© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Toeri Kontrol (Control Theory) dalam ilmu sosial?

Teori kontrol sosial memfokuskan diri pada teknik-teknik dan strategi-strategi yang mengatur tingkah laku manusia dan membawanya kepada penyesuaian atau ketaatan kepada aturan-aturan masyarakat. Seseorang mengikuti hukum sebagai respon atas kekuatan-kekuatan pengontrol tertentu dalam kehidupan seseorang. Seseorang menjadi kriminal ketika kekuatan-kekuatan yang mengontrol tersebut lemah atau hilang.

Konsep kontrol sosial lahir pada peralihan abad dua puluh dalam satu volume buku dari E.A. Ross, salah seorang Bapak Sosiologi Amerika. Menurut Ross, sistem keyakinanlah (dibanding hukum-hukum tertentu) yang membimbing apa yang dilakukan orang-orang dan yang secara universal mengontrol tingkah laku, tidak peduli apa pun bentuk keyakinan yang dipilih. Sejak saat itu, konsep ini diambil dalam arti yang semakin meluas.

Kontrol sosial dapat dikaji dari dua perspektif yaitu perspektif macrosociological studies maupun microsociological studies.

1. Macrosociological studies

memfokuskan pada sistem formal untuk mengontrol sosial masyarakat, sistem formal tersebut antara lain:

• Sistem hukum, UU, dan penegak hukum
• Kelompok-kelompok kekuatan di masyarakat.
• Arahan-arahan sosial dan ekonomi dari pemerintah/ kelompok swasta adapun jenis kontrol ini bisa menjadi positif atau negatif. Positif apabila dapat merintangi orang dari melakukan tingkah laku yang melanggar hukum, dan negatif apabila mendorong penindasan membatasi atau melahirkan korupsi dari mereka yang memiliki kekuasaan.

2. Microsociological studies

Memfokuskan perhatiannya pada sistem kontrol secara informal. Adapun tokoh penting dalam pespektif ini adalah Travis Hirschi dengan bukunya yang berjudul Causes of Delingvency dan Jackson Toby yang memperkenalkan tentang “Individual Commitment” sebagai kekuatan yang sangat menentukan dalam kontrol sosial tingkah laku.

Salah satu teori kontrol sosial yang paling luar biasa dan sangat populer dikemukakan oleh Travis Hirschi pada tahun 1969. Hirschi, memberikan suatu gambaran jelas mengenai konsep social bond. Hirschi sependapat dengan Durkheim, bahwa tingkah laku seseorang mencerminkan berbagai ragam pandangan tentang kesusilaan (morality) di sosial masyarakat.

Ide utama di belakang teori kontrol sosial adalah bahwa penyimpangan merupakan hasil dari kekosongan kontrol atau pengendalian sosial. Teori ini dibangun atas dasar pandangan bahwa setiap manusia cenderung untuk tidak patuh pada hukum atau memiliki dorongan untuk melakukan pelanggaran hukum.

Oleh sebab itu, para ahli teori kontrol menilai perilaku menyimpang adalah konsekuensi logis dari kegagalan seseorang untuk menaati hukum.

Hirschi mengajukan beberapa proposisi teoritisnya, antara lain :

  1. Bahwa berbagai bentuk pengingkaran terhadap aturan-aturan sosial adalah akibat dari kegagalan dalam mensosialisasi individu untuk bertindak konform terhadap aturan atau tata tertib yang ada.

    Konformitas adalah suatu jenis pengaruh sosial ketika seseorang mengubah sikap dan tingkah laku mereka agar sesuai dengan norma sosial yang ada. Misalnya menunggu giliran dengan cara mengantri.

  2. Penyimpangan sosial dan kriminalitas, merupakan bukti kegagalan kelompok sosial konvensional untuk mengikat individu agar tetap konform, seperti: keluarga, sekolah atau institusi pendidikan dan kelompok dominan lainnya.

  3. Setiap individu seharusnya belajar untuk konform dan tidak melakukan tindakan menyimpang atau kriminal.

  4. Kontrol internal lebih berpengaruh daripada kontrol eksternal.

Teori-teori kontrol sosial membahas isu-isu tentang bagaimana masyarakat memelihara atau menumbuhkan kontrol sosial dan cara memperoleh konformitas atau kegagalan meraihnya dalam bentuk penyimpangan.

Teori kontrol sosial berangkat dari asumsi bahwa individu di masyarakat mempunyai kecenderungan yang sama untuk menjadi “baik” atau “jahat”. Baik jahatnya seseorang sepenuhnya tergantung pada masyarakatnya. Ia menjadi baik baik kalau masyarakat membuatnya baik.

Travis Hirschi (1969) dalam Causes of Delinquency menampilkan teori ikatan sosial yang menyatakan bahwa delinkuensi terjadi ketika ikatan seseorang dengan masyarakat melemah atau putus, dengan demikian mengurangi resiko personal dalam konformitas.

Delinkuensi/de·lin·ku·en·si/ /délinkuénsi/ adalah tingkah laku yang menyalahi secara ringan norma dan hukum yang berlaku dalam suatu masyarakat

Individu mempertahankan konformitas karena khawatir pelanggaran yang mereka lakukan akan merusak hubungan mereka (menyebabkan mereka “kehilangan muka”) dengan sosial masyarakat disekitarnya, seperti keluarga, teman, tetangga, pekerjaan, sekolah, dan lain sebagainya.

Intinya adalah, individu akan menyesuaikan diri bukan karena takut pada hukuman yang ditetapkan dalam hukum pidana, tetapi lebih karena khawatir melanggar tata kelakuan kelompok mereka dan citra personal mereka di mata kelompok.

Ikatan-ikatan ini terdiri atas empat komponen: keterikatan, komitmen, keterlibatkan, dan kepercayaan.

  • Keterikatan menunjuk pada ikatan pada pihak lain (seperti keluarga dan teman sebaya) dan lembaga-lembaga penting (seperti masjid, gereja, dan sekolah). Kaitan keterikatan (attachment) dengan penyimpangan adalah sejauh mana orang tersebut peka terhadap pikiran, perasaan dan kehendak orang lain sehingga ia dapat dengan bebas melakukan penyimpangan.

Keterikatan yang lemah dengan orang tua dan keluarga bisa saja mengganggu perkembangan kepribadian seseorang, sedangkan keterikatan yang buruk dengan sekolah dipandang sangat penting dalam delinkuensi.

  • Komitmen berhubungan dengan sejauh mana seseorang mempertahankan kepentingan dalam sistem sosial masyarakatnya. Jika seorang individu beresiko kehilangan banyak hal yang berhubungan dengan status, pekerjaan, dan kedudukan dalam masyarakat, kecil kemungkinannya dia akan melanggar hukum.

  • Keterlibatan berhubungan dengan keikutsertaan dalam aktivitas soaial dan rekreasional.

  • Kepercayaan dalam norma-norma, sistem nilai dan hukum akan berfungsi sebagai pengikat dalam sosial masyarakat. Kepercayaan seseorang terhadap norma-norma yang ada menimbulkan kepatuhan terhadap norma tersebut. Kepatuhan terhadap norma tersebut tentunya akan mengurangi hasrat untuk melanggar. Tetapi, bila orang tidak mematuhi norma-norma maka lebih besar kemungkinan melakukan pelanggaran.

Pengertian teori kontrol atau control theory merujuk kepada setiap perspektif yang membahas ihwal pengendalian tingkah laku manusia, pengertian teori kontrol sosial atau social control theory merujuk kepada pembahasan delinkuensi dan kejahatan yang dikaitkan dengan variabel-variabel yang bersifat sosiologis; antara lain struktur keluarga, pendidikan dan kelompok dominan. Dengan demikian, pendekatan teori kontrol sosial ini berbeda dengan teori kontrol lainnya.

Pemunculan teori kontrol sosial ini diakibatkan tiga ragam perkembangan dalam kriminologi, yakni :

  1. Pertama, adanya reaksi terhadap orientasi labeling dan konflik dan kembali kepada penyelidikan tentang tingkah laku kriminal.

  2. Kedua, munculnya studi tentang criminal justice sebagai suatu ilmu baru telah membawa pengaruh terhadap kriminologi menjadi lebih pragmatis dan berorientasi pada sistem.Ketiga, teori kontrol sosial telah dikaitkan dengan suatu teknik riset baru khususnya bagi tingkah laku anak/remaja, yakni self report survey. Perkembangan awal dari teori ini dipelopori Durkheim (1895). Perkembangan berikutnya selama tahun 1950-an beberapa teorietis telah mempergunakan pendekatan teori kontrol terhadap kenakalan anak remaja.

Reiss mengemukakan bahwa ada tiga komponen dari kontrol sosial dalam menjelaskan kenakalan anak/remaja.

  1. Kurangnya kontrol internal yang wajar selama masa anak-anak.

  2. Hilangnya kontrol tersebut

  3. Tidak adanya norma-norma sosial atau konflik antara norma-norma dimaksud (di sekolah, orang tua, atau lingkungan dekat).

Reiss membedakan dua macam kontrol, yaitu:

  1. Personal control (internal control) adalah kemampuan seseorang untuk menahan dri untuk tidak mencapai kebutuhanannya dengan cara melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat.

  2. Social control atau kontrol eksternal adalah kemampuan kelompok sosial atau lembaga-lembaga di masyarakat untuk melaksanakan norma-norma atau peraturan menjadi efektif.

Ivan F. telah mengemukakan teori social control tidak sebagai suatu penjelasan umum tentang kejahatan tetapi merupakan penjelasan bersifat kasuistis.

Konsep kontrol eksternal/ social control, kemudian menjadi dominan setelah David Matza dan Gresham Sykes melakukan kritik terhadap teori subkultur dari Albert Cohen. Sykes dan Matza kemudian mengemukakan konsep atau teori tentang technique of neutralization . Sykes dan Matza merinci lima teknik netralisasi sebagai berikut :

  1. Denial of responsibility

  2. Denial of injury

  3. Denial of the victim

  4. Condemnation of the condemners

  5. Appeal to higher loyalties.