Apakah fungsi kalimat syahadat bagi seorang muslim ?

syahadat

(Muhammad Iqbal) #1

Kalimat Syahadat

“Tidaklah Kami utus seorang rasul pun sebelum kamu (Muhammad) kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku. Karena itu, sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’:25)

Apakah fungsi kalimat syahadat bagi seorang muslim ?


(anon56287618) #2

Hakikat syahadat bagi seorang Hamba adalah penghambaan secara sempurna kepada Allah semata yang terlambang dalam bentuk Aqidah, Syari’ah dan Akhlaq. Dan menerima tatacara penyembahan itu dari Nabi Muhammad rasulullah, dibawah ini merupakan fungsi-fungsi syahadat bagi seorang hamba allah s.w.t

1. GERBANG UTAMA UNTUK MEMASUKI WILAYAH KE - ISLAMAN

Artinya : orang yang telah masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat berarti ia telah berada dalam wilayah ke-Islaman, Artinya hukum-hukum Islam telah berlaku pada dirinya. Konsekuensinya dia harus mau dan wajib memberlakukan dan menegakan wilayah ke-Islaman, Daulah Allah kepada dirinya, keluarganya, masyarakatnya, negara dan bangsanya, apapun resikonya, apapun halangannya dan siapapun penghalangnya.

2. RUKUN ISLAM PERTAMA

Rasulullah bersabda : “Islam itu adalah bersaksi tiada Ilah kecuali Allah dan Muhammad itu hamba dan utusan-Nya, dan mendirikan Sholat, menunaikan zakat, puasa di bulan Romadhon, dan pergi haji ke Baitullah bagi yang mampu di jalan-Nya “ (Imam hadits yang lima kecuali Bukhari)

“Sesungguhnya Islam itu dibangun diatas lima dasar, bersaksi tidak ada Ilah melainkan Allah dan Muhammad hamba dan utusan-Nya, mendirikan Sholat, menunaikan Zakat, Haji ke Baitullah dan puasa di bulan Romadhon “

Dalam hadits diatas yang pertama disebutkan,bahwa syahadat menjadi atau merupakan dasar/hukum pertama dari empat rukun yang lainnya.

3. LANDASAN KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM.

Pengabdian secara mutlak hanya kepada Allah semata adalah bagian rukun Islam pertama selaras dengan arti syahadat “ An La Ilaha Ilallah “, sedangkan menerima suri ketauladanan tentang cara pelaksanaan pengabdian itu dari Rasulullah SAW. Merupakan bagian kedua dari rukun Islam itu selaras dengan arti syahadat “Anna Muhammad Rasulullah “

Hati yang beriman dan Islam adalah yang melambangkan kedua bagian prinsip ini karena unsur-unsur iman yang lain dan rukun-rukun Islam yang lain, hanyalah merupakan cabang-cabangnya yang penting.

4. PEMISAH, PEMUTUS ANTARA MUSLIM DAN KAFIR.

Pengucapan dua kalimat syahadat merupakan tanda perpisahan seorang, yaitu hijrahnya seorang dari alam jahiliyah, sikap dan mental jahiliyah menuju alam yang Islami, sikap dan mental yang Islami. Dengan demikian orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat dia harus mau dan rela melepaskan dan memisahkan dirinya dari lingkungan, dan sistim jahiliyah. Seetelah orang masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, sedikitpun dia tidak diperkenankan mendekati atau menjamah, apalagi berdampingan dan bekerja sama dengan fihak jahiliyaah. Dia harus benar-benar total meninggalkan segala bentuk dan sitim jahiliyah, karena pada dasarnya masuk Islam itu harus kafah, totalitas, tetapi berbarengan dengan itu harus total pula dalam meninggalkan dan mengingkari kejahiliyahan.

5. PENGIKAT DAN PEMERSATU SEORANG HAMBA DENGAN HAMBA YANG LAIN

“Dan berpegang teguhlah semua pada tali Allah dan jangaanlah kamu berpecah belah “. (QS 21 : 92)

Dari pengertian firman-firman Allah tersebut diatas, jelaslah dapat dipahami, bahwa berpegang teguh “ Tali Allah “ adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah serta berjama’ah Islamiyah, artinya berbicara Qur’an berarti melengkapkan peran Allah sebagai pembuat dan yang menurunkan aturan. Berbicara sunah berarti mengungkapkan peran Rasul sebagai aparatur petugas dan pelaksana peraturan yang diutus Allah. Berbicara jama’ah berarti mengungkapkan wujud realita dari pada pelaksanaan peraturan Allah yang dipresiasikan dalam bentuk lembaga kerasulan yang dilanjutkan dengan istilah ke Khalifahan. Dengan demikian seorang hamba yang ingin menjadi seorang Muslim – Mu’min kafah ia harus mengikat dan menyatukan dirinya dengan ketiga komponen tersebut.

6. REVOLUSI , REFORMASI KEHIDUPAN SEORANG HAMBA.

Dengan mengucap dua kalimat syahadat seorang mengalami perubahan yang besar dalam dirinya. Dari seorang muslim keturunan, dari muslim KTP, dari seorang muslim yang ikut-ikutan, ia berubah menjadi seorang muslim yang sejati, benar dan syah menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat ia adalah seorang yang kotor penuh noda dan dosa kemaksyiatan dan kemusyrikan, tetapi setelah ia mengucapkan dua kalimat syahadat ia berubah menjadi seorang yang suci dari noda dan dosa, ia bagaikan seorang bayi yang baru lahir.

http://abinissa-darularqom.blogspot.co.id/2006/08/fungsi-syahadat_07.html


(Danastri Luna Badira) #3

Konsep monoteisme Islam dalam rumusan tauhid laa ilaaha illallah dapat dimaknai sebagai “pembebasan.” Jika hanya Allah Swt sebagai pencipta ( laa khaliqa illallah ) maka selain Allah baik manusia, malaikat, setan, maupun alam, semuanya adalah mahkluk (ciptaan) Allah. Semua makhluk memiliki derajat dan kedudukan yang sama.

Pembebasan yang diekspresikan tauhid la ilaha illallah sesungguhnya merupakan titik tolak kekuatan jiwa (mental) manusia untuk membebaskan dirinya dari segala segala macam belenggu mempertuhankan selain Allah Swt dan paganisme. Tauhid laa ilaaha illallah telah membebaskan manusia dari penyembahan dan belenggu manusia lainnya, dari peribadatan rasio dan mental, dan sikap hidup materialistik. Tauhid juga merupakan pembebasan manusia dari kependetaan, permisivisme dan sikap hidup menjauhi hiruk-pikuk dunia.

Tauhid mengandung pengertian bahwa manusia tidak membutuhkan apa-apa selain Allah Swt, mereka dari Allah dan akan kembali pada-Nya. Seseorang yang bertauhid karenanya akan selalu diberi kemuliaan dan kepuasan ( qana’ah ) sebagai hamba yang bebas dan benar-benar terhormat. Dia hanya tergantung kepada Allah dalam semua sesi kehidupannya.

Pengertian esensial lain dari tauhid adalah penegasan Islam bahwa untuk mengadakan suatu hubungan ibadah antara manusia dengan Tuhannya dilakukan secara langsung tanpa perantara apa dan siapa pun, baik sesuatu atau pun seseorang, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Penegasan ini penting untuk dipahami karena masih ada sebagian kaum muslim yang beranggapan bahwa mereka adalah orang-orang yang penuh dengan dosa sehingga “pintu Tuhan” tertutup rapat sama sekali untuk mereka. Untuk itu diperlukan orang lain untuk membuka pintu itu dan menyampaikan doa- doa kita agar terkabul. Sepintas logika demikian tidaklah bermasalah, hanya saja firman Allah Swt dalam Q.S. az-Zumar (39) ayat 3 menjelaskan kekeliruan cara pandang seperti itu.

“Ingat hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan sungguh orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”

Terdapat ayat lain yang lebih jelas menceritakan kisah demikian. Iblis ketika memohon sesuatu hal kepada Allah Swt, dilakukan secara langsung tanpa perantara apa dan siapa. Padahal pada waktu itu ada malaikat yang suci dan selalu taat kepada Allah untuk dimintai pertolongan doa oleh iblis dalam menyampaikan permintaannya ini. Terlebih, iblis baru saja melakukan pem- bangkangan besar terhadap Allah berupa penolakan sujud hormat kepada Adam as. Sekalipun iblis telah melakukan pembangkangan besar kepada Allah karena tidak mau sujud kepada Adam tadi, namun iblis langsung minta sesuatu pada Allah tanpa perantara para malaikat yang suci dan saleh itu. Allah Swt tentu saja mengabulkan permintaan iblis itu.

Berkata Iblis: ‘Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan’. Allah berfirman:’ (kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh (Q.S. al-Hijr (15): 36-37).

Dengan demikian jelaslah bahwa konsep tauhid laa ilaaha illallah mempunyai implikasi begitu revolusioner berupa pembebasan, yaitu meniadakan otoritas apa pun bentuknya untuk berhubungan dengan Allah Swt sehingga membebaskan manusia dari perbudakan mental dan ‘penyembahan’ sesama makhluk. Allah Swt sudah jelas dekatnya dengan siapa pun.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaknya mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu ada dalam kebenaran” (Q.S. al-Baqarah (2):186).

Kedekatan Allah Swt dengan makhluk-makhluk-Nya digambarkan lebih dekat daripada urat leher seseorang.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Q.S. Qaaf (50):16).

Inilah di antara hakikat dan implikasi tauhid laa ilaaha illa Allah. Jika melalui tauhid yang benar ini seseorang bebas dari belenggu apa pun selain Allah Swt. Allah adalah satu-satunya Tuhan, sedangkan yang selain-Nya adalah makhluk yang kedudukannya sama di hadapan Allah kecuali karena ketundukkan pada Allah Swt semata.

Allah Swt-lah pencipta (khalik), pemberi rezeki (raziq), pemelihara (hafidz), pengelola (mudabbir), pemilik (malik), pemimpin (waliy), penentu (hakim), dan tujuan (ghayah) segala kehidupan.

Sumber : Roni Ismail, Hakikat monoteisme islam : Kajian atas konsep tauhid “laa ilaaha illallah”


(Shinta Amanda) #4

Syahadat atau kalimat tauhid sangat utama dibandingkan dengan ibadah-ibadah yang lain sebagaimana yang telah didakwahkan oleh para Nabi dan Rosul. Diantara keutamaan-keutamaannya adalah:

Allah akan menghapus dosa-dosanya

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia berkata: “aku mendengar Rosulullah bersabda,

“Allah yang maha suci dan yang maha tinggi berfirman yang artinya: “ wahai anak adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, sedangkan engkau ketika mati tidak mempersekutukan aku dengan suatu apapun, pasti aku akan berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi: 3540)

Allah ta’ala akan menghilangkan kesulitan dan kesedihannya didunia dan akhirat.

Dalilnya dalam firman allah yang artinya:

“barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka ” (QS. At-Thalaq: 2-3)

Seseorang tidak dikatakan bertaqwa kepada Allah swt kalau ia tidak mentauhidkan-Nya. Orang yang bertauhid dan bertaqwa akan diberi jalan keluar dari berbagai masalah hidupnya.

Allah akan menjadikan dan menghiasai dalam hatinya rasa cinta kepada iman serta menjadikan didalam hatinya rasa benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.

Allah berfirman didalam Al-Quran yang artinya:

…tetapi Allah akan menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman itu) indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah yang mengikuti jalan yang lurus. ”(QS. Al-hujurat: 7)

Syahadat/ kalimat tauhid akan mencegah seorang muslim kekal di Neraka.

Dari sahabat Abu Sa’id al-Kudri Radiallahu ‘anhu ia berkata, “bahwa Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“setelah penghuni surga masuk ke surga, dan penghuni neraka masuk ke neraka, maka setelah itu Allah pun berfirman, “keluarkan (dari neraka) orang-orang yang didalam hatinya terdapat seberat biji sawi iman!” maka merekapun dikeluarkan dari neraka, hanya saja tubuh mereka sudah hitam legam (bagaikan arang). Lalu mereka dimasukkan kedalam sungai kehidupan, maka tubuh mereka tumbuh (berubah) sebagaimana tumbuhnya benih yng ada di pinggiran sungai. Tidak lah engkau perhatikan bahwa benih itu tumbuh berwarna kuning dan berlipat-lipat? (HR. Bukhari)

Syahadat/tauhid merupakan penentu diterima atau ditolaknya amal manusia.

Sempurna dan tidaknya amal seseorang tergantung apa tauhidnya. Orang yang beramal tetapi tauhidnya tidak sempurna, misalnya karena dicampuri Riya’, tidak ikhlas, berbuat syirik, niscaya amalnya akan menjadi bumerang baginya, bukan mendapatkan kebahagiaan. Seluruh amal harus dilakukan ikhlas karena allah, baik itu berupa sholat, zakat, sodaqoh, puasa, haji, dan lainnya. Dalilnya firman allah yang artinya:

“yang menciptakan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia maha perkasa lagi maha pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Tauhid merupakan satu-satunya sebab untuk mendapatkan ridho Allah swt, dan orang yang paling bahagia dengan syafaat Nabi, maksudnya adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dalam hatinya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“orang yang paling bahagia dengan mendapat syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah secara ikhlas dari hatinya atau jiwanya.”

Allah ta’ala menjamin akan memasukkannya ke surga`

Dari Utsman bin Affan Radiallahu ‘anhu ia berkata:

Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: barang siapa yang meninggal dunia sedang ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali allah, maka ia masuk surga. ”(HR. Muslim)

Allah akan memberikan kemenangan, pertolongan, kejayaan, dan kemuliaan.

Allah berfirman yang artinya:

“wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukan mu.” (QS. Muhammad: 7)

Dari Jabir Radiallahu ‘anhu ia berkata: bahwa Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan yang tidak mempersekutukan Allah swt dengan sesuatu apapun, ia masuk surga” (HR. Muslim)

Allah akan memberikan kehidupan yang baik didunia dan akhirat.

Allah berfirman yang artinya:

“barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki- laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang lebih baik dan akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)