Apa yang dimaksud Konsep keamanan dalam literatur Ilmu Hubungan Internasional?

Konsep keamanan dalam literatur Ilmu Hubungan Internasional

Apa yang dimaksud Konsep keamanan dalam literatur Ilmu Hubungan Internasional ?

Berakhirnya Perang Dingin diwarnai dengan meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Uni Soviet mengakibatkan berkurangnya perhatian akan ancaman militer sebagai sumber ancaman terhadap keamanan suatu negara. Namun di sisi lain justru muncul berbagai ancaman keamanan baru yang tidak muncul dari entitas berupa negara bangsa ( nation-state ). Hal ini melahirkan kajian keamanan nontradisional. Ancaman dalam kajian keamanan nontradisional menurut Terry Terriff, et al. memiliki empat karakteristik umum. Pertama, sebagian besar bagian dari masalah ini tidak bersifat state-centred , tetapi lebih berdasarkan pada faktor atau aktor non negara. Kedua, ancaman keamanan tidak memiliki suatu wilayah geografis tertentu. Ketiga, ancaman tersebut tidak mampu diselesaikan hanya dengan mengandalkan kebijakan keamanan tradisional. Keempat, sasaran ancaman adalah individu dan negara (Terriff, et al, 1999).

Ancaman non tradisional telah ada sebelum Perang Dingin berakhir namun belum menjadi fokus kajian keamanan karena ketegangan antara kedua negara adidaya mendominasi fokus kajian keamanan dunia selama Perang Dingin. Berakhirnya Perang Dingin juga memberikan gambaran adanya empat realitas baru yang justru mendorong dan mendukung berkembangnya ancaman nontradisional (Chalk, 1997). Pertama, dolarisasi dunia internasional yaitu adanya suatu pemahaman global bahwa penguasaan atas mata uang dolar berarti juga penguasaan atas kekuasaan dan kemakmuran. Kedua, keberadaan kelompokkelompok dengan identitas baru berorientasi ke masa lalu menjadi sumber motivasi dan rasionalisasi upaya melakukan kejahatan dan melawan kekuasaan negara. Ketiga, perdagangan gelap persenjataan mengakibatkan para aktor non negara memiliki kekuatan militer sendiri dalam taraf tertentu sehingga mampu menimbulkan ancaman serius bagi negara dan individu. Keempat, proses globalisasi ditandai dengan semakin mudahnya perpindahan uang, barang dan manusia, justru menguntungkan para aktor nonnegara untuk melakukan kejahatan dan melarikan diri.

Karakteristik ancaman yang berubah dan situasi dunia yang mendukung berkembangnya ancaman nontradisional membuat-dalam derajat tertentu-fokus kajian dan kebijakan keamanan bergeser dari ancaman tradisional kepada ancaman nontradisional. Hal ini mengakibatkan semakin beragamnya isu yang dimasukkan ke dalam lingkup keamanan negara. Namun adanya kebutuhan yang tetap terhadap kekayaan dan kemewahan (Chalk, 1997) mendorong upaya untuk memenuhinya dengan cara yang singkat. Hal ini berdampak pada munculnya berbagai kegiatan ilegal dan ekonomi bawah tanah.

Konsep keamanan dalam berbagai literatur disiplin Ilmu Hubungan Internasional saat ini mendapat sorotan tajam sejalan dengan berbagai perubahan yang terjadi baik dalam konteks lokal, nasional maupun global. Perubahan secara substansial yang terjadi di lingkungan internasional dan global diawali dengan berakhirnya Perang Dingin melalui arus globalisasi baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial budaya dan keamanan. Kompleksitas isu keamanan dalam konteks Indonesia sangat rumit dan bersifat multidimensional tercermin dari Pernyataan Pers Menteri Luar Negeri (Menlu) pada tanggal 6 Januari 2004. Isu keamanan secara lebih spesifik meliputi isu-isu tradisional seperti konflik antar negara dan perang serta isu-isu nontradisional berupa isu terorisme, lingkungan hidup, Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokratisasi yang juga melibatkan aktor – aktor nonnegara (Hough, 2004). Isu-isu keamanan nontradisional tersebut tidak dapat dilepaskan dari karakteristik geografis Indonesia yang strategis dan berbagai perkembangan yang terjadi di lingkungan eksternal Indonesia (Deplu RI, 2003) dan juga berdampak luas terhadap keamanan nasional dan global.

Benjamin Miller mengemukakan metode dalam konsep keamanan (Miller, 2001) yang mengarah pada pemahaman konsep keamanan secara lebih komprehensif. Metode pertama konsep keamanan adalah the origin of threats. Ancaman yang dihadapi pada masa Perang Dingin selalu dianggap datang dari pihak eksternal suatu negara sedangkan pada masa kini dapat berasal dari domestik dan global. Ancaman yang berasal dari dalam negeri biasanya terkait dengan isu-isu primordial seperti etnis, budaya dan agama. Konflik-konflik yang terjadi diakibatkan oleh sentimen-sentimen budaya, agama dan etnis. Berbagai konflik tersebut dalam konteks Indonesia diperuncing dengan karakteristik geografis Indonesia. Berbagai tindakan kekerasan (separatisme) yang dipicu oleh sentimen etnonasionalis yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia telah menarik perhatian nasional bahkan internasional. Indonesia dihadapkan pada keraguan yang besar terhadap masa depan dunia dan Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa ( nation-state ).

Metode kedua adalah the nature of threats menyoroti ancaman yang bersifat militer secara tradisional. Namun berbagai perkembangan nasional dan internasional telah mengubah sifat ancaman menjadi lebih rumit. Dengan demikian, masalah keamanan menjadi lebih komprehensif karena menyangkut aspek-aspek lain seperti ekonomi, sosial-budaya, lingkungan hidup bahkan isu-isu lain seperti demokratisasi dan HAM. Fenomena hubungan internasional kontemporer (Chalk, 2000) diwarnai oleh fenomena abu-abu ( grey area phenomena ) yang secara longgar didefinisikan sebagai ancaman-ancaman terhadap keamanan, stabilitas nasional dan internasional yang diakibatkan dari proses-proses interaksi aktor negara dan non negara.

Berkembangnya isu-isu tersebut sebagai sifat-sifat baru ancaman berkorelasi kuat dengan metode ketiga, yakni changing response. Respon terhadap isu-isu tersebut selama ini diatasi dengan tindakan kekerasan/militer semata, maka kini perlu diatasi dengan berbagai pendekatan nonmiliter. Pendekatan keamanan yang bersifat militeristik sepatutnya digeser oleh pendekatan-pendekatan ekonomi, politik, hukum, sosial budaya dan lingkungan hidup.

Metode keempat mengarahkan pada perlunya redefinisi konsep keamanan, yakni changing responsibility of security . Bagi para penganut konsep keamanan tradisional, negara adalah ‘organisasi politik’ terpenting yang berkewajiban menyediakan keamanan bagi seluruh warganya. Sementara itu, para penganut konsep keamanan ‘baru’ menyatakan bahwa tingkat keamanan yang begitu tinggi sangat bergantung pada totalitas interaksi antar individu pada tataran global. Hal ini dikarenakan konsep ini merupakan agenda pokok semua insan manusia di muka bumi ini sehingga dibutuhkan kerjasama erat antar semua individu baik dalam tataran lokal, nasional maupun global. Dengan demikian, pencapaian keamanan tidak hanya bergantung pada negara melainkan akan ditentukan pula oleh kerjasama internasional secara multilateral yang turut melibatkan aktor nonnegara yang berperan sangat vital dalam mengatasi berbagai isu-isu keamanan ‘baru’.

Metode terakhir adalah core values of security . Kaum tradisional memfokuskan keamanan pada national independence, kedaulatan dan integritas teritorial sedangkan kaum modernis mengemukakan nilai-nilai baru baik dalam tataran individual maupun global yang perlu dilindungi. Nilai-nilai baru tersebut antara lain penghormatan pada Hak Asasi Manusia (HAM), demokratisasi, perlindungan terhadap lingkungan hidup dan upaya-upaya memerangi kejahatan lintas batas ( transnational crime ) seperti perdagangan narkotika, money laundering dan terorisme.