Apa yang dimaksud dengan skizofrenia atau schizophrenia?

Skizofrenia merupakan penyakit gangguan otak yang menyebabkan penderitanya mengalami kelainan dalam berpikir, serta kelainan dalam merasakan atau mempersepsikan lingkungan sekitarnya.

Apa yang dimaksud dengan Skizofrenia atau schizophrenia ?

Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi, dan perilaku, pikiran yang terganggu, dimana berbagai pemikiran tidak saling berhubungan secara logis, persepsi dan perhatian yang keliru, afek yang datar atau tidak sesuai, dan berbagai gangguan aktifitas motorik yang bizzare (perilaku aneh),

Skizofrenia adalah jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berpikir, perasaan dan perbuatan.

Jenis-jenis skizofrenia

Kraeplin (dalam Maramis, 2009) membagi skizofrenia menjadi beberapa jenis. Penderita digolongkan ke dalam salah satu jenis menurut gejala utama yang terdapat padanya. Akan tetapi batas- batas golongan-golongan ini tidak jelas. Gejala-gejala pada penderita skizofrenia dapat berganti-ganti atau pada kasus-kasus terntentu, seorang penderita tidak dapat digolongkan ke dalam satu jenis skizofrenia.

Pembagian jenis skizofrenia adalah sebagai berikut:

  • Skizofrenia paranoid
    Jenis skizofrenia ini sering muncul diatas umur 30 tahun. Permulaanya mungkin sub-akut, tetapi mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat digolongkan schizoid. Mereka mudah tersinggung, suka menyendiri, agak congkak dan kurang percaya pada orang lain.

  • Skizofrenia hebefrenik
    Permulaanya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15 – 25 tahun. Gejala yang mencolok adalah gangguan proses berpikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada skizofrenia heberfrenik, waham dan halusinasinya banyak sekali.

  • Skizofrenia katatonik
    Timbulnya pertama kali antara usia 15 sampai 30 tahun, dan biasanya akut serta sering didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.
    Gejala yang penting adalah gejala psikomotor seperti:

    • Mutisme, kadang-kadang dengan mata tertutup, muka tanpa mimik, seperti topeng, stupor penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang sangat lama, beberapa hari, bahkan kadang-kadang beberapa bulan.
    • Bila diganti posisinya penderita menentang.
    • Makanan ditolak, air ludah tidak ditelan sehingga terkumpul di dalam mulut dan meleleh keluar, air seni dan feses ditahan.
    • Terdapat grimas dan katalepsi.
  • Skizofrenia simplex
    Sering timbul pertama kali pada masa pubertas.Gejala utama pada jenis simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali ditemukan.

  • Skizofrenia residual
    Jenis ini adalah keadaan kronis dari skizofrenia dengan riwayat sedikitnya satu episode psikotik yang jelas dan gejala-gejala berkembang kea rah gejala negative yang lebih menonjol. Gejala negative terdiri dari kelambatan psikomotor, penurunan aktivitas, penumpukan afek, pasif dan tidak ada inisiatif, kemiskinan pembicaraan, ekspresi nonverbal yang menurun, serta buruknya perawatan diri dan fungsi sosial.

Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi, dan perilaku pikiran yang terganggu, dimana berbagai pemikiran tidak saling berhubungan secara logis, persepsi dan perhatian yang keliru, efek yang datar atau tidak sesuai dan berbagai gangguan aktivitas motorik yang bizzare (perilaku aneh) dimana pasien skizofrenia menarik diri dari orang lain dan kenyataan, sering kali masuk kedalam kehidupan fantasi yang penuh dengan delusi dan halusinasi.

Skizofrenia merupakan salah satu penyakit yang paling meghancurkan kehidupan penderitanya karena mempengaruhi setiap aspek dari kehidupannya. Seseorang yang menderita skizofrenia akan mengalami gangguan dalam pembicaraan yang terstruktur, proses atau isi pikir dan gerakan serta akan tergantung pada orang lain selama hidupnya.

Skizofrenia adalah gangguan dengan serangkaian gejala yang meliputi gangguan konteks berpikir, bentuk pemikiran, persepsi, afek, rasa terhadap diri (sense of self), motivasi, perilaku, dan fungsi interpersonal.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa skizofrenia merupakan gangguan psikotik dengan karakteristik megalami kekacauan pada kemampuan kognitif dan emosi, sehingga dapat mempengaruhi setiap aspek kehidupan penderitanya. Umunya skizofrenia ditandai dengan serangkaian gejala psikosis seperti perilaku yang aneh, halusinasi, waham, dan delusi.

Etiologi


Penyebab pasti gejala skizofrenia hingga saat ini masih belum diketahui, namun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa gejala skizofrenia dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor biologis dan faktor psikologis.

Kedua faktor penyebab gejala skizofrenia memiliki penjelasan sebagai berikut:

a. Model Diatesis Stres

Menurut teori ini skizofrenia dapat timbul karena adanya integrasi antara faktor biologis, faktor psikososial dan lingkungan. Seseorang yang rentan (diatesis) jika dikenai stressor, maka akan lebih mudah untuk menjadi skizofrenia.

  1. Faktor biologis
    Faktor genetik mempunyai peranan terhadap terjadinya suatu skizofrenia. Kembar identik dipengaruhi oleh gen sebesar 28% sedangkan pada kembar monozygot dan kembar dizygot pengaruh gen adalah sebesar 1,8% – 4,1%. Selain itu, kemungkinan skizofrenia berkaitan dengan kromosom 1,3,5,11 dan kromosom X. penelitian genetik ini dihubungkan dengan COMT (Catechol-O-Methyl Transferse) dalam encoding dopamine sehingga mempengaruhi fungsi dopamine.

  2. Faktor psikososial
    Faktor pencetus dan kekambuhan pada skizofrenia dipengaruhi oleh emotional turbulent families, stressful life events, diskrimasi, dan kemiskinan. Lingkungan emosional yang tidak stabil mempunyai risiko yang besar pada perkembangan suatu skizofrenia. Diskrimasi pada kmunitas minoritas mempunyai angka kejadian skizofrenia yang tinggi. Skizofrenia lebih banyak didapatkan pada masyarakat di lingkungan perkotaan dibandingkan dengan masyarakat pedesaan.

  3. Faktor lingkungan
    Pada penderita skizofrenia dikenal istilah down ward drift (orang yang terkena skizofrenia akan bergeser ke kelompok sosial ekonomi rendah atau gagal keluar dari sosial ekonomi rendah). Sosial drift hipotesis menyatakan bahwa seseorang yang menderita skizofrenia akan bergantung kepada lingkungan disekitarnya, kehilangan pekerjaan dan berkurangnya penghasilan.

b. Faktor Neurobiologis

Perkembangan saraf awal selama masa kehamilan ditentukan oleh asupan gizi selama hamil. Apabila ibu hamil selama masa kehamilan mengalami kurang gizi, maka janin yang dikandung memiliki resiko berkembang menjadi skizofrenia, dan trauma psikologis selama masa kehamilan juga dapat berpengaruh.

Pada masa anak-anak, kejadian seperti trauma masa kecil, kekerasan, hostilitas dan hubungan interpersonal yang kurang hangat yang diterima oleh anak sangat mempengaruhi perkembangan neurogikal anak sehingga anak lebih rentan mengalami skizofrenia dikemudian hari.

Berdasarkan penelitian saat ini tentang skizofrenia menunjukkan adanya perbedaan struktur dan fungsi dari daerah otak pada penderita skizofrenia. Dengan Positron Emission Tomography (PET) dapat terlihat kurangnya aktivitas didaerah lobus frontal, dimana lobus frontal itu sendiri berfungsi sebagai memori kerja.

Pemeriksaan dengan menggunakan PET menunjukkan gejala negative memiliki abnormalitas metabolic yang lebih besar di daerah sirkuit frontal, temporal dan serebelar dibandingkan dengan penderita skizofrenia dengan gejala positif. Menurunnya atensi pada penderita skizofrenia berhubungan dengan hipoaktivitas di daerah korteks singulat anterior. Retardasi motorik berhubungan dengan hipoaktivitas di daerah basal ganglia.

Gangguan berbicara dan mengekspresikan emosi berhubungan dengan rendahnya metabolisme glukosa di area Brodmann 22 (korteks bahasa asosiatif sensoris), area Brodmann 43 (transkortikal), area Brodmann 45 dan 44 (premotorik), area Brodmann 4 dan 6 (motorik).

Gejala posistif berhubungan dengan peningkatan aliran darah di daerah temporomedial, sedangkan gejala disorganisasi berhubungan dengan peningkatan aliran darah di daerah korteks singulat dan striatum.

Halusinasi sering berhubungan dengan perubahan aliran darah di regio hipokampus, parahipokampus, dan amigdala. Halusinasi yang kronik berhubungan dengan peningkatan aliran darah di daerah lobus temporal kiri. Waham sering dihubungan dengan peningkatan aliran darah di daerah lobus temporal medial kiri dan penurunan aliran darah di daerah korteks singulat posterior dan lobus temporal lateral kiri. Gangguan penilaian realita pada penderita skizofrenia berhubungan dengan aliran darah di daerah korteks prefrontal lateral kiri, striatum ventral, girus temporalis superior, dan region parahipokampus. Disorganisasi verbal pada penderita skizofrenia berhubungan dengan menurunnya aktivitas di daerah korteks frontal inferior, singulat, dan temporal kiri.

Pada penderita skizofrenia didapati adanya penurunan fungsi kognitif. Salah satu penurunan fungsi kognitif yang sering ditemukan adalah gangguan memori dan fungsi kognitif lainnya.

Fungsi eksekutif kognitif yang terganggu adalah kemampuan berbahasa, memecahkan masalah, mengambil keputusan, atensi dan perencanaan. Sedangkan gangguan memori yang sering dialami adalah gangguan memori jangka pendek.

Skizofrenia

Dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) terlihat pelebaran di daerah ventricular tiga dan lateral terutama bila yang menonjol adalah gejala negatifnya. Ini merupakan implikasi dari perubahan di daerah preventikular limbic striata, mengecilnya ukuran dari lobus frontal dan temporal.

Daerah otak yang terlibat adalah system limbic, lobus frontalis, ganglia basalis, batang otak dan thalamus. Hal ini berhubungan dengan menurunnya fungsi neurokognitif seperti memori, atensi, pemecahan masalah, fungsi eksekutif dan sosial cognition. Gambaran EEG dari penderita skizofrenia memperlihatkan hilangnya aktivasi gamma band, yang menandakan melemahnya integrasi antara jaringan saraf di otak.

Teori Neurotransmitter berhubungan dengan hipotesis Dopamin, Serotonin (5HT), Glutamat dan NMDA, GABA, Norepeniprene, Peptida/Neurotensin. Hipotesis dopamine (D1-D5) mengatakan bahwa reseptor D2 sangat mempengaruhi symptom posistif dari skizofrenia.

Fase & Karakteristik Diagnostik


Fase skizofrenia

Perjalanan penyakit skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase berikut:

  1. Fase prodromal
    Yaitu suatu periode yang mendahului fase aktif. Pada fase ini individu menunjukkan deteriorasi/penurunan progresif dalam fungsi sosial dan interpersonal. Fase ini dicirikan dengan beberapa perilaku maladaptive, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, produktifitas kerja manurun, keeksentrikan, tidak terawat, emosi tidak tepat, pikiran dan ucapan yang aneh, harga diri rendah (HDR), pengalaman persepsi yang aneh, serta energi dan inisiatif yang menurun. Gejala – gejala tersebut dapat dalam hitungan minggu, bulan atau lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik menjadi jelas. Semakin lama fase prodromal, maka semakin buruk prognosisnya.

  2. Fase aktif
    Pada fase aktif, gejala skizofrenia menjadi semakin jelas, seperti delusi, halusinasi, ucapan yang tidak teratur, perilaku terganggu, dan gejala negative seperti ketidakmampuan bicara dan kurangnya inisiatif. Umumnya fase aktif akan diikuti oleh faseresidu.

  3. Fase residu
    Fase ini memiliki gejala-gejala yang sama dengan fase prodromal tetapi gejala psikotiknya sudah berkurang. Di samping gejala-gejala yang terjadi pada ketiga fase di atas, penderita skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan peristiwa, kewaspadaan dan eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan sosial)

Karakteristik diagnostik skizofrenia

Karakteristik diagnostik skizofrenia adalah sebagai berikut :

  1. Orang dengan skizofrenia (ODS) mengalami gangguam yang berlangsung setidaknya selama 6 bulan dan meliputi setidaknya 1 bulan gejala aktif, termasuk diantaranya 2 gejala berikut:

    • Delusi
    • Halusinasi
    • Ucapan yang tidak teratur
    • Perilaku yang mengganggu atau perilaku katatonik
    • Gejala negative, seperti afek yang datar dan kurangnya motivasi yang parah.
  2. Seiring waktu, secara signifikan, sejak awal kemunculan gejala, orang dengan skizofrenia mengalami disfungsi dalam bekerja, hubungan dan perawatan diri.

  3. Gejala – gejala tersebut tidak diakibatkan oleh gangguan lain, kondisi medis atau pengaruh obat-obatan.

Tanda dan Gejala


Skizofrenia

Symptom atau gejala skizofrenia dapat di klasifikasikan menjadi 5 gejala, yaitu:

a. Gejala Positif

Gejala positif menggambarkan fungsi normal yang berlebihan dan khas, meliputi waham, halusinasi, disorganisasi pembicaraan dan disorganisasi perilaku seperti katatonia atau agitasi.

b. Gejala Negative

Gejala negative terdiri dari 5 tipe gejala, antara lain:

  1. Affective Flattening
    Affective flattening yaitu ekspresi emosi yang terbatas, dalam rentang dan intensitas.

  2. Alogia
    Alogia adalah keterbatasan pembicaraan dan pikiran, dalam pikiran dan produktifitas.

  3. Avolition
    Avolition yaitu keterbatasan perilaku dalam menentukan tujuan.

  4. Anhedonia
    Anhedonia adalah berkurangnya minat dan menarik diri dari seluruh aktifitas yang menyenangkan dan biasa dilakukan oleh penderita.

  5. Gangguan atensi
    Suatu gejala dapat dikatakan gejala negative apabila ditemukan adanya penurunan fungsi afek normal pada penderita skizofrenia, seperti afek tumpul, penarikaan emosi (emotional withdrawal) dalam berkomunikasi, menjadi bersikap lebih pasif, dan menarik diri dari hubungan sosial. Hal lain yang sering tampak dari gejala negative adalah kesulitan dalam berpikir, perawatan diri dan fungsi sosial yang menurun.

c. Gejala Kognitif

Gejala kognitif selain gangguan pikiran dapat juga terjadi inkoheren, asosiasi longgar, atau neologisme. Gangguan kognitif spesifik yang lain adalah gangguan atensi dan gangguan pengolahan informasi. Gangguan kognitif yang paling berat dan sering ditunjukkan oleh penderita skizofrenia adalah:

  1. Gangguan verbal fluency, adalah kemampuan untuk menghasilkan pembicaraan yang spontan.

  2. Gangguan serial learning, yaitu gangguan dalam mengurutkan peristiwa.

  3. Gangguan dalam vigilance, adalah gangguan yang berhubungan dengan kewaspadaan.

  4. Gangguan eksekutif, adalah gangguan yang berhubungan dengan atensi, konsentrasi, prioritas dan perilaku pada hubungan sosial.

d. Gejala Agresif dan Hostile

Hostilitas pada penderita skizofrenia dapat berupa penyerangan fisik atau verbal terhadap orang lain di lingkungan sekitar maupun penyerangan dalam bentuk fisik atau kata – kata yang kasar. Perilaku bunuh diri (suicide), merusak barang orang lain, dan seksual acting out merupakan bentuk gejala agresif dan hostilitas yang sering didapati pada penderita skizofrenia.

e. Gejala Depresi dan Anxious

Gejala depresi dan axious pada penderita skizofrenia sering kali didapatkan bersamaan dengan gejala lain seperti mood yang terdepresi, mood cemas, rasa bersalah (guilt), tension, irritabilitas atau kecemasan.

Klasifikasi


PPDGJ III mengklasifikasikan tipe skizofrenia menjadi 7 tipe, yang akan di uraikan sebagai berikut: (21)

a. Tipe paranoid (F20.0)

  1. Merupakan tipe skizofrenia yang paling sering ditemukan.

  2. Gambaran klinisnya didominasi oleh waham yang bersifat stabil, biasanya disertai oleh halusinasi dan gangguan persepsi.

  3. Kriteria diagnostik:

    • Halusinasi atau waham harus menonjol
    • Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan serta gejala katatonik yang tidak nyata.
    • Halusinasi pendenganran (berupa ancaman atau perintah terhadap pasien), atau halusinasi tanpa bentuk verbal seperti bunyi peluit, mendenggung atau bunyi tawa. Halusinasi penciuman atau pengecapan rasa atau bersifat seksual.
    • Waham yang berupa dikendalikan, dipengaruhi, passivity atau kejar. Paling khas adalah waham kejar.

b. Tipe hebenefrik (F20.1)

  1. Diperlukan waktu selama 2-3 bulan observasi sebelum menegakkan diagnose

  2. Terdapat gangguan afektif, dorongan kehendak, dan gangguan proses pikir yang menonjol

  3. Adanya perilaku tanpa tujuan dan tanpa mkasud merupakan ciri khas tipe ini.

c. Tipe katatonik (F20.2)

  1. Merupakan tipe skizofrenia yang jarang ditemukan

  2. Memiliki kriteria diagnostik sebagai berikut:

  • Tepenuhi kriteria diagnosis skizofrenia
  • Terdapat 1 atau lebih gejala berikut, yaitu: stupor mutisme, kegelisahan, posturing, negativism, ragiditas, waxy flexibilitas, atau command automatisme
  1. Apabilan pasien tidak komunikatif dan terdapat manifestasi katatonik, maka untuk sementara penegakkan diagnosis harus ditunda sampai diperoleh adanya bukti yang mendukung skizofrenia katatonik.

d. Tipe tak terinci (Undifferentiated) (F20.3)

Kriteria diagnosis tipe ini dapat ditegakkan apabila memenuhi kriteria diagnosis untuk skizofrenia, tetapi tidak memenuhi kriteria tipe paranoid, hebefrenik, katatonik residual, atau pasca skizofrenia.

e. Tipe residual (F20.5)

  1. Tipe ini merupakan stadium kronis dari skizofrenia

  2. Kriteria diagnostik yang dimiliki antara lain:

    • Gejala negative skizofrenia yang menonjol
    • Adanya riwayat satu episode pikotik yang jelas dimasa lalu yang memenuhi kriteria skizofrenia
    • Paling sedikit melampaui kurun waktu satu tahun, intensitas dan frekuensi gejala yang nyata sangat berkurang dan telah menimbulkan sindrom negative
    • Tidak terdapat dimensia, penyakit otak organic atau depresi kronis.

f. Tipe simpleks (F20.6)

  1. Symptom negative bersifat perlahan – lahan tetapi progresif

  2. Tidak terdapt waham dan halusinasi

  3. Gejala psikotik tampak kurang nyatajika dibandingkan dengan skizofrenia tipe lain

  4. Symptom negative timbul tanpa didahului oleh gejala – gejala psikotik yang nyata.

g. Tipe depresi pasca skizofrenia (F20.4)

  1. Skizofrenia sudah berlangsung selama 12 bulan (1 tahun)

  2. Gejala skizofrenia masih tetap ada

  3. Terdapat gejala-gejala depresif yang menonjol dan mengganggu, memenuhi episode depresif dan berlangsung minimal 2 minggu.

Penatalaksanaan


Penatalaksanaan skizofrenia diarahkan pada 3 pendekatan yaitu pendekatan farmakologis, psikologis dan sosial. Sebab penatalaksanaan yang diberikan secara komprehensif pada penderita skizofrenia menghasilkan perbaikan yang lebih optimal dibandingkan penatalaksanaan secara tunggal. Selanjutnya akan di uraikan sebagai berikut:

a. Pengobatan (terapi psikofarmaka)

Pengobatan menggunakan antipsikotik merupakan penatalaksanaan yang utama. Antipsikotik tipikal (konvensional) dan atipikal (generasi ke-2) merupakan antipsikotik yang efektif dalam mengobati gejala posistif (seperti waham, halusinasi, fenomena passivity) serta mencegah kekambuhan pada penderita skizofrenia. Meskipun demikian, kedua antipsikotik tersebut mempunyai riwayat efek samping yang berbeda. Antipsikotik atipikal menyebabkan efek samping motorik yang lebih ringan, tetapi beberapa berhubungan dengan penambahan berat badan, kecuali klozapin dan prototype terbukti tidak merespons obat psikotik lainnya. Antipsikotik atipikal dapat efektif mengobati gejala negative.

Pengobatan dapat dilakukan dengan cara oral, intramuscular atau dengan injeksi depot jangka panjang. Terapi psikofarmaka pada skizofrenia sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setelah diagnosis ditetapkan, mengingat bahwa lama waktu pelaksanaan yang efektif dan onset dapat berdampak lebih buruk. Penatalaksanaan terapi psikofarmaka dimulai dengan dosis terendah yang secara efektif mengendalikan gejala dan meminimalkan efek samping. Selain itu, antipsikotik juga menimbulkan efek samping (misalnya distonia, oculagryc crisis), maka obat antikolinergik (misalnya prosiklidin, benztropin) perlu segera diberikan.

Pemberian obat antiparkinson secara teratur perlu dihindari sebab dapat mengakibatkan efek samping (seperti penglihatan rabun, mulut kering) yang dapat mencetuskan tardive dyskenia (TD), peningkatan berat badan, aritmia jantung dan diabetes dapat menjadi masalah serius saat pengobatan dengan antipsikotik atipikal, sehingga pasien memerlukan pemantauan teratur berat badan, profil lipid, glukosa dan ECG.

b. Penatalaksanaan psikologis

Terapi perilaku kognitif atau CBT (cognitive behavioural therapy) seringkali bermanfaat dalam membantu pasien mengatasi waham dan halusinasi yang menetap. Terapi CBT memiliki tujuan untuk mengurangi penderitaan dan ketidakmampuan, tetapi tidak secara langsung menghilangkan gejala. Baik penderita skizofrenia maupun keluarga dengan ODS (orang dengan skizofrenia) penting untuk mendapat dukungan psikologis. Terapi keluarga dapat diberikan sebab terbukti membantu mereka mengurangi ekspresi emosi yang berlebihan, dan efektif mencegah kekambuhan. bantuan mandiri (contoh organisasi hearing voice)dapat membantu penderita psikosis untuk berbagi pengalaman dan cara untuk menghadapigejalanya.

c. Dukungan sosial

Dukungan sosial dapat lebih efektif apabila diberikan pada saat penderita skizofrenia berada dalam fase perbaikan dibandingkan pada saat fase akut. Membantu penderita untuk kembali bekerja atau sekolah sangat penting dalam menjaga kepercayaan diri dan kualitas hidupnya. Tersedianya rawat inap dan layanan rehabilitasi masyarakat bertujuan untuk memaksimalkan kemandirian pasien (misalnya dengan melatih keterampilan hidup sehari-hari).

Orang dengan skizofrenia (ODS) yang tidak dirawat di rumah sakit tetapi dalam komunitasnya bila memungkinkan, mengingat rawat inap mungkin diperlukan bila terdapat risiko tinggi pasien ditelantarkan, risiko bunuh diri, atau melukai orang lain. Undang – undang kesehatan jiwa mungkin juga diperlukan bagi ODS yang menolak diobati. Selain itu, memberikan perawatan yang positif dan tanpa stigma sangat diperlukan bagi pasien yang akan kembali berhubungan dengan tim perawat agar mematuhi perawatan.

Skizofrenia adalah gangguan mental yang terjadi dalam jangka panjang. Gangguan ini menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi.

Skizofrenia adalah penyakit mental kronis yang menyebabkan gangguan proses berpikir. Orang dengan skizofrenia tidak bisa membedakan mana khayalan dan kenyataan. Itu sebabnya masyarakat Indonesia sering menyebut skizofrenia dengan “gila”. Penyakit ini juga menyebabkan pengidapnya tidak memiliki kemampuan untuk berpikir, mengingat, ataupun memahami masalah tertentu.

Skizofrenia paranoid merupakan jenis skizofrenia yang paling sering ditemukan di tengah masyarakat. Gejala paling khas dari skizofrenia paranoid adalah delusi waham dan halusinasi. Itulah sebabnya, orang dengan skizofrenia paranoid cenderung mendengar suara-suara di dalam pikiran mereka dan melihat sesuatu yang tidak nyata.

Tidak hanya itu, orang yang memiliki skizofrenia paranoid juga sering menunjukkan perilaku kacau yang menyebabkan diri mereka tidak dapat mengendalikan perilakunya. Akibatnya, pengidap skizofrenia paranoid sering berperilaku tidak pantas, sulit mengendalikan emosi, hasrat, serta keinginannya.

Secara umum, skizofrenia adalah gangguan kejiwaan kronis yang membutuhkan pengobatan berkepanjangan untuk meringankan gejalanya.

Seberapa umumkah penyakit skizofrenia?

Sebanyak 1 dari 100 orang, atau sekitar 1 persen populasi dunia, terkena penyakit ini. Skizofrenia adalah penyakit yang dapat dialami oleh pria dan wanita dari rentang usia 16-30 tahun. Namun dalam banyak kasus, penyakit ini lebih sering dialami oleh pasien pria daripada wanita.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja ciri dan gejala skizofrenia?

Gejala skizofrenia pada dasarnya bervariasi berdasarkan jenis dan tingkat keparahannya. Meski begitu, ada beberapa gejala yang paling khas di antaranya:

  • Halusinasi. Orang yang terkena skizofrenia paranoid sering mendengar, melihat, mencium, atau merasakan hal-hal yang tidak nyata. Paling sering mereka mendengar suara yang jelas dari orang yang dikenal ataupun orang yang tidak dikenal. Suara ini mungkin akan memberi tahu penderita untuk melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, seperti bunuh diri atau membunuh orang lain.
  • Delusi. Orang dengan skizofrenia paranoid juga mungkin memiliki keyakinan kuat akan suatu hal yang salah, misalnya merasa orang lain ingin mencelakakan atau membunuh dirinya. Gejala skizofrenia yang satu ini akan berdampak langsung pada perilaku pengidapnya.
  • Pikiran kacau dan ucapan membingungkan. Orang dengan kondisi ini sering kesulitan untuk mengatur pikiran mereka. Mereka mungkin tidak memahami apa yang Anda bicarakan saat Anda mengajaknya berbicara. Tidak hanya itu, ketika mereka berbicara, mereka sering mengeluarkan ucapan yang tidak masuk akan dan terdengar membingkungkan.
  • Sulit konsentrasi. Pikiran yang carut marut membuat orang dengan kondisi ini kesulitan untuk berkonsetrasi atau fokus pada satu hal.
  • Gerakan berbeda. Beberapa orang dengan kondisi ini sering nampak gelisah. Sering kali mereka melakukan gerakan yang sama berulang kali. Meski begitu, terkadang mereka dapat juga diam selama berjam-jam (katatonik).

Gejala skizofrenia lainnya juga dapat meliputi:

  • Kurangnya minat pada hal-hal yang dulunya sangat disukai.
  • Tidak peduli terhadap kebersihan dan penampilan diri.
  • Penarikan diri dari lingkungan sosial, seperti teman dan keluarga.
  • Kesulitan tidur atau pola tidur yang berubah.
  • Sangat sensitif dan memiliki suasana hati yang tertekan.
  • Tidak responsif terhadap lingkungan sekitar
  • Kurang motivasi dalam menjalani hidup, termasuk untuk menjalin hubungan dengan orang lain.
  • Konflik pada pikiran, sulit membuat keputusan
  • Kesulitan untuk mengekspresikan dan memperlihatkan emosi
  • Ketakutan akan tempat umum yang ramai
  • Paranoia, seperti kecemasan berlebihan, percaya dirinya mempunyai kemampuan khusus atau mengidap penyakit tertentu yang sebenarnya tidak ada pada dirinya.

Gejala di atas terkadang sulit dikenali karena biasanya umum terjadi pada remaja. Akibatnya, banyak orang menganggap jika gejala tersebut adalah hal yang lumrah sebagai fase remaja. Pada pria, gejala penyakit ini biasanya dimulai pada awal puberitas hingga pertengah usia 20-an. Sementara pada wanita, gejala biasanya dimulai pada akhir usia 20-an. Anak-anak dan lansia di atas 45 tahun jarang memiliki kondisi ini.

Kemungkinan ada beberapa tanda dan gejala skizofrenia yang tidak disertakan di atas. Apabila Anda memiliki kekhawatiran tentang gejala skizofrenia, segera konsultasikanlah ke dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Dalam banyak kasus, orang dengan kondisi ini biasanya tidak menyadari jika mereka memiliki gejala skizofrenia dan membutuhkan pengobatan. Oleh sebab itu, jika Anda mencurigai seseorang di sekitar Anda menunjukkan gejala skizofrenia seperti yang sudah disebutkan di atas, segera ajak orang tersebut ke dokter.

Pasien mungkin akan berontak dan mencoba untuk lari, jadi Anda harus berdiskusi dengan pihak rumah sakit atau ahli jiwa untuk mengusahakan upaya pengobatan yang aman bagi pasien.

Apa penyebab penyakit skizofrenia?

Sampai saat ini para ahli belum mengetahui apa yang menyebabkan seseorang mengalami penyakit kejiwaan. Meski begitu, para peneliti percaya bahwa ada beberapa hal yang dapat memicu penyakit ini. Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab penyakit skizofrenia adalah:

  • Senyawa kimia di otak. Kadar seratonin dan dopamine di dalam otak yang tidak seimbang diyakini apara hli bisa menyebabkan penyakit ini.
  • Perbedaan struktur otak. Studi pemindai saraf otak menunjukkan perbedaan dalam struktur otak dan sistem saraf pusat orang dengan penyakit ini Para peneliti tidak yakin mengapa hal tersebut bisa terjadi, namun mereka menyebutkan bahwa gangguan kejiwaan ini terkait dengan penyakit otak.
  • Genetik. Penyakit ini mungkin diwariskan di dalam keluarga. Jadi, jika salah satu keluarga inti Anda terkena penyakit ini, Anda berisiko tinggi mengalami hal yang serupa.
  • Faktor lingkungan. Terkena infeksi virus dan kekurangan beberapa nutrisi ketika masih dalam kandungan.
  • Obat-obatan tertentu. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang seperti narkotika.

Faktor-faktor risiko

Siapa saja yang berisiko mengidap penyakit skizofrenia?

Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit skizofrenia adalah:

  • Memiliki keluarga yang terkena penyakit ini. Apabila Anda memiliki keluarga, khususnya orangtua atau saudara kandung yang terkena penyakit ini, risiko Anda 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan orang lain.
  • Infeksi virus, keracunan, dan kekurangan gizi saat masih di dalam kandungan khususnya pada usia kandungan 6 bulan pertama.
  • Memiliki ayah yang sudah tua saat Anda dilahirkan.
  • Menggunakan inhibitor atau stimulasi saraf pada usia dini.
  • Memiliki penyakit autoimun.

Selain beberapa hal yang disebutkan di atas, ternyata stres juga berpotensi sebagai penyebab seseorang mengalami penyakit skizofrenia. Banyak hal yang dapat menyebabkan seseorang terkena stres, misalnya masalah keuangan, rumah tangga, pekerjaan, dan lain sebagainya.

Bagaimana cara mengobati penyakit skizofrenia?

Skizofrenia adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara total. Akan tetapi, beberapa gejalanya dapat ditangani dengan pengobatan dan terapi perilaku kognitif, sehingga penderitanya dapat lebih mudah untuk menjalani aktivitas.

Orang dengan kondisi ini bisanya dirawat oleh seorang psikiater dan psikolog berpengalaman. Dalam banyak kasus, perawatan di rumah sakit jiwa diperlukan agar kebersihan, nutrisi, serta keamanan pasien terjamin. Secara umum, beberapa pilihan pengobatan untuk penyakit skizofrenia adalah:

Obat skizofrenia

Obat-obatan memegang peranan penting untuk membantu mengendalikan gejala sikozofrenia. Obat skizofrenia yang biasa diresepkan adalah antipsikotik. Obat antipsikotik bekerja dengan memengaruhi neurotransmitter dopamin dan serotonin di dalam otak, sehingga obat ini dapat membantu meringankan gejala skizofrenia.

Obat skizofrenia ini dapat digunakan lewat oral atau suntikan. Jika pasien mengembangkan gejala yang tergolong ringan sehingga masih mudah diatur, dokter akan memberikan obat skizofrenia oral. Sementara jika pasien mengembaangkan gejala yang tergolong berat sehingga sulit untuk diatur, dokter terpaksa akan memberikan obat skizofrenia suntik.

Antipsikotik dibagi menjadi dua kelompok, yaitu antipsikotik generasi pertama dan generasi kedua. Antipsikotik generasi kedua umumnya lebih sering diresepkan dokter karena memiliki risiko efek samping yang lebih rendah daripadai antipsikotik generasi pertama. Obat skizofrenia antipsikotik generasi kedua meliputi:

  • Aripiprazole (Abilify)
  • Asenapine (Saphris)
  • Brexpiprazole (Rexulti)
  • Cariprazine (Vraylar)
  • Clozapine (Clozaril)
  • Iloperidone (Fanapt)
  • Lurasidone (Latuda)
  • Olanzapine (Zyprexa)
  • Paliperidone (Invega)
  • Quetiapine (Seroquel)
  • Risperidone (Risperdal)
  • Ziprasidone (Geodon)

Obat antipsikotik generasi pertama memiliki efek samping yang memengaruhi saraf (neurologis), seperti kejang otot, kedutan, serta gemetar. Meski obat antipsikotik kedua sering diresepkan karena minim efek samping, antipsikotik generasi pertama umumnya lebih murah. Terutama pada versi generik, yang dapat menjadi pertimbangan penting untuk pengobatan jangka panjang. Beberapa obat skizofrenia antipsikotik generasi pertama meliputi:

  • Chlorpromazine
  • Fluphenazine
  • Haloperidol
  • Perphenazine

Dokter Anda juga mungkin akan meresepkan obat lain, seperti antidepresan atau obat antikecemasan. Selalu konsultasi ke dokter tentang manfaat dan efek samping dari obat apapun yang diresepkan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang serius.

Terapi kognitif

Penyakit kejiwaan sering terjadi karena pasien memiliki konsep pemikiran yang dibangun bukan berdasarkan logika, dalam jangka waktu yang lama. Dokter akan menyarankan terapi kognitif untuk membantu pasien menemukan kebiasaan alam bawah sadar yang menyebabkan penyakit ini.

Kemudian, akan dilakukan terapi perilaku dan pelatihan secara psikologis untuk memperbaiki cara berpikir yang salah tersebut. Saat pemikiran-pemikiran negatif tersebut berkurang dan kognitif Anda kembali normal (kemampuan mengingat sampai pada kemampuan memecahkan masalah), tandanya gejala telah berhasil diatasi.

Dokter Anda mungkin akan memberi resep antineurotik harian untuk mencegah gejala seperti delusi dan paranoid. Tambahannya, dokter Anda mungkin akan menggunakan pengobatan psiko-sosial untuk para pasien. Pengobatan psikososial adalah terapi konseling yang mendukung kegiatan sehari-hari dan juga aktivitas-aktivitas komunitas.

Grup pekerja sosial yang dipandu oleh para dokter akan mengajarkan Anda dan orang terdekat Anda seputar soft skill yang dibutuhkan dalam aktivitas sehari-hari.

Apa saja tes untuk mendiagnosis penyakit skizofrenia?

Saat dokter mencurigai adanya gejala skizofrenia pada pasien, umumnya mereka akan memeriksa riwayat medis, evaluasi kejiwaan, dan beberapa pemeriksaan fisik. Beberapa pemeriksaan yang umum dilakukan dokter untuk mendiagnosis skizofrenia adalah:

  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan ini dilakukan untuk membantu memastikan ada tidaknya masalah lain yang dapat menyebabkan gejala.
  • Pemeriksaan darah lengkap. Tes ini dilakukan untuk memastikan jika gejala yang ditimbulkan pasien bukan karena pengaruh alkohol, obat-obatan tertentu, ataupun kondisi medis lainnya.
  • Dokter juga mungkin akan meminta tes gambar, seperti MRI atau CT scan untuk melihat ada tidaknya kelainan pada struktur otak dan sistem saraf pusat pasien.
  • Evaluasi kejiwaan. Dokter atau ahli kesehatan mental akan memeriksa status mental pasien dengan mengamati penampilan, pikiran, suasana hati, serta diskusi tentang keluarga atau pengalaman pribadi pasien.

Apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyakit skizofrenia?

Gaya hidup dan pengobatan rumahan yang mungkin dapat membantu Anda mengatasi penyakit skizofrenia adalah:

  • Minum obat Anda setiap hari seperti pada resep dokter.
  • Saat halusinasi muncul, cobalah untuk mengabaikan halusinasi itu dengan memfokuskan diri Anda pada hal lain, misalnya dengan membaca buku, mendengarkan musik, berdoa, atau berbicara dengan teman.
  • Ikut berpartisipasi dalam program atau aktivitas yang dianjurkan. Pertimbangkan untuk ikut dalam support group pekerja sosial.
  • Hindari alkohol karena alkohol dapat menghambat efek obat skizofrenia.
  • Jangan biarkan anggota keluarga yang mengidap penyakit ini merasa tertekan. Stres, kurang tidur, diet yang tidak seimbang, dan kafein dapat menyebabkan gejala kambuh.
  • Hubungi dokter apabila Anda atau keluarga Anda mendengar suara, merasa paranoid atau memiliki pikiran-pikiran yang aneh.
  • Hubungi dokter Anda apabila Anda atau anggota keluarga Anda kurang tidur, terlihat depresi, atau mempunyai perasaan ingin bunuh diri.
  • Jangan menggunakan obat skizofrenia yang ilegal.
  • Jangan menggunakan obat skizofrenia di luar resep tanpa sepengetahuan dokter Anda

Tips merawat orang dengan penyakit ini di rumah

Hidup serumah dengan orang yang memiliki penyakit ini memang bukan hal yang mudah. Anda membutuhkan sejumlah strategi untuk membimbing dan menghadapi pasien agar mempercepat proses pemulihannya. Tips merawat orang dengan skizofrenia adalah:

1. Pelajari penyakitnya sebaik mungkin

Belajar tentang penyebab, faktor pemicu, gejala, hingga pengobatannya akan membantu Anda dalam membuat keputusan bagaimana cara terbaik merawat pasien.

2. Konsultasi ke psikiater atau lembaga bantuan lokal

Supaya dapat memberikan dukungan dan perawatan yang baik kepada pasien, Anda membutuhkan bantuan dari pihak luar. Itu sebabnya, jangan ragu untuk meminta bantuan dengan ahli kejiwaan, psikiater, atau komunitas terkait penyakit ini. Semakin banyak Anda mendapatkan dukungan, semakin baik gai Anda dan jalannya pemulihan pasien.

3. Pandu pasien untuk mendapatkan perawatan medis

Dalam banyak kasus, orang yang memiliki penyakit ini sering diasingkan atau bahkan dipasung karena banyak orang menganggap mereka berbahaya. Ingat, seseorang dengan penyakit ini sering tidak menyadari bahwa mereka tidak sehat, sampai mereka mendapatkan perawatan. Oleh karena itu, memotivasinya untuk mendapatkan bantuan medis guna mengelola gejala adalah landasan perawatan yang tepat.

4. Selalu dampingi pasien

Meski pasien sudah keluar dari rawat inap, mereka juga butuh didampingi agar teta berada di jalur pemulihan yang benar. Dorongan dan dukungan Anda serta orang-orang di sekitarnya adalah hal yang penting baginya untuk melanjutkan terapi.

Skizofrenia berasal dari kata Yunani yang bermakna schizo artinya terbagi atau terpecah dan phrenia yang berarti pikiran. Skizofrenia merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan perilaku yang aneh dan terganggu (Videbeck, 2008 dalam Nuraenah, 2012).

Skizofrenia merupakan gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi fungsi normal kognitif, mempengaruhi emosional dan tingkah laku (Depkes RI, 2015). Gangguan jiwa skizofrenia sifatnya adalah ganguan yang lebih kronis dan melemahkan dibandingkan dengan gangguan mental lain (Puspitasari, 2009).

Stuart (2007) menjelaskan bahwa skizofrenia merupakan penyakit otak yang persisten dan juga serius yang bisa mengakibatkan perilaku psikotik, kesulitan dalam memproses informasi yang masuk, kesulitan dalam hubungan interpersonal, kesulitan dalam memecahkan suatu masalah.

  • Etiologi

Skizofrenia dianggap sebagai gangguan yang penyebabnya multipel dan saling berinteraksi. Diantara faktor multipel itu dapat disebut :

  1. Keturunan
    Penelitian pada keluarga penderita skizofrenia terutama anak kembar satu telur angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8%, bagi saudara kandung 7- 15%, anak dengan salah satu orang tua menderita skizofrenia 7-16%. Apabila kedua orang tua menderita skizofrenia 40-60%, kembar dua telur 2-15%. Kembar satu telur 61-68%. Menurut hukum Mendel skizofrenia diturunkan melalui genetik yang resesif. (Lumbantobing, 2007).

  2. Gangguan Anatomik
    Dicurigai ada beberapa bangunan anatomi di otak berperan, yaitu : Lobus temporal, system limbic dan reticular activating system. Ventrikel penderita skizofrenia lebih besar daripada kontrol. Pemeriksaan MRI menunjukkan hilangnya atau 9 kemungkinan budaya atau adat yang dianggap terlalu berat bagi seseorang dapat menyebabkan seseorang menjadi gangguan jiwa.

  3. Faktor Presipitasi
    Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Anna, 2008).

    Faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah :

  • Biologis
    Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk yang ada di dalam otak, yang dapat mengakibatkan.
  • Stress Lingkungan
  • Sumber Koping

Jenis-jenis Skizofrenia


  1. Skizofrenia simpleks
    Skizofrenia simpleks, sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama ialah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. Jenis ini timbul secara perlahan.

    Pada permulaan mungkin penderita kurang memperhatikan keluarganya atau menarik diri dari pergaulan. Makin lama ia semakin mundur dalam kerjaan atau pelajaran dan pada akhirnya menjadi pengangguran, dan bila tidak ada orang yang menolongnya ia akan mungkin akan menjadi “pengemis”, “pelacur” atau “penjahat” (Maramis, 2008).

  2. Skizofrenia hebefrenik
    Skizofrenia hebefrenik atau disebut juga hebefrenia, menurut Maramis (2008) permulaannya perlahan-lahan dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15–25 tahun. Gejala yang menyolok adalah gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi. Gangguan psikomotor seperti perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada jenis ini. Waham dan halusinasi banyak sekali.

  3. Skizofrenia katatonik
    Menurut Maramis (2008) skizofrenia katatonik atau disebut juga katatonia, timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik.

  • Stupor katatonik
    Pada stupor katatonik, penderita tidak menunjukan perhatian sama sekali terhadap lingkungannya dan emosinya sangat dangkal. Secara tiba-tiba atau perlahan-lahan penderita keluar dari keadaan stupor ini dan mulai berbicara dan bergerak.

  • Gaduh gelisah katatonik
    Pada gaduh gelisah katatonik, terdapat hiperaktivitas motorik, tapi tidak disertai dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari luar.

  1. Skizofrenia Paranoid
    Jenis ini berbeda dari jenis-jenis lainnya dalam perjalanan penyakit. Hebefrenia dan katatonia sering lama-kelamaan menunjukkan gejala-gejala skizofrenia simplek atau gejala campuran hebefrenia dan katatonia. Tidak demikian halnya dengan skizofrenia paranoid yang jalannya agak konstan (Maramis, 2008).

  2. Episode skizofrenia akut
    Gejala skizofrenia ini timbul mendadak sekali dan pasien seperti keadaan mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia luar dan dirinya sendiri berubah. Semuanya seakan-akan mempunyai arti yang khusus baginya.

    Prognosisnya baik dalam waktu beberapa minggu atau biasanya kurang dari enam bulan penderita sudah baik. Kadang-kadang bila kesadaran yang berkabut tadi hilang, maka timbul gejalagejala salah satu jenis skizofrenia yang lainnya (Maramis, 2008).

  3. Skizofrenia residual
    Skizofrenia residual, merupakan keadaan skizofrenia dengan gejala-gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan skizofrenia (Maramis, 2008).

  4. Skizofrenia skizoafektif
    Pada skizofrenia skizoafektif, di samping gejalagejala skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaan, juga gejala-gejala depresi atau gejala-gejala mania. Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa efek, tetapi mungkin juga timbul lagi serangan (Maramis, 2008).

Tanda dan Gejala


Menurut Bleuler dalam Maramis (2008) gejala skizofrenia dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :

  • Gejala primer. Gejala primer terdiri dari gangguan proses berpikir, gangguan emosi, gangguan kemauan serta autisme.

  • Gejala sekunder. Gangguan sekunder terdiri dari waham, halusinasi, dan gejala katatonik maupun gangguan psikomotor yang lain.

Penatalaksanaan


Ada berbagai macam terapi yang bisa kita berikan pada skizofrenia. Hal ini diberikan dengan kombinasi satu sama lain dan dengan jangka waktu yang relatif cukup lama. Terapi skizofrenia terdiri dari pemberian obat-obatan, psikoterapi, dan rehabilitasi. Terapi psikososial pada skizofrenia meliputi: terapi individu, terapi kelompok, terapi keluarga, rehabilitasi psikiatri, latihan ketrampilan sosial dan manajemen kasus (Hawari, 2009).

WHO merekomendasikan sistem 4 level untuk penanganan masalah gangguan jiwa, baik berbasis masyarakat maupun pada tatanan kebijakan seperti puskesmas dan rumah sakit.

  1. Level keempat adalah penanganan kesehatan jiwa di keluarga
  2. Level ketiga adalah dukungan dan penanganan kesehatan jiwa di masyarakat
  3. Level kedua adalah penanganan kesehatan jiwa melalui puskesmas
  4. Level pertama adalah pelayanan kesehatan jiwa komunitas
Referensi

http://eprints.umm.ac.id/38881/3/BAB%20II.pdf

Istilah skizofrenia berasal dari kata schizos : pecah belah dan phren: jiwa. Skizofrenia menjelaskan mengenai suatu gangguan jiwa dimana penderita mengalami perpecahan jiwa adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan, Kraepelin seorang ahli kedokteran jiwa dari kota Munich memaparkan skizofrenia sebagai bentuk kemunduran intelegensi sebelum waktunya yang dinamakannya demensia prekox (demensia : kemunduran intelegensi) prekox (muda, sebelum waktunya).

Ada banyak perkiraan sebagai penyebab terjadinya skizofrenia, baik yang berasal dari badaniah (somatogenik) maupun psikologis (psikogenik). Perkiraan penyebab skizofrenia yang berasal dari segi fisik yang pertama adalah berasal dari faktor genetik atau faktor keturunan, hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga penderita skizofrenia. Potensi untuk mendapatkan skizofrenia tidak langsung diturunkan melalui gen resesif, potensi ini mungkin kuat tapi mungkin lemah sebab selanjutnya juga akan tergantung pada lingkungan individu apakah akan menjadi skizofrenia atau tidak. Sama seperti penderita diabetes mellitus walaupun ia adalah resesif diabetes namun jika ia dapat menjaga pola hidup yang sehat maka ia tidak akan menderita diabetes. Selanjutnya adalah kelainan susunan syaraf pusat, yang terletak pada diensefalon atau kortex otak, kelainan tersebut mungkin disebabkan oleh perubahan postmortem.

Ada beberapa ahli yang menjelaskan mengenai teori psikogenik yang pertama adalah teori Adolf Meyer, menurut meyer skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, oleh karena itu timbul suatu disorganisasi kepribadian dan lama-kelamaan orang itu menjauhkan diri dari kenyataan (otisme). Kemudian teori Sigmund Freud, menurut Freud dalam skizofrenia terdapat kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik maupun somatik, superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yang berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme.

Gejala-gejala skizofrenia dibagi menjadi dua yaitu gejala primer dan gejala sekunder, gejala primer diantaranya gangguan proses pikiran (bentuk,langkah dan isi pikiran), gangguan afek dan emosi, gangguan kemauan, banyak penderita dengan skizofrenia mempunyai kelemahan kemauan. Mereka tidak dapat mengambil keputusan dan tidak dapat mengambil tindakan dalam suatu keputusan. Dan yang terakhir adalah gejala psikomotor juga dinamakan gejala katatonik atau gangguan perbuatan. Kemudian gejala sekunder yang terdiri dari waham, waham yang diderita penderita skizofrenik sering tida logis dan bizar. Tetapi penderita tidak memahami hal tersebut dan menganggap bahwa wahamnya merupakan fakta dan tidak dapat diubah oleh siapapun. Gejala sekunder yang kedua adalah halusinasi, pada skizofrenia halusinasi timbul tanpa ada penurunan kesadaran dan hal ini merupakan suatu gejala yang hampir tidak dijumpai pada keadaan lain. Paling sering pada skizofrenia adalah halusinasi pendengaran, halusinasi penciuman, halausinasi citarasa atau halusinasi taktil (singgungan).

Kraepelin membagi skizofrenia mejadi beberapa jenis:

  1. Skizofrenia kompleks, gejala utama pada jenis simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan.

  2. Jenis bebefrenik, gejala yang menonjol adalah gangguan proses berfikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality.

  3. Jenis katatonik, biasanya akut dan didahului oleh stress emosional, dapat terjadi stupor katatonik (penderita tidak menampakkan sama sekali ketertarikannya terhadap lingkungannya) dan gaduh gelisah katatonik ( terdapat hiperaktifitas motorik, tetapi tidak disertai emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi rangsangan dari luar).

  4. Jenis paranoid, gejala-gejala yang menyolok adalah waham primer disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi.

  5. Episoda skizofrenia akut, gejala skizofrenia muncul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi. Dalam keadaan ini seakan-akan dunia luar dan dirinya sendiri berkabut.

  6. Skizofrenia residual gejala yang menyolok adalah gangguan afek dan emosi, gangguan pikiran dan kemauan.

  7. Jenis skizo-afektif disamping gejala skizofrenia menonjol pada saat bersamaan juga gejala depresi atau gejala mania.

Jenis- jenis pengobatan pada skizofrenia:

  1. Farmakologi, pemberian neroleptika dosis rendah untuk skizofrenia menahun sedangkan dosis yang lebih tinggi diberikan pada penderita dengan psikomotorik yang meningkat.

  2. Terapi elektro-konvulsi (TEK) terapi konvulsi dapat memperpendek serangan skizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita.

  3. Terapi koma insulin, bila diberikan pada permulaan penyakit, maka akan mendapatkan hasil yang memuaskan.

  4. Psikoterapi dan rehabilitasi, psikoterapi yang dilakukan berbentuk suportif individual atau kelompok serta bimbingan yang praktis dengan maksud untuk mengembalikan penderita ke masyarakat.

  5. Lobotomi prefrontal, dilakukan bila terapi lain secara intensif tidak berhasil dan bila penderita sangat mengganggu lingkungannya.

Pengobatan pada skizofrenia tidak dapat sempurna sembuh tetapi dengan pengobatan dan bimbingan yang baik penderita dapat ditolong untuk berfungsi terus, bekerja sederhna dirumah ataupun diluar rumah. Keluarga atau orang lain dilingkungan penderita diberi penerangan (manipulasi lingkungan) agar mereka lebih sabar menghadapinya.

Skizofrenia adalah gangguan jiwa/ gangguan otak kronis yang mempengaruhi individu sepanjang kehidupannya yang ditandai dengan penurunan kemampuan berkomunikasi, gangguan realitas (halusinasi dan waham), efek tidak wajar, gangguan kognitif (tidak mampu berfikir abstrak) dan mengalami kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari. Pengaruh gangguan jiwa pada skizofrenia meliputi faktor kognisi, persepsi, emosi, perilaku, dan fungsi sosial.

Pasien skizofrenia berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Buchanan dan Carpenter (2000) menunjukkan bahwa jaringan otaknya relatif lebih sedikit, yang diperlihatkan oleh suatu kegagalan perkembangan atau kehilangan jaringan otak, yaitu terjadinya pembesaran ventrikel otak dan atrofi otak. Volume otak terjadi penurunan dan fungsi otak abnormal pada area temporal dan frontal yang berkorelasi dengan tidak adanya kemauan atau motivasi dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Penelitian yang dilakukan oleh Holmberg (1999) pada 22 pasien rawat jalan yang menderita skizofrenia bertujuan untuk melihat perawatan diri dan kesehatan pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien psikiatri kurang melakukan perawatan diri atau kegiatan aktivitas kesehatan.

Perilaku-perilaku pada pasien skizofrenia menurut Videbeck (2008) meliputi : gejala positif (halusinasi, delusi, gangguan pikiran, gangguan perilaku), dan gejala negatif (afek datar, defisit perawatan diri, menarik diri). National Institute of Mental Health (2009) menjelaskan hal yang sama seperti dijelaskan (2001) ditambah dengan gejala kognitif, yaitu kurangnya kemampuan memahami dan menggunakan inforasi dan sulit fokus. Sedangkan Stuart dan Sundeen (1995) menguraikan perilaku-perilaku pada pasien skizofrenia secara umum yaitu apraksia (kesulitan melaksanakan tugas kompleks), deteriaorasi penampilan, agresi/agitasi, perilaku stereotipik atau berulang, avolisi (kurang energi dan dorongan), dan kurang tekun dalam bekerja.

Pasien skizofrenia dengan gejala positif dapat dikontrol dengan pengobatan , sedangkan gejala negatif seringkali bersifat menetap dan menjadi penghambat utama pemulihan dan perbaikan fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Pasien lebih sulit untuk mengakui bahwa mereka adalah penderita skizofrenisa, mereka akan memerlukan bantuan untuk menyelesaikan tugasnya sehari-hari terutama dalam hal perawatan diri sehingga membuatnya terlihat malas atau tidak mau membantu diri sendiri. Pasien skizofrenia dengan gejala defisit kognisi berhubungan dengan masalah-masalah proses informasi yang mencakup aspek ingatan, perhatian, komunikasi, dan kesulitan dalam mengabil keputusan.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi skizofrenia , yaitu faktor genetik, neuroanatomi, dan neurokimia, dan faktor imunovirologi, gen dan lingkungan, perawatan psikososial, keterampilan manajemen penyakit, rehabilitasi, pendidikan keluarga, terapi perilaku kognitif, kelompok-kelompok swadaya dan kelompok self-help.

Karakteristik Klien Skizofrenia

Klien skizofrenia mempunya karakteristik menurut umur, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, dan lama dirawat, yang dijelaskan sebagai berikut :

Umur

Umur berhubungan dengan pengalaman seseorang dalam menghadapi berbagai stressor, kemampuan memanfaatkan sumber dukungan dan keterampilan dalam mekanisme koping. Tingkat kemampuan perawatan diri seseorang dipengaruhi oleh umur, tahap perkembangan, pengalaman hidup, latar belakang sosiokultural, kesehatan, dan sumber-sumber yang tersedia. Penelitian yang dilakukan Siagian (1995, dalam Parendrawati, 2008) mengemukakan bahwa semakin lanjut usia seseorang semakin meningkat pola kedewasaan teknis dan kedewasaan psikologis dengan menunjukkan kematangan jiwa, semakin bijaksana, mampu berpikir secara rasional, mengendalikan emosi dan bertoleransi terhadap orang lain.

Pertumbuhan dan perkembangan normal sesuai umur meliputi perubahan biologis, kognitif, dan sosioemosional yang terjadi selama masa kehidupan individu. Pertumbuhan mencakup perubahan fisik yang terjadi sejak periode prenatal sampai masa dewasa lanjut yang dapat berupa kemajuan atau kemunduran. Perkembangan bersifat dinamis dan melibatkan progresifitas dan penurunan. Keberhasilan dan kegagalan dalam suatu fase akan mempengaruhi kemampuannya untuk menyelesaikan fase berikutnya. Jika individu mengalami kegagalan perkembangan yang berulang akan terjadi kecacatan, tetapi jika individu mengalami kegagalan perkembangan yang berulang akan terjadi kecacatan, tetapi jika individu mengalami keberhasilan yang berulang akan meningkatkan kesehatannya.

Jenis Kelamin

Jenis kelamin adalah ciri-ciri fisik, karakter dan sifat yang berbeda yang mempengaruhi keberhsihan seseorang. Penderita gangguan jiwa ringan pada perempuan terjadi dua kali lebih banyak dibanding laki-laki dan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi. Penderita gangguan jiwa berat lebih banyak diderita laki-laki daripada perempuan.

Status Perkawinan

Pada individu yang tidak memiliki pasangan atau mengalami perceraian berisiko tinggi mengalami gangguan jiwa yang dapat menghambat kemampuan dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri. Widya (2007) mengungkapkan bahwa gangguan jiwa sering dialami oleh individu yang bercerai dibandingkan dengan yang sudah menikah. Hal ini berbeda dengan pendapat Dantas, et al. (2011) dan Folsom, et. al. (2009) yang menunjukkan klien skizofrenia umumnya terjadi pada individu yang belum menikah.

Pendidikan

Pendidikan adalah status resmi tingkat pendidikan terakhir yang ditempuh oleh pasien. Pendidikan menjadi suatu tolak ukur kemampuan klien untuk berinteraksi secara efektif. Menurut Potter dan Perry (2005), keikutsertaan klien dalam belajar secara tidak langsung dipengaruhi oleh keinginan untuk mendapatkan pengetahuan dan kemampuan. Wibowo (1997) dalam penelitiannya tentang karakteristik penderita skizofrenia menunjukkan bahwa individu banyak terjadi gangguan jiwa pada tingkat pendidikan SMA. Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Tek, Kirkpatrick & Buchanan (2001), Folson, et. al. (2009) bahwa skizofrenia terjadi setelah individu telah berpendidikan selama 11,5 tahun dan 12,7 tahun.

Lama Dirawat

Lama dirawat adalah waktu atau lamanya pasien terpapar stresor, yakni terkait sejak kapan, sudah berapa lama, dan berapa frekuensi, akan berdampak pada pencapaian kemampuan perawatan diri. Aspek stresoor yang dapat mempengaruhi respon stres adalah intensitas, jangkauan, durasi, jumlah dan sifat stresor lain, pediktabilitas. Karakteristik individual yang dapat mempengaruhi respon stres adalah tingkat pengontrolan personal, ketersediaan dukungan sosial, perasaan mampu/ kompetensi, penghargaan kognitif.

Gangguan skizoafektif adalah penyakit dengan gejala psikotik yang persisten, seperti halusinasi atau delusi, terjadi bersama-sama dengan masalah suasana (mood disorder) seperti depresi, manik, atau episode campuran. Gangguan skizoafektif diperkirakan terjadi lebih sering daripada gangguan bipolar. 20 Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif adanya skizofrenia dan gangguan afektif bersama-sama menonjol pada saat yang bersamaan, atau dalam beberapa hari sesudah yang lain, dalam episode yang sama. Sebagian diantara pasien gangguan skizoafektif mengalami episode skizoafektif berulang, baik yang tipe manik, depresif atau campuran keduanya. Suatu gangguan psikotik dengan gejala-gejala skizofrenia dan manik yang samasama menonjol dalam satu episode penyakit yang sama.

Gejala-gejala afektif diantaranya yaitu elasi dan ide-ide kebesaran, tetapi kadangkadang kegelisahan atau iritabilitas disertai oleh perilaku agresif serta ideide kejaran. Terdapat peningkatan enersi, aktivitas yang berlebihan, konsentrasi yang terganggu, dan hilangnya hambatan norma sosial. Waham kebesaran, waham kejaran mungkin ada. Gejala skizofrenia juga harus ada, antara lain merasa pikirannya disiarkan atau diganggu, ada kekuatan-kekuatan yang sedang berusaha mengendalikannya, mendengar suara-suara yang beraneka beragam atau menyatakan ide-ide yang bizarre. Onset biasanya akut, perilaku sangat terganggu, namun penyembuhan secara sempurna dalam beberapa minggu.

Epidemiologi


The lifetime risk skizofrenia di dunia adalah antara 15 sampai 19 per 1.000 populasi sedangkan point prevalence adalah antara 2 sampai 7 per 1000. Ada beberapa perbedaan antara negara-negara, namun tidak signifikan ketika dibatasi oleh gejala-gejala utama skizofrenia.Insidensi skizofrenia di UK dan US adalah 15 kasus baru per 100.000 penduduk, dengan laki-laki memiliki onset lebih awal dibandingkan perempuan.

Menurut penelitian Riskesdas (2013), prevalensi gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia 1,7 per mil. Gangguan jiwa berat terbanyak di DI Yogyakarta, Aceh, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Tengah. Prevalensi psikosis tertinggi di D.I.Y dan Aceh (masingmasing 2,7%), artinya ada 1-2 penduduk dari 1000 peduduk yang menderita gangguan jiwa berat danprovinsi D.I.Y merupakan provinsi dengan penderita gangguan jiwa berat tertinggi di Indonesia dengan angka kejadian 2,7 orang per mil atau 2-3 penduduk per 1000 penduduk (Riskesdas, 2013).

Etiologi

Etiologi atau penyebab skizofrenia yang lebih rinci dijelaskan oleh Kaplan dan Sadock (2010) sebagai berikut:

  • Model diatesis-stress
    Suatu model untuk integrasi faktor biologis dan faktor psikososial dan lingkungan adalah model diatesis-stress. Model ini merumuskan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diatesis) yang jika dikenai oleh suatu pengaruh lingkungan yang menimbulkan stress akan memungkinkan perkembangan gejala skizofrenia.

  • Faktor biologis
    Semakin banyak penelitian telah melibatkan peranan patofiologisuntuk daerah tertentu di otak termasuk sistem limbik, korteks frontalis dan ganglia basalis.Ketiga daerah tersebut saling berhubungan sehingga disfungsi pada salah satu daerah tersebut mungkin melibatkan patologi primer di daerah lainnya sehingga menjadi suatu tempat potensial untuk patologi primer pasien skizofrenik.

  • Genetika
    Penelitian menunjukkan bahwa seseorang kemungkinan menderitaskizofrenia jika anggota keluarga lainnya juga menderita skizofrenia, dankemungkinan seseorang menderita skizofrenia adalah hubungan dengandekatnya persaudaraan.Kembar monozigotik memiliki angka kesesuaian yang tertinggi. Penelitian pada kembar monozigotik yang diadopsimenunjukkan bahwa kembar yang diasuh oleh orang tua angkatmempunyai skizofrenia dengan kemungkinan yang sama besarnya seperti saudara kembarnya yang dibesarkan oleh orang tua kandung. Temuan tersebut menyatakan bahwa pengaruh genetik melebihi pengaruh lingkungan.

  • Faktor psikososial

    • Teori Psikoanalitik dan Psikodinamik
      Freud beranggapan bahwa skizofrenia adalah hasil dari fiksasi perkembangan, dan merupakan konflik antara ego dan dunia luar. Kerusakan ego memberikan konstribusi terhadap munculnya simtom skizofrenia. Secara umum kerusakan ego mempengaruhi interprestasi terhadap realitas dan control terhadap dorongan dari dalam. Sedangkan pandangan psikodinamik lebih mementingkan hipersensitivitas terhadap berbagai stimulus menyebabkan kesulitan dalam setiap fase perkembangan selama anak-anak dan mengakibatkan stress dalam hubunganinterpersonal. Simtom positif diasosiasikan dengan onset akut sebagai respon terhadap factor pemicu/pencetus, dan erat kaitanya dengan adanya konflik. Simtom negative berkaitan erat dengan faktor biologis, sedangkan gangguan dalam hubungan interpersonal mungkin timbul akibat kerusakan intrapsikis, namun mungkin juga berhubungan dengan kerusakan ego yang mendasar.

    • Teori Belajar
      Anak-anak yang nantinya mengalami skizofrenian mempelajari reaksi dan cara berfikir yang tidak rasional dengan mengintimidasi orang tua yang juga memiliki masalah emosional yang signifikan. Hubungan interpersonal yang buruk dari pasien skizofrenia berkembang karena pada masa anakanak mereka belajar dari model yang buruk.

    • Teori Tentang
      Keluarga Pasien skizofrenia sebagaimana orang yang mengalami penyakit non psikiatri berasal dari keluarga dengan disfungsi, perilaku keluarga yang pagtologis yang secara signifikan meningkatkan stress emosional yang harus dihadapi oleh pasien skizofrenia.

    • Teori Sosial
      Industrialisasi dan urbanisasi banyak berpengaruh dalam menyebabkan skizofrenia.Meskipun ada data pendukung, namunpenekanan saat ini adalah dalam mengetahui pengaruhnya terhadap waktu timbulnya onset dan keparahan penyakit.

Gejala Klinis Skizofrenia


Menurut (PPDGJ, 2001) tentang skizofren harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

  1. Thought echo, Thought insertion or withdrawal, Thought broadcasting

    • Thought echo adalah isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda.

    • Thought insertion or withdrawal adalah isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal).

    • Thought broadcasting adalah isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umumnya mengetahuinya

  2. Delusion of control , Delusion of influence , Delusion of passivity , Delusion perception

    • Delusion of control adalah waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar.

    • Delusion of influence adalah waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar.

    • Delusion of passivity adalah waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar (tentang dirinya secara jelas, merujuk ke pergerakan tubuh serta anggota gerak atau pikiran, tindakan atau penginderaan khusus).

    • Delusion perception adalah pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik dan mukjizat.

  3. Halusional Auditorik dapat berupa suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku pasien. Dan mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh).

  4. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil,misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan mahluk asing atau dunia lain).

  5. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus.

  6. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation) yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.

  7. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), negativisme, mutisme, dan stupor.

  8. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional yang menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neureptika.

Skizofrenia berasal dari kata Yunani yang bermakna schizo artinya terbagi atau terpecah dan phrenia yang berarti pikiran. Skizofrenia merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, dan perilaku yang aneh dan terganggu. (Videbeck, 2008 dalam Nuraenah, 2012).

Skizofrenia merupakan gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi fungsi normal kognitif, mempengaruhi emosional dan tingkah laku (Depkes RI, 2015). Gangguan jiwa skizofrenia sifatnya adalah ganguan yang lebih kronis dan melemahkan dibandingkan dengan gangguan mental lain (Puspitasari, 2009).

Stuart (2007) menjelaskan bahwa skizofrenia merupakan,

Penyakit otak yang persisten dan juga serius yang bisa mengakibatkan perilaku psikotik, kesulitan dalam memproses informasi yang masuk, kesulitan dalam hubungan interpersonal, kesulitan dalam memecahkan suatu masalah.

Skizofrenia adalah gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi, dan perilaku, pikiran yang terganggu, dimana berbagai pemikiran tidak salaing berhubungan secara logis, persepsi dan perhatian yang keliru afek yang datar atau tidak sesuai, dan berbagai gangguan aktifitas motorik yang bizzare (perilaku aneh), pasien skizofrenia menarik diri dari orang lain dan kenyataan, sering kali masuk ke dalam kehidupan fantasi yang penuh delusi dan halusinasi.

Orang-orang yang menderita skizofrenia umunya mengalami beberapa episode akut simtom–simtom, diantara setiap episode mereka sering mengalami simtom–simtom yang tidak terlalu parah namun tetap sangat menggagu keberfungsian mereka. Komorbiditas dengan penyalahguanaan zat merupakan masalah utama bagi para pasien skizofrenia, terjadi pada sekitar 50 persennya. (Konsten & Ziedonis. 1997, dalam Davison 2010).

Skizofrenia adalah jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berpikir, perasaan dan perbuatan. Bleuler (dalam Maramis, 2009) membagi gejala – gejala skizofrenia menjadi 2 kelompok :

  1. Gejala – gejala primer ; Gangguan proses berpikir, Gangguan emosi, Gangguan kemauan, Autisme

  2. Gejala – gejala sekunder ; waham, halusinasi, gejala katatonik atau gangguan psikomotor yang lain.

Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani yaitu “Schizein” yang artinya retak atau pecah (split), dan “phren” yang artinya pikiran, yang selalu dihubungkan dengan fungsi emosi. Dengan demikian seseorang yang menderita skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian serta emosi (Sianturi, 2014).

Menurut Pedoman PPDGJ III, skizofrenia dijelaskan sebagai gangguan jiwa yang ditandai dengan distorsi khas dan fundamental dalam pikiran dan persepsi yang disertai dengan adanya afek yang tumpul atau tidak wajar.

Pedoman Diagnostik

Berikut ini merupakan pedoman diagnostik untuk Skizofrenia berdasarkan PPDGJ III :

  1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

    • Thought echo yaitu isi pikiran diri sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda; atau Thought insertion or withdrawal yaitu isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan Thought broadcasting yaitu isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya.

    • Delusion of control yaitu waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dariluar; atau Delusion of influence ( waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar); atau Delusion of passivity (waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap sesuatu kekuatan dari luar); dan Delusional perception ( pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat).

    • Halusinasi auditorik yaitu suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien; atau mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara). Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

    • Waham yaitu waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau komunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

  2. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :

    • Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus berulang.

    • Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan (interpolation), yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme.

    • Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.

    • Gejala-gejala “negatif”, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika.

  3. Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih.

  4. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek kehidupan perilaku pribadi (personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed atitude), dan penarikan diri secara sosial.

Gejala Skizofrenia

Gejala-gejala skizofrenia terdiri dari dua jenis yaitu simtom positif dan simtom negatif. Simtom positif berupa delusi atau waham, halusinasi, kekecauan alam pikir, gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan semangat dan gembira berlebihan. Simtom negatif berupa alam perasaan (affect) “tumpul” dan “mendatar”, menarik diri atau mengasingkan diri (withdrawn) tidak mau bergaul atau kontak dengan orang lain, suka melamun (day dreaming), kontak emosional amat miskin, sukar diajak bicara, pendiam dan pola pikir stereotip (Muhyi, 2011).

Arti sebenarnya dari Schizophrenia adalah kepribadian yang terbelah (split of personality). Sebutan ini diberikan berdasarkan gejala yang paling menonjol dari penyakit ini, yaitu adanya jiwa yang terpecah belah. Antara pikiran, perasaan, dan perbuatan terjadi disharmoni.

Gejala-gejala schizophrenia (Singgih Dirgagunarsa, 1998)

  1. Kontak dengan realitas tidak ada lagi, penderita lebih banyak hidup dalam dunia khayal sendiri, dan berbicara serta bertingkah laku sesuai dengan khayalannya, sehingga tidak sesuai dengan kenyataan.

  2. Karena tidak ada kontak dengan realitas, maka logikanya tidak berfungsi sehingga isi pembeicaraan penderita sukar untuk diikuti karena meloncat-loncat (inkoheren) dan seringkali muncul kata-kata aneh yang hanya dapat dimengerti oleh penderita sendiri.

  3. Pikiran, ucapan, dan perbuatannya tidak sejalan, ketiga aspek kejiwaan ini pada penderita schizophrenia dapat berjalan sendiri-sendiri, sehingga ia dapat menceritakan kejadian yang menyedihkan sambil tertawa.

  4. Sehubungan dengan pikiran yang sangat berorientasi pada khayalannya sendiri, timbul delusi ata waham pada penderita schizophrenia (bisa waham kejaran dan kebesaran).

  5. Halusinasi sering dialami pula oleh penderita schizophrenia.

Faktor penyebab terjadinya schizophrenia

Pendapat para ahlimengenai faktor penyebab schizophrenia ada bermacam-macam. Ada yang menyatakan bahwa penyakit ini merupakan keturunan. Ada pula yang menyatakan bahwa schizophrenia terjadi gangguan endokrin dan metabolisme. Sedangkan pendapat yang berkembang dewasa ini adalah bahwa penyakit jiwa ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain keturunan, pola asuh yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa, dan penyakit lain yang belum diketahui (W.F. Maramis, 2005).

PENGERTIAN SKIZOFRENIA

Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan kronis ketika pengidapnya mengalami halusinasi, delusi, dan juga menunjukan perubahan sikap. Pengidap skizofrenia umumnya mengalami kesulitan untuk membedakan antara kenyataan dengan pikiran yang ada pada diri si pengidap. Pada beberapa orang, skizofrenia muncul tiba-tiba dan tanpa peringatan. Namun untuk sebagian lagi, datang secara perlahan tanpa peringatan. Seringkali, teman atau anggota keluarga akan tahu sejak awal bahwa ada sesuatu yang salah dengan pengidapnya, tapi tanpa tahu persis apa.

Pada fase awal skizofrenia ini, seseorang akan tampak eksentrik, tidak termotivasi, tanpa emosi, dan tertutup terhadap orang lain. Mengisolasi diri sendiri, mulai mengabaikan penampilan, mengatakan hal-hal aneh, dan menunjukkan ketidakpedulian terhadap kehidupan. Sangat mungkin bila pengidapnya akan meninggalkan hobi dan kegiatan. Berikut adalah gejala awal yang perlu diwaspadai kalau seseorang mengidap skizofrenia, seperti:

  1. Depresi, dan penarikan sosial
  2. Serba curiga dan sering memberikan reaksi ekstrem terhadap kritik
  3. Memburuknya kebersihan pribadi
  4. Tatapan datar tanpa ekspresi
  5. Ketidakmampuan untuk menangis atau mengungkapkan kegembiraan secara wajar
  6. Tidur berlebihan atau bahkan insomnia.
  7. Pelupa dan tidak bisa berkonsentrasi
  8. Sering mengeluarkan pernyataan aneh dan tidak rasional maupun penggunaan kata-kata atau cara berbicara yang aneh

Ada lima jenis gejala karakteristik utama pada skizofrenia yaitu delusi, halusinasi, bicara tidak teratur, perilaku tidak terorganisir, dan apa yang disebut gejala “negatif”. Namun, gejala skizofrenia bervariasi secara dramatis dari orang ke orang, baik dalam pola maupun tingkat keparahan. Tidak semua orang dengan skizofrenia akan memiliki semua gejala, dan gejala skizofrenia juga dapat berubah seiring waktu. Namun umumnya, 90 persen pengidap skizofrenia kerap mengalami delusi. Seringkali, delusi ini melibatkan ide atau fantasi yang tidak logis atau aneh di mana pengidapnya merasa ada orang yang mau berbuat jahat kepadanya. Rencana ini kerap mengada-ngada, seperti orang dari planet lain yang datang mau menculiknya atau konspirasi yang mencelakakan, dan lain-lain. Halusinasi juga menjadi gejala pengidap skizofrenia, seperti ada suara atau sensasi yang muncul dalam pikiran. Bisa jadi pengidapnya salah menafsirkan pembicaraan diri sendiri berasal dari sumber luar

Penyebab Skizofrenia

Meski penyebab utama skizofrenia belum ditemukan, ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab dari skizofrenia, antara lain:

Faktor Genetik

Keturunan dari pengidap skizofrenia, memiliki risiko 10 persen lebih tinggi untuk mengidap skizofrenia. Risiko tersebut akan meningkat 40 peren lebih besar ketika kedua orangtua sama-sama pengidap skizofrenia. Sementara itu, anak kembar yang salah satunya menderita skizofrenia, risiko akan meningkat 50 persen lebih besar.

Komplikasi saat Kehamilan dan Persalinan

Skizofrenia dapat disebabkan oleh beberapa kondisi yang mungkin terjadi ketika masa kehamilan dan dampaknya akan terlihat ketika anak tersebut lahir. Kondisi tersebut, seperti paparan racun dan virus, ibu seorang pengidap diabetes, perdarahan dalam masa kehamilan, serta kekurangan nutrisi. Selain dari kehamilan, komplikasi yang terjadi pada masa persalinan juga dapat menyebabkan seorang anak mengidap skizofrenia. Contoh komplikasi yang dimaksud, seperti berat badan yang terlalu rendah saat kelahiran, kelahiran yang prematur, dan asfiksia atau kekurangan oksigen saat dilahirkan.

Faktor Kimia pada Otak

Ketidakseimbangan kadar serotonin dan dopamin pada otak, dapat menjadi salah satu penyebab dan meningkatkan risiko seseorang mengidap skizofrenia. Keduanya merupakan zat kimia yang berfungsi untuk mengirim sinyal antara sel-sel otak sebagai bagian dari neurotransmitter.

Selain itu, pengidap skizofrenia juga memiliki perbedaan struktur dan fungsi otak, bila dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki gangguan mental. Perbedaan tersebut antara lain:

  • Ventrikel otak memiliki ukuran yang lebih besar. Ventrikel sendiri adalah bagian dalam otak yang berisi cairan.
  • Lobus temporalis memiliki ukuran yang lebih kecil. Ingatan dalam otak manusia berkaitan dengan lobus temporalis.
  • Sel-sel pada otak memiliki koneksi yang lebih sedikit.

Faktor Risiko Skizofrenia

Setiap orang bisa saja terkena skizofrenia tanpa mengenal umur, tetapi umumnya kalangan remaja dan orang yang baru menginjak usia 20 tahun awal memiliki faktor risiko yang lebih tinggi untuk terkena skizofrenia. Beberapa faktor yang menjadi faktor risiko skizofrenia, yaitu:

  • Bentuk struktur otak dan sistem saraf pusat yang tidak normal.
  • Faktor genetik dari orangtua.
  • Kekurangan oksigen, kekurangan nutrisi dan terkena virus saat didalam kandungan.
  • Lahir dengan kondisi prematur.
  • Peningkatan aktivasi pada sistem kekebalan tubuh.
  • Ketidakseimbangan kadar serotinin dan dopamine.
  • Peningkatan aktivasi pada sistem kekebalan tubuh.
  • Penyalahgunaan dari obat-obat terlarang.

Gejala Skizofrenia

Skizofrenia terbagi menjadi dua kategori, yaitu positif dan negatif. Berikut ini penjelasan dari dua kategori gejala penyakit tersebut:

1. Gejala Negatif

Gejala skizofrenia negatif adalah kondisi ketika sifat dan kemampuan yang dimiliki orang normal, seperti konsentrasi, pola tidur normal, dan juga memiliki motivasi hidup menjadi hilang. Umumnya, gejala tersebut ditambah dengan ketidakmauan seseorang untuk bersosialisasi dan merasa tidak nyaman saat bersama orang lain. Ciri-ciri orang yang mengidap gejala skizofrenia negatif, yaitu terlihat apatis dan buruk secara emosi, tidak peduli terhadap penampilan diri sendiri dan menarik diri dari pergaulan.

2. Gejala Positif

Biasanya berupa delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan adanya perubahan perilaku.

Diagnosis Skizofrenia

Jika gejala gangguan kejiwaan skizofrenia terlihat, umumnya dokter kejiwaan akan melakukan pemeriksaan fisik kepada pengidap. Selain itu, pemeriksaan riwayat kesehatan keluarga juga akan dilakukan. Sementara untuk pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan laboratorium seperti tes darah, pemeriksaan citra otak dengan CT Scan atau MRI dapat dilakukan untuk menyingkirkan penyebab organik dari gejala skizofrenia, misalnya tumor otak atau kelainan metabolik yang bisa memiliki gejala halusinasi seperti skizofrenia. Jika tidak ditemukan gejala atau indikasi penyakit lain akan gangguan kejiwaan skizofrenia, dokter akan merujuk pasien atau pengidap untuk ditangani oleh psikiater atau dokter spesialis kejiwaan.

Pencegahan Skizofrenia

Untuk saat ini tindakan preventif gangguan kejiwaan skizofrenia secara spesifik belum tersedia. Namun, tentu saja faktor risiko atas terjadinya skizofrenia bisa dilakukan dengan diagnosis sedari dini jika ada anggota keluarga yang memiliki indikasi akan adanya gejala skizofrenia.

Keharmonisan keluarga juga menjadi hal yang penting untuk dijaga, serta melakukan kegiatan positif dan rutin berolahraga juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan mental seseorang. Jika seseorang terdiagnosis mengidap skizofrenia, penanganan medis dan pemberian resep dokter akan sangat berguna. Hal tersebut tentu saja bertujuan untuk menghindari gejala skizofrenia semakin parah.

Pengobatan Skizofrenia

Skizofrenia dapat diobati dengan menggunakan beberapa cara, seperti mengombnasikan obat-obatan melalui terapi psikologis. Obat dengan resep pada pengobatan skizofrenia ini adalah antipsikotik yang dapat memengaruhi zat neurotransmiter didalam otak, yang bisa menurunkan rasa cemas, menurunkan atau mencegah halusinasi dan membantu menjaga kemampuan berpikir.

Dokter umumnya akan memberikan obat-obatan antipsikotik kepada pengidap skizofrenia untuk mengurangi atau menghilangkan gejalanya. Pengobatan lainnya dengan terapi kejut listrik atau elektrokonvulsif (ECT). Metode ECT dengan cara memberikan aliran listrik eksternal ke otak pengidap yang sebelumnya sudah di anestesi atau ditidurkan sehingga kekacauan listrik pada otak penyebab gejala halusinasi dapat berkurang.