Apa yang dimaksud dengan studi kelayakan bisnis (feasibility study)?


(Calya Puri Navisha) #1

Studi kelayakan adalah penelitian yang mendalam terhadap suatu ide bisnis tentang layak atau tidaknya ide tersebut untuk dilaksanakan.

A feasibility study is defined as an evaluation or analysis of the potential impact of a proposed project or program.

Apa yang dimaksud dengan studi kelayakan bisnis (feasibility study) ?


(Jeremy Liam Wijaya) #2

Kondisi lingkungan yang tidak pasti dan ketatnya pesaingan serta kendala bisnis lainnya membuat para pelaku bisnis tidak hanya cukup mengandalkan pengetahun, pengalaman serta intuisinya saja dalam memulai suatu bisnis. Studi kelayakan diperlukan agara investasi yang akan dilakukan dapat berjalan dan mengahsilkan keuntungan yang diharapkan. Selain itu studi kelayakan juga dipelukan untuk pihak- pihak yang berkepentingan dalam bisis serta pelaku bisnis itu sendiri sebelum mengimplimentasikan sebuah ide bisnis.

Berhentinya operasi bisnis, kegagalan proyek ditengah jalan serta kegagalan investasi lainnya merupakan bagian dari penerapan yang tidak konsisten dalam studi kelayakan. Secara teoritis, jika studi kelayakn dilakukan dengan benar saat memulai suatu investasi maka resiko kegagalan dan kerugiannya dapat diminimalisir.

Pengertian Studi Kelayakan

Pengertiann studi kelayakan menurut para ahli diantara:

  • Menurut Kasmir dan Jakfar (2012:7) “studi kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu usaha atau bisnis yang akan dijalankan, dalam rangka menentukan layak atau tidak usaha tersebut dijalankan”.

  • Menutut Umar H (2007:5) studi kelayakan bisnis merupakan penelitian sebuah rencana bisnis yang bukan hanya menganalisis layak atau tidaknya suatu bisnis dijalankan, tetapi juga pengontrolan kegiantan operasionalnya secara rutin dalam rangka untuk pencapaian tujuan serta keuntungan yang maksimal untuk jangka waktu yang tidak ditentukan

  • Menurut Husnan dan Muhammad (2004:4) studi kelayakan bisnis, yang juga disebut studi kelayakan proyek adalah sebuah penelitian yang menjelaskan tentang dapat tidaknya suatu proyek (biasanya sebuah proyek investasi) dilaksanakan dengan berhasil. Istilah “proyek”diartikan sebagai bentuk pendirian suatu usaha baru atau pengenalan suatu produk baru, modifikasi produk yang sudah ada.

  • Menurut Siswanto Sutojo (2002:7) hal-hal yang harus diketahui dalam studi kelayakan yaitu:

    • Ruang lingkup kegiatan proyek.
    • Bagaimana cara kegiatan proyek itu sendiri dilakukan.
    • Evalusi berbagai aspek-aspek yang dapat menenentukan keberhasiln proyek secara keseluruhan.
    • Sarana apa yang diperlukan oleh proyek.
    • Hasil dari kegiatan proyek, biaya-biaya yang ditanggun untuk memperoleh hasil proyek tersebut.
    • Langkah-langkah pendirian proyek atau perluasan proyek, serta jadwal masing-masing dari proyek

Tujuan Studi Kelayakan

Husnan dan Muhamad (2000) menyatakan bahwa tujuan dilakukannya studi kelayakan adalah untuk menghindari keterlanjuran penanaman modal yang terlalu besar untukkegiatan yang ternyata tidak menguntungkan. Tentu saja studi kelayakan ini akan memakan biaya, tetapi biaya tersebut relatif kecil apabila dibandingkan dengan risiko kegagalan suatu proyek yang menyangkut investasi dalam jumlah besar.

Studi Kelayakan dibuat untuk memenuhi kepentingan berbagai pihak dan masing-masing pihak mempunyai kepentingan serta keinginan yang berbeda. Menurut Kasmir dan Jakfar (2007) studi kelayakan bisnis memiliki lima tujuan mengapa studi kelayakan perlu dilakukan sebelum melakukan sebuah proyek atau usaha, yaitu:

  1. Menghindari resiko kerugian
    Bertujuan untuk meminimalkan risiko yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan. Kondisi masa yang akan datang penuh dengan ketidakpastian sehingga perlu untuk melakukan analisis studi kelayakan untuk menimimalisasi resiko…

  2. Mempermudah perencanaan
    Dengan adanya peramalan masa yang akan datang, maka perencanaan akan mudah untuk dilakukan. Perencanaan itu sendiri meliputi jumlah modal yang diperlukan, waktu pelaksanaan, lokasi, cara pelaksanaan, besarnya keuntungan serta keuntungan serta bagaimana pengawasan bila terjadi penyimpangan.

  3. Memudahkan Pelaksanaan Pekerjaan
    Perencanaan yang disusun dapat mempermudah implementasi bisnis, proses bisnis dapat dilakukan secara sistematik sehingga para karyawan dapat memiliki pedoman dan tetap fokus pada tujuan, sehingga rencana bisnis dapat tercapai sesuai dengan apa yang direcanakan.

  4. Memudahkan Pengawasan
    Dengan pelaksanaan yang sesuai dengan rencana yang telah disusun, maka pengawasan terhadap proses bisnis menjadi lebih mudah. Pengawasan dilakukan, agar pelaksanaan usaha tetap pada jalur dan sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

  5. Memudahkan Pengendalian
    Bila terjadi penyimpangan, maka akan mudah untuk memperbaikinya dan dapat langsung dikendalikan sehingga tidak terlalu jauh penyimpangan yang terjadi.

Manfaat Studi Kelayakan Bisnis

Kasmir dan Jakfar (2012) Hasil penelitian studi kelayakan sangat diperlukan oleh berbagai pihak terutama para pihak yang berkepentingan terhadap proyek atau usaha yang akan dijalankan (stakeholder). Hasil penelitian yang dianggap layak harus dapat dipertanggung jawabkan, sehingga para stakeholder merasa yakin dan percaya terhadap hasil dari studi kelayakan yang telah dilakukan. Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap hasil studi kelayakan, yaitu:

  1. Pemilik usaha
    Pihak yang paling memiliki kepentingan langsung terhadap hasil dan analisis dari studi kelayakan yang telah dibuat. Bila implementasi dari studi kelayakan mengalami kerugian maka para pemilik usaha yang paling merasakan dampaknya.

  2. Pihak Kreditur
    Pihak bank atau lembaga keuangan lainnya tidak ingin sampai kredit atau pinjaman yang diberikan macet, akibat proyek atau usaha yang akan direalisasikan tidak layak untuk dijalankan.

  3. Pihak Manajemen Perusahaan
    Bagi manajemen hasil studi kelayakan bisnismerupakan suatu ukuran kinerja atau petunjuk apa saja yang di tugaskan. Kinerja tersebut dapat dilihat dari hasil yang telah dicapai, sehingga terlihat sejauh mana prestasi kinerja pihak manajemen dalam menjalankan suatu proyek atau usaha.

  4. Pihak Pemerintah
    Studi kelayakan yang disusun perlu memperhatikan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, karena secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan.

  5. Pihak Masyarakat luas
    Proyek atau usaha yang dibangun dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar maupun masyarakat lain dimana suatu proyek atau usaha akan dibangun.

Tahap-tahap dalam Studi Kelayakan Bisnis

Tahapan dalam studi kelayakan dilakukan untuk mempermudah pelaksanaan dalam studi kelayakan juga untuk keakuratan penilaian. Berikut tahap-tahap studi kelayakan yang umumnya dilakukan (Husein Umar 2003:p21):

  1. Penemuan Ide
    Ciptakan produk atau jasa yang dapat berpotensi terjual dan dapat menguntungkan. Penelitian terhadap permintaan dan kebutuhan pasar, serta jenis produk atau jasa yang akan dibuat harus dilakukan. Penelitian tersebut harus mengacu pada pemenuhan kebutuhan pasar yang masih belum terpenuhi.

  2. Tahap Penelitian
    Pada tahap ini, penelitian yang lebih dalam dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Dimuali dari pengumpulkan data, pengolah data menggunakan teori-teori yang relevan, serta melakukan analisis dan interpretasi hasil pengolahan data dengan menggunakan alat-alat analisis yang sesuai.

  3. Tahap Evaluasi Proyek
    Terdapat tiga evaluasi proyek. Pertama, melakukan evaluasi terhadap usulan proyek yang akan dijalankan. Kedua, melakukan evaluasi proyek yang sedang berjalan. Dan yang Ketiga, melakukan evaluasi pada proyek yang baru selesai dibangun.

  4. Tahap Pengurutan Usulan yang Layak
    Apabila terdapat lebih dari satu usulan proyek yang dianggap layak dan terdapat keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki manajemen untuk menjalankan proyek- proyek tersebut. Pemilihan proyek yang dianggap paling penting harus dilakukan

  5. Tahap Rencana Pelaksanaan Proyek Bisnis
    Setelah terdapat proyek yang sudah terpilih untuk dijalankan, maka perlu dibuat suatu rencana kerja pelaksanaan pembangunan proyek itu sendiri. Dimulai dari menentukan jenis pekerjaan, jumlah dan kualifikasi tenaga pelaksana, ketersediaan dana dan sumber daya yang diperlukan dan lain-lain.

  6. Tahap Pelaksanaan Proyek Bisnis
    Setelah semua persiapan selesai, tahap selanjutnya adalah pelaksanaan proyek.

Aspek Menilai Studi Kelayakan

Menurut Jakfar dan Kasmir (2012) terdapat tahap-tahap yang telah ditentukan dalam pembuatan dan penilaian studi kelayakan. Setiap tahapan mempunyai berbagai aspek yang harus diukur, diteliti serta dinilai berdasarkan ketentuannya. Setiap aspek saling terkait, jadi jika ada salah satu aspek yang tidak terpenuhi, maka harus dilakukan penambahan atau perbaikan yang diperlukan.

Gambaran secara ringkas mengenai prioritas aspek-aspek studi kelayakan yang perlu dilakukan secara umum, dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

image
Gambar Aspek-aspek Penilaian Studi Kelayakan Sumber: Kasmir & Jakfar, 2003

1. Aspek Hukum

Aspek hukum mempelajari tentang:

  1. Bentuk badan usaha yang akan digunakan
  2. Jaminan-jaminan yang bisa disediakan kalau akan menggunakan sumber dan yang berupa pinjaman
  3. Berbagai akta, sertifikat, izin yang diperlukan dan sebagainya.

2. Aspek Manajemen dan SDM

Freddy Rangkuti (2012:) mengemukakan bahwa manajemen meliputi dua hal pokok, yaitu manajemen waktu dan manajemen operasi. Manajemen waktu mengulas tentang rencana penyusunan dan perkiraan waktu yang akan digunakan dalam implementasi bisnis (proyek). Sementara manajemen operasional mengemukakan tentang tiga hal pokok, yaitu jenis pekerjaan yang diperlukan, struktur organisasi yang dibuat, persyaratan dan penunjukan tenaga-tenaga yang akan menempati jabatan tertentu, ketiga hal pokok tersebut mengandung: deskripsi pekerjaan, lingkup tanggung jawab, koordinasi dan lingkup pengawasan.

Berkaitan dengan aspek manajemen, penekanan utama yang diberikan adalah pada aspek sumber daya manusia baik pada masa pembangunan bisnis atau proyek maupun pada saat proyek atau bisnis tersebut telah beroperasi. Perlu dianalisis kesiapan perusahaan berkaitan dengan sumber daya manusia mulai dari pengadaan sampai penempatan jabatan tertentu. Manajemen sumber daya manusia berkaitan dengan kebijaksanaan, prosedur, dan praktik bagaimana mengelola orang untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan.

Lebih dalam lagi dijelaskan mengenai aspek manajemen dan sumber daya manusia (Subagyo,2007) :

  • Job Analysis, yaitu menganalisis jabatan yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu.
  • Job specification, yaitu menentukan persyaratan dan kualifikasi yang diperlukan untuk mengisi suatu jabatan.
  • Mendesain struktur organisasi, yaitu menyusun struktur organisasi yang menggambarkan jenjang manajemen, kedudukan jabatan dan struktur pertanggungjawaban dalam perusahaan.
  • Job Descripion, yaitu uraian pekerjaan yang menjelaskan tentang pekerjaan teknis anggota organisasi yang menjabat pekerjaan tertentu.
  • Mendesain sistem kompensasi, yaitu menguraikan struktur penggajian secara lengkap untuk semua jabatan dalam pekerjaan berdasarkan garis structural dan fungsional. .

3. Aspek Operasional

Menurut Kasmir dan Jakfar (2012) aspek ini berkaitan dengan penentuan lokasi proyek atau, tata letak (layout), penyusunan peralatan perusahaan, proses produksinya dan pemilihan teknologi.

Terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam penilaian terhadapmaspek teknis atau operasi, yaitu:

  • Dapat menentukan lokasi dengan tepat, baik untuk lokasi pabrik, gudang, cabang, atau kantor pusat
  • Dapat menentukan layout yang sesuai dengan proses bisnis atau produksi yang dipilih
  • Dapat menentukan teknologi yang tepat untuk menjalankan bisnis atau produksinya
  • Dapat menentukan kualitas tenaga kerja yang dibutuhkan saat ini dan masa yang akan datang

4. Aspek Pasar dan Pemasaran

Pasar dan pemasaran merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kegiatan pasar selalu disertai oleh pemasaran dan kegiatan dari pemasaran itu sendiri adalah untuk menciptakan atau mencari pasar.

Umar (2005) menyatakan pasar merupakan tempat dimana bertemunya penjual dan pembeli, atau saling bertemunya kekuatan permintaan dengan penawaran untuk membentuk suatu harga. Dalam praktiknya pasar di definisikan lebih luas, transaksi penjualan tidak hanya dilakukan pada suatu tempat saja melainkan dapat dilakukan melalui sarana elektronik seperti internet, telepon, dan lain-lain.

Permintaan adalah jumlah barang atau jasa yang mampu dibeli oleh para konsumen selama periode tertentu berdasarkan sekelompok kondisi tertentu, sedangkan penawaran adalah jumlah barang atau jasa yang rela dan mampu dijual oleh para produsen dalam jangka waktu tertentu dan berdasarkan sekelompok kondisi tertentu pula.

Permintaan dan penawaran suatu barang atau jasa dapat menimbulkan peluang pasar. Adanya peluang pasar ini memungkinkan timbul produsen baru yang menjadi pesaing bisnis dari produsen yang sudah berjalan atau beroperasi. Akibatnya terjadi perebutan pangsa pasar yang masih ada antara produsen untuk menjual barang atau jasa yang dihasilkannya.

Suci Sucipto (2010) mengemukakan bahwa kajian yang dilakukan dalam aspek pasar dan pemasaran bertujuan untuk menguji sejauh mana pemasaran dari produk yang dihasilkan perusahaan dapat mendukung pengembangan usaha atau bisnis yang direncanakan. Agar kajian aspek pasar dan pemasaran sesuai dengan rencana (pangsa pasar), dan semua itu bergantung pada penerapan strategi pemasaran yang dipilih. Terdapat empat hal pokok yang dapat ditelaah dalam aspek pasar, yaitu:

  1. Potensi Pasar (Market Potential)
    Sucipto (2010) menyatakan bahwa potensi pasar adalah peluang penjualan optimum yang dapat dicapai oleh seluruh penjualan baik saat ini maupun yang akan datang atau potensi pasar adalah seluruh permintaan/kebutuhan konsumen yang didasarkan pada dua faktor yaitu jumlah konsumen potensial dan daya beli. Konsumen potensial adalah konsumen yang memiliki keinginan/hasrat untuk membeli, sedangkan daya beli adalah kemampuan konsumen untuk membeli barang/produk. Dengan melihat potensi pasar maka dapat dilakukan evaluasi apakah ada atau tidak potensi untuk memasarkan barang/produk di pasar.

  2. Pengukuran dan Peramalan Permintaan
    Apabila perusahaan menemukan suatu pasar yang menarik, maka perusahaan perlu mengestismasi berapa besarnya pasar di masa sekarang dan di masa yang akan datang dengan cermat Kottler (2003). Apabila perusahaan tidak melakukan pengukuran dan permalan permintaan dengan cermat (mengestimasi pasar terlalu kecil atau terlalu besar), perusahaan akan mengalami kerugian. Peramalan permintaan dilakukan untuk memperkirakan permintaan yang akan terjadi di masa yang akan datang pada saat sekarang.

    1. Mengukur Permintaan Pasar Saat Ini

      Manajemen perlu mengestimasi tiga aspek dari permintaan pasar sekarang. Ada tiga metode praktis untuk mengestimasi permintaan saat ini, yaitu:

      • Mengestimasi Total Permintaan Pasar.
      • Mengestimasi Wilayah Permintaan Pasar
      • Mengestimasi Penjualan Aktual dan Pangsa Pasar
    2. Meramal Permintaan Mendatang

      Jakfar dan Kasmir (2012). Riset pasar dan pemasaran dilakukan dengan menganalisis data sekunder maupun data primer dengan jalan , melakukan pengamatan dan wawancara. Terdapat beberapa cara yang digunakan untuk meramalkan permintaan, setiap cara memiliki kelebihannya masing-masing. Berikut beberapa cara melakukan peramalan permintaan di masa yang akan datang:

      1. Survey niat pembeli
      2. Pendapat para tenaga penjual (Wiraniaga)
      3. Pendapat para ahli
      4. Analisis regresi
      5. Analisis deret waktu.

Menurut Kotler dan Keller (2009) pemasaran dalam suatu perusahaan menghasilkan kepuasan pelanggan serta kesejahteraan konsumen dalam jangka panjang sebagai kunci untuk memperoleh profit. Pemasaran memberi perhatian pada hubungan timbal balik yang dinamis antara produk dan jasa perusahaan, keinginan dan kebutuhan pelanggan serta kegiatan-kegiatan pesaing.

Strategi pemasaran merupakan langkah-langkah yang dilakukan sebuah perusahaan baik perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa dalam upaya memenangkan persaingan dalam situasi yang kompetitif seperti sekarang ini.

Menurut Tull dan Kahle dalam Fandy Tjiptono (2008): Strategi pemasaran merupakan alat fundamental yang direncanakan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan mengembangkan keunggulan bersaing yang berkesinambungan melalui pasar yang dimasuki dan program pemasaran yang digunakan untuk melayani pasar sasaran Menurut Kotler & Keller (2009).

Semua strategi pemasaran dibuat berdasarkan STP. Langkah pertama adalah melakukan segmentasi (segmentation) yaitu dengan melakukan pengelompokan dari sekeluruhan pasar, langkah penetapan sasaran pasaryaitu memilih satu atau lebih segmen pasar untuk dimasuki (Targeting), dan yang terakhir adalah penentuan posisi pasar (Positioning)

  1. Segmentation

    Menurut Fandy Tjiptono (2008:211), segmentasi pasar adalah proses pengelompokan keseluruhan pasar yang berbeda kedalam kelompok-kelompok atau segmen-segmen yang memiliki kesamaan dalam keinginan, kebutuhan dan prilaku serta respon terhadap program-program pemasaran spesifik. Perusahaan mencari berbagai cara yang berbeda dalam memilih pasar dan mengembangkan profil semua segmen pasar yang didapatkan.
    Umumnya variable yang digunakan perusahaan dalam melakukan segmentasi pasarnya adalah variable geografis, demografis atau psycografis. Adapun dasar untuk segmentasi pasar tersebut antara lain:

    A. Segmentasi Pasar Konsumen Dibagi menjadi empat variabel, yakni :

    1. Segmentasi Geografis. Segementasi ini membutuhkan pembagian pasar menjadi unit geografis yang berbeda seperti negara, wilayah, daerah, kota atau bahkan lingkungan sekitar.

    2. Segmentasi Demografis. Segmentasi ini membagi pasar menjadi klompok berdasarkan variabel seperti usia, jenis kelamin, ukuran keluarga, siklus hidup keluarga, pendapatan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, generasi, dan kebangsaan. Faktor demografis adalah dasar paling umum yang digunakan untuk menetapkan segmentasi kelompok pelanggan.

    3. Segmentasi Psikografis. Segmentasi ini membagi membeli menjadi kelompok berbeda berdasarkan kelas sosial, gaya hidup atau juga karakteristik kepribadian dalam suatu kelompok demografis yang sama.

    4. Segmentasi Prilaku. Segmentasi ini membagi pembeli menjadi kelompok berdasarkan pengetahuan, sikap, penggunaan, atau respon terhadap sebuah produk.

    B. Segmentasi Pasar Bisnis

    Konsumen dan pemasar bisnis menggunakan banyak variabel yang sama untuk menetapkan segmen pasar mereka. Pembeli bisnis dapat disegmentasikan secara Geografis, Demografis, atau lewat pencarian manfaat. tetapi pemasar bisnis juga menggunakan variabel tambahan seperti karakteristik operasi, pendekatan pembelian, faktor situasional dan karakteristik pribadi pelanggan. Dengan mengejar segmen dan bukannya seluruh pasar, perusahaan dapat menghantarkan proposisi nilai yang tepat bagi masing-masing segmen yang dilayani.

    C. Segmentasi Pasar International

    Perusahaan dapat melakukan segmentasi pasar international dengan suatu kombinasi variabel. Perusahaan dapat menetapkan segmen berdasarkan letak Geografis, Pasar dunia juga bisa disegmentasikan berdasarkan faktor ekonomi. Selain itu faktor politik, hukum, dan budaya juga bisa dijadikan kombinasi variable untuk segmentasi pasar secara international.

  2. Targeting

    Pasar yang sudah disegmentasi berdasarkan kebutuhan atau segmennya kemudian dipilih satu atau lebih segmen yang disebut target untuk dilayani. Target dipilih dengan mempertimbangkan kemampuan internal organisasi dan berdasarkan besarnya target yang diperkirakan dapat memberikan profitabilitas yang tinggi untuk perusahaan.

    Menurut Fandy Tjiptono (2008:232) targeting adalah proses mengevaluasi dan memilih satu atau beberapa segmen pasar yang dinilai paling menarik untuk dilayani dengan program pemasaran spesifik pemasaran. Kriteria evaluasi yang digunakan meliputi ukuran dan potensi perubahan segmen, karakteristik struktual segmen dan kesesuaian antara produk dan pasar. Pada umumnya terdapat beberapa alternatif untuk pemilihan target pasar antara lain:

    • Sasaran pasar yang sama (Un-differentiated Marketing)
      Pada strategi ini, pasar dianggap homogeny. Jadi satu macam produk atau jasa dipasarkan kepada semua orang tidak hanya satu atau beberapa kelompok saja. Karena pasar yang dituju bersifat massal. Strategi semacam ini tidak dipakai perusahaan

    • Sasaran pasar majemuk (Differentiated Marketing)
      Strategi ini banyak dipakai perusahaan. Disini perusahaan mencoba untuk mengidentifikasi kelompok-kelompok pembeli tertentu (segmen pasar) dengan membagi pasar kedalam dua kelompok atau lebih. Pada kelompok pembeli dapat ditawarkan jenis produk yang berbeda dengan kelompok lain, sehingga satu perusahaan dapat menjual beberapa macam produk. Jadi,dalam strategi ini perusahaan berusaha untuk memilih kelompok-kelompok yang akan dilayani dan merencanakan produk yang dapat memberikan kepuasan kepada kelompok-kelompok tersebut.

    • Sasaran pasar terkonsentrasi (Concetrated Marketing)
      Perusahaan hanya menargetkan beberapa kelompok pembeli saja. Pada kegiatan ini kegiatan pemasaran akan lebih difokuskan, strategi ini biasanya akan sesuai dengan perusahaan yang memiliki sumber daya yang terbatas.

    • Extensive Segmenting
      Pasar homogen dibagi dalam bermacam-macam segmen pasar dan selanjutnya produk ditawarkan kepada segmen pasar yang berbeda dengan strategi pemasaran yang berbeda pula.

    • Selective Segmenting
      Berdasarkan segmen-segmen yang bervariasi seperti pada extensive segmenting di atas, kemudian dipilih atau seleksi segmen-segmen yang dianggap memiliki potensi yang besar, sehingga dengan segmen pasar pilihan dapat dijadikan target pasar dari suatu perusahaan.

  3. Positioning

    Menurut Amstrong dan Kotler (2008:p61) Penempatan atau positioning adalah sebuah pengaturan produk atau bauran pemasaran agar posisi produk atau jasa jelas, diinginkan dan berbeda, serta menciptakan kesan yang dapat diingat oleh konsumen. Dengan positioning produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan dapat dipahami dan dihargai oleh konsumen, melebihi produk atau jasa para pesaing.

    Positioning berkaitan dengan nilai (value) dan manfaat (benefit) yang ditempatkan pada benak konsumen. Terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan sebagai penentuan posisi, yaitu:

    • Atribut (attribute positioning) berkaitan dengan penempatan yang didasarkan pada atribut, seperti derajat kepentingan (importance), keunikan (distinctiveness), dapat dikomunikasikan (communicability), mendahului (pre-emptive), keterjangkauan produk atau jasa baik aspek ekonomi dan fisik (affordability), serta laba yang diperoleh (profitability)
    • Tarif dan mutu (price dan quality positioning), seperti pelayanan yang cepat, tarif atau harga yang lebih murah, rasa bintang lima dengan harga kaki lima.
    • Jenis produk/jasa yang banyak digunakan (Application positioning)
    • Pengguna/pemakai dari produk/jasa yang banyak digunakan (user positioning) dan kelas produk.
    • Penempatan pesaing (competitor positioning) dimana penempatan dapat dilakukan berdasarkan manfaat yang ditimbulkan (benefit).

5. Aspek Keuangan

Menurut Siswanto Sutojo (2000) aspek keuangan sendiri adalah rencana investasi proyek yang disebut juga ilmu pembiayaan investasi proyek atau capital budgeting. Sedangkan menurut sofyan (2003) analisis aspek keuangan adalah kegiatan melakukan penilaian dan penentuan satuanrupiah terhadap aspek-aspek yang dianggap layak dari keputusan yang dibuat dalam tahapan analisis usaha.

Tujuan menganalisis aspek keuangan dari suatu studi kelayakan adalah untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan proyek untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah proyek akan berkembang terus (Umar,2001).

Menurut Sofyan (2003), kegiatan analisis keuangan dapat dikelompokkan kedalam tiga kegiatan utama yaitu:

  1. Rekapitulasi penerimaan usaha, yaitu membuat seluruh rekap penerimaan yang dihasilkan dari hasil kajian aspek-aspek usaha baik berupa penerimaan utama maupun penerimaan lain sebagai akibat dari adanya kegiatan usaha. Rekapitulasi ini bertujuan untuk menghitung besarnya arus kas masuk, yaitu besarnya perkiraan netto dari pemasukan yang akan diterima selama periode umur usaha tersebut. Unsur penerimaan usaha meliputi:

    • Perkiraan penjualan yang telah dihitung pada analisis pemasaran
    • Harga jual yang ditetapkan
    • Tambahan pendapatan lain-lain yang mungkin diperoleh karenaadanya pendirian usaha ini.
  2. Rekapitulasi biaya usaha, yaitu membuat rekap dari semua biaya usaha yang sudah dihasilkan atau diputuskan. Unsur biaya usaha meliputi: biaya praoperasi, biaya investasi, biaya operasi. Pengelompokkan biaya meliputi biaya penyusutan, biaya amortisasi, biaya bunga.

  3. Membuat laporan aliran kas yaitu menguji aliran kas masuk yang dihasilkan berdasarkan kriteria keuangan yang ada. Secara umum laporan kas dapat diperoleh dengan cara mengurangi total rekap perkiraan penerimaan dengan total rekap perkiraan biaya usaha.

Dalam analisis dari aspek keuangan diperlukan data yang akan dipakai untukmencari besar-besaran yang dibutuhkan dalam perhitungan dan teori yang mendukung dalam penilaian studi kelayakan meliputi kebutuhan dana, sumber dana, biaya modal dan struktur modal, nilai waktu dari uang, depresiasi, amortisasi dan pajak

5.1 Dana dan Sumber-sumber Dana

1. Dana investasi awal atau investasi inisial (initial investment)

Aktiva yang biasanya dibutuhkan untuk melakukan investasi dapat dikelompokan sebagai berikut:

A. Aktiva Tetap berwujud

  • Tanah dan pengembangan lokasi: biaya ini termasuk harga tanah biaya pendaftaran, pembersihan, penyiapan tanah, pembuatan jalan ke jalan terdekat, pemagaran, dan sebagainya

  • Bangunan pabrik dan perlengkapan: hal ini termasuk bangunan untuk pabrik atau kantor, bangunan untuk administrasi, gudang, untuk pembangkit tenaga, pos-pos kemamanan, jasa-jasa arsitektur, dan lain sebagainya.

  • Pabrik dan mesin-mesin: hal ini termasuk komponen biaya terbesar dari investasi. Seperti biaya pembangunan pabrik atau kantor, harga mesin, biaya pemasangan, biaya pengangkutan, suku vadang, dan lain sebagainya. Ada baiknya disini dilakukan pemisahaan antara mesin- mesin yang diimpor dan tidak untuk memasukan kemungkinan perubahan kurs valuta.

  • Aktiva tetap lainnya: hal ini termasuk perlengkapan angkutan dan materials handling, perlengkapan untuk penelitian dan pengembangan, meubelair, perlengkapan kantor dan sebagainya.

Dalam menentukan biaya dari berbagai aktiva diatas, diperlukan informasi tentang kebutuhan fisik atau harga-harga. Kebutuhan fisik mungkin didasarkan atas salah satu atau atau beberapa faktor berikut ini:

  • Rencana yang terperinci dan spesifikasi yang lengkap
  • Rancangan garis besar dan spesifikasi yang belum lengkap
  • Pengalaman dengan proyek yang agak berbeda ditempat lain
  • Beberapa “pedoman” yang telah diuji secara empiris.

Terdapat cara untuk mengetahui informasi mengenai harga, yang didasarkan atas:

  • Harga-harga di waktu yang lalu
  • Daftar harga yang masih berlaku
  • Daftar harga kira-kira

B. Aktiva Tetap Tidak Berwujud

  • Aktiva tidak berwujud: misalnya patent, lisensi, pembayaan “lumpsum” untuk penggunaan teknologi, engineering fees, copyright, goodwill dan sebagainya.

  • Biaya pendahuluan: terdiri dari biaya untuk studi pendahuluan, penyiapan pembuatan laporan studi kelayakan, survey pasar, “legal fee” dan sebagainya.

  • Biaya-biaya sebelum operasi: biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan sebelum berproduksi secara komersial. Komponen yang utama adalah biaya penarikan tenaga kerja, biaya latihan, beban bunga, biaya-biaya selama masa produksi percobaan.

Biasanya sulit untuk menentukan kapan suatu produksi sudah bias dikatakan produksi secara komersial, maka selalu ada untuk arbitrase dalam penentuannya. Seringkali pengeluaran aktiva tetap ini berlangsung beberapa tahun, sehingga perlu disusun jadwal pengeluaran untuk keperluan investasi tersebut.

2. Dana modal kerja (working capital)

Kebutuhan dana untuk modal kerja dapat diartikan sebagai modal kerja bruttoatau modal kerja netto. Modal kerja brutto yang disebut juga modal kerja awal keseluruhan, menunjukkan semua investasi yangdiperlukan untuk aktiva lancar yang terdiri dari: kas, surat-surat berharga, piutang, persediaan, dan lainnya.

Modal kerja netto merupakan dana yang dibutuhkan setelah proyek selesai dibangun, digunakan untuk membiyai kegiatan operasi. Dana dugunakan untuk persediaan bahan baku dan bahan pembantu, piutang dagang dan persediaan uang di kas kantor perusahaan dan di bank. Sebagian bahan baku dan pembantu yang dibutuhkan dapat diperoleh dari para pemasok dengan pembayaran dibelakang tanpa pungutan bunga pinjaman.

Oleh karena itu piutang dagang tersebut akan mengurangi jumlah kebutuhan modal bruto, tanpa harus menambah beban biaya operasional (bunga pinjaman). Jumlah modal kerja bruto dikurangi piutang dagang yang dapat diharapkan dari para calon pemasok disebut modal kerja neto.

3. Sumber-sumber Dana

Pemilihan sumber dana bertujuan untuk memilih sumber dana yang pada akhirnya bias memberikankombinasi dengan biaya terendah, dan tidak menimbulkan kesulitan likuiditas bagi proyek atau perusahaan yang mensponsori proyek tersebut(artinya jangka waktu pengembalian sesuai dengan jangka waktu penggunaan dana).

Beberapa sumber dana yang penting antara lain adalah:

  1. Modal pemilik perusahaan yang disetorkan langsung oleh pemilik perusahaan. Apabila perusahaan berbentuk perseroan terbatas yang berniat go public. Maka modal sendiri hanya akan diperoleh dari para pemilik perusahaan. Karna itu bagi perusahaan yang inginmenghimpun dana yang besar sebaiknya memilih untuk gopublic.

  2. Saham yang diperoleh dari penerbitan saham dipasar modal. Perusahaan yang memutuskan go public dapat menghimpun dana masyarakat dengan jalan menerbitkan saham yang nantinya akan diperjual belikan di bursa saham.

  3. Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan dan dijual di pasar modal. Obligasi bias berbentuk obligasi biasa, obligasi dengan suku bunga mengambang, tanpa bunga, konversi.

  4. Kredit yang diterima dari bank, dapat berupa kredit investasi maupun non- investasi. Kredit bank masih dianggap sumber dana yang terbesar bagi dunia usaha

  5. Sewa guna (leasing) dari lembaga non-bank. Beberapa lembaga keuangan tetapi bukan bank menawarkan jasa untuk menyediakan aktiva yang diperlukan oleh persahaan. Secara resmi lembaga keuangan tersebutlah yang memiliki aktiva tersebut dan perusahaan hanya menyewanya.

  6. Project finance. Merupakan tipe pendanaan yang lebih banyak dipergunakan untuk membiyai proyek-proyek besar, pembayarannya didasarkan atas kemampuan proyek tersebut melunasi kewajiban finansialnya.

Untuk bisa menghitung biaya modal keseluruhan, maka perlu menghitung terlebih dahulu biaya modal dari masing-masing pendanaan (Husnan & Muhammad, 2000) antara lain:

  1. Biaya utang (cost of debt)
    Menurut Husnan dan Muhamad (2000), biaya utang merupakan biaya yang ditanggung karena menggunakan sumber dana yang berasal dari pinjaman. Meskipun yang sering dihitung biaya modal dari pinjaman adalah biaya utang untuk utang jangka panjang, tetapi sebenarnya baik utang jangka panjang maupun utang jangka pendek mempunyai biaya modal (meskipun besarnya mungkin tidak sama).

  2. Biaya laba yang ditahan
    Menurut Husnan dan Muhamad (2000), biaya laba yang ditahan sama dengan modal sendiri dari saham biasa. Apabila perusahaan menggunakan laba yang ditahan perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan tetapi apabila membagikan laba dan mengeluarkan saham baru, harus menanggung biaya pengeluaran saham yang disebut floatation cost.

  3. Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC)
    Husnan dan Muhammad (2000) menyatakan apabila investasi dibelanjai dengan modal sendiri dan modal pinjaman, maka cut off rate yang dipergunakan harus mempertimbangkan biaya modal baik dari utang maupun dari modal sendiri (bagi perusahaan yang menggunakan utang). Umar (2001) menyatakan konsep cost of capital (biaya modal) dimaksudkan untuk menentukan berapa besar biaya riil dari masing-masing sumber dana yang dipakai dalam berinvestasi. Hal ini untuk mengetahui patokan tingkat keuntungan yang layak dari investasi yang dilakukan.

5.2 Depresiasi, Amortisasi dan Pajak

A. Depresiasi

Syamsudin (2002) menyatakan Depresiasi yang dikenal sebagai penghapusan merupakan salah satu komponen biaya tetap yang timbul karena digunakannya aktiva tetap,biaya ini dapat dikurangkan dari revenue/penghasilan. Depresiasi dapat dikurangkan sebagai expense/biaya dari revenue yang diterima, dapat dihitung dengan beberapa cara yaitu:

  • The straight line method (Metode garis lurus)
    Jumlah depresiasi dengan menggunakan metode straight line method ini dapat dihitung dengan membagi depricable value (jumlah investasi dikurangi dengan nilai residu) dari suatu aktiva dengan umur ekonomisnya, sehingga dengan menggunakan metode ini jumlah depresiasi setiap tahunnya sama.

  • The double declining balance method
    Tingkat depresiasi yang digunakan di dalam metode ini adalah sama dengan tingkat yang digunakan dalam metode straight line dikalikan dua dan jumlah yang digunakan sebagai dasar perhitungan depresiasi adalah keseluruhan nilai investasi. Jumlah depresiasi pada tahun terakhir akan sama dengan nilai buku pada awal tahun terakhir dikurangi dengan jumlah nilai residu.

  • The sum of the years digits method
    Dengan menggunakan metode ini maka keseluruhan bilangan umur dari suatu aktiva harus dijumlah. Jika”n” adalah umur ekonomis dari suatu aktiva dan S adalah jumlah keseluruhan bilangan umur teknis dari aktiva tersebut maka jumlah depresiasi pada tahun pertama adalah n/S, pada tahun kedua (n-1)/S dan seterusnya, dikalikan dengan depricable value.

Menurut Fraser dan Ormiston (2008:46) menyatakan penyusutan digunakan untuk mengalokasikan biaya aktiva tetap berwujud seperti, bangunan, mesin, peralatan, perlengkapan kantor dan kendaraan bermotor. Tanah merupakan suatu perngecualian terhadap aturan tersebut karena tanah dianggap memiliki masa manfaat yang tidak terbatas.

B. Amortisasi

Menurut Fraser dan Ormiston (2008) menyatakan amortisasi merupakan proses yang diterapkan kepada sewa guna usaha modal, bangunan yang belum selesai, dan biaya kadaluarsa aktiva tidak berwujud, seperti paten, hak cipta, merek dagang, lisensi, franchise dan goodwill

C. Pajak

Tarif pajak yang diterapkan atas penghasilan kena pajak bagi wajib pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap.

5.3 Laporan Laba Rugi

Menurut Darsono dan Ashari (2004) menyatakan laporan rugi laba (menurut lembaga non profit disebut sebagai laporan sisa hasil usaha) merupakan akumulasi aktivitas yang berkaitan dengan pendapatan dan biaya selama periode waktu tertentu, misalnya bulanan dan tahunan. Komponen laporan laba rugi adalah Pendapatan/penjualan (dari usaha utama), Harga pokok penjualan, Biaya pemasaran, Biaya administrasi dan umum, Pendapatan luar usaha (non operasional), Biaya luar usaha (non operasional)

5.4 Arus Kas (Cash Flow)

Menurut Husnan dan Muhammad (2000), arus kas yang berhubungan dengansuatu proyek dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yakni arus kas permulaan (initial cash flow), arus kas operasional (operasional cash flow) dan arus kas terminal (terminal cash flow).

Pengeluaran pengeluaran untuk investasi pada awal periode mungkin tidak hanya sekali, merupakan arus kas permulaan, arus kas yang timbulselama operasi proyek itu disebut sebagai arus kas operasional dan arus kas yang diperoleh pada waktu proyek tersebut berakhir disebut sebagai arus kas terminal.

  • Arus kas awal (Initial cash flow).
    Suratman (2001), arus kas awal adalah arus kas keluar dalam rangka untuk keperluan tetap dan penentuan besarnya modal kerja. Aliran kas ini biasanya diberi notasi negatif, artinya kas yang dikeluarkan. Aliran kas ini terjadi pada tahun ke 0, artinya perusahaan belum beroperasi dan pengeluaran kas untuk keperluan initialinvestment ini tidak dapat digunakan untuk menilai profitabilitas proyek.Husnan dan Muhammad (2000) menyatakan bahwa mungkin sekali untukproyek-proyek besar, initial cash flow tidak hanya terjadi pada awal periode, tetapiterjadi beberapa kali, pada tahun kesatu, kedua dan seterusnya.

  • Arus kas operasional (Operational Cash Flow)
    Suratman (2001),berasal dari operasi perusahaan (kegiatan utama perusahaan). Meliputi aliran kas masuk dana aliran kas keluar. Aliran kas masuk berasal dari penjualan (pendapatan), sedangkan aliran kas keluar adalah kas yang dikeluarkan untuk membayar operasionalperusahaan seperti biaya pokok perusahaan, biaya administrasi dan umum dan penjualan serta biaya-biaya lainnya

    Menurut Suratman (2001) terdapat tiga prinsip yang harus diperhatikan dalammenentukan estimasi arus kas operasional yakni:

    • Harus didasarkan pada perhitungan kas setelah pajak.
    • Biaya bunga harus dikeluarkan dari perhitungan.
    • Harus didasarkan pada “dengan dan tanpa” proyek jika proyek investasi untukpengembangan / penambahan dari proyek yang sebelumnya sudah berjalan. Oleh karena itu estimasi kas ditentukan atas dasar incremental antara denganinvestasi dan tanpa investasi baru.

    Untuk menentukan aliran kas operasional terdapat dua cara yaitu:

    1. Menjumlahkan seluruh kas masuk yang berasal dari penjualan, kemudiandikurangi dengan seluruh aliran kas keluar untuk operasional.
    2. Menyesuaikan laporan rugi laba berdasarkan standar akuntansi keuangan dengan pengeluaran-pengeluaran non tunai seperti depresiasi, amortisasi dan lain-lainnya.

    Adapun formulasinya sebagai berikut: OFC = Laba Bersih Setelah Pajak - Depresiasi + Amortisasi

    Husnan dan Muhammad (2000:62) menyebutkan kebanyakan cara yang dipergunakan untuk menaksir operational cash flow setiap tahunnya adalah dengan menyesuaikan taksiran rugi laba yang disusun berdasarkan pninsip-prinsip akuntansi dan menambahkannya dengan biaya-biaya yang sifatnya bukan tunai, sebagai contoh adalah penyusutan.

  • Arus kas akhir (terminal cash flow)

    Suratman (2001), aliran kas akhir menunjukkan aliran kas pada akhir umur ekonomis proyek. Oleh karena itu arus kas ini berasal dari modal kerja dan penjualan aktiva tetap yang sudah habis umur ekonomisnya.

    Dalam menaksir arus kas setiap tahunnya, cara yang paling banyak digunakanadalah dengan menyesuaikan taksiran daftar laba rugi yang disusun oleh proyekdengan berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi dan menambahkannya dengan biaya-biayayang sifatnya bukan tunai seperti penyusutan dan amortisasi (cara kedua)

    Husnan dan Muhammad (2000) menyatakan bahwa terminal cash flow umumnya terdiri dari nilai sisa (residu) investasi tersebut dan pengembalian modal kerja.


(Fadillah Dwi Wicaksana) #3

Definisi


Sebuah analisis dan evaluasi yang berdasarkan projek untuk menentukan apakah secara teknis layak, layak dalan estimasi biaya, dan akan menguntungkan. Studi kelayakan hamper selalu dilakukan dimana sejumlah besar hal yang dipertaruhkan. Studi kelayakan juga biasa disebut dengan analisis kelayakan.
Ada 5 area yang biasa dijadikan studi kelayakan

*** Studi kelayakan secara teknis.**

Penilaian berpusat pada sumber daya teknis berguna bagi sebuah organisasi saat bertemu dengan kapasitas yang mungkin sumber daya teknis dapat mengubah ide sebagai perubahan pada system kerja. Studi kelayakan teknis juga didalamnya terdapat evaluasi mengenai hardware dan software yang dibutuhkan oleh sebuah system.

*** Kelayakan finansial.**

Kelayakan finansial dapat membantu sebuah organisasi menilai kelayakan, biaya, dan manfaat yang terkait dengan proyek-proyek sebelum sumber daya keuangan dialokasikan. kelayakan finansial juga menjadi hal yang penting dalam proyek dan dalam hal perbaikan kredibilitas suatu projek. Sebagai hasil nya dapat membantu dalam pemecahan suatu masalah dikarenakan oleh ekonomi yang menguntungkan bagi sebuah organisasi yang nantinya akan menginkatkan dan menambah keuntungan bagi sebuah proyek.

*** Kelayakan legal.**

Menginvestigasi apakah sebuah sistem bermasalah dengan standar legal yang ada, seperti aksi proteksi data atau hokum didalam sebuah sosial media.

*** Kelayakan operasional**

Kelayakan operasional mencakup dalam menganalisa dan menjelaskan apakah suatu bisnis yang anda jalankan membutuhkan sesuatu untuk dipenuhi. Kelayakan operasional juga dapat mengukur bagaiman kinerja sistem dalam menyelesaikan masalah nya juga memiliki keberanian dalam mengidentifikasi keuntungan. Kelayakan operasional juga menganalisa bagaimana sebuah project plan dapat memuaskan. Hal ini mencakup parameter desain ketergantungan seperti halnya pemeliharaan, dukungan, kegunaan, keberlanjutan, keterjangkauan, dan lain-lain.

*** Kelayakan penjadwalan.**

Penjadwalan adalah hal yang paling penting demi kesuksesan sebuah projek. Sebuah projek akan gagal jika penjadwalan yang tidak baik. Uji kelayakan dalam hal penjadwalan dapat mengukur seberapa banyak waktu yang dibutuhkan oleh sistem untuk menyelesaikan suatu masalah, dan dengan bantuan teknis kita dapat mengestimasi berapa periode yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan projek menggunakan berbagai methode estimasi.

Keuntungan


Keuntungan yang diperoleh dalam studi kelayakan adalah :

  • Sebuah team akan lebih focus dalam pengerjaan suatu proyek
  • Mempersempit alternative bisnis
  • Meningkatkan tingkat keberhasilan dengan mengevaluasi beberapa parameter
  • Membantu pengambilan keputusan pada proyek

Refrensi :