© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Whole brain teaching?

Pembelajaran

Whole brain teaching, menurut Biffle, adalah pembelajaran dengan pendekatan intruksional yang berasal dari gambaran neorolinguistik yang berasal pada fungsi otak kanan dan kiri.

Whole brain teaching, menurut Macias Angela dan Macias Brian, adalah sebuah kumpulan dari berbagai strategi pengajaran yang menggabungkan direct instructure dan cooperative learning, yang membuat lingkungan atau situasi menjadi lebih menarik (untuk siswa) dan merupakan kegiatan pengajaran yang menyenangkan (untuk guru), dimana WBT ini menyatukan keduanya dalam satu sistem.

Whole brain teaching atau power teaching, menurut Amstrong, adalah sebuah metode belajar yang mampu meningkatkan atensi dan konsentrasi siswa.
Sehingga dari pernyataan para ahli diatas dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan whole brain teaching adalah metode pengajaran intruksional dengan mengoptimalkan keseluruhan dari fungsi otak dimana pendidik dengan kemampuannya dalam menggunakan metode-metode yang kreatif dan inovatif diharapkan mampu mengembangkan kreatifitas peserta didiknya dan membuat kegiatan pembelajaran yang dapat membentuk kecerdasan yang mengacu pada perkembangan otak siswa secara utuh dan menumbuhkan rasa aman, nyaman, kasih sayang, penerimaan, rasa antusias dalam menerima materi / pelajaran dan mampu meningkatkan atensi dan konsentrasi siswa.

Langkah – langkah Whole Brain Teaching (WBT)


Menurut Chris Biffle (2013) terdapat tujuh teknik yang dikenal dengan big seven dalam menggunakan Whole Brain Teaching untuk pembelajaran di dalam kelas, yaitu:

  1. Seruan sapa guru terhadap kelas (class-yes)
    Pada tahap ini guru mengarahkan perhatian siswa pada kegiatan pembelajaran dengan mengucap kata “Class” dengan intonasi tertentu. Siswa menjawab ucapan dengan kata “Yess” dengan intonasi kata yang sama dengan intonasi guru.

  2. Lima aturan kelas (five classroom rules)
    Terdapat lima aturan dalam kelas yang harus di laksanakan selama pembelajaran berlangsung, aturan-aturan ini juga merupakan kriteria yang akan menjadi indikator penilaian dalam scoreboard diantaranya sebagai berikut:

    1. Ikuti arahan dengan cepat (follow directions quickly).
    2. Mengangkat tangan untuk meminta izin berbicara (raise your hand for permission to speak).
    3. Mengangkat tangan untuk meminta izin meninggalkan tempat duduk (raise your hand for leave your seat).
    4. Membuat pilihan cerdas (make smart choices).
    5. Membuat guru agar selalu bahagia (keep your dear teacher happy).
  3. Saling mengajar antar siswa (teach-okay)
    Kegiatan saling mengajar antar siswa merupakan kegiatan yang memadukan keempat unsur dalam belajar yaitu melihat, mendengar, mengatakan, dan melakukan. Tujuan dari kegiatan ini diharapkan agar ingatan siswa lebih kuat daripada hanya mencatat. Kegitan ini diawali dengan memberikan sebuah seruan, dimana saat guru berkata “teach” maka siswa harus membalas seruan itu dengan kata “Okay”, kemudian seluruh siswa memperagakan sesuai dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh guru, dan mengajarkannya kepada teman/pasangannya.

  4. Mengajar teman secara bergantian (switch-okay)
    Pada langkah ini, siswa harus mengajarkan kembali kepada temannya (pasangan dalam kelas/ teman sebangku) secara bergantian dimana tujuan dari kegiatan ini adalah agar siswa dapat mengajarkan dan dapat menjadi pendengar yang baik. Teknik ini digunakan apabila guru sulit mengawasi “teach-ok” yang dilakukan siswa, jadi “switch-ok”secara bergantian sehingga ada pengajar 1,2 dan ada pendengar 1,2.

  5. Menirukan gesture dan penjelasan guru (mirror)
    Intruksi “mirror” hampir sama dengan intruksi “teach-okay”, yang intinya untuk mengecek pemahaman siswa tentang apa yang telah diajarkan, bedanya pada langkah ini siswa akan menirukan gerakan / gesture yang telah di lakukan oleh guru. Biffle (2013) menngemukakan tiga jenis gerakan yang dapat digunakan saat mengajar yaitu:

    1. Santai (casual): gerakan tangan yang tercipta secara narutal saat berbicara.
    2. Grafis (grafic): gerakan yang sesuai dengan apa yang sedang diucapkan. Seperti hal nya saat kita membicarakn seseorang yang sedang berjalan, maka jalankan jari tengah dan jari telunjuk kita seperti layaknya seseorang yang sedang bejalan.
    3. Memori (memory): setiap gerakan memori harus unik. Seperti saat memberikan
      sinyal atau isayarat “stop” maka tangan kanan diangkat dan ditekan kedepan.
  6. Memberikan skor penilaian terhadap aktivitas kelas (scoreboard)
    Penilaian (scoreboard) terdiri dari dua pilihan yaitu: “memuaskan” (jika siswa berhasil melaksanakan aturan WBT) dan “kurang memuaskan” (jika siswa tidak berhasil melaksanakan aturan WBT dengan baik), dan terdiri dari beberapa tingkatan (level), contohnya kita menggunakan urutan 1-10 menggunakan susunan warna dimulai dari putih, biru, merah, hijau, orange, ungu, kuning, perunggu, silver, dan emas. Setiap tingkatan warna harus diisi oleh 10 bintang/ 10 poin, sehingga siswa akan mengumpulkan 100 bintang dan bila hal itu tercapai maka siswa/ kelompok tersebut diberi predikat “super improvers team”. Sehingga tahap ke enam ini berfungsi untuk memotivasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

  7. Memfokuskan kedua tangan dan mata (hands and eyes)
    Teknik ini digunakan untuk memusatkan kembali perhatian para siswa pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Jelasnya, intruksi ini digunakan dimana terdapat suatu poin penting yang akan dipaparkan oleh guru, yang harus atau tidak boleh dilewatkan oleh siswa, namun perhatian siswa mulai dirasa buyar. Saat guru mengucapkan “hands and eyes” maka siswa akan melipat tangannya pada meja dan memfokuskan mata mereka pada apa yang akan dijelaskan/dipaparkan oleh guru.

Kelebihan dan Kekurangan Whole Brain Teaching


Macias Angela dan Macias Brian mengemukakan kelebihan dari whole brain teaching ini diantaranya sebagai berikut:

  1. Pemberian penguatan yang positif
  2. Menyimpan memori (ingatan) dengan baik
  3. Memberikan motivasi selama proses pembelajaran
  4. Menjadikan siswa sebagai pusat dari pembelajaran
  5. Proses pembelajaran dan atmosfir kelas menjadi lebih menyenangkan
  6. Terjalin komunikasi yang sangat baik dan terarah
  7. Konsentrasi/ perhatian peserta didik akan tetap terjaga dengan baik.

Terlepas dari itu, sebaik apapun suatu metode pembelajaran, tetap saja pada peraktiknya akan terdapat beberapa kekurangan atau kelemahan-kelemahan tertentu. Baik itu yang disebabkan oleh guru maupun peserta didik. Pada dasarnya seorang pendidik selain harus memiliki kompetensi pedagogik, profesional dan sosial yang baik, seorang pendidik harus memiliki sifat kreatif dan inovatif yang baik pula dimana guru harus mampu berkreasi dan berinovasi dalam kegiatan pembelajaran didalam kelas, hal ini sangat diperlukan karena selama proses pembelajaran peserta didik akan cepat merasakan kejenuhan yang bisa disebabkan oleh penggunaan pendekatan, metode atau teknik yang kurang bervariasi.

Whole brain teaching juga mempunyai beberapa hal yang harus sangat diperhatikan diantaranya ialah membutuhkan kemampuan khusus guru (Dess), dimana seorang pendidik dituntut harus lebih kreatif dan inovatif dalam menyajikan suatu materi/simbol/lambang yang disajikan dalam bentuk gerakan/gesture baik itu sifatnya yang sudah direncanakan maupun yang bersifat spontan, karena dalam penentuan gerakan yang akan disampaikan harus mempermudah peserta didik dalam memahami materi yang sedang mereka pelajari.

Bagi sebagian siswa yang pada dasarnya memiliki sikap pendiam, tidak sedikit dari mereka yang merasa terganggu akan gerakan/gesture yang harus mereka peraktikan yang pada akhirnya mereka enggan mengikuti intruksi guru dan hal ini akan mengganggu kegiatan pembelajaran, konsentrasi guru akan terpecah karena selain harus meluruskan apabila terjadi kekliruan atau ketidak tepatan, guru pun harus sedikit memaksa siswa tersebut agar dapat melakukan apa-apa yang telah diintruksikan guru.

Dikarenakan salah satu sintak whole brain teaching ini terdapat papan skor atau scoreboard. Dimana disetiap pembelajaran matematika scoreboard ini harus selalu dibawa dan harus terisi poin, maka apabila salah satu dari siswa tidak membawa scoreboard tersebut maka siswa harus membuat scoreboard sementara yang berarti mereka harus bekerja double yaitu membuat scoreboard sementara, mengisi dan siswa harus memindahkan poin-poin yang didapat pada scoreboard yang asli. Memang hal ini terkesan sederhana, namun bila saat siswa tersebut tidak membawa scoreboard tetapi dia berperan aktif selama proses pembelajaran di kelas dan mendapatkan poin banyak, tidak sedikit dari mereka yang lupa dan pada akhirnya mereka tidak sempat untuk memindahkan poin-poin yang telah dia dapat pada scoreboard yang asli.

Aplikasi Whole Brain Teaching dalam Pembelajaran


Whole brain teaching merupakan suatu metode pembelajaran yang bersifat instruksional, pada whole brain teaching terdapat tiga bagian pembelajaran yang merupakan ciri utamanya yang terdiri dari visual, verbal dan gerakan-gerakan simbolik bermakna yang mempunyai manfaat untuk membantu siswa dalam memahami materi dan membantu siswa agar mampu berperan aktif selama proses pembelajaran.

Sejalan dengan itu, dalam kegiatan belajar mengajar, seorang pendidik diharapkan dapat menggunakan berbagai metode pembelajaran yang kreatif lainnya, juga pendekatan atau sudut pandang yang kreatif pula, sehingga siswa akan merasa aman, nyaman dan antusias untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Banyak cara agar metode whole brain teaching ini menjadi sangat baik dan efektif dalam merealisasikannya, misalnya dengan menyandingkan/ mengiringi metode ini dengan suatu pendekatan pembelajaran yang ada, salah satunya yaitu pendekatan pembelajaran ramah otak, yang merupakan salah satu cara mendidik sesuai dengan kerja alami otak dan dicirikan dengan kemampuan guru dalam mengelola kelas dengan baik serta kemampuan guru dalam mengemas materi pembelajaran dengan tepat, unik dan menarik, sehingga timbulah minat dan motivasi peserta didik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran, maka perlahan karakter kreatif siswa akan terlatih dan berkembang menjadi lebih baik.

Berikut aplikasi pembelajaran ramah otak melalui whole brain teaching pada pembelajaran matematika :

Tabel Aplikasi Pembelajaran Ramah Otak melalui Whole Brain Teaching pada Pembelajaran Matematika

Kegiatan Pembelajaran Aktifitas Guru Aktifitas Siswa
Pendahuluan - Mengucap salam dan membaca do’a - Menjawab “Yess!”
- Menyapa warga kelas dengan tulus - Rileks
- Mengabsen siswa
- Mensugesti diri dan memberikan motivasi
- Memberikan apersepsi dan penemuan-penemuan baru
- Membuat kondisi siswa dan kelas menjadi rileks dan siap untuk mengikuti pembelajaran.
Inti - Menyapa kelas dengan mengucapkan “Class !” (nada dan intonasi dapat variasikan dan di ulang) - Menjawab “Yes !” (menjawab “Yes !” di sesuaikan dengan nada dan intonasi guru saat menyapa).
- Membagi kelas menjadi 4-6 kelompok - Bergerak membuat kelompok.
- Mengintruksikan agar setiap siswa menyiapkan Scoreboard, minum, buku catatan, LKS dan buku paket (pegangan). - Menyiapkan segala perlengkapan yang diintruksikan.
- Memberikan intruksi “Hands and Eyes”, di awal penyampaian materi, guru menyampaikan materi yang dikemas dengan menarik (dengan gambar-gambar/media yang sesuai materi ajar) sehingga mengundang rasa ingin tahu dan mengaktifkan daya imajinasi siswa. *(Scoreboard and five classroom) berlaku. - Siswa bertanya dan mendapatkan poin.
- Guru memberi kesempatan bagi siswa lain untuk mencoba menjawab pertanyaan. *(Scoreboard) berlaku. - Siswa menjawab dan mendapatkan poin.
- Dengan intruksi “Class!” Guru memberikan klarifikasi dengan meluruskan setiap pernyataan / jawaban yang dianggap kurang tepat. - Menjawab “Yess!”
- Mengatur ritme konsentrasi dengan mengatakan “Teach!” - Be a good listeners
- Mengatakan “Switch!” - Menjawab “ok” lalu setiap siswa saling mengajar (mengulang perkataan guru).
- Selama dalam intruksi “Teach!” dan “Switch!”guru memantau aktifitas seluruh siswa. (Scoreboard and five classroom) berlaku.
- Menyampaikan materi dengan gerakan / gesture yang sesuai dengan materi ajar. - Menjawab “ok” lalu setiap siswa bergantian saling mengajar (mengulang perkataan guru).
- Say “Mirror!” - Siswa mengikuti arahan guru dengan cepat dan tepat. Setiap siswa mengulangi/memeragakan gerakan/gesture yang telah dipraktikan guru.
- Melibatkan emosi siswa dengan memberikan reward kepada seluruh siswa, dengan memberikan satu poin kepada setiap siswa. - All student happiness
- Bersama-sama bertepuk tangan. - Tepuk tangan.
- Mengatakan “Class!”, Guru mengajak seluruh siswa untuk melakukan senam otak / brain gym. - Menjawab “Yess!” dan Melakukan senam otak.
- Memberikan contoh soal dan soal latihan (*mengaktifkan musik- musik/instrumen santai.) - Mengerjakan soal latihan
- Membuat situasi kelas yang nyaman. - Siswa dan kelas dalam keadan rilkes
- Membahas setiap soal (memberi kesempatan siswa untuk mencoba menjawab) - Siswa mencoba menjawab
- Memberikan reward kepada siswa yang telah menjawab.
- Tepuk tangan - Tepuk tangan
Penutup - Menyapa kelas “Claass!” “Claaaass!”, “Class!”, - Menjawab “yeess!”, “Yeeeess!”, “yess!”.
- Dengan intruksi “hand and Eyes!” gutu meriview materi yang telah - Melipatkan tangan pada meja dan memusatkan perhatian pada guru
- Mengintruksikan siswa untuk membuat rangkuman materi yang telah mereka pelajari. - Membuat rangkuman selama ± 5 menit.
- Melakukan diskusi dengan memberikan latihan soal, bila tidak terselesaikan dijadikan pekerjaan rumah dan akan dibahas di pertemuan berikutnya.
- Mengucapkan “Class!” - Menjawab ”Yess!”

Selanjutnya agar proses pembelajaran dapat terlaksana dengan baik, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya ialah sebagai berikut :

  • Seorang guru yang akan menggunakan metode Whole Brain Teaching ini harus tahu dan paham betul akan sintak-sintak yang yang terdapat didalamnya.

  • Guru harus memiliki sifat kreatif dan inovatif.

  • Guru harus selalu dalam keadaan good mood.

  • Mampu mengemas materi semenarik mungkin.

  • Dapat menguasai kelas dengan sangat baik.

  • Memiliki persiapan khusus dalam menyampaikan materi yang akan disajikan melalui gerakan-gerakan tertentu.

  • Harus selalu siap dan mempunyai banyak akal terhadap gesture-gesture yang sifatnya spontan, maksudnya apabila gesture yang sudah dirancang di awal kurang atau sulit untuk diikuti oleh peserta didik, maka secara spontan guru harus mampu merubahnya dengan gesture yang lebih sederhana namun memiliki maksud tujuan yang sama.

  • Mampu mengkreasikan setiap intruksi dengan baik.

  • Mampu mempergunakan intrkusi dengan tepat.

  • Selalu memantau situasi/kondisi siswa.

  • Selalu siap untuk memberikan skor positif ataupun negaitf kepada seluruh aktifitas siswa selama proses pembelajaran.

  • Ingatkan selalu kepada seluruh siswa untuk selalu membawa scoreboard, minuman mineral, serta membawa pulpen/spidol beraneka warna, dan menggunakannya selama proses pembelajaran.

  • Selalu siap dengan ice breaking dan brain gym beserta sarana pendukung lainnya seperti halnya speaker fortable, dan musik-musik/instrumen-instrumen yang disesuaikan.

Apabila seluruh arahan diatas dapat dilaksanakn selama proses pembelajaran, maka pembelajaran ramah otak melalui whole brain teaching ini telah dilaksanakan dengan baik, selebihnya dapat dikembangkan dan lebih dikreasikan kembali sesuai dengan kemampuan pribadi seorang guru saat berada di dalalm kelas.
Pembelajaran ramah otak melalui whole brain teaching ini, ditunjang oleh beberapa indikator. Adapun indikator-indikator yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Siswa merasa rileks dan bahagia pada kondisi alpha zone melalui intruksi “Class-Yes” dalam pembelajaran. Siswa selalu siap menerima pembelajaran pada kondisi alpha zone melalui elemen five classroom rules.

  • Siswa selalu mendapatkan cerita lucu di awal pembelajaran melalui penemuan-penemuan baru guru.

  • Siswa selalu termotivasi pada pembelajaran melalui elemen scoreboard.

  • Siswa selalu merasa percaya diri dalam pembelajaran.

  • Siswa dapat mereflesikan diri dengan melibatkan emosi pada pembelajaran melalui elemen five classroom rules.

  • Siswa mendapatkan jeda waktu untuk mengatur ritme konsentrasi dalam pembelajaran melalui intruksi “Hands and Eyes” dan elemen five classroom rules.

  • Siswa dapat menyeimbangkan kerja otak pada pembelajran melalui musik dan intruksi mirror.

  • Siswa dapat memahami materi pembelajaran dengan mudah sesuai dengan gaya belajar (visual, audoitory, kynesthetic) melalui elemen five classroom rules.

  • Siswa dapat memaksimalkan kerja otak dengan melakukan brain gym melalui intruksi “Mirror”.

  • Siswa dapat menguatkan daya ingat melalui intruksi “Teach-Okay” dan “Switch-Okay”.

  • Siswa dapat melepaskan stress selama pembelajaran melalui brain gym.