© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Teori Interdependensi (Interdependence) dalam ilmu sosial?

Teori kesaling ketergantungan (interdependensi) lebih fokus pada analisis perilaku dari dua individu atau lebih yang berinteraksi satu sama lain. Ketika orang – orang berinteraksi, mereka akan saling mempengaruhi. Ketika dua orang saling mempengaruhi pemikiran, perasaan, atau perilaku masing – masing, mereka dikatakan saling berhubungan (interdependen).

Dalam term teknis interdependence berarti hasil yang diterima oleh seseorang akan bergantung setidaknya pada perilaku orang lain dan sebaliknya.

Apa yang dimaksud dengan Teori Interdependensi (Interdependence) dalam ilmu sosial?

Interdependence atau dalam bahasa indonesia adalah saling ketergantungan, dimana dalam sosial masyarakat, tiap individu mempunyai ketergantungan dengan individu lainnya.

Teori saling ketergantungan (interdependence theory) dari John Thibaut dan Harold Kelley (1978, 1959) ini memiliki kesamaan dengan teori pertukaran sosial, yakni keduanya mengkonsepkan interaksi antara costs dan benefits.

Kekhususan teori ini adalah :

  • Interdependence theory menjelaskan interaksi perilaku antara dua orang secara lebih rinci, khususnya dalam hal matriks perolehan (outcome matrix).

  • Di dalamnya terdapat konsep comparison level (standard perbandingan), yaitu standard/ukuran/patokan yang digunakan untuk mengevaluasi orang lain. Menurut teori ini orang membandingkan antara apa yang dicapai/diperoleh dalam relasi dengan apa yang menjadi harapannya.

Comparison level diperoleh berdasarkan pengalaman masa lampau. Relasi yang sekarang dianggap memuaskan hanya jika apa yang dicapai/diperoleh tingkatannya melebihi comparison level.

Catatan :

  • Comparison level ini dapat berubah-ubah sepanjang waktu. Misalnya, setelah lebih tua kita memiliki tuntutan yang lebih banyak dari suatu relasi bila dibanding waktu kita muda.
  • Comparison level juga dapat berubah tergantung situasi.
    Misalnya, perhitungan kita mengenai nilai perolehan (reward dikurangi costs) dapat sangat berbeda dalam hubungan kita dengan seorang dokter gigi dibanding dalam hubungan kita dengan seseorasng yang mencintai kita.

Teori interdependensi pertama kali diperkenalkan oleh Harold Kelley dan John Thibaut pada tahun 1959 dalam buku mereka Psikologi Sosial Kelompok, kemudian juga dalam buku kedua mereka yang berjudul Interpersonal Relations:. A Theory of Interdependensi.

Yanuar Ikbar (2007) mengartikan interdependensi adalah hubungan saling ketergantungan yang mana ada kekurangan dari masing-masing orang.Teori pertukaran social (interdependency theory) adalah salah satu pandangan tentang pertukaran social. Salah satu cara untuk mengonseptualisasikan interaksi ini adalah hasil (outcome) yang diberikan dan diterima orang lain.

Interdependensi sangat menekankan kehidupan sosial yang terdapat di dalamnya hubungan sosial yang bersifat kerja sama atau kooperatif. Kerja sama adalah suatu bentuk interaksi sosial yang terdapat di dalamnya upaya-upaya kolaboratif di antara pihak-pihak atau orang-orang yang ingin mencapai tujuan bersama (Persell, 1987).

Komponen-Komponen Teori Interdependensi

1. Outcome (Kepuasan)

Menurut teori interpedensi seseorang akan puas apabila hubungannya menguntungkan yakni jika manfaatnya lebih besar daripada biaya atau kerugiaannya (Rusbult, 1980&1983). Dampak kerugian dari suatu hubungan bervariasi. Bervariasinya akibat dari kerugian itu mungkin karena kaburnya konsep biaya dan pengorbanan. Biaya atau kerugian adalah kejadian yang di anggap tidak menyenangkan dimana biaya selalu dianggap negatif, sebaliknya pengorbanan selalu berkaitan dengan kesejahteraan orang lain.

Dalam suatu hubungan, terkadang ada situasi di mana pilihan terbaik untuk masing-masing pihak adalah berbeda. Ketika terjadi konflik kepentingan, satu pihak mungkin memutuskan untuk berkorban demi kebaikan partnernya atau demi menjaga hubungan.

Semakin komitmen seseorang pada hubungan, semakin besar kemungkinan orang tersebut bersedia untuk berkorban.

Dampak dari pengorbanan terhadap hubungan mungkin akan tergantung pada alasan seseorang melakukan pengorbanan. Dari alasan seseorang dalam melakukan pengorbanan tersebut kita dapat membedakan antara alasan untuk sebuah pendekatan atau cara seseorang melakukan penghindaran. Kadang orang berkorban demi seseorang untuk menunjukkan cinta dan perhatiannya, pengorbanan semacam ini yang bermotifkan untuk mendekati bisa menimbulkan rasa bahagia dan puas. Sebaliknya, terkadang orang berkorban demi menghindari konflik atau takut membahayakan hubungan, pengorbanan dengan motif penghindaran dapat menimbulkan perasaan gelisah dan amarah. Seyogyanya Pengorbanan mengesampingkan kepentingan diri demi kepentingan hubungan dan tidak dianggap sebagai sesuatu yang merugikan.

Menurut teori interdependensi, kepuasan hubungan dipengaruhi oleh level perbandingan. Seseorang akanpuas apabila suatu hubungan sesuai dengan harapan dan kebutuhannya. Salah satu cara untuk merasa puas adalah dengan mengatakan kepada diri sendiri bahwa keadaan orang lain lebih buruk ketimbangdirinya (Buunk, Oldersma, & De Dreu, 2001).

Persepsi keadilan mempengaruhi kepuasan. Bahkan jika suatu hubungan memberi banyak manfaat, mungkin orang akan tidak puas apabila orang tersebut yakin bahwa dirinya diperlakukan secara tidak adil. Dalam sebuah hubungan akan tidak puas apabila seseorang menganggap hubungan yang ada adalah berat sebelah. Demikian pula, dalam persahabatan dan cinta, hubungan yang berat sebelah, di mana seseorang mendapatkan lebih banyak ketimbang orang lainnya, hal ini biasanya membuat seseorang menjadi tidak puas terhadap suatu hubungan (Cate & Llyod, 1992)

Karakteristik lain dari pasangan menikah atau pasangan kekasih yang relatif bahagia. Pasangan yang berbahagia menghabiskan lebih banyak waktu bersama dalam aktivitas bersama. Bagi beberapa pasangan, melakukan aktivitas yang menentang mungkin akan membantu membangkitkan kembali hasrat dan meningkatkan kepuasan hubungan (Aron, Norman, Aron, & Lewandowski, 2002).

2. Komitmen

Orang yang sangat berkomitmen pada hubungan sangat mungkin untuk tetap bersama mengarungi suka dukademi tujuan bersama.Dalam istilah teknis, commitment in a relationship (komitmen dalam suatu hubungan) yang berarti semua kekuatan positif dan negatifyang menjaga individu tetap berada dalam suatu hubungan. Ada dua faktor yang mempengaruhi komitmen pada suatu hubungan (Johnson, 1991; Surra &Gray, 2000).

  • Pertama, komitmen dipengaruhi oleh kekuatan daya tarik pada partner atau hubungan tertentu. Apabila orang suka pada orang lain, menikmati kehadirannya, dan merasa orang itu ramah dan gaul, maka orang akan termotivasi untuk meneruskan hubungan dengannya tersebut. Dengan kata lain, komitmen akan lebih kuat jika kepuasannya tinggi (Rusbult & Van Lange, 1996). Komponen ini dinamakan “comitmen personal” karena ia merujuk pada keinginan individu untuk mempertahankan atau mengingatkan hubungan (Johnson, Caughlin, & Huston, 1999).

  • Kedua, komitmen dipengaruhi oleh nilai dan prinsip moral, perasaan bahwa seseorang seharusnya tetap berada dalam suatu hubungan. “Komitmen moral” didasarkan pada perasaan kewajiban, kewajiban agama, atau tanggung jawab sosial. Bagi beberapa orang, keyakinan atau kesucian pernikahan dan keinginan menjalin komitmen seumur hidup akan membuat mereka tidak ingin bercerai.

3. Level dependensi

Menurut teori interdependensi, dua tipe penghalang penting adalah pertama, kurangnya alternatif yang lebih baik. Ketersediaan alternatif biasa di sebut dengan Level perbandingan alternatif, yang mana akan mempengaruhi komitmen kita. Ketika orang tergantung pada suatu hubungan dimana orang tersebut mendapatkan hal-hal yang dihargai dan tidak bisa mendapatkan hal itu di tempat lain, maka orang tersebut akan sulit unutk meninggalkan hubungan tersebut (Attridge, Creed, Berscheid, & Simpson, 1992). Kurangnya alternatif yang lebih baik akan meningkatkan komitmen.

Kedua, investasi yang sudah seseorang tanamkan dalam suatu hubungan.Komitmen juga dipengaruhi oleh investasi yang seseorang tanamkan dalam membentuk hubungan (Rusbult, 1980, 1983). Investasi itu antara lain waktu, energy, uang, keterlibatan emosional, pengalaman kebersamaan, dan pengorbanan untuk partner. Setelah banyak berinvestasi dalam suatu hubungan dan kemudian merasa hubungan itu kurang bermanfaat akan menimbulkan disonansi kognitif pada diri seseorang. Karenanya seseorang mungkin merasakan tekanan psikologis untuk melihat hubungannya itu dari sudut pandang yang lebih positif atau mengabaikan kekurangannya (Rubin, 1973). Semakin banyak investasi, semakin sulit jika meninggalkan hubungan.

Kepuasan dan komitmen tidak selalu berhubungan erat. Beberapa pasangan yang tidak bahagia mampu meningkatkan kualitas hubungannya dengan pasangan yang berkemungkinan hubungannya akan berhenti dan bahkan ada yang mampu mempertahankan hubungan seumur hidup meski hubungan itu kurang memuaskan. Untuk memahami sumber komitmen dalam hubungan yang kurang memuaskan ini, dari riset baru- baru ini membandingkan pengalaman mereka yang berada dalam perkawinan yang tidak bahagia yang ingin mempertahankan perkawinannya dengan orang yang mempertimbangkan untuk bercerai.

Secara umum, semakin banyak investasi yang diinvestasikan oleh pasangan maka semakin besar kemungkinan mereka untuk bertahan dan punya anak. Kurangnya alternatif mungkin juga berpengaruh. Bagi pria dan wanita, keyakinan bahwa kehidupan akan lebih buruk jika mereka berpisah juga berperan dalam menguatkan komitmen.

  • Bagi wanita, mereka mungkin merasa terancam akan kehilangan sumber ekonomi akibat perceraian.
  • Bagi lelaki, mereka mungkin akan merasa kehidupan seksnya menjadi bertambah buruk jika bercerai.

Individu yang percaya bahwa perkawinan adalah komitmen seumur hidup dan pasangan yang tetap bertahan demi anak-anaknya akan lebih mungkin untuk terus bertahan meksi ada ketidakpuasan. Terakhir, orang yang percaya bahwa mereka memiliki kontrol yang kuat atas kehidupan mereka sendiri tidak terlalu berkomitmen pada perkawinan yang tidak memuaskan.

Faktor yang diidentifikasi oleh teori interdepedensi berguna untuk memahami tingkat kepuasan seseorang dalam suatu hubungan dimanaseseorang akan semakin komitmen apabila seseorang merasa hubungannya memberikan banyak daya tarik positif, apabila mereka telah banyak berinvestasi dalam hubungan itu dan merasa tidak banyak alternatif yang tersedia.Hambatan untuk bercerai juga disebabkan oleh adannya investasi bersama yang digabungkan untuk sebuah hubungan, adannya anak yang membutuhkan kebutuhan perhatian orang tua, dan juga ketergantungan financial. Rintangan ini mendorong pasangan yang sudah menikah untuk berusaha memperbaiki hubungan yang memburuk.

Teori Interdependensi pada awalnya diperkenalkan oleh Thibaut dan Kelley (1959) untuk menjelaskan bagaimana aspek dependensi bekerja dalam berbagai tema, misalnya konflik dan resolusi, atribusi, emosi, kepercayaan, komunikasi, motivasi, dan interaksi sosial. Tema pokok dalam kajian teori interdependensi adalah mengenai interaksi sosial. Berbagai emosi dan motivasi manusia berakar dalam kajian interaksi sosial. Berbagai pemikiran dan perasaan yang dialami manusia juga bepijak pada interaksi sosial di masa lampau atau di masa depan. Misalnya, sepasang suami-istri yang saling memahami bagaimana pasangannya merasa tersinggung ketika diperlakukan oleh orang lain akan berpengaruh terhadap bagaimana suami atau istri memperlakukan pasangannya ketika menghadapi situasi yang sama (Van Lange & Rusbult, 2012). Teori ini menjelaskan bagaimana interaksi sosial memegang peranan penting pada relasi interpersonal manusia.

Secara teoretis, teori interdependensi merupakan teori yang komprehensif dalam menjelaskan konseptualisasi struktur dan proses dalam relasi interpersonal (Kelley & Thibaut, 1978; Kelley dkk, 2003; Thibaut & Kelley, 1959). Rusbult dan Van Lange (2003) bahkan menyebut bahwa relasi interpersonal sebenarnya analog dengan teori fisika kuantum kontemporer, di mana hubungan antarpartikel adalah sama pentingnya dengan partikel itu sendiri. Kajian mengenai relasi antarmanusia adalah sama pentingnya dengan kajian pada individu.

Teori interdependensi menggunakan dua alat untuk mengeksplorasi hasil dari relasi. Pertama adalah matriks dan kedua adalah daftar transisi (Kelley, 1984; Kelley & Thibaut, 1978). Tujuan dari representasi formal ini adalah bagaimana individu dapat mempengaruhi individu lainnya selama mereka berinteraksi. Interaksi merupakan relasi kebutuhan, motif, dan perilaku dari individu A kepada individu B pada sebuah situasi interdependen yang spesifik yang biasa dilambangkan dengan I = f (S, A, B) (Kelley dkk, 2003).

Van Lange dan Rusbult (2012) menyatakan bahwa setidaknya ada empat asumsi dasar teoretis dari teori interdependensi sebagaimana dijelaskan di bawah ini:

  • Prinsip struktur
    Untuk memahami fitur-fitur situasi interdependensi, maka hal yang harus dipahami adalah proses psikologis (motif, kognisi, dan afeksi), perilaku, dan interaksi sosial seperti apa yang terjadi pada pasangan. Situasi terkristal dalam taksonomi situasi, yakni derajat dependensi, mutualitas dependensi, kovariasi kepentingan, basis dependensi, struktur temporal, dan ketersediaan informasi.

  • Prinsip transformasi
    Interaksi situasi dapat menjadi transformasi ketika seorang individu mempertimbangkan konsekuensi dari perilakunya dan perilaku orang lain, baik dampak pada dirinya maupun terhadap orang lain, dan juga dampak jangka pendek maupun dampak jangka panjang. Transformasi merupakan proses psikologis yang melibatkan unsur tujuan interaksi, yang melibatkan unsur afeksi, kognisi, maupun proses motivasional.

  • Prinsip interaksi: I = f (A, B, S)
    Interaksi adalah fungsi dari dua individu dan properti objek dari situasi. Situasi dapat mengaktivasi pengalaman spesifik yang menggambarkan motif, kognitif, dan afektif yang melibatkan dua individu sehingga menghasilkan respons yang bersifat mutual.

  • Prinsip adaptasi
    Pengalaman berinteraksi secara berulang akan menimbulkan adaptasi yang akan membawa kedua individu masuk ke dalam proses tansformasi yang stabil. Adaptasi ini dapat menggambarkan perbedaan orientasi di antara pasangan, orientasi yang dianut oleh kedua belah pihak yang berinteraksi, serta kaidah-kaidah norma sosial yang disosialisasikan oleh golongan masyarakat tertentu.