Apa yang dimaksud model pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM)?

Model pembelajaran

Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa

Pakem adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.

Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Sehingga, jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar.

Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.

Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajar-mengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya tinggi.

Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.

Secara garis besar, gambaran dari metode pakem adalah sebagai berikut:

  • Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat.

  • Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa.

  • Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan ‘pojok baca’.

  • Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok.

  • Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

PAKEM berasal dari konsep bahwa pembelajaran harus berpusat pada siswa ( student-centered learning ) dan pembelajaran harus bersifat menyenangkan ( learning is fun ), agar mereka termotivasi untuk terus belajar sendiri tanpa diperintah dan agar mereka tidak merasa terbebani atau takut. Untuk itu, maka aspek fun is learning menjadi salah satu aspek penting dalam pembelajaran PAKEM, di samping upaya untuk terus memotivasi siswa agar siswa mengadakan eksplorasi, kreasi, dan bereksperimen teru dalam pembelajaran.

Di samping itu, PAKEM adalah penerjemahan dari empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO:

  1. learning to know , yaitu mempelajari ilmu pengetahuan berupa aspek kognitif dalam pembelajaran,

  2. learning to do , yaitu belajar melakukan yang merupakan aspek pengalaman dan pelaksanaannya,

  3. learning to be , yaitu belajar menjadi diri sendiri berupa aspek kepribadian dan kesesuaian dengan diri siswa,ini juga sesuai dengan konsep “ multiple intelligence ” dari Howard Gardner, dan

  4. learning to life together , yaitu belajar hidup dalam kebersamaan yang merupakan aspek kesosialan siswa, bagaimana bersosialisasi, dan bagaimana hidup toleransi dalam keberagaman yang ada di sekeliling siswa.

Tujuan PAKEM ini adalah terdapatnya perubahan paradigma di bidang pendidikan, seperti yang dicanangkan oleh Depdiknas, bahwa pendidikan di Indonesia saat ini sudah harus beranjak dari:

  1. schooling menjadi learning ,
  2. instructive menjadi facilitative ,
  3. government role menjadi community role ,
  4. centralistic menjadi decentralistic.

Ini berarti pada saat sekarang, pendidikan tidak hanya tanggung jawab lembaga formal seperti sekolah, tapi sudah menjadi tanggung jawab semua pihak.

Pengertian PAKEM


PAKEM merupakan model pembelajaran dan menjadi pedoman dalam bertindak mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan pelaksanaan pembelajaran PAKEM, diharapkan berkambangnya berbagai macam inovasi kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelejaran yang partisipatif, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Pakem yang merupakan singkatan dari pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, merupakan sebuah model pembelajaran kontekstual yang melibatkan paling sedikit empat prinsip utama dalam proses pembelajarannya.

  • Pertama, proses interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa, multimedia, referensi, lingkungan dan sebagainya).

  • Kedua, proses komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru danrekansiswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi role-play ).

  • Ketiga , proses refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan).

  • Keempat, proses eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan dan wawancara).

Guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang sangat kompleks. Artinya, pembelajaran tersebut harus menunjukkan kenyataan bahwa pembelajaran berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan dan guru pun harus mengerti bahwa siswa-siswa pada umumnya memiliki taraf perkembangan yang berbeda-beda. Cara memahami materi yang diajarkan berbeda-beda, ada yang bisa menguasai materi lebih cepat dengan keterampilan motorik (kinestetik), ada yang menguasai materi lebih cepat dengan mendengar (auditif), dan ada juga menguasai materi lebih cepat dengan melihat atau membaca (visual).

Untuk itu, guru harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai jenis-jenis belajar (multimetode dan multimedia) dan suasana belajar yang kondusif, baik eksternal maupun internal. Dalam model PAKEM ini, guru dituntut untuk dapat melakuakn kegiatan pembelajaran yang dapat melibatkan siswa melalui partisipatif, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan yang pada akhirnya membuat siswa dapat menciptakan membuat karya, gagasan, pendapat, ide atas hasil penemuannya dan usahanya sendiri, bukan dari gurunya.

Pembelajaran Partisipatif

Pembelajaran partisipatif yaitu pembelajaran yang melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran secara optimal. Pembelajaran ini menitikberatkan pada keterlibatan siswa pada kegiatan pembelajaran ( child center/student center ) bukan pada dominasi guru dalam penyampaian materi pelajaran ( teacher center ). Jadi pembelajaran akan lebih bermakna bila siswa diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas kegiatan pembelajaran, sementara guru berperan sebagai fasilitator dan mediator sehingga siswa mampu berperan dan berpartisipasi aktif dalam mengaktualisasikan kemampuannya di dalam dan di luar kelas.

Pembelajaran Aktif

Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih banyak melibatkan aktivitas siswa dalam mengakses berbagai informasi dan pengetahuan untuk dibahas dan dikaji. Lebih dari itu, pembelajaran aktif memungkinkan siswa mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti menganalisis dan mensintesis, serta melakukan penilaian terhadap berbagai peristiwa belajar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran aktif memiliki persamaan dengan model pembelajaran self discovery learning , yakni pembelajaran yang dilakukan oleh siswa untuk menemukan kesimpulan sendiri sehingga dapat dijadikan sebagai nilai baru.

Dalam pembelajaran aktif, guru lebih banyak memosisikan dirinya sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar ( to facilitate of learning ) kepada siswa. Siswa terlibat secara aktif dan berperan dalam proses pembelajaran, sedangkan guru lebih banyak memberikan arahan dan bimbingan, serta mengatur sirkulasi dan jalannya proses pembelajaran.

Pembelajaran Kreatif

Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas siswa selama pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa metode dan strategi yang bervariasi, misalnya kerja kelompok, bermain peran, dan pemecahan masalah.

Pembelajaran kreatif menurut guru untuk merangsang kreativitas siswa, baik dalam mengembangkan kecapan berpikir maupun dalam melakukan suatu tindakan. Berpikir kreatif selalu dimulai dengan bberpikir kritis, yakni menemukan dan melahirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada atau memperbaiki sesuatu.

Berpikir kritis harus dikembangkan dalam proses pembelajaran agar siswa terbiasa mengembangkan kreativitasnya. Pada umumnya, berpikir kreatif memiliki empat tahapan sebagai berikut (Mulyasa, 2006).

  • Tahap pertama : persiapan, yaitu proses pengumpulan informasi untuk diuji.

  • Tahap kedua : inkubasi, yaitu suatu rentang waktu untuk merenungkan hipotesis informasi tersebut sampai diperoleh keyakinan bahwa hipotesis tersebut rasional.

  • Tahap ketiga : iluminasi, yaitu suatu kondisi untuk menemukan keyakinan bahwa hipotesis tersebut benar, tepat dan rasional.

  • Tahap keempat : verifikasi, yaitu pegujian kembali hipotesis untuk dijadikan sebuah rekomendasi, konsep, atau teori.

Siswa dikatakan kreatif apabila mampu melakukan sesuatu yang menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh dari hasil berpikir kreatif dengan mewujudkan dalam bentuk sebuah hasil karya baru.

Pembelajaran Efektif

Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan pengalaman baru kepada siswa membentuk kompetensi siswa, serta mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini dapat dicapai dengan melibatkan serta mendidik mereka dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran. Seluruh siswa harus dilibatkan secara penuh agar bergairah dalam pembelajaran, sehingga suasana pembelajaran betul-betul kondusif dan terarahh pada tujuan dan pembentukan kompetensi siswa.

Pembelajaran efektif menuntut keterlibatan siswa secara aktif, karena mereka merupakan pusat kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi. Siswa harus didorong untuk menafsirkan informasi yang disajikan oleh guru sampai informasi tersebut dapat diterima oleh akal sehat. Dalam pelaksanaannya, hal ini memerlukan proses pertukaran pikiran, diskusi, dan perdebatan dalam rangka pencapaian pemahaman yang sama terhadap materi standar yang harus dikuasai siswa.

Pembelajaran efektif perlu didukung oleh suasana dan lingkungan belajar yang memadai/kondusif. Oleh karena itu, guru harus mampu mengelola siswa, mengelola kegiatan pembelajaran, mengelola isi/materi pembelajaran, dan mengelola sumber-sumber belajar. Menciptakan kelas yang efektif dengan peningkatan efektivitas proses pembelajaran tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menyeluruh mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Menurut Kenneth D. More, ada tujuh langkah dalam mengimplementasikan pembelajaran efektif, yaitu:

  1. perencanaan,
  2. perumusan tujuan/ kompetensi,
  3. pemaparan perencanaan pembelajaran kepada siswa,
  4. proses pembelajaran dengan menggunakan berbagai strategi (multistrategi),
  5. evaluasi,
  6. menutup proses pembelajaran, dan
  7. follow up /tindak lanjut.

Proses pelaksanaan pembelajaran efektif dilakukan melalui proseduur sebagai berikut:

  1. melakukan appersepsi ,

  2. melakukan eksplorasi,yaitu memperkenalkan materi pokok dan kompetensi dasar yang akan dicapai, serta menggunakan variasi metode,

  3. melakukan konsolidasi pembelajaran, yaitu mengaktifkan siswa dalam membentuk kompetensi dan mengaitkannya dengan kehidupan siswa,

  4. melekukan penilaian, yaitu menggumpukan fakta-fakta dan data/dokumen belajar siswa yang valid untuk melakukan perbaikan program pembelajaran.

Untuk menciptakan pembelajaran yang efektif, guru harus memerhatikan beberapa hal, yaitu:

  1. pengelolaan tempat belajar,
  2. pengelolaan siswa,
  3. pengelolaan kegiatan pembelajaran,
  4. pengelolaan konten/materi pelajaran, dan
  5. pengelolaan media dan sumber belajar.

Pembelajaran Menyenangkan

Pembelajaran menyenangkan ( joyfull instruction ) merupkan suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat suatu kohesi yang kuat antara guru dan siswa, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan ( not under pressure ) (Mulyasa, 2006).

Aspek-aspek Pembelajaran PAKEM


Terdapat empat aspek yang memengaruhi model PAKEM, yaitu: pengalaman, komunikasi, interaksi, dan refleksi. Apabila dalam sebuah pembelajaran terdapat keempat aspek tersebut, maka kriteria PAKEM terpenuhi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut.

Aspek-aspek dalam Model Pembelajaran PAKEM
Gambar Aspek-aspek dalam Model Pembelajaran PAKEM

  • Pengalaman
    Di aspek pengalaman ini siswa diajarkan untuk dapat belajar mandiri. Di dalamnya terdapat banyak cara untuk penerapannya, antara lain seperti eksperimen, pengamatan, percobaan, penyelidikan, dan wawancara. Karena di aspek pengalaman, siswa belajar banyak melalui berbuat dan dengan melalui pengalaman langsung, dapat mengaktifkan banyak indera yang dimiliki siswa tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Edgar Dale dalam kerucut pengalamannya ( cone experience ) bahwa dengan pengalaman langsung sekitar 90% materi yang didapatkan oleh siswa akan cepat terserap dan bertahan lebih lama.

  • Komunikasi
    Aspek komunikasi ini dapat dilakukan dengan beberapa bentuk, antara lain mengemukakan pendapat, presentasi laporan, dan memajangkan hasil kerja. Di aspek ini ada hal-hal yang ingin didapatkan, misalnya siswa dapat mengungkapkan gagasan, dapat mengonsolidasi pikirannya, mengeluarkan gagasannya, memancing gagasan orng lain, dan membuat bangunan makna mereka dapat diketahui oleh guru.

  • Interaksi
    Aspek interaksi ini dapat dilakukan dengan cara interaksi, Tanya jawab, dan saling melempar pertanyaan. Dengan hal-hal seperti itulah kesalahan makna yang diperbuat oleh siswa-siswa berpeluang untuk terkoreksi dan makna yang terbangun semakin mantap, sehingga dapat menyebabkan hasil belajar meningkat.

  • Refleksi
    Dalam aspek ini yang dilakukan adalah memikirkan kembali apa yang telah diperbuat/dipikirkan oleh siswa selama mereka belajar. Model PAKEM ini siharapkan dapat menghasilkan pembelajaran yang berkualitas/bermutu dan menghasilkan perubahan yang signifikan, seperti dalam peran guru di kelas, perlakuan terhadap siswa, pertanyaannya, latihan, interaksi, dan pengelolahan kelas. Selanjutnya, Wahyudin (2006) menjelaskan tenteng perubahan yang diharapkan dalam pembelajaran PAKEM sebagai berikut.

Tabel 6.1 Perubahan Yang Diharapkan Dalam PAKEM

Aspek Dari… Ke…
Peran Guru Guru mendominasi kelas, Semua dari guru ; Informasi, Pertanyaan, Inisiatif, Penugasan, Umpan balik, Penilaian Menjadi manajer/fasilitator pembelajaran ; Inisiatif berasal dari siswa/guru, Sumber informasi beragam, Siswa banyak bertanya, Siswa kadang memilih tugas sendiri, Umpan balik dari teman sebaya, Siswa menilai diri sendiri
Perlakuan terhadap siswa Semua siswa diperlakukan sama, seperti ; Melakukan kegiatan yang sama, Maju bersama, Tingkat kesukaran sama untuk semua, PR yang sama, Penilaian yang sama masing siswa Melayani adanya perbedaan individual, seperti ; Maju sesuai dengan kecapatan masing–masing, Bisa melakukan kegiatan yang berbeda, Tingkat kesukaran sesuai kemampuan/minat masing-masing siswa, PR tidak harus sama, Macam-macam penilaian
Pertanyaan 95% dari guru ; Pertanyaan tertutup, Fakta, hafalan, ingatan, Satu jawaban yang benar, Dijawab dengan benar, Jawaban: 1 kata/ringkas, Yang tersurat saja Pertanyaan dari siswa/guru ; Jenis pertanyaan bervariasi, Siswa berfikir, Pertanyaan terbuka, Pertanyaan produktif, Pertanyaan penilaian, Problem solving, Jawaban terurai, bisa berbeda
Latihan Latihan terbatas/kurang, Jumlah latihan sedikit, Pelaksanaan tugas “sekali jadi”, Siswa menunggu giliran, Kurang menantang Latihan lebih intensif, Jumlah soal memadai, Selesai tugas review, revisi review, revisi-revisi, Setiap siswa mendapatkan kesempatan yang sama, Lebih menantang: tuntutan tinggi dan siswa lebih produktif, Hasil karya siswa dipajangkan
Interaksi Satu arah, Guru ke siswa, Intensitas interaksi Siswa ke guru, Mutu interaksi Banyak arah, Guru ke siswa, Siswa ke siswa, Siswa ke sumber belajar, Siswa ke orang dewasa
Pengelolaan kelas Klasikal, Individual, Di dalam kelas Variasi, Individual, Berpasangan, Kelompok kecil, Klasikal, Di luar kelas
Variasi penilaian Tes formal Tes formal, Pembelajaran dan perbaikan berkelanjutan, Portofolio, Umpan balik, Penilaian diri/sesama siswa

Dasar Pendekatan PAKEM dalam Proses Belajar Mengajar


Belajar ibarat orang yang sedang makan. Seseorang yang makan, hanya mungkin dapat menikmati lezatnya makanan dan menjadi kenyang jika ia sendiri yang mengunyah dan menelannya. Demikian halnya orang yang belajar. Seseorang belajar karena ingin memperoleh sesuatu. Ia hanya dapat meraihnya, jika ia sendiri yang memprosesnya. Oleh karena itu, pengertian belajar cenderung diartikan sebagai upaya membangun makna.

Siswa belajar bertujuan untuk melakukan kegiatan dan mengembangkan perilaku (penalaran, keterampilan, dan sikap), mengorganisasikan pengalaman, dan menemukan teknik- teknik pemecahan masalah. Semua itu harus dialami sendiri, dengan kata lain harus aktif, dinamis, kreatif, sehingga yang dipelajari menyatu dengan dirinya dan dimilikinya sebagai bekal hidup.

Guru mengajar, sesungguhnya bukan pemberi pelajaran, melainkan pembimbing belajar, untuk membelajarkan siswa. Tugas guru adalah menciptakan situasi dan kondisi belajar yang dapat menjadikan siswa mudah belajar, tahu menggunakan sarana dan sumber belajar, bergairah belajar (tingkat keseringan dan ketekunan belajarnya tinggi) atau dengan kata lain guru sebagai fasilitator. Untuk itu diperlukan desain yang mantap, disusun berdasarkan wawasan, sebagai media pendidikan dan keterampilan mengajar yang efektif.

Prinsip Pakem


Daryanto (2013) menyatakan sekurang-kurangnya ada empat prinsip PAKEM, yakni.

  • Mengalami, dalam hal ini peserta didik mengalami secara langsung dengan memanfaatkan banyak indra. Bentuk konkritnya adalah peserta didik melakukan pengamatan, percobaan, dan wawancara. Jadi peserta didik belajar banyak melalui berbuat (learning by doing) .

  • Interaksi, dalam hal ini interaksi antara peserta didik itu sendiri maupun dengan guru, baik melalui diskusi/Tanya jawab maupun melalui metode lain (bermain peran dan sebagainya) harus selalu ada dan terjaga. Karena dengan interaksi inilah, pembelajaran menjadi lebih hidup dan menarik.

  • Komunikasi, dalam hal ini komunikasi perlu diupayakan. Komunikasi adalah cara kita menyampaikan apa yang kita ketahui. Interaksi tidak cukup jika tidak terjadi komunikasi. Bahkan interaksi menjadi lebih bermakna jika interaksi itu komunikatif.

  • Refleksi merupakan hal penting lainnya agar pembelajarannya bermakna. Pembelajaran bermakna adalah pembelajaran yang memungkinkan terjadinya refleksi dari si peserta didik ketika mereka mempelajari sesuatu. Refleksi maksudnya adalah memikirkan kembali apa yang diperbuat/dipikirkan. Dengan refleksi, kita bisa menilai efektif atau tidaknya pembelajaran. jangan-jangan setelah direfleksi ternyata pembelajaran kita yang menyenangkan, namun tingkat penguasaan subtansi atau materi masih rendah atau belum tercapai sesuai yang kita harapkan.

Model-Model Pembelajaran Yang Mendukung Pembelajaran PAKEM


Dalam perkembangan model-model pembelajaran, ternyata terdapat beberapa model-model pembelajaran yang sebenarnya telah memuat konsep PAKEM. Menurut Udin S. Saud, terdapat tiga model pembelajaran yang telah biasa digunakan oleh para pengajar yang pada dasarnya mendukung PAKEM, yaitu:

  1. pembelajaran kuantum,
  2. pembelajaran bebasis kompetensi, dan
  3. pembelajaran kontekstual.

Pembelajaran kuantum ( Quantum Teaching )

Pembelajaran kuantum ini merupakan bentuk inovasi dari penggubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar. Menurut Bobbi dePorter (2005)

Quantum is an interaction that change into light”.

Maksud dari “energi menjadi cahaya” adalah mengubah semua hambatan-hambatan belajar yang selama ini dipaksakan untuk terus dilakukan menjadi sebuah manfaat bagi siswa sendiri dan bagi orang lain, dengan memaksimalkan kemampuan dan bakat alamiah siswa.

Pengubahan hambatan-hambatan belajar tersebut bisa dengan menggunakan beberapa cara, yaitu dengan memulai membiasakan menggunakan lingkungan sekitar belajar sebagai media belajar, menjadikan sistem komunikasi sebagai perantara ilmu dari guru ke siswa yang paling efektif, dan memudahkan segala hal yang diperlukan oleh siswa.

Menurut Bobbi dePorter (2000) prinsip-prinsip yang harus ada dalam pembelajaran kuantum adalah:

  • Segalanya berbicara
    Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pelajaran, semuanya mengirim pesan tentang belajar.

  • Segalanya bertujuan
    Semua yang terjadi dalam penggubahan mempunyai tujuan.

  • Pengalaman sebelum pemberian nama
    Otak berkembang pesat dengan adanya rangsangan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.

  • Akui setiap usaha
    Belajar mengandung risiko. Pada saat mengambil langkah ini, mereka patut mendapatkan pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.

  • Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
    Perayaan memberikan umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar.

Dalam pembelajaran quantum terdapat kerangka-kerangka yang menjamin siswa menjadi tertarik dan berminat pada setiap mata pelajaran. Di kerangka ini juga dipastikan bahwa mereka mengalami pembelajaran, berlatih, menjadikan isi pelajaran nyata bagi mereka sendiri, dan mencapai sukses.

Oleh karena itu, pembelajaran kuantum ini memuat tujuan- tujuan yang kemudian menjadi tujuan pokok dalam suatu proses pembelajaran untuk siswa, yaitu meningkatkan partisipasi siswa, meningkatkan motivasi dan minat belajar, meningkatkan daya ingat, meningkatkan rasa kebersamaan, meningkatkan daya dengar, dan meningkatkan kehalusan perilaku. Tujuan-tujuan pokok tersebut diharapkan dapat mengubah nuansa pembelajaran antara guru dan murid, yang sebelumnya satu arah menjadi dua arah, yang sebelumnya menakutkan menjadi menyenangkan.

Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontektual atau yang lebih dikenak dengan sebutan CTL (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang beranggapan bahwa siswa akan lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah, artinya belajar akan lebih bermakna jika siswa belajar dan menglaminya sendiri apa yang akan dipelajarinya, bukan sebatas mengetahui. Pembelajaran tidak hanya sekedar guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa, tetapi bagaimana siswa memaknai apa yang dipelajarinya.

Center on Education and Work at the University of Wisconsin Madison mengartikan pembelajaran kontekstual, yaitu “Suatu konsepsi belajar mengajar yang membantu guru menghubungkan isi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan pekerjaan serta meminta ketekunan belajar”.

Dalam pelaksanaannya, CTL dipengarui oleh berbagai faktor yang datang baik dari dalam ataupun dari luar, yaitu:

  • Pembelajaran harus memerhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa.

  • Pembelajaran dimulai dari keseluruan menuju bagian-bagian yang lebih khusus.

  • Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara:

    1. menyusun konsep sementara,
    2. melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain, dan
    3. merevisi dan mengembangkan konsep.
  • Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktikkan secara langsung apa-apa yang dipelajari.

  • Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.

Berdasarkan faktor-faktor di atas, dapat disimpukan bahwa cakupan untuk pembelajaran kontekstual ini adalah penekanan pada hal-hal yang bersifat makna dari materi yang telah diajarkan oleh guru dan perhatian terhadap faktor kebutuhan individu siswa.

Adapun komponen pembelajaran kontekstual, yaitu:

  1. konstruktivisme;
  2. inkuiri;
  3. bertanya;
  1. masyarakat belajar;
  1. pemodelan;
  2. refleksi;
  3. penilaian nyata (autentic assessment) .

Dalam tujuh komponen tersebut dimuat berbagai aspek yang diharapkan dari siswa, yaitu mereka dapat belajar mandiri dan menghasilkan makna yang ditumbuhkan oleh siswa itu sendiri dalam setiap kegiatan belajar-mangajar.

Sumber : Nurdyansyah, Eni Fariyatul Fahyuni, 2016, Inovasi Model Pembelajaran, Nizamial Learning Center