Apa yang dimaksud Stilistika?

Apa yang dimaksud Stilistika?

Apa yang dimaksud Stilistika?

Secara etimologis stilistika berkaitan dengan style (bahasa Inggris). Sytle artinya gaya, sedangkan stylistics artinya ilmu tentang gaya (Jabrohim 2001). Stilistika adalah style, yaitu cara yang digunakan seorang pembicara atau penulis untuk menyatakan maksudnya dengan menggunakan bahasa sebagai sarana (Sudjiman 1993). Gaya dalam kaitan ini tentu saja mengacu pada pemakaian atau penggunaan bahasa dalam karya satra.

Stilistika adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra (Sudjiman 1993). Sangat menarik bahwa dalam perkembangan linguistik terapan bahwa munculnya minat bahkan kesungguhan hati para pakar linguis untuk menerapkan teori dan pendekatan linguistik dalam rangka pengkajian sastra. Begitu eratnya pengkajian bahasa dan sastra, sehingga bidang studi stilistika menjadi incaran yang menggairahkan bagi para ahli bahasa dan ahli sastra. Stilistika dapat dianggap menjembatani kritik sastra dan linguistik, karena stilistika mengkaji wacana sastra dengan mengkaji dengan orientasi linguistik (Sudjiman 1993).

Stilistika sesungguhnya tidak hanya merupakan studi gaya bahasa dalam kesusastraan, akan tetapi juga dalam bahasa pada umumnya. Namun, perlu diingat bahwa karya sastra merupakan kesatuan wacana yang memuat seluruh gagasan atau ide pengarangnya. Selain itu, karya sastra juga memiliki gaya bahasa yang umumnya mencerminkan totalitas karya, tidak hanya sekadar bagian-bagian dari aspek bahasa.

Kajian stilistika memperhatikan kekhasan gaya dan mempelajari kecenderungan yang menonjol dan melupakan bahwa karya sastra merupakan kesatuan (Jabrohim 2001). Kajian stilistika akan memberi keuntungan besar bagi studi sastra jika dapat menentukan suatu prinsip yang mendasari kesatuan karya sastra, dan jika dapat menemukan suatu tujuan estetika umum yang menonjol dalam sebuah karya sastra dari keseluruhan unsurnya (Wellek 1989). Kajian stilistika diarahkan untuk membahas isi karya sastra.

Kajian stilistika bertolak dari asumsi bahwa bahasa mempunyai tugas dan peran yang penting dalam kehadiran karya sastra. Bahasa tidak dapat dilepaskan dari sastra. Keindahan sebuah karya sastra sebagian besar disebabkan kemampuan penulis mengeksploitasi kelenturan bahasa sehingga menimbulkan kekuatan dan keindahan (Semi 1990). Dengan demikian, kajian stilistika secara umum dilakukan sebagai upaya untuk menggali totalitas makna karya sastra dan analisis secara khusus yang mencoba melihat gaya bahasa bagian perbagian.

Stilistika meneliti fungsi puitik bahasa (Sudjiman 1993). Akan tetapi, kajian stilistika juga digunakan sebagai metode untuk menghindari kritik sastra yang bersifat impresif dan subjektif. Melalui kajian stilistika diharapkan dapat memperoleh hasil yang memenuhi kriteria objektifitas dan keilmiahan (Aminuddin 1995).

Ruang Lingkup Stilistika

Secara umum, lingkup telaah stilistika mencakupi diksi atau pilihan kata (pilihan leksikal), struktur kalimat, majas, citraan, pola rima, dan matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam karya sastra (Sudjiman1993). Selain itu, aspek-aspek bahasa yang ditelaah dalam studi stilistika meliputi intonasi, bunyi, kata, dan kalimat sehingga lahirlah gaya intonasi, gaya bunyi, gaya kata, dan gaya kalimat.

Secara harfiyah, stilistika berasal dari bahasa Inggris: stylistics, yang berarti studi mengenai style ‘gaya bahasa’ atau ‘bahasa bergaya’. Adapun secara istilah, stilistika (stylistics) adalah ilmu yang meneliti penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra (Abrams, 1979; bandingkan Satoto, 1995).

Dapat dikatakan bahwa stilistika adalah proses menganalisis karya sastra dengan mengkaji unsur-unsur bahasa sebagai medium karya sastra yang digunakan sastrawan sehingga terlihat bagaimana perlakuan sastrawan terhadap bahasa dalam rangka menuangkan gagasannya (subject matter). Oleh sebab itu, semua proses yang berhubungan dengan analisis bahasa karya sastra dikerahkan untuk mengungkapkan aspek kebahasaan dalam karya sastra tersebut, seperti diksi, kalimat, penggunaan bahasa kias atau bahasa figuratif (figurative language), bentuk-bentuk wacana, dan sarana retorika yang lain (Cuddon, 1979).

Ratna (2007) menyatakan, stilistika merupakan ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra, dengan mempertimbangkan aspek-aspek keindahannya. Bagi Simpson (2004), stilistika adalah sebuah metode interpretasi tekstual karya sastra yang dipandang memiliki keunggulan dalam pemberdayaan bahasa. Pengkajian stilistika karya sastra dipandang penting karena berbagai bentuk, pola, dan struktur linguistik dalam karya sastra memiliki fungsi tertentu. Fungsi bahasa tekstual sastra akan menyaran pada interpretasi maknanya.

Stilistika dapat dimasukkan sebagai bidang linguistik terapan (applied linguistics). Oleh sebab itu, penelitian gaya bahasa dalam teks non-sastra dan wacana kehidupan sehari-hari pun disebut stilistika meskipun ada yang memfokuskan kajiannya pada karya sastra. Dalam pengertian extended, stilistika adalah cara untuk mengungkapkan teori dan metodologi analisis formal sebuah teks sastra. Adapun secara restricted, stilistika sebagai linguistik terapan biasanya dikaitkan khusus pada bidang pendidikan bahasa (Soediro Satoto, 1995).

Leech dan Short (1984) menyatakan bahwa stilistika adalah studi tentang wujud performansi kebahasaan, khususnya yang terdapat dalam karya sastra. Analisis stilistika karya sastra lazimnya untuk menerangkan hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik dan maknanya). Bagi Chapman (1977), stilistika juga bertujuan untuk menentukan seberapa jauh dan dalam hal apa bahasa yang digunakan dalam sastra memperlihatkan penyimpangan, dan bagaimana pengarang menggunakan tanda-tanda linguistik untuk mencapai efek khusus.

Menurut Junus (1989), hakikat stilistika adalah studi mengenai pemakaian bahasa dalam karya sastra. Stilistika dipakai sebagai ilmu gabung, yakni linguistik dan ilmu sastra. Paling tidak, studi stilistika dilakukan oleh seorang linguis, tetapi menaruh perhatian terhadap sastra (atau sebaliknya). Dalam aplikasinya, seorang linguis bekerja dengan menggunakan data pemakaian bahasa dalam karya sastra, dengan melihat keistimewaan bahasa sastra. Dengan demikian, stilistika dapat dipahami sebagai aplikasi teori linguistik pada pemakaian bahasa dalam sastra.

Seperti dinyatakan Kridalaksana (1988), stilistika (stilistics) adalah :

  1. ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara linguistik dan kesusastraan;
  2. penerapan linguistik pada penelitian gaya bahasa.

Menurut Turner (1977), stilistika tidak hanya merupakan studi gaya bahasa dalam kesusastraan saja, melainkan juga studi gaya dalam bahasa pada umumnya meskipun fokus perhatiannya pada bahasa kesusastraan yang paling sadar dan kompleks. Bagi Turner, stilistika adalah bagian linguistik yang memusatkan diri pada variasi penggunaan bahasa.

Cumming dan Simons (1986) menambahkan, stilistika merupakan cabang linguistik dan analisisnya berorientasi kepada linguistik. Pengkajian karya sastra dari segi bahasa tidak dapat dihindarkan dari adanya analisis dan pengamatan terhadap gejala linguistik atau ciri linguistik yang terdapat dalam wacana tersebut untuk mengetahui efek yang ditimbulkannya (Suyadi San, 2005). Karena studi stilistika erat hubungannya dengan pengkajian bahasa dalam karya sastra, studi stilistika berada antara bidang linguistik dan bidang ilmu sastra.

Dalam konteks itu, ada tiga anggapan tentang stilistika, yaitu:

  1. stilistika adalah subbagian linguistik yang di dalamnya terdapat bagian khusus yang menggarap keistimewaan teks sastra,
  2. stilistika adalah subbagian dari studi sastra yang dapat memiliki kesempatan untuk membawanya ke metode-metode linguistik, dan
  3. stilistika merupakan disiplin ilmu yang otonom yang dapat menyeret secara bebas ke studi sastra dan linguistik (Enkvist dalam Junus, 1989).

Jika stilistika dikatakan sebagai bidang linguistik terapan, hal ini tidak terlepas dari anggapan bahwa stilistika adalah bidang makrolinguistik yang bahan kajiannya adalah pemakaian bahasa dalam karya sastra. Stilistika juga dapat disebut sebagai tempat pertemuan antara makroanalisis bahasa dan makroanalisis sastra.

Stilistika merupakan ilmu yang mengkaji wujud pemakaian bahasa dalam karya sastra yang meliputi seluruh pemberdayaan potensi bahasa, keunikan dan kekhasan bahasa serta gaya bunyi, pilihan kata, kalimat, wacana, citraan, hingga bahasa figuratif. Agar ranah kajian tidak terlalu luas, kajian stilistika lazim dibatasi pada karya sastra tertentu, dengan memperhatikan preferensi penggunaan kata atau struktur bahasa, mengamati antarhubungan pilihan itu untuk mengidentifikasi ciri-ciri stilistika (stylistic features) yang membedakan karya, pengarang, aliran, atau periode tertentu dengan karya, pengarang, aliran, atau periode lainnya.

Stilistika sebagai ilmu yang mengkaji penggunaan bahasa dalam karya sastra yang berorientasi linguistik atau menggunakan parameter linguistik dapat dilihat pada batasan stilistika berikut.

  1. Pertama, stilistika merupakan bagian linguistik yang menitikberatkan kajiannya kepada variasi penggunaan bahasa dan kadangkala memberikan perhatian kepada penggunaan bahasa yang kompleks dalam karya sastra (Turner, 1977). Atau, pendekatan linguistik yang digunakan dalam studi teks-teks sastra (Short, 1989).

  2. Kedua, stilistika dapat dikatakan sebagai studi yang menghubungkan antara bentuk linguistik dengan fungsi sastra (Leech dan Short, 1984).

  3. Ketiga, stilistika adalah ilmu kajian gaya yang digunakan untuk menganalisis karya sastra (Keris Mas, 1990). Menurut Keris Mas, bahasa memang sudah mempunyai gaya. Semua pengucapan yang tidak biasa dipakai oleh masyarakat adalah gaya, seperti halnya bahasa dalam karya sastra yang mempunyai perbedaan dari bahasa keseharian.

  4. Keempat, stilistika mengkaji wacana sastra dengan berorientasi linguistik dan merupakan pertalian antara linguistik dan kritik sastra. Secara morfologis, dapat dikatakan bahwa komponen style berhubungan dengan kritik sastra, sedangkan komponen istic berkaitan dengan linguistik (Widdowson, 1979). Karya sastra dipandang sebagai wacana sehingga mempertemukan pandangan linguis yang menganggap karya sastra sebagai teks dan pandangan kritikus sastra yang menganggap karya sastra sebagai pembawa pesan (message) (Widdowson, 1992).