Apa yang dimaksud dengan Risk Appetite ?

Pada Risk Management Plan terdapat istilah Risk Appetite. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Risk Appetite tersebut?

Menurut ISO 31000, Risk Appetite adalah jumlah dan jenis risiko yang disiapkan oleh sebuah organisasi untuk dipertahankan, dipelihara atau diambil.

COSO ERM menyatakan bahwa Risk Appetite adalah sejumlah risiko, pada tingkatan manajemen/board, dimana sebuah organisasi bersedia menerima risiko tersebut.

Sebuah pernyataan risk appetite dapat menjadikan sebuah alat yang hebat dalam mengarahkan risiko, Namun seperti kebijakan apapun, risk appetite tanpa disertai tindakan tidak lebih dari sebuah ide.

Sampai saat ini, masih banyak organisasi yang tidak pernah secara efektif mengintegrasikan konsep tersebut dalam perencanaan strategis atau pengambilan keputusan sehari-hari, terlebih dalam penerapan manajemen risiko. Padahal, jika risk appetite dikomunikasikan dengan baik, risk appetite dapat memberikan batas yang jelas tentang jumlah risiko suatu organisasi yang dapat diterima, sehingga mampu memberikan arahan yang jelas kepada manajemen selaku pelaksana.

Referensi

https://www.logicmanager.com/erm-software/knowledge-center/best-practice-articles/risk-appetite-risk-tolerance-residual-risk/

Enterprise Risk Management merupakan suatu proses, yang dipengaruhi oleh dewan direksi, manajemen, dan personel lainnya, yang diterapkan di dalam strategi dan di seluruh perusahaan, dirancang untuk mengidentifikasi kejadian potensial yang dapat mempengaruhi perusahaan dan mengelola risiko agar tetap berada di dalam risk appetite , serta untuk memberikan kepastian yang cukup terkait pencapaian tujuan perusahaan.

Risk Appetite adalah jumlah risiko, dalam artian luas, seberapa besar sebuah perusahaan mau untuk menerima dalam rangka pencapaian value, yang mencerminkan filosofi manajemen risiko perusahaan dan mempengaruhi budaya perusahaan dan gaya operasi. Banyak perusahaan menetapkan risk appetite secara kualitatif dengan pengkategorian seperti high, moderate ,atau low sedangkan yang lain mengambil pendekatan kuantitatif, yang mencerminkan dan menyeimbangkan sasaran pertumbuhan, imbal hasil dan risiko. Risk appetite ditetapkan di dalam konteks strategi di mana strategi yang berbeda akan memberi paparan risiko yang berbeda pula.

Enterprise Risk Management membantu manajemen dalam memilih strategi yang menyelaraskan penciptaan nilai yang diantisipasi dengan risk appetite perusahaan.

Tidak ada organisasi yang dapat mencapai tujuannya tanpa menghadapi risiko. Organisasi menghadapi risiko setiap hari dalam usaha mencapai tujuan. Manajemen harus memutuskan seberapa besar risiko yang dapat diterima dan ditangani dalam mencapai tujuan tersebut (Rittenberg and Martens, 2012). Organisasi harus mengambil beberapa risiko dan harus menghindari risiko yang lain ( Anderson, 2012).

Risk appetite (selera risiko) adalah jumlah risiko, yang dapat diterima oleh suatu organisasi dalam usaha mencapai tujuan tersebut. Setiap organisasi berusaha untuk mencapai berbagai tujuan dan harus dapat memahami secara baik risiko yang bersedia dihadapai dalam mencapai tujuan tersebut. Sebuah organisasi harus mempertimbangkan risk appetite dan pada saat yang sama memutuskan tujuan dan cara untuk mencapainya. Selera risiko harus dinyatakan dengan jelas bahwa cukup dapat dikaji dan dikelola di seluruh organisasi oleh dewan direksi (Rittenberg and Martens, 2012).

Menentukan risk appetite adalah unsur good governance yang merupakan kewajiban manajemen terhadap para pemangku kepentingan. Risk appetite adalah bagian integral dari Enterprise Risk Management dan juga merupakan pertimbangan utama dalam setiap pendekatan manajemen risiko perusahaan pada saat ini (Belghitar and Clafk, t.t ). Semua organisasi yang sukses harus dengan jelas menyatakan tentang kesediaan mereka untuk menerima risiko dalam mencapai tujuan mereka.

Kejelasan kesediaan menerima risiko ini, memungkinkan manajemen dapat membuat keputusan yang lebih baik tentang tindakan yang harus dilakukan pada semua tingkat organisasi dan sejauh mana mereka harus berurusan dengan risiko yang terkait. Menangani dan mengelola risiko tanpa memahammi risiko tersebut dengan baik dapat menyebabkan kebangkrutan organisasi (Anderson, 2012).

Mendefinisikan risk appetite merupakan langkah pertama yang penting dalam menerapkan manajemen risiko perusahaan ( Enterprise Risk Management/ ERM), walaupun diakui bahwa perusahaan di seluruh dunia mengalami kesulitan dalam mendefinisikan risk appetite (Bennet, and Cusick, 2007 ). Definisi dari risk appetite ternyata cukup beragam. Secara umum, risk appetite didefinisikan sebagai sejauh mana derajat ketidakpastian yang ingin diambil investor terhadap perubahan negatif pada bisnis dan asetnya.

Risk appetite (selera risiko) adalah bagian integral dari Enterprise Risk Management dan telah banyak dibahas dalam teori keuangan modern. Collier, et al (2006) mengatakan bahwa setiap orang memiliki kecendrungan untuk mengambil risiko (dari risk averse ke risk seeking), tetapi kecenderungan untuk mengambil risiko bervariasi untuk setiap orang, yang dipengaruhi oleh manfaat potensial dari pengambilan risiko dan persepsi risiko yang dipengaruhi oleh pengalaman.

Belghitar, and Clark, (2010) menghubungkan pengertian risk appetite (selera risiko) dengan risk aversion (tidak suka risiko). Risk aversion adalah sejauh mana seseorang tidak menyukai risiko dan menghindari risiko tersebut. Risk aversion merupakan representasi paling umum dari risk appetite (Belghitar and Clark, 2010). Risk appetite tidak terbatas dengan konsep risk aversion namun harus mencakup segmen risk seeking ( mencari risiko) dan risk averse (menolak risiko ). Risk appetite adalah jumlah maksimum risiko yang bersedia ditanggung oleh sebuah organisasi dalam mencapai tujuannya (Epetimehin, 2013).

Risk appetite disebut juga dengan istilah preferensi risiko, diartikan sebagai jumlah risiko maksimum yang bersedia diterima oleh sebuah perusahaan dalam mencapai misi, tujuan, dan rencananya (Shang, and Chen, 2012). Risk appetite adalah garis batas antara risiko yang tidak dapat diterima dan risiko yang dapat diterima . Risk appetite harus diterapkan di dewan dan tingkat manajemen senior dan kemudian dikomunikasikan di seluruh organisasi (Higgins, 2010 ).

Kata “selera” membawa konotasi kebutuhan pangan, kelaparan, dan memuaskan seseorang. Pengertian ini tidak selalu membantu dalam memahami frasa “risk appetite”. Risk appetite lebih tepat diartikan sebagai hal “fight or flight” respons terhadap risiko yang dirasakan. Sebagian besar hewan, termasuk manusia memiliki “fight or flight” respons terhadap risiko (Anderson, 2012).

Risk appetite (selera risiko) berkaitan dengan risk tolerance (toleransi risiko) tetapi berbeda secara mendasar. Risk appetite menjelaskan jenis dan tingkat risiko yang mau dan mampu diambil suatu organisasi semasih paparan berada dalam batasbatas yang telah ditetapkan dalam toleransi risiko ( melalui berbagai metrik subyektif dan keuangan ). Risk tolerance di sisi lain, adalah menetapkan batas-batas atau parameter dalam risk appetite keseluruhan yang dipilih organisasi untuk dicapai, memberikan definisi yang jelas dari tingkat risiko yang bersedia diambil oleh organisasi (Higgins, 2010).

Risk appetite adalah tentang mencari risiko, sedangkan risk tolerance adalah tentang risiko apa yang mungkin dan dapat ditangani organisasi (Anderson, 2012 ). Definisi yang lebih menyeluruh disampaikan oleh the Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO) yang mengartikan risk appetite sebagai derajat risiko, pada level manajemen organisasi, yang ingin diambil oleh organisasi atau entitas lainnya untuk mewujudkan tujuannya (goal).

Dokumen COSO tentang Enterprise Risk Management (ERM) - disebut dengan Integrated framework dari ERM - secara gamblang menyatakan bahwa organisasi harus mengambil risiko dalam meraih tujuannya. Pertanyaannya, berapa banyak dan berapa besar risiko yang ingin diambil oleh manajemen? Bagaimana perilaku manajemen terhadap semua risiko, dan bagaimana organisasi menjamin bahwa unit-unit operasional mengambil risiko sesuai dengan risk appetite organisasi tersebut? Risk appetite, mencerminkan filosofi manajemen risiko sebuah entitas organisasi, dan pada gilirannya akan memengaruhi budaya dan gaya beroperasi entitas tersebut.

Risk appetite menjadi panduan dalam alokasi sumberdaya organisasi, membantu menyelaraskan organisasi, sumberdaya manusia, dan proses dalam membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk merespon dan memantau risiko secara efektif. Setiap perusahaan memiliki visi, misi, nilai-nilai, tujuan, yang ingin dicapai. Biasanya semua hal ini ditetapkan dalam proses formulasi strategi perusahaan. Tahap berikutnya adalah fase perencanaan strategis (strategic planning), di mana perusahaan menetapkan beragam sasaran strategis (strategic objective) yang harus diwujudkan dalam berbagai perspektif (finansial dan non-finansial) sebagai penjabaran dari strategi perusahaan.

Perusahaan harus mempertimbangkan semua risiko yang bisa muncul dan risk appetite terhadap risiko-risiko dalam mewujudkan tujuan dan sasaran strategis tersebut. Pemahaman dan kejelasan terhadap risk appetite sangat penting saat organisasi menetapkan strategi, sasaran strategis, dan dalam mengalokasikan sumber daya perusahaan. Jajaran manajemen puncak harus mempertimbangkan risk appetite dalam memberikan persetujuan terhadap rencana strategis, anggaran, produk/jasa/pasar baru, dan berbagai tindakan manajemen lainnya. Risiko dan strategi saling berkaitan satu sama lain.

Risiko dan strategi harus dipertimbangkan secara bersamaan. Pertimbangan tentang risk appetite tidak hanya perlu dilakukan pada saat pelaksanaan strategi, tetapi jauh sebelumnya sudah diadopsi pada saat proses perumusan strategi perusahaan.

Risk Appetite sebuah organisasi, menurut Rittenberg and Martens (2012), paling tidak sangat ditentukan oleh empat faktor utama: Existing risk profile, risk capacity, risk tolerance, dan attitude towards risk. Existing risk profile (profil risiko yang ada) adalah level dan distribusi risiko yang ada saat ini pada seluruh organisasi dan pada seluruh kategori risiko. Profil risiko yang ada ini bukanlah faktor penentu risk appetite, tapi lebih tepatnya menjadi indikasi dari risiko-risiko yang kini harus dihadapi.

Risk capacity (kapasitas risiko) adalah jumlah risiko di mana entitas organisasi mampu mendukung pencapaian sasarannya. Perusahaan harus mengetahui kapasitasnya untuk mengambil risiko ekstra dalam mewujudkan tujuannya. Risk tolerance (toleransi terhadap risiko) merupakan level variasi dari risiko yang ingin diambil entitas organisasi dalam mewujudkan sasarannya. Attitude towards risk (sikap terhadap risiko) adalah sikap organisasi terhadap pertumbuhan, risiko, dan hasil. Masih banyak faktor lain yang memengaruhi risk appetite sebuah organisasi.

Perubahan lingkungan yang cepat, termasuk perkembangan teknologi, bisa juga memengaruhi risk appetite sebuah organisasi. Perusahaan yang bergerak dalam pengembangan produk-produk berteknologi tinggi misalnya. Perusahaan tentu menyadari bahwa kegagalan pengembangan produk baru akan mengancam keberlanjutan usaha perusahaan.

Risiko perusahaan ini tinggi, akan tetapi manajemen dan seluruh karyawan yang terlibat dalam proses pengembangan memahaminya dengan baik. Paling sering terjadi, perusahaan harus mengambil pekerjaan yang berisiko tinggi karena hanya inilah strategi untuk survive atau demi mendapatkan keuntungan maksimal. Bukankah high risk, high return? Setiap perusahaan harus menetapkan risk apetite masing-masing.

Hal yang harus diingat adalah cukup deskriptif untuk mengarahkan tindakan seluruh bagian organisasi. Itu sebabnya, perusahaan perlu memiliki pernyataan risk appetite yang bisa dikomunikasikan dengan jelas kepada seluruh organisasi dan tetap relevan dalam waktu yang relatif lama.

Ada tiga langkah yang direkomendasikan terkait pernyataan risk apetite tersebut.

  1. Pertama, manajemen organisasi menyusun pandangan tentang risk appetite organisasi secara menyeluruh.
  2. Kedua, menerjemahkah pandangan tentang risk appetite tersebut ke dalam format tertulis atau lisan sehingga bisa dibagikan ke seluruh bagian organisasi.
  3. Ketiga, manajemen memantau risk appetite sepanjang waktu, melakukan penyesuaian sesuai dengan kondisi bisnis dan operasional.

Pernyataan risk appetite harus memudahkan pemahaman personil dalam mewujudkan sasaran organisasi dalam limit risiko yang bisa diterima (Rittenberg and Martens, 2012). Atas dasar kejelasan pernyataan tersebut, manajemen akan lebih mudah menyusun dan menerapkan kebijakan operasional. Pernyataan risk appetite sesungguhnya menentukan “penekanan” dari manajemen risiko secara fektif.

Tujuan strategis organisasi akan lebih mudah dicapai bilamana risk appetite tersebut tersambung dengan aspek operasional, kepatuhan, dan pelaporan. Setiap organisasi ingin mencapai berbagai tujuan dan harus memahami risiko yang akan ditanggung dalam mencapai tujuan tersebut secara menyeluruh. Organisasi menetapkan tujuan yang berbeda, organisasi juga akan mengembangkan risk appetite (selera risiko) yang berbeda. Tidak ada standar atau pernyataan risk appetite universal yang berlaku untuk semua organisasi. Manajemen harus membuat pilihan dalam menetapkan risk appetite, memahami trade-off yang terlibat dalam memiliki risk appetite yang lebih tinggi atau lebih rendah (Rittenberg and Martens, 2012).

Langkah mendasar dalam kerangka risk appetite adalah menentukan kemauan dan kemampuan untuk mengambil risiko berdasarkan masukan dari dewan direksi dan eksekutif senior organisasi. Organisasi dapat memilih risk appetite tinggi atau rendah, tetapi perlu mempertimbangkan kepentingan pemegang saham serta jenis dan besarnya risiko yang perlu dikelola oleh organisasi. Risk appetite harus dinyatakan dengan jelas bahwa risiko tersebut dapat dikelola di seluruh organisasi dan dikaji oleh dewan direksi (Rittenberg and Martens, 2012).

Semua organisasi yang ingin sukses harus menunjukkan dengan jelas kesediaannya untuk menerima risiko dalam mengejar tujuan. Organisasi akan mampu meningkatkan kontrol organisasi, meningkatkan pengambilan keputusan, mengatur ulang bagaimana mengurangi risiko dan membuat keputusan yang lebih baik pada penyebaran sumber daya untuk mencapai tujuan bisnis, apabila organisasi menentukan jumlah risiko yang siap untuk diterima ( Higgins, 2010).

Mengejar keuntungan tanpa menetapkan risk appetite dapat menyebabkan bencana. Kegagalan manajemen risiko dapat terjadi karena mencari keuntungan tanpa memahami risiko dengan baik. Manajemen perusahaan bertanggung jawab untuk menentukan sifat dan tingkat risiko yang signifikan yang bersedia untuk diambil dalam mencapai tujuan strategisnya (Anderson,2012).

Sebuah pernyataan risk appetite hanya berguna jika jelas dan dapat diimplementasikan di seluruh organisasi. Pernyataan risk appetite harus berhubungan dengan usaha mencapai tujuan perusahaan dan harus mulai dari manajemen tingkat atas. Menentukan risk appetite suatu organisasi akan membantu menentukan batas risiko yang dapat diterima atau diambil, yang akhirnya memengaruhi tujuan perusahaan baik secara positif maupun negatif.

Referensi

https://sinta.unud.ac.id/uploads/dokumen_dir/c25dc33e61f08f4ad8d112c7339cefcb.pdf