Apa yang menyebabkan film 3: Alif Lam Mim dicekal penayangannya?

Film 3: Alif Lam Mim akhirnya tidak diperbolehkan tayang di bioskop. Apa yang menyebabkan film 3: Alif Lam Mim dicekal?
image

Bahaya Liberalisme Radikal
Ada tiga paham yang selalu menjadi bahan bakar dalam konstelasi politik di Indonesia, liberalisme, sosialime, dan agama (Islamisme). Semuanya mengaku yang paling nasionalis dan bakal memperbaiki Indonesia.
Sosialisme dianggap menjadi anti-tesis dan lawan dari liberalisme. Sedangkan agama lebih mengakomodir keduanya dalam batas yang proporsional. Indonesia bukanlah bentuk murni dari ketiganya, namun semacam hybrid.
Secara implisit dalam dasar negara pancasila, ketiga paham diakomodir. Film Tiga ALif Lam Mim ini menjadi suatu warning bagi masyarakat Indonesia, ketika satu paham dominan dan merusak keseimbangan, maka paham yang lain akan tersingkir.
Liberisme ekstrim akan memenggal paham-paham yang membahayakan eksistensinya, mungkin sosialisme juga akan begitu. Berbeda dengan agama, terkhusus Islam yang memuat unsur liberalisme dan sosialime sekaligus.
Pada film Tiga yang mengisahkan Indonesia menjadi negara liberal di tahun 2036, ditampakkan kebengisan penguasa tanpa moral yang menghalalkan segala cara untuk membentuk tatanan liberal dan perdamaian semu. Itulah saat dimana liberalisme menjadi sangat radikal dan “teroris”.

Sekulerisme Murni yang Meminggirkan Agama
Pengusung sekulerisme yang masih malu-malu seperti masih menyembunyikan hidden agenda. Bahkan mereka tidak segan mengaitkan sekulerisme yang dikatakan sebagai bagian dari ajaran agama. Padahal sejatinya, sekulerisme adalah musuh alami semua agama.
Jika tahap awal sekulerisme hanya melarang agama untuk ikut campur kedalam urusan publik, pada tahap akhir seperti yang dikisahkan film 3, sekulerisme akan terang-terangan melarang semua ritual dan atribut agama baik di kehidupan publik maupun privat.
Agama dipinggirkan, dideskriditkan, dicitrakan sebagai sesuatu yang kuno. Sehingga hampir semua orang Indonesia di tahun 2036 akan meninggalkan ajaran agama.

Hak Asasi Manusia yang Paradoks
Hak Asasi Manusia adalah barang dagangan orang-orang liberal. Sayangnya, lebih banyak orang liberal yang menggunakan HAM untuk menggebuk pihak lain. Mereka bicara HAM tentang Ahmadiyah, tapi bisu tentang penangkapan Densus 88 yang semena-mena.
Mereka lantang bicara HAM tentang penutupan gereja, namun diam seribu bahasa tentang masjid yang dibakar. Itulah paradoksnya liberal.
Dan film Tiga ini menjadi pembenaran atas penyakit munafik liberalisme. Dalam film itu dikisahkan Indonesia sebagai negara liberal yang berdasarkan Hak Asasi Manusia.
Namun anehnya, HAM tidak berlaku bagi orang berjubah dan bergamis, mereka dilarang makan di tempat umum. Pondok pesantren direkayasa agar dituduh teroris. Bom diledakkan di tempat keramaian hanya untuk membentuk opini masyarakat.

Terorisme Adalah Rekayasa Sosial
Ini bagian yang paling sensitif dari film ini. Sebuah pesan bahwa terorisme yang terjadi di belahan dunia termasuk Indonesia adalah hasil rekayasa sosial. Dalam film Alif Lam Mim, diceritakan gerakan terorisme yang mengatasnamakan agama adalah settingan dari aparat negara.
Lalu apakah cerita film itu juga merepresentasikan dunia nyata? Sangat mungkin benar, melihat fenomena yang terjadi saat ini. Namun siapa aktor dibaliknya itu yang sulit diungkap.
Busyro Muqqodas, mantan ketua KPK dan ahli hukum UII, dalam penelitiannya dia berani mengungkap bahwa ada indikasi terorisme di Indonesia adalah settingan dari intelijen negara. Namun tentu saja kebenarannya masih misterius bagi kita.

Liberal Pun Otoriter
Selama ini yang selalu diidentikkan dengan otoritarianisme adalah paham sosialisme dan Agama. Yakni, negara komunis dan negara teokrasi. Negara liberal selalu mencitrakan diri membuat penduduk lebih bebas.
Pada film Alif Lam Mim ini, ternyata negara yang sudah menganut liberalisme murni pun tak ubahnya seperti negara komunis dan fasis yang selalu ingin membuat rakyatnya tunduk pada kekuasaan.
Namun bedanya liberalisme tidak terang-terangan dan menjalankan misi pengaturan masyarakat itu dengan rahasia. Bahkan media masa juga dibungkam agar tidak sembarangan memberitakan kejanggalan pemerintah.

Moral Agama Selalu Bertahan Walau Banyak Distorsi
Satu inspirasi penting yang patut kita jadikan acuan, bahwa seperti apapun liberalisme mendistorsi agama, moral agama khususnya ajaran Islam akan terus bertahan.
Agama akan terus bertahan, karena itu kepastian dari Tuhan yang tertuang dalam kitab suci, melalui tangan-tangan manusia yang menjaga ajaran tersebut.

Sumber: https://satujam.com/film-alif-lam-mim/