Apakah google translate efektif dalam menerjemahkan karya sastra?

istockphoto-1222550815-170667a

Google translate adalah salah satu layanan yang disediakan oleh Google yang dapat menerjemahkan hingga 130 bahasa. Dalam karya sastra, terkadang kita harus menerjemahkan beberapa karya ke dalam bahasa lainnya. Apabila kita seorang pemula maka kita akan menggunakan Google Translate untuk menerjemahkan karya yang kita punya. Lalu sejauh mana efektifkah penggunaan google translate untuk menerjemahkan karya sastra.

Kalau menurut saya sendiri sebagai seorang mahasiswa sastra Inggris yang juga sudah berkutat dengan bidang penerjemahan, google translate tidak terlalu efektif jika digunakan dalam penerjemahan karya sastra karena penerjemahan karya sastra sendiri haruslah sesuai konteks dan meaningnya tidak boleh lari dari karya originalnya. misalnya saja banyak penerjemahan karya dari bahasa Indonesia ke Inggris atau sebaliknya, yang kebanyakan membutuhkan waktu yang lumayan lama karena ketentuan - ketentuan tadi.

Selain itu Google translate juga tidak menjamin hasil terjemahan kita enak dibaca atau natural, karena google translate menurut saya memang diprogram untuk melakukan penerjemahan secara literal saja alias menggunakan makna kamus. Padahal di dalam karya sastra banyak sekali diksi, frasa, kalimat, ataupun kata yang membutuhkan penerjemahan yang konotatif atau sesuai konteksnya selain makna literal. Belum lagi ditambah dengan pemahaman seorang penerjemahan mengenai istilah - istilah asing yang ingin diterjemahkan yang membutuhkan penelitian lebih yang dimana belum tentu google translate dapat menemukan makna yang sesungguhnya.

Bagi seorang pemula, menurut saya, sah - sah saja dalam menggunakan google translate dalam melakukan penerjemahan terhadap karya sastra mengingat penggunaannya yang mudah dan terjemahannya yang cukup akurat. Tetapi saran saya yang lain adalah jangan lupa untuk menggunakan kamus - kamus online seperti Oxford, Cambridge, ataupun Merriam Webster yang juga banyak tersedia di internet dan tentu saja gratis. Hal ini supaya kita dapat memahami betul apa yang mau kita terjemahkan supaya orang - orang yang membaca hasil terjemahan kita tidak salah kaprah atau mengalami mis-informasi mengenai terjemahan kita. Ingat, hasil terjemahan tidak boleh lari meaningnya dari karya originalnya. Selain itu, mempelajari teknik - teknis penerjemahan juga bisa dilakukan mengingat banyak sekali materinya di internet dan mudah diakses.

Yag terkahir adalah, jangan bosan - bosan membaca.

Tidak efektif. Google translate tidak akurat jika digunakan untuk menerjemahkan dokumen, apalagi karya sastra. Mesin penerjemah biasanya hanya mampu menerjemahkan kata per kata tanpa melihat konteksnya. Dalam menerjemahkan karya sastra, tentu ada unsur-unsur lain, seperti unsur budaya, aspek semantik, padanan kata, yang penting untuk diperhatikan dan hanya bisa dipahami oleh manusia. Sejauh ini, google translate belum memiliki kemampuan tersebut yang mana sangat berpengaruh terhadap hasil terjemahannya.

Menurut saya sendiri tidak.
Kita sebagai mahasiswa pasti tidak jauh dengan yang namanya tulisan, saya sendiri dalam membuat tugas kuliah selalu berupa tulisan karya ilmiah yang sumbernya banyak berasal dari artikel bahasa inggris. Google translate pada inti belum mempunyai teknologi yang cukup untuk memahami susunan kata yang kompleks, sehingga dia paling jauh hanya bisa mengartikan kalimat simple saja, dan untuk input kalimat yang belum ada databasenya maka google akan mengartikan perkata saja, tidak kalimat. Karya sastra sendiri yang kita ketahui berisi susunan kata dengan bahasa yang kompleks.

Cukup sependapat dengan balasan-balasan sebelumnya, menurut saya mesin penerjemah semacam Google Translate kurang efektif dalam menerjemahkan karya sastra. Bukan berarti tidak efektif sama sekali, mesin penerjemah dalam batas-batas tertentu cukup efektif, tapi tidak sepenuhnya sehingga saya mengatakan kurang.

Secara umum, dalam penerjemahan kita harus selalu memperhatikan konteks. Menurut KBBI konteks adalah bagian uraian atau kalimat yang dapat mendukung atau menambah kejelasan makna. Penerjemah harus memperhatikan konteks agar mampu memahami nuansa makna bagian tertentu dalam teks atau keseluruhan teks yang akan diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran. Pemahaman akan makna dari sebuah karya sastra pun sangatlah erat kaitannya dengan konteks. Sebagai ungkapan dari gambaran hidup manusia yang menggunakan bahasa, sastra memiliki keterkaitan dengan teks dan konteks. Teks adalah dimana sastra dituliskan dan konteks menentukan maknanya.

Mesin penerjemah seringkali masih memiliki kesalahan dalam menerjemahkan tulisan sesuai konteksnya. Seringkali ia hanya menyajikan terjemahan word-per-word yang kurang padu dibanding penerjemah manusia. Hasil penerjemahannya mungkin benar, tapi seringkali kurang sesuai dalam pemilihan kata yang sesuai dengan konteks yang diinginkan.

Belum lagi, dalam karya sastra seringkali terdapat figurative language alias kiasan. Faktor ini menyebabkan konteks semakin dibutuhkan. Kata yang tertulis belum tentu memiliki makna yang harfiah/ literal. Dalam hal memahami makna implisit seperti ini, saya rasa penerjemah manusia masih jauh lebih efektif.

Referensi

Larson, M.L. (1984) Meaning Based Translation. A Guide to Cross-Language Equivalence. Second Edition. Lanham: University Press.

Sakan, P. (2020). Peran Konteks Dalam Penerjemahan. Diambil dari Hi, I'm Pace S. Sakan - Peran Konteks dalam Penerjemahan