Apa yang membuat jaringan internet di indonesia mahal?

internet merupakan kebutuhan yang cukup penting bagi kita. namun, internet saat ini rata rata cukup menghabiskan biaya bahkan cenderung mahal terutama di indonesia. bisakan anda menjelaskan apa yang menyebabkan internet di indonesia ini mahal?

Internet bisa dibilang merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat di seluruh pelosok dunia pada saat ini, bahkan ada sebagian orang yang merasa bahwa internet merupakan kebutuhan nomer satu bagi dirinya yang tak tergantikan. Namun, salah satu hal yang banyak meresahkan penggunanya adalah harga dari internet itu sendiri khususnya harga internet di Indonesia. Berikut ini merupakan hal utama penyebab jaringan internet di Indonesia mahal adalah :

1. Infrastruktur

Untuk menyediakan kualitas internet yang baik maka dibutuhkan bahan yang bagus pula untuk transfer datanya. Namun, harga yang dibutuhkan akan semakin besar pula seiring dengan semakin bagus bahan yang digunakan. Secara tidak langsung hal ini menyebabkan tingginya harga internet di Indonesia.

2. Kondisi geografis

Hal ini juga meningkatkan biaya infrastruktur seperti pada poin pertama karena dengan kondisi geoografis Indonesia yang berbentuk kepulauan maka secara tidak langsung bisa membuat harga internet di indonesia mahal. Ditambah lagi akses jalan yang tidak selalu “layak” dilewati sehingga wajar jika harga internet tinggi di Indonesia.

3. Adanya biaya lebih

Website yang sering dikunjungi oleh penduduk indonesia rata rata berasal dari luar negeri. Otomatis server yang dipakai adalah server luar negeri pula. Sedangkan untuk menggunakan server tersebut akan dikenakan biaya lebih bahkan pada server lokalpun biaya yang dikenakan juga relatif mahal sehingga hal ini juga termasuk penunjang kemahalan internet di Indonesia.

4. Adanya biaya hak penggunaan frekuensi

Biaya Hak Penggunaan Frekuensi (BHPF) adalah biaya yang harus disetor kepada pemerintah untuk setiap penggunaan frekuensi, baik itu internet, radio, ataupun televisi. Sedangkan harga yang harus dibayarkan tidaklah murah. Seperti Smartfren yang harus membayar Rp242 M untuk 3 tahun dan PT Telkom yang harus membayar trilyunan untuk tahun 2010. Besarnya harga ini ditentukan juga oleh kapasitas bandwidth masing-masing provider sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa harga internet akan melonjak pula.

Oleh karena itu, walau internet di Indonesia tergolong mahal kita harus bersyukur dan bijak dalam pengunaannya agar biaya yang telah kita keluarkan tidak terbuang sia sia dan bermanfaat secara maksimal bagi kehidupan kita. Karena dalam era digital seperti saat ini,

Sumber :

image

Alasan utama mahalnya jaringan internet di Indonesia berhubungan dengan banyaknya komponen biaya yang dibutuhkan untuk membangun suatu jaringan internet. Perusahaan yang membuat layanan internet pastinya tidak ingin rugi dan harus menghasilkan keuntungan. Beberapa hal yang membuat tarif internet di Indonesia mahal adalah :

1. Biaya Infrastuktur yang Mahal

Biaya infrastuktur menjadi biaya yang paling besar nilainya dalam membangun suatu layanan internet. Untuk membangun suatu jaringan yang cepat dibutuhkan infrastuktur yang memadai. Besar pengeluaran ini bergantung pada jenis infrastruktur yang dibangun (kabel atau nirkabel), topgrafi wilayah, coverage atau jangkauan, ongkos tenaga kerja dan pengeluaran lain yang tak terduga.

Besarnya biaya ini tidak sedikit, sebagai contoh adalah biaya pembangunan kabel optik adalah USD 7 per kilometer lalu dikalikan sekian kilometer area yang akan dijangkau. Sedangkan untuk pembangunan sebuah BTS atau pemancar telepon seluler yang juga digunakan untuk internet membutuhkan biaya paling tidak 1 milyar rupiah. Belum lagi permasalahan topografi wilayah di Indonesia yang memiliki banyak pegunungan akan membuat biaya infrastuktur semakin meningkat lagi.

2. Biaya Operasional Juga Mahal

Biaya operasional dibutuhkan untuk menjaga koneksi internet agar tetap cepat dan stabil. Biaya tersebut meliputi biaya perawatan server, gaji karyawan, biaya listrik dan sebagainya. Biaya ini tidak sedikit karena dikeluarkan secara reguler. Semakin besar infrastruktur, semakin besar pula biaya operasionalnya. Server, BTS, node-node router dan sebagainya harus dimonitor dengan baik. Belum lagi biaya tim respon darurat dan perbaikannya jika terjadi hal-hal yang diluar kebiasaan seperti misalnya putusnya kabel fiber optik Smartfren karena jangkar kapal.

3. Adanya Biaya Sambungan Internasional

Situs-situs seperti Google, Yahoo!, Twitter, Facebook, dan Blogger semua servernya ada di luar negeri. Untuk dapat mengakses server-server tersebut penyedia jasa internet harus tersambung secara internasional. Biaya yang dibutuhkan tidaklah murah, bahkan 1 Mbps saja berkisar hingga USD 100. Padahal Warga Negara Indonesia yang mengakses internet sangat banyak dan kebutuhan internet bisa mencapai ratusan bahkan ribuan GB. Inilah salah satu alasan kenapa internet di negara-negara maju itu murah sekali karena servernya ada di negara mereka sendiri.

4. Biaya Hak Pengguna

image

Operator yang menggunakan gelombang radio atau wireless di frekuensi berapapun, harus membayar BHP kepada pemerintah. Biaya ini tidaklah murah, terutama jika aplikasinya adalah komersial dan menghasilkan keuntungan besar seperti layanan internet GSM 3G atau CDMA EVDO.
Sebagai gambaran, Smartfren harus membayar sedikitnya 242 milyar rupiah untuk BHP selama 3 tahun. Nilai ini termasuk sedikit mengingat Smartfren adalah operator yang “kecil”. Pada tahun 2010, PT. Telekomunikasi Indonesia (Telkom) membayar BHP tahun dengan nominal trilyunan rupiah. Sedangkan Telkomsel dan XL tahun ini, masing-masing harus membayar BHP frekuensi sebesar 500 milyar untuk up front fee dan 100 milyar untuk BHP tahunan

5. Faktor Geografis Indonesia yang Masih Banyak Pegunungan, Sawah, dan Lautan Lepas

Wilayah Indonesia yang sangat luas menyulitkan para provider jaringan untuk dapat menyediakan layanan internet yang dapat di jangkau di seluruh pelosok. Hal ini yang membuat pembangunan infrastuktur tidak merata.
Beda dengan di luar negri yang mungkin luas daerahnya ga seberapa dan pembangunannya sangat padat dan maju sehingga infrastrukturnya sangat memadai.

Sumber :


Sumber : http://www.iamwire.com/2017/07/internet-of-things-analytics/153388

Kebutuhan akan internet yang sangat tinggi di Indonesia membuat para Internet service provider berjuang keras untuk meningkatkan kualitas internet di Indonesia. tuntutan dari konsumen akan kecepatan internet yang sangat tinggi menjadi permasalahn bagi para ISP di Indonesia. namun apakah yang menyebabkan Internet di Indonesia masih terbilang lambat.

1. Koneksi internet membutuhkan infrastruktur yang mahal. Ini juga yang menyebabkan koneksi kita lamban

Untuk menyediakan jaringan internet, tentu perlu infrastruktur yang memadai. Mulai kabel hingga tower dan hal-hal lain yang nggak bisa kita bayangkan sebagai orang awam. Nah, untuk membangun infrastruktur yang keren ini tentu biayanya juga nggak sedikit. Karena itu juga, kurangnya infrastruktur membuat internet kita lamban. Karena jumlah penduduk Indonesia masuk masuk lima besar terbanyak di dunia, pengguna internetnya pun tinggi. Tanpa dibarengi infrastruktur yang memadai ya jadinya lemot deh.

2. Mahalnya biaya infrastruktur juga dipengaruhi oleh kondisi geografis kita. Wilayah Indonesia yang berbukit-bukit & berlembah-lembah memang cukup menantang

Terus kenapa infrastrukturnya nggak memadai? Banyak sebabnya. Salah satunya adalah faktor geografis Indonesia dan infrastruktur lainnya. Misalkan sebuah perusahaan provider internet mau mendirikan tower baru, tentunya perlu akses ke sana. Nah apakah jalan ke sana sudah bisa dilalui kendaraan proyek? Apakah energi listriknya sudah memadai? Sayangnya, banyak lokasi di Indonesia yang memang masih minim infrastruktur. Sehingga untuk membangun fasilitas internet butuh biaya yang lebih tinggi lagi. Ini juga yang membuat tarif internet per daerah atau provider bisa berbeda. Karena biaya pembangunan dan pemeliharaan infrastrukturnya juga berbeda.

3. Mengakses website luar negeri juga butuh biaya lebih. Padahal di Indonesia kita terbiasa dengan Google, Facebook, Twitter, dan Instagram

Membuka Google, Youtube, dan berbagai situs media sosial internasional sudah menjadi keseharian. Website-website tersebut servernya berada di luar negeri. Padahal untuk mengakses ke sana, kita butuh biaya lebih. Diulas oleh tipstek, untuk berlangganan koneksi internasional ini biayanya sangatlah mahal, 1 Mpbs saja bisa 100USD. Ironisnya, harga server lokal juga ternyata relatif lebih mahal. Karena itulah, banyak dari pengusaha digital, website lokal yang memilih untuk pakai server luar negeri. Mahal lagi deh biayanya.

4. Selain biaya operasional dan infrastruktur, ada juga Biaya Hak Penggunaan Frekuensi yang lumayan tinggi. Mungkin inilah yang membebani

Biaya Hak Penggunaan Frekuensi (BHPF) adalah biaya yang harus disetor kepada pemerintah untuk setiap penggunaan frekuensi, entah itu internet, radio, ataupun televisi. Saat ini, BHPF termasuk sumber pendapatan negara yang sangat potensial lho. Nilainya pun nggak kecil. Seperti Smartfren yang harus membayar Rp242 M untuk 3 tahun. Sementara PT Telkom harus membayar trilyunan untuk tahun 2010. Besarnya BHP ini ditentukan juga oleh kapasitas bandwidht masing-masing provider. Nah barangkali karena modal yang nggak sedikit itulah yang membuat harga internet kita cenderung mahal.

5. Soal mahalnya harga internet ini, ada solusi “Sharing” yang pernah diajukan. Sayangnya hingga kini belum terealisasi

Seperti metode sharing taksi atau gerakan “nebengers” sebagai solusi mengurangi kemacetan, metode sharing ini pernah diajukan untuk menekan biaya internet. Dikutip dari Inet.detik, Menkominfo Rudiantara sudah mendorong Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) untuk mengkaji kemungkinan sharing infrastruktur. Hmm, apa ini maksudnya satu tower bisa dipakai bersama-sama beberapa provider? Kalau benar, apa nanti juga memungkinkan untuk sharing frekuensi? Lumayan ‘kan untuk menghemat modal?

6. Internet Indonesia memang mahal. Tapi tarif paket data di negara-negara ini akan membuatmu ternganga

Di negara-negara Afrika, akses internet masih tergolong langka. Di Gambia, untuk satu bulan internet rata-rata menghabiskan biaya sampai Rp1,3 juta. Di Ethiopia, kamu harus keluar uang Rp2,6 juta. Sama-sama di Asia Tenggara, di Myanmar biaya untuk satu bulan internet rata-rata Rp1,6 juta. Sementara negara Asia Tengah lainnya seperti Uzbekistan, biaya internet perbulannya rata-rata Rp1,71 juta. Sementara di Indonesia untuk penggunaan pribadi perbulan paling hanya menghabiskan Rp100-300 ribu. Masih lumayan ‘kan?

7. Koneksi internet Indonesia memang lambat, tapi syukurlah bukan yang terlambat. Bahkan ada yang kecepatan internetnya masih kurang dari 1 Mbps

Perkara kecepatan internet, kita memang masih perlu berbenah agar tak ketinggalan dengan negara-negara lainnya. Tapi percayalah, kecepatan internet kita masih mendingan dibanding beberapa negara lain seperti Suriah dan Libya hanya punya kecepatan 1,1-1,2 Mbps. lebih parah lagi, menjadi satu-satunya negara yang kecepatan internetnya kurang dari 1 Mbps, yaitu 0,7 Mbps. Lagipula selambat-lambatnya internet kita, paling nggak buka medsos masih lancar ‘kan?

Daftar Pustaka