© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Social identity theory?

Social Identity Theory menjelaskan bahwa individu cenderung melakukan kategorisasi sosial dan mengidentifikasikan diri mereka ke dalam kategori tertentu yang memiliki karakterisitik yang sama dengan yang ada pada diri mereka (Tajfel & Turner, 1979).

Dalam Social Identity Theory, Tajfel (1974) mengemukakan bahwa ada empat hal yang perlu dibahas, yaitu:

  1. Kategorisasi sosial, yakni proses menggabungkan objek atau peristiwa sosial yang setara dalam hal perilaku, intensi, sikap, dan sistem keyakinan ke dalam kategori tertentu.

  2. Identitas sosial, yakni bagian dari konsep diri individu yang diperoleh dari pengetahuannya mengenai kelompok serta kelekatan emosional individu dengan kelompoknya tersebut

  3. Perbandingan sosial, yakni upaya individu untuk mengevaluasi identitas sosialnya dengan membandingkannya dengan identitias sosial anggota kelompok lain.

  4. Kekhasan psikologis (psychological distinctiveness), yakni aspek psikologis yang membedakan individu dalam suatu kelompok dengan individu dalam kelompok lain.

Berdasarkan keempat hal tersebut, Tajfel dan Turner (1979) merangkum tiga prinsip teoretis dari Social Identity Theory sebagai berikut:

  1. Individu cenderung berusaha untuk mencapai atau mempertahankan identitas sosial yang positif. Hal ini muncul dari asumsi dasar yang menganggap bahwa setiap individu memiliki kecenderungan untuk mempertahankan atau meningkatkan konsep diri positif mereka.

  2. Identitas sosial yang positif dapat diperoleh dengan adanya perbandingan yang positif antara ingroup dan outgroup. Dengan demikian, individu akan memiliki identitas sosial yang positif jika kelompoknya dievaluasi lebih positif dibandingkan kelompok lain. Proses perbandingan sosial ini sejalan dengan studi Festinger (1954) yang menemukan bahwa individu akan membandingkan diri mereka dengan individu lain untuk memperoleh evaluasi mengenai diri mereka.

  3. Ketika identitas sosial yang dimiliki individu tidak memuaskan, individu akan berusaha meninggalkan kelompok tersebut dan mencari kelompok lain atau berusaha membuat kelompoknya terlihat lebih positif dibandingkan kelompok lain. Upaya membuat kelompok terlihat lebih positif ini kemudian melahirkan intergroup bias.

Hogg dan Abram (1990) menjelaskan identitas sosial sebagai rasa keterkaitan, peduli, bangga dapat berasal dari pengetahuan seseorang dalam berbagai kategori keanggotaan sosial dengan anggota yang lain, bahkan tanpa perlu memiliki hubungan personal yang dekat, mengetahui atau memiliki berbagai minat. Menurut William James (dalam Walgito, 2002), social identity lebih diartikan sebagai diri pribadi dalam interaksi sosial, dimana diri adalah segala sesuatu yang dapat dikatakan orang tentang dirinya sendiri, bukan hanya tentang tubuh dan keadaan fisiknya sendiri saja, melainkan juga tentang anak–istrinya, rumahnya, pekerjaannya, nenek moyangnya, teman–temannya, milikinya, uangnya dan lain–lain.

Menurut Tajfel (1982), social identity adalah bagian dari konsep diri seseorang yang berasal dari pengetahuan mereka tentang keanggotaan dalam suatu kelompok sosial bersamaan dengan signifikansi nilai dan emosional dari keanggotaan tersebut. Identitas sosial berkaitan dengan keterlibatan, rasa peduli dan juga rasa bangga dari keanggotaan dalam suatu kelompok tertentu.

Untuk menjelaskan identitas sosial, terdapat konsep penting yang berkaitan, yaitu kategori sosial. Turner (dalam Tajfel, 1982) dan Ellemers dkk., (2002) mengungkapkan kategori sosial sebagai pembagian individu berdasarkan ras, kelas, pekerjaan, jenis kelamin, agama, dan lain-lain. Kategori sosial berkaitan dengan kelompok sosial yang diartikan sebagai dua orang atau lebih yang mempersepsikan diri atau menganggap diri mereka sebagai bagian satu kategori sosial yang sama. Seorang individu pada saat yang sama merupakan anggota dari berbagai kategori dan kelompok sosial (Hogg dan Abrams, 1990). Kategorisasi adalah suatu proses kognitif untuk mengklasifikasikan objek-objek dan peristiwa ke dalam kategori-kategori tertentu yang bermakna (Turner dan Giles, 1985; Branscombe dkk., 1993).

Dimensi dalam mengkonseptualisasikan identitas sosial


Menurut Jackson and Smith (dalam Barron and Donn, 1991) ada empat dimensi dalam mengkonseptualisasikan identitas sosial, yaitu:

  • Persepsi dalam konteks antar kelompok
    Dengan mengidentifikasikan diri pada sebuah kelompok, maka status dan gengsi yang dimiliki oleh kelompok tersebut akan mempengaruhi persepsi setiap individu didalamnya. Persepsi tersebut kemudian menuntut individu untuk memberikan penilaian, baik terhadap kelompoknya maupun kelompok yang lain.

  • Daya tarik in-group
    Secara umum, in group dapat diartikan sebagai suatu kelompok dimana seseorang mempunyai perasaan memiliki dan “common identity” (identitas umum). Sedangkan out group adalah suatu kelompok yang dipersepsikan jelas berbeda dengan “in group”. Adanya perasaan “in group” sering menimbulkan “in group bias”, yaitu kecenderungan untuk menganggap baik kelompoknya sendiri. Menurut Henry Tajfel (1974) dan Michael Billig (1982) in group bias merupakan refleksi perasaan tidak suka pada out group dan perasaan suka pada in group.

  • Keyakinan saling terkait
    Identitas Sosial merupakan keseluruhan aspek konsep diri seseorang yang berasal dari kelompok sosial mereka atau kategori keanggotaan bersama secara emosional dan hasil evaluasi yang bermakna. Artinya, seseorang memiliki kelekatan emosional terhadap kelompok sosialnya. Kelekatan itu sendiri muncul setelah menyadari keberadaannya sebagai anggota suatu kelompok tertentu. Orang memakai identitas sosialnya sebagai sumber dari kebanggaan diri dan harga diri. Semakin positif kelompok dinilai maka semakin kuat identitas kelompok yang dimiliki dan akan memperkuat harga diri. Sebaliknya jika kelompok yang dimiliki dinilai memiliki prestise yang rendah maka hal itu juga akan menimbulkan identifikasi yang rendah terhadap kelompok.

  • Depersonalisasi
    Ketika individu dalam kelompok merasa menjadi bagian dalam sebuah kelompok, maka individu tersebut akan cenderung mengurangi nilainilai yang ada dalam dirinya, sesuai dengan nilai yang ada dalam kelompoknya tersebut. Namun, hal ini juga dapat disebabkan oleh perasaan takut tidak ‘dianggap’ dalam kelompoknya karena telah mengabaikan nilai ataupun kekhasan yang ada dalam kelompok tersebut. Keempat dimensi tersebut cenderung muncul ketika individu berada ditengah-tengah kelompok dan ketika berinteraksi dengan anggota kelompok lainnya.

Motivasi Melakukan Identitas Sosial


Robert A.Baron dan Don Byrne (2003), Identitas sosial tidak datang dengan sendirinya. Dalam pembentukan suatu identitas ada proses motivasi-motivasi. Hogg (2004), memberikan penjelasan bahwa dalam proses pembentukan identitas, individu memiliki motivasi. Adapun motivasi-motivasi tersebut adalah:

  • Peningkatan diri (Self-enhancement) dan Pemikiran positif
    Pemikiran yang Positif mencakup keyakinan bahwa ”kelompok kita” lebih baik dibandingkan “kelompok mereka”. Kelompok dan anggota yang berada di dalamnya akan berusaha untuk mempertahankan pemikiran yang positif tersebut karena hal itu menyangkut dengan martabat, status, dan kelekatan dengan kelompoknya. Pemikiran yang positif seringkali dimotivasi oleh harga diri anggota kelompok. Ini berarti bahwa harga diri yang rendah akan mendorong terjadinya identifikasi kelompok dan perilaku antar kelompok. Dengan adanya identifikasi kelompok, harga diri pun akan mengalami peningkatan. Peningkatan diri tak dapat disangkal juga terlibat dalam proses identitas sosial. Karena motif individu untuk melakukan identitas sosial adalah untuk memberikan aspek positif bagi dirinya, misalnya meningkatkan harga dirinya, yang berhubungan dengan self enhancement (peningkatan diri).

  • Reduksi yang tidak menentu (Uncertainty Reduction)
    Motif identitas sosial yang lain adalah reduksi yang tidak menentu. Motif ini secara langsung berhubungan dengan kategorisasi sosial. Individu berusaha mengurangi ketidakpastian subjektif mengenai dunia sosial dan posisi mereka dalam dunia sosial. Individu suka untuk mengetahui siapa mereka dan bagaimana seharusnya mereka berperilaku. Selain mengetahui dirinya, mereka juga tertarik untuk mengetahui siapa orang lain dan bagaimana seharusnya orang lain tersebut berperilaku. Kategorisasi sosial dapat menghasilkan uncertainty reduction karena memberikan kelompok prototipe yang menggambarkan bagaimana orang (termasuk dirinya) dalam berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam reduksi yang tidak menentu anggota kelompok terkadang langsung menyetujui status keanggotaan mereka karena menentang status kelompok berarti meningkatkan ketidakpastian konsep dirinya. Individu yang memiliki ketidakpastian konsep diri akan termotivasi untuk mengurangi ketidakpastian dengan cara mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok yang statusnya tinggi atau rendah. Kelompok yang telah memiliki kepastian konsep diri akan dimotivasi oleh self-enhancement (peningkatan diri) untuk mengidentifikasi dirinya lebih baik terhadap kelompoknya.

  • Optimalisasi Ciri Khas
    Motivasi ketiga menyatakan bahwa orang termotivasi untuk mengidentifikasi dengan kelompok-kelompok yang memberikan mereka dengan identitas sosial yang berbeda positif dan yang memenuhi kebutuhan mereka pada kepastian. Salah satu hasil dari proses ini adalah self-stereotipe, dimana orang mengganti identitas pribadi mereka dengan identitas kelompok. Salah satu kelemahan dari hipotesis diri stereotip adalah bahwa orang memiliki kebutuhan dan mengalami diri mereka sebagai individu yang unik yang berbeda dari orang lain (Brewer, 1991, Brewer & Pickett, 1999). Marilyn Brewer (1991) karena itu disarankan modifikasi teori self-kategorisasi yang dia sebut teori optimalisasi ciri khas.

Komponen Identitas Sosial


Tajfel (1978) mengembangkan teori identitas sosial sehingga terdiri dari tiga komponen yaitu komponen kognitif (kategorisasi diri), komponen evaluatif (group self esteem), dan komponen emosional (komponen afektif) yaitu:

  • Komponen Kongnitif
    Kesadaran kognitif akan keanggotaannya dalam kelompok, seperti self categorization (kategorisasi diri). Individu mengkategorisasikan dirinya dengan kelompok tertentu yang akan menentukan kecenderungan mereka untuk berperilaku sesuai dengan keanggotaan kelompoknya. (dalam Ellemers, 1999). Komponen ini juga berhubungan dengan stereotip diri yang menghasilkan identitas pada satu kelompok dengannya. Stereotip diri dapat memunculkan perilaku kelompok (Hogg, 2001).

  • Komponen Evaluatif
    Merupakan nilai positif atau negatif yang dimiliki oleh individu terhadap keanggotaannya dalam kelompok, seperti group self esteem (harga diri atau kebangaan kelompok). Komponen Evaluatif (evaluative component) ini menekankan pada nilai-nilai yang dimiliki individu terhadap keanggotaan kelompoknya (dalam Ellemers, 1999).

  • Komponen Emosional
    Merupakan perasaan keterlibatan emosional terhadap kelompok, seperti komitmen afektif. Komponen Emosional ini lebih menekankan pada seberapa besar perasaan emosional yang dimiliki individu terhadap kelompoknya. Komitmen afektif cenderung lebih kuat dalam kelompok yang dievaluasi secara positif karena kelompok lebih berkontribusi terhadap identitas sosial yang positif. Hal ini menunjukkan bahwa identitas individu sebagai anggota kelompok sangat penting dalam menunjukkan keterlibatan emosionalnya yang kuat terhadap kelompoknya walaupun kelompoknya diberikan karakteristik negatif (dalam Ellemers, 1999).

Menurut Cris Barker, “Pengertian identitas harus berdasarkan pada pemahaman tindakan manusia dalam konteks sosialnya. Identitas sosial adalah persamaan dan perbedaan, soal personal dan sosial, soal apa yang kamu miliki secara bersama-sama dengan beberapa orang dan apa yang membedakanmu dengan orang lain”.

Dalam Robert A Baron dan Don Byrne (2003; 162-163), Menurut Sherman (1994), “setiap orang berusaha membangun sebuah identitas sosial ( social identity ), sebuah representasi diri yang membantu kita mengkonseptualisasikan dan mengevaluasikan siapa diri kita. Dengan mengetahui siapa diri kita, kita akan dapat mengetahui siapa diri ( Self ) dan siapa yang lain ( Others )”.

Michael A Hogg (2004 ; 252), Perspektif identitas sosial adalah kesadaran diri yang fokus utamanya secara khusus lebih diberikan pada hubungan antar kelompok, atau hubungan antar individu anggota kelompok kecil. Identitas sosial terbentuk oleh internal kelompok dan eksternal. Indentitas dibangun berdasarkan asumsi yang ada pada kelompok. Biasanya kelompok sosial membangun identitasnya secara positif. Pembentukan identitas sosial dilakukan untuk melakukan kategorisasi antara siapa saya dan mereka. Dengan demikian maka muncullah kontestasi kelompok untuk membandingkan aspek positif kelompok dengan lain. Aspek positif ini adalah prototype dari internal kelompok.

Michael A Hogg (2004), Identitas sosial secara umum dipandang sebagai analisa tentang hubungan-hubungan inter-group antar kategori sosial dalam skala besar selain itu identitas sosial juga diartikan sebagai proses pembentukan konsepsi kognitif kelompok sosial dan anggota kelompok. Lebih sederhana lagi identitas sosial adalah kesadaran diri secara khusus diberikan kepada hubungan antar kelompok dan hubungan antar individu dalam kelompok. Pembentukan kognitif sosial banyak dipengaruhi oleh pertemuan antara anggota individu dalam kelompok, orientasi peran individu dan partsipasi individu dalam kelompok sosial.

Dalam Lynn H Turner dan Richard West (2008), dengan menyadari pentingnya diri dan hubungannya dengan identitas kelompok, Henry Tajfel (1982) dan John Turner (1986) mengemukakan identitas sosial seseorang ditentukan oleh kelompok dimana ia tergabung. Orang yang termotivasi untuk bergabung dengan kelompok yang paling menarik dan atau memberikan keuntungan bagi kelompok diman ia tergabung didalamnya. Lebih lanjut Turner dan Tajfel mengamati bahwa orang berjuang untuk mendapatkan atau mempertahankan identitas sosial yang positif dan ketika identitas sosial dipandang tidak memuaskan, mereka akan bergabung dengan kelompok dimana mereka merasa lebih nyaman atau membuat kelompok dimana mereka sedang tergabung sebagai tempat yang lebih menyenangkan.

Terbentuknya Identitas Sosial

Robert A Baron dan Don Byrne (2003), Identitas sosial tidak datang dengan sendirinya. Dalam pembentukan suatu identitas ada proses motivasi- motivasi. Hogg (2004), memberikan penjelasan bahwa dalam proses pembentukan identitas, individu memiliki dua motivasi.

  • Self Enchancemen ini oleh individu dimanfaatkan untuk memajukan atau menjaga status kelompok mereka terhadap kelompok lain yang berada diluar dirinnya. Selain itu juga berfungsi untuk mengevaluasi identitas kolektif. Dalam konteks kelompok yang lebih menonjol, Self dalam pembahasan Hogg dapat dimaknai sebagai Collective Self atau identitas sosial.

  • Uncertainty Reduction dilakukan untuk mengetahui posisi kondisi sosial dimana ia berada. Tanpa motivasi ini individu tidak akan tahu dirinya sendiri, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana mereka harus melakukannya. Sekaligus berfungsi untuk pembentukan protoype identitas sosial.

Dalam Michael A Hogg (2004), proses identitas sosial melalui 3 tahapan yaitu Social Categorization , Prototype , dan Depersonalization . Untuk memahami apa yang dimaksud oleh Hogg diatas peneliti akan menjelaskan tiap tahapan, sebagai berikut:

  • Kategoriu Sosial

Kategorisasi sosial berdampak pada definisi diri, perilaku, persepsi pada prototype yang menjelaskan dan menentukan perilaku. Ketika ketidakmenentuan identitas ini terjadi, maka konsepsi tentang diri dan sosialnya juga tidak jelas. Prototype juga bisa menjadi sebuah momok bagi kelompok sosial. Dengan memberikan prototype yang berlebihan pada kelompoknya, maka penilaian yang dilakukan kepada kelompok lain adalah jelek. Sterotype akan muncul pada kondisi seperti ini. Pada dasarnya stereotype muncul dari kognisi individu dalam sebuah kelompok. Stereotype juga bisa muncul dari kelomopok satu terhadap kelompok lain yang berada diluar dirinya.

Secara kognitif, orang akan merepresentasikan kelompok-kelompoknya dalam bentuk prototype-prototype . Selain itu atribut-atribut yang menggambarkan kesamaan dan hubungan struktur dalam kelompok. Hal ini dilakukan untuk membedakan dan menentukan keanggotaan kelompok.

  • Prototype

adalah konstruksi sosial yang terbentuk secara kognitif yang disesuaikan dengan pemaksimalan perbedaan yang dimiliki oleh kelompok dengan kelompok lainnya. Hal ini dilakukan untuk menonjolkan keunggulan kelompoknya. Kepentingan dari kelompok untuk membentuk prototype adalah untuk merepresentasikan kelompoknya di wilayah sosial yang lebih luas. Biasanya prototype itu berdiri sendiri. Dia tidak semata-mata ditopang atau didapat dari adanya perbandingan antar kelompok sosial. Dengan demikian proses yang terjadi dalam kelompok sosial tidak mungkin keluar dari kelompok ini. Perlu diketahui bahwa prototype itu senantiasa berkembang dari waktu kewaktu.

Prototype juga bisa dianggap sebagai representasi kognitif dari norma kelompok. Dimana norma kelompok tersebut dibentuk atas regulasi sosial yang hanya dibatasi oleh anggota kelompok. Hal yang paling penting dalam hal ini adalah penjelasan perilaku dan penegasan posisi bahwa dia adalah kelompok sosial tertentu. Norma sosial merupakan aturan yang dibuat atas kesepakatan anggota kelompoknya.Norma sosial menjadi landasan dalam berfikir dan bergerak kelompok. Dengan demikian norma sosial tidak menjadi penjelasan keadaan sosial. Norma sosial ini mengatur tentang bagaimana individu dalam kelompok harus bersikap dan berperilaku.

  • Depersonalisasi

Adalah proses dimana individu menginternalisasikan bahwa orang lain adalah bagian dari dirinya atau memandang dirinya sendiri sebagai contoh dari kategori sosial yang dapat digantikan dan bukannya individu yang unik.