Apa yang dimaksud Emosi Negatif?

Apa yang dimaksud Emosi Negatif?

Ada dua jenis emosi, emosi positif dan emosi negatif. Apa yang dimaksud Emosi Negatif?

Plutchick, (1987) mendefinisikan emosi dasar negatif adalah suatu keadaan dalam diri seseorang yang dirasakan kurang menyenangkan sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku individu dalam berhubungan dengan orang lain.

Jenis-Jenis Emosi Negatif

Daniel Goleman memaparkan emosi negatif terdiri atas:

  1. Marah

Seringkali kita merasakan adanya penyesalan setelah melakukan tindakan berlebihan, seperti mengamuk akibat kemarahan yang sulit dikendalikan. Marah merupakan reaksi spontan. Jadi tidak ada marah yang direncanakan.

  1. Sedih

Emosi sedih muncul karena kita dihadapkan pada situasi yang mengecewakan, membuat gelisah, atau terluka. Kesedihan bisa disebabkan oleh banyak hal seperti masalah cinta dan kehilangan.

  1. Takut

Pada dasarnya perasaan takut merupakan hal yang wajar terjadi pada diri manusia. Begitu pula jika seseorang pernah merasa takut. Ketakutan dibedakan menjadi dua bagian. Yang pertama takut yang muncul secara naluriah. Ketakutan ini muncul sebagai insting makhluk hidup. Ketakutan yang kedua adalah tipe ketakutan yang bersifat fiksi atau tidak nyata, dimana seseorang merasa takut dengan keadaan yang belum tentu terjadi.

  1. Malu

Malu merupakan sebuah kombinasi dari kegugupan dan hubungan sosial. Malu adalah emosi negatif yang muncul dalam diri seseorang akibat dari perlakuan tidak senonoh yang dilakukannya sendiri. Sifat pemalu bisa menjadi penyebab seseorang kehilangan kesempatan, kurangnya kesenangan, dan sikap menghindar dari hubungan sosial.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Emosi Negatif

Menurut Markam, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya emosi dasar negatif yaitu:

  1. Antesenden stimuli atau antesenden situasional

Anteseden adalah penyebab terjadinya pengalaman emosi. Emosi, baik negatif maupun positif hadir karena adanya stimuli. Emosi negatif terjadi apabila seseorang menghadapi stimuli yang bertentangan dengan yang diharapkannya

  1. Kepedulian dan antesenden disposisi lainnya

Disposisi adalah kepekaan subjek terhadap stimulus tertentu, karena tidak semua stimulus dapat membangkitkan emosi. Kepedulian adalah disposisi untuk menginginkan terjadinya atau tidak terjadinya suatu peristiwa, yang memacu subjek untuk mencari kepuasan tertentu atau menghindarinya. Penyebab emosi pada umumnya adalah masalah hubungan antar manusia, berita baik buruk, situasi ketidakadilan, situasi baru dan berbagai peristiwa yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan.

  1. Regulasi atau pengaturan emosi

Regulasi adalah semua proses yang mempunyai fungsi mengubah proses lain pengalaman dan aksi yang ditimbulkan stimulus tertentu. Ada dua dualisme regulasi, yaitu sebagai kegiatan yang mengatur dan sebagai kegiatan yang diatur. Regulasi dapat mempengaruhi perilaku dan sifat pengalaman emosional.

Emosi adalah bentuk komunikasi yang dapat mempengaruhi orang lain. Menurut franken emosi merupakan hasil interaksi antara faktor subyektif (proses kognitif), faktor lingkungan (hasil belajar), dan faktor biologik (proses hormonal). Dengan kata lain, emosi muncul pada saat manusia berinteraksi dengan lingkungan dan merupakan hasil upaya untuk beradaptasi dengan lingkungannya.

Emosi hakikatnya muncul sebagai sebagai bentuk pengalaman afektif (senang/tak senang), merangsang individu untuk membangkitkan penjelasan kognitif (menghubungkan sebab-sebab dalam dirinya sendiri atau lingkungan), memicu variasi penyesuaian internal (misal: detak jantung makinkuat), serta mendatangkan tingkah laku yang sering, tetapi tidak selalu, ekspresif (ketawa/menangis), mengarahkan tujuan (membantu/menolak), dan adaptif (mengubah perilaku atau sesuatu yang mengancam kehidupan individu).

Pada dasarnya, arah emosi dasar manusia dapat dibagi menjadi dua yaitu emosi negatif dan emosi positif. Emosi negatif bersifat destruktif (merusak), baik diri sendiri maupun orang lain. Menurut Goleman, emosi negatif adalah perasaan individu yang dirasakan kurang menyenangkan (ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, kebencian, kemarahan) yang berlebihan dapat membuat individu bertindak dan berasumsi negatif pada dinya sendiri dan orang lain. Dimana ketika kita merasakan emosi negatif ini dampak yang kita rasakan adalah semua menjadi negatif, tidak menyenagkan, dan menyusahkan.

Emosi negatif adalah perasaan dan keadaan dalam diri seseorang yang dirasa tidak menyenangkan sehingga mempengaruhi pikiran dan perilaku individu dalam berhubungan dengan orang lain.

Ciri-Ciri Emosi Negatif

Kondisi emosi negatif dijelaskan oleh Saanin (1976) dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Emosinya tidak dapat diprekdisikan (Unpredictable)
  2. Tidak dapat atau sulit dikendalikan (Uncontrollable)
  3. Sensitive berlebihan (Oversensitiveness)
  4. Tidak ada ketetapan (Instability)
  5. Adanya ketidaktepatan dalam mempersepsi diri sendiri atau lingkungannya (Inadequate self and environment perceptions)

Sedangkan menurut Helmi (2000) ada empat ciri-ciri reaksi emosi negatif dan sterss yang dialami oleh setiap orang. Yaitu reaksi psikologis, fisiologis, proses berfikir (kognitif) dan tingkah laku, antara lain yaitu:

  1. Psikologis. Aspek ini biasanya lebih dikaitkan pada aspek emosi, seperti mudah marah, sedih, egois, acuh tak acuh, dan mudah tersinggung atau sensitif
  2. Fisiologis. Biasanya muncul dalam bentuk keluhan fisik, seperti pusing, nyeri tengkuk, tekanan darah naik, nyeri lambung, gatalgatal di kulit, ataupun rambut rontok
  3. Proses berfikir (kognitif). Biasanya tampak pada gejala sulit berkonsentrasi, semangat belajar menurun, mudah lupa, ataupun sulit mengambil keputusan
  4. Tingkah laku. Para remaja tampak pada perilaku-perilaku menyimpang seperti menghindar bertemu dengan temannya, membolos saat sekolah, jail atau suka mengganggu merokok, menonton pornografi, tawuran antar pelajar, bahkan mabuk ataupun ngepil.

Franken (1993) menjelaskan proses emosi negatif bekerja dalam tubuh dan fikiran seseorang melalui hukum-hukum emosi, diantaranya yaitu:

  1. Hukum makna situasional (Law of situational meaning)
    Maksudnya bahwa situasi harus sesuai dengan struktur kognitif, yang oleh orang tersebut akan diberikan emosi. Misalnya: jatuh cinta-romantis, kematian-sedih

  2. Hukum kepedulian (Law of concern)
    Emosi merupakan pengalaman subyektif yang muncul sebagai respon terhadap peristiwa yang penting bagi tujuan, motivasi, dan kepedulian manusia. Misalnya: seseorang ingin menjadi dokter, kalau berhasil akan muncul kebanggaan, tetapi kalau gagal akan muncul kemaluan bahkan bisa stress.

  3. Hukum kebiasaan (The law of habituation)
    Yaitu kecenderungan untuk melanjutkan kebiasaan-kebiasaan baik yang memuaskan atau yang sebaliknya. Misalnya: seseorang puas berhasil mendaki Gunung Jayawijaya, kemudian ingin mendaki gunung lain yang lebih menantang.

  4. Hukum pemeliharaan momentum emosional (The law of conservation of emotional momentum)
    Bahwa emosi dipelihara oleh peristiwa emosional yang luar biasa. Misalnya: kalau seseorang ‘melihat’ air gemericikatau suara debur sungai, maka ia segera ‘teringat’ gelombang tsunami yang pernah menerjang keluarganya. Jadi: meliahat X membuat teringat X (peristiwa tragis yang pernah dialaminya)

  5. Hukum beban paling terang (The law of lightest load)
    Ketika seseorang mengalami emosi negatif, maka cenderung untuk mencari alternatif lain untuk menginterpretasikan peristiwa itu dalam rangka mereduksi emosinya. Misalnya: melakukan penolakan atau penyangkalan, atau menghibur diri dengan harapan-harapan yang sifatnya khayal.