Apa yang harus dilakukan dalam mengevaluasi jadwal proyek dengan menggunakan analisis risiko kuantitatif?

Dalam mengevaluasi jadwal proyek bisa dilakukan dengan memanfaatkan analisis risiko kuantitatif. Lalu apa yang harus dilakukan dalam mengevaluasi jadwal proyek dengan analisis risiko kuantitatif?

Dalam sebuah proyek pastinya manajer proyek beserta tim tidak ingin melewatkan batas waktu akhir proyek. Oleh karena itu manajer proyek harus memperkirakan secara tepat berapa lama waktu yang dibutuhkan sebuah proyek sampai selesai dengan menambahkan risiko-risiko yang mungkin terjadi. Ada suatu metode yang bisa digunakan yaitu metode Padding. Misalnya sebuah proyek diperkirakan selesai dalam 120 hari maka manajer proyek dapat memperkirakan waktu proyek dengan menambahkan 10% dari waktu awal. Jadi manajer proyek akan memperkirakan waktu pengerjaan proyek selama 132 hari. Metode penambahan waktu ini merupakan metode cepat tetapi kurang baik dalam sebuah proyek.

Dalam mengevaluasi jadwal proyek, maka tim proyek akan membuat dan menyelesaikan Work Breakdown Structure (WBS) serta melakukan estimasi bottom-up. Lalu tim dapat memperkirakan proyek akan membutuhkan waktu 188 hari. Tim proyek juga akan mengidentifikasi risiko-risiko yang mungkin terjadi. Misalkan tim proyek mengidentifikasi 30 risiko dalam analisis risiko kuantitatif. Dari 30 risiko, lalu tim proyek mengidentifikasi 6 risiko yang memiliki potensi besar untuk mempengaruhi jadwal. Tim proyek akan memprioritaskan 6 risiko ini.

Risiko yang menjadi prioritas ini kemudian dianalisis risiko tertingginya. Misalkan ada risiko A,B,C,D,E dan F.

  • Risiko A. Ada kemungkinan 30% bahwa waktu pelatihan akan membutuhkan tambahan 10 hari.

  • Risiko B. Ada kemungkinan 40% menambahkan anggota jaminan kualitas dan mengurangi waktu pengujian hingga 20 hari.

  • Risiko C. Ada kemungkinan 50% bahwa vendor perangkat lunak akan mengimplementasikan peningkatan yang diperlukan yang akan membutuhkan tambahan 20 hari.

  • Risiko D. Ada 30% kemungkinan para pemangku kepentingan meminta fitur perangkat lunak tambahan yang akan membutuhkan tambahan 30 hari.

  • Risiko E. Ada kemungkinan 25% bahwa desain akan dapat memanfaatkan set kode lain yang akan mengurangi waktu pengkodean selama 20 hari.

  • Risiko F. Ada kemungkinan 70% bahwa stress testing akan menghasilkan kebutuhan untuk pekerjaan database tambahan yang akan membutuhkan tambahan 40 hari.

Dari 6 risiko tersebut maka risiko B dan E merupakan sebuah peluang.

Setelah menganalisis risiko lalu dilanjutkan dengan menggunakan Expected Monetary Value (EMV) untuk menghitung cadangan kontingensi yang menghitung jumlah pengerjaan ulang yang tidak diketahui.

Rumus EMV yaitu probabilitas dikalikan dampak.

image

Dari perhitungan EMV maka didapatkan total yaitu 37 yang artinya manajer proyek menambahkan 37 hari dari jadwal proyek.

Sumber : http://projectriskcoach.com/evaluating-project-schedules-utilizing-quantitative-risk-analysis/