Apa yang dimaksud dengan Teori Pertukaran Sosial (Social exchange theory)?

Teori pertukaran sosial adalah teori dalam ilmu sosial yang menyatakan bahwa dalam sebuah hubungan sosial terdapat unsur ganjaran, pengorbanan, dan keuntungan yang saling memengaruhi. Teori ini menjelaskan bagaimana manusia memandang tentang hubungan kita dengan orang lain sesuai dengan anggapan diri manusia tersebut terhadap:

  • Keseimbangan antara apa yang di berikan ke dalam hubungan dan apa yang dikeluarkan dari hubungan itu.
  • Jenis hubungan yang dilakukan.
  • Kesempatan memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

Apa yang dimaksud dengan Teori Pertukaran Sosial (Social exchange theory)?

1 Like

Tokoh-tokoh yang mengembangkan teori pertukaran sosial antara lain adalah psikolog John Thibaut dan Harlod Kelley (1959), sosiolog George Homans (1961), Richard Emerson (1962), dan Peter Blau (1964).

Berdasarkan teori ini, kita masuk ke dalam hubungan pertukaran dengan orang lain karena dari padanya kita memperoleh imbalan. Dengan kata lain hubungan pertukaran dengan orang lain akan menghasilkan suatu imbalan bagi kita.

Seperti halnya teori pembelajaran sosial, teori pertukaran sosial pun melihat antara perilaku dengan lingkungan terdapat hubungan yang saling mempengaruhi (reciprocal). Karena lingkungan kita umumnya terdiri atas orang-orang lain, maka kita dan orang-orang lain tersebut dipandang mempunyai perilaku yang saling mempengaruhi dalam hubungan tersebut terdapat unsur imbalan (reward), pengorbanan (cost) dan keuntungan (profit).

Imbalan merupakan segala hal yang diperloleh melalui adanya pengorbanan, pengorbanan merupakan semua hal yang dihindarkan, dan keuntungan adalah imbalan dikurangi oleh pengorbanan. Jadi perilaku sosial terdiri atas pertukaran paling sedikit antar dua orang berdasarkan perhitungan untung-rugi.

Misalnya, pola-pola perilaku di tempat kerja, percintaan, perkawinan, persahabatan - hanya akan langgeng manakala kalau semua pihak yang terlibat merasa teruntungkan. Jadi perilaku seseorang dimunculkan karena berdasarkan perhitungannya, akan menguntungkan bagi dirinya, demikian pula sebaliknya jika merugikan maka perilaku tersebut tidak ditampilkan.

Berdasarkan keyakinan tersebut Homans dalam bukunya ”Elementary Forms of Social Behavior, 1974 mengeluarkan beberapa proposisi dan salah satunya menyatakan,

”Semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, makin sering satu bentuk tindakan tertentu memperoleh imbalan, makin cenderung orang tersebut menampilkan tindakan tertentu tadi ”.

Proposisi ini secara eksplisit menjelaskan bahwa satu tindakan tertentu akan berulang dilakukan jika ada imbalannya. Proposisi lain yang juga memperkuat proposisi tersebut berbunyi,

”Makin tinggi nilai hasil suatu perbuatan bagi seseorang, makin besar pula kemungkinan perbuatan tersebut diulanginya kembali”.

Bagi Homans, prinsip dasar pertukaran sosial adalah ”distributive justice” - aturan yang mengatakan bahwa sebuah imbalan harus sebanding dengan investasi. Proposisi yang terkenal sehubungan dengan prinsip tersebut berbunyi

”Seseorang dalam hubungan pertukaran dengan orang lain akan mengharapkan imbalan yang diterima oleh setiap pihak sebanding dengan pengorbanan yang telah dikeluarkannya - makin tinggi pengorbanan, makin tinggi imbalannya - dan keuntungan yang diterima oleh setiap pihak harus sebanding dengan investasinya - makin tinggi investasi, makin tinggi keuntungan”.

Inti dari teori pembelajaran sosial dan pertukaran sosial adalah perilaku sosial seseorang hanya bisa dijelaskan oleh sesuatu yang bisa diamati, bukan oleh proses mentalistik (black-box). Semua teori yang dipengaruhi oleh perspektif ini menekankan hubungan langsung antara perilaku yang teramati dengan lingkungan.

Berikut teori pertukaran sosial (social exchange theory) dari George Ritzer, yang menjelaskan gagasan George C Homans tantang teori Pertukaran tersebut.

Homans memandang perilaku sosial sebagai pertukaran aktivitas, ternilai ataupun tidak dan kurang lebih menguntungkan atau mahal bagi dua orang yang saling berinteraksi.

Teori pertukaran ini berusaha menjelaskan perilaku sosial dasar berdasarkan imbalan dan biaya. Homans mengakui bahwa sosiologi ilmiah memerlukan kategori dan skema konseptual namun sosiologi ilmiah pun memerlukan serangkaian proposisi tentang hubungan antar kategori, tanpa proposisi-proposisi tersebut penjelasan mustahil akan dilakukan karena tidak ada penjelasan tanpa proposisi. Homans tidak menyangkal pandangan Durkheimian bahwa sesuatu yang baru dapat muncul dari interaksi. Namun, ia berargumen bahwa hal-hal yang baru muncul tersebut dapat dijelaskan dengan prinsip-prinsip psikologi.

Dalam karya teoritisnya, Homans membatasi diriinya pada interaksi sosial sehari-hari. Namun, ia juga sangat percaya bahwa sosiologi yang terbangun dari prinsip-prinsip ini pada akhirnya akan mampu menjelaskan semua perilaku sosial.

Berdasarkan pada temuan-temuan B.F Skinner, Homans lalu mengembangkan beberapa proposisi yang merupakan inti dari teori pertukaran sosial. Proposisi-proposisi tersebut antara lain sebagai berikut :

Proposisi Sukses

Jika seseorang sering melakukan suatu tindakan dan orang tersebut mendapatkan imbalan dari apa yang ia lakukan, maka makin besar kecenderungan ia akan melakukannya pada waktu yang akan datang.

Secara umum perilaku yang selaras dengan proposisi sukses meliputi tiga tahap yaitu

  • Pertama, tindakan seseorang,
  • Kedua,hasil yang diberikan dan
  • Ketiga, pengulangan tindakan asli atau minimal tindakan yang dalam beberapa hal menyerupai tindakan asli.

Homans mencatat bahwa ada beberapa hal khusus terkait dengan proposisi sukses.

Pertama meskipun secara umum benar bahwa imblan yang semakin sering dilakukan mendorong peningkatan frekuensi tindakan. Situasi timbal balik ini mungkin berlangsung tanpa batas. Dalam beberapa hal individu sama sekali tidak dapat terlalu sering berbuat seperti itu.

Kedua semakin pendek interval antara perilaku dan imbalan, semakin besar kecenderungan seseorang melakukan perilaku tersebut. Sebaliknya semakin panjang interval antara perilaku dan imbalan memperkecil kecenderungan melakukan perilaku tersebut.

Intinya adalah imbalan tidak teratur yang diberikan kepada seseorang menyebabkan berulangnya perilaku, sedangkan imbalan yang teratur justru membuat masyarakat menjadi bosan dan muak melakukan hal yang sama pada waktu yang akan datang.

Proposisi Stimulus

Jika pada masa lalu terjadi stimulus tertentu, atau serangkaian stimulus adalah situasi dimana tindakan seseorang diberikan imbalan, maka semakin mirip stimulus saat ini dengan stimulus masa lalu tersebut semakin besar kecenderungan orang tersebut mengulangi tindakan yang sama atau yang serupa.

Homans tertarik pada proses Generalisasi yaitu kecenderungan untuk memperbanyak perilaku pada situasi serupa. Namun, beliau juga berpendapat bahwa proses diskriminasi juga penting. Seorang aktor menjadi terlalu sensitif terhadap rangsangan khususnya jika rangsangan itu sangat bernilai baginya.

Sebaliknya aktor akan dapat merespon rangsangan yang tidak relevan, paling tidak sampai situasinya dibenahi oleh kegagalan yang berulang. Semua itu dipengaruhi oleh kewaspadaan individu atau perhatian mereka terhadap rangsangan.

Proposisi Nilai

Semakin bernilai hasil tindakan bagi seseorang, semakin cenderung ia melakukan tindakan serupa. Dalam proposisi ini Homans memperkenalkan konsep imbalan dan hukuman.

  • Imbalan adalah tindakan yang bernilai positif. Meningkatnya imbalan lebih cenderung melahirkan perilaku yang diinginkan.

  • Hukuman adalah tindakan yang bernilai negatif. Meningkatnya hukuman berarti bahwa aktor kurang cenderung menampilkan perilaku-perilaku yang tidak diinginkan. Homans menganggap bahwa hukuman sebagai cara yang tidak memadai untuk menggiring orang mengubah perilaku mereka.

Proposisi Kelebihan dan Kekurangan

Jika pada saat tertentu, orang makin sering menerima imbalan tertentu, maka makin kurang bernilai imbalan yang selanjutnya diberikan kepadanya. Dalam hal ini Homans mendefinisikan dua konsep kritis lain yaitu Ongkos dan Keuntungan
.
Ongkos didefinisikan sebagai imbalan yang hilang dalam alur tindakan alternative yang sedang berlangsung.

Keuntungan dalam pertukaran sosial dipandang sebagai jumlah imbalan yang lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. Keuntungan menggiring Homans mengubah proposisi kelebihan– kekurangan menjadi “semakin besar keutungan yang diterima sebagai akibat dari tindakan, semakin cenderung seseorang menjalankan tindakan tersebut”.

Proposisi Agresi – Pujian

Proposisi A :
Ketika tindakan seseorang tidak mendapatkan imbalan yang diharapkan, atau menerima hukuman yang tidak ia harapkan, ia akan marah, ia cenderung berperilaku agresif dan akibat dari perilaku tersebut menjadi lebih bernilai untuknya.

Proposisi B :
Ketika tindakan seseorang menerima imbalan yang diharapkannya, khususnya imblan yang lebih besar dari yang diharapkannya, atau tidak mendapatkan hukuman yang diharapkannya ia akan senang. Ia lebih cenderung berperilaku menyenangkan dan hasil dari tindakan ini lebih bernilai baginya.

Kita akan terkejut ketika menemukan konsep frustasi dan amarah dalam karya Homans karena dua konsep tersebut tampaknya merujuk pada kondisi mental. Sebaliknya Homans mengakui bahwa ketika seseorang tidak mendapatkan apa yang ia harapkan, ia dikatakan sebagai frustasi dari harapan-harapan tersebut tidak harus “hanya” merujuk pada kondisi internal, namun bisa merujuk pada “peristiwa-peristiwa yang sepenuhnya eksternal” yang tidak hanya dapat diamati oleh individu tersebut namun juga oleh orang luar.

Proposisi Rasionalitas

Ketika seseorang memilih tindakan alternatif, seseorang akan memilih tindakan sebagaimana yang dipersepsikannya kala itu jika nilai hasilnya dikalikan dengan probabilitas keberhasilan, maka hasilnya adalah lebih besar.

Jika proposisi sebelumnyaa banyak bersandar dari behaviorisme (perilaku sosial). Proposisi rasionalitas secara gamblang menunjukkan pengaruh teori pilihan rasional pendekatan Homans. Pada dasarnya, orang menelaah melakukan kalkulasi atas berbagai tindakan alternative yang tersedia baginya. Mereka membandingkan jumlah imbalan yang diasosiasikan dengan setiap tindakan. Mereka pun mengkalkulasikan kecenderungan bahwa mereka benar-benar akan menerima imbalan.

Imbalan yang bernilai tinggi akan hilang nilainya jika aktor menganggap bahwa itu semua cenderung tidak akan mereka peroleh.

Sebaliknya, imbalan yang bernilai rendah akan mengalami pertambahan nilai jika semua itu dipandang sangat mungkin diperoleh. Jadi terjadi interaksi antara nilai imbalan dengan kecenderungan diperolehnya imbalan.

Imbalan yang paling diinginkan dalah imbalan yang sangat bernilai dan sangat mungkin tercapai. Imbalan yang paling tidak diinginkan adalah imbalan yang paling tidak bernilai dan cenderung tidak mungkin diperoleh.

Beliau juga berargumen bahwa struktur skala besar dapat dipahami jika kita memahami secara baik perilaku sosial dasar. Menurutnya proses pertukaran identik pada level masyarakat terdapat proses kombinasi fundamental yang lebih kompleks

Social exchange theory mengacu pada pernyataan sederhana bahwa relasi berlangsung mengikuti model ekonomi ‘costs and benefits’ seperti kondisi pasar, yang telah diperluas oleh para psikolog dan sosiolog menjadi teori pertukaran sosial (social exchange theory) yang lebih kompleks.

Teori pertukaran sosial menyatakan bahwa perasaan orang tentang suatu hubungan tergantung pada persepsinya mengenai hasil positif (rewards) dan ongkos (costs) hubungan, jenis hubungan yang mereka jalani, dan kesempatan mereka untuk memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

Social Exchange Theory: Gagasan bahwa perasaan orang tentang suatu hubungan tergantung pada persepsinya mengenai hasil positif (rewards) dan ongkos (costs) hubungan, jenis hubungan yang mereka jalani, dan kesempatan mereka untuk memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

Konsep-konsep dasar teori pertukaran sosial terdiri dari rewards, costs, outcomes, dan comparison level.

  • Rewards adalah aspek positif yang memuaskan dalam hubungan, yang memberikan manfaat dan memperkuat hubungan tsb.

  • Costs adalah sisi lain dari rewards yang ada dalam semua hubungan persahabatan maupun hubungan romantik, misalnya berhadapan dengan kebiasaan dan karakteristik negatif pada orang lain.

  • Outcomes (perolehan) dalam hubungan merupakan selisih antara rewards dan costs. Bila rewards dikurangi cost hasilnya minus, maka hubungan cenderung berakhir.

  • Comparison level (standar pembanding), yaitu harapan individu mengenai tingkat rewards dan costs yang mereka inginkan dalam hubungan tertentu. Banyak orang memiliki standar pembanding yang tinggi dengan banyak rewards dan sedikit costs. Jika apa yang diterima dalam hubungan tidak sesuai dengan standar pembanding, maka individu akan kecewa dalam hubungan. Sebaliknya bila standar pembanding rendah, maka individu cenderung bahagia dengan berbagai hubungan yang dijalin.

Sumber : MM. Nilam Widyarini, “Ketertarikan Interpersonal”

Teori pertukaran sosial menjelaskan bahwa kelangsungan hubungan ditentukan oleh perolehan (outcomes) dalam hubungan, dan bahwa rewards merupakan hal yang penting menentukan outcomes.

Teori ini mendapatkan dukungan hasil-hasil penelitian mengenai hubungan erat pada masyarakat yang berbeda budaya seperti Taiwan dan Belanda (Lin & Rusbult, 1995; Rusbuld & Van Lange, 1996; Van Lange, 19970.

Beberapa hasil penelitian yang dilakukan dengan partisipan pasangan mahasiswa menunjukkan bahwa tiga bulan pertama dalam hubungan mereka banyak diwarnai dengan rewards, namun makin lama makin berkurang, dan semakin banyak costs. Akibatnya, banyak hubungan yang semula intim kemudian berakhir.

Tetapi bagaimanapun kita mengetahui bahwa banyak orang tidak meninggalkan pasangannya meskipun hubungannya tidak memuaskan, dan nampak memiliki alternatif yang menarik.

Investmen Model: Teori yang menyatakan bahwa komitmen seseorang untuk sebuah hubungan tidak hanya tergantung pada kepuasan dalam hal imbalan (rewards), biaya (costs), dan tingkat perbandingan (level comparison), dan tingkat perbandingan alternatif, melainkan juga seberapa
banyak mereka telah berinvestasi dalam hubungan yang akan hilang bila ia meninggalkan hubungan itu.

Berkaitan dengan kenyataan tersebut, para ahli mempertimbangkan adanya faktor tambahan untuk memahami hubungan erat, yaitu tingkat investasi (level investment) dalam hubungan (Impett dkk, 2001-2002; Rusbult dkk, 2001; Rusbult dkk, 1998).

Dalam model teori investasi (investmen model) mengenai hubungan erat ini Cheryl Rusbult (1983) mendefinisikan investasi sebagai segala sesuatu yang telah dimasukkan seseorang ke dalam hubungan dengan orang lain, yang akan hilang jika mereka meninggalkan hubungan tsb.

Investasi mencakup sesuatu yang tangible (dapat dilihat) seperti sumber daya finansial dan kepemilikan (misalnya rumah), maupun yang intangible (tak dapat dilihat) seperti kesejahteraan emosi anak, waktu dan energy emosi untuk membangun hubungan, dan rasa integritas pribadi, yang akan hilang bila terjadi perpisahan.

Berikut ini gambar lengkap model teori investasi dalam hubungan erat (The Investment Model of Commitement, diadaptasi dari Rusbult, 1983).

image

Sumber : MM. Nilam Widyarini, “Ketertarikan Interpersonal”

Pendekatan dalam teori pertukaran sosial atau social exchaneg theory ini berasumsi bahwa penghargaan hanya dapat ditemukan dalam interaksi sosial. Teoretisi pertukaran melihat kesamaan antara interaksi sosial dengan transaksi ekonomi atau transaksi pasar, yaitu harapan bahwa manfaat yang diberikan akan menghasilkan keuntungan.

Paradigma dasarnya adalah model interaksi dua orang.

Ada penekanan pada hubungan timbal balik meskipun dasar pertukaran tetaplah perhitungan dan melibatkan sedikit kepercayaan atau moralitas. Pendekatan ini termasuk yang mengawali Teori Pilihan Rasional (Rational Choice Theory).

Teori ini berkaitan dengan interaksi timbal balik yang melibatkan kelompok dan orang yang bertukar item nilai sosial dan simbolis yang menguntungkan mereka. Teori ini pada awalnya dikembangkan dari kajian sosiologi awal terhadap sumber solidaritas sosial; teori ini juga dielaborasi ilmu sosial Anglo-Amerika sebagai dasar untuk meneliti diferensiasi kekuasaan di dalam relasi sosial.

Satu sifat dari sistem teori yang dikembangkan di sini adalah kehematan. Pelaku terhubungkan dengan sumber-sumber (dan terhubung secara tak langsung satu sama lain) hanya melalui dua hubungan: kuasa mereka atas sumber-sumber dan kepentingan mereka terhadap sumber-sumber itu.

Pelaku memiliki prinsip tunggal tindakan yaitu bertindak untuk memaksimalkan realisasi kepentingan mereka. Tindakan itu bisa berupa sekedar pemenuhan, untuk merealisasikan kepentingan si pelaku; jika bukan begitu, memaksimalkan prinsip itu seringkali mengarah pada satu jenis tindakan – pertukaran kuasa (atau hak untuk menguasai) atas sumber-sumber atau peristiwa-perisstiwa. Namun dalam beberapa situasi, ia bisa mengarah pada pemasrahan unilateral kuasa (atau hak untuk menguasai) kepada pelaku lain.

Sistem tindakan paling sederhana yang menggunakan konsep-konsep ini adalah pertukaran berpasangan sumber-sumber yang memiliki semua sifat barang pribadi. Pertukaran semacam itu bisa terjadi dalam persaingan dengan pelaku lain, seperti yang terjadi dalam pasar barter. Pertukaran sosial sudah melekat dalam seluruh kehidupan sosial. Bahkan, sebagian teoritisi sosial, misal Homans dan Blau, menyusun teori-teori sosial yang pada prinsipnya berpijak pada proses pertukaran semacam ini.

Homans membangun teori pertukarannya pada landasan konsep-konsep dan prisnsip-prinsip yang diambil dari psikologi perilaku (behavioral psychology) dan ekonomi dasar.

  • Dari psikologi perilaku diambil suatu gambaran mengenai perilaku manusia yang dibentuk oleh hal-hal yang memperkuat atau yang memberikannya dukungan yang berbeda-beda.
  • Dari ekonomi dasar, homans mengambil konsep-konsep seperti biaya (cost), imbalan (reward), dan keuntungan (profit).

Gambaran dasar mengenai perilaku manusia yang diberikan oleh ilmu ekonomi adalah bahwa manusia terus-menerus terlibat dalam memilih diantara perilaku-perilaku alternatif, dengan pilihan yang mencerminkan cost dan reward (atau profit) yang diharapkan yang berhubungan dengan garis-garis perilaku alternatif itu.

Dalam model Blau, manusia tidak didorong hanya oleh kepentingandiri yang sempit. Seperti Homans, Blau menekankan pentingnya dukungan sosial sebagai suatu imbalan. Pun perilaku altruistik dapat didorong oleh keinginan untuk pujian sosial.

Pastinya, keinginan ini mencerminkan kebutuhan egoistik untuk dipikirkan sebaik- baiknya oleh orang lain, tetapi untuk memperoleh tipe penghargaan ini, individu harus mengatasi dorongan egoistik yang sempit dan memperhitungkan kebutuhan dan keinginan orang lain.

Blau juga menerapkan prinsip-prinsip teori pertukarannya ini dalam menganalisa hubungan sosial antara orang yang saling bercintaan dalam satu bab berjudul “Excursus on love”. Dalam hubungan seperti itu banyak pertukaran istimewa yang terjadi, dapat dilihat sebagai simbol daya tarik emosional terhadap satu sama lain, ikatan hubungan yang bersifat timbal balik, dan keinginan mereka untuk meningkatkan komitmen satu sama lain.

Barang-barang materiil yang bisa dipertukarkan (misalnya hadiah) merupakan hal yang sangat penting. Pertukaran barang-barang materiil tersebut tidak untuk kegunaan praktis atau bernilai secara ekonomis, melainkan sebagai ungkapan komitmen emosional yang terlihat.

Referensi :

  • Outhwaite, william. 2008. Kamus Lengkap pemikiran Sosial Modern. Jakarta. Prenada Media Group.
  • Ritzer, George dan Douglas J. 2010.teori Sosiologi. Bantul. Kreasi wacana.
  • Coleman, james S. 2008. Dasar-dasar teori sosial. Bandung. Nusa Media
  • Johnson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern jilid II. Jakarta. PT. Gramedia.

Teori pertukaran sosial dari Peter Michael Blau muncul pada tahun 60-an sebagai respons terhadap teori fungsionalis. Salah satu tokoh utama Teori Fungsionalis yang dikritik oleh Blau adalah Talcott Parsons.

Jika Parsons berpendapat bahwa human behavior hanya dipengaruhi oleh system nila individu, tidak demikian dengan Blau. Blau meyakini bahwa human behavior dipengaruhi oleh system nilai individu dan system nilai lingkungan sosialnya (nilai masyarakat).

Social exchange can be observed everywhere once we are sensitized by this conception to it, not only in market relations but also in friendship and even in love, as we have seen, as well as in many social relations between these extremes in intimacy."

Blau mengatakan bahwa pertukaran sosial dapat diamati dalam kehidupan keseharian kita. Konsep ini tidak hanya dijumpai dalam market relations namun juga dalam hubungan pertemanan.

Blau menjelaskan bahwa tidak semua perilaku manusia dibimbing oleh pertimbangan pertukaran sosial, tetapi dia berpendapat kebanyakan memang demikian.

Mauss (The Gift, 1954) and other anthropologists have called attention to the significance and prevalence of the exchange of gifts and services in simpler societies. "In theory such gifts are voluntary but in fact they are given and repaid under obligation. . . . Further, what they exchange is not exclusively goods and wealth, real and personal property, and things of economic value. They exchange rather courtesies, entertainments, ritual, military assistance, women, children, dances, and feasts; and fairs in which the market is but one element and the circulation of wealth but one part of a wide and enduring contact.

Dalam masyarakat yang paling sederhana, pertukaran sosial terjadi dalam bentuk pertukaran gift dan services. Gift yang diterima tidaklah secara sukarela, namun diberikan dibawah obligation. Lebih jauh lagi, sesuatu yang dipertukarkan tidak hanya dalam bentuk goods and wealth, real and personal property dan economic values. Namun juga kesopanan, hiburan dan lain-lain.

Dalam teori pertukaran sosial menekankan adanya suatu konsekuensi dalam pertukaran baik yang berupa ganjaran materiil, misal yang berupa barang maupun spiritual yang berupa pujian. Selanjutnya untuk terjadinya pertukaran sosial harus ada persyaratan yang harus dipenuhi. Syarat itu adalah :

  1. suatu perilaku atau tindakan harus berorientasi pada tujuan-tujuan yang hanya dapat tercapai lewat interaksi dengan orang lain;

  2. suatu perilaku atau tindakan harus bertujuan untuk memperoleh sarana bagi pencapaian tujuan-tujuan yang dimaksud. Adapun tujuan yang dimaksud dapat berupa ganjaran atau penghargaan intrinsik yakni berupa pujian, kasih sayang, kehormatan dan lain-lainnya atau penghargaan ekstrinsik yaitu berupa benda-benda tertentu, uang dan jasa.

Harapan-harapan yang akan diperoleh dalam pertukaran sosial menurut Blau, yaitu :

  • ganjaran atau penghargaan;
  • lahirnya diferensiasi kekuasaan; * kekuasaan dalam kelompok; dan
  • keabsahan kekuasaan dalam kelompok.

Blau berpendapat bahwa

  1. individu-individu dalam kelompok-kelompok yang sederhana (mikro) satu sama lain dalam pertukaran sosial mempunyai keinginan untuk memperoleh ganjaran ataupun penghargaan; dan

  2. tidak semua transaksi sosial bersifat simetris yang didasarkan pada pertukaran sosial yang seimbang.

Menurut Blau, terdapat empat tipe nilai perantara yaitu :

  1. Nilai-nilai yang bersifat khusus berfungsi sebagai media bagi kohesi dan solidaritas social;

  2. Ukuran-ukuran tentang pencapaian dan bantuan sosial yang bersifat umum melahirkan sistem stratifikasi social;

  3. Sebagaimana dapat dilihat, nilai-nilai yang disyahkan itu merupakan medium pelaksanaan wewenang dan organisasiorganisasi usaha-usaha sosial berskala besar untuk mencapai tujuan-tujuan kolektif dan ;

  4. Gagasan-gagasan oposisi adalah media reorganisasi dan perubahan, oleh karena hal ini dapat menimbulkan dukungan bagi gerakan oposisi dan memberi legitimasi bagi kepemimpinan mereka.

Social exchange differs in important ways from strictly economic exchange. The basic and most crucial distinction is that social exchange entails unspecified obligations. The prototype of an economic transaction rests on a formal contract that stipulates the exact quantities to be exchanged. The buyer pays $30, 000 for a specific house, or he signs a contract to pay that sum plus interest over a period of years. Whether the entire transaction is consummated at a given time, in which case the contract may never be written, or not, all the transfers to be made now or in the future are agreed upon at the time of sale. Social exchange, in contrast, involves the principle that one person does another a favor, and while there is a general expectation of some future return, its exact nature is definitely not stipulated in advance."

Meski interaksi yang dilakukan dalam pertukaran sosial relative sama dengan interaksi bisnis dalam pertukaran ekonomi, namun amat berbeda dalam hal kewajiban. Jika kewajiban dalam pertukaran ekonomi lebih spesifik, maka kewajiban dalam pertukaran sosial tidak spesifik.

Ini hal mendasar yang membedakan pertukaran sosial dengan pertukaran ekonomi. ― “In small groups, face to face interaction occurs between most members. In large face to face is rare and therefore the scheme of behaviorist theory does not apply”.‖

Dalam konteks asosiasi dan interkasi, blau berpendapat bahwa interaksi sosial berkembang pertama kali dalam kelompok sosial. Dalam kelompok kecil, interkasi yang terjadi bersifat face to face. Namun pada kelompok yang lebih besar amat jarang.

Teori Blau sangat jelas melihat hubungan-hubungan dalam pilihan. Seperti dikatakan oleh Blau bahwa seorang individu merasa tertarik satu sama lain kalau dia mengharapkan sesuatu yang bermanfaat bagi dia sendiri karena hubungan itu.

Proses pertukaran dalam kelompok kecil memang cenderung bersifat sederhana dibandingkan dengan kelompok yang lebih besar, sebab dalam kelompok yang lebih besar banyak sekali pertukaran yang bersifat tidak langsung dan bersifat lebih komplek.

Proses internalisasi akan nilai-nilai dan norma-norma yang cocok, menjadi jauh lebih penting dalam membentuk perilaku dan pola interaksi dari persetujuan pertukaran yang dirembukkan untuk suatu tujuan tertentu.

“Social exchange, whether it is in this ceremonial form or not, involves favors that create diffuse future obligations, not precisely specified ones, and the nature of the return cannot be bargained about but must be left to the discretion of the one who makes it."

Pertukaran sosial yang terjadi dalam bentuk formil maupun tidak, akan sulit diprediksi kewajibannya secara tepat karena cenderung diffuse. Dan sifat dari pembayaran kewajiban tersebut tidak ditawar namun merupakan keleluasaan dari orang yang membuatnya.

" Since there is no way to assure an appropriate return for a favor, social exchange requires trusting others to discharge their obligations. While the banker who makes a loan to a man who buys a house does not have to trust him, although he hopes he will not have to foreclose the mortgage, the individual who gives another an expensive gift must trust him to reciprocate in proper fashion."

Oleh karena tidak ada jalan untuk jamin pengembalian kewajiban yang pantas sebagai pilihan, maka dalam pertukaran sosial mutlak diperlukan trust.

“Hence, processes of social exchange, which may originate in pure self-interest, generate trust in social relations through their recurrent and gradually expanding character.”

Dengan demikian, proses pertukaran sosial terjadi berawal dari self interest, menumbuhkan kepercayaan dalam relasi sosial melalui pengembangan karakter yang bertahap dan berulang (secara teratur).

“People will join groups that provide them with the maximum number of valued rewards while incurring the fewest numbers of costs.‖ 120 Kekuatan utama yang mendorong orang bersama adalah sosial attraction.”

Blau berpendapat bahwa asosiasi dapat menawarkan rewards yang highly attractive. Selanjutnya dari rewards tersebut akan memperkuat ikatan sosial.

Hubungan sosial dapat dikategorikan dalam dua kategori umum yang didasarkan pada apakah reward yang ditukarkan itu bersifat instrinsik atau ekstrinsik. Reward yang intrinsik berasal dari hubungan itu sendiri. Hubungan ekstrinsik berfungsi sebagai alat bagi suatu reward yang lain dan bukan reward untuk hubungan itu sendiri.

“An individual is attracted to another because he expects to get some reward out of the association. Expectations of intrinsic reward v. expectation of extrinsic reward. The difference lies in the two different meanings of attraction."

Untuk jelasnya dapat dikemukakan bahwa interaksi sosial dapat digolongkan dalam dua kategori, yaitu didasarkan pada ganjaran atau penghargaan yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik.

Perbedaan antara pertukaran instrinsik dan ekstrinsik sejajar dengan perbedaan antara pertukaran sosial dan pertukaran ekonomi. Dalam beberapa aspek yang penting kedua tipe ini berbeda secara kontras. Salah satu perbedaan utamanya ialah bahwa pertukaran sosial tidak tunduk pada negosiasi dan tawar menawar yang disengaja seperti dalam ekonomi.

Pada sosial reward banyak berjalan dengan sistem ketidak sengajaan dibicarakan dahulu.

Some profits are intrinsic (internally rewarding). It‘s not seeing a play, but sharing the experience of seeing the play. Some are extrinsically rewarding (where some specific external profit is derived from the association), even altruistic behavior.

Ikatan sosial secara intrinsik mendatangkan penghargaan yang dimanifestasikan dalam suatu persahabatan intim, menggambarkan perihal reward yang intrinsik dan ekstrinsik yang bersifat ekstrim. Namun pembeda antara yang intrinsik dan ekstrinsik harus dilihat dalam suatu continum.

Reward yang intrinsik muncul dalam hubungan pada waktu pihak-pihak yang terlibat di dalamnya secara bertahap masuk suatu pertukaran reward yang lebih banyak macamnya dan ini akan menampakkan keunikan dari pola interaksi yang ditampilkan.

Dalam banyak hal pada tahap-tahap awal dalam banyak hubungan intrinsik orang sering mengadakan perbandingan antara satu teman dengan teman lainnya yang potensial untuk pertukaran.

Hal ini menunjukkan bahwa pada tahap-tahap awal daya tarik untuk mengadakan pertukaran lebih bersifat ekstrinsik.

Artinya, reward yang diinginkan tidak secara intrinsik melekat pada seorang teman tertentu. Transformasi hubungan dari daya tarik ekstrinsik ke daya tarik intrinsik akan paling jelas diterapkan oleh individu manakala mereka memiliki tingkat kebebasan tertentu dalam memilih alternatif beberapa teman yang ada.

The process of sosial attraction leads to processes of sosial exchange. The nature of the exchange differs between: associations concerned with intrinsic rewards and associations concerned with extrinsic rewards. In an intrinsically rewarding association the only expectation is the continuation of the association. In extrinsically rewarding associations there is the expectation of a reciprocity of benefits.

Pada akhirnya proses dari social attraction menuju pada proses pertukaran sosial, dengan tahapan sebagai berikut :

  1. Individuals, in the interest of continuing to receive needed services, need to discharge their obligations for having received the services in the past. Individu yang menerima layanan dari orang lain merasa memiliki hutang dan berkewajiban untuk membayar kembali.

  2. An individual who supplies rewarding services to another obligates him. Pelayanan bermanfaat yang diterima oleh seseornag dari pihak lain adalah pelayanan yang membuatnya merasa kewajiban untuk membalasnya.

  3. To honour this obligation, the obligated person must provide benefits to the first in turn. Wujud penghormatan dari pihak yang menerima layanan adalah dalam bentuk pelayanan yang memiliki keuntungan sebagai ganti pada pihak pemberi layanan

  4. If both these persons value what they receive from each other, both are likely to supply more of their own services in order to provide incentives for the other to increase his supply and to avoid becoming indebted. Kedua pihak masing-masing memberikan supplay layanan yang nilainya lebih dari yang diterima untuk menyediakan insentif (meningkatkan supplay mereka) dan hindarkan diri dari utang.

  5. As both these individuals receive increasing amounts of the benefits they originally sought, their need for further assistance typically declines and the process of exchange between the persons may cease. Sebagaimana sejumlah keuntungan besar yang diterima masing-masing pihak, maka mereka butuh upaya lebih jauh untuk mencegah pertukaran sosial tersebut berhenti.

Social Exchange yang dimaksudkan dalam teori Blau ialah terbatas pada tindakan-tindakan yang tergantung pada reaksi-reaksi penghargaan dari orang lain dan berhenti apabila reaksi-reaksi yang diharapkan itu tidak kunjung muncul.

Bentuk pertukaran yang dimaksudkan oleh blau dapat bersifat pertukaran sosial langsung maupun pertukaran sosial tidak langsung. Dalam konteks pertukarna social langsung maka orang melakukan pertukaran didasarkan pada transaksi-transaksi pertukaran sosial yang seimbang (simetris) maupun tidak seimbang (asimetris).

Sedangkan dalam konteks pertukaran sosial tidak langsung, cenderung tidak terlihat dan berdampak langsung, sebab sangat tergantung pada interrnalisasi norma. Blau berpendapat bahwa hasil pertukaran sosial adalah spesialisasi peran yang dikembangkan (Diferensiasi Sosial), yang memerlukan sumbangan-sumbangan yang sangat bervariasi.

Setiap orang mengiginkan adanya penghargaan dan kekuasaan. Demi memperolehnya, mereka membuktikan dirinya menarik dan mempunyai kemampuan yang tidak disadari yang dipertukarkan dengan kekayaan yang sangat penting. Disamping itu, adanya persaingan untuk memperoleh sumber-sumber yang langka menyebabkan munculnya diferensiasi sosial.

Sisi lain pertukaran sosial meningkatkan integrasi sosial, membangun kepercayaan, mendorong keberanian, memaksa konformitas dengan norma – norma kelompok, dan mengembangkan nilai – nilai kolektif.

Misal: dua orang sahabat memutuskan untuk bekerjasama dengan dibimbing oleh logika kepercayaan, pertukaran sosial, kemungkinan besar hal – hal yang dianggap sulit akan dilewati bersama dengan mudah.

Pengendalian diri yang bersifat interpersonal adalah sangat penting dalam masyarakat modern, sedangkan sumber dasar untuk membendung perilaku interpersonal tersebut adalah kekuasaan, hubungan antara ketergantungan dan kekuasaan : Pelayanan yang baik, Pelayanan diperlukan dimana-mana, Perminataan akan pelayanan dapat dipaksakan, Penarikan diri dapat dilakukan tenpa mengharapkan layanan.

Blau percaya bahwa kompleksitas pola-pola kehidupan sosial yang dijembatani oleh nilai-nilai bersama itu akan melembaga. Lembaga-lembaga demikian akan abadi bilamana dipenuhi tiga persayaratan :

  1. Prinsip-prinsip yang di organisir harus merupakan bagian dari prosedur-prosedur yang difornalisir (konstitusi atau dokumen lainnya), sehingga setiap saat bebas dari orang yang melaksanakannya;

  2. Nilai-nilai sosial yang mengesahkan banyak bentuk institusional itu harus diwariskan kepada generasi selanjutnya melalui proses sosialisasi dan :

  3. Kelompok-kelompok dominan dalam masyarakat harus menganut nilai-nilai itu serta harus meminjamkan kekuasaanya untuk mendukung lembaga-lembaga yang memasyarakatkan nilai-nilai tersebut.

Ide utama Blau mengenai kelompok sosial yang bersifat Emergen. Dalam hubungan pertukaran yang elementer, orang yang tertarik satu sama lain melalui berbagai kebutuhan dan kepuasan timbal balik. Asumsinya : bahwa orang yang memberikan ganjaran, melakukan hal itu sebagai pembayaran bagi nilai yang diterimanya.

Differential power in large collective organizations leads to two dynamic forces: Legitimating Force - pressure to complyCountervailing Force – pressure to oppose-Balance is an ambiguous term since all balance is the result of some imbalance.

Pertukaran demikian mudah sekali berkembang menjadi hubunganhubungan persaingan dimana setiap orang harus menunjukkan ganjaran yang diberikannya dengan maksud menekan orang lain dan sebagai usaha untuk memperoleh ganjaran yang lebih baik.

Persaingan tersebut melahirkan asal mula sistem stratifikasi di mana individu-individu dibedakan atas dasar kelangkaan sumber-sumber yang dimilikinya. Di sini kita melihat akar-akar dari konsep Emergen tentang kekuasaan.

Kekuasaan dapat bersifat syah (wewenang) atau bersifat memaksa, wewenang tumbuh berdasarkan nilai-nilai yang syah, yang menunjukkan berbagai kelompok dan organisasi yang bersifat ―emergent‖ berfungsi tanpa mendasarkan dan di atas hubungan tatap muka.

Blau menekankan pentingnya dukungan sosial sebagai suatu kebutuhan yang bersifat egoistik untuk dipikirkan sebaik-baiknya oleh orang lain, tetapi untuk memperoleh penghargaan serupa ini individu harus dapat mengatasi dorongan egoistik yang sempit dan memperhitungkan kebutuhan dan keinginan orang lain.

Kepercayaan mendalam akan nilai dan norma yang abstrak dan proporsi yang meningkat dalam pertukaran yang tidak langsung, dapat dilihat sebagai gejala yang muncul (emergent phenomena) artinya, karakteristik-karakteristik ini mungkin hanya dikembangkan secara minimal dalam semua sistem pertukaran yang kecil, tetapi karakteristik itu sangat penting untuk pekerjaan rutin dalam sistem pertukaran yang besar. Ini merupakan tekanan yang penting dalam teori Blau.

Meskipun perkumpulan-perkumpulan yang besar itu berlandaskan pada proses pertukaran dasar, mereka juga memperlihatkan sifat-sifat atau karakteristik-karakteristik yang muncul (emergent properties), yang pengaruhnya mungkin kelihatan lebih besar dari pada dinamika-dinamika dalam proses-proses kecil yang terjadi dalam transaksi pertukaran langsung antar individu.

“Exchange process give rise to differentials of power. The person who has what others need, but is independent of their reward offer. Commands Power over them.The principle applies equally to intimate and distant relationships."

Kekuasaan yang dijelaskan Blau tidak lepas dari pertukaran sosial . Dalam hubungan dua orang atau lebih selalu terdapat hubungan dimana pihak satu mendominasi pihak lain. Blau menjelaskan mengenai Cognitive Dissonance yang disebabkan struktur kepimpinan yang tidak baik akan melahirkan gerakan – gerakan oposisi.

Jika terdapat pertukaran sosial antara dua kelompok atau lebih dengan persepsi ataupun kelebihan yang berbeda kemungkinan hubungan masih bisa dilanggengkan. Namun, jika terdapat pertukaran sosial yang tidak seimbang, maka dominasi pun berperan lebih penting.

Pertukaran sosial yang tidak seimbang akan menyebabkan adanya perbedaan dan diferensiasi kekuasaan karena dalam pertukaran tersebut ada pihak yang merasa lebih berkuasa dan mempunyai kemampuan menekan dan di lain pihak ada yang dikuasai serta merasa ditekan.

Kekuasaan menurut Blau adalah kemampuan orang atau kelompok untuk memaksakan kehendaknya pada pihak lain. Adapun strategi atau cara yang dapat digunakan untuk mendapatkan kekuasaan terhadap orang lain yaitu memberikan sebanyak mungkin kepada pihak lain yang membutuhkan, sebagai suatu upaya menunjukkan statusnya yang lebih tinggi dan berkuasa, agar mereka yang dikuasai merasa berutang budi dan mempunyai ketergantungan.

Dalam pertukaran sosial menunjukkan adanya gejala munculnya kekuasaan yang terjadi pula dalam suatu kelompok. Dalam kelompok akan terjadi persaingan antar individu, dan tiap individu akan berusaha memperoleh kesan lebih menarik jika dibanding dengan yang lain. Agar orang itu terkesan lebih menarik dari orang lain syaratnya dapat menarik perhatian orang lain.

Dalam persaingan itu nantinya akan nampak adanya pihak atau orang yang dapat menarik perhatian orang-orang yang dalam kelompok yang bersangkutan. Kelebihan orang yang bersangkutan dapat menarik perhatian orang lain kemungkinan karena kepandaiannya, kejujurannya, kesopanannya ataupun kebijaksanaannya.

Dari tiap-tiap kelompok akan ada yang menonjol dan yang menonjol itu akhirnya akan muncul satu orang yang paling menarik perhatian orang dalam kelompok-kelompok tersebut maka muncullah kekuasaan, dalam arti ada pemimpin dan ada yang dipimpin.

Dalam hal ini, pemimpin (pemegang kekuasaan) akan memperoleh penghargaan sebagai akibat tanggung jawab yang dapat dipenuhinya. Sementara orang yang dipimpin akan mendapat penghargaan karena ketaatannya, baik karena tugas yang diselesaikan maupun kesediaannya mematuhi peraturan-peraturan yang ada. Perintah yang dipatuhi adalah perintah yang diberikan oleh pemimpin yang sah.

Agar perintah dipatuhi maka pemimpin (pemegang kekuasaan) harus mempunyai wewenang. Wewenang yang dimiliki oleh pemegang kekuasaan digunakan untuk merekrut anggota dalam kelompok. Walaupun Blau sangat dipengaruhi oleh teori fungsionalisme dan teori pertukaran, akan tetapi Blau menyadari akan bekerjanya proses – proses dinamis yang membentuk struktur.

Kekuatan – kekuatan dialektis tersebut hubungannya dengan:

  1. dilema
    Dilema merupakan kekuatan dialektis dari perubahan sosial yang membutuhkan pilihan diantara berbagai alternatif yang sama –sama diinginkan.

  2. diferensiasi
    Diferensiasi dimana pertukaran menyatakan adanya persaingan untuk memperoleh sumber – sumber langka.

  3. dinamika
    Dinamika kehidupan sosial yang teroranisir bersumber dari kekuatan – kekuatan penantang.

  4. proses dialektis.
    Dialektika adalah kekuatan kontadiktoris yang terdapat dalam kehidupan sosial.

Referensi :
Michael Peter Blau, Exchange and Power in Social Life, New York: Wiley & Sons, 1964

Teori pertukaran sosial pada intinya dilandasi oleh prinsip ekonomi. Artinya, manusia akan berusaha memaksimalkan keuntungan (rewards) dari suatu transaksi dengan biaya (costs) yang sekecil-kecilnya.

Teori yang banyak memberikan sumbangan yang signifikan terhadap teori pertukaran sosial adalah teori pembelajaran (learning theory) khususnya pendekatan behavioristik dari B.F. Skinner. Teori belajar pada dasarnya menekankan pada konsekuensi suatu tindakan, yakni apakah suatu tindakan tertentu akan memperoleh imbalan (reward) atau hukuman (puninshment).

Suatu perbuatan yang berakibat memperoleh imbalan akan diulangi, sedangkan perbuatan yang berakibat tidak menyenangkan atau menyakitkan tidak akan diulangi. Sebagai contoh, seorang yang dalam keadaan lapar menyantap hidangan pedas dengan akibat sakit perut hebat maka pada saat lain ia tidak akan menyantap makanan pedas lagi bila ia merasa lapar.

Salah seorang tokoh teori pertukaran sosial, George Homans, menekankan pada hubungan antara dua individu dalam pertukaran sosial karena prinsip interaksi antara dua individu dapat diaplikasikan dalam menjelaskan semua interaksi sosial.

Homans mengemukakan empat proposisi dalam interaksi antara dua individu.

  • Pertama, individu akan mempertahankan interaksi dengan individu lain, apabila interaksi itu mendatangkan imbalan. Ini berarti bahwa :

    • individu akan memperoleh imbalan segera setelah individu melakukan sesuatu,
    • imbalan yang diperoleh memang berharga, dan
    • imbalan yang diperoleh muncul sewaktu diperlukan (intermittent).
  • Kedua, makin ada kesamaan antara kondisi saat ini dengan pengalaman individu pada masa lalu, makin akan dipertahankan interaksi antara dua individu. Misalnya, mahasiswa A yang membantu mahasiswa B mengerjakan PR statistika, dan ia pun dibantu oleh mahasiswa B mengerjakan PR bahasa Inggris (mendapat imbalan) maka pada saat lain mahasiswa B meminta bantuan kepada mahasiswa A, mahasiswa B akan memperoleh bantuan dari mahasiswa A.

  • Ketiga, imbalan yang bisa kita peroleh setiap saat menjadi tidak bernilai atau kurang berharga dibandingkan dengan imbalan yang diperoleh saat kita memerlukannya. Misalnya, teman yang setiap saat mengucapkan “terima kasih” atas setiap bantuan (kecil atau besar) yang kita berikan, akan kita anggap tidak wajar dan membuat kita tidak menaruh hormat (respect) kepadanya.

  • Keempat, sejauh mana suatu interaksi antara dua individu akan dipertahankan bergantung pada sejauh mana perilaku yang kita tampilkan akan menghasilkan imbalan. Homans menganggap proposisi keempat ini sangat penting karena sesuai dengan prinsip perilaku ekonomi. Artinya, untuk mendapatkan keuntungan, individu secara sadar akan memilih satu perilaku tertentu yang dianggapnya paling efisien di antara sejumlah alternatif perilaku yang ada.

Atas dasar empat proposisi ini, Homans, beranggapan bahwa bila perilaku individu berdampak pada perilaku individu lain maka berarti antara kedua individu ini telah terjadi pertukaran sosial. Selanjutnya suatu pertukaran sosial dianggap mengandung imbalan, manakala individu B memberikan penghargaan sebagai ungkapan rasa terima kasihnya atas pertolongan yang diberikan oleh individu A.

Sebaliknya, pertukaran sosial mengandung hukuman, apabila individu B dalam contoh tadi tidak mengucapkan terima kasih sama sekali kepada individu A. Maka berlanjut atau tidak berlanjutnya suatu pertukaran sosial (hubungan suami-istri, dua remaja yang berpacaran, atasan dan bawahan, dua kelompok, dan lain-lain) sangat ditentukan oleh keseimbangan imbalan yang diperoleh oleh dua individu atau kelompok yang terlibat dalam pertukaran sosial.

Oleh karenanya, bila salah satu pihak yang terlibat dalam pertukaran sosial memperoleh imbalan, sedangkan pihak lain memperoleh hukuman maka pertukaran sosial akan berakhir atau putus karena terjadi kondisi ketidakseimbangan (imbalance).

1. Kekuasaan

Dalam kaitan ketidakseimbangan perolehan imbalan di antara dua orang yang melakukan pertukaran sosial, Homans mengemukakan konsep kekuasaan (power). Kekuasaan diartikan sebagai kemampuan mengendalikan imbalan atau hukuman dalam suatu pertukaran sosial.

Seorang yang memiliki kekuasaan atau penguasa berarti ia mampu membuat pihak yang dikuasai melakukan apa pun yang dikehendakinya.

Mengapa?

Karena pihak yang dikuasai tidak mempunyai kemampuan untuk memberikan baik imbalan maupun hukuman kepada pihak penguasa. Kemampuan untuk memberikan imbalan atau sanksi yang dimiliki oleh penguasa, dampaknya sama saja bagi pihak yang dikuasai, yakni posisi yang dikuasai bergantung pada penguasa.

2. Keadilan Distributif

Dalam perkembangan teori pertukaran sosial selanjutnya, Homans mengemukakan gagasan keadilan distributif (distributive justice). Dalam setiap pertukaran sosial, dua individu yang terlibat di dalamnya senantiasa mengharapkan suatu imbalan. Imbalan akan diperoleh individu apabila ada keseimbangan (balance) antara biaya yang dikeluarkannya (cost) dan imbalan yang diperoleh (reward).

Bila salah satu pihak menilai terjadi ketidakseimbangan antara biaya dan imbalan yang diperolehnya maka berarti pihaknya dirugikan dan pihak lain diuntungkan. Dengan kata lain, keadilan distributif tidak terjadi dalam pertukaran sosial tersebut.

Konsep keadilan distributif dari Homans ini selanjutnya dikembangkan oleh J. Stacy Adams menjadi apa yang disebutnya hubungan-adil (equitable relationship). Menurut Adams dalam setiap hubungan-adil, individu yang terlibat akan membawa masukan (inputs) dan menerima hasil (outcomes). Masukan bisa berbentuk positif atau negatif.

Contoh masukan positif adalah rasa senang individu ketika ia terlibat dalam hubungan-adil, sedangkan contoh masukan negatif adalah segala upaya dan waktu individu yang dicurahkan untuk hubungan-adil.

Seperti halnya masukan, hasil juga bisa positif atau negatif. Hasil positif yang diterima oleh individu adalah perasaan gembira, pengetahuan baru, rasa dihormati, pengakuan, dan uang. Sebaliknya, individu bisa memperoleh hasil negatif dari suatu hubungan-adil, seperti disakiti oleh teman atau atasannya di tempat kerja.

Hubungan-adil akan terjadi dalam suatu pertukaran sosial, manakala hasil berbanding masukan individu A, misalnya, sama dengan hasil berbanding masukan individu B. Sebagai ilustrasi dapat dikemukakan contoh berikut. Individu A membawa masukan ke dalam perusahaan berupa dua tahun pengalaman kerja, gelar sarjana, dan kemampuan bahasa Inggris sehingga atas dasar masukan ini ia memperoleh gaji Rp2.000.000,-. Individu B juga membawa masukan yang sama dengan individu A sehingga hasil yang diperoleh juga sama dengan individu A, yakni Rp2.000.000,- per bulan.

Hubungan bisa dianggap tidak adil, dalam contoh di atas, apabila individu B memperoleh hasil hanya Rp1.500.000,- per bulan, padahal masukannya sama dengan masukan individu A.
Apa yang akan dilakukan oleh individu B untuk memulihkan hubungan- adil? Menurut Adams ada dua kemungkinan yang akan dilakukan oleh individu B, yakni bisa berbentuk respons perilaku atau respons psikologis.

Mengenai respons perilaku, ada lima kemungkinan perilaku yang akan ditampilkan oleh individu B sehubungan dengan perlakuan tidak adil terhadap dirinya.

  • Pertama, ia akan mengubah masukannya terhadap perusahaan, misalnya dengan bermalas-malasan atau memperpanjang waktu istirahat siang.

  • Kedua, ia juga bisa mengubah hasil yang diperoleh dengan cara menuntut kenaikan gaji.

  • Ketiga, ia mungkin meningkatkan masukan individu A dan sesama karyawan lain dengan cara menuntut kenaikan biaya operasional buruh dan menuntut perbaikan kondisi kerja. Selain itu, ia bisa berusaha menurunkan hasil individu A dan karyawan lain dengan cara menurunkan mutu produk. Akhirnya, bila semua upaya di atas tidak berhasil, individu B bisa memutuskan hubungan kerja.

Mengenai respons psikologis, individu B di sini tidak berupaya untuk mengubah masukan dan hasil dirinya dari individu lain secara nyata, melainkan mengubah persepsinya mengenai masukan dan hasil.

  • Keempat, Ia menganggap bahwa sebenarnya tidak bekerja keras atau sungguh- sungguh (menurunkan masukannya secara psikologis). Atau individu B menganggap bahwa gaji yang diterimanya masih cukup baik, bila dibandingkan dengan kerja di perusahaan lain (meningkatkan hasil secara psikologis).

  • Kelima, Bisa juga individu B beranggapan bahwa gaji yang diterimanya cukup tinggi karena persaingan yang sangat ketat dalam dunia bisnis saat ini (meningkatkan masukan perusahaan). Atau dalam persepsi individu B, ia sebenarnya bekerja di bawah kemampuannya (menurunkan hasil perusahaan).

Teori Pertukaran Sosial ( Social Exchange Theory ) diperkenalkan John Thibaut dan Harold Kelley (1959). Berdasrkan teori ini, tingkah laku manusia merupakan hubungan pertukaran dengan orang lain atas dasar pertimbangan untung-rugi. Dalam hubungan tersebut terdapat unsur imbalan ( reward ), pengorbanan ( cost ) dan keuntungan ( profit ).

Imbalan merupakan segala sesuatu yang diperoleh melalui pengorbanan, pengorbanan merupakan segala sesuatu yang dihindari, sementara keuntungan merupakan imbalan yang dikurangi oleh pengorbanan. Berdasarkan teori ini, tingkah laku manusia akan ditampilkan jika berdasarkan perhitungannya akan menguntungkan dirinya. Sebaliknya, suatu tingkah laku tidak akan ditampilkan manakala tingkah laku tersebut merugikan bagi dirinya.