Apa yang dimaksud dengan Skema diri atau Self-schema?

Skema diri atau Self-schema mengacu pada rangkaian memori yang tahan lama dan stabil yang merangkum keyakinan, pengalaman, dan generalisasi seseorang tentang diri sendiri, dalam domain perilaku tertentu.

Apa yang dimaksud dengan Skema diri atau Self-schema ?

Schema adalah suatu kumpulan keyakinan dan perasaan mengenai sesuatu yang dimiliki individu, termasuk di dalamnya stereotip, prejudis, dan generalisasi. Penyesuaian dan pengembangan diri kita sangat dipengaruhi oleh schema yang kita miliki.

Setiap individu memiliki role schema, person schema, dan self schema.

Penerimaan diri kita dan bagaimana kita memandang lingkungan sekitar tidaklah secara langsung apa yang terlihat menjadi penilaian kita. Semua informasi yang kita terima mengenai hal tersebut, termasuk mengenai konsep diri kita sendiri juga diproses melalui schema-schema yang kita miliki.

Pada pokok bahasan kali ini, kita akan mendiskusikan dimanakah letak konsep diri kita, bagaimana konsep diri terbentuk dari schema-schema yang ada, bagaimana perubahannya, kaitan antara konsep diri dengan self secara utuh, serta bagaimana cara kita memahami dan mengopti- malkan apa yang kita miliki tersebut. Konsep diri seringkali dikenali sebagai cara seseorang memandang dirinya, atau pusat dari kesadaran dan perilaku seseorang, serta merupakan dasar dalam mengevaluasi pengalaman-pengalaman pribadi seseorang.

PERSON SCHEMA

Person schema seringkali terekspresikan dalam kesan pertama kita pada seseorang. Person schema kita pada sekelompok orang melalui ras atau etnis-nya inilah yang sering kita kenali sebagai prejudis (biasanya bersifat negatif). Person schema adalah schema mengenai bagaimana seorang individu diharapkan berperilaku.

ROLE SCHEMA

Role schema merupakan schema mengenai bagaimana seseorang dalam melaksanakan perannya seperti yang diharapkan atau perilaku yang ideal dilakukan oleh peran tersebut. Contohnya: guru (seorang yang mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswanya, memiliki sikap bijaksana, berwawasan luas, dan memiliki etika dalam berperilaku), istri, atasan.

SELF-SCHEMA

Self schema merupakan kumpulan keyakinan, perasaan, dan generalisasi yang kita miliki mengenai diri kita sendiri. Self schema kita merupakan inti dari dunia psikis yang kita miliki karena keberadaannya sangat mempengaruhi perasaan kita terhadap diri kita sendiri dan mempengaruhi perilaku kita. Termasuk di dalamnya diri-fisik kita atau body image; diri-pribadi kita yang terdiri atas: konsep diri, diri ideal, identitas diri, dan harga diri; serta diri-sosial.

Pengertian Skema Diri


Konsep diri merupakan terjemahan dari bahasa inggris yaitu self schema. Istilah dalam psikologi memiliki dua arti yaitu sikap dan perasaan seseorang terhadap dirinya sendiri dan sesuatu keselurhan proses psikologi yang menguasai tingkah laku dan penyesuaian diri (Sumardi, 1982)

Calhoun & Acocella (1990) mendefinisikan konsep diri sebagai gambaran diri seseorang. Sedangkan Burns mendefinsikan bahwa konsep diri sebagai kesan terhadap diri sendiri secara keseluruhan yang mencakup pendapatnya terhadap diri sendiri, terhadap gambaran diri di mata orang lain dan pendapatnya tentang hal-hal yang dicapai. Mereka menjelaskan bahwa konsep diri adalah gambaran mental diri sendiri yang terdiri dari pengetahuan diri sendiri, pengharapan bagi diri sendiri dan penilaian terhadap diri sendiri.

Kartini Kartono dalam kamus psikologinya menuliskan bahwa konsep diri merupakan keseluruhan yang dirasa dan diyakini benar oleh seseorang mengenai dirinya sendiri sebagai individu, ego dan hal-hal yang dilibatkan di dalamnya (Kartono, 2003)

Konsep diri menurut Rakhmat tidak hanya merupakan gambaran deskriptif semata, akan tetapi juga merupakan penilaian seorang individu mengenai dirinya sendiri, sehingga konsep diri merupakan sesuatu yang dipikirkan dan dirasakan oleh seorang individu. Ia mengemukakan dua komponen dari konsep diri yaitu komponen kognitif (self image) dan komponen afektif (self esteem). Komponen kognitif (self image) merupakan pengetahuan individu tentang dirinya yang mencakup pengetahuan “who am I”, dimana hal ini akan memberikan gambaran sebagai pencitraan diri.

Adapun komponen afektif merupakan penilaian individu terhadap dirinya yang akan membentuk bagaimana penerimaan diri dan harga diri individu yang bersangkutan. Kesimpulan yang bisa diperoleh dari pernyataan Rakhmat, yaitu konsep diri merupakan sesuatu yang dirasakan dan dipikirkan oleh seorang individu berkaitan dengan dirinya sendiri (Jalaludin, 2000).

Perkembangan Konsep Diri


Konsep diri terbentuk melalui sejumlah besar pengalaman yang tersusun secara hirarki. Jadi konsep diri pertama terbentuk merupakan dasar bagi konsep diri berikutnya. Berdasarkan pengamatan psikologi kognitif, pengenalan akan diri pertama kali disebut dengan self schema. Pengalaman dengan anggota keluarga dalam hal ini orang tua memberikan informasi mengenai siapa kita. Self schema ini kemudian berkembang menjadi priming, proses dimana ada memori yang meningkatkan kita mengenai sesuatu yang terjadi di masa lalu. Peran yang kemudian kita jalankan kelak akan berkembang menjadi konsep diri (Eliana, 2013)

Konsep diri yang pertama kali terbentuk disebut konsep diri primer. Hal ini diperoleh di lingkungan keluarga terutama pada tahun-tahun awal kehidupan. Kemudian konsep diri akan terus berkembang sejalan dengan semakin luasnya hubungan sosial yang diperoleh anak.

Sumber informasi untuk konsep diri adalah interaksi individu dengan orang lain. Individu menggunakan orang lain untuk menunjukkan siapa dia. Individu membayangkan bagaimana pandangan orang lain terhadapnya dan bagaimana mereka menilai penampilannya. Penilaian pandangan orang lain diambil sebagai gambaran tentang diri individu. Orang lain yang dianggap bisa mempengaruhi konsep diri seseorang adalah:

  • Orang tua
    Orang tua memberi pengaruh yang paling kuat karena kontak sosial yang paling awal dialami manusia. Orang tua memberikan informasi yang menetap tentang individu, mereka juga menetapkan pengharapan bagi anaknya. Orang tua juga mengajarkan anak bagaimana menilai diri sendiri.

  • Teman sebaya
    Kelompok teman sebaya menduduki tempat kedua setelah orang tua terutama dalam mempengaruhi konsep diri anak. Masalah penerimaan atau penolakan dalam kelompok teman sebaya berpengaruh terhadap diri anak.

  • Masyarakat
    Masyarakat punya harapan tertentu terhadap seseorang dan harapan itu masuk ke dalam diri individu, dimana individuakan berusaha melaksanakan harapan tersebut.

  • Hasil dan proses belajar
    Belajar merupakan hasil perubahan permanen yang terjadi dalam diri individu akibat dari pengalaman. Pengalaman dengan lingkungan dan orang sekitar akan memberikan masukan mengenai akibat suatu perilaku. Akibat ini bisa menjadi berbentuk sesuatu yang positif maupun negatif.

Dimensi Konsep Diri


Konsep diri memiliki tiga dimensi yaitu pengetahuan tentang diri sendiri, pengharapan tentang diri sendiri dan penilaian tentang diri sendiri.

  • Pengetahuan
    Dimensi pertama dari konsep diri adalah mengenai apa yang individu ketahui mengenai dirinya. Menurut Stuart dan Sundeen sikap ini mencakup presepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, fungsi, penampilan dan potensi tubuh saat ini di masa lalu. Hal ini berkaitan erat dengan kepribadian. Cara individu memandang diri mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologisnya. Pandangan yang
    memandang diri mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologisnya. Pandangan yang realistik terhadap diri, menerima dan menyukai bagian tubuh akan memberi rasa aman sehingga terhindar rasa cemas dan meningkatkan harga diri. Individu yang stabil, realistis dan konsisten terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses di dalam kehidupan. Presepsi dan pengalaman individu dapat merubah gambaran diri secara dinamis. Termasuk dalam hal ini jenis kelamin, suku bangsa, pekerjaan, usia dan lain sebagainya. Biasanya seseorang memberika julukan tertentu terhadap pada dirinya sendiri.

  • Pengharapan
    Pengharapan tentang diri kita tidak terlepas dari kemungkinan kita menjadi apa di masa yang akan datang. Pengharapan dapat dikatakan sebagai diri ideal. Setiap harapan dapat membangkitkan kekuatan yang mendorong untuk mencapai harapan tersebut di masa depan. Namun diri ideal hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi tapi masih lebih tinggi dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat dicapai. Pada usia remaja, diri ideal akan dibentuk menjadi proses identifikasi pada orang tua, guru dan teman. Beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri, adalah:

    • Kecenderungan individu untuk menetapkan ideal diri pada batas kemampuannya.

    • Faktor budaya akan mempengaruhi individu dalam menetapkan ideal diri, yang kemudian standar ini dibandingkan dengan standar kelompok teman.

    • Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistis, keinginan untuk menghindari kegagalan, perasaan cemas dan rendah diri.

Penilaian menyangkut unsur evaluasi, seberapa besar kita menyukai diri kita sendiri. Semakin besar ketidak-sesuaian antara gambaran kita tentang diri kita yang ideal dan aktual maka akan semakin rendah harga diri kita. Sebaliknya orang yang punya harga diri yang tinggi akan menyukai siapa dirinya, apa yang dikerjakannya dan sebagainya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dimensi penilaian merupakan komponen pembentukan konsep diri yang cukup signifikan.

Pola Konsep Diri


William D. Brooks dan Philip Emmert membagi pola konsep diri menjadi dua, yaitu:

  • Konsep diri positif, yang ditandai beberapa hal seperti :

    • Memiliki keyakinan bahwa ia mampu mengatasi masalah.
    • Merasa setara dengan orang lain.
    • Menerima pujian tanpa merasa malu atau bersalah.
    • Menyadari bahwa setiap orang memiliki keinginan, perasaan serta perilakunya yang seluruhnya belum tentu disetujui oleh masyarakat.
    • Mengetahi dan menyadari keterangan-keterangan yang ada dalam dirinya dan berusaha memperbaikinya.
  • Konsep diri negatif, yang bercirikan sebagai berikut :

    • Peka pada kritik. Hampir selalu merasa tidak tahan terhadap kritikan yang diterimanya. Ia melihat hal tersebut sebagai usaha orang lain untuk menjatuhkan harga dirnya. Sehingga, ia terkadang tampak keras kepala dan berusaha mempertahankan pendapatnya dengan menggunakan berbagai justifikasi dan logika yang keliru.

    • Responsif terhadap ujian, meskipun ia tampak tidak peduli dan menghindari pujian namun antusiasmenya terhadap pujian masih akan tampak.

    • Hiperkritis. Dampak dari kesenangannya akan pujian, orang dengan konsep diri negatif akan suka mencela, mengkritik dan meremehkan orang lain.

    • Memiliki kecenderungan untuk merasa tidak disenangi oleh orang lain. Reaksinya yang memandang orang lain sebagai musuh, tidak lain karena ia tidak diperhatikan. Walaupun begitu, ia akan merasa bahwa ia adalah korban dari sistem sosial yang tidak beres. Pesimis, hingga tampak memiliki daya kompetitif yang rendah. Hal ini terjadi, karena ia merasa tidak berdaya atau mampu melawan persaingan yang ada.