra Dirinya Berlebihan?

Saya adalah pengguna Instagram yang cukup aktif beberapa bulan yang lalu, namun saya sadar saya sangat kecanduan Instagram, hal yang berhubungan Dengan Instagram membuat saya berpikir berlebihan, mulai dari follower saya, post yang teman saya bagikan sampai story dari teman yang membuat saya menghabiskan banyak waktu disana.
Hingga akhirnya sekarang, saya deactivate account Instagram dan uninstall aplikasi Instagram dari HP saya untuk terapi permasalahan saya tadi. Saya rasa hasil nya efektif. Jadi benarkah Instagram ini benar-benar membuat orang terlalu khawatir akan citra nya di dunia maya, Bagaimana menurut Anda ?

Prof. Koehn, ahli ekonomi sekaligus dosen di Harvard University, pernah mengatakan bahwa saat ini adalah era “Revolusi Komunikasi”. Perubahan secara radikal yang berarti sistem komunikasi dalam masyarakat berubah dengan fantastis (David Holmes, 2012).

Media sosial adalah salah satu hal yang membantu setiap individu untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak di belahan dunia; asalkan ada koneksi internet maka komunikasi di seluruh dunia terintegrasi dengan baik. Pada dekade terakhir ini, media sosial menjadi media favorit untuk berinteraksi bagi setiap individu, memudahkan manusia untuk mengekspresikan perasaan, keinginan dan lain sebagainya. Media sosial juga membantu manusia memahami dunia dengan mudah, lebih cepat mengetahui informasi dan perkembangan dunia.

Media sosial dinilai oleh berbagai pihak merupakan buah dari teknologi yang kebablasan, berbagai pro kontra muncul dari kaum konvensional dan kaum modern. Kaum konvensional menilai bahwa media sosial tidak membuat manusia bertumbuh secara komunikatif dengan manusia lainnya.

Teori medium berpendapat bahwa. ketika teknologi terintegrasikan ke dalam suatu ‘cara hidup’, maka manusia mungkin akan sulit untuk hidup. (David Holmes. 2012).

McLuhan (David Holmes. 2012) mengatakan bahwa dalam masyarakat media, individu-individu dimana-mana menemui diri sendiri dalam dunia yang menjadi tertutup dan tervirtualisasi.

Hal itu seperti kisah Narcissus, membutuhkan pesona dengan media yang bisa memperluas gelembung tertutup ini dimana orang lain menjadi terlarut ke dalam gambar kita sendiri. Katarsis, demikian kata yang tepat untuk diberikan kepada pengguna media sosial yang aktif dan intens.

Katarsis adalah upaya untuk menyalurkan emosi dan mendapatkan perhatian.

Perspektif Psiko Humanistik yang mengatakan bahwa manusia dalam eksistensinya berusaha untuk memahami dirinya dengan lingkungannya terlihat semakin jelas. Manusia modern berusaha untuk menyesuaikan dengan lingkungannya yang menuntut dia untuk berkembang bersama dengan teknologi, walaupun tidak memastikan bahwa manusia ikut lebih bermutu.

So, media sosial adalah suatu keniscayaan dari sebuah perkembangan teknologi dalam sejarah peradaban manusia. Kita tidak bisa menghindari hal tersebut, karena kita tidak bisa menghindari jaman dimana kita hidup.

Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi semua teknologi yang ada. Pendidikan merupakan kunci utamanya, dimana sayangnya, pola pendidikan di Indonesia sering kali terlambat menyikapi perkembangan jaman itu sendiri. Sehingga yang terjadi, banyak sekali perkembangan teknologi mempunyai dampak yang negatif, bahkan cenderung destruktif di masyarakat.

Pada dasarnya, setiap orang memiliki langkah-langkah khusus dalam mempresentasikan dirinya kepada orang lain. Dalam karyanya berjudul The Presentation of Self in Everyday Life, Erving Goffman (1959) menyatakan bahwa individu, disebut aktor, mempresentasikan dirinya secara verbal maupun non-verbal kepada orang lain yang berinteaksi dengannya.

Presentasi diri atau sering juga disebut manajemen impresi (impression management) merupakan sebuah tindakan menampilkan diri yang dilakukan oleh setiap individu untuk mencapai sebuah citra diri yang diharapkan.

Presentasi diri yang dilakukan ini bisa dilakukan oleh individu atau bisa juga dilakukan oleh kelompok individu/tim/organisasi (Boyer, dkk, 2006).

Untuk menjadi teman yang baik, seseorang akan berupaya untuk berusaha mempresentasikan dirinya dengan cara yang sesuai dengan harapan teman-temannya. Untuk menjamin kompetensinya, seorang fotografer akan berupaya untuk menampilan karya-karya terbaiknya kepada orang lain. Dengan berbagai tujuan, setiap individu akan berupaya untuk mengkonstruksi dirinya dengan cara yang sesuai dengan karakteristiknya.

Jika presentasi diri ini dibawa dalam kehidupan virtual, dalam hal ini di World Wide Web, maka terbentuk sebuah identitas virtual (Virtual Identity). Identitas virtual yang terbentuk bisa sangat bervariatif.

Bahkan, menurut M. Lister, dkk (2009) dalam bukunya yang berjudul “New Media: a critical introduction, format teknologi Web 2.0” dan kemajuan media baru membuat identitas virtual merupakan sebuah proses yang terus menerus selayaknya proses yang terjadi di dunia nyata.

Menurut Sherry Turkle, (1997), Construction and Reconstructions of Self in Virtual Reality: Playing in the MUDs, identitas juga bisa dilihat dari sisi mengkonstrusi kembali identitas diri maupun komunitas (Turkle, 1997).

Presentasi diri yang terjadi di dalam new media akan berbeda-beda berdasarkan jenis mediumnya. Jika medium tersebut adalah homepage pribadi, maka presentasi diri akan terjadi lebih konstan dan tetap. Hal disebabkan frekuensi untuk melakukan perubahan-perubahan di dalam medium tersebut tidak terlalu tinggi.

Menurut Marwick, A.E. & Boyd, D. (2010). I tweet honestly, I tweet passionately: Twitter users, context collapse, and the imagined audience, kondisi yang berbeda muncul ketika mediumnya adalah Twitter, microblog. Pengguna Twitter mempresentasikan dirinya melalui biografi singkat dan tweets. Tweets merupakan salah satu cara yang paling dominan di dalam Twitter untuk mempresentasikan diri. Sementara tweets ini, yang bersifat dinamis dan interaktif, mengalami perubahan yang sangat cepat dari waktu ke waktu. Sehingga, medium seperti Twitter membuat presentasi diri berlangsung lebih dinamis.

###Sosial Media dan Presentasi Diri

Ketika mengkaitkan antara media sosial dan presentasi diri, bisa terjadi pandangan yang cukup kontradiktif.

Di satu sisi, presentasi diri yang berakar dari interaksi tatap muka antar individu memandang presentasi diri melalui media sosial akan menghilangkan elemen non verbal komunikasi dan konteks terjadinya komunikasi. Sehingga presentasi diri tidak maksimal di dalam media sosial.

Di sisi lain, ketidakhadiran elemen-elemen non verbal dan konteks bisa dipandang sebagai sebuah kondisi bagi pengguna untuk lebih mudah mengontrol dan/ atau minimal dalam melakukan presentasi diri. Sehingga ketiadaan elemen-elemen nonverbal bisa membuat komunikasi tidak berjalan cukup ‘kaya’. Namun, pada saat yang sama setiap pengguna mendapatkan kesempatan untuk lebih inventif dalam melakukan presentasi diri.

Dalam presentasi diri, media sosial dipandang sebagai perpanjangan diri pengguna. Seperti yang diutarakan oleh McLuhan (1965) bahwa medium adalah perpanjangan indera maupun sistem saraf manusia. Pengguna media sosial akan menata media yang dipakai selayaknya sebuah ‘ruang tamu’, bahkan ‘kamar’, bagi para pengunjungnya. Joseph Dominick (1999:646) pernah melakukan penelitian mengenai presentasi diri di website pribadi. Dalam studinya itu, dia mengutip pandangan beberapa pakar mengenai website pribadi. Rubio memandangnya sebagai sebuah open house dimana pemiliknya tidak pernah muncul. Erickson membandingkan website tersebut sebagai resume/biodata informal yang berisi informasi pribadi. Chandler menjuluki website tersebut sebagai mengiklankan diri sendiri (self-advertisement). Burns mengatakan bahwa website tersebut sebagai kartu nama di abad ke-21.

Presentasi diri dalam media sosial juga bisa dipandang sebagai sebuah bentuk revitalisasi atau eksperimen terhadap identitas dirinya.

Individu bisa saja memiliki kendala dalam melakukan presentasi diri sesuai dengan impiannya. Media sosial memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi pengguna tersebut untuk mempresentasikan dirinya. Seorang mahasiswa yang dalam kesehariannya mengalami kendala dalam mempresentasikan dirinya, bisa begitu berbeda cara mempresentasikan dirinya di media sosial. Dalam konteks gender, identitas yang ada di dunia nyata juga bisa dieksperimenkan di dalam media sosial.

Dalam mempresentasikan diri, para pengguna harus mengatur penampilan mereka dengan berbagai strategi. Apa yang dipublikasikan atau konten dalam media sosial harus melalui standar editorial diri yang dimiliki. Maka dari itu, mereka harus memiliki strategi dalam mengkonstruksi identitas mereka.

Menurut Jones E.E… (1990), dalam bukunya yang berjudul Interpersonal Perception. menyatakan rangkuman dari lima strategi dalam konstruksi presentasi diri yang diperoleh dari eksperimen terhadap situasi interpersonal:

  • Ingratiation
    Tujuan pengguna strategi ini adalah agar ia disukai oleh orang lain. Beberapa karakteristik umum yang dimiliki adalah mengatakan hal positif tentang orang lain atau mengataan sedikit hal-hal negatif tentang diri sendiri, untuk menyatakan kesederhanaan, keakraban dan humor.
    Dalam konteks media sosial, strategi jenis ini bisa dilihat secara jelas dengan memberikan apresiasi terhadap foto- foto pengguna lainnya. Bisa juga dengan berbalas-balasan status ataupun tweets.

  • Competence
    Tujuan dari strategi ini agar dianggap terampil dan berkualitas. Karakteristik umum meliputi pengakuan tentang kemampuan, prestasi, kinerja, dan kualifikasi. Beberapa pengguna media sosial dengan profesi tertentu seperti analis politik akan menggunakan akun media sosialnya untuk memberikan tanggapan mengenai kondisi politik saat ini. Tentu akan diupayakan untuk menunjukkan kompetensinya. Begitu pula dalam media sosial yang fokus ke arah karya seni. Pengguna akan berupaya sebaik mungkin untuk menampilkan karya-karya terbaik di dalam media sosialnya.

  • Intimidation
    Pengguna strategi ini bertujuan untuk memperoleh kekuasaan. Karakteristik umum yang dimiliki adalah ancaman, pernyataan kemarahan, dan kemungkinan ketidaksenangan. Tentunya strategi ini bisa dilihat dengan mudah jika membaca akun- akun media sosial pengguna yang mengekspresikan rasa tidak suka atau tidak setuju dengan sangat eskpresif. Bahkan kadang-kadang memberikan kata-kata tertentu yang karakter-karakter nya diganti dengan tanda “*”.

  • Exemplification
    Tujuan dari strategi ini agar dianggap secara moral lebih unggul atau memiliki standar moral yang lebih tinggi. Karakter umumnya adalah komitmen ideologis atau militansi, pengorbanan diri, dan kedisiplinan diri.
    Dalam media sosial umumnya ini akan dilihat dengan menampilkan foto atau gambar-gambar bersifat nasionalis, atau menggambarkan ideologi tertentu. Pengguna bisa juga memanfaatkan strategi ini dengan memberikan komentar-komentar terkait pemberantasan korupsi, mafia hukum, dll.

  • Supplication
    Tujuannya adalah merawat atau tampak tidak berdaya sehingga orang lain akan datang untuk membantu orang tersebut. Karakter dari pendekatan presentasi diri termasuk memohon bantuan dan rendah diri.
    Strategi ini bisa terlihat dalam riwayat status (Timeline). Pengguna terkadang menulis: “apa lagi cobaan yang akan datang”, “saya sudah tidak sanggup lagi”, dan beberapa tulisan lain yang mengarah pada menunjukkan dirinya sedang tidak berdaya atau dalam kondisi yang kurang bagus.

Strategi-strategi yang ada ini dipakai bisa dipakai oleh pengguna dalam memodifikasi akun media sosialnya. Implementasi dari masing-masing strategi ini akan bergantung pada kehendak pengguna memodifikasi media sosial yang dimilikinya. Seperti yang telah diutarakan di atas, pengguna bisa menggunakan segala fitur yang ada pada media sosial tertentu untuk mencapai strategi yang ingin dipakai.

Instagram merupakan media sosial yang sangat fokus pada tujuannya untuk menjadi mediator komunikasi melalui gambar atau foto. Melalui aplikasi ini, pengguna “dituntut” untuk memaksimalkan fitur kamera pada gadgetnya dengan maksimal. Setiap orang dapat ”berkomunikasi” dengan foto. Ini adalah bentuk komunikasi yang baru dimana komunikasi tidak lagi berupa verbal tapi juga dalam bentuk gambar.

Komunikasi di era cyber merupakan komunikasi yang berdasar pada pemaknaan interpretative orang-orang terhadap simbol-simbol yang berkeliaran didalamnya.

Hal ini dijelaskan dalam Teori Interaksi Simbolik.Teori ini berbicara mengenai hubungan antara simbol-simbol dan interaksi yang terjadi dalam hubungan antar manusia. Teori ini berpijak tentang diri dan hubungannya dalam lingkungan sosial.

Bagi perspektif ini, individu bersifat aktif, reflektif, dan kreatif, menafsirkan, menampilkan perilaku yang rumit dan sulit diramalkan. Paham ini menolak gagasan bahwa individu adalah organisme yang pasif yang perilakunya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan atau struktur yang ada diluar dirinya. Oleh karena individu terus berubah maka masyarakat pun berubah melalui interaksi.

Interaksi-lah yang dianggap sebagai variabel penting yang menentukan perilaku manusia bukan struktur masyarakat. (Ahmadi, 2008).

Berbicara mengenai Instagram, foto adalah tanda dan simbol. Tanda yang menggambarkan mengenai visual yang terlihat pada foto tersebut. Dalam buku Design Basics, Lauer menjelaskan bahwa tanda visual merupakan sekumpulan elemen dengan makna tertentu. Sebuah gambar terbentuk dari elemen-elemen yang variatif dan terkomposisi sedemikian rupa sehingga membentuk persepsi pada orang yang melihatnya.(Lauer, 2008).

Aplikasi Instagram yang berbasis pada foto merupakan bentuk komunikasi baru yang didominasi oleh gambar atau visual.

Baudillard mendeskripsikan dunia post-modern sebagai dunia yang dicirikan oleh simulasi.

Instagram membuat peleburan dalam tanda antar penggunanya. Ketika seseorang melakukan aktivitasi berupa comment atau like terhadap suatu foto yang terunggah di aplikasi tersebut, maka orang tersebut sedang berinteraksi dengan foto yang ada.

Oleh karena itu, karena Instagram merupakan sebuah komunikasi yang menggunakan simbol-simbol dalam interaksinya, maka citra diri menjadi hal yang sangat penting bagi individu, yang memang terkadang menjadi berlebihan dalam meng-intepretasikan-nya.