Apa yang dimaksud Materialisme?

Apa yang dimaksud Materialisme?

Banyak dari kita yang sering mendengar kata materialisme. Biasanya digunakan untuk menyebut individu yang berorientasi kepada kekayaan material. Lebih lanjut lagi, apa yang dimaksud materialisme?

Materialisme dalam psikologi didefinisikan sebagai suatu keyakinan yang berkenaan dengan seberapa penting perolehan dan pemilikan barang dalam hidup (Richins dan Dawson, 1992).

Belk (1985), mendefinisikan materialisme sebagai the importance a consumer attaches to worldly possessions (sebuah kelekatan konsumen pada kepemilikan barang duniawi yang penting). Definisi tersebut menegaskan bahwa materialisme terkait dengan masalah kepemilikan barang duniawi yang dianggap penting dalam hidup.

Pada definisi yang lain, materialisme adalah pandangan yang berisi orientasi, sikap, keyakinan, dan nilai-nilai hidup yang menekankan atau mementingkan kepemilikan barangbarang material atau kekayaan material di atas nilai-nilai hidup lainnya, seperti yang berkenaan dengan hal-hal spiritual, intelektual, sosial, dan budaya (Kasser, 2002).

Aspek-aspek materialisme

Menurut Richins dan Dawson (1992), Individu yang materialistis dikenal meyakini 3 keyakinan yang mana ketiganya merupakan aspek-aspek nilai materialisme, yaitu:

1. Acquisition Centrality

Keyakinan bahwa kepemilikan barang dan uang adalah tujuan hidup yang paling penting. Individu yang materialistis menempatkan barang tersebut dan pemerolehannya di pusat kehidupan mereka.

2. Acquisition as the Pursuit of Happines

Keyakinan bahwa barang dan uang adalah jalan utama untuk mencapai kebahagiaan personal, kehidupan yang lebih baik, dan identitas diri yang lebih positif.

3. Possession-Defined Success

Keyakinan bahwa kepemilikan barang dan uang merupakan alat ukur untuk mengevaluasi prestasi diri sendiri juga orang lain. Individu yang materialis cenderung untuk menilai kesuksesan diri dan orang lain dari jumlah dan kualitas barang yang dikumpulkan.

Menurut Belk (1985), individu yang materialistis dapat dijelaskan melalui aspek-aspek berikut:

1. Kepemilikan ( Possessiveness )

Kepemilikan adalah kecenderungan dan tendensi untuk menahan kontrol atau kepemilikan milik individu.

2. Ketidakmurahan hati ( nongenerosity )

Ketidakmurahan hati adalah sebuah sikap ketidak bersediaan individu memberikan kepemilikan barangnya untuk orang lain. Individu yang materialistis cenderung dimotivasi oleh sifat egois.

3. Kecemburuan/iri hati ( envy )

Kecemburuan/iri hati adalah sebuah sikap interpersonal individu yang melibatkan ketidaksenangan dan niat buruk pada individu lain dalam kebahagiaan, kesuksesan, reputasi atau kepemilikan apa pun yang diinginkan.

Faktor-Faktor Materialisme

Ada berbagai pengaruh eksternal maupun internal yang tidak sehat, yang mengaktivasi materialisme pada diri individu. Menurut Husna (2015), terdapat beberapa penelitian terkait dengan tema materialisme dan telah ditemukan sejumlah faktor yang mempengaruhinya, diantaranya adalah:

  1. Faktor psikologis, berupa harga diri yang rendah dan kecemasan akan kematian dan rasa tidak aman.

  2. Faktor keluarga, berupa pengasuhan keluarga yang tidak suportif dalam membangun self-esteem yang positif, orangtua yang tidak nurturant, dan (hanya) menekankan kesuksesan finansial serta stres dan konflik dalam keluarga.

  3. Faktor pergaulan, berupa penolakan teman dan pengaruh teman yang materialistis, serta perbandingan sosial dengan teman atau figur di media.

  4. Faktor lingkungan, berupa lingkungan yang menggoda dan media yang mendorong konsumerisme.

  5. Faktor religius, berupa rendahnya religiusitas dan kebersyukuran.

  6. Faktor jenis kelamin.

Pengertian Materialisme

Materialisme adalah teori yang mengatakan bahwa atom materi bergerak dan berkembang sebagai pembentuk awal dari alam, akal dan kesadaran merupakan proses materi fisik.1 Materialisme tidak mengakui entitas-entitas non material seperti roh, hantu, setan, malaikat dan bahkan Tuhan. Materialisme juga tidak mengakui dzat adikodrati dengan begitu materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di alam kebenaran semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra.

Pada zaman Yunani kuno telah ada paham tentang materialisme yaitu yang berkembang pada filsuf-filsuf Yunani tentang kejadian alam seperti yang diterangkan oleh Thales (625-546 SM) bahwa asal kejadian alam atau materi pembentuknya adalah air. Menurut Anaximenes asal kejadian alam adalah udara. Filsafat ini terus menurus berkembang dan menurut Heraclitus (540-480 SM) materi yang pembentuk alam raya ini adalah “segala sesuatu mengalir”.

Empedocles (490-430) mengatakan bahwa asal kejadian alam terdiri dari empat unsur yaitu: air, udara, tanah dan api. Demokritus berpendapat bahwa alam ini terdiri dari atom-atom yang bergerak-gerak tanpa akhir dan jumlahnya sangat banyak. Atom adalah partikel kecil penyusun zat yang mempunyai bagian-bagian yaitu proton, neutron, dan elektron. Semua yang dikatakan para filsuf Yunani adalah pandangan dunia materialisme. Akan tetapi pendapat mereka tidak berlanjut sampai mendapatkan kebenaran yang sebenarnya. Mereka kemudian melanjutkan kajiannya terhadap sifat dan prilaku manusia sebagai makhluk etik, sosial dan politik.

Pada abad pertengahan materialisme tidak begitu popuer dikalangan masyarakat karena sifat materialisme yang bertentangan dengan agama, pada waktu itu kekuasaan tertinggi dalam negara diatur oleh agamawan dan gereja, baru pada abad ke-19 yakni abad Renaisans (pencerahan) paham materialisme dipakai sebagai dasar ilmu pengetahuan yang kongkrit karena segala sesuatu dapat dibuktikan dan tereksperimen.

Materialisme Mekanik

Materialisme mekanik adalah teori yang mengatakan semua bentuk dapat diterangkan menurut hukum yang mengatur materi dan gerak. Materialisme mekanik menjadikan sains sebagai pokok utama dalam aliran ini karena segala sesuatu di dunia dapat dipastikan dengan sains, semua gerak dan aktifitas fisik dapat dihitung dengan matematika dan dirumuskan dengan fisika.

Aliran materialisme mekanik menganggap bahwa segala perubahan baik atom maupun manusia semuanya bersifat kepastian semata-mata. Sebab-musabab yang dijelaskan melalui jalan sains semata tidak perlu memakai ide seperti pada filsafat Idealisme yang menggunakans ide sebagai landasan teorinya. Semua gerak yang terdapat di dunia ini adalah bentuk mekanik yang dapat diuraikan dan diatur oleh hukum-hukum alam dan berjalan layaknya mesin.

Lebih jauh lagi materialisme mekanik berpendapat bahwa akal dan aktivitas-aktivitasnya adalah tindak-tanduk makluk hidup (behavior) yang dimaksudkan bahwa otak dan kesadaran dijelaskan sebagai tindak-tanduk otot, urat saraf atau kelenjar, proses tersebut dapat dijelaskan dengan fisika dan kimia.

Materialisme Alam

Junalien Offray De Lamettrie (1709-1751) berpendapat bahwa manusia tak lain dari pada mesin, begitu pula dengan binatang, jadi manusia dan bianatang sama saja. Ia mengingkari prinsip hidup pada umumnya. Ia mencoba membuktikan bahwa bahan tanpa jiwa mungkin dapat hidup (bergerak). tetapi jiwa tanpa bahan (badan) tidak mungkin dapat hidup. Seperti pada jantung katak yang dikeluarkan dari tubuhnya, jantung katak itu masih berdenyut beberapa detik dan kemudian mati. Kejadian ini menunjukan bahwa tidak mungkin hal yang rohani mampu hidup tanpa bahan.

Rohani tidak mungkin ada bila kodok yang dijelaskan di atas itu mati, jadi mana mungkin rohani manusia dapat hiduptanpa adanya badan yang membungkus rohani. Jelaslah bahwa aliran ini menganggap bahwa yang ada itu hanya alam yang bermateri saja.

Materialisme Dialektika

Meterialisme dialektika pertama kali diperkenalkan oleh Karl Marx. Materialisme ini muncul akibat perjuangan kelas yang hebat dan muncul akibat revolusi industri. Menurut materialisme dialektika dunia ini tidak ada sesuatu selain benda dalam gerak, benda tidak akan bergerak kecuali dalam ruang dan waktu. Tidak ada tempat bagi Tuhan di dunia ini, oleh karena itu materialisme dialektika merupakan buah dari teori gerak dan perkembangan.

Teori gerak dan perkembangan ini sesuai dengan hukum-hukum dialektika yang berlaku. Manusia atau makhluk hidup di dunia ini akan selalu bergerak pada ruang dan waktu, tidak mungkin manusia bergerak di ruang alam sadarnya (dalam pikirannya). Tidak ada tempat bagi Tuhan karena Tuhan tidak ada dalam ruang dan tidak ada dalam waktu

Materialisme Historis

Perkembangan gerak pada manusia yang dimaksud Marx adalah perkembangan menuju kepada sejarahnya manusia. Tidak mungkin manusia hidup tanpa makan, minum dan bersosialisasi. Manusia dalam hidupnya mendorong terciptanya alat-alat yang dipergunakan untuk hidup, misalnya manusia membuat alat pertanian, alat perairan dan terciptanya industri. Semua alat dan industri itu tak lain dari pada materia, yang hendak dihasilkan juga materi.Jadi, Materialisme historis mendasarkan perkembangan masyarakat atau sejarah atas materia.

Referensi

http://repository.uinbanten.ac.id/1362/5/BAB%20III.pdf