Apa yang harus dilakukan jika customer tidak tertarik dengan MVP yang kita keluarkan?

Salah satu tujuan dibuatnya MVP adalah untuk mendapatkan feedback dari customer terkait produk yang akan diluncurkan, lalu hal apa yang dapat dilakukan untuk mencegah atau membuat customer tertarik dengan MVP kita

MVP dilakukan secara terus – menerus dan berulang kali dengan melibatkan customer untuk mendapatkan feedback dari mereka terkait MVP tersebut, apakah sudah sesuai dengan problem yang dihadapi atau belum, hal ini akan terus berlanjut ketika kita sebagai developer atau product manager menemukan titik masalah yang mereka hadapi dan mengetahui solusinya bagaimana.

“Customer don’t care about your solution. They care about their problems. To play on Pragmatic Marketing Phrase, “Your solution, while interesting, is irrelevant”.

Dari pernyataan diatas, realita mengatakan bahwa customer tidak akan memperdulikan solusi apa saja yang kita berikan kepada mereka terkait masalah yang mereka hadapi, yang hanya mereka pikirkan hanyalah bagaimana solusi mereka terpecahkan. Dengan kata lain, mereka tidak akan peduli seberapa banyak solusi yang mereka coba jika masih tidak memberikan hasil, maka mereka tidak akan memperdulikannya.

Hal inilah mengapa MVP sangat diperlukan dalam hal validasi produk yang akan kita buat nantinya. Namun, terkadang MVP yang telah kita buat terlalu minimum dan hampir dari kata Valuable, artinya kita tidak bisa mendeliver nilai yang ada pada produk untuk customer.

Sehingga, kita selalu memperbaiki MVP tersebut, dan merelease ulang dengan tambahan versi 1.0, 2.0 ataupun selanjutnya, karena terdapat perbaikan dari versi sebelumnya. Jika hal ini terus menerus terjadi, customer akan menjadi muak dan bosan sehingga membuat mereka membenci MVP tersebut. Selain itu, hal ini membuat customer beasumsi bahwa MVP adalah produk jadi.


Hal ini mungkin akan membawa dampak positif di satu sisi, karene secara tidak langsung mereka memberikan feedback terkait MVP yang telah kita buat, namun apa yang dianggap jelek oleh customer akan berdampak jelek juga oleh perusahaan, sehingga cara yang tepat adalah membuat sebuah MVP baru dengan cara yang baru juga.

Terlebih dahulu tekankan pada customer bahwa MVP bukanlah hasil akhir dari produk anda ataupun produk jadi, berikanlah mereka pandangan bahwa MVP hanyalah trial yang dapat mereka coba dan dapat mereka rasakan apa kekurangan yang ada, sehingga customer tidak merasa terganggu nantinya jika MVP tersebut bukanlah produk yang dibuat untuk pemecahan solusi masalah mereka, karena masih bersifat trial.

SIMPLE

Sesuai dengan namanya “Minimum”, buatlah MVP si simple mungkin, baik design dan protoype ataupun lainnya yang merupakan bagian dari produk itu sendiri, hal ini bertujuan untuk membuat user nyaman dalam mencobanya dan mudah dalam menggunakannya, sehingga mereka tidak merasa terbebani. Tidak masalah jika produk tersebut masih belum mencakup permasalahan user saat itu, asalkan simple dan mudah dalam penggunaannya.

Contoh : awal di release nya Google docs, dimana yang hampir sama fungsionalitasnya dengan Ms. Word, namun kenyatannya google docs hanya memiliki 3% feature dari Ms.Word namun sudah dinilai baik karena tidak menimbulkan kesusahan saat menggunakan.

COMPLETE

Usahakan sebuah MVP terdapat feature lengkap dari produk yang akan dibuat. Maksudnya adalah ketika kita membuat sebuah produk tentunya sudah menjelaskan secara detail apa saja fungsionalitas yang ada didalam produk itu di awal perencanaan pembuatan produk, usahakan hal tersebut sudah terdapat dalam MVP yang dibuat, namun tetap dalam standar minimum dan simple, dalam artian tidak membuat user jenuh dan malas dengan produk kita.Hal ini bukan menyalahi aturan minimum yang dimaksud dalam MVP, namun yang dimaksud complete disini adalah mendefinisikan kesuluruhan fungsionalitas sistem / produk, karena pasti terdapa kekurangan dan lain sebagainya.

LOVABLE

Buat sebuah MVP yang dapat dicintai oleh customer kita, dengan kata lain produk kita memiliki daya tarik terhadap user untuk mau digunakan oleh mereka Seperti yang dijelaskan diatas, customer akan lebih menyukai produk dimana mereka tidak dituntut untuk melakukan sesuatu hal yang rumit.

Note : Sebuah MVP yang sudah dijalankan selama beberapa waktu namun tidak ada penambahan apapun didalamnya (perbaikan) maka dianggap sebagai produk yang gagal. Namun, jika SLC (simple, Loveable, Complete) tidak terdapat perubahan apapun, maka hal ini dianggap baik dalam konteks membuat produk yang sederhana.


Kesimpulan :

  1. MVP bisa tidak disenangi oleh customer jika MVP tersebut tidak memberikan value atau tidak dapat memecahkan solusi customer saat itu.
  2. Perbaikan MVP yang terus menerus berulang akan berdampak buruk bagi customer dan juga perusahaan, karena sudah mendapatkan pandangan yang buruk tentang produk tersebut oleh customer.
  3. MVP tidak dapat diterima oleh customer karena selalu membutuhkan effort yang tinggi bagi customer untuk dapat merasakannya (try), sehingga membuat customer enggan memberikan effort.
  4. Untuk dapat membuat MVP diterima oleh customer, buatlah sebuah MVP yang mewakili produk yang memiliki kriteria SLC (Simple, Loveable,Complete) sehingga membuat customer lebih welcome terhadap produk tersebut.

sumber :
https://blog.asmartbear.com/slc.html
https://pragmaticmarketing.com/resources/articles/an-mvp-is-not-the-smallest-collection-of-features