Apa yang dimaksud level analisis dalam meneliti hubungan internasional?

meneliti hubungan internasional

Apa yang dimaksud level analisis dalam meneliti hubungan internasional?

Penelitian ilmiah adalah aktivitas seorang peneliti yang berusaha mengungkap setiap fenomena atau fakta yang ada dan kemudian dikemas dengan menggunakan serangkaian instrumen yang diperlukan sehingga menghasilkan jawaban atas pertanyaan dasar penelitian yang digunakan. Begitupun halnya dengan penelitian pada studi hubungan internasional, penelitian pada studi ini biasa mengarah pada bagaimana fakta yang ada terhadap relasi antar negara atau dengan subjek internasional lainnya. Oleh karena itu, untuk mengungkap fakta yang ada dan dapat dianalisis, peneliti membutuhkan sebuah instrumen penelitian sosial yakni level analisis (level of analysis). Instrumen ini ditujukan untuk menganalisis negara khususnya kebijakan luar negeri sebuah negara. Pada dasarnya, kebijakan luar negeri bersifat subjektif dan interpretatif karena selalu didasari pada tujuan negara. Adapun demikian, seorang penstudi hubungan internasional harus mampu memberi analisa yang tepat dan tajam dalam menentukan tingkat analisa. Ketika proses penelitian sedang berlangsung akan sulit bagi seorang peneliti untuk meneliti semua bagian dalam sistem, maka ia harus memilah-milah bagian mana yang menjadi fokus penelitian.

Menurut Barry Buzan (1995: 199) dalam artikelnya yang berjudul “The Level of Analysis Problem in International Relations Reconsidered”, mengatakan bahwa level analisis merupakan bagaimana cara peneliti melakukan identifikasi dan memperlakukan setiap tipe-tipe lokasi yang berbeda dan hal ini dapat menjadi sumber penjelasan untuk mengobservasi fenomena yang telah ditemukan. Pada awal artikel tersebut ia menjelaskan bagaimana level analisis muncul dan memasuki ranah studi hubungan internasional pada tahun 1950an yakni ketika revolusi behavioralisme yang berusaha mengenalkan metodelogi dan ketegasan (rigour) ilmu eksak (natural science) dalam ilmu sosial (social science).

Tujuan utama memasukkan level analisis ke dalam ilmu sosial kala itu adalah untuk mendorong positivisme, pendekatan saintifik dalam sebuah disiplin ilmu, menekankan fakta yang diamati, pengukuran kuantitatif, pengujian hipotesis, dan pengembangan teori kumulatif. Sebelum revolusi behavorialisme muncul, studi hubungan internasional cenderung mengarah pada sejarah, hukum, dan hanya memiliki sedikit cakupan analisis sehingga tidak dianggap sebagai ilmu alam. Pada era revolusi behavioralisme ini, terdapat perdebatan epistemologis dalam ilmu sosial terhadap dua pendekatan yakni atomistic dan holistic atau dalam studi hubungan internasional disebut dengan reduksionisme dan sistemik.

Pendekatan reduksionisme (atomistic) adalah pendekatan metodelogi yang sering digunakan dalam ilmu eksak serta menharuskan pemisahan subjek menjadi beberapa komponen. Intinya, pendekatan reduksionisme ini memposisikan peneliti untuk bebas memahami komponen-komponen yang merupakan bagian dari sistem, sehingga terasa lebih akurat dan berguna bagi penelitian. Sedangkan pendekatan sistemik (holistic), menekankan peneliti untuk memahami keseluruhan sistem daripada hanya memahami kesimpulan dari sistem (Buzan, 1995: 200).

Level analisis dalam hubungan internasional dapat dikatakan memiliki kaitan dengan sistem, yang mana didefinisikan sebagai satu set unit yang berinteraksi dalam sebuah struktur (Buzan, 1995: 202). Kendati demikian menurut Waltz dalam Buzan (1995: 202) bahwa dalam hematnya level analisis mempunyai tiga level yakni individu, negara, dan sistem internasional dalam struktur internasional yang anarki. Perbedaan lainnya seperti yang diajukan oleh Singer dalam Buzan (1995: 202), ia menawarkan dua level analisis yaitu sistem dan negara. Sebenarnya, level analisis memiliki beragam level yang digunakan dalam penelitian hubungan internasional seperti yang belum disebutkan level birokrasi dan level kelompok. Banyaknya pendapat tokoh atas level analisis, namun yang menjadi pada umumnya dalam studi hubungan internasional adalah tiga level analisis yang telah disebutkan sebelumnya yakni indivu (seringkali menekankan pada pembuat kebijakan), unit atau negara (unit potensial lainnya seperti kelompok sebagai aktor), dan sistem (Buzan, 1995: 203).

Level analisis biasa dimengerti sebagai tipe-tipe berbeda atau sumber penjelasan dalam proses observasi fenomena yang ada. Pada prinsipnya, segala sesuatu yang tidak bisa dipungkiri sebagai sumber yang berbeda dari penjelasan dapat memenuhi syarat. Sedangkan dalam prakteknya, perdebatan dalam hubungan internasional level analisis berkembang dari tiga pemikiran. Pertama adalah kapasitas interaksi, dipahami sebagai level transportasi, komunikasi, dan kapablitas organisasi dalam sistem. Kedua yakni struktur, prinsip unit-unit dalam sistem yang telah diatur. Struktur disini fokus pada bagaimana unit-unit tersebut dibedakan dengan unit-unit lainnya, bagaimana keseluruhan unit tersebut disusun kedalam suatu sistem, serta bagaimana unit-unit ini tetap berelasi satu sama lain dalam waktu yang relatif. Ketiga adalah proses, dipahami sebagai interaksi antar unit khususnya interaksi yang bertahan lama maupun interaksi yang memiliki pola berulang. Proses meletakkan fokusnya pada bagaimana sekelompok unit ini berinteraksi dengan unit lainnya seiring adanya hambatan-hambatan yang muncul selama proses interaksi dan bagaimana struktur interaksi dengan pola yang berulang dan interkasi yang lama membentuk dinamika interaksi diantaranya (Buzan, 1995: 204-205).

Secara eksplisit, Barry Buzan mengatakan bahwasannya level analisis telah mempengaruhi atau memberi dampak pada studi hubungan internasional, tidak lain hal tersebut disebabkan karena pemikiran atau ide-ide dalam level sangat pas dengan bidang studi terutama pada subjek didalamnya yakni individu, negara, dan sistem (Buzan, 1995: 200).

Tidak hanya itu, level analisis pada akhirnya mendorong peneliti atau penstudi hubungan internasional untuk senantiasa lebih sistematik pada bagaimana mereka menyampaikan pejelasan yang disajikan. Disamping itu pula, level analisis juga dapat diartikan sebagai cara berpikir seorang peneliti mengenai sistem internasional yang telah didominasi oleh teori dalam beberapa dekade terakhir. Oleh karena itu, penting untuk diketahui apabila penggunaan level analisis ini tidaklah wajib melainkan opsional seorang peneliti untuk bagaimana ia melakukan analisa terhadap fenomena yang ada terutama bagi studi hubungan internasional.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa level analisis merupakan sebuha instrumen yang digunakan oleh peneliti untuk melakukan analisa terhadap sebuah fenomena. Level analisis merupakan salah satu hasil dari revolusi behavioralisme yang menyatakan bahwa ilmu sosial membutuhkan teori dan metodelogi dalam rangka penelitian maupun observasi, serta menunjukkan studi hubungan internasional bukanlah hanya sekedar ilmu sejarah dan hukum saja. Selain itu, level analisis khususnya bagi studi hubungan internasional hadir karena banyak alasan, salah satunya bahwa setiap fenomena selalu terdiri dari banyak faktor (membutuhkan level analisis agar memudahkan peneliti memilah-milah faktor mana yang menjadi fokus utama) atau dengan kata lain merupakan instrumen atau upaya yang digunakan agar fenomena yang diteliti (biasanya kebijakan sebuah negara) tidak ‘out of the box’. Dalam upaya memahami serangkaian fenomena, penting bagi peneliti untuk terlebih dahulu menentukan tingkatan-tingkatan fenomena sebelum akhirnya diteliti. Hal inilah yang kemudian disebut dengan level analisis. Kendati demikian, penggunaan level analisis ini tidak diwajibkan pada setiap penelitian.

Referensi

Buzan, Barry, 1995. “The Level of Analysis Problem in International Relations Reconsidered”, in Ken Booth and Steve Smith (ed.), International Relations Theory Today, Cambridge, Polity Press, pp. 198-216.