© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang menyebabkan sikap sombong dalam diri manusia?

sombong

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang diberikan keistimewaan memiliki akal sebagai pembeda dari makhluk lainnya. Terkadang dengan segala kelebihan yang diberikan Sang Pencipta manusia berlaku sombong. Merendahkan orang lain dan merasa dirinya lebih besar. Selain itu kesombongan dalam diri seseorang dapat menjadikannya menolak kebenaran.

Apa yang menyebabkan manusia bisa terjerumus dalam kesombongan?

Penyebab sombong dapat dilihat dari dua sisi, yaitu faktor internal maupun faktor eksternal.

Faktor Internal


Yang dimaksud dengan faktor internal disini adanya sifat-sifat negatif pada diri manusia, sekaligus merupakan kelemahan-kelemahannya, yang menyebabkan ia hanyut dalam kesombongan. Faktor internal ini melekat pada diri manusia, artinya faktor ini muncul dalam diri manusia dan sebagai akibat dari manusia itu sendiri. Faktor ini terkadang sulit dideteksi karena menyangkut kelemahan, kekurangan dan kebodohan orang itu sendiri. Dari sini tampaknya faktor internal bisa diketahui melalui mawas diri atau introspeksi diri.

Manusia bersikap sombong dapat disebabkan karena ia tidak mengetahui kekurangan dan kelemahannya. Ketidaktahuan itu bisa terjadi karena ketidak-sengajaan atau ketidaksadaran, dan bisa pula karena sebaliknya. Yang dimaksud dengan ketidaksengajaan atau ketidaksadaran adalah tidak adanya faktor-faktor yang memungkinkan seseorang mengetahui kelemahan dan kekurangannya. Misalnya, karena hidup dalam masyarakat terpencil dan masih sangat bersahaja sehingga dakwah tidak menyentuh mereka.

Sifat-sifat itu adalah sebagai berikut:

Tawadhu yang berlebihan

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak merubah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Q.S.Ar-Ra’ad:11).

Sebagian orang yang ada yang bersikap tawadhu’ secara berlebihan sampai tidak mau memakai pakaian yang bagus, tidak mau memberikan sumbang saran kepada orang lain tentang suatu persoalan, tidak mau memelopori penyelesaian suatu masalah, atau tidak mau menerima satu amanah pun. Kadang, kalau sikap di atas dilihat oleh orang yang tidak mengerti hakikat suatu amal, ditambah bisikan setan dan dukungan hawa nafsu, semua sikap diatas dianggap muncul dari ketidakmampuan mereka. Jika bukan karena itu, niscaya mereka tidak akan melakukannya. Demikian bisikan dan dukungan hawa nafsu yang terus membayangi dan mengusai orang yang melihatnya, sampai akhirnya ia memandang hina orang lain yang melakukan perbuatan itu, dan merasa bangga akan dirinya sendiri. Tidak hanya samapai disitu, bahkan pada setiap kesempatan ia ingin menampakkan kebanggaan atas dirinya itu. Inilah kesombongan (Takabbur)

Kerancauan standar kemuliaan dalam Masyarakat

Kebodohan masyarakat telah sampai pada penentuan standar kemuliaan di kalangan mereka. Sebagian, ada yang memuliakan dan mengutamakan orang-orang kaya, sekalipun mereka berbuat maksiat dan jauh dari aturan Allah Swt. Pada saat yang sama, mereka menganggap hina orang-orang yang menderita dan miskin, sekalipun mereka taat beragama. Barang siapa hidup pada zaman seperti ini, niscaya akan terpengaruh, kecuali orang yang mendapatkan rahmat- Nya. Pengaruh tersebut kemudian mewujud dalam sikap menyepelekan orang lain dan merasa diri lebih dari pada mereka.

Al-Qur’an dan As-Sunnah telah mengingatkan kerancauan standar kemuliaan dalam masyarakat dengan cara menolak standar tersebut dan menggantikannya dengan standar yang benar (Nuh, 2004). Allah Swt berfirman:

Artinya: Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? tidak, sebenarnya mereka tidak sadar (Q.S. Al-Mu’minun: 55-56).

Membanding-bandingkan Nikmat dan Melupakan Pemberiannya

Diantara manusia ada yang diberi nikmat khusus yang tidak diberikan kepada orang lain, seperti kesehatan, anak-istri, harta, pangkat dan kedudukan, ilmu, kepiawaian dalam bertutur kata dan menulis, karisma, serta banyak kawan dan pengikut. Akibat pengaruh kenikmatan tersebut sering kali ia lupa kepada pemberi nikmat itu (Allah), dan mulai membanding-bandingkan antara kenikmatan yang diterimanya dan kenikmatan orang lain. Ia melihat orang lain berada di bawahnya, kemudian menyepelekan dan menghinakan mereka, hingga akhirnya terjerumus kedalam kesombongan.

Al-Qur’an mengingatkan hal ini dengan menceritakan kisah orang pemilik kebun. Allah Swt berfirman dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki. Kami jadikan bagi salah seorangnya dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan diantara kedua kebun itu kami buat ladang. Kedua kebun itu menghasilkan buahnya dan kedua kebun itu tidak kurang buahnya sedikitpun, kami alirkan diantara kedua kebun itu sungai. Dan dia mempunyai kekayaan besar dan berkata kepada kawannya ketika bercakap-cakap dengannya,

“Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut- pengikutku lebih kuat”(Q.S. Al-Kahfi :32-34).

Faktor Eksternal


Faktor eksternal yang dimaksud sebagai penyebab kesombongan, umumnya, dapat dikategorikan sebagai faktor lingkungan, khususnya lingkungan manusia (human environment).

Tidak dapat disangkal bahwa faktor lingkungan yang sangat besar, bahkan dominan, pengaruhnya dalam menentukan sikap dan prilaku seseorang. Al-Qur’an menginformasikan bahwa alasan orang-orang sombong menolak seruan beriman dari Rasul, antara lain, adalah kerana tetap teguh berpegangan pada tradisi dan kepercayaan nenek moyang mereka. Firman Allah:

Artinya: Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (Q.S. Al-Baqarah: 170)

Ayat ini menjelaskan bahwa faktor linkungan, khususnya keluarga (nenek moyang), bertemu dengan watak taklid, ternyata membuahkan kesombongan dan penolakan aprori terhadap kebenaran. Sikap taklid ini akan menjadi kuat dalam hal-hal yang menyangkut masalah tradisi, adat istiadat, keyakinan, dan semacamnya, dimana akal tidak mempunyai peranan berarti didalamnya. Dan hal-hal seperti ini justru, dikritik oleh Al-Qur’an. Baik langsung maupuun tidak langsung. Al-Qur’an mendorong pemakaian akal dalam hal keyakinan dan mencela habis- habisan sikap taklid terhadap keyakinan nenek moyang atau mereka yang dianggap memiliki otoritas. Dalam ayat tersebut, terdapat peryataan:

Artinya: Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. mereka menjawab: “Cukuplah untuk Kami apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya”. dan Apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. (Q.S. Al-Maidah: 104).

Hal ini menunjukkan bahwa dalam masalah akidah pun, akal tetap harus diberi peranan, khususnya dalam menganalisis kebenaran akidah yang dianut. Proses rendah hati maupun proses kesombongan, keduanya akan tetap berlangsung dalam pergumulan hidup manusia didunia ini, dan disinilah letak peranan dakwah, dalam arti yang seluas-luasnya, untuk membendung proses kesombongan dalam manusia.