Apa yang harus diperhatikan ketika dalam proses pencarian jati diri?

Jati Diri

Di usia muda biasanya disebut masa mencari jati diri, nyobain beberapa hal, pingin tau ini itu, tapi justru pas nyari tau itu malah jadi bingung sendiri. Pilihan hidup aku ini sebetulnya apa ya ? Kebanyakan negative thinking, merasa insecure dan sebagainya. Apa yang harus kita lakuin agar hal-hal tersebut tidak terjadi

8 Likes

Ketika masa remaja, memang banyak yang ingin diakui. Aku ini dah begini, tapi masih banyak yang belum mengakui. Kalau saya yang penting adalah jangan salah pilih teman, karena temen sangat menentukan.

Misalnya ketika kita lagi galau, lebih baik kita “sendiri”. Sendiri di rumah, mengerjakan sesuatu yang baik atau berbicara dengan orang tua. Jangan biarkan diri kita kosong. Alihkan ke hal-hal yang positif.

Memang hal itu melelahkan tetapi itu harus dilawan. Apabila kita masuk ke sesuatu yang negatif, yang enak, kita akan terus selalu mengarah kesitu dan akan mencari terus sesuatu yang negatif tersebut.

Selain itu, berguru untuk mencari nasihat ke orang-orang yang tepat. Orang tua adalah pilihan yang paling tepat dalam mencari nasihat.

Pencarian jati diri itu memang susah bagi masa muda karena jiwanya memang sedang bergejolak. Proses pencarian jati diri tersebut jangan dilarang karena kalau dilarang malah nantang nanti. Sebaiknya dielus.

Dalam proses pencarian jati diri yang paling penting adalah jangan sampai salah pergaulan atau salah mencari seorang figure (yang akan dijadikan contoh).

6 Likes

Ketika kita mencari jati diri kita, hal yang perlu diperhatikan adalah cari tau passion kita dimana. Passion-mu adalah dirimu.

Mencari passion memang gampang-gampang susah, karena terkadang sulit membedakan apa yang menjadi passion kita dan apa yang kita inginkan. Passion biasanya mengarah kepada rasa bahagia, sedangkan keinginan mengarahkan kita pada kesenangan. Dengan kata lain, passion lebih condong ke rasa (jiwa), sedangkan kesenangan lebih condong ke nafsu. Memang susah membedakan keduanya, karena dua-duanya ada didalam hati.

So, memang kita perlu berhati-hati dalam memilih pergaulan. Coba cari teman yang berani menolak ataupun berdiskusi dengan kita. Hati-hati apabila teman kita selalu mendukung apa yang kita inginkan, apalagi sampai mengajak ke arah yang negatif.

Dalam masa proses pencarian jati diri, emosi dan pikiran kita biasanya dalam kondisi yang tidak stabil, atau belum dewasa.

Untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, satu-satunya cara adalah banyak membaca. Selain itu, selalu berusaha untuk berpikir rasional, sehingga kita tidak mudah “tertipu” oleh lingkungan kita. Banyak diskusi dengan orang yang berilmu, salah satunya adalah orang tua kita. Orang tua adalah orang yang hanya ingin melihat kebaikan dari diri anaknya. Tidak ada orang tua yang memanfaatkan anaknya, atau menjerumuskannya. Kalaupun ada, kemungkinannya sangat kecil sekali. Tetapi banyak sekali orang-orang di lingkungan kita yang ingin memanfaatkan diri kita. Selain itu, orang tua pasti jauh lebih berpengalaman dibandingkan kita.

Intinya adalah banyak-banyaklah berdiskusi dengan orang lain. Tetapi jangan telan mentah-mentah (mudah percaya) setiap informasi yang kita dapat. Lakukan perenungan setiap informasi yang ada, dan putuskan mana yang terbaik bagi diri kita secara rasional.

4 Likes

Saat kita berbicara mengenai jati diri, kita harus menggaris bawahi bahwa jati diri berati hal-hal yang menjadi pembeda kita dengan orang lain. Meriam-Webster mendefinisikan jati diri sebagai pembeda karakter atau kepribadian seseorang. Kita harus memegang teguh dalam ingatan kita bahwa kita itu lahir dengan cara kita sendiri dan dengan keunikan kita masing-masing.

Tetapi seperti yang kita ketahui pada umumnya proses pencarian diri ini masih sulit dilakukan. Adanya standar norma yang berlaku di masyarakat yang menilai sifat baik dan buruk perilaku membuat kita juga cenderung mengikuti peraturan yang ada padahal hal tersebut membuat kreativitas kita berkurang sehingga sulit untuk menemukan karakter kita sendiri.

Selain itu, banyak diantara kita yang masih menjadi bayang-bayang dari identitas orang lain baik dari orang disekitar kita (ibu, ayah, teman) atau orang yang kita idolakan. Contohnya adalah kita akan berperilaku sesuai dengan bagaimana yang orang tua ajarkan atau kita berperilaku sesuai dengan sosok yang kita idolakan. Kita cenderung meniru persona yang mereka tunjukkan dan alih alih mencoba menemukan Jati diri.

Kadang-kadang mengidolakan seseorang juga menjadi hal baik, karena orang hebat seperti Adele saja juga mengidolakan Beyonce. Mengidolakan orang yang sukses akan membantu diri kita dalam proses pencarian jati diri. Itu membantu kita untuk mengadopsi hal-hal baik yang mampu menjadikan kita juga sesukses yang kita idolakan

Untuk menemukan jati diri, kita perlu memperhatikan beberapa hal seperti
Menemukan Passion dalam diri. saya setuju dengan pendapat ini:

untuk lebih mudah memahaminya, passion disini seperti hal-hal apa yang sebenarnya kita sukai dan sangat tertarik di dalamnya. Ini akan sangat membantu kita untuk mengetahui keunggulan kita dan ini menjadi pembeda kita dengan orang lain.

Berdamai dengan diri sendiri, dalam hal ini dapat dilakukan dengan mengikhlaskan harapan-harapan yang tidak sesuai dengan realita. Kita perlu mengambil waktu untuk berkompromi dan berdiskusi dengan diri kita sendiri dan menerima dengan lapang dada setiap hal negatif yang terjadi. Kita juga perlu memahami kelebihan dan kekurangan kita dan menerima itu sepenuhnya.

Selanjutnya mulailah dengan menentukan tujuan hidup agar dapat menjabarkan hal-hal yang akan dilakukan dan berfokus untuk mencapai tujuan tersebut. Jangan takut mencoba hal-hal baru yang mengarah pada tujuan hidup yang telah kamu tentukan.

Dan terakhir jangan lupa berdoa. Bahkan ketika berdoa pun, tetap sertakan pertanyaan pada Yang Esa
“Engkau ingin aku hidup seperti apa?”
Karena sejatinya, kita adalah makhluk ciptaan-Nya dan bagaimana kita hidup haruslah sesuai kehendak-Nya.

Referensi

https://www.merriam-webster.com/dictionary/identity

5 Likes

Dalam proses pencarian jati diri sebaiknya kita mengikuti hal benar-benar kita inginkan. Mencoba banyak hal baru tidak ada salahnya, dengan cara seperti itu justru kita akan mengetahui apa yang benar-benar menjadi keinginan dan kebutuhan kita atau apa yang hanya sekadar ikut-ikutan dan berujung haus pengakuan.

Proses pencarian jati diri setiap orang memiliki masa yang berbeda-beda. Beruntung bagi mereka yang tumbuh dalam lingkungan positif dimana orang-orang maupun keadaan memberikan peluang lebih besar untuk remaja tersebut menemukan kenyamanannya.
Tetapi bagi mereka yang harus berjuang keras melawan lingkungan dan keadaan tentu prosesnya akan jauh lebih lama, bahkan banyak dari mereka yang kemudian menganggap bahwa cukup menjadi sama seperti yang ada dalam lingkungan tersebut.

Proses pencarian jati diri sendiri tidak lepas dari rasa penasaran dan besarnya keingintahuan remaja tersebut terhadap hal-hal yang jauh berbeda dengan keadaan keluarga maupun lingkungan kecilnya. Dalam hal ini peran orangtua jelas banyak berpengaruh, untuk memberikan garis, batasan dan peraturan sampai sejauh mana remaja tersebut boleh mengeksplorasi keingintahuannya.

5 Likes

Usia muda merupakan fase setiap individu untuk mulai mengeksplore diri, mengembangkan dan mencoba berbagai hal untuk mencari jati diri. Untuk mengetahui apa sih kemampuan kita? Apa sih keunggulan kita? dll.

Pencarian jati diri setiap individu berbeda-beda, ada yang mencari jati diri dengan aktif mengikuti perlombaan, organisasi, komunitas, kegiatan sosial, dll. Pada intinya untuk mencari sebuah jati diri jangan takut untuk mencoba hal baru dan perbanyak jaringan pertemanan. Karena terkadang kita dapat belajar memaknai arti hidup secara luas ketika kita bertemu dengan orang-orang baru.

Perasaan negative thingking ataupun insecure merupakan hal yang sangat wajar, karena sejatinya manusia akan merasa seperti itu ketika kurang mensyukuri apa yang saat ini telah diberikan. Namun bukan berarti hal tersebut dijadikan sebuah alasan, boleh saja memiliki perasaan tersebut namun sewajarnya saja karena hal yang berlebihpun tidak baik.

Bisa jadi negative thingking ataupun insecure dapat menjadi sebuah bahan refleksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Hal tersebut akan tetap aman ketika sewajarnya saja tidak berlebihan. Misalnya nih ketika kita terlalu negative thingking, memandang semua hal secara negativ tanpa melihat sisi positiv hal tersebut sangat berbahaya untuk diri sendiri maupun orang disekitarnya. Atau kalau kita insecure secara berlebih, misalnya “Aku pendek ya, gak PD deh malu sama temen-temen” padahal Allah telah menciptakan umatnya dengan berbagai karakter dan bentuk yang pastinya ada hikmah dibalik semua itu. Jika insecure berlebih berarti kita kurang mencintai diri kita sendiri, bagaimana mau membahagiakan orang lain kalau diri sendiri saja belum bahagia dan selalu mengeluh atau insecure .

Untuk mengatasi perasaan-perasaan tersebut sebenarnya simpel, banyakin bersyukur dengan hidup yang telah Allah berikan dan selalu memiliki mindset “AKU HARUS LEBIH BAIK LAGI”.

Penting banget untuk nanemin perasaan cinta sama diri sendiri dan mulai peduli dengan diri sendiri, dengan begitu proses pencarian jati diri akan terlihat dengan sendirinya.

4 Likes

Saya sering mendengar bahwa masa remaja adalah masa pencarian jati diri, saya sendiri masih dalam usia ‘remaja awal’ kalau mengutip kategorisasi usia menurut Kementrian Kesehatan republik Indonesia. Mencari jati diri, kata yang sepertinya berat untuk diartikan. Tidak sama seperti mencari burung atau ular seperti kegemaran saya, jati diri memang terkesan seperti lebih intangible karena wujudnya tidak terlihat (bahkan saya sendiri tidak sadar bahwa sedang dalam kegiatan pencarian jati diri). Saya sepakat dengan pendapat @dhelya bahwa salah satu protokol terbaik ketika dalam masa pencarian jati diri seperti saya butuh sosok ‘guru’


Sumber: grid.id

Saya ingin mengambil sudut pandang guru sebagai pengarah ketika pencarian jati diri. Saya menerjemahkan ini sebagai, adanya seseorang sebagai panutan yang mencerminkan sosok ideal yang kita inginkan. Saya merupakan seseorang yang sangat menyukai binatang, terlebih reptil sehingga saya mengikuti orang-orang yang juga memiliki kesukaan seperti saya seperti Panji Petualang. Melihat sosok seperti Panji Petualang membuat saya semangat, apa yang ia katakan dan sarankan sangat sesuai dengan apa yang ada dalam benak saya. Sosok seperti Panji Petualang adalah cerminan jati diri saya. Perilaku saya yang seperti ini merupakan idoling menurut Verauli (2017: 33).

Kegiatan idoling sebenarnya merupakan hal yang tidak mengenal usia, baik dewasa maupun remaja bisa melakukannya. Pasalnya, kegiatan itu sebenarnya adalah bentuk pencarian jati diri yang berlangsung seumur hidup (Psikolog anak dan keluarga, Roslina Verauli melalui bukunya yang berjudul Cerita Cinta)

Saya merasa jati diri merupakan pilihan, bahkan sejak awal ketika kita menentukan usia saya adalah usia mencari jati diri itu sudah merupakan pilihan. Saya memilih untuk mencari jati diri melalui cermin dari idola saya, Panji Petualang.

Referensi

Verauli, Roslina. 2017. Cerita CInta: Memahami Cinta Sejati. Jakarta: Gramedia

2 Likes

Dalam pencarian jati diri, saya selalu mengaitkan dengan 3 pertanyaan paling mendasar yang semua manusia pasti pernah bertanya-tanya tentangnya.

Dari mana aku berasal ?

Untuk apa aku hidup ?

Kemana aku setelah mati ?

Tentunya 3 pertanyaan ini identik dengan konsep agama khususnya pada agama Islam. Sebagai seorang muslim, sangat wajar untuk bertanya tentang asal usul kita di luar dari pembahasan bahwa manusia berasal dari gumpalan darah dan daging. Itulah mengapa Tuhan menganugerahkan “akal” bagi manusia, digunakan untuk berpikir mendalam. Seiring kita tumbuh dewasa, kita akan memperhatikan tentang makhluk-makhluk yang ada di dunia ini. Alam semesta terlalu kompleks apabila tercipta dengan cara tiba-tiba. Maka dari itu kita tidak bisa mengelak bahwa ada Dzat di balik alam semesta yang menciptakan ini semua. Tentunya sifat “Maha Pencipta” tidak bisa dianalogikan seperti manusia.

Kemudian apa tugas manusia di dunia? Saya yakin teman-teman muslim sudah familiar dengan statement bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Sang Pencipta, yaitu melaksanakan apa yang Tuhan perintahkan dan menghindari apa yang dilarang oleh Tuhan. Tentunya statement ini masih bersifat sangat umum. Namun masih banyak yang mengira bahwa tugas seorang muslim hanya melakukan ibadah shalat, puasa, zakat, haji. Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan duniawi, dianggap bukan bagian dari ibadah. Padahal apabila kita mendalami ilmu Islam, tidak ada sesuatu yang tidak diatur dalam Islam. Berkontribusi pada bidang ekonomi, pendidikan, kedokteran, pertanian, semua itu adalah bagian dari ibadah.

Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya.

Dalam Islam, kehidupan setelah mati adalah kembali kepada Allah berdasarkan apa yang telah kita lakukan di dunia. Apakah kita menjalani kehidupan dengan aturan sendiri atau istilah bahasa jawanya “sak penake dewe”, ataukah kita menjalani hidup sesuai dengan perintahNya. Tempat yang akan kita semua akan singgah yaitu Surga dan Neraka. Tempat yang belum pernah terlihat dan hanya diyakini oleh orang-orang yang memiliki keyakinan terhadap Allah, RasulNya, dan Kitab Suci yaitu Al-Qur’an.

Maka memahami peran kita di bidang apapun selama kita melandaskannya untuk melaksanakan perintah Allah SWT sebagai seorang hamba, semua itu adalah bagian dari jati diri. Semua itu harus diawali dengan mengenal Tuhan dan mendalami ilmu Nya.

Sehingga ketika kita paham betul dengan peran kita sebagai manusia yang beriman kepada Allah, maka kita jelas akan membuat target. Apa yang akan kita lakukan dan apa yang akan kita kontribusikan kepada umat.

1 Like