Apa yang dimaksud teman sebaya dalam psikologi perkembangan remaja?

image

teman sebaya adalah sekelompok orang yang kurang lebih berusia sama dimana kelompok ini berfikir dan bertindak secara bersama-sama.

1. Tekanan Teman Sebaya dan Konformitas

Remaja dalam masa transisi menuju dewasa, memiliki rasa ingin tahunya yang besar mengenai kehidupan manusia disekitar mereka dan selalu ingin tahu hal-hal yang dialami kawan- kawan mereka. Para remaja juga bercerita mengenai kenikmatan yang diperoleh dari keakraban dan kegembiraan ketika menjalin relasi, termasuk mengenai kemungkinan mereka terluka dari relasi tersebut. Sebagai contoh mereka suka pergi bersama sama diberbagai aktifitas sekolah, dilingkungan rumah, makan bersama, suka pergi ke pesta-pesta, atau hanya sekedar jalan-jalan dan lain lain.

Remaja memiliki kebutuhan yang kuat untuk disukai dan diterima kawan sebaya atau kelompok. Sebagai akibatnya mereka akan senang apabila diterima dan sebaliknya akan merasa tertekan dan cemas apabila dikeluarkan dan diremehan oleh kawan-kawan sebayanya. Bagi banyak remaja, pandangan kawan-kawan pada dirinya merupakan hal yang paling lebih penting. Bahkan kadang lebih penting daripada orangtuanya sendiri, mereka lebih mengutamakan kawan-kawannya supaya mereka bisa diterima di komunitas teman sebaya. Karena remaja merasa sudah besar serta sudah mandiri.

Sebagaimana orang dewasa, seorang remaja hidup di dua lingkungan: di rumah dan di luar rumah. Di rumah, remaja belajar tentang norma-norma berperilaku yang diterapkan orang tua. Tatapi remaja kadang ingin melepaskan diri dari norma-norma tersebut kalau sudah keluar dari rumah misalanya pada saat pergi ke sekolah, mereka mengikuti cara berpakaian, kebiasaan bahasa, dan peraturan teman sebaya mereka kalau tidak ingin ditertawakan atau dikucilkan apabila tidak mengikuti aturan kelompok teman sebaya mereka. Remaja akan taat hukum disaat kelas lima Sekolah Dasar (SD), mungkin mau melanggar hukum di Sekolah Menengah Atas (SMA) jika itu diperluakan atau yang mereka pikir diperlukan untuk mendapatkan rasa hormat dari rekan-rekan mereka.

Memang sulit untuk memisahkan efek orang tua dan teman sebaya karena orang tua biasanya mencoba untuk mengatur berbagai hal sehingga lingkungan anak mereka meniru nilai dan kebiasaan yang diatur oleh orang tua sendiri. Oleh karena itu, untuk melihat faktor yang lebih kuat mempengaruhi kepribadian dan perilaku anak remaja, kita harus melihat situasi dimana nilai yang dijunjung kelompok teman sebaya, apakah bertentangan dengan nilai yang dijunjung orang tua apa tidak. Ketika orang tua menghargai prestasi akademik dan teman sebaya si anak menganggap prestasi disekolah hanya diperuntukkan bagi pengkhianat atau kutu buku, maka pandangan siapa yang paling menang? Jawabannya, pandangan teman sebayalah yang biasanya menang. Sebaliknya anak yang orang tuanya tidak memberikan dorongan atau motivasi untuk sukses mungkin akan mendapati diri mereka bergaul dengan teman sebaya yang berusaha sangat keras untuk masuk ke perguruan tinggi maka mereka juga mulai ikut termotivasi untuk belajar keras seperti yang dilakukan oleh teman kelompoknya.

adalah kelompok yang baru dimana didalamnya anak memiliki ciri, norma dan kebiasaan yang jauh berbeda dengan apa yang ada. Itulah uniknya remaja. Dan satu lagi mengapa remaja lebih senang bergaul dengan yang seusianya karena dengan usia yang sama dapat melibatkan keakraban yang relatif besar, kebutuhannya mereka juga hampir sama yaitu kebutuhan akan saling bertukar informasi mengenai dunia luarnya yaitu dunia diluar keluarga seperti mereka bercerita mengenai bagaimana bisa diterima di kelompoknya, bagaimana mengeksplorasi prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan melalui pengalaman mereka ketika menghadapai perbedaanperbedaan dengan teman sebaya dan itu semua merupakan dunia sosial remaja yang merupakan karakteristik yang khas yang harus dilewatinya.

Bagi beberapa remaja dalam pergaulan, pengalaman ditolak atau diabaikan dapat membuat mereka merasa kesepian dan menimbulkan sikap bermusuhan. Dibutuhkan kemampuan baru dalam menyesuaikan diri yang dapat dijadikan dasar dalam interaksi sosial yang lebih besar. Tekanan untuk mengikuti teman sebaya atau yang disebut konformitas (conformity) pada masa remaja sangat kuat. Konformitas muncul ketika individu meniru sikap, atau tingkah laku orang lain dikarenakan ada tekanan nyata maupun yang dibayangkan oleh mereka. Konformitas dengan tekanan teman-teman sebaya pada masa remaja dapat bersifat positif maupun negatif. Umumnya remaja terlibat dalam semua bentuk perilaku konformitas yang negatif, seperti menggunakan bahasa yang kasar, mencuri, merusak, dan mengolok-olok orangtua dan guru. Akan tetapi banyak sekali konfomitas teman sebaya yang tidak negatif dan terdiri atas keinginana untuk dilibatkan di dunia teman sebaya, seperti berpakaian seperti teman-teman dan keinginan untuk meluangkan waktu dengan anggota suatu klik… Banyak dari remaja yang membuat kegiatankegiatan prososial seperti mengumpulkan uang untuk tujuan-tujuan yang bermakna.

Berhadapan dengan remaja tentunya berbeda dengan berhadapan dengan anak kecil. Anak-anak kecil harus diasuh dengan cara yang berifat melindungi dan agak otoriter. Mengapa hal itu dilakukan? karena pengetahuan dan pengalaman mereka tentang dunia jauh lebih sedikit, demikian juga dengan ruang lingkup mereka. Karena itu mereka harus dilindungi dan dibantu. Sedang anak remaja yang proses berfikirnya lebih logis, kritis tentunya berbeda perlakuannya. Termasuk remaja dalam pemilihan teman harus lebih selektif agar tidak terpengaruh dalam peilaku konformitas negatif yang dapat merugikan diri sendiri.

2. Klik dan Kelompok

Kebanyakan relasi dengan kelompok teman sebaya pada masa remaja dapat dikategorikan dalam salah satu dari tiga bentuk: Kelompok, klik, atau persahabatan individual. Klik (cliques) ialah kelompok-kelompok yang lebih kecil, memiliki kedekatan yang lebih besar diantara anggota-anggota, dan lebih kohesif terhadap kelompok. Sedangkan arti kelompok (crowd) adalah kelompok-kelompok remaja yang terbesar dan kurang bersifat pribadi.

Kesetiaan kepada klik, klub, organisasi dan tim memiliki kendali yang kuat terhadap kehidupan banyak remaja. Identitas kelompok seringkali mengalahkan identitas pribadi. Pemimpin suatu kelompok dapat menempatkan seorang anggota dalam suatu posisi yang mengandung konflik moral dengan menanyakan, “mana yang lebih penting, aturan kami atau orangtua kamu? atau “Apakah kamu menjaga diri kamu sendiri atau anggota-anggota kelompok? Di sinilah dilema remaja satu sisi mereka harus tetap menjaga nilai-nilai moral, etika dan lain sebagainya baik itu berasal dari orangtua, guru ataupun masyarakatnya akan tetapi di sisi lain gejolak remaja dimana mereka ingin diterima di suatu komunitas atau kelompok yang kadang-kadang bertentangan nilai nilai moral dan etika maka remaja dalam keadan seperti ini harus bisa memilah dan memilih.

3. Persahabatan

Sahabat bagi remaja sangatlah penting karena dengan sahabat remaja dapat bercerita kepadanya dan mengetahui segala rahasia-rahasia yang tidak mungkin diceritakan kepada teman yang lain. Mereka ingin berbagi persoalan, minat, informasi dan rahasia sesama mereka. Mereka juga saling menenggang perasaan dan tidak inigin saling menyakiti. Persahabatan memainkan peran penting dalam membentuk pemikiran dan sikap remaja, dan juga dapat mempengaruhi kesejahteraan moral dan spiritual. Persahabatan dapat membuat lebih berani (atau nekad, tergantung bagaimana melihatnya), atau lebih ramah, atau lebih egois dan agresif daripada sifat remaja biasanya. Dalam persahabatan memiliki enam fungsi: kawan, pendorong, dukungan fisik, dukungan ego, perbandingan sosial, dan keakrapan atau afeksi.

a. Berkaitan dengan kawan, persahabatan memberi anak-anak seorang teman bermain yang akrab, seseorang yang mau meluangkan waktu bermain bersama mereka.

b. Berkaitan dengan pendorong, persahabatan memberi anak-anak informasi, kegembiraan, dan hiburan yang menarik.

c. Berkaiatan dengan dukungan fisik, persahabatan memberi waktu, sumber-sumber dan bantuan.

d. Berkaitan dengan dukungan ego, persahabatan memberi harapan dukungan, dorongan semangat, dan umpan balik yang menolong anakanak mempertahankan suatu kesan yang tentang diri sendiri sebagai orang yang bekompeten, menarik dan berharga.

e. Berkaitan dengan perbandingan sosial, persahabatan memberikan informasi tentang posisi seorang anak berhadapan dengan anak lain dan apakah anak melakukan sesuatu dengan baik.

f. Berkaitan dengan keakraban dan afeksi, memberi anak-anak suatu hubungan yang hangat, erat, saling mempercayai dengan orang lain dimana penyingkapan diri berlangsung.

Tidak diragukan lagi bahwa keluarga merupakan salah satu konteks sosial yang penting bagi perkembangan individu. Meskipun demikian perkembangan anak juga sangat dipengaruhi oleh apa yang terjadi dalam konteks sosial yang lain seperti relasi dengan teman sebaya. Laursen (2005 : 137) menandaskan bahwa teman sebaya merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan pada masa-masa remaja. Penegasan Laursen dapat dipahami karena pada kenyataannya remaja dalam masyarakat moderen seperti sekarang ini menghabiskan sebagian besar waktunya bersama dengan teman sebaya mereka (Steinberg, 1993 : 154).

Penelitian yang dilakukan Buhrmester (Santrock, 2004 : 414) menunjukkan bahwa pada masa remaja kedekatan hubungan dengan teman sebaya meningkat secara drastis, dan pada saat yang bersamaan kedekatan hubungan remaja dengan orang tua menurun secara drastis. Hasil penelitian Buhrmester dikuatkan oleh temuan Nickerson & Nagle (2005 : 240) bahwa pada masa remaja komunikasi dan kepercayaan terhadap orang tua berkurang, dan beralih kepada teman sebaya untuk memenuhi kebutuhan akan kelekatan (attachment). Penelitian lain menemukan remaja yang memiliki hubungan dekat dan berinteraksi dengan pemuda yang lebih tua akan terdorong untuk terlibat dalam kenakalan, termasuk juga melakukan hubungan seksual secara dini (Billy, Rodgers, & Udry, dalam Santrock, 2004 : 414). Sementara itu, remaja alkoholik tidak memiliki hubungan yang baik dengan teman sebayanya dan memiliki kesulitan dalam membangun kepercayaan pada orang lain (Muro & Kottman, 1995 : 229). Remaja membutuhkan afeksi dari remaja lainnya, dan membutuhkan kontak fisik yang penuh rasa hormat. Remaja juga membutuhkan perhatian dan rasa nyaman ketika mereka menghadapi masalah, butuh orang yang mau mendengarkan dengan penuh simpati, serius, dan memberikan kesempatan untuk berbagi kesulitan dan perasaan seperti rasa marah, takut, cemas, dan keraguan (Cowie and Wallace, 2000 : 5).

Teman sebaya atau peers adalah anak-anak dengan tingkat kematangan atau usia yang kurang lebih sama. Salah satu fungsi terpenting dari kelompok teman sebaya adalah untuk memberikan sumber informasi dan komparasi tentang dunia di luar keluarga. Melalui kelompok teman sebaya anak-anak menerima umpan balik dari teman-teman mereka tentang kemampuan mereka. Anak-anak menilai apa-apa yang mereka lakukan, apakah dia lebih baik dari pada teman-temannya, sama, ataukah lebih buruk dari apa yang anak-anak lain kerjakan. Hal demikian akan sulit dilakukan dalam keluarga karena saudara-saudara kandung biasanya lebih tua atau lebih muda (bukan sebaya) (Santrock, 2004 : 287). Hubungan yang baik di antara teman sebaya akan sangat membantu perkembangan aspek sosial anak secara normal. Anak pendiam yang ditolak oleh teman sebayanya, dan merasa kesepian berisiko menderita depresi. Anak-anak yang agresif terhadap teman sebaya berisiko pada berkembangnya sejumlah masalah seperti kenakalan dan drop out dari sekolah. Gladding (1995 : 113-114) mengungkapkan bahwa dalam interaksi teman sebaya memungkinkan terjadinya proses identifikasi, kerjasama dan proses kolaborasi. Proses-proses tersebut akan mewarnai proses pembentukan tingkah laku yang khas pada remaja.

Penelitian yang dilakukan Willard Hartup (1996, 2000, 2001; Hartup & Abecassiss, 2002; dalam Santrock, 2004 : 352) selama tiga dekade menunjukkan bahwa sahabat dapat menjadi sumber-sumber kognitif dan emosi sejak masa kanak-kanak sampai dengan masa tua. Sahabat dapat memperkuat harga diri dan perasaan bahagia. Sejalan dengan hasil penelitian tersebut, Cowie and Wellace (2000 : 8) juga menemukan bahwa dukungan teman sebaya banyak membantu atau memberikan keuntungan kepada anak-anak yang memiliki problem sosial dan problem keluarga, dapat membantu memperbaiki iklim sekolah, serta memberikan pelatihan keterampilan sosial. Berndt (1999) mengakui bahwa tidak semua teman dapat memberikan keuntungan bagi perkembangan. Perkembangan individu akan terbantu apabila anak memiliki teman yang secara sosial terampil dan bersifat suportif. Sedangkan teman-teman yang suka memaksakan kehendak dan banyak menimbulkan konflik akan menghambat perkembangan (Santrock, 2004 : 352).

Konformitas terhadap pengaruh teman sebaya dapat berdampak positif dan negatif. Beberapa tingkah laku konformitas negatif antara lain menggunakan kata-kata jorok, mencuri, tindakan perusakan (vandalize), serta mempermainkan orang tua dan guru. Namun demikian, tidak semua konformitas terhadap kelompok sebaya berisi tingkah laku negatif. Konformitas terhadap teman sebaya mengandung keinginan untuk terlibat dalam dunia kelompok sebaya seperti berpakaian sama dengan teman, dan menghabiskan sebagian waktunya bersama anggota kelompok. Tingkah laku konformitas yang positif terhadap teman sebaya antara lain bersama-sama teman sebaya mengumpulkan dana untuk kepentingan kemanusiaan (Santrock, 2004 : 415). Teman sebaya juga memiliki peran yang sangat penting bagi pencegahan penyalahgunaan Napsa dikalangan remaja. Hubungan yang positif antara remaja dengan orang tua dan juga dengan teman sebayanya merupakan hal yang sangat penting dalam mengurangi penyalahgunaan Napsa (Santrock, 2004 : 283).

Memperhatikan pentingnya peran teman sebaya, pengembangan lingkungan teman sebaya yang positif merupakan cara efektif yang dapat ditempuh untuk mendukung perkembangan remaja. Dalam kaitannya dengan keuntungan remaja memiliki kelompok teman sebaya yang positif, Laursen (2005 : 138) menyatakan bahwa kelompok teman sebaya yang positif memungkinkan remaja merasa diterima, memungkinkan remaja melakukan katarsis, serta memungkinkan remaja menguji nilai-nilai baru dan pandangan-pandangan baru. Lebih lanjut Laursen menegaskan bahwa kelompok teman sebaya yang positif memberikan kesempatan kepada remaja untuk membantu orang lain, dan mendorong remaja untuk mengembangkan jaringan kerja untuk saling memberikan dorongan positif. Interaksi di antara teman sebaya dapat digunakan untuk membentuk makna dan persepsi serta solusi-solusi baru. Budaya teman sebaya yang positif memberikan kesempatan kepada remaja untuk menguji keefektivan komunikasi, tingkah laku, persepsi, dan nilai-nilai yang mereka miliki. Budaya teman sebaya yang positif sangat membantu remaja untuk memahami bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi berbagai tantangan. Budaya teman sebaya yang positif dapat digunakan untuk membantu mengubah tingkah laku dan nilai-nilai remaja (Laursen, 2005 : 138). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membangun budaya teman sebaya yang positif adalah dengan mengembangkan konseling teman sebaya dalam komunitas remaja.

Teman sebaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) diartikan sebagai “kawan, sahabat atau orang yang sama-sama bekerja dan berbuat.” Santosa (2004) berpendapat “teman sebaya adalah kelompok anak sebaya yang sukses ketika anggotanya dapat berinteraksi. Hal-hal yang dialami oleh anak-anak tersebut adalah hal yang menyenangkan saja.”

Menurut Santrock (1983) teman sebaya adalah anak-anak yang tingkat usia dan kematangannya kurag lebih sama. Hurlock (1978) mengartikan teman sebaya sebagai anak yang memiliki usia dan taraf perkembangan yang sama.

Teman sebaya merupakan interaksi pada anak-anak dengan tingkat usia yang sama serta mempunyai tingkat keakraban yang relatif tinggi diantara kelompoknya. Pada teman sebaya biasanya individu mendapat dukungan sosial. Dukungan tersebut dapat mengacu pada kesenangan yang dirasakan karena penghargaan atau kepedulian serta memberi bantuan agar hubungan dapat terjalin lebih akrab.

Peran Teman Sebaya

Teman sebaya mempunyai sejumlah peran dalam proses perkembangan sosial anak. Menurut Santrock (2011) Peranan teman sebaya dalam proses perkembangan sosial anak antara lain sebagai sahabat, stimulasi, sumber dukungan fisik, sumber dukungan ego, fungsi perbandingan sosial dan fungsi kasih sayang.

Peran teman sebaya juga dikemukakan oleh Yusuf (2010) yaitu memberikan kesempatan berinteraksi dengan orang lain, mengontrol perilaku sosial, mengembangkan keterampilan dan minat sesuai dengan usianya, dan saling bertukar pikiran dan masalah.

Pengaruh Teman Sebaya

Pergaulan teman sebaya dapat mempengaruhi perilaku. Pengaruh tersebut dapat berupa pengaruh positif dan dapat pula berupa pengaruh negatif. Pengaruh positif yang dimaksud adalah ketika individu bersama teman-teman sebayanya melakukan aktifitas yang bermanfaat seperti membentuk kelompok belajar dan patuh pada norma-norma dalam masyarakat. Sedangkan pengaruh negatif yang dimaksudkan dapat berupa pelanggaran terhadap norma-norma sosial, dan pada lingkungan sekolah berupa pelanggaran terhadap aturan sekolah.

Hubungan teman sebaya yang baik diperlukan untuk perkembangan sosio-emosional yang normal, anak-anak yang ditolak oleh teman sebaya atau menjadi korban temannya maka dia akan merasa kesepian dan beresiko menjadi depresi. Anak-anak yang agresif terhadap teman sebayanya beresiko terlibat dengan sejumlah masalah termasuk penyimpangan dan putus sekolah.

Menurut Coplan&Arbeau (dalam Santrock, 2011) menyatakan bahwa frekuensi interaksi teman sebaya yang dilakukan selama bertahun- tahun baik positif maupun negatif terjadi cukup signifikan. Anak-anak banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi dengan teman sebaya yaitu dengan bercakap-cakap atau bermain seperti negosiasi peran dan aturan permainan, berdebat dan menyetujui.

Jenis Teman Sebaya

Teman yang berbeda memainkan peran yang berbeda dalam proses sosialisasi. Teman yang sesuai dengan usia dan taraf perkembangan anak, maka dapat membantu anak ke arah penyesuaian yang baik. Hurlock (1978) mengklasifikasikan teman pada masa anak- anak yang dibagi menjadi tiga klasifikasi utama, masing-masing klasifikasi mempengaruhi sosialisasi pada periode yang berbeda. Ketiga jenis teman antara lain:

1. Kawan

Kawan adalah orang yang memuaskan kebutuhan anak akan teman melalui keberadaannya di lingkungan si anak. Anak dapat mengamati dan mendengarkan mereka tetapi tidak memiliki interaksi langsung dengan mereka. Kawan bisa terdiri dari berbagai usia dan jenis kelamin.

2. Teman bermain

Teman bermain adalah orang yang melakukan aktivitas yang menyenangkan dengan si anak. Teman bermain dapat terdiri dari berbagai usia dan jenis kelamin, tetapi biasanya anak memperoleh kepuasan yang lebih besar dari mereka yang memiliki usia dan kenis kelamin yang sama, serta mempunyai minat yang sama.

3. Sahabat

Sahabat adalah orang yang tidak hanya bermain dengan anak, tetapi juga berkomunikasi melalui pertukaran ide, rasa percaya, permintaan nasehat dan kritik.

Status teman sebaya

Status sosiometrik merupakan penilaian anak-anak terhadap seberapa banyak mereka suka atau tidak suka dengan teman sebaya atau teman sekelas mereka. Wentzel dan Asher (Santrock, 2011) membedakan status teman sebaya, yaitu:

  1. Anak-anak populer, yaitu anak yang sering dinominasikan sebagai teman terbaik dan jarang tidak disukai teman sebayanya.

  2. Anak-anak biasa, yaitu anak yang menerima jumlah rata-rata, baik nominasi positif maupun nominasi negatif dari teman sebaya atau teman sekelasnya.

  3. Anak-anak terabaikan, merupakan anak yang jarang dinominasikan sebagai seorang sahabat tetapi bukan tidak disukai oleh teman sebaya mereka.

  4. Anak-anak yang ditolak, yaitu anak yang jaeang dinominasikan sebagai seorang sahabat dan secara aktif tidak disukai oleh teman sebayanya.

  5. Anak-anak kontroversial, adalah anak yang sering dicalonkan baik sebagai sahabat terbaik maupun yang tidak disukai.