Apa yang dimaksud dengan Upper Echelons Theory (Teori Eselon Atas)?

Manajemen Puncak

Dalam pembahasan terkait perkembangan startup, Upper Echelons Theory sering digunakan sebagai dasar untuk meneliti bagaimana sebuah startup dapat berkembang dengan baik. Apa yang dimaksud dengan Upper Echelons Theory (Teori Eselon Atas)?

Teori upper echelon pertama kali diajukan oleh Hambrick dan Mason (1984).

Teori upper echelon berargumen bahwa outcome suatu entitas seperti strategi yang dipilih dan tingkat kinerja dipengaruhi oleh karakteristik pimpinan. Karakteristik pimpinan ini mencakup: umur, pengalaman kerja, latar belakang pendidikan, latar belakang sosial ekonomi, dan lain-lain.

Hasil penelitian di sektor swasta seperti Huang (2013), Leslie & Canwell (2010), dan Wang, Holmes, Oh & Zhu ( 2016) dan Wei & Ling (2015) menonfirmasi teori upper echelon bahwa karakteristik CEO sangat berperan dalam kinerja suatu perusahaan.

Proses dari strategi perusahaan atau organisasi tidak bisa lepas dari keterlibatan individu-individu dalam organisasi. Nilai dan kognitif dari individu yang berpengaruh dalam organisasi yaitu top manager berperan besar menentukan outcomes organisasi, sehingga hal ini dapat diteliti secara empiris.

Upper echelon theory hanya menggunakan data demografi dari top management atau TMT. Teori ini tidak berdasarkan hasil dari test komprehensif terhadap individu. Untuk mengetahui hubungan antara individu, organisasi, dan lingkungannya membutuhkan penelitian dengan pendekatan berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, sosial, dan ekonomi. Upper echelon theory mengesampingkan beberapa pendekatan seperti proses psikologi top management . Hal ini merupakan kelemahan dari teori ini.

Kelebihan dari teori ini antara lain adalah lebih mudah untuk memprediksikan karakteristik top management yang mempengaruhi outcomes organisasi. Para pembuat kebijakan juga dapat menggunakan dasar teori ini dalam memilih top management yang akan mengelola organisasi dengan melihat karakteristik demografi calon top management seperti umur, tingkat pendidikan, latar belakang pendidikan, pengalaman, dan karakteristik yang lain. Manfaat lain yang dapat diambil adalah untuk melihat karakteristik demografi top management organisasi pesaing yang lebih maju apakah dipimpin oleh top management yang berumur atau muda dan lain sebagainya.

Upper echelon theory ini mulai dikembangkan setelah Hambrick dan Manson (1984), dimana mereka mengembangkan preposisi yang dapat digunakan untuk penelitian-penelitian lebih lanjut mengenai upper echelon theory. Preposisi yang dikembangkan adalah sebagai berikut ini.

  • P1: Firms with young managers will be more incline to pursue risky strategies than will firms with older managers.

  • P2: Firms with young managers will experience greater growth nd variability in profitability from industry averages than will firms with older managers.

  • P3: There will be a positive association between the degree of output- function experince of top managers and the extent to which the firm emphasizes outputs in its strategy.

  • P4: There will be a positive association between the degree of throughtput-function experience of top managers and the extent to which the firm emphasizes throughtput in its strategy.

  • P5: The degree of output-function experience of top managers will be posively associated with growth.

  • P6: In stable, comodity like industries, troughput function experience will be positively associates with profitability.

  • P7: In turbulent, differntiable industries, output function experience wil lbe positively associates with profitability.

  • P8: The degree of peripheral-function experience of top managers will be positively related to the degree of unrelated diversification in the firm.

  • P9: The extent of peripheral-function experience of top managers will be positively related to administrative complexity.

  • P10: Years inside service by top managers will be negatively related to strategic choices involving new terrain.

  • P11: For an organization facing a severe environment, years of inside service will be positively associated wit profitability and growth.

  • P12: For an organization facing a severe environmental discontinuity, tears of inside service will negatively associated with profitability and growth.

  • P13: The amount,but not the type, formal education of management team will be positively associated with inovation.

  • P14: There is no relationship between the amount of formal management education of top management and the average performance (either profiability or growth) of their firms. However, firms whose manager have had little formal manager education will show greateer variation from industry performance averages than will firms whose managers are highly educated in management.

  • P15: Firms whose top managers have had subtantial formal managers education will be more complex administratively than will firms whose managers have had less such training.

  • P16: Firms whose top managers come disproportionately from lower socioeconomic groups will tend to pursue strategies of acquisition and unrelated diversification.

  • P17: Such firms will experience greater growth and profit variability than will firms whose top managers come from higher socioeconomic groups.

  • P18: Corporate profitability is not related to the percent of shares owned by top managers, but is positively related to the percent of their total income that top managers derive from the firm through salaries, bonuses, options, dividens, and so on.

  • P19: Homogeneous top management teams will make strategic decisions more quickly than will heterogeneous teams.

  • P20: In stable environments, team homogenity will be positively associated with profitability.

  • P21: In turbulent, especially discountinuous, environments, team heterogenity will be positively associated with profitability.

Konsep Teori Upper Echelons


Teori upper echelons menganggap konsep manajemen puncak sebagai pembuat keputusan stratejik yang utama di dalam organisasi. Sehingga, keputusan stratejik yang dibuat pemimpin memiliki dampak secara langsung terhadap outcomes organisasi.

Karena para eksekutif yang memiliki tanggung jawab atas organisasi secara keseluruhan, maka karakteristik mereka, apa yang mereka lakukan, dan bagaimana mereka melakukannya, secara khusus mempengaruhi outcomes organisasi (Finkelstein dan Hambrick 1996).

Dasar pikiran utama dari teori upper-echelons pengalaman para eksekutif, nilai-nilai, dan personality berpengaruh besar terhadap interpretasi mereka pada situasi yang dihadapi serta mempengaruhi pilihan mereka. Fokus terhadap karakteristik manajemen puncak akan menghasilkan penjelasan yang kuat mengenai outcomes organisasi daripada fokus terhadap top executive secara individu.

  • Usia
    Menurut Hambrick dan Mason serta beberapa akademisi lainnya, usia merupakan salah satu karakteristik penting pemimpin. Usia secara logika menunjukkan akumulasi pengalaman. Namun Hambrick dan Mason menunjukkan bahwa usia berkorelasi terhadap kemauan dan kemampuan pemimpin menghadapi risiko. Organisasi dengan pemimpin yang lebih muda, cenderung mengambil pilihan-pilihan strategi yang risky. Pemimpin yang lebih tua, disamping dibebani oleh pengalaman masa lalu mereka yang tidak mustahil pernah bersinggungan dengan kegagalan, juga memiliki keterbatasan fisik dan psikologis sehingga cenderung menghindari risiko.

  • Pendidikan
    Pendidikan membuat seseorang mampu mengembangkan potensinya, sehingga dapat mewujudkan kepribadian, kecerdasan serta keterampilan yang diperlukan. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh seseorang maka semakin komplek pengetahuan dan keterampilan serta pengalaman yang dimilikinya.

    Logikanya orang yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang tinggi akan semakin baik dalam menjalankan pekerjaannya dibanding orang yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah. Tingkat pendidikan berpengaruh positif dengan penerimaan atas inovasi dan hal-hal baru.

    Namun pemimpin yang memiliki pendidikan lebih tinggi cenderung lebih lama dalam mengambil keputusan, karena kemampuan kognitifnya yang lebih baik cenderung mendorong mereka untuk mempertimbangkan lebih banyak faktor dan variabel dalam proses tersebut.

  • Masa jabatan
    Masa jabatan menunjukkan lama waktu seseorang menduduki jabatan sebagai pemimpin sebuah organisasi. Pemimpin dengan pengalaman kerja yang lebih lama berpengaruh positif terhadap pengambilan keputusan. Pengetahuan pemimpin akan semakin berkembang dengan bertambahnya pengalaman kerja.

    Namun ketika seorang pemimpin mencapai kesuksesan dalam sebuah organisasi, mereka cenderung mempertahankan cara-cara lama meraka untuk diterapkan ditempat yang baru, dan kadang kala ini tidak selalu berhasil. Karena setiap organisasi, meskipun dalam industri yang sama, memiliki dinamikanya sendiri.

  • Krisis
    Konteks Situasi Kualitas kepemimpinan seringkali lebih menonjol pada saat krisis terjadi, apapun jenis krisisnya. Krisis pada dasarnya merupakan objective situation yang harus dikenali dan dikelola oleh seorang pemimpin.

    Karakteristik pemimpin, menurut teori ini, merupakan variabel yang sangat berpengaruh dalam bagaimana cara pemimpin mengidentifikasi dan mempersepsikan anatomi krisis yang akan atau sedang berlangsung, dan bagaimana cara mereka meresponnya dengan pilihan-pilihan strategi yang sesuai dengan karakteristik mereka pula.

Sebagai penututp, Teori upper echelon membantu menjelaskan bahwa pemimpin, dipengaruhi oleh kemampuan pengetahuan, keyakinan, serta karakteristik individual mereka, memiliki kemampuan bervariasi dalam merespon krisis yang terjadi disekitarnya. Kemampuan untuk memutuskan bagaimana dia harus bersikap.

Teori ini mengajarkan bahwa pemimpin yang berusia lebih tua dengan jam terbang lebih banyak, tidak selalu akan lebih mampu menghadapi krisis. Teori ini juga mengajarkan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi, tidak menjadi jaminan pemimpin akan lebih trampil menghadapi krisis. Teori ini juga mengajarkan bahwa para pemimpin yang meniti karier sejak dari bawah pada satu industri, tidak akan selalu lebih paham mengenai apa yang harus dilakukan ketika mengahadapi krisis.

Yang benar adalah, setiap situasi krisis (objective situation) akan direspon secara berbeda oleh para pemimpin, berdasarkan mekanisme respon yang dipengaruhi oleh aspek kognitif, nilai, dan karateristik individual mereka.

Hambrick dan Mason, 1984 (dikutip dari Manner, 2010) mengusulkan kerangka kerja teoritis yang dipengaruhi karya-karya sebelumnya yang berasal dari berbagai disiplin ilmu yang mempelajari karakteristik Direktur Utama perusahaan, yaitu oleh Cyert dan March serta Dearbon dan Simon. Hasilnya adalah Upper Echelon Theory , yang menyatakan bahwa “hasil organisasi maupun strategi organisasi yang efektifitas dipandang sebagai refleksi atau cerminan dari nilai-nilai dan dasar kognitif dari pelaku yang kuat dalam organisasi”.

Dalam sebuah editorial review dari 23 tahun penelitian pada Upper Echelon Theory , Mason, 2007 (dikutip dari Manner, 2010) mencatat bahwa banyak karakteristik yang ditemukan yang berkaitan dengan keputusan strategis dan hasil kinerja perusahaan. Sedangkan Carpenter et al, 2004 (dikutip dari Manner, 2010) menyimpulkan bahwa validitas model Upper Echelon Theory sudah diterapkan dalam berbagai setting bisnis untuk pertanyaan strategi yang berbeda dan matrik kinerja.

Gagasan bahwa karakteristik manajemen senior atau eselon atas (Upper Echelon) terhadap organisasi dapat mempengaruhi keputusan yang dibuat dan praktek yang diadopsi oleh organisasi, kembali kepada Teori Upper Echelon awal yang diungkapkan oleh Hambrick dan Mason, 1984 (dikutip dari Nishii et al, 2007). Hambrick dan Mason berpendapat bahwa karakteristik Direktur Utama mempengaruhi keputusan yang mereka buat dan setiap tindakan yang diadopsi oleh perusahaan yang mereka pimpin.

Upper Echelon Theory merupakan teori yang dikembangkan oleh Hambrick & Mason (1984) yang mengemukakan bahwa organisasi sebagai refleksi dari manajemen puncak. Teori ini menyatakan bahwa hasil pilihan strategi organisasi dan sebagian tingkat kinerja yang diprediksi oleh karakteristik latar belakang manajerial.

Zein (2016) mengemukakan bahwa teori upper echelon dapat digunakan untuk membantu menjelaskan bahwa pemimpin dipengaruhi oleh kemampuan pengetahuan, keyakinan, dan karakteristik individu masing- masing.

Sementara (Wan Yusof, 2010) dalam (Toyyibah, 2012) mengemukaan bahwa teori upper echelon menyediakan beberapa dasar mengenai pentingnya mempelajari karakteristik Komisaris dan Direksi, karena kinerja perusahaan merupakan refleksi dari manajemen puncak. Upper Echelons Theory menunjukkan bahwa karakteristik latar belakang anggota dewan berdampak secara signifikan pada perilaku perusahaan dalam pengambilan keputusan.