Apakah Generasi Milenial Lebih Sering Membuang Makanan?

membuang makanan

Generasi Millennial adalah mereka yang kelahirannya antara tahun 1981-1994 (beberapa yang lain menyebut hingga sebelum tahun 2000). Mereka juga adalah orang-orang dengan usia produktif sekaligus konsumen yang mendominasi pasar saat ini.

Ternyata kebanyakan dari Generasi Millennial saat ini memiliki kebiasaan yang kurang baik seperti lebih sering atau “suka” membuat makanan yang tidak habis.

“Aku udah kenyang, lu habisin nih kentangnya,” kata Rara.

Dua temannya menolak. “Gue udah kenyang juga, habisinlah, sayang tahu.”

“Ya udahlah, biarin aja,” jawab Rara, kemudian memasukkan ponsel ke tas. “Yuk cabut.”

Ketiganya beranjak meninggalkan sisa stik kentang goreng dan bungkus burger dan gelas minuman di meja. Makanan itu dipesan Rara dari salah satu restoran cepat saji di Pejaten Village, Jakarta Selatan.

Rara adalah potret anak muda milenial. Usianya baru 23 tahun dan bekerja sebagai bartender di salah satu warung kopi berjejaring terkenal di ibu kota. Bagi Rara, meninggalkan sisa makanan sebenarnya sayang, tapi dia beralasan perutnya sudah kenyang.

“Tadi habis kerja lapar, pengin makan banyak. Kalau sudah kenyang masak dipaksa, malah muntah nanti,” tuturnya.

Pola konsumsi yang menyisakan sampah makanan seperti yang dilakukan Rara ialah salah satu penyebab tingginya sampah makanan di Jakarta. Dari 7.000 hingga 7.500 ton sampah setiap hari di Jakarta, 54 persennya adalah sampah makanan.

Untuk mengetahui pola konsumsi generasi milenial di Jakarta, tim riset Tirto melakukan survei secara acak kepada 30 responden berusia 16 hingga 28 tahun.

Survei dilakukan dari 1-6 Februari 2017 dengan metode sampel non-probabilitas guna mengetahui bagaimana pola konsumsi generasi milenial dan apakah mereka menjadi salah satu penyumbang sampah makanan di Jakarta.

Hasilnya menunjukkan 97 persen responden mengaku berusaha menghabiskan makanan. Mereka mengatakan, tidak sopan bila kita tidak menghabiskan makanan. Mereka masih menganggap menyisakan makanan sama saja membuang rezeki.

Wejangan orang tua berperan besar. Meski responden memiliki rentang usia yang berbeda, tapi mereka ingat pesan orang tua untuk selalu menghabiskan makanan.

Sedangkan 3 persen yang mengaku sering tidak menghabiskan makanan memiliki alasan klasik: kenyang. Rasa lapar sebanding dengan porsi makanan. Tetapi giliran sudah kenyang, mereka menyisakan makanan.

Soal perilaku membuang sisa makan rupanya melekat pada generasi milenial. Sebanyak 43 persen responden mengungkapkan, jika ada sisa makanan, mereka akan membuangnya. Mereka cenderung memilih membuang jika makan di tempat umum.

Sebanyak 17 persen responden memilih memberikan sisa makanan kepada temannya. Sepuluh persen responden lain memilih membungkus untuk dibawa pulang dengan syarat itu adalah makanan enak atau makanan favoritnya. Sedangkan 10 persen lain memberikan sisa makan pada binatang peliharaan seperti kucing atau anjing.

Terkait perilaku generasi milenial ini, Elisa Sutanudjaja dari Rujak Center for Urban Studies menilai memang ada pola konsumsi yang masih menjadi masalah. Di kalangan anak muda, soal pergaulan dan budaya instan masih menjadi pokok masalah.

“Kalau saya orang tua, tidak habis ya dibungkus. Kalau anak muda mungkin malu, ya. Ada peer grup mereka yang kadang ngecengin, ‘Segitu sih sampai dibungkus, ribet juga,’” kata Elisa di kantor Rujak, awal Februari lalu.

Pola konsumsi seperti itu biasanya tak hanya pada sisa makanan tapi juga sampah non-organik seperti plastik. Menurut Elisa, masih banyak orang yang memilih praktis saat membeli makanan dengan menggunakan bungkus dari penjual, dan kalau tidak habis pun bisa ditinggal begitu saja.

“Masalahnya ada pada kesadaran dan kebiasaan. Ini adalah yang paling susah. Setelah tahu bahwa sampah ini jadi masalah, belum tentu juga bisa langsung berubah. Ada kebiasaan yang perlu pelan-pelan diubah,” ujarnya.

Pada awal Februari 2017, Rujak meluncurkan program kampanye #SuatuHariTanpaSampah di media sosial. Program ini menantang orang-orang untuk meminimalisasi produksi sampah dengan cara sederhana: selalu membawa tempat makan dan minum sendiri sehingga tidak perlu pembungkus saat jajan.

Lewat program itu Rujak ingin mengurangi sampah dengan mengubah perilaku orang. Sebab produksi sampah itu tergantung pada pola konsumsi seseorang.

“Kita inginnya lebih mengubah perilaku, karena untuk sampai pada titik tidak memproduksi sampah memang harus ada perubahan pola konsumsi. Kita mau membuat orang mikir dua dan tiga kali sebelum mengonsumsi gorengan dengan kantong plastik,” ujar Elisa.

Kampanye itu dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, membangun kesadaran untuk mengurangi sampah non-organik seperti plastik, kaca, kaleng, dan kertas. “Biasanya kalau orang sudah berhasil mengurangi sampah non-organik, pola konsumsi mereka sudah berubah. Jadi akan lebih mudah ketika mengurangi sampah organik seperti sisa makanan. Biasanya mereka itu belanja secukupnya supaya tidak banyak sisa,” ujarnya.

Untuk mendorong perubahan pola konsumsi itu pemerintah juga harus membuat kebijakan yang tepat. Namun, sayangnya, pemerintah terkadang ingin mencari satu solusi praktis, demikian Elisa.

“Pemerintah bikin satu titik tempat pembuangan sampah di Bantar Gebang. Saya tidak percaya dengan satu titik pengelolaan. Saya percaya pengelolaan sampah itu harus komunal dan sedekat mungkin dengan tempat produksi sampah, bukan justru menjauhkan,” jelas Elisa.

Sumber

Sampai sudah jadi cerita lama. Tidak ada hal yang baru dari sampah. Memang sudah jadi kebiasaan untuk menyisakan makanan.

Padahal kalau dilihat sama orang-orang terdahulu, pasti mereka akan kecewa. Betapa sulitnya dulu mencari makan. Kalau anak-anak jaman sekarangmah bebas.

Sekarang gimana solusinya untuk merubah kebiasaan ini, karena selain mubazir sampah makanan juga merugikan lingkungan. Liat saja Jakarta sampai menumpuk begitu sampahnya.

1 Like

"Order what you can consume, the money is yours, but resources belong to the society. There are many others in the world, who are facing shortage of resources. You have no right to waste the nation’s resources."

Pernyataan diatas merupakan sepenggal cerita di sebuah restoran di Jerman. Walaupun kebenaran cerita tersebut dipertanyakan kebenarannya, tetapi yang ingin ditekankan adalah di dalam masyarakat sosial, hak anda akan dibatasi oleh hak orang lain.

Berdasarkan pengalaman saya, memang di Jerman sangat menghargai makanan. Mereka tidak akan menyia-nyiakan makanan yang mereka dapat. Biasanya hal tersebut sangat dipengaruhi oleh latar belakang dan pola pikir seseorang dalam melihat sesuatu.

Ketika kita merasa mudah mendapatkan sesuatu, maka kita cenderung untuk menyia-nyiakan hal tersebut.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah apakah sosial masyarakat di Indonesia sudah permisif dengan perilaku tersebut atau tidak, minimal terhadap lingkungan dekatnya ?

Misalnya ketika makan bersama teman-teman dan ada salah satu atau beberapa orang tidak menghabiskan makanannya, apa yang dilakukan oleh teman lainnya ?

Apabila tidak ada yang “menegur-nya” dan menganggap bahwa hal tersebut adalah hal yang biasa, maka masalah tersebut sudah bisa dikatakan menjadi masalah sosial.

Bila dilihat dari hasil penelitian diatas, maka sebetulnya, hanya sebagian kecil saja masyarakat kita yang mempunyai perilaku buruk suka menyia-nyiakan makanan.