Apa yang dimaksud dengan Teori Adaptation, Goal attainment, Integration, dan Latency (AGIL) dari Talcott Parsons ?

perilaku

(Denta Kalla Nayyira) #1

Teori Adaptation, Goal attainment, Integration, dan Latency

Apa yang dimaksud dengan Teori Adaptation, Goal attainment, Integration, dan Latency (AGIL) dari Talcott Parsons ?


(Arvind Zahair Akalanka) #2

Tarcott parsons menyusun teori yang menjelaskan hubungan antara kebudayaan, kepribadian, dan struktur sosial sekaligus memperkenalkan fungsionalisme sebagai paradigma berpikir. Bisa dikatakan bahwa ditengah kekeringan analisis sosial-budaya di paro pertama abad ke- 20, Parsons menawarkan sebuah renungan yaitu model tindakan sosial manusia yang bersifat sukarela.

Talcott Parsons, dalam melakukan analisis sistem masyarakat, memperkenalkan adanya subsistem dari sistem umum tindakan manusia, yaitu organisme, personalitas, sistem sosial, dan sistem kultural. Keempat sistem tindakan manusia itu dilihat sebagai susunan mekanis yang saling berkaitan dan menunjukkan tata urutan yang bersifat sibernetik, yang masing- masing memiliki fungsi. Organisme memiliki fungsi adaptasi, personalitas berfungsi untuk pencapaian tujuan, sistem sosial memiliki fungsi intergasi, dan sistem kultural berperan sebagai fungsi latensi untuk mempertahankan norma dan pola kehidupan.

Talcott Parsons memulai teorinya dengan empat fungsi tersebut yang disebut dengan teori AGIL (Adaptation, Goal attainment, Integration, dan Latency). Fungsi tersebut merupakan kumpulan kegiatan yang ditujukan kearah pemenuhan kebutuhan tertentu dan kebutuhan sistem.

Sistem tindakan diperkenalkan Parsons dengan skema AGIL-nya yang terkenal. Parsons meyakini bahwa terdapat empat karakteristik terjadinya suatu tindakan, yakni Adaptation, Goal Atainment, Integration, Latency. Sistem tindakan hanya akan bertahan jika memeninuhi empat criteria ini. Sistem mengandaikan adanya kesatuan antara bagian-bagian yang berhubungan satu sama lain. Kesatuan antara bagian itu pada umumya mempunyai tujuan tertentu. Dengan kata lain, bagian-bagian itu membentuk satu kesatuan (sistem) demi tercapainya tujuan atau maksud tertentu.

  • Sistem organisme biologis (aspek bilogis manusia sebagai satu sistem), dalam sistem tindakan berhubungan dengan fungsi adaptasi yakni menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mengubah lingkungan sesuai dengan kebutuhan.

  • Sistem kepribadian, melaksanakan fungsi pencapaian tujuan dengan merumuskan tujuan dan menggerakkan seluruh sumber daya untuk mencapai tujuan-tujuan itu.

  • Sistem sosial berhubungan dengan fungsi integrasi dengan mengontrol komponen-komponen pembentuk masyarakat itu.

  • Sistem kebudayaan berhubungan dengan fungsi pemeliharaan pola-pola atau struktur-struktur yang ada dengan menyiapkan norma-norma dan nilai-nilai yang memotivasi mereka dalam berbuat sesuatu.

Sedangkan defenisi sistem-sistem di atas menurut Talcott Parsons adalah sebagai berikut:

  • Sistem organisme atau aspek biologis dari manusia. Kesatuan yang paling dasar dalam arti biologis, yakni aspek fisik dari manusia itu. Hal lain yang termasuk ke dalam aspek fisik ini ialah lingkungan fisik di mana manusia itu hidup.

  • Sistem kepribadian. Kesatuan yang paling dasar dari unit ini ialah individu yang merupakan aktor atau pelaku. Pusat perhatiannya dalam analisa ini ialah kebutuhan-kebutuhan, motif-motif, dan sikap-sikap, seperti motivasi untuk mendapat kepuasan atau keuntungan.

  • Sistem sosial. Sistem sosial adalah interaksi antara dua atau lebih individu di dalam suatu lingkungan tertentu. Tetapi interaksi itu tidak terbatas antara individu-individu melainkan juga terdapat antara kelompok- kelompok, institusi-institusi, masyarakat-masyarakat, dan organisasi- organisasi internasional. Sistem sosial selalu terarah kepada equilibrium (keseimbangan).

  • Sistem budaya. Dalam sistem ini, unit analisis yang paling dasar adalah kepercayaan religius, bahasa, dan nilai-nilai.

Kemudian dijabarkan menjadi empat komponen skema tindakan berupa,

  1. Pelaku atau aktor: aktor atau pelaku ini dapat terdiri dari seorang individu atau suatu koletifitas. Parsons melihat aktor ini sebagai termotivisir untuk mencapai tujuan.

  2. Tujuan (goal): tujuan yang ingin dicapai biasanya selaras dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat.

  3. Situasi: tindakan untuk mencapai tujuan ini biasanya terjadi dalam situasi. Hal-hal yang termasuk dalam situasi ialah prasarana dan kondisi.

  4. Standar-standar normatif: ini adalah skema tindakan yang paling penting menurut Parsons. Guna mencapai tujuan, aktor harus memenuhi sejumlah standar atau aturan yang berlaku.

Pada dasarnya empat masalah fungsional ini membentuk dasar dari spesifikasi yang terperinci mengenai fungsi penting untuk keberlangsungan (survival) dari setiap sistem sosial. Menurut keberlangsungan merupakan fungsi utama seluruh masyarakat yang melibatkan pembelajaran terhadap segala sesuatu yang mengikat anggota masyarakat untuk bersatu melalui bahasa serta nilai-nilai sosial dan budaya. Parsons mengumpulkan empat paradigma fungsi yang disebut “four function paradigm” atau skema agil yang digambarkan sebagai berikut:

Skema fungsi AGIL
Gambar Skema fungsi AGIL

Parsons mengaplikasikan model konseptual ini terhadap pengembangan dari disiplin ilmu yang luas mulai dari ekonomi, kesehatan mental, politik, sistem kepribadian, dinamika kelompok, sosialisasi, pendidikan, agama, hukum, organisasi, dan lain-lain. Berdasarkan hasil-hasil pengembangan skema AGIL tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa empat masalah fungsional utama dalam keberlangsungan sistem yaitu, adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan pemeliharaan sistem yang berada pada tingkatan sistem kepribadian, sosial, dan budaya.

Model AGIL merupakan koreksi dari teori sistem-sistem yang dikembangkan Parsons dan The Social System dan Toward a General Theory of Action . Dalam buku yang ia susun bersama muridnya, Neil Smelser, berjudul Ekonomy dan Society (1956), Parsons mengatakan bahwa masyarakat tersusun dari empat subsistem yang berbeda, yang masing-masing subsistem mempunyai fungsi untuk memecahkan persoalan tertentu. Subsistem ini bisa mengambil bentuk lembaga tertentu, atau bisa juga kegiatan dan prosedur yang sifatnya cair. Dengan menggunakan model AGIL, Parsons berambisi untuk mengembangkan model yang dapat memberi penjelasan secara total menyeluruh atas setiap masyarakat di muka bumi ini. bahkan, ia mengklaim bahwa keempat subsistem ini harus ada dalam sebuah masyarakat atau subsistem jika masyarakat itu mau bertahan untuk waktu yang cukup panjang. Bila dijabarkan dalam bentuk diagram, keempat subsistem itu tampak seperti ini.

  • A (Adaptation) adalah cara sistem beradaptasi dengan dunia material dan pemenuhan kebutuhan material untuk bertahan hidup (sandang, pangan, dan papan). Ekonomi teramat penting dalam subsistem ini.

  • G (Goal attainment) adalah pencapaian tujuan. Subsistem ini berurusan dengan hasil atau produk ( output ) dari sistem dan kepemimpinan. Politik menjadi panglima dari subsistem ini.

  • I ( Integration ) adalah penyatuan subsistem ini berkenaan dengan menjaga tatanan. Sistem hukum dan lembaga-lembaga atau komunitas-komunitas yang memperjuangkan tatanan sosial termasuk dalam kolompok ini.

  • L (Latent pattern maintenance and tension management) mengacu pada kebutuhan masyarakat untuk mempunyai arah panduan yang jelas dan gugus tujuan dari tindakan. Lembaga-lembaga yang ada dalam subsistem ini bertugas untuk memproduksi nilai-nilai budaya, menjaga solidaritas, dan menyosialisasikan nilai-nilai. Gereja, sekolah, dan keluarga termasuk dalam subsistem ini.

Kritik terhadap Teori atau Pendekatan AGIL


Adapun kritik terhadap model pendekatan AGIL ini adalah bahwa model ini dilihat terlalu statis dan deskriptif, meskipun Parsons dan Smelser menekankan pentingnya interaksi antarsel maupun perbedaannyaa. Mereka melihat bahwa subsistem-subsistem ini saling berinteraksi dengan cara mempertukarkan barang-barang yang mereka butuhkan. Masing-masing subsistem mempunyai media pertukaran umum ( generalized media of exchange ) yang mempermudah terjadinya transaksi, yaitu uang (A), kekuasaan (G), pengaruh (I), dan komitmen terhadap nilai (L).

Selain itu, perlu dicatat disini pandangan Parsons tentang media kekuasaan. Menurutnya, kekuasaan bukanlah hak milik ( property ) individu, juga tidak dikaitkan dengan nominasi. Kekuasaan adalah hak milik sistem dan merupakan hal yang baik, sebab kekuasaan memampukan masyarakat untuk menyelesaikan beraneka macam tugasnya. Pandangan ini berlawanan dengan pandangan teori kritis tentang kekuasaan dan lebih mirip dengan pandangan Foucault yang melihat kekuasaan bersifat tersebar ( diffused ) dalam masyarakat.

Model AGIL merupakan kombinasi antara unsur-unsur atau kebutuhan-kebutuhan material dan budaya, jadi bisa dipikirkan sebagai sebuah model yang bersifat multidimensi. Namun, lagi-lagi tekanan utama Parsons terletak pada budaya (subsistem L) yang menetapkan tujuan-tujuan akhir yang harus dicapai masyarakat sekaligus menjamin kestabilan sistem. Oleh Parsons, model AGIL ini diberi nama model sistem pengaturan yang sibernetis ( cybernetic model of system regulation ) istilah yang dipinjam dari ranah biologi. Ide yang mau disampaikan di sini adalah bahwa budaya beroperasi merupakan sebuah sistem kontrol. Analoginya seperti otak manusia yang menerima sedikit rangsang namun mampu menggerakkan seluruh anggota tubuh.

Parsons berpendapat bahwa dinamika masyarakat dan sehubungan dengan itu, terjadi karena adanya beberapa unsur yang berintegrasi satu sama lain. Unsur-unsur itu ialah:

  • Pertama, orientasi manusia terhadap situasi yang melibatkan orang lain *.

  • Kedua*, pelaku yang mengadakan kegiatan dalam masyarakat *.

  • Ketiga*, kegiatan sebagai hasil orientasi dan pengolahan/pemikiran pelaku tentang suatu kegiatan merupakan realisasi dari motivasi dan karenanya selalu bersifat fungsional, karena bertujuan mewujudkan suatu kebutuhan, dan

  • Keempat , lambang dan sistem perlambangan yang mewujudkan komunikasi tentang tentang bagaimana manusia ingin mencapai tujuannya.

Sehubungan dengan ini, maka suatu sistem sosial merupakan interaksi unsur tersebut oleh sejumlah individu hal mana terjadi dalam lingkungan fisik dan sosial atau ruang. Masing-masing individu dimotivasi oleh keinginan untuk mewujudkan tujuannya sebaik mungkin dalam situasi yang bersangkutan. Tujuan dan hasrat ini disampaikan antara lain melalui kegiatan komunikasi yang terjadi dalam suatu struktur kebudayaan dan perlambangan. Motivasi ini dapat besifat pribadi, dapat didasarkan pada dorongan kelompok, dan bersifat rasional dan dapat bersifat emosional. Disamping nilai pribadi, dikenal juga nilai sosial yang istilah ilmiahnya lebih dikenal sebagai social-reference karena dihayati bersama oleh anggota suatu kelompok sosial tertentu.

Dalam hubungan ini kegiatan oleh pelaku individu dapat lebih dititik beratkan pada nilai pribadi atau referensi sosialnya, hal mana lebih dikenal dengan orientasi individu yang cenderung mementingkan kepentingan dan ikatan oleh lingkungan (penilaian positif terhadap dirinya). Seberapa jauh suatu kegiatan atau motivasi dan karenanya nilai sosial merupakan hasil interaksi antar individu dengan masing-masing sistem nilai pribadinya. Karena itu Parsons juga megenal pembagian nilai yang lebih bersifat universalistic dan partikularistik. Nilai yang bersifat partikularistik lebih menitikberatkan kebutuhan individu atau kelompok kecil sedangkan nilai universalistik lebih menitikberatkan pada kepentingan masyarakat banyak yang memperhatikan apa yang diharapkan masyarakat dari pada anggota masyarakatnya. Karena itu dapatlah dikatakan bahwa seberapa kuat sikap universalistik atau partikularistik pada orientasi individu, ditentukan oleh keterikatan ( effectifity) individu dengan lingkungannya. Hal ini ditentukan lagi oleh seberapa jauh lingkungan itu sendiri memenuhi harapan dan kepentingan individu dan seberapa jauh individu berperan atau diakui oleh lingkungannya.

Fungsi Teori AGIL


Fungsi adaptasi

Fungsi adaptasi mengacu pada perolehan sumberdaya atau fasilitas yang cukup dari lingkungan luar sistem, kemudian mendistribusinya dalam sistem. Adaptasi adalah suatu pilihan tindakan yang bersifat rasional dan efektif sesuai dengan konteks lingkungan sosial ekomoni, serta ekologi dimana penduduk tersebut tinggal. Pemilihan tindakan yang bersifat kontekstual tersebut dimaksudkan untuk mengalokasikan sumberdaya yang tersedia di lingkungan guna mengatasi tekanan – tekanan sosial ekonomi.

Tindakan adaptasi bisa dilihat dari dua sudut pandang, yaitu sudut pandang eksternal atau internal. Berdasarkan sudut pandang internal, adaptasi dibagi dua yaitu eksistensi interptretasi ( existential interpretation ) dan kategorisasi moral-evaluasi ( moral-evaluation categorization ).

  • Tindakan eksistensi interpretasi adalah kemampuan seseorang untuk memandang dirinya agar tetap eksis dalam lingkungannya,

  • Tindakan moral-evaluasi merupakan tindakan sesorang untuk tetap dapat mengikuti kaidah atau nilai-nilai moral yang ada di lingkungan. Berdasarkan sudut pandang eksternal, tindakan adaptasi seseorang dibagi menjadi dua yaitu simbolis kognitif ( cognitive symbolization ) dan simbolisasi ekspresif ( expressive symbolization ). Tindakan kognitif merupakan cara berpikir seseorang dengan memandang berbagai sumberdaya yang ada di lingkungan luar untuk dapat memanfaatkan sumberdaya yang ada.

Fungsi pencapaian tujuan (Goal Attainment)

Pencapaian tujuan mengacu pada gambaran sistem aksi dalam menetapkan tujuan, memotifasi dan memobilitasi usaha dan energy dalam sistem untuk mencapai tujuan. Pencapaian tujuan berdasarkan kualitas dapat diukur dari nilai yang didapat dari pencapaian tujuan, biasanya berupa kepuasan dan penghargaan terhadap sesuatu yang telah dicapai. Pencapaian tujuan berdasarkan performance dapat diukur berdasarkan suatu hal yang dapat ditunjukkan dalam tindakan.

Fungsi integrasi

Integrasi mengacu kepada pemeliharaan ikatan dan solidaritas, dengan melibatkan elemen untuk dapat mengontrol, memelihara subsistem, dan mencegah gangguan utama dalam sistem.

Fungsi pemeliharaan sitem (Latency)

Pemeliharaan sitem ( Latency ) mengacu kepada proses dimana energi dorongan disimpan dan didistribusikan di dalam sistem, melibatkan dua masalah saling berkaitan yaitu pola pemeliharaan dan pengelolahan masalah atau ketegangan. Secara umum, masalah pemeliharaan sistem dibagi menjadi tiga aspek yaitu pembagian peran masing-masing anggota, bantuan yang diterima untuk memotivasi anggota, dan peraturan atau norma yang berlaku.

Referensi :

  • Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto, Teori-Teori Kebudayaan (Yogyakarta: Kanisius, 2005)
  • Jazim Hamidi dan Mustafa Lutfi, Civic Education: Antara Realitas Politik dan Implementasi Hukumnya (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010)
  • Wardi Bachtiar, Sosiologi Klasik (Dari Comte Hingga Parsons) , (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2006)