Apa yang dimaksud Ganggguan Kepribadian Dependen?

Apa yang dimaksud Ganggguan Kepribadian Dependen?

Gangguan kepribadian dependen ini lebih banyak diderita oleh perempuan karena mereka mudah terkena stress.

Apa yang dimaksud ganggguan kepribadian dependen?

Gangguan kepribadian dependen merupakan suatu gangguan kepribadian yang ditandai oleh kesulitan dalam membuat keputusan yang mandiri dan perilaku bergantung yang berlebihan. Orang-orang yang memiliki gangguan kepribadian tipe ini merasa sangat sulit melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan dari orang lain sehingga mereka menjadi sangat patuh dan takut mengalami perpisahan.

Misalnya anak-anak atau remaja yang mencari orang tua mereka untuk memilihkan pakaian, makanan, sekolah atau kampus dan orang dewasa yang membiarkan orang lain mengambil keputusan untuk dirinya. Orang-orang ini menolak posisi bertanggung jawab dan sangat sensitive terhadap kritikan. Mereka juga takut akan penolakan sehingga sering mengesampingkan kebutuhannya demi orang lain. Ketika hubungan dekatnya berakhir, mereka dapat menjadi sangat hancur karena takut akan kesendiriannya (Barlow dan Durand, 2005)

Gangguan kepribadian dependen telah dikaitkan dengan gangguan psikologis lain termasuk depresi mayor, gangguan biolar, dan fobia sosial, serta dengan masalah-masalah fisik seperti hipertensi, kanker, dan gangguan gastrointestinal seperti ulcer dan kolitis. (Bornstein, 1999; Loranger 1996; Reich, 1996 dalam Nevid, Rathus, dan Greene, 2005).

Gangguan ini juga dikaitkan dengan masalah perilaku oral seperti merokok, gangguan makan, dan alkoholisme. Jika dikaitkan dengan perilaku pada masa bayi, orang-orang dengan tipe gangguan ini dapat makan berlebihan untuk menelan cinta secara simbolis. Mereka lebih bergantung pada orang lain untuk mendapatkan bimbingan dan dukungan serta sering mengatribusikan masalah pada penyebab fisik bukan emosional sehingga lebih cenderung berkonsultasi ke ahli-ahli medis (Nevid, Rathus, dan Greene, 2005).

Orang dengan gangguan kepribadian dependen, menempatkan kebutuhan mereka sendiri dibawah kebutuhan orang lain. Meminta orang lain untuk mengambil tanggung jawab untuk masalah besar dalam kehidupan mereka, tidak memiliki kepercayaan diri dan mungkin mengalami rasa tidak nyaman yang kuat jika sedang sendirian lebih dari suatu periode yang singkat. Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria, dan lebih sering terjadi pada anak yang lebih kecil jika dibandingkan yang lebih tua.

Gangguan kepribadian dependen ditandai oleh ketergantungan yang pervasif dan perilaku patuh. Orang dengan gangguan ini tidak mampu untuk mengambil keputusan tanpa nasehat dan pertimbangan yang banyak dari orang lain. Pesimisme, keraguan diri, pasivitas, dan ketakutan untuk mengekspresikan perasaan seksual dan agresif menandai perilaku gangguan kepribadian dependen (Kaplan, Sadock dan Grebb, 2010).

Ciri-Ciri Penderita Gangguan Kepribadian Dependen

Kebutuhan yang perpasif dan berlebihan untuk diasuh, yang menyebarkan perilaku tunduk dan menggantung dan rasa takut akan perpisahan, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) berikut (DSM IV TR, 2000) :

  • Memiliki kesulitan dalam mengambil keputusan setiap hari tanpa sejumlah besar nasehat dan penenteraman dari orang lain.

  • Membutuhkan orang lain untuk menerima tanggung jawab dalam sebagian besar bidang utama kehidupannya.

  • Memiliki kesulitan dalam mengekspresikan ketidak setujuan pada orang lain. Dengan catatan tidak termasuk rasa takut yang realistic akan ganti rugi.

  • Memiliki kesulitan dalam memulai proyek atau melakukan hal dengan dirinya sendiri (karena tidak memiliki keyakinan diri dalam pertimbangan atau kemampuan ketimbang tidak memiliki motivasi atau energi )

  • Berusaha berlebihan untuk mendapatkan asuhan dan dukungan dari orang lain, sampai pada titik secara sukarela melakukan hal yang tidak menyenangkan.

  • Merasa tidak nyaman atau tidak berdaya jika sendirian karena timbulnya rasa takut tidak mampu merawat diri sendiri.

  • Segera mencari hubungan dengan orang lain sebagai sumber pengasuhan dan dukungan jika hubungan dekatnya berakhir.

  • Secara tidak realistik terpreokupasi dengan rasa takut ditinggal untuk merawat dirinya sendiri.