© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Transference dalam konseling?

Transference adalah perasaan apapun yang dinyatakan atau dirasakan klien (cinta, benci, marah, ketergantungan) terhada konselor, baik berupa reaksi rasional terhadap kepribadian konselor ataupun proyeksi terhadap tingkah laku awal dan sikap-sikap selanjutnya konselor.

Apa yang dimaksud dengan Transference ?

Transference adalah sebuah fenomena dimana klien mengalihkan atau mengaitkan perasaan atau sikap kepada konselor menurut cara yang pernah klien arahkan kepada orang berarti (significant others), misalnya orang tua atau orang yang pernah menguasai dan mendominasinya pada masa lalu (Mappiare, 2006).

Istilah pemindahan (transference) dalam pengertian yang luas menurut Brammer dan Shostromm (1982) menunjukkan penyataan perasaan-perasaan klien terhadap konselor, apakah berupa reaksi rasional kepada kepribadian konselor atau proyeksi yang tidak sadar dari sikap-sikap dan stereotipe sebelumnya.

Dalam proses konseling klien memproyeksikan sikap-sikapnya secara tidak sadar terhadap konselor. Konsep dari tahapan hubungan pemindahan dapat diilustrasikan seperti pada gambar dibawah ini,

image
image
Gambar Tahap Pengembangan dan Penyelesaian Hubungan Transferensi (Sumber : Therapeutic Psychology:Fundamentals of Counseling and Psychotherapy(4th edition) oleh L.M. Brammer/E.L Shostrom 1982, Prentice Hall, New Jersey)

Pemindahan dapat bersifat positif yaitu bila klien memproyeksikan perasaannya afeksinya (misalnya : cinta, hormat, menghargai) atau ketergantungannya kepada konselor. Bersifat negatif yaitu bila klien memproyeksikan perasaan kebencian dan agresinya kepada konselor. Fungsi terapeutik pemindahan dalam konseling adalah :

  1. dapat membangun hubungan yang baik,
  2. meningkatkan kepercayaan,
  3. memungkinkan klien memperoleh gambaran perasaan melalui penafsiran perasaannya.

Dalam psikoterapi perkembangan dan proses pemindahan dipandang sebagai bagian perubahan kepribadian dalam jangka panjang. Penyelesaian pemindahan perasaan dapat dicapai bila konselor menjaga sikap menerima dan memahami, dan juga menerapkan bebrapa keterampilan dasar konseling misalnya teknik refleksi perasaan, refleksi isi, bertanya, klarifikasi dan interpretasi.

Menurut W.S. Winkel, transference adalah pelimpahan perasaan-perasaan dan harapan-harapan tertentu dari konseli terhadap konselor. Istilah transference berasal dari Sigmund Freud. Pertama kali gejala transference ditemukan Freud pada pekerjaan klinisnya di mana konselinya memiliki perasaan dan fantasi yang kuat terhadap terapisnya yang sebenarnya tidak berbasis realitas. Menurut Nunberg, transference merupakan proyeksi terhadap gambaran ayah pada diri terapis. Namun, Zetzel melihat sumber proyeksi secara lebih luas, yaitu bukan hanya gambaran ayah melainkan gambaran orang tua.

Dalam setting konseling, Benyamin menemukan transference menggejala dalam
perilaku-perilaku konseli terhadap konselor (terapis) dengan tanda-tanda sebagai
berikut :

  • Konseli sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi.
  • Setelah satu atau dua kali pertemuan, konseli sangat memuji pribadi dan pekerjaan konselor.
  • Konseli meminta konselor mengubah jadwal pertemuan agar sesuai dengan jadwal konseli. Jadi, konselor yang menyesuaikan diri dengan keadaan konseli.
  • Konseli membawakan hadiah untuk konselor.
  • Konseli secara berulang-ulang mengundang konselor untuk menghadiri acara-acara sosial dan merasa ditolak bila konselor menjelaskan tentang adanya pemisahan yang tegas antara pekerjaan profesional dan kehidupan sosial.
  • Konseli meminta konselor untuk memecahkan masalah konseli.
  • Konseli sering menanyakan sesuatu di luar keahlian konselor. Meskipun konselor telah menjelaskan bahwa hal-hal yang ditanyakan bukan keahlian, namun konseli terus menerus mengulangi pertanyaan tersebut.
  • Konseli sering mengatakan bahwa konselor mengingatkan dia pada seseorang.
  • Konseli mengalami kesulitan mengatur batas-batas fisik dan berusaha menyentuh konselor secara tidak tepat di setiap akhir pertemuan.
  • Konseli mengalami kesulitan mengakhiri pertemuan dan terus menerus berusaha mengajak konselor meneruskan percakapan.
  • Konseli menceritakan kepada konselor tentang detil-detil yang sangat pribadi (intim) dari kehidupan pribadinya.

Grant & Crawley (2002) mensarikan pendapat para ahli mengenai cara-cara konseli mengkomunikasikan transference terhadap konselor. Menurut mereka ada empat cara yaitu :

  • Konseli mengkomunikasikan transference secara langsung dengan cara mengungkapkan perasaan atau harapan-harapannya kepada konselor. Misalnya, konseli wanita berkata kepada konselornya bahwa dia sangat Transference dan Countertransference dalam Relasi Konseling mengagumi sikap kebapakan konselor yang mengingatkan dia pada ayahnya. Atau contoh lain, seorang konseli laki-laki mengatakan bahwa dia senang ngobrol dengan konselor wanitanya yang sabar sekali mendengarkan “uneg-unegnya”, tidak seperti ibunya yang akan langsung mencelanya.

  • Konseli mengkomunikasikan transference secara simbolik, melalui cerita atau deskripsi terhadap peristiwa-peristiwa dalam hidupnya yang kadang-kadang tema ceritanya menggambarkan relasi transference dengan konselornya. Misalnya, seorang konseli putri menceritakan betapa sedihnya dia ditinggal sahabatnya yang harus pulang ke kota asalnya karena studinya telah selesai. Hal ini dia ungkapkan bersamaan dengan berakhirnya proses konseling. Sebenarnya dia merasa berat hati “berpisah” dengan konselornya. Namun, konselor meyakinkan dia bahwa dia sudah mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, mampu mandiri, tanpa perlu bantuan konselor. Dalam contoh ini secara simbolik, konseli mengungkapkan kesedihannya berpisah dengan konselor yang selama ini telah dijadikan tempat “bergantung”.

  • Konseli mengkomunikasikan transference secara imajinatif, melalui mimpi-mimpi dan fantasi. Konseli menceritakan mimpi-mimpinya atau fantasi-fantasinya yang secara simbolik merupakan representasi dari hubungannya dengan konselor. Contoh, seorang konseli putri yang bermimpi mendapat ciuman hangat dari seorang pria dengan ciri-ciri mirip dengan konselornya dan dia merasakan suatu kebahagiaan yang luar biasa.

  • Koseli mengkomunikasikan transference yang berciri enactment, yaitu konseli memainkan suatu peran tertentu di awal relasi konseling dengan konselornya. Contohnya, seorang konseli meminta konselor mengantarkan pulang setelah pertemuan konseling dan hal ini ditolak oleh konselornya. Konseli merasa ditolak oleh konselornya karena konselor tidak dapat berperan sebagai ibunya yang selalu mengantar dia ke mana saja. Jadi, pada awal-awal konseling, konseli telah menempatkan konselornya sebagai orangtua, khususnya ibunya. Kemudian, dia merasa sangat kecewa atas reaksi konselornya itu.