© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Teori Pengelolaan Kecemasan Ketidakpastian (Anxiety Uncertainty Management Theory)?

Apa yang dimaksud dengan Teori Pengelolaan Kecemasan Ketidakpastian (Anxiety Uncertainty Management Theory) secara rinci ?

Bagaimana cara mengurangi terjadinya ketidakpastian tersebut ?

Teori yang dipublikasikan William Gudykunst ini memfokuskan pada perbedaan budaya pada kelompok dan orang asing. Ia berniat bahwa teorinya dapat digunakan pada segala situasi dimana terdapat perbedaan diantara keraguan dan ketakutan.

Ia menggunakkan istilah komunikasi efektif kepada proses-proses meminimalisir ketidak-mengertian. Gudykunst meyakini bahwa kecemasan dan ketidakpastian adalah dasar penyebab dari kegagalan komunikasi pada situasi antar kelompok.

Konsep-konsep dasar Anxiety/Uncertainty Management Theory:

  1. Konsep diri dan diri.
    Meningkatnya harga diri ketika berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola kecemasan.

  2. Motivasi untuk berinteraksi dengan orang asing.
    Meningkatnya kebutuhan diri untuk masuk di dalam kelompok ketika kita berinteraksi dengan orang asing akan menghasilkan sebuah peningkatan kecemasan.

  3. Reaksi terhadap orang asing.
    Sebuah peningkatan dalam kemampuan kita untuk memproses informasi yang kompleks tentang orang asing akan menghasilkan sebuah peningkatan kemampuan kita untuk memprediksi secara tepat perilaku mereka. Sebuah peningkatan untuk mentoleransi ketika kita berinteraksi dengan orang asing menghasilkan sebuah peningkatan mengelola kecemasan kita dan menghasilkan sebuah peningkatan kemampuan memprediksi secara akurat perilaku orang asing.

    Sebuah peningkatan berempati dengan orang asing akan menghasilkan suatu peningkatan kemampuan memprediksi perilaku orang asing secara akurat.

  4. Kategori sosial dari orang asing.
    Sebuah peningkatan kesamaan personal yang kita persepsi antara diri kita dan orang asing akan menghasilkan peningkatan kemampuan mengelola kecemasan kita dan kemampuan memprediksi perilaku mereka secara akurat.

    Sebuah peningkatan kesadaran terhadap pelanggaran orang asing dari harapan positif kita dan atau harapan negatif akan menghasilkan peningkatan kecemasan kita dan akan menghasilkan penurunan di dalam rasa percaya diri dalam memperkrakan perilaku mereka.

  5. Proses situasional.
    Sebuah peningkatan di dalam situasi informal di mana kita sedang berkomunikasi dengan orang asing akan menghasilkan sebuah penurunan kecemasan kita dan sebuah peningkatan rasa percaya diri kita terhadap perilaku mereka.

  6. Koneksi dengan orang asing.
    Sebuah peningkatan di dalam rasa ketertarikan kita pada orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan peningkatan rasa percaya diri dalam memperkirakan perilaku mereka.

    Sebuah peningkatan dalam jaringan kerja yang kita berbagi dengan orang asing akan menghasilkan penurunan kecemasan kita dan menghasilkan peningkatan rasa percaya diri kita untuk memprediksi perilaku orang lain.

Teori Anxiety/Uncertainty Management (AUM) dikembangkan oleh William B. Gudykunst pertama kali pada tahun 1985 dengan perhatian awal tertuju pada proses komunikasi efektif dalam kelompok.

Secara resmi teori ini diperkenalkan dengan label AUM pada tahun 1993. Pada perkembangannya teori ini berusaha untuk menjelaskan bagaimana proses penyesuaian diri seseorang dalam konteks komunikasi antarbudaya.

Gudykunst menjadi tertarik pada penyesuaian antarbudaya ketika beliau menjabat sebagai Spesialis Hubungan Antarbudaya dengan Angkatan Laut AS di Yokosuka, Jepang. Tugasnya terlibat pada program pelatihan penyesuaian selama tiga-hari untuk personil angkatan laut dan keluarganya serta konsultasi tentang masalah-masalah hubungan antarbudaya antara personel Jepang dan angkatan laut.

Program pelatihan ini dirancang untuk membantu para peserta dalam beradaptasi dengan tinggal dan bekerja di Jepang. Melalui pengalaman sebagai Spesialis Hubungan Antarbudaya tersebut Gudykunst memutuskan untuk mengejar gelar Ph.D. dalam komunikasi antarbudaya (Gudykunst, 2002: 1).

Menurut Gudykunst, satu cara awal untuk berteori dengan mengadaptasi sebuah teori yang ada sehingga teori Pengurangan Ketidakpastian (URT) dari Berger dan Calabrese dipilih sebagai titik awal karena beberapa alasan yaitu:

  1. Gudykunst menilai URT masuk akal baginya;

  2. URT berfokus pada ketidakpastian (misalnya, ketidakmampuan untuk memprediksi perilaku orang lain) yang dapat dihubungkan langsung ke penyesuaian antarbudaya; dan

  3. Gudykunst bisa melihat aplikasi langsung dari URT untuk meningkatkan kemampuan pendatang untuk beradaptasi dengan budaya baru.

Gudykunst menyebutkan ada perbedaan antara penyesuaian “pendatang” dan asimilasi atau akulturasi imigran atau pengungsi. “Sojourners” adalah pengunjung yang melakukan perjalanan ke budaya lain untuk tinggal selama jangka waktu tertentu (misalnya, beberapa bulan sampai beberapa tahun), tetapi tidak berniat untuk tinggal secara permanen dalam budaya tuan rumah. Imigran atau pengungsi adalah orang-orang yang melakukan perjalanan ke budaya lain dengan tujuan permanen yang berada dalam budaya itu.

Tujuan yang berbeda sering menyebabkan perbedaan dalam cara pendatang dan imigran beradaptasi untuk hidup dalam budaya host (misalnya, “pendatang” umumnya tidak mengubah identitas budaya mereka, sementara imigran mungkin). Teori ini terbatas pada “pendatang” melakukan penyesuaian jangka pendek terhadap budaya tuan rumah (Gudykunst, 2002).

Teori AUM terbentuk berdasarkan dua buah pemikiran teori lain yang sudah diajukan sebelumnya, yaitu teori tentang pengurangan ketidakpastian dari Charles berger dan teori identitas sosial milik Henri Tajfel. Asumsi dasar teori ini membahas tentang pengalaman kecemasan (anxiety) dan ketidakpastian (uncertainty) seseorang yang muncul saat menghadapi orang asing atau bertemu orang yang berbeda budaya dengannya.

Gudykunst menyebutkan bahwa ketidakpastian itu ada pada level kognitif seseorang, sedangkan kecemasan berada di level afektif.

Gudykunst coba menjelaskan pemahaman mengenai uncertainty dan anxiety melalui beberapa tulisan peneliti sebelumnya dalam bukunya Communicating with Strangers:

Uncertainty refers to our inability to predict or explain others behavior, feelings, attitudes, or values. When we reduce uncertainty about others and ourselves, understanding is possible… Anxiety refers to the feeling of being uneasy, tense, worried, or apprehensive about what might happen. It is an affective (emotional) response, not a cognitive response like uncertainty.

“Ketidakpastian mengacu pada ketidakmampuan kita untuk memprediksi atau menjelaskan perilaku orang lain, perasaan, sikap, atau nilai-nilai. Ketika kita mengurangi ketidakpastian tentang orang lain dan diri kita sendiri, pengertian mungkin terjadi… Kecemasan mengacu pada perasaan gelisah, tegang, cemas, atau khawatir tentang apa yang mungkin terjadi. Ini adalah respon afektif (emosional), bukan respon kognitif seperti ketidakpastian” (Gudykunst and Kim, 2003: 13).

Teori ini berusaha untuk menjelaskan bagaimana seseorang yang asing dengan budaya di sekitarnya dapat berkomunikasi secara efektif melalui manajemen mindful. Teori ini menyatakan bahwa hal tersebut dapat terjadi bila dilakukan manajemen mindful pada tingkatan kecemasan dan ketidakpastian seseorang dalam proses interaksinya.

Teori AUM menyatakan mindfulness sebagai kemampuan seseorang baik bagian dari sebuah kelompok maupun orang asing mengurangi kecemasan dan ketidakpastian sampai tahap optimal sehingga pada akhirnya mampu mencapai komunikasi efektif. Kecemasan muncul di tingkat afektif yang mengacu pada perasaan seperti kegelisahan, kecanggungan, kebingungan, stress yang muncul ketika seseorang mulai berhadapan dengan orang asing.

Ketidakpastian menjadi satu fenomena di tingkat kognitif yang melibatkan ketidakpastian yang terduga maupun ketidakpastian yang memberi penjelasan.

Langer (1989) menyebutkan bahwa jika ingin menjadi seseorang yang mindful, harus menyadari bahwa terdapat lebih dari satu pandangan yang dapat digunakan untuk memahami atau menjelaskan bentuk interaksi dengan orang asing (Gudykunst and Kim, 2003: 40).

Sama halnya dengan teori Charles Berger yang menggunakan axioma- axioma tertentu dalam menjelaskan bagaimana suatu hubungan, teori ini juga mempunyai 47 axioma yang berkaitan dengan bagaimana konsep diri, motivasi berinteraksi, reaksi terhadap orang asing, dan poin-poin lainnya.

Salah satu aksioma menyatakan peningkatan kesadaran seseorang dalam proses komunikasinya dengan orang asing, akan menghasilkan peningkatan kemampuannya untuk mengelola kecemasan dan ketidakpastian (Littlejohn and Foss, 2009: 37).

Dengan kata lain, teori ini melihat bahwa kecemasan dan ketidakpastian akan muncul dalam situasi interaksi seseorang yang berbeda budaya dan mereka mencoba menguranginya dengan cara yang berbeda.

Chang (2013) menyebutkan mindfulness menjadi perhatian utama untuk mencapai kompetensi komunikasi antarbudaya. Bahkan Mindfulness tersirat sebagai faktor penentu suksesnya komunikasi antarbudaya seseorang dalam beberapa teori lain, meskipun tidak secara khusus disebutkan.

Secara sederhana, hal utama dalam teori ini dapat digambarkan dengan bagan di bawah ini, yang menunjukkan bagaimana faktor tertentu dari individu menciptakan suasana kecemasan dan ketidakpastian. Manajemen terhadap dua situasi ini dengan maksimal oleh seorang individu akan menciptakan kompetensi komunikasi dalam dirinya sehingga dalam interaksi dapat tercipta komunikasi yang efektif.

image
Bagan teori manajemen kecemasan-ketidakpastian. Sumber (Gudykunst and Kim, 2003: 43)

Kritik Terhadap Teori AUM

Teori AUM selama perkembangannya juga mendapat beberapa kritikan dari ilmuwan yang memiliki perhatian khusus terhadap kajian komunikasi antarbudaya. Masaki Yoshitake, seorang pengajar di universitas Fukuoka Jepang yang tertarik dengan kajian komunikasi antarbudaya salah satu orang yang menyampaikan beberapa gagasan yang mengkritik teori AUM Gudykunst.

Yohitake (2002) memulai tulisannya dengan menyampaikan uraian kritik yang disampaikan oleh Griffin dan Ting-Toomey, keduanya melihat kelemahan teori dari celah yang berbeda.

  • Griffin mengkritik kompleksitas teori AUM, dengan menyebut aksioma teori AUM dapat dipecah menjadi lebih banyak lagi.
  • Ting – Toomey lebih berfokus pada konten salah satunya mengenai konsep kedekatan yang sangat mengacu pada konsep budaya barat.

Yoshitake setuju dengan pendapat dari Griffin dan Ting – Toomey, sehingga dalam tulisannya membahas tentang fokus yang terbatas pada komunikasi yang efektif, ketergantungan yang berlebihan pada mindfulness dan bias aksioma terhadap budaya lain.

Kritik terhadap teori AUM berkaitan dengan validasi terhadap teori tersebut karena memuat terlalu banyak aksioma sehingga akan sulit untuk melakukan validasi dengan analisis kualitatif. Gudykunst juga dinilai terlalu fokus melihat kesadaran dan kognisi sebagai bagian utama dalam membangun komunikasi, khususnya dalam konteks antarbudaya. Komunikasi sebagai sebuah proses tentu melibatkan banyak aspek yang diharapkan dapat menciptakan komunikasi efektif. Teori ini juga dinilai terlalu etnosentris dalam melihat proses pengiriman pesan.

Gudykunst (2003) pada tahun berikutnya melalui jurnal yang sama mencoba menjelaskan apa yang menjadi kritik Yoshitake. Ada tiga masalah utama terkait kritik Yoshitake tentang teori AUM, yaitu:

  1. kritik mencerminkan kurangnya pemahaman beberapa konsep sentral dalam teori AUM (misalnya, perhatian, manajemen kecemasan/ketidakpastian). Menurut Gudykunst, penting bagi seorang kritikus memahami teori-teori sebelum mengkritiknya.

  2. dalam mengkritik teori bagaimanapun harus mengevaluasi teori itu tidak menggunakan asumsi lain. 3) beberapa kritik Yoshitake tentang teori AUM didasarkan pada penalaran keliru dan salah membuat penilaian.

Bagi Gudykunst tidak ada yang salah sebuah teori dikritisi, namun menurutnya adalah hal keliru ketika kemudian kritikus mencoba untuk meruntuhkan teori. Sebagian besar kritik Yoshitake menurut Gudykunst tidak beralasan, tetapi menanggapi kritik telah membuatnya sadar bahwa elaborasi dan klarifikasi diperlukan di beberapa variabel teori AUM.

Kelemahan Teori AUM

Melalui kritik yang diajukan, maka Yip (2010) menyebutkan beberapa kelemahan dari teori AUM ini terdapat di beberapa bagian yaitu:

  1. Sifat hubungan dalam komunikasi antarbudaya kurang menjadi perhatian teori ini. Teori ini kurang memperhatikan bahwa dalam hubungan yang sudah dibangun untuk jangka panjang, beberapa kesalahan dalam berkomunikasi dapat ditoleransi.

  2. Tujuan dalam komunikasi antarbudaya untuk setiap budaya tidak sama dengan menggunakan efektivitas sebagai tolak ukurnya. Efektivitas komunikasi pada budaya tingkat tinggi tidak sama dengan budaya tingkat rendah. Hal ini yang menyebabkan teori ini perlu diperhatikan penggunaannya dalam menilai satu kelompok budaya.

  3. Kurangnya perhatian terhadap reaksi penerima pesan menjadikan teori ini kurang tepat untuk digunakan dalam menjelaskan proses interaksi antarbudaya. Efektivitas komunikasi yang menjadi perhatian dalam teori ini sebetulnya kurang menitikberatkan pada konteks antarbudaya.