Apa yang dimaksud dengan teori kelekatan (Attachment)?

teori kelekatan (Attachment)

Attachment adalah ikatan emosional yang dibentuk seorang individu dengan orang lain yang bersifat spesifik, mengikat mereka dalan suatu attachment yang bersifat kekal sepanjang waktu.

Attachment merupakan suatu hubungan yang didukung oleh tingkah laku lekat (attachment behavior) yang dirancang untuk memelihara hubungan tersebut.

Apa yang dimaksud dengan teori kelekatan (Attachment) ?

Attachment atau kelekatan merupakan teori yang diungkapkan pertama kali oleh seorang psikiater asal Inggris bernama John Bowlby pada tahun 1969. Ketika seseorang secara emosional terikat dengan orang lain, Attachment dimulai.

Namun, hal-hal yang terjadi dengan kehadiran figur kelekatan benar-benar sulit untuk dimengerti, dan ini adalah alasan mengapa teori attachment muncul.

Menurut Bowlby, attachment adalah keterhubungan psikologis yang terjadi antara manusia dan berlangsung untuk jangka waktu yang panjang. Bowlby (1982) menjelaskan attachment mengacu pada ikatan emosional yang berkembang antara orangtua dan anak.

Attachment adalah ikatan emosional yang mendalam dan abadi yang menghubungkan satu orang ke orang lain di waktu dan ruang ( dalam Ainsworth, 1973; Bowlby, 1969). Attachment pada seseorang tidak harus timbal balik, yaitu pada seseorang memiliki attachment dengan teman sebayanya sedangkan teman sebayanya belum tentu memiliki attachment dengannya.

Attachment ditandai dengan perilaku tertentu pada anak-anak, seperti mencari kedekatan dengan figur tertentu ketika marah atau terancam (Bowlby, 1969). Bowlby (1969) juga mendefinisikan attachment sebagai “Lasting psychological connectedness between human beings”.

Hal ini menandakan bahwa attachment antar manusia akan terus terjadi selama rentang kehidupannya. Perilaku attachment akan terlihat jelas saat individu sedang merasa takut, lelah atau sakit (Bowlby, 1958 dalam Dacey & Travers, 2002).

Hubungan antar individu dapat dijelaskan lebih lanjut dari pengertian attachment menurut Ainsworth (dalam Colin, 1996) sebagai ikatan bersifat afeksional pada seseorang yang ditujukan pada orang-orang tertentu disebut dengan figur lekat dan berlangsung terus-menerus.

Peer Attachment

Neufeld (2004) berpendapat bahwa peer attachment merupakan sebuah ikatan yang melekat yang terjadi antara seorang anak dengan teman- temannya, baik dengan seseorang maupun dengan kelompok sebayanya. Dari ikatan tersebut, seorang anak akan melihat dan meniru segala tindakan, gaya berpikir, dan akan memahami segala tingkah laku yang dilakukan oleh teman sebayanya.

Teman sebaya akan menjadi penengah dari apa yang baik, apa yang terjadi, apa yang penting dan bahkan bagaimana mereka memiliki persepsi mengenai dirinya.

Barrocas (2009) juga berpendapat bahwa pada masa remaja terbentuk ikatan kelekatan dengan teman sebaya yang berhubungan dengan pikiran, perasaan dan emosi. Ketika masa perkembangan, seorang anak tidak hanya membentuk ikatan emosional dengan orang tua mereka, melainkan juga dengan orang lain.

Transisi pada masa remaja ditandai dengan esplorasi dan kemandirian baik fisik maupun psikologis, maka kehadiran seorang figur kelekatan (attachment) menjadi penting.

Perkembangan Attachment pada Remaja

Tidak seperti pada masa anak-anak dimana attachment selalu dikaitkan hanya dengan orangtua, attachment masa remaja seringkali terjadi dengan figur selain orangtua atau caregiver (Armsden & Greenberg, 1987). Bahkan, figur attachment lain ini dapat melebihi orangtua sebagai sumber intimasi dan dukungan (Sigelman, 1999).

Namun, meskipun peer telah menjadi role model, sahabat dan orang terdekat, mereka tetap menganggap orangtua sebagai basis keamanan (Papalia, 2009). Rasa aman dibutuhkan remaja saat berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih independen dan memiliki otonomi (Kobak, Cole,Ferenz-Gillies, Fleming, & Gamble 1993).

Attachment pada masa remaja merupakan kesinambungan (continuity) dari attachment yang dikembangkan oleh anak dengan pengasuh selama masa awal kehidupan dan akan trus berlanjut sepanjang rentang kehidupan (Cassidy dalam Tyas, 2010). Pada masa remaja, figur attachment banyak memainkan peran penting adalah teman sebaya (peer) dan orang tua (Santrock, 2003).

Keberadaan peer juga didukung dengan fakta masa remaja awal yang dikarakteristikkan sebagai masa peningkatan terjadinya konflik antara orangtua dan remaja dibandingkan dengan masa anak-anak dan akan menurun dimasa remaja akhir (Montemayor, 1983).

Sullivan (dalam Santrock, 2003) menyatakan bahwa melalui interaksi teman sebaya lah anak-anak dan remaja belajar mengenai pola hubungan dan timbal balik dan setara. Anak- anak menggali prinsip-prinsip kejujuran dan keadilan dengan cara mengatasi ketidaksetujuan dengan teman sebaya, mereka juga belajar untuk mengamati dengan teliti minat dan pandangan teman sebaya dengan tujuan untuk memudahkan proses penyatuan dirinya ke dalam aktivitas teman sebaya yang sedang berlangsung.

Kualitas Attachment

Kualitas attachment diartikan dengan sensitivitas dan responsivitas figur attachment dalam bertingkah laku dan berinteraksi dengan individu tersebut (Ainsworth, Bell, & Stayton, 1974 dalam Ramdhana, 2013). Menurut Armsden dan Greenberg (dalam Barrocas, 2009) ada tiga aspek dari kualitas attachment yaitu :

  • Komunikasi (communication)
    Adanya komunikasi yang baik maka akan menciptakan ikatan emosional yang kuat antara orangtua dan anak. Pada remaja, aspek komunikasi ditunjukkan dengan adanya ungkapan perasaan, teman sebaya menanyakan permasalahan yang dihadapi individu, meminta pendapat teman sebaya dan teman sebaya membantu individu untuk memahami dirinya sendiri.

  • Kepercayaan (trust)
    Kepercayaan didefinisikan sebagai perasaan aman dan keyakinan bahwa orang lain akan membantu atau memenuhi kebutuhan individu. Kepercayaan dapat muncul saat hubungan terjalin dengan kuat.

    Kepercayaan pada figur attachment merupakan proses pembelajaran dimana ini akan muncul setelah adanya pembentukan rasa aman melalui pengalaman- pengalaman secara konsisten kepada individu. Kepercayaan juga merupakan kualitas penting dalam suatu hubungan kelekatan dengan teman sebaya.

  • Keterasingan (alienation)
    Keterasingan erat kaitannya dengan penghindaran dan penolakan. Ketika seseorang merasa atau menyadari bahwa figur tidak hadir, maka akan berakibat pada buruknya attachment yang dimilki oleh individu.

    Konsep pengukuran kualitas Attachment yang diajukan oleh Armsden dan Greenberg tidak bertujuan untuk mengelompokkan individu kedalam suatu kelompok attachment tertentu, melainkan hanya melihat kualitas attachment berdasarkan tinggi atau rendah.

Dalam hubungan bayi dengan orangtua, bayi mulai menyadari orangtua atau pengasuhnya dan mengantisipasi tingkah laku mereka. Bowlby dan Ainsworth merupakan yang pertama mengelaborasikan hubungan pada masa awal ini , mereka memandang bayi cenderung secara biologis menggunakan para pengasuhnya, terutama sang Ibu sebagai “haven of safety “ dan sebagai “secure base” dalam mengeksplorasi lingkungan.

Attachment Behaviors menurut Bowlby (1969,1982 dan Ainsworth, 1978 dalam Cassidy, 1999) merupakan suatu tingkah laku yang ditunjukkan oleh bayi kepada orang tuanya. Perilaku yang dinamakan attachment behaviors ini adalah perilaku anak yang menangis, mendekati, mencari kontak dan berusaha untuk mempertahankan kontak pada orangtuanya ketika anak sedang mencari kenyamanan atau ketentraman.

John Bowlby (1969, 1973, 1980 dalam Cassidy, 1999) mengembangkan konsep attachment melalui observasi cara bayi dan anak kecil hingga umur dua tahun berinteraksi dengan Ibunya. hasil observasi Bowlby yaitu inti dari hubungan ibu dengan anaknya dapat dilihat dari bagaimana mereka berespon pada suatu situasi eksperimen yang dinamakan “strange situation” dimana sang Ibu meninggalkan anaknya di suatu ruangan bermain yang asing. berdasarkan dari eksperimen yang dilakukan Bowlby ini ditemukan empat pola attachment style.

Terdapat beberapa definisi lain mengenai attachment yaitu :

  • Suatu ikatan emosional yang melibatkan keinginan untuk mencari dan mempertahankan kedekatan dengan orang tertentu, terutama dalam keadaaan sulit. suatu sistem yang menyediakan adanya rasa aman, perlindungan dan keselamatan. (Carruth, 2006: 72).
  • Sebuah ikatan yang kuat dan berlangsung lama yang secara biologis berasal dari fungsi untuk melindung dari bahaya. (Wilson, 2001 dalam Carruth, 2006: 72)

Jenis Attachment Style

Terdapat perbedaan kualitas hubungan pada setiap individu yang dikategorikan menjadi dua jenis yaitu secure attachment dan insecure attachment (Ainsworth, 1972; Ainsworth dkk, 1978; Bowlby, 1973 dalam Cassidy, 1999)

Istilah secure atau insecure ini menjelaskan mengenai persepsi bayi terhadap ketersediaan pengasuhnya ketika munculnya keperluan akan suatu kenyamanan dan keamanan, dan istilah – istilah tersebut merupakan suatu kumpulan respon bayi terhadap pengasuhnya yang mendasari persepsi – persepsi akan ketersediaan pengasuh.

1. Secure Attachment

Secure attachment didefinisikan oleh Ainswroth, Blehar, Waters dan Wall (1978 dalam Cassidy, 1999) sebagai suatu keadaan dimana tidak adanya masalah dalam perhatian dan ketersediaan pengasuh. Adanya perasaan aman dalam hubungan dengan figur kedekatannya mengindikasikan bahwa bayi dapat mengandalkan pengasuh sebagai sumber yang tersedia untuk kenyamanan dan keamanan ketika dibutuhkan.

Secure attachment membantu bayi dalam mengeksplorasi dunia dan memperluas pengetahuannya akan lingkungan, karena dengan mengajarkan bayi bahwa ketika proses eksplorasi tidak berjalan terlalu baik maka bayi dapat mengandalkan pengasuhnya untuk menghilangkan rasa takutnya. Bayi dengan secure attachment percaya akan adanya ketersediaan pengasuh yang sensitif dan responsif dan sebagai hasilnya bayi akan berani untuk berinteraksi dengan dunia.

Bayi yang diklasifikasikan secure dapat menjadikan pengasuhnya sebagai secure base dalam bereksplorasi. Dalam menghadapi perpisahan, merupakan hal yang memungkinkan bahwa bayi akan memperlihatkan kesedihan secara terbuka dan bermain dapat menjadi cara untuk mengurangi kesedihan tersebut.

Bayi yang secure bersikap ramah terhadap orang asing, dan dapat juga merasa nyaman dengan orang asing selama masa perpisahan tetapi tetap saja terdapat suatu keinginan akan kenyamanan dari pengasuhnya yang lebih jelas. Ketika pada masa bertemu kembali dengan pengasuhnya, bayi yang secure akan mencari kedekatan atau kontak dengan pengasuh, bayi akan mempertahankan kontak selama dibutuhkan.

Meskipun bayi sedang tidak sedih, sebagian besar bayi secure cukup responsif pada kembalinya pengasuh, akan menyambut dengan senyum, mengeluarkan suara – suara dan memulai suatu interaksi.

Secure Attachment akan terbentuk apabila anak mendapatkan perlakuan yang hangat, konsisten dan responsif dari pengasuh.

Kepribadian anak yang secure ketika dewasa akan lebih mudah untuk mengungkapkan kekurangan – kekurangan dalam dirinya (Cassidy, 1988 dalam Cassidy, 1999). Selain itu juga anak yang secure akan lebih mengingat masa – masa kecilnya yang menyenangkan (Belsky, Spritz dan Crnic, 1996 dalam Cassidy, 1999)

Attachment style juga selalu dikaitkan dengan romantic attachment styles yaitu dimana secure attachment dalam suatu hubungan akan didasari dengan kepercayaan, kepuasan, komitmen dan kemandirian (Levy dan Davis, 1988 dan Davis, 1990 dalam Cassidy 1999)

2. Insecure Attachment

Bayi yang memiliki insecure attachment tidak mengalami ketersediaan dan kenyamanan dari pengasuh yang konsisten ketika merasakan adanya ancaman. Keinginan akan perhatian tidak diatas dengan perhatian yang konsisten (Ainsworth dkk 1978, Bowlby, 1973 dalam Cassidy, 1990).

Dampak dari pengalaman semacam itu menghasilkan bayi menjadi cemas akan ketersediaan pengasuhnya, rasa takut akan tidak adanya respon atau respon yang tidak efektif ketika dibutuhkan. Mereka juga dapat menjadi marah pada pengasuhnya karena kurangnya respon kepada mereka. Bowlby (1973 dalam Cassidy, 1999) berspekulasi bahwa kemungkinan berkembangnya reaksi marah pada bayi dikarenakan reaksi tersebut sebagai bentuk hukuman karena tidak responsifnya pengasuh dan kemungkinan reaksi tersebut sengaja dilakukan untuk mendorong pengasuh untuk lebih responsif.

Attachment yang dialami oleh seseorang di masa kecilnya akan berpengaruh kepada kepribadian di masa dewasanya. Kepribadian anak yang insecure di masa depannya akan tidak mudah untuk mengungkapkan kekurangan-kekurangan dalam dirinya (Cassidy, 1988 dalam Cassidy, 1999 ).

Dan selain itu anak yang insecure akan lebih mengingat memori-memori yang tidak menyenangkan di masa kecilnya (Belsky, Spritz dan Crnic, 1996 dalam Cassidy, 1999)

Kemudian attachment style selalu bekaitan dengan romantic relationship dimana insecure attachment akan memiliki hubungan yang kurang kepercayaan, kepuasan, sulit berkomitmen dan sering bergantung pada pasangannya. (Levy&Davis, 1988 dan Simpson, 1990, dalam Cassidy, 1999)

Terdapat tiga bentuk attachment yang tergolong juga dalam insecure attachment yaitu avoidant, ambivalent dan disorganized. (Main & Solomon, 1990 dalam Cassidy, 1999)

  • Avoidant
    Bayi yang tergolong sebagai avoidant dengan pengasuhnya biasanya terokupasi pada mainan ketika sedang ada pengasuh. Bayi cenderung untuk tidak menunjukkan rasa berbagi yang efektif seperti tersenyum atau menunjukkan mainan pada pengasuh, meskipun bayi terkadang membutuhkan pengasuh hanya sebagai bantuan dalam alat – alat bermain (Waters, Wippman, dan Sroufe, 1979 dalam Parkes, 1993).

    Dalam masa perpisahan bayi cenderung tidak menjadi sedih meskipun kesedihan akan muncul ketika sedang sendiri. Bayi dengan hubungan avoidant ketika berhadapan dengan orang asing akan memperlakukan mereka sama seperti bayi memperlakukan pengasuhnya bahkan pada beberapa kasus bayi lebih responsif pada orang asing.

    Ketika bayi bertemu kembali dengan pengasuh, bayi yang avoidant menunjukkan tanda – tanda sikap acuh, tidak melihat pengasuh, atau melewati pengasuh tanpa ada pendekatan kepada pengasuh. Ketika diangkat oleh pengasuh, bayi yang avoidant tidak akan membuat suatu usaha untuk mempertahakan kontak.

  • Ambivalent
    Hubungan Ambivalent akan terbentuk apabila pengasuh yang tidak konsisten antara bersikap yang baik dan juga meninggalkan bayinya. Bayi dibesarkan dalam hubungan yang ambivalen menjadi terokupasi dengan keberadaan Ibunya dan tidak dapat menyelusuri lingkungannya secara bebas dan menganggap Ibunya sebagai tempat yang aman.

    Bayi mencari kedekatan dan kontak dengan pengasuh bahkan sebelum adanya perpisahan, dan waspada akan situasi tersebut dan orang asing. Ketika bertemu kembali dengan pengasuhnya bayi cenderung menginginkan kedekatan atau kontak dengan pengasuh tetapi tidak dapat tenang meskipun sudah mendapatkan kontak.

    Bayi yang ambivalen menunjukkan suatu kepasifan, terus menangis tetapi gagal untuk mencari kontak secara aktif. pada sebagian besar kasus, inti dari klasifikasi ini adalah mencari hubungan atau kontak, kemudian menolak kontak ketika telah didapatkan.

  • Disorganized
    Tingkah laku dan respon dari bayi yang disorganized merupakan gabungan dari bentuk avoidant dan ambivalent. Anak menampilkan tingkah laku yang tidak tentu ketika sedang bersama dengan pengasuhnya, anak bisa sangat responsif tapi juga menghindar dan terkadang melakukan kekerasan.

    Bentuk disorganized ini menurut Main dan Hesse (1990 dalam Cassidy, 1999) merupakan akibat dari perlakuan orangtua sebagai figur yang menakutkan dan juga figur yang menenangkan. Anak merasa takut dan juga menemukan kenyamanan sehingga hasilnya membingungkan dan terbentuklah perilaku ynag tidak teratur.

    Dalam penelitian ini hanya akan melihat secure attachment, avoidan attachment dan ambivalent attachment. Disorganized attachment tidak diteliti karena bentuk attachment ini tergolong bentuk perilaku yang dapat menuju kepada perilaku disorder.

Attachment adalah ikatan emosional yang dibentuk seorang individu dengan orang lain yang bersifat spesifik, mengikat mereka dalam suatu kedekatan yang bersifat kekal sepanjang waktu. Ainsworth (dalam Hetherington dan Parke, 2001)

Ainsworth menjelaskan bahwa hubungan attachment pada ibu sebagai salah satu hal penting dalam pembentukan hubungan dengan orang lain sepanjang kehidupan. Ia menyebutkan hal ini sebagai affectional bonds.

Affectional bonds yaitu ikatan yang secara relatif kekal dimana pasangan merupakan individu yang unik dan tidak dapat tergantikan oleh orang lain.

Hubungan ini ditandai dengan adanya kebutuhan untuk mempertahankan kedekatan, distress yang tidak dapat dipahami saat perpisahan, senang atau gembira saat bertemu, dan sedih saat kehilangan. Ikatan ibu-anak, ayah-anak, pasangan seksual, dan hubungan saudara kandung dan teman dekat adalah contoh affectional bonds (dalam Lemme, 1995).

Selain itu, Durkin (1995) menyatakan bahwa Attachment merupakan suatu hubungan yang didukung oleh tingkah laku lekat (attachment behavior) yang dirancang untuk memelihara hubungan tersebut. Cicirelli (dalam Lemme, 1995) mendefinisikan attachment sebagai suatu ikatan emosional antara dua orang; yang pada dasarnya untuk diidentifikasi, mencintai, dan memiliki hasrat dengan orang lain, dan merepresentasikan keadaan internal individu.

Tidak semua hubungan yang bersifat emosional atau afektif dapat disebut attachment.

Adapun ciri afektif yang menunjukkan attachment adalah: hubungan bertahan cukup lama, ikatan tetap ada walaupun figur lekat tidak tampak dalam jangkauan mata anak, bahkan jika figur digantikan oleh orang lain, dan kelekatan dengan figur lekat akan menimbulkan rasa aman (Ainsworth dalam Shaver & Mikulincer, 2004).

Attachment is an intimate and enduring emotional relationship between two people, such as infant and caregiver, characterized by reciprocal affection and a periodic desire to maintain physical closeness” (Desmita, 2006:120).

Definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kelekatan (attachment) adalah kecenderungan anak atau individu untuk mencari dan berusaha mempertahankan kedekatan hubungan fisik dan ikatan emosional yang kuat pada individu lain tertentu secara resiprokal (timbal balik) yang mempunyai nilai kelangsungan hidup bagi anak atau individu tersebut. Hal ini memungkinkan anak mempunyai perasaan aman, nyaman dan terlindungi.

Menurut Cassidy (dalam Wilson dan & Daveport, 2003), Bowlby membedakan tiga aspek attachment menjadi:

  • Attachment Behavior
    Attachment behavior atau perilaku attachment adalah tindakan untuk meningkatkan kedekatan pada figur lekat. Anak akan membuat kontak mata, menangis, atau membuat gesture (sikap tubuh) sebagai cara untuk mendekati orang tua mereka.

  • Attachment Bond
    Attachment bond merupakan suatu ikatan afeksi; ikatan ini bukan diantara dua orang, namun suatu ikatan yang dimiliki seorang individu terhadap individu lainnya yang dirasa lebih kuat dan bijaksana. Individu dapat melekat pada seseorang yang tidak terikat dengannya. Affectional bonds yaitu ikatan yang secara relative kekal dimana pasangan merupakan seseorang yang unik dan tidak dapat tergantikan oleh orang lain.

    Hubungan ini ditandai dengan adanya kebutuhan untuk mempertahankan kedekatan, distress yang tidak dapat dipahami saat perpisahan, senang atau gembira saat bertemu, dan sedih saat kehilangan. Ikatan ibu-anak, ayah-anak, pasangan seksual, dan hubungan saudara kandung serta teman dekat adalah contoh affectional bonds. Hubungan ini digerakkan oleh sistem perilaku tambahan, seperti reproduktif, pengasuhan, dan sociable system (Ainsworth, Greenberg, & Marvin dalam Lemme, 1995).

  • Attachment Behavioral System
    Attachment behavioral system merupakan suatu rangkaian perilaku khusus yang digunakan individu. Bowlby melihat bahwa attachment berakar dalam sebuah sistem yang disebut dengan attachment behavioral system yang ia yakini berkembang secara universal di semua spesies.

    Tujuan attachment system adalah untuk mencapai kedekatan antara orang tua dan anak, meningkatkan perlindungan dan kelangsungan hidupnya. Bowlby berpendapat bahwa attachment behavioral system memberikan sebuah fungsi evolusioner karena dapat menyarankan perlindungan anak yang bergantung pada orang dewasa demi keselamatan.

Bowlby juga menyatakan bahwa terdapat dua behavioral system lainnya yang berinteraksi dengan attachment behavioral system.

  • Pertama adalah exploratory behavioral system yang meningkatkan kelangsungan hidup karena rasa ingin tahu membantu anak untuk belajar dan beradaptasi pada lingkungan mereka. Sistem ini mengurangi perilaku attachment.

  • Kedua, fear behavioral system menunjukkan keamanan dan sebagai hasilnya, membentuk sistem attachment.

Cassidy menjelaskan beberapa hal mengenai teori attachment yaitu:

  1. Affectional bond hanya mengutamakan hubungan orang tua dan anak

  2. Anak akan mendemonstrasikan perilaku attachment dengan seorang yang tidak berada dalam attachment bond.

  3. Anak mengalami multiple attachment tapi kualitas affectional bond berbeda di masing-masing hubungan. Kualitas ikatan (bond) dipengaruhi oleh jumlah interaksi, kualitas pemberian kasih sayang, dan emosional yang ditanamkan oleh pengasuh.

Bowlby adalah tokoh pertama yang mengadakan penelitian dan mengemukakan teori mengenai teori kelekatan atau attachment, dan tetap menjadi dasar teori bagi penelitian-penelitian selanjutnya tentang attachment.

Bowlby mengemukakan bahwa attachment adalah ikatan emosional yang dimiliki anak ketika berinteraksi dengan figur tertentu, dimana anak menginginkan kedekatan dengan figur tersebut dalam situasi-situasi tertentu seperti ketika ketakutan dan kelelahan.

Hazan dan Shaver mengeksplorasi ide Bowlby mengenai attachment. Menurut Hazan dan Shaver ikatan emosional yang berkembang pada hubungan romantis dimasa dewasa memiliki fungsi yang sama dengan ikatan emosional antara anak dan pengasuhnya.

Cox (2001) menyebutkan attachment sebagai sebuah ikatan emosional yang kuat dengan orang lain.

Hendrick (2004) mendefinisiskan attachment sebagai sebuah bagian dari interaksi dengan pengasuhnya yang melibatkan kedekatan fisik, yang secara tak langsung juga kedekatan afeksi emosional.

Bowlby dan Ainsworth menambahkan attachment sebagai ikatan afektif yang terus menerus yang dikarakteristikan oleh kecendrungan untuk mencari dan memelihara kedekatan pada figure khusus, terutama ketika dibawah tekanan.

Attachment pada orang dewasa didefinisikan sebagai kecendrungan yang stabil pada individu untuk berusaha keras mencari dan memelihara kedekatan dengann seseorang atau orang tertentu yang memberikan potensi subjektif rasa aman dan terlindungi terhadap fisik ataupun psikis (Berman & Sperling).

Hendrick menambahkan attachment pada dewasa sebagai attachment romantic yang diartikan sebagai perilaku yang melibatkan kedekatan dan ikatan dengan seorang pasangan romantis.

Jenis-jenis Attachment


Setiap individu memiliki kelekatan dengan orang lain, tetapi setiap individu memiliki kualitas kelekatan yang berbeda. Ada individu yang cepat akrab dan dekat dengan orang baru, tidak malu untuk memulai suatu percakapan, jika memiliki pasangan akan merasa nyaman dan tenang dengan keberadaan pasangannya. Tetapi ada juga individu yang sulit untuk membina hubungan baru dengan orang lain, baik hubungan percintaan ataupun hubungan pertemanan. Individu seperti ini biasanya pemalu dan tidak pernah berani untuk mengekspresikan perasaannya. Ia juga biasanya merasa takut jika memiliki pasangan, ia akan merasa pasangannya akan memiliki prilaku tidak jujur kepadanya.

Ainsworth melakukan penelitian yang disebut dengan strange situation. Strange situation adalah meneliti kedekatan antara orang dewasa (ibu) dengan anaknya. Melalui penelitian ini didapatkan tiga attachment yaitu secure attachment, avoidant attachment dan ambivalent attachment.

  • Secure attachment

    Pada tipe kelekatan ini dijelaskan bahwa individu memiliki keluarga yang mendukung menjadi pribadi yang dapat dipercaya, hangat, orang tua yang bahagia, bisa mentolerir perpisahan dengan pasangan, dapat memberikan pasangan dukungan emosional ketika mereka membutuhkannya, secara umum bentuk positif hubungan romantis, mempercayai hubungan cinta romantic itu ada dan bisa berlangsung lama (Mischel dkk, 2004). Sekitar 56 % orang dewasa yang memiliki tipe secure attachment , ditemukan memiliki kepuasan paling besar dan paling berkomitmen terhadap hubungan disbanding dengan tipe attachment lain (Shaver dkk 2007).

  • Avoidant attachment

    Pada tipe attachment ini, individu dikatakan memiliki hubungan keluarga yang jauh, memiliki jarak emosional dengan orang tua, tidak merasa hangat, tidak dekat atau percaya pada orang tua, cenderung takut akan keintiman, sulit menemukan komitmen secara emosional, tidak dapat memberikan dukungan emosional yang tinggi pada pasangan, sinis terhadap cinta romantis dan meragukannya dapat berlangsung lama (Mischel dkk, 2004).

  • Ambivalent Atacchment

    Tipe attachment ambivalent dikatakan adalah individu yang memiliki hubungan romantis tapi tidak bertahan lama, mencemaskan, ketakutan akan takut kehilangan pasangan, siap dan ingin sekali mengganti diri untuk menyenangkan pasangan, tertekan dengan perpisahan dengan pasangan, mempercayai bahwa jatuh cinta itu mudah tapi tidak akan berlangsung lama (Micheel dkk, 2004)

Shaver dkk mempercayai bahwa orang lain tidak menginginkan kedekatan seperti yang diinginkannya, mereka khawatir pasangan mereka tidak benar-benar mencintainya dan akan meninggalkannya, mereka selalu menginginkan penggabungan yang utuh dengan orang lain yang terkadang membuat mereka ketakutan orang lain itu pergi, pengalaman mereka dalam cinta sering terobsesi dan ditandai oleh hasrat untuk menguasai, memiliki tingkatan tinggi pada ketertarikan seksual dan kecemburuan, biasanya hubungan mereka bertahan sekitar 6 tahunan, dan sekitar 19-20 % orang dewasa diidentifikasi sebagai tipe ambivalent attachment.

Penelitian akan teori attachment dalam konteks hubungan romantis dilakukan pertama kali oleh Hazan dan shaver. Mereka mengatakan bahwa hubungan romantis merupakan bagian dari pembentukan attachment. Mereka juga menemukan tiga tipe attachment yang terdapat pada individu dewasa berdasarkan sejarah pengalaman pengasuhan individu dimasa kecilnya dengan menggunakan self-report.

  • Secure attachment dimiliki oleh individu yang pada masa kanak-kanaknya memiliki hubungan akrab dengan kedua orang tua, ketika dewasa menjadi pribadi yang mudah bergaul, percaya diri, memiliki hubungan yang romantis dan penuh kasih dengan pasangannya.

  • Avoidance attahment, dimiliki oleh individu yang pada masa kanak-kanaknya sering mendapatkan perlakuan dingin, tidak bersahabat, bahkan penolakan dari ibunya, ketika dewasa mereka takut akan keintiman dengan pasangan dan kesulitan menerima kekurangan pasangan.

  • Ambivalent dimiliki oleh individu yang pada masa kanak-kanaknya memiliki pengalaman dengan ayah yang dipandang kurang adil, ketika dewasa menjadi individu yang kurang percaya diri, mudah jatuh cinta, tetapi sulit menemukan cinta sejati, penuh rasa ingin memiliki pasangan, penuh rasa cemburu, penuh dengan hasrat seksual dan emosional.

Sejalan dengan pemikiran Ainsworth mengenai attachment, Breenan, Clark, Shaver, Brayley dan Waller mengemukakan bahwa ketiga tipe attachment itu dapat dirangkum menjadi dua dimensi tipe attachment pada orang dewasa yaitu anxiety dan avoidance.

  • Pola attachment anxiety merupakan perasaan tentang keberhargaan dirinya (self-worth) berkaitan dengan seberapa tinggi individu merasa khawatir bahwa ia akan ditolak, ditinggalkan atau tidak dicintai oleh figur attachment atau sicgnificant other.

  • Pola attachment avoidant berkaitan dengan seberapa jauh individu membatasi intimasi dan ketergantungan pada orang lain. Dari dua dimensi tersebut dapat ditemukan empat macam pola attachment yang akan tergolong dengan sendirinya, yaitu antara lain secure (anxiety rendah & avoindance rendah) preoccupied (anxiety tinggi & avoidance rendah) fearful (anxiety tinggi & avoidance tinggi) dan dismissing (anxiety rendah & avoidance tinggi).

Bartholomew dan Horowitz berusaha mengembangkan penelitian mengenai attachment pada hubungan romantis dengan menggunakan metode wawancara (Mikulincer dan Shaver, 2007) dalam penelitian Bartholomew dan Horowitz, menemukan adanya perbedaan karakteristik individu yang tergolong memiliki tipe avoidant attachment. Individu yang diklasifikasikan kedalam pola avoidant attachment ternyata tidak merasa tertekan dalam hubungan romantis dan tidak menganggap penting hubungan romantis.

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Hazan dan Shaver yang menemukan bahwa individu dengan avoidant attachment merasa tertekan dalam hubungan romantis dan tidak tidak merasa nyaman ketika berhubungan dekat dengan orang lain. Perbedaan hasil dari karakteristik individu dewasa yang diklasifikasikan dalam pola avoidant attachment ini yang akhirnya mendorong penelitian-penelitian selanjutnya untuk menggali lebih dalam mengenai pola-pola attachment pada individu dewasa.

Barthlowomew dan Horowitz melanjutkan penelitian mengenai tipe attachment pada hubungan romantis dewasa. Mereka melakukan penelitian berdasarkan pandangan akan working models of attachment yang dikemukakan oleh Bowlby. Mereka mengemukakan bahwa working model of attachment terdiri dari dua dimensi yang melandasi pola-pola attachment pada individu dewasa, yang terdiri dari:

  1. Model of self, yang menggambarkan penilaian akan seberapa berharganya diri sehingga memunculkan harapan bahwa orang lain akan memberi respon terhadap mereka secara positif.

  2. Model of others yang menggambarkan penilaian seberapa orang lain dapat dipercaya dan diharapkan untuk memberikan dukungan dan perlindungan yang dibutuhkan.

Carruth (2006) mengatakan bahwa Attachment atau kelekatan merupakan suatu ikatan emosional yang melibatkan keinginan untuk mencari dan mempertahankan kedekatan dengan orang tertentu, terutama dalam keadaan sulit. Suatu sistem yang menyediakan adanya rasa aman, perlindungan dan keselamatan.

Wilson dalam Carruth (2006) berpendapat bahwa aatachment adalah sebuah ikatan yang kuat dan berlangsung lama yang secara biologis berasal dari fungsi untuk melindungi dari bahaya.

Santrock (1998), Attachment adalah ketertarikan ( connectedness ).

Pennington (1998), Attachment dapat didefinisikan sebagai kekuatan, keterikatan, cinta, dan perawatan orang tua dengan anak.

Erickson & Freud dalam Marrison (2002) menyatakan bahwa Attachment sebagai dasar dari segala hubungan sosial.

Fungsi dan Manfaat Attachment

Menurut Davies (1999), Attachment memiliki 4 fungsi utama, yakni:

  1. Memberikan rasa aman
    Ketika individu berada dalam keadaan penuh tekanan, kehadiran figur Attachment dapat memulihkan perasaan individu untuk kembali keperasaan aman.

  2. Mengatur keadaan perasaan
    Kemampuan figur Attachment untuk membaca perubahan keadaan individu, dapat membantu mengatur arousal dari individu yang bersangkutan. Arousal adalah suatu perubahan keadaan subjektif seseorang yang disertai reaksi fisiologis tertentu. Apabila peningkatan arousal tidak diikuti dengan relief (pengurangan rasa takut, cemas, atau sakit) maka individu akan menjadi rentan untuk mengalami stres.

  3. Sebagai sarana ekspresi dan komunikasi
    Attachment yang terjalin antar individu dengan figur Attachment -nya dapat berfungsi sebagai tempat mengekspresikan diri, berbagi pengalaman dan perasaan yang sedang dialami.

  4. Sebagai dasar untuk melakukan eksplorasi pada lingkungan sekitar
    Pada dasarnya Attachment dan perilaku eksploratif berjalan secara bersamaan. Individu yang mengalami secure Attachment akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya ataupun suasana yang baru karena individu mempunyai keyakinan bahwa figur Attachment -nya sungguh-sungguh bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu atas dirinya

Istilah kelekatan pertama kali dikemukakan oleh seorang psikolog yang berasal dari Inggris, yaitu John Bowlby pada tahun 1958. Bowlby meyakini pentingnya ikatan antara bayi dan orang tuanya dan memperingatkan untuk menghindari perpisahan antara ibu dan bayi tanpa memberikan pengasuh pengganti yang baik. Kelekatan adalah timbal balik yang bertahan antara dua orang, terutama bayi dan pengasuh, yang masing-masing berkontribusi kepada kualitas hubungan (Papalia, Olds, & Feldman 2009).

Kelekatan merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan oleh anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, dalam hal ini biasanya orang tua (Mc Cartney & Dearing, 2002). Hal tersebut serupa dengan pendapat Herbertbahwa kelekatan mengacu pada ikatan individu satu dengan individu lain, sifatnya adalah hubungan psikologis yang spesifik serta mengikat seseorang dengan orang lain dalam ruangan dan rentang waktu tertentu (Desmita, 2005).

Menurut Bowlby (1951) diacu dalam Damon (1998), teori kelekatan merupakan kombinasi beberapa teori yaitu :

  1. Teori etologi menyatakan adanya kesamaan tingkah laku sejak lahir pada semua jenis spesies yang berasal dari faktor biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Tingkah laku mengekor/imprinting merupakan mekanisme yang kuat dalam keterikatan seorang terhadap ibunya. Tingkah laku mengekor ini sama dengan yang dilakukan bayi yang disebut kelekatan.

  2. Teori evolusi biologi menyatakan bahwa kelekatan timbul dari beberapa tipe sistem perilaku untuk bertahan sebagai adaptasi biologi sehingga memotivasi anak untuk mencari orang dewasa di dekatnya untuk menjadi pelindung sehingga memberikan rasa aman, khususnya saat keadaan tertekan dan bahaya. Sistem perilaku ini menentukan perilaku eksplorasi.

  3. Teori kontrol sistem menyatakan bahwa perilaku kelekatan adalah sesuatu cara mencari perlindungan pada pengasuhnya dengan cara memberikan sinyal menangis, merangkak, melekat dan cara lain. Kelekatan merupakan perkembangan anak dalam mempelajari pemahaman sosial.

Gaya kelekatan


Menurut Bartholomew gaya kelekatan adalah kecenderungan perilaku lekat individu yang terdiri dari dimensi positif dan negatif pada dua sikap dasar, yaitu sikap dasar mengenai self dan sikap dasar mengenai orang lain (Baron & Byne, 2003). Ainsworth (1979) berpendapat bahwa terdapat tiga tipe gaya kelekatan, yaitu:

  1. Secure attachment style
    Seseorang dengan secure attachment style (gaya kelekatan aman) memiliki self esteem yang tinggi dan positif terhadap orang lain, sehingga ia mencari kedekatan interpersonal dan merasa nyaman dalam hubungan. Seseorang yang mempunyai gaya kelekatan aman dengan ibunya akan menangis atau protes ketika ibu mereka meninggalkannya dan menyambutnya dengan tenang ketika ibunya kembali. Mereka menggunakan ibu mereka sebagai dasar rasa aman mereka. Mereka biasanya kooperatif dan relatif bebas dari rasa marah (Papalia, Olds,& Feldsman, 2009).

  2. Avoidant attachment (kelekatan menghindar)
    Seorang anak dengan kelekatan menghindar jarang menangis ketika ditinggalkan ibunya, tetapi ketika ibunya kembali dia akan menghindarinya. Mereka akan cenderung marah dan tidak mencoba menghampiri ibunya ketika mereka membutuhkan sesuatu (Desmita, 2005).

  3. Ambivalent resistant attachment (kelekatan ambivalen resistan)
    Seorang anak dengan kelekatan ambivalen akan cemas sebelum ibu meninggalkannya dan akan sangat marah ketika ditinggalkan oleh ibunya. Dan ketika ibunya kembali, dia akan mencari dan menolak kontak.

Sedangkan Main & Solomom (Papalia, Old, Feldman, 2009) menemukan pola kelekatan keempat, yaitu disorganized-disoriented attachment (kelekatan tidak teratur-tidak terarah). Seseorang dengan pola ini tampak tidak memiliki strategi yang terorganisasi untuk menghadapi stres pada situasi asing. Sebaliknya, mereka menunjukkan tingkah laku yang tidak terarah dan berulang (mencari kelekatan dengan orang asing, tidak dengan ibunya). Pola ini paling banyak dialami oleh anak yang ibunya tidak sensitif, terganggu, atau cenderung menyakiti dan mengalami kehilangan yang belum tersembuhkan.

Aspek-aspek kelekatan


Bowlby (Bretherton, 1992) menjelaskan terdapat dua aspek kelekatan, yaitu:

  1. Kepuasan
    Kepuasan dalam hal ini dapat diartikan dengan adanya rasa puas anak terhadap pemberian figur lekatnya.

  2. Kenyamanan
    Kenyamanan dapat berupa adanya rasa nyaman yang dirasakan anak terhadap figure lekatnya.

Selain itu, Ainsworth ( Bretherton, 1992) mengungkapkan bahwa aspek dalam kelekatan adalah kepuasan. Anak akan mencintai ibunya apabila ibunya dapat memenuhi kebutuhannya.

Bakermans, Ijzendoorn, & Juffer ( Boldt, Kochanska, Grekin, & Brock, 2017) mengemukakan beberapa aspek kelekatan, yaitu:

  1. Responsivitas
    Responsivitas dapat berupa bagaimana kedua belah pihak baik figur lekat maupun anak dalam menanggapi stimulus-stimulus yang diberikan.

  2. Sensitivitas
    Sensitivitas atau kepekaan figur lekat dapat berupa seberapa besar kepekaan figur lekat terhadap kebutuhan anak.

  3. Kepedulian
    Kepedulian dapat berupa seberapa peduli figur lekat terhadap kebutuhan anak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelekatan


Menurut Baradja (2005) ada beberapa faktor yang mempengaruhi kelekatan seseorang dengan figur lekatnya, yaitu:

  1. Adanya rasa puas seorang anak pada pemberian figur lekat. Misalnya ketika anak membutuhkan sesuatu, maka figur lekatnya mampu untuk memenuhi kebutuhan itu.

  2. Terjadi reaksi atau merespon setiap tingkah laku yang menunjukkan perhatian. Misalnya seorang anak melakukan tingkah laku untuk mencari perhatian guru, dan guru bereaksi atau meresponnya, maka anak akan memberikan kelekatannya pada guru tersebut.

  3. Seringnya figur lekat melakukan proses interaksi dengan anak, maka anak akan memberikan kelekatan padanya. Misalnya, seorang guru yang selalu berinteraksi dengan anak yang tinggal di asrama pesantren. Semakin sering ia berinteraksi dan mendengarkan keluhan si anak, maka anak akan memberikan kelekatan padanya.

Selain itu, menurut Seibert & Kerns (2009), ciri-ciri suatu kelekatan adalah anak akan stress dan mengalami kesusahan, bahkan menangis saat dipisahkan dengan figur lekatnya.

Sedangkan Ardiani menjelaskan faktor yang mempengaruhi kelekatan antara lain:

  1. Faktor Kesusahan
    Kerns (Moss et al, 2009) mengatakan bahwa masa kanak-kanak menengah merupakan waktu yang aktif dalam mencari kelekatan terhadap seseorang yang dapat mengurangi kesusahannya. Hal ini dapat terlihat pula ketika seorang anak Taman Kanak-Kanak yang mendekat dan mempercayai gurunya karena mereka merasa gurunya dapat membantu kesulitannya untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

  2. Faktor Keamanan
    Zimmerman (Moss, et al, 2009) mengatakan bahwa meskipun kelekatan antara anak dan orang tua tidak bisa digantikan dengan yang lain, tapi tidak menutup kemungkinan jika model internal dalam pengaturan diri lebih adaptif jika anak merasa tidak aman. Misalnya, seorang anak yang menunjukkan kelekatan kepada kakaknya. Hal tersebut dapat terjadi jika anak mendapatkan rasa aman dari kakaknya.

  3. Faktor mengandalkan
    Mayseless (Seibert & Kerns, 2009) mengatakan kanak-kanak cenderung mengandalkan kelekatan pada figur yang berbeda untuk situasi yang berbeda pula. Misalnya, anak mungkin perlu bergantung pada orang lain, seperti teman, saudara, atau guru untuk memenuhi kebutuhan kelakatan mereka ketika mereka tidak mendapat akses kepada figur lekat mereka yang utama.

Ainsworth dan Bell ( Redshaw & Martin, 2013) juga pernah berpendapat bahwa kualitas hubungan antara orang tua dan akan dapat ditunjukkan pada saat anak ditekan dengan kehadiran orang asing dan ketidak hadiran pengasuhnya, dalam hal ini biasanya adalah ibu.

Referensi

John Bowlby, seorang psikolog dari Inggris mengemukakan istilah kelekatan ( attachment ) untuk pertama kalinya. Kelekatan disebut juga dengan tingkah laku yang khusus pada manusia, yaitu kecenderungan dan keinginan seseorang untuk mencari kedekatan dengan orang lain dan mencari kepuasan dalam hubungan dengan orang tersebut.

Menurut Monks, kelekatan adalah mencari dan mempertahankan kontak dengan orang-orang yang tertentu saja. Orang pertama yang dipilih anak dalam kelekatan adalah ibu (pengasuh), ayah, atau saudara-saudara dekatnya. Sedangkan menurut Santrock, kelekatan adalah ikatan emosional yang erat diantara dua orang .

Kelekatan ini akan bertahan cukup lama dalam rentang kehidupan manusia yang diawali dengan kelekatan anak pada ibu atau figur lain pengganti ibu. Pengertian ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Anisworth bahwa kelekatan adalah ikatan emosional yang dibentuk seorang individu yang bersifat spesifik, mengingat mereka dalam suatu kedekatan yang bersifat kekal sepanjang waktu. Kelekatan merupakan suatu hubungan yang didukung oleh tingkah laku lekat ( attachment behavior ) yang dirancang untuk memelihara hubungan tersebut.

Ciri-ciri seorang anak dapat dikatakan lekat pada orang lain jika mempunyai kelekatan fisik dengan seseorang, menjadi cemas ketika berpisah dengan figur lekat, menjadi gembira dan lega ketika figur lekatnya kembali, dan orientasinya tetap pada figur lekat walaupun tidak melakukan interaksi. Anakmemperhatikan gerakan, mendengarkan suara dan sebisa mungkin berusaha mencari perhatian figur lekatnya.

Ervika mengelompokkan variasi kelekatan dalam dua bentuk :

  • Signaling behavior . Efek dari tingkah laku ini adalah mendekatnya ibu pada anak. Tingkah laku ini sebetulnya bagi anak diharapkan untuk mendapatkan dan meningkatkan kedekatan dengan ibu. Kondisi anak dan pengaruhnya terhadap tingkah laku ibu (maternal behavior) berbeda-beda, misalnya, anak menangis (signaling behavior) maka ibu akan datang dan menggendong (maternal behavior). Ada beberapa bentuk tingkah laku yang termasuk signaling behavior, antara lain:

    • Menangis, timbul dari kondisi yang berbeda-beda, begitu pula intensitas dan ritmenya. Maccoby mengatakan ada tiga macam tangisan, yaitu tangis takut, tangis lapar dan tangis sakit.Tangis takut timbul secara mendadak, keras dan diikuti keheningan yang cukup panjang saat bayi menarik nafas. Tangis sakit biasanya juga terjadi secara mendadak dan banyak terjadi pada anak-anak. Tangis lapar terjadi saat anak merasa perutnya lapar, dimulai dengan tangisan biasa dengan durasi sekitar 0,6 detik diikuti dengan keheningan singkat sekitar 0,2 detik, bunyi nafas pendek 0,1-0,2 detik dan diikuti periode istirahat singkat.

    • Tersenyum dan Meraban. Tingkah laku ini efektif berpengaruh pada tingkah laku ibu setelah bayi berusia empat minggu. Tingkah laku ini muncul saat bayi bangun dan sadar serta merasa senang, artinya bayi tidak sedang sakit, lapar dan sendirian. Respon ibu terhadap respon anak biasanya tersenyum kembali, berbicara, membelai, menepuk, mengangkat dan menunjukkan kebahagiaan diantara mereka. Tingkah laku ini disebut maternal loving behavior dan merupakan salah satu bentuk tingkah laku bertujuan pada anak. Adapun tujuannya adalah mendapatkan reaksi dari ibu, dalam hubungannya dengan tingkah laku lekat tujuannya adalah agar kelekatan anak dengan figur lekat semakin besar dan dapat dipertahankan.

    • Tanda acungan tangan ( gesture raised arms ), kemampuan bayi untuk mengangkat tangan saat ibu berada didekatnya munculsaat bayi berusia enam bulan. Anak selalu mengartikan isyarat ibu dengan mengangkat anak sehingga anak mengacungkan kedua tangannya. Acungan tangan ini oleh ibu diartikan bahwa anak ingin diangkat dan direspon dengan menggendong anak. Sikap ini banyak ditunjukkan anak yang telah dapat merangkak atau sedang belajar berjalan.

    • Mencoba menarik perhatian, perilaku ini dapat dilihat sebagai salah satu pernyataan perasaan dekat anak dan ibu. Hasil penelitian Shirley menunjukkan bahwa setengah dari bayi yang ditelitimenunjukkan tingkah laku ini pada usia 32 minggu, bayi lain menunjukkannya pada usia 34 minggu. Anak-anak yang berada pada batas usia ini biasanya selalu berusaha mencari perhatian dan tidak akan puas sebelum mereka mendapatkannya.

  • Approaching behavior . Tingkah laku ini menyebabkan anak mendekat pada ibu, hal ini membuktikan bahwa seseorang itu mempunyai kecenderungan untuk selalu dekat dengan orang lain.Tingkah laku ini dinamakan tingkah laku lekat jika bayi hanya menujukan perilaku ini pada orang-orang tertentu dan tidak pada orang lain. Ada beberapa kategori tingkah laku yang termasuk dalam approaching behavior, yaitu:

    • Mendekat dan mengikuti. Perilaku ini muncul saat bayi berusia delapan bulan, yaitu pada saat timbulnya kemampuan lokomosi pada bayi. Anak akan berusaha menyesuaikan gerakannya dengan figur lekat dalam rangka mencari atau mempertahankan kedekatan dengan figur lekatnya. Saat kemampuan kognisi muncul, anak tidak hanya mendekati, namun anak akan berusaha mencari.

    • Clinging. Tingkah laku ini berupa gerakan memeluk ibu apabila terjadi kontak yang sangat dekat dan sangat kuat pada anak yang berusia empat tahun, pada saat tingkah laku lekat memuncak karena adanya tanda bahaya atau reunion setelah perpisahan singkat. Clinging muncul pada situasi khusus seperti saat anak gelisah, takut khawatir atau merasa terancam rasa amannya.

    • Menghisap. Hinde melakukan observasi dan menyimpulkan bahwa tingkah laku lekat tidak hanya menggunakan anggota tubuh tetapi juga mulut untuk menghisap dengan kuat puting susu ibunya. Berdasarkan hasil observasi tersebut disimpulkan bahwa nipple grasping dan sucking mempunyai dua fungsi, yaitu mendapatkan makanan sesuai kebutuhan bayi; dan merupakan salah satu bentuk tingkah laku lekat yang disebut non nutricial sucking, perilaku ini ditemukan anak yang menghisap dot, ibu jari atau tingkah laku menghisap yang kadang muncul saat anak tidak memerlukan makanan. Tingkah laku ini membuat bayi merasa relaks, oleh karena itu tingkah laku ini merupakan bagian tingkah laku lekat dan mempunyai unsur kedekatan dengan ibu.

Istilah Attachment untuk pertama kalinya dikemukakan oleh seorang psikolog dari Inggris pada tahun 1958 bernama John Bowlby. Kemudian formulasi yang lebih lengkap dikemukakan oleh Mary Ainsworth pada tahun 1969. Attachment merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua (Mc Cartney & Dearing, dalam Ervika, 2005).

Attachment Behaviors menurut Bowlby dan Ainsworth dalam Cassidy (1999) merupakan suatu tingkah laku yang ditunjukan oleh bayi kepada orang tuanya. Perilaku yang dinamakan Attachment behaviors ini adalah perilaku anak yang menangis, mendekati, mencari kontak dan berusaha untuk mempertahankan kontak dan berusaha untuk mempertahankan kontak pada orang tuanya ketika anank sedang mencari kenyamanan dan ketentraman.

John Bowlby dalam Cassidy (1999) mengembangkan konsep Attachment melalui observasi cara bayi dan anak kecil hingga umur dua tahun berinteraksi dengan ibunya. Hasil observasi Bowlby yaitu inti dari hubungan ibu dengan anaknya dapat dilihat dari bagaimana mereka berespon pada situasi eksperiment yang dinamakan “ strange situation ” dimana sang ibu meninggalkan anaknya disuatu ruangan bermain yang asing, berdasarkan dari eksperimen yang dilakukan Bowlby ini ditemukan empat pola Attachment.

Terdapat beberapa definisi lain mengenai Attachment yaitu:

  1. Carruth (2006) mengatakan bahwa Attachment merupakan suatu ikatan emosional yang melibatkan keinginan untuk mencari dan mempertahankan kedekatan dengan orang tertentu, terutama dalam keadaan sulit. Suatu sistem yang menyediakan adanya rasa aman, perlindungan dan keselamatan.

  2. Wilson dalam Carruth (2006) berpendapat bahwa aatachment adalah sebuah ikatan yang kuat dan berlangsung lama yang secara biologis berasal dari fungsi untuk melindungi dari bahaya.

  3. Santrock (1998), Attachment adalah ketertarikan ( connectedness ).

  4. Pennington (1998), Attachment dapat didefinisikan sebagai kekuatan, keterikatan, cinta, dan perawatan orang tua dengan anak.

  5. Erickson & Freud dalam Marrison (2002) menyatakan bahwa Attachment sebagai dasar dari segala hubungan sosial.

Attachment ditunjukkan kepada orang tertentu, yang disebut sebagai figur Attachment/significant others, yakni orang dengan siapa individu melekat. Jika orang tersebut ada ketika individu membutuhkan kenyamanan dan perlindungan, orang tersebut tentu akan lebih disukai. Jika orang itu menghilang dari kehidupan individu, maka ia akan merasa sangat rindu dan kehilangan.

Keberadaan dan sifat ikatan Attachment ditunjukan oleh tingkah laku Attachment, yang meliputi tingkah laku tingkah laku yang menyebabkan terpeliharanya kedekatan atau hubungan dengan beberapa orang tertentu yang disukai terutama saat individu merasa takut, cemas, sakit, lelah, tertekan, atau ketika ia membutuhkan perhatian dan perlindungan (Colin dalam Bee, 1994).

Fungsi dan Manfaat Attachment


Menurut Davies (1999), Attachment memiliki 4 fungsi utama, yakni:

  1. Memberikan rasa aman
    Ketika individu berada dalam keadaan penuh tekanan, kehadiran figur Attachment dapat memulihkan perasaan individu untuk kembali keperasaan aman.

  2. Mengatur keadaan perasaan
    Kemampuan figur Attachment untuk membaca perubahan keadaan individu, dapat membantu mengatur arousal dari individu yang bersangkutan. Arousal adalah suatu perubahan keadaan subjektif seseorang yang disertai reaksi fisiologis tertentu. Apabila peningkatan arousal tidak diikuti dengan relief (pengurangan rasa takut, cemas, atau sakit) maka individu akan menjadi rentan untuk mengalami stres.

  3. Sebagai sarana ekspresi dan komunikasi
    Attachment yang terjalin antar individu dengan figur Attachment -nya dapat berfungsi sebagai tempat mengekspresikan diri, berbagi pengalaman dan perasaan yang sedang dialami.

Sebagai dasar untuk melakukan eksplorasi pada lingkungan sekitar, pada dasarnya Attachment dan perilaku eksploratif berjalan secara bersamaan. Individu yang mengalami secure Attachment akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya ataupun suasana yang baru karena individu mempunyai keyakinan bahwa figur Attachment -nya sungguh-sungguh bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu atas dirinya.

Attachment mempunyai berbagai manfaat, yakni menumbuhkan perasaan trust dalam interaksi sosial di masa depan, membantu individu dalam menginterpretasi, memahami, dan mengatasi emosi-emosi negatif selama individu berada dalam situasi yang menekan dan juga menumbuhkan perasaan mampu (Vaughan & Hogg, 2002).

Jenis Attachment


Ainsworth menyampaikan bahwa pada dasarnya, Attachment yang terbentuk tidak berubah dan bersifat stabil dari masa kecil hingga dewasa sekalipun ditujukan pada figur Attachment yang berbeda (dalam Dwyer, 2000).

Terdapat perbedaan kualitas hubungan pada setiap individu yang dikategorikan menjadi dua jenis yaitu secure Attachment dan insecure Attachment (Bolbwy, 1973 dalam Cassidy, 1999).

  1. Secure Attachment
    Secure Attachment didefinisikan oleh Ainswort dkk (dalam Cassidy, 1999) sebagai suatu keadaan dimana tidak adanya masalah dalam perhatian dan ketersediaan pengasuh. Adanya perasaan aman dalam hubungan dengan figur kedekatannnya mengindikasikan bahwa bayi dapat mengandalkan pengasuh sebagai sumber yang tersedia untuk kenyamanan dan keamanan ketika dibutuhkan.

    Bayi dengan secure attacment percaya akan adanya ketersediaan pengasuh yang sensitif dan responsif dan sebagai hasil bayi akan berani untuk berinteraksi dengan dunia. Secure Attachment akan terbentuk apabila anak mendapatkan perlakuan yang hangat, konsisten dan responsif dari pengasuh.

    Kepribadian anak yang secure ketika dewasa akan lebih mudah untuk mengungkapkan kekurangan-kekurangan dalam dirinya (Cassidy, 1988). Selain itu juga anak yang secure akan lebih mengingat masa-masa kecilnya yang menyenangkan (Belsky dalam Cassidy 1999).

  2. Insecure Attachment
    Bayi yang mengalami insecure Attachment tidak mengalami ketersediaan dan kenyamanan dari pengasuh yang konsisten ketika merasakan adanya ancaman. Keinginan akan perhatian tidak diatas dengan perhatian yang konsisten (Ainswort dkk 1978, dalam Cassidy, 1990).

    Dampak dari pengalaman semacam itu menghasilkan bayi menjadi cemas akan ketersediaan pengasuhnya, rasa takut akan tidak adanya respon atau respon yang tidak efektif ketika dibutuhkan. Mereka juga menjadi marah pada pengasuhnya karena kurangnya respon kepada mereka.

Attachment yang dialami oleh seseorang dimasa kecilnya akan berpengaruh kepada kepribadian di masa dewasanya. Kepribadian anak yang insecure di masa depannya akan tidak mudah untuk mengungkapkan kekurangan-kekurangan dalam dirinya (dalam Cassidy, 1999). Dan selain itu anak yang insecure akan lebih mengingat memori-memori yang tidak menyenangkan di masa kecilnya (Belsky dalam Cassidy, 1999).

Perasaan secure dan insecure yang dimiliki seseorang tergantung dari internal working models of Attachment yang dimilikinya (Bowlby dalam Collins & Feeney, 2004). Working models of Attachment adalah representasi umum tentang bagaimana orang terdekatnya akan merespon dan memberikan dukungan setiap kali ia membutuhkan mereka dan bahwa dirinya sangat mendapat perhatian dan dukungan (Collins, 2004).

Working model dibentuk dari pengalaman masalalu individu dengan figur Attachment -nya, apakah figur merupakan orang yang sensitif, selalu ada, konsisten, dapat dipercaya dan sebagainya (Pietromonaco & Barret dalam Baron & Byne, 2000).

Berdasarkan konsep internal working model dari Bowbly maka Bartholomew menyatakan empat kategori tipe adult Attachment berdasarkan dua dimensi yaitu working model of self (seperti seberapa berharganya dirinya) dan working model of others (seperti seberapa besar orang lain dapat dipercaya).

Model of self (positif dan negatif) dan model of others (positif dan negatif) tersebut menciptakan empat jaringan sel. Seorang individu dapat dikategorikan kedalam salah satu dari keempat kategori tersebut. Keempat kategori tersebut adalah secure, dismissing, preoccupied, dan fearful.

Individu yang secure dikarakteristikkan dengan adanya perasaan nyaman terhadap intimasi dan kebebasan dan mempunyai working model yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Individu yang dismissing menghindari intimasi dimana hal tersebut akan menjadi ancaman bagi dirinya dan kebebasannya. Mereka mempunyai working model yang positif terhadap diri sendiri dan working model yang negatif terhadap orang lain.

Individu yang preoccupied adalah orang yang cemas dan berpegang teguh dalam membentuk hubungan, asyik dengan hubungan yang terbentuk tersebut, dan mempunyai working model yang negatif terhadap diri sendiri dan working model yang positif terhadap orang lain.

Individu yang fearful menghindari intimasi dimana mereka takut akan disakiti oleh orang lain atau perasaan sakit karena ditinggal oleh seseorang. Mereka mempunyai workingmodel yang negatif terhadap diri sendiri dan orang lain. Di bawah ini akan digambarkan adult Attachment style dari Bartholomew (dalam Baron, 2006).

Hubungan cinta dengan orang tuanya mungkin akan mempengaruhi caranya nanti dalam menjalin hubungan asmara pada masa dewasa (Reis dalam Taylor, 2009). Misalnya, anak yang mendapat perhatian baik mungkin akan lebih berprasangka baik terhadap orang lain. Keyakinan ini dikenal sebagai working model (model kerja) dari hubungan. Saat dewasa, orang ini mungkin juga menunjukan gaya ketertarikan yang kuat terhadap pasangannya dan menjalin hubungan yang bertahan lama dan memuaskan. Sebaliknya, anak yang merasakan keterikatan yang embivalen mungkin menjadi orang dewasa yang mencari cinta tetapi takut penolakan. Sedangkan anak yang kurangperhatian mungkin akan menjadi orang dewasa yang takut pada intimasi dan kurang percaya pada orang lain.

Ada banyak bukti bahwa gaya keterikatan mempengaruhi kualitas hubungan semantik orang dewasa (Collins & Feeney, 2004). Brennan dan shaver dalam Taylor (2009) meringkas studi yang menggambarkan pola tiga kelompok tersebut:

  • Secure Attachment. Orang dewasa dalam kelompok ini merasa nyaman dengan intimasi dan memandang diri mereka sebagai orang yang pantas menerima perhatian dan kasih sayang orang lain. Mereka mendeskripsikan diri mereka relatif mudah untuk akrab dengan orang lain dan jarang merasa diabaikan.

    Orang dewasa pada tipe ini mendeskripsikan hubungan cinta yang paling penting adalah kebahagiaan, persahabatan, dan saling percaya. Mereka cenderung berbagi ide dan perasaan dengan rekannya. Orang dewasa ini juga memandang orang tuanya secara positif sebagai pengasuh, adil dan penyayang, dan memiliki pernikahan yang bahagia (Brennan dan shaver dalam Taylor et al ., 2009).

  • Avoidant Attachment. Orang dewasa ini merasa kurang nyaman saat bersama orang lain atau kurang mempercayai pasangan asmaranya. Dalam mendeskripsikan hubungan cinta yang terpenting, orang dewasa ini menyebut pasang surut emosi, cemburu, dan ketakutan akan intimasi.

    Mereka cenderung menyangkal kebutuhan keterikatannya, memandang akhir hubungan romantis sebagai inkonseksual, dan lebih fokus kepada pekerjaan. Mereka lebih mementingkan independensi dan kemandirian. Mereka kurang terbuka pada partnernya dan cenderung menjalin hubungan seksual yang biasa saja (terutama di kalangan mahasiswa). Dibandingkan (Brennan dan shaver dalam Taylor et al ., 2009).

  • Anxious/ambuvalent Atachment. Orang dewasa tipe ini mencari intimasi tetapi mencemaskan cintanya tak terbalas orang yang ambivalen mendeskripsikan hubungan cinta yang terpenting sebagai obsesi, keinginan akan hubungan timbal balik, pasang surut emosional, dan daya tarik seksual yang ekstrim, serta kecemburuan.

    Mereka cenderung jatuh cinta pada pandangan pertama dan merasa kurang dihargai oleh pasangan romantis atau rekannya. Orang yang ambivalen cenderung mendeskripsikan orang tuanya sebagai intrusif dan pemaksa, dan menganggap perkawinan mereka kurang bahagia (Brennan dan shaver, dalam Taylor et al ., 2009).

Hubungan Attachment pada masa dewasa mempunyai kemiripan dengan hubungan yang terjadi pada masa kanak-kanak. Yang membedakannya adalah :

  • Pertama, figur Attachment pada masa dewasa muda berubah, orang tua bukanlah satu-satunya tempat untuk berlindung, berbagi dan mencurahkan kasih sayang. Figur Attachment orang dewasa biasanya lebih ditujukan pada sahabat, teman sebaya atau pasangannya, sedangkan pada masa kanak-kanak lebih terhadap pengasuhnya.

  • Kedua, orang dewasa lebih bisa mentoleransi keterpisahan dengan figur Attachment dibandingkan pada masa kanak-kanak (Weiss dalam Pratisthita, 2008). Lebih ditekankan lagi bahwa hubungan orang dewasa dengan figur Attachment nya memiliki hubungan yang lebih luas lagi seperti pertemanan, persahabatan, percintaan, pekerjaan dan sebagainya (Bowlby & Bretherton dalam Prathisthita, 2008).