Apakah film-film Barat sekarang adalah propaganda feminisme?

Mengutip salah satu buku “Bangkitnya Revolusi Sosial Dunia” dikatakan:

Saya mendapati bahwa pengaruh feminis (politik sayap kiri) merambah ke Hollywood, dan sudah dapat dialamati dengan jelas karakter mental yang sama setiap kali feminis mempromosikan doktrin feminisnya. Caranya dengan memperlihatkan bahwa semua laki-laki dan anak laki-laki tampak bagaikan orang bodoh layaknya badut, mempermalukan dan mendegradasi para pria, sedangkan wanita digambarkan sebagai pribadi yang cerdas, memegang kendali bahkan muncul dengan amat sangat tepat saat dibutuhkan. Misalnya saja seorang pria berotot dengan bobot +100 kilogram dengan mudahnya dihantam oleh wanita yang hanya berbobot + 45 kilogram.
Jadi tujuan feminisme adalah tidak hanya mempromosikan kebohongan melalui tokoh ‘wanita yang kuat’ tetapi juga menciptakan suatu kebohongan yang berkepanjangan dengan menunjukkan semua pria adalah lemah, menyedihkan, serta tidak memiliki kemampuan apapun.
Dalam propagandanya, feminis tidak akan menunjukkan kelemahan mereka, tetapi berfokus dengan meremehkan pria hanya untuk membuat diri mereka ‘merasa’ lebih baik, disaat yang sama mereka memperkenalkan visi misi feminisme.

Kalau kamu setujukah dengan kutipan yang ada dalam buku tersebut?

  • Jika ditanya setuju atau tidak, tentu dengan sangat tegas saya akan menyetujui bahwa pada masa posmodern ini, propaganda feminisme mengambil banyak sekali bentuk, salah satu contohnya adalah melalui film. Akan tetapi jika kita lihat lebih jauh, film hanya salah satu bagian dari kampanye besar feminisme (Gender & Seksualitas) melalui peran media masa.

Konstruksi Ideologis Gender dan Seksualitas pada Media Massa

  • Media massa dianggap faktor yang mempengaruhi terbentuknya ideologi yang kemudian dipahami oleh masyarakat sebagai suatu hal yang lumrah. Memang media massa bukan satu- satunya faktor yang berpengaruh, tetapi media massa telah berkembang menjadi agen sosialisasi yang semakin menentukan karena intensitas masyarakat mengkonsumsinya. Hal ini dapat dilihat melalui kepemilikan modal dan produksi media yang selalu berorientasi pada pasar. Bukan saja yang berorientasi pada faktor ekonomi saja namun juga telah menyentuh ranah ideologi, politik, dan kekuasaan yang akhirnya berujung pada penaklukan akan publik.

  • Marxis dalam teorinya mengatakan bahwa posisi media dalam sistem kapitalisme modern adalah media massa yang ‘mengatur’. Media massa tidak hanya sebagai media perjalanan pesan antara unsur-unsur sosial dalam masyarakat namun juga berfungsi sebagai alat pemaksaan konsensus kelompok tertentu yang secara ekonomi dan politik sangat dominan. Media merupakan alat produksi yang disesuaikan dengan tipe umum industri kapitalis beserta faktor produksi dan hubungan produksinya.

  • Media cenderung dimonopoli oleh kelas kapitalis yang penanganannya baik dilaksanakan secara nasional maupun internasional untuk memenuhi kepentingan kelas sosial tersebut. Para kapitalis menurut Marxis bekerja secara ideologis dengan menyebarkan ide dan cara pandang penguasa yang menolak ide lain yang dianggap mengarah pada terciptanya kesadaran kelas pekerja akan kepentingannya.

  • Peter Golding dan Graham Murdock (1997) dalam The Political Economy of Media menyebutkan bahwa dalam sejarah media massa telah mencapai puncak perkembangannya sebagai lembaga kunci masyarakat modern. Karena mampu merepresentasikan diri sebagai ruang publik yang utama dan turut menentukan dinamika sosial, politik, dan budaya di tingkat lokal maupun global. Media juga mampu menghasilkan keuntungan ekonomi karena bertindak sebagai perantara antara produsen dan konsumen. Tetapi di balik semuanya itu, bahwa media massa pada sisi yang lain juga menyebarkan dan mampu memperkuat struktur ekonomi dan politik tertentu tapi juga menjalankan fungsi ideologis.

  • Efek media juga akan semakin kuat mengingat sosok perempuan yang ditampilkannya adalah cara yang memperkokoh stereotip yang sudah terbangun di tengah masyarakat. Karenanya media massa memang bukan yang melahirkan ketidaksetaraan gender tetapi ikut serta memperkokoh, melestarikan, bahkan memperburuk ketidakadilan terhadap perempuan dalam masyarakat. Ketika media massa menyajikan sebuah anggapan tentang perempuan secara konsisten, orang menjadi menyangka bahwa pilihan yang paling logis adalah mengikuti apa yang tampak sebagai kecenderungan umum itu, seperti yang disajikan media.

  • Seperti yang disampaikan pada pendahuluan di atas bahwa seorang perempuan yang cantik diidentikkan dengan kulit yang putih, berambut lurus dan panjang, bertubuh sintal, berpakaian seksi trendy karena menganggap bahwa penampilan seperti itu adalah pilihan yang paling ideal dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan, secara perlahan tapi pasti akan meneguhkan stereotip tersebut saat perempuan terus-menerus ditampilkan sebagai objek seks di media, maka khalayak laki-laki akan menerima pembenaran dalam memandang perempuan sebagai kaum yang fungsi utamanya adalah memuaskan nafsu seksual laki-laki. Dengan demikian, perempuan diturunkan derajatnya sekadar sebagai objek seks. Akibatnya, tertanam anggapan bahwa kekuatan utama perempuan adalah tubuhnya, bukan faktor-faktor lain seperti keunggulan intelektual, keluasan wawasan, kecakapan bekerja atau lainnya.

  • Dalam hal ini media sangat berfungsi sebagai sarana untuk mengidentifikasikan diri dengan nilai- nilai lain (dalam media). Manusia memiliki nilai- nilai hidupnya sendiri yang pada gilirannya akan ia gunakan untuk melihat dunia. Implikasinya adalah konsumen media dapat mengetahui nilai-nilai lain di luar nilainya. Namun ketika manusia melihat nilai- nilai yang diciptakan oleh media, maka terkadang nilai-nilai pribadi dalam dirinya cenderung mulai dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ditawarkan oleh media secara terus menerus. Di mana, media membawa nilai-nilai dari seluruh penjuru dunia yang dengan mudah mempengaruhi khalayak.

  • Media juga memiliki fungsi sebagai pemberi identitas, di mana media merupakan sarana untuk meningkatkan pemahaman mengenai diri sendiri. Untuk melihat serta menilai siapa, apa dan bagaimana diri seseorang, pada umumnya dibutuhkan pihak lain. Media dapat dijadikan sebagai salah satu kacamata yang dipergunakan sesungguhnya. Baik posisi secara fisik, intelektual maupun moral.

  • Sebagai industri bisnis, media massa terlibat terlalu jauh dengan alam pikiran dengan memperalat perempuan dengan seluruh karakter yang dapat diperjualbelikan, kecantikan, kemolekan tubuh, dan seks sebagai wujud dari pola patriarki laki-laki dan kapitalisme industri media. Akan tetapi, dalam perannya sebagai produk intelektual, media massa justru berfungsi sebaliknya, yaitu membela dan mempertahankan apa yang menjadi hak dasar publik, terutama kepada mereka yang dalam posisi tertindas.

  • Apa yang bisa kita lihat di sini bahwa peran media massa tidak bisa dipandang enteng. Bukan saja mengajarkan ideologi tersebut, tetapi juga meneguhkan apa yang sudah terbangun serta memberi pembenaran, bahkan mendukung kondisi yang memfasilitasi praktik-praktik penindasan perempuan. Bahkan jika kita ingin menarik efek media secara jauh maka kasus-kasus perkosaan atau kekerasan terhadap perempuan juga dapat terjadi akibat media massa.

  • Banyak artis perempuan di media yang menonjolkan daya tarik seksual mereka secara sangat terbuka, dan dengan kesan bahwa mereka sepenuhnya memegang kendali atas tubuh mereka. Artis seperti Katy Perry atau Lady Gaga dalam atraksi-atraksinya di panggung pertunjukan mereka tampak seksualitas yang dominan baik dari segi fashion dan gerakan mereka. Kalau di Indonesia ada artis-artis dangdut seperti, Trio Macan, Dewi Persik dan lain-lain. Para penggemar artis-artis ini mungkin sekali tidak mengeksploitasi tubuh mereka melalui pakaian maupun goyangan tetapi artis-artis ini sepenuhnya memegang kendali atas gerakan- gerakan mereka, sementara penonton hanya bisa pasrah dan bersikap pasif menyaksikan pertunjukan sang artis.

  • Dalam hal ini, tampilan seksi para selebritis ini akan dimaknai khalayak dalam skema gender yang sudah terbangun sebelumnya. Apa yang dikonsumsi oleh khalayak pria bukanlah semata- mata hanya kemandirian para artis tersebut, tetapi juga kesediaan artis tersebut untuk menonjolkan daya tarik seksual mereka yang didasari oleh keseksian, keindahan, kecantikan, dan kualitas- kualitas fisik lainnya. Akibatnya, perempuan seharusnya bersedia diperlakukan bukan sebagai makhluk yang berpikir dan bermartabat, melainkan sebagai makhluk yang harus selalu menonjolkan kemolekan tubuh.

  • Dengan menggunakan media sebagai alat oleh para artis ini maka media berfungsi sebagai pemberi identitas pribadi khalayak yang berperan sebagai model perilaku. Model perilaku dapat diperoleh dari sajian media. Apakah itu model perilaku yang sama dengan yang dimiliki atau bahkan yang kontra dengan yang dimiliki. Sehingga tidak jarang apa yang ditampilkan oleh para selebritis dapat dengan mudah ditiru oleh khalayak yang mengkonsumsi media. Perburuan identitas yang paling tidak mirip dengan apa yang ditawarkan oleh sang artis baik dari segi fashion, gaya hidup dan lain-lain.

Mengapa Porsi Perempuan Dominan & Menarik

  • Dari banyak pembahasan tentang media dan gender, ditemukan bahwa memang perempuanlah yang paling dominan dibanding laki-laki baik dalam masalah pemberitaan maupun dalam tayangan- tayangan yang bias gender melalui media massa. Beberapa asumsi yang dipercaya ikut mempengaruhi hal tersebut adalah karena chain of activities media massa cenderung dikuasai oleh kaum pria. Mulai dari fotografer, reporter, editor, layouter, kolomnis, dewan redaksi, loper, juga pembelinya.

  • Dengan kata lain bahwa semua keindahan produksi dihasilkan menurut pandangan dan selera pria. Sehingga dengan mudahnya perempuan dijadikan komoditas media. Asumsi lain para pekerja media dan institusi media belum mempunyai sensitif yang tinggi dalam permasalahan perempuan, sehingga belum menghasilkan jurnalisme yang berperspektif gender.

  • Media massa juga dianggap belum mampu melepaskan diri dari perannya sebagai medium ekonomi kekuasaan, baik yang datang dari penguasa, otoritas intelektual, ideologi politik ataupun pemilik modal. Teori media politik ekonomi mengemukakan bahwa institusi media harus dinilai sebagai bagian dari sistem ekonomi yang juga bertalian erat dengan sistem politik. Kualitas pengetahuan tentang masyarakat yang diproduksi oleh media untuk masyarakat sebagian besar dapat ditentukan oleh nilai tukar berbagai ragam isi dalam kondisi yang memaksakan perluasan pasar dan juga ditentukan oleh kepentingan ekonomi para pemilik penentu kebijakan (Garnham, 1979). Media massa yang seharusnya menjadi penjaga bagi kekuasaan, justru terjerumus menjadi pelestari kekuasaan hanya media massa yang mengakibatkan perempuan menjadi korban dari aroganisme pelanggengan kekuasaan kapitalis.

  • Kaum perempuan juga memasuki masa anomali di mana eksistensinya sedang tertantang. Di satu sisi perempuan mulai menikmati pendidikan, mendapatkan informasi, dan mulai berkembang, namun pada saat yang sama citra tentang dirinya belum berubah. Perempuan masih lebih dilihat sebagai objek seks. Sehingga sekalipun mereka kian bebas ke luar rumah, tetapi di kantor tetap saja dilecehkan oleh pimpinan pria, di jalan juga tetap digoda dan lain-lain. Hal inilah yang kemudian direduksi oleh media massa sebagai sesuatu kenyataan yang pahit bagi perempuan tetapi menjadi hal yang biasa oleh media.

  • Ada tiga sumber kehidupan bagi media, yaitu isi ( content) , pemilik modal ( capital), dan audiens ( audiences) . Content terkait dengan isi dari sajian media, capital menyangkut sumber dana untuk menghidupi media sedangkan audience terkait dengan masalah segmen yang dituju. Dengan demikian, dapat dipahami mengapa media banyak digunakan untuk kepentingan komersial. Karena untuk dapat mempertahankan hidup dengan memenangkan persaingan media membutuhkan sumber hidupnya baik capital , content , maupun audience . Ketiga sumber hidup media tersebut saling berhubungan.

  • Dengan content yang menarik audience akan tetap memilih media tertentu sebagai favoritnya. Semakin banyak audience yang menonton membaca atau mendengar program tersebut maka semakin tinggi pula ratingnya. Implikasinya adalah, semakin berminat pula pemasang iklan untuk beriklan pada memiliki capital yang cukup kuat dapat memproduksi acara ( content ) yang berkualitas sehingga dapat menarik minat audiens, yang mengakibatkan tingginya rating dan pada gilirannya akan menarik pengiklan untuk masuk. Kinerja seperti ini tentu saja membuat media dijadikan alat bagi para pemilik modal guna mempertahankan dominasinya. Entah dalam hal ekonomi, kekuasaan maupun politis. Dan untuk mempertahankan hal tersebut tentu media harus menjual ‘sesuatu’ yang dibutuhkan bahkan yang disukai oleh pasar salah satunya yaitu menonjolkan gender dan seksualitas. Luce Irigaray mengutip Levi Strauss dan mengadaptasi Marx (dalam Sue Thormam, 2000: 172) berargumen bahwa perempuan bukanlah sebagai konsumen tetapi sebagai komoditas.

  • Bagi Gilman juga (dalam Sue Thormam, 2000), laki-laki adalah pasar dan permintaan sedangkan perempuan adalah pasokan. Oleh karena itu perempuan menjadi produk fabrikasi yaitu didisinvestasi dari tubuh dan dipakaikan kembali busana dalam bentuk yang menjadikan mereka cocok untuk dipertukarkan di kalangan laki-laki melalui media yang digunakan. Itulah sebabnya kenapa seksualitas sangat menarik dalam media. Karena seksualitas yang dipertontonkan itulah yang membuat media menjadi laku karena khalayak laki- laki menemukan ‘hiburan’ dari media tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Mc Quail bahwa salah satu fungsi media adalah sebagai hiburan.

  • Media dalam hal ini telah masuk dalam mesin alat cor bangunan milik kapitalis dan arus konsumerisme. Sehingga media telah dilumat hingga hancur dalam mekanisme pasar yang tidak lagi menghiraukan norma dan etika pergaulan meski itu justru inilah yang menadi komoditas yang cukup mahal harganya. Pembedaan manusia dalam masalah ini semakin nyata. Manusia sudah dilihat sebagai benda dan materi dan seksualitas dilihat sebagai komoditas. Perempuan dipamerkan dan memamerkan diri telah masuk ke era puncak pembendaan. Era materialistik, hedonistik, sekularistik, dan individualistik yang sangat dalam. Materialistik karena yang dilihat hanyalah tubuh yang cenderung sementara, dan bukannya kepada kepribadian yang sifatnya cenderung lebih abadi. Hedonistis karena kesenangan sementara.

Referensi

Barker, C. 2000. Cultural Studies: Theory and Prac- tice . London: Sage.

Bing, B. T. Pengaruh Media Komunikasi Massa Terhadap Popular Culture Dalam Kajian Budaya / Cultural Studies, Jurnal Ilmi- ah Scriptura ISSN 1978- 385X Vol. 1 No.2 Juli 2007.

Danarto. 1997. Perempuan, Pasar Film dan Kekuasaan , dalam Lifestyle Ecstasy, Ke- budayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia . Yogyakarta: Jalasutra.

Gandy, O. H. Jr. 2004 . Audience On Demad- To- ward a Political Economy of Culture. Mary- land: Rowman & Littlefield Publisher, Inc.

Giddens, A. 1992. The Transformatins of Intimacy . Cambridge: Polity Press.

Garnham, N. 1979. Contribution to a Political Economy of Mass Media Communications. Publications.

Hariyanto. Gender Dalam Konstruksi Media , Jurnal Dakwah Dan Komunikasi Vol.3 No.2 Juli- Desember 2009, Purwokerto Jurusan Dakwah Stain Komunika

Marwah, D. I. 1997. Citra Perempuan dalam Media , dalam Lifestyle Ecstasy, Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia . Yogyakarta: Jalasutra.