Apa yang dimaksud penyakit Demodecosis?

Apa yang dimaksud penyakit Demodecosis?

Tungau Demodex sp dipercaya sebagai fauna normal pada kulit. Penularannya terjadi karena kontak langsung induk terhadap anak-anaknya pada saat menyusui, yaitu sekitar 2-3 hari di awal-awal kehidupan. Tungau ini bahkan sudah dapat ditemukan pada anak anjing yang berumur sekitar 16 jam. Suatu penelitian menunjukkan bahwa anak anjing yang lahir melalui bedah caesar tidak terinfestasi tungau Demodex sp. Umumnya anjing dewasa yang menderita demodecosis berkorelasi positif dengan ganggungan sistem imun, seperti kanker, penyakit liver, ginjal maupun ketidakseimbangan hormonal. Pada beberapa kasus juga terjadi imunosupresi, akibat adanya penekanan terhadap produksi limfosit T. Hewan yang sedang dalam terapi menggunakan obat imunosupresif seperti kortikosteroid juga dapat berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh hewan yang akhirnya dapat memicu timbulnya demodecosis.

PENGENALAN PENYAKIT

1. Gejala Klinis

Gejala klinis yang tampak pada kulit berupa alopecia (kebotakan), kemerahan, dan kulit mejadi berkerak. Pada tahap yang lebih lanjut, dapat terjadi demodecosis general disertai dengan peradangan dan infeksi sekunder oleh bakteri. Lapisan kulit yang terinfeksi terasa lebih berminyak saat disentuh.

Tungau sangat menyukai bagian tubuh yang kurang lebat bulunya, seperti moncong hidung dan mulut, sekitar mata, telinga, bagian bawah badan, pangkal ekor, leher sepanjang punggung dan kaki. Rasa gatal yang ditandai dengan hewan selalu mengaruk dan menggosokkan badannya pada benda lain atau menggigit bagian tubuh yang gatal, sehingga terjadi iritasi pada bagian yang gatal berupa luka/lecet, kemudian terjadi infeksi sekunder sehingga timbul abses, sering luka mengeluarkan cairan (eksudat) yang kemudian mengering dan menggumpal dan membentuk kerak pada permukaan kulit.

Ada 2 (dua) bentuk infeksi pada kulit akibat iritasi yaitu bentuk squamous (bersisik) dan bentuk pustular (benjolan). Bentuk squamous biasanya terdapat pada anjing, sedangkan bentuk pustular sering ditemukan pada sapi. Ukuran benjolan/nodule sangat bervariasi, mulai dari berukuran kecil sampai sekitar 2 cm, bahkan lebih besar. Lesi berawal pada daerah kepala, menjalar ke daerah leher dan kemudian dapat menutupi seluruh tubuh.

2. Patologi

Tidak ada tanda yang khas pada perubahan anatomi, selain adanya perubahan/lesi pada kulit seperti tersebut di atas.

3. Diagnosa

Diagnosa berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium untuk mengidentifi kasi adanya tungau Demodex sp.

Langkah diagnosis yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan deep skin scraping atau pengerokan kulit hingga berdarah. Scraping dilakukan dengan memegang dan menggosok daerah terinfeksi untuk mengeluarkan tungau dari folikel dengan menggunakan scalpel. Scraping dilakukan pada beberapa tempat. Setelah hasil scraping didapatkan, hasil tersebut kemudian diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 10X untuk menginterpretasikan hasil kerokan kulit tersebut.

4. Diagnosa Banding

a. Folikulitis/furunkulosis akibat bakteri, dermatophytosis, pemphigus kompleks, dermatitis kontak, dermatomiositis, dan lupus erytrematous kompleks.

b. Dermatitis yang disebabkan oleh jamur atau Scabies.

5. Pengambilan dan Pengiriman Spesimen

Spesimen berupa kerokan pada kulit yang terinfeksi tungau dimasukkan ke dalam cawan petri tanpa ditambah larutan apapun, atau ditambah larutan Glycerol 5-10 untuk melihat tungau yang masih hidup dan melihat pergerakannya di bawah mikroskop. Identifi kasi tungau dapat dilakukan dengan menambahkan NaOH 10 atau KOH 10 % secara mikroskopis.

Isi pustula yang diperoleh dengan jalan melakukan sayatan pada bagian kulit dari pustula/nodula dimasukkan ke dalam botol yang berisi formalin 5 atau alkohol 70 agar lebih tahan lama apabila spesimen tersebut akan dikirimkan/diperiksa ke tempat lain.

Referensi

http://wiki.isikhnas.com/images/b/b9/Manual_Penyakit_Hewan_Mamalia.pdf

Demodecosis atau kudis merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh sejumlah parasit yaitu tungau yang disebut Demodex sp. Bentuknya seperti cerutu atau wortel yang mempunyai 4 pasang lali yang pendek dan gemuk serta memiliki 3 ruas. Cara penularan penyakit ini yaitu dengan kontak langsung dengan hewan yang terkena penyakit. Tungau Demodex hidup di dalam kelenjar minyak dan kelenjar keringat.

Gejala penyakit demodecosis yaitu terjadinya kebotakan di kulit, kulit kemerahan, kulit berkerak, kulit terasa lebih berminyak, kelainan kulit moncong hidung dan mulut, sekitar mata, telinga, bagian bawah badan, pangkal ekor, leher sepanjang pungung dan kaki, Hewan selalu menggaruk dan menggosok badannya pada benda lain atau menggigit bagian tubuh yang gatal.

Cara pengendalian demodecosis yaitu:

  1. Berikan salep yang mengandung 1% rotenone maupun gel benzoyl peroxide 5% sekali sehari selama 1-3 minggu.

  2. Apabila demodecosis sudah menyeluruh dan tidak disertai komplikasi maka berikan amitraz yang diencerkan dengan konsentrasi 0,1% sehari sekali selama 2 minggu.

  3. Apabila demodecosis disertai dengan komplikasi seperti pyoderma (kulit bernanah), kulit bersisik, pengerasan kulit luar dan hipofungsi kelenjar tyroid. Maka, obati dengan akarisida.

  4. Untuk membunuh tungau dan mencegah terjadinya infeksi sekunder maka mandikan sapi dengan amitraz dengan konsentrasi 0,025% dua kali seminggu.

  5. Hindari terjadinya kontak dengan hewan yang terkena penyakit dan jaga kebersihan kandang dan lingkungan.

Demodecosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi demodex canis yang merupakan flora normal pada kulit anjing, dan menimbulkan gangguan pada kulit anjing saat terjadi overpopulasi yang biasanya dikaitkan dengan kondisi kekebalan tubuh yang rendah (imuno-supresi) pada hewan (Sardjana, 2012).

Gejala Klinis

Gejala klinis yang tampak pada kulit berupa alopecia (kebotakan), kemerahan, dan kulit mejadi berkerak.Pada tahap yang lebih lanjut, dapat terjadi demodecosis general disertai dengan peradangan dan infeksi sekunder oleh bakteri.Lapisan kulit yang terinfeksi terasa lebih berminyak saat disentuh. Tungau sangat menyukai bagian tubuh yang kurang lebat bulunya, seperti moncong hidung dan mulut, sekitar mata, telinga, bagian bawah badan, pangkal ekor, leher sepanjang punggung dan kaki.

Rasa gatal yang ditandai dengan hewan selalu mengaruk dan menggosokkan badannya pada benda lain atau menggigit bagian tubuh yang gatal, sehingga terjadi iritasi pada bagian yang gatal berupa luka/lecet, kemudian terjadi infeksi sekunder sehingga timbul abses, sering luka mengeluarkan cairan (eksudat) yang kemudian mengering dan menggumpal dan membentuk kerak pada permukaan kulit (Shipstone, 2000).

Diagnosis

Diagnosis berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium untuk mengidentifi kasi adanya tungau Demodex sp. Langkah diagnosis yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan deep skin scraping atau pengerokan kulit hingga berdarah. Scraping dilakukan dengan memegang dan menggosok daerah terinfeksi untuk mengeluarkan tungau dari folikel dengan menggunakan scalpel. Scraping dilakukan pada beberapa tempat. Kerokan kulit yang agak dalam dari bagian tengah lesi, kemudian diberi tetesan KOH 10 % untuk diamati di bawah mikroskop.

Apabila positif maka akan ditemukan parasit demodex yang bentuknya seperti wortel atau cerutu dengan ukuran 250-300 μm x 400 μm. Parasit ini tinggal di folikel rambut dan kelenjar sebaceus dan siklus hidupnya terjadi pada tubuh induk semang 20-35 hari. Hewan penderita yang sering diserang pada usia anjing di bawah umur 1 tahun namun demikian pada anjing di atas umur tahun banyak mengalami kejadian infeksi penyakit ini (Scott et al., 2001; Shipstone, 2000).