Apa yang kamu ketahui tentang Desa wisata?

Desa wisata

Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. (Nuryanti, 1993).

Apa yang kamu ketahui tentang Desa wisata?

Pengertian Pariwisata


Menurut undang-undang nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan di dukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.

Hakikat pariwisata adalah suatu proses bepergian sementara dari seseorang atau lebih menuju tempat lain di luar tempat tinggal. Dorongan bepergian ini adalah adanya berbagai kepentingan baik kepentingan ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, kesehatan maupun kepentingan lain seperti karena sekedar ingin tahu, menambah pengalaman ataupun untuk belajar (Swantoro Gamal, 1997).

Sedangkan menurut Marpaung Happy, (2000) Pariwisata adalah perpindahan sementara yang dilakukan manusia dengan tujuan keluar dari pekerjaan rutin. Sehingga pariwisata pada hakikatnya adalah suatu kegiatan seseorang atau kelompok ke suatu tempat dan waktu tertentu untuk melahkukan kegiatan penyegaran, mencari suasana baru serta menghindari rutinitas sehari-hari.

Desa Wisata


Desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. (Nuryanti, 1993). Desa wisata adalah pengembangan suatu wilayah yang pada hakikatnya tidak merubah apa yang sudah ada tetapi lebih cenderung kepada penggalian potensi desa dengan memanfaatkan kemampuan unsur-unsur yang ada dalam desa (mewakili dan dioperasikan oleh penduduk desa) yang berfungsi sebagai atribut desa wisata dalam skala kecil menjadi rangkaian aktivitas pariwisata, serta mampu menydiakan dan memenuhi serangkaian kebutuhan perjalanan wisata baik aspek data tarik maupun sebagai fasilitas pendukungnya (Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, 2007).

Klasifikasi Desa Wisata


Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, klasifikasi desa wisata dibedakan menjadi sebagai berikut;

  1. Desa Wisata Rintisan
    Desa wisata rintisan adalah desa wisata yang masih dalam tahapan pertumbuhan awal, pada tahapan ini sistem manajemen dan pengelolaan desa wisata masih mendapatakan bantuan finansial dan pendampingan dari dinas terkait. Di desa wisata ini dalam anggaran pengelolaannya masih dibantu oleh anggaran dari pemerintah daerah (APBD), desa wisata rintisan masih mendapatkan perhatian cukup banyak dari segi perbaikan infrastrukur untuk semakin menunjang potensi desa wisata agar dapat digali dan ditawarkan kepada wisatawan yang datang.

  2. Desa Wisata Berkembang
    Desa wisata berkembang adalah desa wisata yang telah naik klasifikasi dari desa wisata rintisan, hal ini didasarkan pada perkembangan dan partisipasi masyarakat dan wisatawan yang datang cukup baik. Sehingga dalam hal ini pengelolaan dan manajemen semi campur tangan dari dinas terkait. Sehingga kelompok pengelola diberikan ruang dan kewenagan lebih banyak dari desa wisata rintisan karena sudah dianggap mampu untuk berkembang secara mandiri.

  3. Desa Wisata Mandiri
    Desa wisata mandiri adalah desa wisata yang di dalam pengelolaan dan manajemennya sudah dilahkukan oleh pengelola sendiri secara mandiri, dalam pengelolaanya biasanya dilahkukan oleh koperasi maupun kelompok masyarakat sadar wisata (Pokdarwis) setempat. Desa wisata mandiri biasanya sudah terstandar dalam hal fasilitas dan pelayanan yang diberikan kepada para wisatawan yang datang, bahkan standar untuk desa wisata ini biasanya terstandar nasional bahkan standar internasional. Bahkan beberapa desa wisata yang ada di Sleman sudah mampu untuk memberikan kontribusi nyata dalam pendapatan asli daerah seperti Desa Wisata Pentingsari, Desa Wisata Kembang Arum dan Desa Wisata Pulesari.

Karakteristik Masyarakat Desa Wisata


Menurut Gamal Suwantoro (2004) partisipasi masyarakat dalam pengembangan objek wisata, baik di dalam objek maupun di luar kawasan objek wisata adalah sebagai berikut:

  1. Jasa penginapan atau homestay .

  2. Penyediaan/usaha warung makan dan minuman.

  3. Penyediaan/toko souvenir/cindera mata dari daerah tesebut.

  4. Photografi.Menjadi pegawai perusahaan/pengusahaan wisata alam

  5. dan lain-lain.

Menurut Wahdjosumidjo (1984) motivasi atau dorongan seseorang untuk memilih bekerja di sektor pariwisata sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan faktor internal. Faktor internal meliputi pembawaaan, tingkat pendidikan, pengalaman masa lampau, keinginan atau harapan di masa depan, sedangkan faktor eksternalnya adalah lingkungan kerja, pemimpin, kepemimpinan dan sebagainya.

Masyarakat desa wisata memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan desa biasa pada umumnya, hal ini terjadi karena adanya interaksi yang lebih intens antara anggota masyarakat desa itu sendiri dengan wisatawan yang datang. Sehingga mau tidak mau masyarakat desa wisata akan menjadi masyarakat yang lebih terbuka serta menerima perubahanperubahan yang terjadi dan toleran terhadap pendatang yang berasal dari luar daerah desa tersebut. Hal ini secara langsung maupun tidak langsung juga akan mempengaruhi kondisi sosial di masyarakarat desa tersebut.

Dengan adanya desa wisata disuatu wilayah, maka kondisi sosial dan ekonomi masyarakat akan terpengaruh baik itu dalam jangka pendek maupun jangka panjang sebagai akibat dari adanya aktivitas wisata. Lebih lanjut sebagai konsekuensi dari keadaan sosial dan ekonomi masyarakat di desa wisata tersebut juga akan mempengaruhi status dan peran yang dimiliki di tengah masyarakat.