Apakah dampak negatif dari Minimum Viable Product ?

Minimum Viable Product (MVP) merupakan produk web atau aplikasi dengan spesifikasi seminimal dan pembuatan secepat mungkin, namun mampu melayani kebutuhan inti pengguna semaksimal mungkin. MVP biasanya digunakan oleh user experience (UX) designer untuk membaca arah pasar produk yang tengah dibuatnya. MVP tentunya selain memiliki dampak positif juga memiliki potensi memiliki dampat negatif. Apakah benar ada dampak negatif dari MVP, jika ada apakah itu?

MVP atau minimum viable product merupakan teknik pengembangan yang populer dengan tujuan sebuah produk baru dapat cepat beredar dipasar dan cepat memperoleh hasil maupun pengembangan selanjutnya. Implementasi MVP dapat menjadi cara memperoleh perhatian konsume. Tetapi terdapat beberapa dampat negatif yang mungkin ditimbulkan oleh MVP

  1. Lebih cepat belum tentu lebih baik
    Agile philosophy seperti memberikan sebuah produk yang berawal dari startup yang masih memiliki kekurangan didorong agar suatu produk lebih cepat selesai karena dirasa cepat baik sehingga dapat memperoleh kebutuhan pelanggan dengan lebih cepat. Tetapi yang perlu dipikirkan adalah bagaimana memperoleh feedback secara continuity dari pelanggan untuk setiap pembaruan produk. Apabila kurang sounding saat rilis produk dengan pengembangan baru atau terkesan terburu-buru akan berdapat kepada media atau pelanggan tidak dihiraukan sehingga mengakibatkan produk yang dikenal adalah produk dengan pengembangan sebelumnya baik kelemahan maupun kelebihanya.

  2. Fakta bahwa investor tidak tertarik dengan produk yang tidak menjanjikan.
    MVP memerlukan pengelolah mampu memberikan jaminan bahwa produk yang akan dikembangankan memiliki roadmap yang menjanjikan kedepanya. Semakin sering melakukan pembaruan dapat membuat pelanggan merasa terganggu. Produk yang minimalis terkadang juga menyebabkan investor berfikir dua kali untuk menanamkan modal.

  3. Produk bisa saja ditinggalkan diawal perjalanan
    MVP yang tidak memperhitungkan kebutuhan dan keberlanjutan produk dapat menyebabkan pelanggan merasa kebutuhan dan keinginannya tidak dapat terpenuhi. Kekecewaan sejak awal membuat pelanggan enggan datang kembali walaupun telah dilakukan pengembangan.

  4. Tidak semua pelanggan berani bertaruh untuk kualitas
    Terkadang tidak semua pelanggan berani mencoba produk baru. Terkadang pelanggan bisa untuk terkadang pelanggan dapat rugi. Berikut terdapat sebuah pengalaman John H Pittman tentang produk MVP yang ia coba. Ia menuliskannya pada website UX Collective. Ia menceritakan kisahnya yang beberapa kali menjadi korban MVP. Contoh MVP yang pernah mengecewakanya adalah Smart home hub

    Pittman menceritakan bahwa ia memiliki semua sistem untuk smart home yang dapat mengontrol lampu, memonitor pintu dan memonitor banyak hal lagi. Sayangnya sistem yang seharusnya dapat menyalahkan lampu pada saat matahari tenggelam dan menghidupkan saat matahari terbit sering secara random melewatkan hal tersebut dan ketika koneksi mati, sistem tersebut juga langsung tidak berfungsi. Dan masih banyak lagi yang dapat dilihat di tulisannya (link terdapat di referensi.)

Dalam mengembangkan MVP agar terhindar dari dampat negatif setidaknya perlu adanya pemetaan kualitas. Kualitas sendiri terdapat dua jenis menurut Robert Pirsig

  • Classic Quality : berdasarkan kepada analisis rasional, dapat diuraikan berdasarkan bagian dan hubungan antar komponen, fokus kepada details, cara kerja dan mekasinsme
  • Romantic Quality : memahami semua perasaan atau sense yang ada, melihat dari keseluruhan produk bukan bagian, menghubungkan dengan konteks, emosi, dan moment.

Referensi

https://thenextweb.com/contributors/2017/06/05/stop-making-minimum-viable-products/

https://hbr.org/2012/04/the-dangers-of-teh-minimal-via

https://uxdesign.cc/the-tyranny-of-the-minimum-viable-product-fb25e2e57e6e