© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apakah Filosofi dari Rumah Gadang?

Bagi masyarakat Minang rumah gadang merupakan simbol tradisi sekaligus tempat untuk melaksanakan berbagai kegiatan keluarga besar pemilik rumah atau lazim disebut satu perut (paruik). Mulai dari proses perencanaan, pencarian bahan, tata cara membangun, pilihan model sampai ornamen dekorasi rumah gadang mengandung makna dan falsafah.

Sebenarnya ada beberapa tipe rumah gadang, tetapi yang paling dikenal adalah rumah gadang bagonjong. Rumah adat ini memiliki ciri khas berupa bentuk atap yang menyerupai tanduk kerbau. Dibalik pesona rumah gadang bagonjong, ternyata terdapat makna dan filosofi di tia-tiap tahap pembangunannya.

Tahap pertama adalah prosesi memilih pohon. Menurut Yusman, Kepala Urusan Pembangunan Nagari Sumpur, material kayu yang digunakan untuk membangun rumah gadang diantaranya adalah kayu jua untuk tonggak, kayu surian, dan bambu untuk rusuk dan pengisi dinding, serta kayu bayua untuk lantai.

Tahap kedua adalah prosesi maelo tonggak yaitu menarik batang pohon bersama-sama dari hutan ke lokasi pembangunan di kampung yang dapat memupuk spirit kebersamaan warga. Sementara itu, fondasi bangunan berupa batu-batu datar di permukaan tanah yang akan menopang tonggak struktur juga disiapkan.

Tahap ketiga adalah prosesi batagak tonggak tuo yaitu mendirikan struktur bangunan yang terdiri dari 42 buah tiang utama. Acara ini mengandung banyak hal penting diantaranya adalah pidato tetua kampung, di mana interpretasi isinya merupakan semacam acuan untuk membangun rumah gadang.

Setelah struktur dengan sistem knock down ini berdiri, bagian lantai dan dinding mulai diisi sedangkan isi ruang dalam cenderung terbuka tanpa dinding penyekat kecuali untuk kamar-kamar tidur. Terakhir adalah prosesi “naik atap” yaitu membangun konstruksi dan penutup atap.