Apa yang dimaksud dengan Terapi Rasional Emotif Tingkah Laku ?


(Rheva Maharani) #1

Terapi Rasional Emotif Behavior

Terapi Rasional Emotif Behavior atau Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) menekankan peran pemikiran dan sistem kepercayaan sebagai akar masalah dari pribadi seseorang.

Apa yang dimaksud dengan Terapi Rasional Emotif Tingkah Laku ?


(Jeremy Liam Wijaya) #2

Terapi rasional emotif tingkah laku adalah terapi yang berusaha menghilangkan cara berfikir klien yang tidak logis dan irasional, dan menggantinya dengan sesuatu yang logis dan rasional dengan cara menyerang, menentang, mempertanyakan dan membahas keyakinan-keyakinan irasional klien. Corey (2003)

Menurut Ellis (1997) terapi rasional emotif tingkah laku adalah terapi yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku dan pikiran. Oleh karena itu Ellis menjelaskan lebih lanjut unsur pokok dari terapi rasional emotif tingkah laku adalah asumsi bahwa berpikir, emosi dan tingkah laku bukan tiga proses yang terpisah. Pikiran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tindih, dan dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Baik emosi dan pikiran tersebut ditunjukkan dengan tingkah laku. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengaruhi pikiran.

Pikiran seseorang dapat menjadi emosinya, dan emosi dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi pikiran (Froggatt, 2005).

Menurut Thomson dan Rudolf, tujuan utama dari terapi rasional emotif tingkah laku adalah membantu klien memahami kepercayaan irrasionalnya, dengan mendebatkannya dan selanjutnya merubahnya dengan pemikiran yang lebih positif dan rasional. Membantu anak menjadi evaluator atas dirinya sendiri, sehingga dapat belajar untuk hidup sehat, mengontrol diri, dan bertanggung jawab atas kehidupannya.

Menurut Edelstein (2010) terapi rasional emotif tingkah laku membantu seseorang untuk dapat lebih percaya diri dan mengeliminasi atau menghilangkan masalah pemikiran yang mengganggu (irasional). Sedangkan menurut Burks dan

Menurut Strefflre, tujuan terapi rasional emotif tingkah laku adalah sebagai berikut:

  • Memperbaiki dan mengubah segala pemikiran yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan dirinya.

  • Menghilangkan gangguan emosional yang merusak.

  • Untuk membangun komitmen, toleransi, pemikiran ilmiah, pengambilan resiko dan penerimaan diri klien.

Model Terapi Rasional Emotif Tingkah Laku
Gambar Model Terapi Rasional Emotif Tingkah Laku

Ciri-ciri Terapi Rasional Emotif Tingkah Laku


Ciri-ciri terapi rasional emotif tingkah laku dapat diuraikan sebagai berikut :

  • Dalam menelusuri masalah klien yang dibantu, konselor berperan lebih aktif dibandingkan klien. Maksudnya adalah peran konselor disini harus bersikap efektif dan memiliki kapasitas untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien dan bersungguh-sungguh dalam mengatasi masalah yang dihadapi, artinya konselor harus melibatkan diri dan berusaha menolong kliennya supaya dapat berkembang sesuai dengan keinginan dan disesuaikan dengan potensi yang dimilikinya.

  • Dalam proses hubungan konseling harus tetap diciptakan dan dipelihara hubungan baik dengan klien. Dengan sikap yang ramah dan hangat dari konselor akan mempunyai pengaruh yang penting demi suksesnya proses konseling sehingga dengan terciptanya proses yang akrab dan rasa nyaman ketika berhadapan dengan klien.

  • Tercipta dan terpeliharanya hubungan baik ini dipergunakan oleh konselor untuk membantu klien mengubah cara berfikirnya yang tidak rasional menjadi rasional.

  • Dalam proses hubungan konseling, konselor tidak banyak menelusuri masa lampau klien.

  • Diagnosis (rumusan masalah) yang di lakukan dalam konseling rasional emotif bertujuan untuk membuka ketidaklogisan cara berfikir klien. Dengan melihat permasalahan yang dihadapi klien dan faktor penyebabnya, yakni menyangkut cara pikir klien yang tidak rasional dalam menghadapi masalah, yang pada intinya menunjukkan bahwa cara berpikir yang tidak logis itu sebenarnya menjadi penyebab gangguan emosionalnya.

Konsep dasar dalam Terapi Rasional Emotif Tingkah Laku


Menurut Ellis (2007) terdapat tiga hal yang terkait dengan perilaku, yaitu rumus A-B-C :

  • A (Activating experiences atau pengalaman-pengalaman pemicu): seperti kesulitan-kesulitan keluarga, kendala-kendala pekerjaan, trauma-trauma masa kecil, dan hal-hal lain yang kita anggap sebagai penyebab ketidakbahagiaan.

  • B (Beliefs): yaitu keyakinan-keyakinan, terutama yang bersifat irasional dan merusak diri sendiri yang merupakan sumber ketidakbahagiaan.

  • C (Consequence): yaitu konsekuensi-konsekuensi berupa gejala neurotik dan emosi-emosi negatif seperti panik, dendam dan amarah karena depresi yang bersumber dari keyakinan-keyakinan yang keliru.

Ellis juga menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus melawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irrasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis positif dari keyakinan- keyakinan yang rasional.

Tahapan Terapi Rasional Emotif Tingkah Laku


Beberapa langkah yang dilakukan dalam terapi rasional emotif tingkah laku, menurut Palmer (2011), adalah sebagai berikut :

  • Langkah pertama: identifikasi masalah

    Langkah ini untuk mengetahui masalah yang spesifik yang dialami subjek agar dapat dilakukan tindakan.

  • Langkah kedua: pemahaman masalah

    Pada langkah ini, terapis dan klien harus sama-sama memahami masalah yang sedang dihadapi. Menentukan apa yang menjadi fokus permasalah yang dihadapi subjek.

  • Langkah ketiga: mengubah keyakinan irasional (disputing)

    Langkah ini mengubah keyakinan yang menyebabkan gangguan, yaitu keyakinan yang irasional, agar keyakinan tersebut dapat berubah menjadi yang rasional.

  • Langkah keempat: memelihara perubahan positif

    Pada langkah ini keyakinan yang sudah berubah menjadi rasional dipertahankan dan terus dimonitor agar menetap.

  • Langkah kelima: evaluasi

    Pada langkah ini terapis dan subjek bersama-sama mengevaluasi sesi-sesi sebelumnya, apakah sudah berhasil mengubah keyakinan yang irasional menjadi rasional. Jika sudah berhasil terapis harus mempersiapkan subjek agar tidak tergantung pada proses terapi sehingga dapat mempertahankan hasil terapi dikehidupannya sehari-hari.

Teknik-teknik Terapi Rasional Emotif Tingkah Laku


Terapi rasional emotif tingkah laku menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif dan behavioristik yang disesuaikan dengan kondisi klien. Setiap terapis dapat mempergunakan gabungan-gabungan teknik sejauh penggabungan itu memungkinkan (dalam Ellis, 1997).

Hal ini juga sesuai dengan yang diungkapkan oleh Sacks (2004) bahwa terapi rasional emotif tingkah laku dapat mengintegrasikan bermacam-macam teknik kognitif, emotif dan tingkah laku. Teknik-teknik tersebut diantaranya, yaitu :

1. Teknik-teknik Kognitif

Teknik-teknik kognitif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah cara berfikir klien.

  • Teknik Pengajaran - Dalam terapi rasional emotif tingkah laku, terapis mengambil peranan lebih aktif dari klien. Teknik ini memberikan keleluasan kepada terapis untuk berbicara serta menunjukkan sesuatu kepada klien, terutama menunjukkan bagaimana ketidaklogisan berfikir itu secara langsung menimbulkan gangguan emosi kepada klien tersebut.

  • Teknik Persuasif - Meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya karena pandangan yang ia kemukakan itu tidak benar. Terapis langsung mencoba meyakinkan, mengemukakan pelbagai argumentasi untuk menunjukkan apa yang dianggap oleh klien itu adalah tidak benar.

  • Teknik Konfrontasi – Terapis menyerang ketidaklogisan berfikir klien dan membawa klien ke arah berfikir yang lebih logis.

  • Teknik Pemberian Tugas - Terapis memberi tugas kepada klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata. Misalnya, menugaskan klien bergaul dengan anggota masyarakat kalau mereka merasa dipencilkan dari pergaulan atau membaca buku untuk memperbaiki kekeliruan caranya berfikir.

2. Teknik-teknik Emotif

Teknik-teknik emotif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah emosi klien. Teknik yang sering digunakan antara lain ialah:

  • Teknik Sosiodrama - Memberi peluang mengekspresikan pelbagai perasaan yang menekan klien itu melalui suasana yang didramatisasikan sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulisan atau melalui gerakan dramatis.

  • Teknik ‘Self Modelling’ - Digunakan dengan meminta klien berjanji dengan terapis untuk menghilangkan perasaan yang menimpanya. Dia diminta taat setia pada janjinya.

  • Teknik ‘Assertive Training’ - Digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien dengan pola perilaku tertentu yang diinginkannya.

3. Teknik-teknik Behavioristik

Teknik ini khusus untuk mengubah tingkah laku yang tidak diinginkan. Teknik ini antara lain ialah:

  • Teknik Reinforcement - Mendorong klien ke arah perilaku yang diingini dengan jalan memberi pujian dan hukuman. Pujian pada perilaku yang betul dan hukuman pada perilaku negatif yang dikekalkan.

  • Teknik Social Modelling - Digunakan membentuk perilaku baru pada klien melalui peniruan, pemerhatian terhadap Model Hidup atau Model Simbolik dari segi percakapan dan interaksi serta pemecahan masalah.


(Wina Prinda Hapsari) #3

Dalam sejarahnya, pada tahun 1955 Albert Ellis adalah peletak dasar Terapi Rasional Emotif Behavior atau lebih tepatnya di sebutan “Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT)”. Pada saat itu, awal mulanya REBT berdasarkan dari hasil pengamatan terhadap anak yang tidak mencapai kemajuan karena dia tidak memiliki pemahaman yang tepat dalam hubungannya dengan peristiwa yang dialami. Ellis memiliki perspektif bahwa REBT merupakan sebuah terapi yang sangat komprehensif dalam menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan emosi, kognisi, dan juga perilaku seseorang.

Menurut Gerald Corey mengasumsikan bahwa Terapi rasional emotif behavior itu adalah terapi yang menitikberatkan untuk berfikir, menilai, memutuskan, menganalisis dan bertindak. Dia juga menegaskan bahwa manusia itu memiliki sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi dirinya dan bias mengubah ketentuan-ketentuan pribadi yang dihadapi dalam tatanan masyarakat.

Sedangkan menurut Ws. Winkel berpendapat bahwa terapi rasional emotif behavior adalah corak klien yang menekankan pada kebersamaan dan interaksi antara berfikir dengan akal yang sehat (Rational Thinking), berperasaan (Emoting), dan berperilaku (Acting), sekaligus juga menekankan bahwa perubahan yang mendalam dalam cara berfikir dan berperasaan manusia dapat mengakibatkan perubahan yang berarti dalam cara berperasaan dan berperilaku, menggantinya kepada sesuatu yang logis dan rasional dengan cara mengonfrontasikan seseorang klien atas keyakinan irasionalnya serta menyerang, menentang, mempertanyakan dan membahas keyakinan yang irasional sehingga seseorang klien akan menjadi bahagia, produktif dan berkualitas.

Hakikat Manusia Menurut Terapi Rasional Emotif Behavior


Secara umum prinsip yang mendominasi manusia ada dua, yaitu pikiran dan perasaan. Pada hakikatnya bahwa setiap manusia yang normal memiliki pikiran, perasaan, dan perilaku yang ketiganya berlangsung secara simultan. Dalam memandang hakikat manusia tersebut, terapi rasional emotif behavior memiliki sejumlah asumsi tentang kebahagiaan dan ketidakbahagiaan dalam hubungannya dengan dinamika pikiran dan perasaan.

Asumsi tentang hakikat manusia menurut terapi rasional emotif behavior adalah sebagai berikut:

  • Pada dasarnya individu itu unik. individu memiliki kecenderungan untuk berfikir rasional dan irrasional. Ketika berfikir dan berperilaku rasional maka dia efektif, bahagia dan kompeten. Ketika berfikir dan berprilaku irrasional, maka sebaliknya dia dalam keadaan tidak efektif.

  • Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari.

  • Hambatan psikologis atau emosional adalah akibat dari cara berfikir yang tidak logis atau irrasional. Emosi menyertai individu yang berfikir dengan penuh prasangka, sangat personal dan irrasional.

  • Berfikir irrasional diawali dengan belajar secara tidak logis yang diperoleh dari orang tua dan kultur tempat dimana dibesarkan. Dalam proses pertumbuhannya mereka akan terus berfikir dan merasakan dengan pasti tentang dirinya dan tentang yang lain. “Ini adalah baik” dan yang “itu adalah jelek”. Pandangan ini terus membentuk cara pandang kehidupan selanjutnya.

  • Berfikir secara irrasional akan tercermin dari verbalisasi yang digunakan. Verbalisasi yang tidak logis menunjukkan cara berfikir yang salah dan verbalisasi yang tepat menunjukkan cara berfikir yang tepat.

  • Perasaan dan berfikir negative dan penolakan diri harus dilawan dengan cara berfikir yang rasional dan logis yang dapat diterima oleh akal sehat serta menggunkan cara verbalisasi yang rasional.

Teori Kepribadian Dalam Terapi Rasional Emotif Behavior


Untuk mengetahui dinamika kepribadian dalam pandangan terapi rasional emotif behavior perlu kita memahami konsep-konsep dasar yang seperti dikemukakan oleh Ellis (1994), dimana ada tiga hal dalam kaitannya dengan perilaku seseorang, yaitu Antecedent Event (A), Belief (B), dan Emotional Consequence ( C), yang kemudian dikenal dengan konsep A-B-C.

  • Antecedent Event (A) merupakan suatu keberadaan fakta, suatu peristiwa, dan tingkah laku atau sikap seseorang. Seperti halnya perceraian, kelulusan bagi para siswa, juga dapat menjadi Antecedent Event bagi seseorang.

  • Belief (B) yaitu merupakan keyakinan, pandangan, dan nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Yang mana keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB).

  • Emotional Consequenee © adalah konsekuensi atau reaksi emosional seseorang sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan (A). Konsekuensi dari emosional ini bukan akibat langsung dari (A) tapi lebih disebabkan oleh keyakinan individu (B) baik itu yang rasional atau yang irasional.

Terapi Rasional Emotif Behavior

Setelah ABC, maka menyusul D yaitu penerapan metode ilmiah untuk membantu klien menantang keyakinan-keyakinan irosional yang telah mengakibatkan gangguan- gangguan emosi dan tingkah laku.

Misalnya ketika seseorang mengalami depresi sesudah perceraian, maka bukan perceraian itu sendiri yang menjadi penyebab dari timbulnya reaksi depresi, melainkan keyakinan orang itu tentang perceraian sebagai sebuah kegagalan, penolakan atau kehilangan teman hidup. Ellis berkeyakinan akan penolakan dan kegagalan (pada B) adalah menyebabkan depresi (pada C), bukan peristiwa perceraian yang sebenarnya (pada A). Jadi manusia harus bertanggung jawab atas penciptaan reaksi-reaksi emosional dan gangguan- gangguannya sendiri.

Terapi rasional emotif behavior tentang kepribadian menggunakan formula A-B-C, akan tetapi dilengkapi oleh Ellis sebagai teori klienng menjadi A-B-C-D-E (antecedent event-belief-emotional consequence- desputing-effect). Effect yang dimaksud disini adalah keadaan psikologis yang diharapkan terjadi pada klien setelah mengikuti proses klienng.

Karakteristik Perilaku Bermasalah Menurut Pandangan Terapi Rasional Emotif Behavior


Dalam terapi rasional emotif behavior bahwa yang dinamakan perilaku bermasalah adalah perilaku yang didasari oleh cara berfikir yang irrasional. Albert Ellis mengemukakan indikator keyakinan irasional yang berlaku secara universal. Indikator orang yang berkeyakinan irasional tersebut adalah sebagai berikut:

  • Tuntutan untuk selalu dicintai dan didukung oleh orang terdekat (significant others).

  • Pandangan bahwa tindakan tertentu adalah mengerikan dan jahat, dan orang yang melakukan tindakan demikian itu sangat terkutuk.

  • Tidak senang atau mengerikan atas kejadian yang tidak diharapkan.

  • Pandangan bahwa segala masalah selalu disebabkan oleh faktor eksternal, dan peristiwa itu menimpa kita melalui orang lain.

  • Pandangan bahwa jika sesuatu itu berbahaya atau menakutkan maka akan terganggu dan selalu tidak akan berakhir memikirkannya.

  • Pandangan bahwa kita lebih mudah menghindari berbagai kesulitan hidup dan tanggung jawab dari pada berusaha untuk menghadapinya.

  • Pandangan bahwa kita selalu membutuhkan bantuan orang lain atau orang asing yang lebih besar daripada diri sendiri sebagai sandaran.

  • Pandangan bahwa kita seharusnya kompeten, inteligen, dan mencapai semua kemungkinan yang menjadi perhatian kita.

  • Pandangan bahwa kebahagiaan manusia dapat dicapai dengan santai tampa berbuat apapun.

  • Pandangan bahwa kita harus memiliki kepastian dan pengendalian yang sempurna atas sesuatu hal bahwa dunia ini penuh engan probabilitas (serba mungkin) dan berubah serta kita hidup nikmat sekalipun demikian keadaannya.

  • Pandangan bahwa kebahagiaan manusia dapat dicapai dengan santai dan tampa berbuat.

Keyakinan yang irasional tersebut menghasilkan reaksi emosional pada individu. Dalam perspektif Ellis, keyakinan yang rasional mengakibatkan pada perilaku dan reaksi individu yang tepat, sedangkan keyakinan yang irasional berakibat pada reaksi emosional dan perilaku yang salah.

Sedangkan ciri-ciri dari berfikir irasional yaitu:

  • tidak dapat dibuktikan kebenarannya,

  • menimbulkan perasaan tidak enak (seperti kecemasan, kekhawatiran, prasangka) yang sebenarnya tidak perlu,

  • menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari hari yang produktif efektif.

Karakteristik Keyakinan Irrasional Dalam Terapi Rasional Emotif Behavior


Nelson-Jones dalam buku “Psikologi Konseling” menambahkan karakteristik umum cara berfikir irrasional yang dapat dijumpai secara umum sebagai berikut:

  • Terlalu menuntut (Demandingness), dimana perintah atau komando yang berlebihan oleh terapi rasional emotif behavior dibedakan dengan hasrat, pikiran dan keinginan. Hambatan emosional terjadi ketika individu menuntut “harus” terpuaskan, dan bukan “ingin” terpuaskan. Menurut Ellis “harus” merupakan cara berpikir absolut tanpa ada toleransi. Tuntutan itu membuat individu mengalami hambatan emosional.,

  • Generalisasi secara berlebihan (Overgeneralization), berarti individu menganggap sebuah peristiwa atau keadaan diluar batas yang wajar. Overgeneralization dapat diketahui secara semantik “sayalah orang yang paling bodoh di dunia ini ”. ini adalah overgeneralization karena kenyataannya dia bukan sebagai orang yang terbodoh.

  • Penilaian diri, pada dasarnya seseorang dapat memiliki sifat yang menguntungkan an tidak menguntungkan. Yang terpenting dia dapat belajar untuk menerima dirinya tampa sarat.

  • Penekanan (Awfulizing) memiliki makna yang hamper sama dengan demandingness. Jika demandingness menuntut dengan “harus”, maka dalam awfulizing tuntutan atau harapan itu mengarah ada upaya peningkatan secara emosional dicampur dengan kemampuan untuk problem solving yang rasional. Penekanan ini akan mempengaruhi individu dalam memandang actecedent event secara tepat dank arena itu digolongkan sebagai cara berfikir yang irrasional.

  • Kesalahan atribusi adalah kesalahan dalam menetapkan sebab dan motivasi perilaku baik dilakukan sendiri, orang lain, atau sebuah peristiwa. Kesalahan atribusi disini sama dengan alasan palsu diri seseorang dan umumnya berakibat pada hambatan emosional.

  • Anti pada kenyataan, hal ini terjadi karena tidak dapat menunjukan fakta empiris secara tepat. Orang yang berkeyakinan irasional, pertama kali cenderung kuat untuk memaksa keyakinan yang irrasional dan menggugurkan sendiri gagasannya yang sebenarnya rasional. Orang yang rasional akan dapat menunjukan fakta secara empiris.

  • Repetisi, dimana keyakinan yang irasional terjadi berulang-ulang.

Seseorang cenderung mengajarkan dirinya sendiri dengan pandangan yang menghambat dirinya.

Tujuan Terapi Rasional Emotif Behavior


Berdasarkan panandangan dan asumsi tentang hakekat manusia dan kepribadiannya serta konsep teoritik dari REBT, tujuan utama dari terapi ini adalah sebagai berikut:

  • Memperbaiki dan merubah sikap, persepsi, cara berfikir, keyakinan serta pandangan klien yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri,

  • Menghilangkan gangguan emosional yang merusak diri sendiri seperti rasa takut dan rasa bersalah.

Peranan Konselor Dalam Terapi Rasional Emotif Behavior


Dalam hal ini konselor diharapkan dapat memberikan penghargaan positif tampa syarat kepada klien atau yang disebutnya dengan unconditional self-acceptance atau dikenal dengan sebutan penerimaan diri tampa syarat, bukan dengan syarat.

Untuk mencapai tujuan klienng sebagaimana yang dikemukakan diatas konselor rasional emotif behavior terapi memiliki peran yang sangat penting. Dimana konselor dalam hal ini memiliki peran sebagai berikut:

  • Konselor lebih edukatif-direktif kepada klien yaitu dengan banyak memberikan cerita dan penjelasan, khususnya pada tahap awal.

  • Mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung.

  • Menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki cara berfikir klien, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri.

  • Dengan gigih dan berulang-ulang dalam menekan bahwa ide irrasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien.

  • Menyerukan klien menggunakan kemampuan rasional daripada emosinya.

  • Menggunakan pendekatan dedaktik dan filosofis.

  • Menggunakan humor sebagai cara mengkonfrontasikan berfikir secara irrasional.

Teknik-Teknik Terapi Rasional Emotif Behavior


Dalam Terapi Rasional Emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kognitif, afektif, behavioral dan humor yang disesuaikan dengan kondisi klien. Setiap konselor dapat mempergunakan gabungan-gabungan teknik sejauh penggabungan itu memungkinkan. Teknik-teknik tersebut diantaranya, yaitu:

Terapi Kognitif

Beberapa terapi kognitif yang cukup dikenal adalah :

  1. Home work assigment atau pemberian tugas rumah. Yaitu teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan.

  2. Latihan asertif, yaitu teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan atau meniru model-model sosial.

Terapi Afektif

Teknik ini digunakan untuk membantu klien dalam mengidentifikasi emosi dan keyakinan, serta menemukan kesulitan verbalisasi. Pada saat tertentu ada klien yang mampu mengenal perasaan dan kognitifnya, tapi tidak dapat mempergunakannya dalam kejadian- kejadian tertentu. Dalam hal ini teknik yang bisaa digunakan, yaitu:

  1. Teknik Assertive Training, merupakan teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara terus- menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.

  2. Teknik Sosiodrama, merupakan teknik yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan- perasaan yang negatif) melalui suasana yang di dramatisasikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulisn ataupun melalui gerakan dramatis.

  3. Teknik Self Modeling (diri sebagai model), merupakan teknik yang digunakan untuk meminta klien agar berjanji atau mengadakan komitmen dengan konselor untuk perasaan atau perilaku tertentu. Dalam self modeling ini klien diminta untuk tetap setia pada janjinya dan secara terus-menerus menghilangkan diri dari sikap negatif.

  4. Teknik Mutasi, merupakan teknik untuk menirukan secara terus- menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif

Terapi Behavioristik

Dalam kasusnya, kebanyakan Terapi Rasional Emotif banyak menggunakan teknik behavioristik terutama dalam hal upaya memodifikasi perilaku negatif klien, dengan mengubah akar keyakinan yang tidak rasional dan tidak logis, beberapa teknik yang tergolong behavioristik adalah:

  1. Teknik reinforcement (penguatan), yaitu usaha mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). Teknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai-nilai dan keyakinan yang irasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang lebih positif.

  2. Teknik social modeling atau dikenal dengan pemodelan sosial, yaitu teknik untuk membentuk perilaku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial ang diharapkan dengan cara mutasi (meniru), mengobservasi dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan maslah tertentu yang telah disiapkan konselor.

  3. Teknik live models (model kehidupan nyata), yaitu teknik yang digunakan untuk menggambar perilaku-perilaku tertentu. Khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan-percakapan social, interaksi dengan memecahkan maslah-masalah.

Humor

Penggunaan humor dalam proses klienng telah diterapkan dalam berbagai macam kesempatan, seperti Sekolah Dasar, pada klienng karier, klienng kelompok, terapi keluarga dan terapi analitik.

Humor juga dapat digunakan menciptakan rapport dan sebagai teknik untuk membuka diri klien dimana konselor dapat menunjukkan kesempurnaan atau kelemahan yang sebaiknya bisa diterima oleh setiap manusia, dengan kata lain, dinyatakan tertawa adalah suatu cara “ menunjuk sendiri” terhadap ketidak mampuan dan ketidakfanaan terhadap perilaku sendiri.

Kebanyakan hambatan itu muncul karena terlalu serius dalam membicarakannya, untuk itu humor diharapkan dapat membantu klien agar tercipta suasana yang tidak menakutkan dan klien juga dapat menikmati proses terapi. Dalam proses klienng ini konselor dapat mengajak klien untuk menertawakan pikiran irasionalnya dan bertanggung jawab terhadap pengukuran itu.

Penggunaan humor dalam klienng sebaiknya memperhatikan budaya yang dimiliki oleh klien. Ada budaya-budaya tertentu yang bisa menerima humor sebagai konsekuensi kegagalan yang dilakukan. Tetapi ada juga ada budaya atau nilai-nilai masyarakat yang berpikiran bahwa kegagalan bisa ditertawakan dengan demikian penggunaan memperhatikan latar belakang budaya klien.

Dalam mengaplikasikannya berbagai teknik terapi rasional emotif behavior Albert Ellis menyampaikan untuk menggunakan dan menggabungkan beberapa teknik tertentu sesuai dengan permasalahan yang dihadapi klien.

Referensi :

  • Latipun, Psikologi Konseling, UMM Press, Malang, 2005.
  • Gerald Corey, Teori dan Praktik Konseling & Psikoterapi, Refika Aditama, Bandung, 2009.
  • Ws. Winkel, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Grasindo, Jakarta,1991.
  • Gerald Corey, Teori Dan Praktek Konseling Dan Psikoterapi, Eresco, Bandung,1997.
  • Pihasniwati, Psikologi Konseling, TERAS, Yogyakarta, 2008.
  • Mohammad Surya, Teori-Teori Konseling, Pustaka Bani Quraisy, Bandung, 2003.