Apa yang dimaksud dengan Teori perbandingan sosial atau Social comparison theory?

Teori perbandingan sosial atau Social comparison theory menyatakan bahwa kita menentukan nilai sosial dan pribadi kita berdasarkan bagaimana kita menghadapi orang lain.

Apa yang dimaksud dengan Teori perbandingan sosial atau Social comparison theory ?

Perbandingan sosial adalah penilaian komparatif mengenai stikulus sosial pada dimensi tertentu. Kruglanski dan Mayseless

Festinger mengajukan teori proses perbandingan sosial untuk menjelaskan perbandingan komparatif yang berhubungan dengan opini dan kemampuan seseorang. Festinger menyatakan bahwa individu termotivasi untuk membandingkan diri mereka sendiri dengan orang lain yang spesifik atau umum untuk menilai situasi sosial mereka sendiri. Individu cenderung untuk membandingkan diri mereka dengan individu lain yang serupa dengan dirinya sendiri, sebab dengan melakukan hal tersebut, maka evaluasi yang lebih tepat mengenai opini maupun kemampuan yang dimilikinya dapat tersedia (Kaplan dan Stiles, 2004).

Beberapa penelitian menemukan bahwa pilihan seseorang dalam membandingkan dirinya dengan orang lain dapat dipengaruhi oleh self-esteem, dimana seseorang yang memiliki self-esteem yang rendah atau yang mengalami stress cenderung untuk membentuk perbandingan dengan orang yang dianggapnya memiliki posisi atau keadaan yang lebih rendah dari dirinya (Kaplan dan Stiles, 2004).

Arah dari perbandingan sosial dapat menunjukkan motif dari orang yang membuat perbandingan sosial terhadap sirinya. Perbandingan ke bawah adalah perbandingan terhadap orang lain yang performansi atau hasil yang ditunjukkan lebih buruk dibandingkan dengan si pembanding, sehingga perbandingan ini lebih bertujuan untuk memperkaya diri melalui peningkatan evaluasi diri. Masalah yang muncul dari bentuk perbandingan ini adalah, terkadang seseorang dapat merasa dirinya menjadi buruk, terutama bila orang ini memiliki kontrol diri yang rendah. Perbandingan ke atas dengan tujuan untuk pengembangan diri cenderung dilakukan oleh individu dengan self-esteem yang tinggi, namun perbandingan ini dapat memiliki efek negatif seperti frustasi, kecemburuan, kekerasan dan munculnya perasaan rendah diri. Hal tersebut akan muncul ketika individu merasa bahwa mereka kurang mampu mengendalikan peningkatan posisi mereka (Kaplan dan Stiles, 2004).

Teori perbandingan sosial dapat dijelaskan melalui proses berikut:

A. Dorongan untuk Mengevaluasi Opini dan Kemampuan

Asumsi dasar yang mendasari teori perbandingan sosial adalah terdapat suatu dorongan untuk mengevaluasi opini dan kemampuan seseorang, yaitu, seseorang butuh untuk menentukan apakah opininya telah benar dan untuk memperoleh penilaian yang akurat mengenai kemampuan mereka. Opini dan kepercayaan individual, serta evaluasi mengenai kemampuannya merupakan determinan yang penting terhadap perilaku yang akan ditampakkannya. Opini yang tepat dan penilaian kemampuan yang akurat akan cenderung mengarah kepada kepuasan atau perilaku yang mendapatkan reward, sementara keyakinan yang tidak tepat atau penilaian kemampuan yang tidak akurat akan mengarah kepada konsekuensi yang tidak menyenangkan (hukuman).

Festinger (dalam Shaw & Costanzo, 1982) menyatakan bahwa karena kemampuan direfleksikan ke dalam performansi, manifestasinya akan menjadi tampak jelas bervariasi. Sebagai contoh, seorang atlet angkat beban dapat melakukan penilaian secara langsung dalam realitas objektif, tapi, dalam mengevaluasi kemampuan sebagai seorang seniman abstrak, orang yang bersangkutan harus berdasar pada opini orang lain (disebut dengan realitas sosial). Evaluasi mengenai kemampuan pada kenyataannya merupakan opini mengenai kemampuan, namun, pada awalnya penilaian lebih bergantung pada perbandingan performansi seseorang terhadap orang lain dibandingakan dengan opini dari orang lain.

Keberadaan dari dorongan untuk mengevaluasi opini dan kemampuan mengimplikasikan bahwa seseorang akan berperilaku dalam cara yang dibentuk untuk memuaskan keinginannya, yaitu, dengan cara yang dapat membantu orang tersebut mengevaluasi opini dan kemampuannya secara akurat.

B. Sumber Evaluasi

Festinger menyatakan bahwa, pada umumnya, seseorang akan menggunakan realitas objektif sebagai dasar dalam mengevaluasi ketika hal ini tersedia dalam kehidupannya sehari-hari, namun orang tersebut akan mendasarkan evaluasinya terhadap opini orang lain (realitas sosial) ketika realitas objektif tidak tersedia.

Asumsi berikutnya adalah orang-orang yang mengevaluasi opini dan kemampuan mereka dengan membandingkannya terhadap opini dan kemampuan orang lain dilakukan ketika alat nonsosial tidak tersedia. Sebagai contoh, seseorang tidak dapat mengetes secara objektif apakah kepercayaan mereka mengenai demokrasi adalah bentuk terbaik dari pemerintahan yang berjalan sekarang ini, karena tidak ada cara yangdapat dilakukan untuk mengetahuinya, maka orang tersebut mengacu pada opini orang lain. Serupa dengan hal itu, seseorang dapat mengukur waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah tertentu, namun hal ini tidak dapat mengungkapkan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah kecuali orang yang bersangkutan mengetahui waktu yang digunakan orang lain dalam menyelesaikan masalah yang sama dengannya.

Sebagai kesimpulan dari asumsi diatas, Festinger mengajukan bahwa evaluasi subjektif mengenai opini dan kemampuan merupakan hal yang tidak stabil ketika tidak terdapat dasar sosial maupun fisik yang dapat menjadi bahan pembanding . Bukti dari proposisi ini berasal dari penelitian mengenai tingkat aspirasi yang memperlihatkan bahwa penilaian mengenai kualitas performansi adalah stabil ketika terdapat suatu standar pembanding, namun tidak akan menjadi stabil ketika standar pembanding tersebut tidak tersedia.

Kesimpulan lain yang juga diajukan adalah evaluasi opini tidak akan berdasar pada perbandingan dengan orang lain ketika dasar objektif tersedia . Festinger mengambil penelitian yang dilakukan Hochbaum sebagai bukti dari kesimpulan ini. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa subjek yang diberitahu bahwa kemampuan mereka dalam menilai dianggap sangat baik, tidak akan mengganti opini mereka sesering mungkin ketika orang lain tidak setuju dengan mereka. Hasil ini mendukun proposisi yang diajukan oleh Festinger.

C. Pilihan Seseorang dalam Melakukan Perbandingan

Orang-orang yang tidak memiliki basis objektif sebagai pembanding, akan mengevaluasi opini dan kemampuan mereka dengan membandingkanya terhadap orang lain. Hipotesis 3 yang diajukan oleh Festinger menyatakan bahwa kecenderungan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain mengurangi pertentangan antara opini atau kemampuan seseorang dengan peningkatan yang dilakukan orang lain. Poin yang dinyatakan di sini adalah bahwa orang-orang akan memilih untuk mengevaluasi opini dan kemampuan mereka dengan membandingkannya terhadap opini atau kemampuan teman sebaya atau orang dekat yang sebaya dengan mereka.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa akan lebih memilih mahasiswa lain sebagai perbandingan daripada memilih narapidana sebagai pembanding, remaja akan lebih memilih remaja yang lain daripada orang dewasa sebagai alat pembanding. Kesimpulannya antara lain:

  • Bila diberikan pilihan, seseorang akan memilih orang terdekat dengannya sebagai alat pembanding.
  • Apabila hanya terdapat pembanding yang sangat jauh berbeda, orang yang bersangkutan tidak akan dapat membuat evaluasi yang tepat mengenai opini atau kemampuannya.

Bukti mengenai hipotesis tersebut berasal dari penelitian yang dilakukan Whittemore yang menunjukkan bahwa dalam situasi tugas kelompok, subjek selalu memilih seseorang yang performansinya dekat dengannya sebagai kompetitor baginya.

Festinger mampu menghasilkan beberapa derivasi prediksi lebih lanjut, yaitu

  • Derivasi A menyatakan bahwa evaluasi menjadi stabil ketika terdapat orang lain yang memiliki opini dan kemampuan yang dekat dengan orang yang bersankutan untuk menjadi alat pembanding.

  • Derivasi B menyatakan bahwa evaluasi akan cenderung berubah ketika kelompok pembanding yang tersedia memiliki kemampuan dan opini yang berbeda dengan opini atau kemampuan seseorang.

  • Derivasi C menyatakan bahwa individu akan kurang tertarik terhadap situasi dimana orang lain memiliki opini dan kemampuan yang berbeda dengannya dibandingkan dengan orang lain yang memiliki opini dan kemampuan yang sama dengannya. Hal ini menyarankan bahwa orang akan lebih tertarik pada kelompok atau orang lain yang menyediakan basis perbandingan yang paling dapat diterima oleh orang yang bersangkutan.

  • Derivasi D menyatakan pertentangan dengan suatu kelompok mengenai kemampuan atau opini akan mengarahkan kepada tindakan untuk mengurangi pertentangan tersebut.

Oleh karena terdapat dorongan untuk mengevaluasi opini dan kemampuan, maka akan menghasilkan perilaku yang mengarah kepada pencapaian keadaan dimana suatu evaluasi yang diterima dapat dibuat, yaitu situasi dimana tidak terdapat pertentangan atau pertentangan yang terjadi sangat kecil, sehingga perilaku seharusnya diarahkan untuk mengurangi pertentangan dalam kelompok.

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan

Terdapat 2 faktor utama yang mempengaruhi perubahan kemampuan ketika dibandingkan dengan opini, yaitu :

  • Terdapat tekanan tanpa tujuan ke atas dimana kemampuan tidak muncul dalam kasus opini. Sebagai contoh, pada budaya Amerika, performansi yang tinggi sangat diperhatikan, sehingga terdapat tekanan untuk terus meningkatkan performansi, namun, pada kasus opini, tidak terdapat basis yang inheren untuk perbandingan dan tidak terdapat tekanan umum untuk berubah ke dalam arah tertentu.

  • Terdapat faktor nonsosial yang dapat membuat seseorang sulit atau tidak dapat mengubah kemampuannya, namun, faktor tersebut tidak ditemukan untuk opini. Seorang wanita dapat mempercayai bahwa dia mampu mengangkat beban, namun fisiknya tidak mampu melakukan hal tersebut, tidak ada sejumlah usaha yang mampu membantunya untuk mengangkat beban itu sendiri. Di lain pihak, apabila wanita yang sama memutuskan bahwa opininya mengenai beban tersebut adalah salah, maka dia dapat mengubah opininya dengan mudah.

  • Derivasi D1 : Berhubungan dengan derivasi D, maka Festinger mengajukan 2 derivasi tambahan, yaitu : ketika pertentangan muncul mengenai opini dan kemampuan, maka akan terdapat kecenderungan untuk mengubah opini atau kemampuan sendiri sesuai dengan tujuan orang lain.

  • Derivasi D2 : Untuk mengubah orang lain dalam kelompok sehingga membuat orang-orang tersebut menjadi lebih dekat dengan orang yang bersangkutan.

Festinger menyatakan bahwa, ketika opini terlibat, tindakan yang diekspresikan utamanya akan berbentuk sosial; yaitu, seseorang akan mencoba untuk mempengaruhi orang lain. Pada kasus kemampuan, tindakan akan diekspresikan utamanya dalam batasan lingkungan.

E. Berhentinya Proses Perbandingan

Individu akan berusaha untuk mengurangi perbandingan terhadap orang lain. Akan terdapat kecenderungan untuk berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain dalam kelompok yang opini maupun kemampuannya sangat berbeda dengan diri yang bersangkutan.

Festinger percaya bahwa konsekuensi dari penghentian perbandingan berasal dari perbedaan opini dan kemampuan. Perluasan dari perbandingan yang berkelanjutan dengan orang lain mengimplikasikan konsekuensi yang tidak menyenangkan, penghentian perbandingan akan disertai dengan kekerasan atau derogasi. Kesimpulannya menyatakan bahwa penghentian perbandingan akan disertai dengan kekerasan atau derogasi pada kasus opini namun tidak pada kasus kemampuan.

F. Dorongan Menuju Kesatuan

Pada beberapa proposisi sebelumnya, terdapat indikasi bahwa dorongan untuk untuk mengevaluasi kemampuan dan opini akan menimbulkan dorongan menuju kesatuan. Kekuatan dari dorongan ini ditentukan oleh sejumlah faktor.

Derivasi E yang diajukan oleh Festinger (dalam Shaw & Costanzo, 1982) menyatakan bahwa faktor yang yang meningkatkan dorongan untuk mengevaluasi opini atau kemampuan juga dapat meningkatkan dorongan menuju kesatuan. Serupa dengan hal tersebut, sebuah hipotesis diajukan bahwa berbagai faktor yang meningkatkan pentingnya suatu kelompok sebagai pembanding terhadap opini atau kemampuan akan meningkatkan dorongan menuju kesatuan mengenai opini atau kemampuan tersebut.

Kesimpulan dari derivasi E menunjukkan bahwa dorongan menuju kesatuan akan meningkat dengan peningkatan kepentingan suatu opini atau kemampuan, atau dengan peningkatan relevansi suatu opini atau kemampuan terhadap perilaku yang muncul. Posisi yang terjadi adalah opini atau kemampuan yang dianggap oleh seseorang tidak terlalu penting akan meningkat dengan atau tanpa dorongan menuju evaluasi dan semakin besar relevansi yang terjadi terhadap perilaku, semakin besar pula dorongan untuk mengevaluasi opini ayau kemampuan tersebut.

Dorongan menuju kesatuan opini dan kemampuan akan bervariasi sesuai dengan kekuatan atraksi dari suatu kelompok. Semakin atraktif suatu kelompok terhadap seseorang, semakin penting kelompok tersebut menjadi alat pembanding. Oleh karena itu dorongan untuk mengurani pertentangan antara diri sendiri dengan kelompok akan menjadi lebih besar.

Dorongan ini haruslah dimanifestasikan sebagai

  1. kecenderungan untuk mengubah posisi seseorang,
  2. peningkatan usaha untuk mengubah orang lain, dan
  3. kecenderungan yang lebih besar untuk membuat orang lain tidak menjadi pembanding.

Kecenderungan untuk mempersempit rentang perbandingan menjadi lebih kuat ketika opini atau kemampuan orang-orang sangat berbeda dengan opini atau kemampuan seseorang serta juga berbeda dengan atribut yang konsisten mengenai perbedaan opini atau kemampuan tersebut.

Ketika terdapat rentang opini atau kemampuan dalam kelompok, kekuatan relatif dari 3 manifestasi tersebut terhadap kesatuan akan berbeda dari yang dekat dengan model kelompok dibandingkan dengan yang jauh dari model kelompok. Khususnya, yang dekat dengan model kelompok akan memiliki kecenderungan yang lebih kuat untuk mengubah posisi orang lain, yang lebih lemah akan cenderung mempersempit rentang perbandingan dan yang paling lemah akan cenderung untuk mengubah posisinya sesuai dengan posisi kelompok.

IMPLIKASI TEORI


Teori perbandingan sosial sangat berkaitan dengan dorongan evaluasi pada perilaku dalam kelompok, sehingga implikasi teori ini berkaitan erat dengan formasi kelompok dan dinamika kelompok. Pada tempat pertama, karena perbandingan dapat dilakukan hanya dalam kelompok, dorongan evaluasi diri dapat menyebabkan seseorang untuk menjadi anggota kelompok dan berasosiasi dengan anggota kelompok lainnya. Kedua, kelompok yang menyediakan kepuasan adalah kelompok yang memiliki opini yang paling dekat dengan opini anggotanya, atau orang yang bersangkutan. Oleh karena itu individu akan lebih tertarik terhadap kelompok yang memiliki opini yang serupa dan akan cenderung untuk meninggalkan kelompok apabila kelompoknya memiliki opini yang berbeda.

Tajfel dan Turner menyatakan bahwa individu mendefinisikan dirinya sebagai anggota dalam kelompok dan memelihara identitas positifnya sebagai bagian dari kalompok melalui asosiasi dengan kelompok yang memiliki nilai positif yang sama dengannya dan melalui usahanya dalam membandingkan dirinya sebagai bagian dari kelompok dengan kelompok lain. Keinginan untuk mencapai perbedaan secara positif dari yang lain merupakan manifestasi individu dalam berbagai cara termasuk memilih kelompoknya sendiri dan mengabaikan kelompok lain, pendapat ini selanjutnya diperjelas oleh Turner yang menyatakan bahwa bentuk diskriminasi terhadap kelompok lain yang memiliki perbedaan opini dan kemampuan dapat meningkatkan penghargaan diri individu yang bersangkutan mengenai opini dan kemampuannya.

Tyler dan Blander (2000) menyatakan bahwa Performance kelompok dengan value yang positif mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi individu untuk menggabungkan diri sebagai anggota.

Identitas sosial adalah memahami fungsi dari kelompok, hal tersebut merupakan bentuk dari evaluasi dari opini dan kemampuan mereka. Individu mendefinisikan diri mereka dalam suatu kelompok tentang keanggotaan mereka.

Doosje, Ellemers dan Spears (menyatakan bahwa individu akan bergabung dengan status kelompok yang memiliki opini dan kemampuan yang lebih tinggi namu tidak berbeda darinya, dengan kata lain, kelompok tersebut membawa nilai yang positif terhadapnya.

Festinger mengajukan bahwa segmentasi ke dalam kelompok yang serupa dengan penghargaan terhadap kemampuan akan meningkatkan status dalam masyarakat.
Phinney memandang identifikasi diri mengenai opini dan kemampuannya (kategorisasi diri) sebagai hal yang seimbang dengan identitas di dalam teori kategorisasi diri.

Teori ini menyatakan bahwa hasil dari proses kategorisasi diri adalah penekanan pada persamaan antara diri dan anggota lain dalam kelompok yang sama dan perbedaan antara diri dengan anggota kelompok yang lain (streotipe diri). Kategorisasi berjalan bersama dengan perbandingan sosial yang menggerakkan perilaku-perilaku kelompok yang khusus (contohnya diskriminasi, in-group favoritism, persepsi streotipe in-group dan out-group). Sehingga dapat disimpulkan bahwa selain perasaan positif terhadap in-group (keterikatan in-group dan rasa bangga), perbedaan antara kelompok asal dengan kelompok lain atau adanya perasaan kecenderungan terhadap kelompok asal (misalnya in-group bias atau favoritisasi in-group) menjadi bentuk dasar evaluasi individu sebagai anggota kelompok mengenai opini maupun kemampuannya.

ANALISIS TEORI


Teori perbandingan sosial memiliki beberapa kelebihan di mana teori ini merupakan teori yang konsisten secara internal dan hipotesisnya dinyatakan dalam bentuk yang siap digunakan untuk evaluasi empiris. Proposisi teoritisnya sesuai dengan data yang tersedia ketika teori tersebut diformulasikan. Data dari penelitian terbaru memberikan dukungan tambahan terhadap teori ini. Terdapat beberapa kategori yang digunakan untuk menganalisis teori perbandingan sosial lebih lanjut, yaitu:

A. Dorongan Terhadap Evaluasi Opini dan Kemampuan

Beberapa penelitian menemukan bukti yang mendukung asumsi mengenai dorongan terhadap evaluasi diri. Salah satu kelemahan yang muncul adalah teori ini tidak menunjukkan variabel-variabel yang menentukan terjadinya dorongan tersebut, sehingga beberapa penelitian terakhir yang terkait dengan teori ini lebih mengarah kepada usaha untuk membuktikan manifestasi variabel tersebut, daripada membuktikan asumsi keberadaan dorongan evaluasi terhadap opini dan kemampuan diri.

B. Kesamaan dan Pilihan Mengenai Perbandingan Terhadap Orang Lain

Apabila seseorang memiliki pilihan, maka Ia akan memilih orang lain yang serupa dengan opini dan kemampuannya sebagai bahan perbandingan.

Kelemahan yang muncul dari kesimpulan ini adalah hal ini hanya dapat diaplikasikan ketika orang tersebut berada pada situasi yang relevan dengan orang lain. Hal ini tidak berlaku ketika evaluasi mengenai hal-hal negatif muncul terhadap opini atau kemampuan seseorang, atau ketika karakteristik yang kurang familiar menjadi bahan pertimbangan, bahkan pada akhirnya orang lebih cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki atribut positif daripada orang lain yang hanya serupa dengan opini atau kemampuan orang yang bersangkutan.

C. Perbandingan Sosial dan Ketertarikan

Bukti bagi derivasi C yang menyatakan bahwa orang akan lebih tertarik pada kelompok atau orang lain yang menyediakan basis perbandingan yang paling dapat diterima oleh orang yang bersangkutan tidak terlalu kuat dan memberikan penekanan pada kebutuhan pertimbangan yang lebih detail mengenai hubungan antara proses perbandingan sosial dan ketertarikan dalam kelompok.

D. Modifikasi dan Perluasan Teori

Hasil dari beberapa penelitian terhadap hipotesis yang diajukan Festinger menunjukkan bahwa perbandingan sosial adalah fenomena yang lebih kompleks. Faktanya bahwa definisi mengenai kesamaan masih menjadi ambigu namun digunakan berulang kali, sehingga terdapat banyak usaha untuk memperjelas mengenai kesamaan tersebut. Kesamaan juga dapat dipengaruhi oleh berbagai variabel lain, sehingga semakin sulit untuk diperjelas.
Masalah yang lebih serius mengenai teori perbandingan sosial ini adalah adanya bukti bahwa proses perbandingan dipengaruhi oleh kebutuhan untuk peningkatan diri dan self-esteem.

Pengaruh self-esteem sangatlah besar ketika seseorang yakin dengan posisinya dalam kelompok. Terdapat hal lain yang menyatakan bahwa motif perbandingan sosial akan dipengaruhi oleh situasi, informasi yang tersedia, dan cara lain dalam memperoleh informasi. Kemampuan mengevaluasi yang dimiliki seseorang juga dipengaruhi oleh hal-hal tersebut.
Teori perbandingan sosial yang dikemukakan oleh Festinger telah mengalami berbagai macam revisi, khususnya yang berhubungan dengan berbagai tipe perbandingan yang dilakukan oleh individu (misalnya opini, kemampuan, emosi, dan hasil akhir), alasan dalam membuat perbandingan sosial (misalnya keakuratan dan pengembangan diri), serta isu-isu yang berhubungan dengan siapa seseorang membandingkan dirinya (Kaplan dan Stiles, 2004).

Pengembangan konseptual juga menunjukkan beberapa keterbatasan dari teori perbandingan sosial klasik yang diajukan oleh Festinger (Kaplan dan Stiles, 2004):
Pada khususnya, teori perbandingan sosial cenderung terlalu kaku dan sempit untuk mengakomodasi beberapa penelitian yang kontemporer. Teori ini terlalu kaku dalam menggambarkan individu, karena perilaku individu diperlihatkan selalu didorong unruk mengevaluasi diri melalui perbandingan sosial, yang sebagian besar dilakukannya dengan orang yang serupa, dan usaha tersebut hampir selalu ditujukan untk memperoleh keakuratan evaluasi.

“Festinger secara implisit menyatakan bahwa perbandingan sosial muncul disebabkan oleh perhatian seseorang terhadap satu dimensi, yang pada akhirnya akan mengarah kepada pemilihan terhadap target yang sesuai serta konsekuensi dari evaluasi diri” (Kaplan dan Stiles, 2004).

Beberapa penelitian menemukan suatu bukti dimana evaluasi diri akan menjadi lebih penting ketika orang yang bersangkutan menemukan bahwa ia mampu menunjukkan performansi yang lebih baik dibandingkan dengan orang lain. Sebagian besar penelitian perbandingan sosial hanya terfokus pada perbandingan pilihan daripada konsekuensi dari perbandingan tersebut. Penemuan awal memperlihatkan bahwa, ketika diberikan pilihan, individu akan memilih untuk membandingkan diri mereka sendiri dengan orang lain yang serupa dalam hal kemampuan yang berhubungan dengan performansi, untuk memperoleh informasi yang lebih tepat mengenai kemampuan orang yang bersangkutan.

Namun, definisi mengenai “keserupaan” dengan orang lain sangatlah ambigu dan menghasilkan berbagai poin perdebatan. Penelitian tambahan yang dilakukan Kruglanski dan Mayseless pada tahun 1990 serta Suis, Martin dan Wheeler pada tahun 2000 menemukan bahwa ternyata terdapat keberagaman dalam memilih referensi pembanding dan bukan hanya satu orang serupa saja yang dijadikan bahan perbandingan.

Sama seperti penilaian dalam berbagai kategori, inti khusus dari perbandingan sosial dapat berupa ketertarikan terhadap beberapa orang dalam beberapa keadaan. Dengan kata lain, pada keadaan tertentu, seseorang cenderung tertarik untuk menarik penilaian komparatifnya terhadap satu orang yang serupa, namun, pada kondisi yang lain orang ini bisa membandingkan dirinya dengan orang lain yang tidak serupa dengan dirinya. Secara khusus, seseorang dapat tertarik untuk membandingkan dirinya dengan orang yang berpengaruh atau berprestasi, namun pada situasi yang lain, orang tersebut lebih tertarik untuk membandingkan dirinya dengan orang yang mengalami kegagalan atau posisinya jauh di bawah orang yang bersangkutan.

Penelitian terakhir pada tahun 2000 yang dilakukan oleh Suis dan kawan-kawan (dalam Kaplan dan Stiles, 2004), memperluas pemahaman mengenai referensi orang yang menjadi bahan perbandingan, dengan mengembangkan “triadic model” perbandingan sosial yang menyatakan 3 jenis pengujian opini, yaitu:

  1. penilaian preferensi atau menyukai sesuatu,
  2. kepercayaan mengenai kebenaran sesuatu, dan
  3. preferensi prediksi mengenai reaksi seseorang terhadap pilihan yang diambilnya.

Ketika menguji ketepatan suatu penilaian atau opini (penilaian preferensi), maka pembanding yang dipilih sebaiknya orang yang memiliki keserupaan karakteristik, karena orang yang berbeda akan menghasilkan efek boomerang dimana si pembanding akan dapat mengadopsi identifikasi yang tidak sesuai dengan diri maupun kelompoknya.

Ketika mengevaluasi kepercayaan mengenai kebenaran, maka individu sebaiknya memilih orang yang ahli sebagai pembandingnya yang memiliki tata nilai dasar yang sama dengan si pembanding. Pengujian preferensi reaksi terhadap pilihan membutuhkan orang lain yang telah mencoba atau telah mengalami bentuk pengujian yang sama sebagai orang pembanding, karena orang ini dapat menjadi sumber yang valid dalam memberikan informasi yang serupa terhadap pilihan bagi pembanding.

Sebagai kesimpulan, hasil dari beberapa penelitian melaporkan adanya dukungan tambahan terhadap teori perbandingan sosial, namun juga menunjukkan kelemahannya. Kebutuhan utama adalah definisi yang lebih jelas mengenai konsep kesamaan, spesifikasi yang jelas mengenai kondisi yang dapat mendukung munculnya suatu hubungan atau yang tidak memunculkan hubungan tersebut, dan analisis mengenai variabel atau motif yang dapat mempengaruhi proses perbandingan sosial.

Sumber : Nurfitriany Fakhri, Teori Perbandingan Sosial.

Referensi
  • Kaplan, H.B. dan Stiles, B.L. 2004. Adverse Social Comparison Processes and Negative Self-Feelings: A Test Of Alternative Models. Social Behavior and Personality, 2004.
  • Shaw, M. E. dan Costanzo, P. R. 1982. Theories of Social Psychology, Second Edition. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha, Ltd.
  • Smurda, J. D., Witting, M.A. & Gokalp, G. 2006. Effect to Threat to A Valued Social Identity on Implicit Self-Esteem and Discrimination. Journal of Group Process Intergroup Relations, Vol 9 (2), 181-197. Diperoleh dari http://gpi.sagepub.com.
  • Tyler, T. R dan Blader, S. L. 2001. Identity and Cooperative Behavior in Groups. Journal of Group Process Intergroup Relations, Vol 4(3), 207-226. Diperoleh dari http://gpi.sagepub.com.
  • Valk, A & Karu, K. 2001. Ethnic Attitudes in Relation To Ethnic Pride and Ethnic Differentiation. Journal of Social Psychology, 2001, 141(5), 583-601.