© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Teori Kesadaran Diri atau Self-Awareness Theory?

Kesadaran diri adalah kemampuan untuk mengambil diri sebagai objek pemikiran, dimana orang dapat berpikir, bertindak, dan berpengalaman, dan mereka juga dapat memikirkan apa yang sedang mereka pikirkan, lakukan, dan alami.

Apa yang dimaksud dengan Teori Kesadaran Diri atau Self-awareness theory ?

Self Awareness


Menurut Duval & Wicklund (1972), Self awareness ialah memfokuskan perhatian pada kesadaran diri sendiri. Self awareness mengacu pada kapasitas dalam menjadi obyek yang dituju oleh satu perhatian atas diri sendiri. Paham ini dapat terjadi di saat organisasi sosial tidak memfokuskan diri pada lingkungan eksternal, tapi lingkungan internal atau dapat dikatakan sebagai pengamat reflektif dalam memproses informasi pribadi. Dalam penempatan self awareness pada suatu organisasi dapat memfokuskan perhatian pada aspek penempatan diri dimuka umum/tidak (public / private self aspect ).

Behavioral Intention

Setiap pemasar tentunya ingin produk/ jasanya dapat terjual, mudah didapatkan, digunakan, dan terutama dibeli oleh konsumen. Oleh karena itu, sebagai pemasar haruslah dapat memahami, memprediksi, dan mempengaruhi suatu perilaku konsumen.

Sebelum mencapai tindakan pembelian, konsumen menetapkan perilakunya mengenai kecenderungan tindakan yang mereka lakukan. Dengan demikian, Menurut Terry (1993) mendefinisikan intensi/niat/ keinginan berperilaku sebagai: “The person’s subjective probability judgement of how he or she intends to behave”. Sementara pengertia niat berperilaku menurut Mowen & Minor (1998) dapat didefinisikan “ the intention of consumers to behave in particularly way with regard to the acquisition, disposition, and use of product and services” . Niat berperilaku ini merupakan bagian dari komponen sikap. Pada teori attitude component consistency (tricomponent attitude model), niat berperilaku berada pada komponen conative . Salah satu alat ukur yang digunakan adalah buyer intention scales .

Alat ukur ini biasa digunakan untuk melihat kecenderungan konsumen dalam melakukan pembelian produk atau perilaku tertentu. Menariknya konsumen yang memberikan respon untuk ingin berperilaku akan lebih nyata melakukan pembelian merek untuk evaluasi merek yang positif, kebalikannya dengan konsumen yang tidak merespon pertanyaan tersebut (Sengupta, 1998). Studi ini menyarankan bahwa komitmen merek yang positif dalam bentuk pemberian jawaban yang positif akan memberikan dampak terhadap pernyataan keinginan bersikap yang positif yang pada akhirnya melakukan pembelian merek secara nyata.

Menurut para ahli lebih lanjut menyatakan bahwa orang cenderung ingin melakukan sesuatu apabila ia suka melakukan hal tersebut dan sesuai dengan norma-norma yang diyakininya. Teori ini juga menyatakan bahwa intensi berperilaku mencerminkan keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu karena ia memang suka melakukannya (Azjen, 1988) dan intensi untuk melakukan suatu tindakan dianggap menjadi determinan penentu dalam suatu perilaku.

Azjen (1988) menyatakan bahwa terdapat korelasi yang kuat antara keinginan seseorang dengan perilakunya bahkan efek keinginan ini lebih kuat pengaruhnya daripada efek sikap terhadap perilaku.

Steven & Howard (2003) mengemukakan bahwa self-awareness adalah kemampuan untuk mengenali perasaan dan mengapa seseorang merasakannya seperti itu dan pengaruh perilaku seseorang terhadap orang lain. Kemampuan tersebut diantaranya;

  • kemampuan menyampaikan secara jelas pikiran dan perasaan seseorang, membela
    diri dan mempertahankan pendapat (sikap asertif),
  • kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan diri dan berdiri dengan kaki sendiri (kemandirian),
  • kemampuan untuk mengenali kekuatan dan kelemahan orang dan menyenangi diri sendiri meskipun seseorang memiliki kelemahan (penghargaan diri),
  • kemampuan mewujudkan potensi yang seseorang miliki dan merasa senang (puas) dengan potensi yang seseorang raih di tempat kerja maupun dalam kehidupan pribadi (aktualisasi).

Chaplin (2002) menyatakan bahwa self-awareness adalah kesadaran mengenai proses-proses mental sendiri atau mengenai eksistensi sebagai individu yang unik. Bagi seorang individu, self awareness berfungsi untuk mengendalikan seluruh emosi agar dapat dimanfaatkan dalam menjalin relasi sosial dengan orang lain (Auzoult & Hardy-Massard, 2014). Ia harus mampu mengendalikan diri dari sifat-sifat emosi negatif, dan lebih menonjolkan hal-hal yang positif, sehingga tidak mengganggu hubungan sosial dengan orang lain.