© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Risiko Operasional ?

Risiko operasional adalah risiko yang berhubungan dengan kegiatan operasional dalam perusahaan, termasuk di dalamnya risiko dalam menjalankan lini perakitan, pengelolaan kantor, dan pengoperasian fasilitas komputer. Risiko timbul ketika terjadinya kejadian yang mengancam kegiatan operasional.

Apa yang dimaksud dengan Risiko Operasional ?

Risiko operasional meliputi lima hal yaitu kegagalan proses internal perusahaan, kesalahan sumber daya manusia, kegagalan sistem, kerugian yang disebabkan kejadian dari luar perusahaan, dan kerugian karena pelanggaran peraturan dan hukum yang berlaku. Kerugian risiko operasional terjadi tidak saja pada lembaga keuangan bank dan bukan bank saja, tetapi juga terjadi pada perusahaan industri, perdagangan, pertambangan, dan semua perusahaan dalam sektor ekonomi lainnya.

Risiko operasional concern pada risiko kebijakan dan organisasi, risiko sistem, risiko bisnis, risiko manusia, risiko proses, transfer risiko dan keuangan, dan pemantauan. Sebagaimana yang dikemukakan Chitakornkijsil (2009) bahwa perusahaan harus menentukan kebijakan manajemen risiko operasional yang mendefiniskan kebutuhan perusahaan yang diperlukan meliputi :

  • Manajemen risiko operasional yang menjamin suatu rancangan kerangka menyeluruh untuk mengukur dan mengelola risiko operasional.

  • Perencanaan strategis untuk menjamin bahwa risiko perusahaan yang dipertimbangkan dalam rencana bisnis dan direvisi dalam rencana akuisisi strategi dan produk baru dan strategi.

  • Akuntansi keuangan untuk menjamin akurasi, ketepatan waktu, kualitas catatan rekening dan profitabilitas perusahaan serta proyeksi capital.

  • Pemeriksaan untuk memastikan unit perusahaan berkoordinasi dengan prosedur dan kebijakan perusahaan.

  • Memperoleh jaminan hukum bahwa kegiatan perusahaan mematuhi semua peraturan dan hukum.

  • Teknologi Informasi (TI) menjadi dasar jaminan bahwa rencana pemulihan perusahaan sudah ada dan teruji, dan adanya perlindungan informasi keamanan.

  • Jaminan keamanan perusahaan sehingga aset perusahaan yang dilindungi dan dipelihara.

Pada perusahaan perbankan dan lembaga keuangan, risiko operasional diatur dalam Basel Capital Accord. Dimana pada tahun 2001, BCBS mengeluarkan proposal yang dikenal sebagai new Basel Capital Accord atau Basel II yang memuat rekomendasi untuk mengelola risiko kredit, pasar dan operasional dalam memperhitungkan modal yang harus dialokasikan untuk menjamin bank tetap dapat beroperasi pada saat terjadi penyimpangan. Peraturan Basel II ini menuntut banyak perubahan dalam institusi perbankan. Metodologi terdahulu untuk perhitungan modal hanya menggunakan pendekatan kuantitatif dan mekanis. Sementara pendekatan yang baru lebih bersifat risk sensitive karena di samping risiko kredit dan risiko pasar, juga menyertakan pengukuran risiko operasional.

Menurut Basel II Capital Accord, risiko operasional adalah kerugian yang timbul baik secara langsung maupun tidak langsung karena kegagalan atau ketidak cukupan proses internal, orang dan sistem, dan karena kejadian eksternal. Disebutkan pula bahwa risiko operasional mencakup empat kategori utama yaitu manusia, proses, sistem, dan faktor eksternal. Risiko ini dapat berdampak terhadap semua orang di semua lini organisasi.

Manajemen risiko operasional merupakan bagian dari salah satu manajemen risiko. Hal ini menjadi concern banyak perusahaan karena risiko operasional tidak hanya terjadi pada bank komersil tetapi juga terjadi di semua perusahaan. Banyaknya perusahaan yang bangkrut atau dilikuidasi karena menderita kerugian operasional yang besar memberikan pelajaran berharga bahwa risiko operasional menjadi hal yang sangat penting.

Peraturan baru ini mempunyai implikasi kuat terhadap :

  • Organisasi, dalam hal evaluasi, manajemen dan pengendalian risiko.
  • Sistem Informasi, pengumpulan data lama dan pelaporan risiko
  • Citra Bank dalam proses komunikasi eksternal

Frame J. Davidson (2003) membagi sumber risiko operasional pada umumnya dalam beberapa hal yakni :

  • Lemahnya penerapan prosedur, organisasi perlu perhatian pada kesulitan dalam melakukan proses operasional. Hal ini menuntut penambahan prosedur yang baru dan memperbarui prosedur serta menghilangkan prosedur yang tidak berguna.

  • Kurangnya pelatihan tenaga kerja, kurangnya pekerja yang terlatih bisa berakibat fatal. Hal ini berakibat pada konsekuensi yang buruk terhadap proses operasional. Dengan adanya tenaga kerja yang terlatih dengan baik akan meningkatkan tingkat produkfititas dan meminimalisir potensi risiko yang mungkin terjadi.

  • Tidak Kompeten, pekerja yang tidak kompeten adalah orang yang secara teratur tidak mampu mencapai tujuan yang rasional dari bagian-bagian pekerjaannya. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko yang terkait dengan incompetencies yaitu dengan memastikan karyawan yang dilatih dan dididik di daerah yang sesuai.

  • Perhatian yang lemah, merupakan konttributor besar dalam risiko operasional. Hilangnya fokus yang muncul ketika pekerja melakukan kegiatan yang terkait dengan pekerjaannya. Hal ini bisa menimbulkan kesalahan yang fatal. Sumber dari hal ini yaitu kelelahan, overload, gangguan dan kebosanan.

  • Kurangnya perawatan peralatan dan software, peralatan dan perangkat lunak yang digunakan dalam operasi dapat menimbulkan risiko operasional. Dua sumber masalah yang menonjol: (1) peralatan dan perangkat lunak yang kurang terpelihara, dan (2) out of date. Pemeliharaan merujuk pada serangkaian kegiatan yang dilakukan pada peralatan dan perangkat lunak agar mereka tetap berfungsi dengan baik. Salah satu jenis pemeliharaan yaitu pemeliharaan preventif. Tipe lain dari pemeliharaan perbaikan, disebut debugging di arena perangkat lunak. Bahkan perawatan perlengkapan dapat berfungsi dari waktu ke waktu. Demikian pula, kode software yang kompleks pasti memiliki bug yang perlu disinkronkan. Ketika peralatan atau perangkat lunak gagal beroperasi, maka perlu segera memperbaikinya. Jika dilakukan upaya untuk memperbaiki masalah secara berkala dan cepat, dapat mengurangi dampak dari kerusakan secara fatal.

Taksonomi Risiko Operasional

Secara alami risiko operasional bertujuan untuk mengklasifikasikan risiko operasional secara homogen untuk mengidentifikasi secara spesifik tanggung jawab dan pengukuran manajemen risiko. Mengacu pada taksonomi risiko dan secara sistem kategori risiko operasional yang dikemukakan Silvestri, Cagno dan Trucco (2009) dapat diidentifikasi sebagai berikut :

  • Risiko teknologi (Technology risk)
    Kelompok aktifitas dimana sumber risiko berasal dari hasil implementasi teknologi seperti tingkat performance aset yang rendah, kegagalan dalam implementasi teknologi.

  • Risiko rantai suplai (supply chain risk)
    Aktifitas yang berhubungan dengan procurement, expediting, inspection, dan aktifitas logistik.

  • Risiko proyek (project risk)
    Aktifitas yang berhubungan dengan waktu, biaya, kualitas yang terkait dalam proyek.

  • Risiko lingkungan (environmental risk)
    Kejadian yang memberi dampak terhadap lingkungan ketika system sedang beroperasi.

  • Risiko Occupational
    Kejadian yang berdampak pada kesehatan dan keselamatan kerja.

  • Risiko informasi (information risk)
    Kejadian yang berhubungan dengan alur informasi yang terdapat dalam sebuah sistem.

  • Risiko Organisasi (organisation risk)
    Aktifitas-aktifitas yang berhubungan dengan lemahnya koordinasi, pembagian tugas yang tidak jelas, konflik atau turn over yang tinggi.

  • Risiko Manajemen (Management risk)
    Aktifitas yang mengakibatkan ketidakseimbangan dalam proses manajemen dan pengambilan keputusan. Dalam hal ini, risiko manajemen menjadi kunci yang menggerakkan dalam manajemen risiko.

  • Risiko Aset dan Fasilitas (Assets and Facilities Risk)
    Kejadian yang berhubungan denga aset dan fasilitas yang menjadi sumber risiko.

Menurut Fahmi (2010), risiko operasional merupakan risiko yang umumnya bersumber dari masalah internal perusahaan, dimana risiko ini terjadi disebabkan oleh lemahnya sistem kontrol manajemen (management control system) yang dilakukan oleh pihak internal perusahaan.

Menurut Djohanputro (2008), risiko operasional adalah potensi penyimpangan dari hasil yang diharapkan karena tidak berfungsinya suatu sistem, SDM, teknologi, atau faktor lain. Risiko operasional bisa terjadi pada 2 tingkatan : teknis dan organisasi. Pada tataran teknis, risiko operasional bisa terjadi apabila sistem informasi, kesalahan mencatat, informasi yang tidak memadai, dan pengukuran risiko tidak akurat dan tidak memadai. Pada tataran organisasi, resiko operasional bisa muncul karena sistem pemantauan dan pelaporan, sistem dan prosedur, serta kebijakan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Risiko operasional sebagai risiko kerugian yang timbul dari kegagalan atau tidak memadainya proses internal, manusia dan sistem, atau kejadian-kejadian eksternal. Secara umum, risiko operasional terkait dengan sejumlah masalah yang berasal dari kegagalan suatu proses atau prosedur. Oleh karena itu, risiko operasional sebenarnya bukan merupakan suatu risiko yang baru dan tidak hanya dihadapi oleh bank, walaupun semua bank anak menghadapi kegagalan dan harus
memiliki proses untuk mengatasinya. Risiko operasional merupakan risiko yang
mempengaruhi semua kegiatan usaha karena merupakan suatu hal yang inherent dalam pelaksanaan suatu proses atau aktivitas operasional.

Klasifikasi Risiko Operasional

Terdapat beberapa jenis risiko operasional (Fahmi, 2010), antara lain :

  1. Kesalahan dalam Pembukuan Secara Manual (Manual Risk)
    Risiko dalam bidang pembukuan secara manual sebenarnya terjadi karena beberapa sebab seperti :

    • Pembukuan secara manual ditulis atau dicatat umumnya di
      kertas, sehingga pada saat suatu kantor mengalami kebanjiran, kebakaran, kesalahan dalam peletakkan tidak bisa atau sulit untuk mencari penggantinya.

    • Jika kesalahan dalam pencatatan secara pembukuan
      terjadi maka penyelesaian dan pencarian sumber masalahnya juga harus dilakukan secara manual sehingga pekerjaan menjadi tidak efisien dan efektif. Efisien dilihat dari segi biaya dan efektif dilihat dari segi waktu.

    • Setiap pengiriman informasi harus dilakukan melalui kantor
      pos atau jasa pengiriman surat. Sementara dengan penggunaan teknologi sudah dapat dilakukan dengan cara email atau via internet.

  2. Risiko pada Komputer (Computer Risk)
    Ada beberapa risiko yang diperkirakan akan timbul dalam bidang komputer,
    yaitu :

    • Komputer adalah teknologi yang selalu mengalami perubahan terutama pada setiap program yang ditawarkan, sehingga mengharuskan kualitas IT dari para personelnya juga dapat di update setiap waktunya dengan tujuan berbagai permasalahan yang akan timbul di kemudian hari dapat dihindari.

    • Komputer adalah masuk dalam kategori IT yang memiliki nilai pasar yang tinggi, sehingga setiap pergantian perangkat komputer dan biaya tenaga ahlinya selalu saja membutuhkan biaya yang tinggi. Seperti biaya training, course, service komputer, dan pembelian program berbagai komputer. Dan bagi setiap perusahaan program yang harus dibeli adalah selalu harus yang bersifat original.

    • Terjadinya perubahan data-data komputer karena faktor terserang oleh virus. Kondisi ini sering terjadi karena jaringan komputer berhubungan dengan internet. Oleh karena itu, komputer harus selalu memiliki antivirus yang terbaru. Maka sebaiknya perusahaan harus selalu memiliki tempat khusus yang aman untuk menyimpan dokumen penting.

  3. Pegawai Outsourcing
    Pada saat suatu perusahaan menerima pegawai yang bersifat outsourcing maka ada beberapa risiko yang harus ditanggung oleh perusahaan, yaitu :

    • Pegawai tersebut bukan pegawai tetap, dalam artian pegawai tersebut tidak bekerja hingga pensiun. Sehingga ia akan bekerja sebatas masa kontrak kerja saja. Dengan begitu rasa tanggung jawab psikologis untuk menjaga perusahaan tidak begitu ia pikirkan karena pegawai tersebut lebih bertanggungjawab kepada perusahaan penyalur.

    • Rahasia perusahaan selama ia bekerja memungkinkan sekali untuk diketahui oleh publik luar ketika ia tidak lagi bekerja diperusahaan tersebut. Sementara rahasia perusahaan menyangkut dengan wibawa dan nama baik perusahaan.

  4. Kecelakaan Kerja
    Beberapa bentuk risiko dalam bidang kecelakaan kerja yang akan dialami
    oleh suatu perusahaan yaitu sebagai berikut :

    • Perusahaan harus memperbaiki sistem manajemen kerja yang telah diterapkan selama ini karena dianggap tidak efektif, sehingga untuk menyempurnakan konsep sistem manajemen kerja yang baik sebuah perusahaan kadangkala harus mengundang konsultan

    • Dalam bidang yang bersangkutan sehingga pengalokasian anggaran untuk membayar konsultan tersebut harus dipertimbangkan termasuk masa uji coba sistem tersebut.

    • Jika perusahaan tidak menerapkan konsep keselamatan kerja dengan baik maka pada saat mengajukan pinjaman ke perbankan akan mengalami kendala.

    • Bila kecelakaan kerja sering terjadi dan mendapat sorotan dari pihak jurnalistik (pers) maka ini bisa berakibat pada turunnya reputasi
      perusahaan di mata konsumen dan mitra bisnis.

  5. Globalisasi dalam Konsep dan Produk
    Era globalisasi telah memberi perubahan besar bagi konsep bisnis pada seluruh sektor bisnis, baik financial dan non-financial, sehingga penciptaan konsep produk dibuat untuk bisa menampung keinginan globalisasi tersebut, jika tidak maka artinya produk tersebut tidak akan laku di pasaran secara baik. Karena faktor itu perusahaan dituntut untuk menerapkan manajemen yang berbasis konsep global yang secara tidak langsung mekanisme operasional perusahaan juga harus bersifat global.

  6. Kesalahan Produksi Barang dan Tidak Ada Kesepakatan Bahwa
    Barang yang Dibeli Tidak Dapat Ditukar Kembali Ketika kesepakatan tersebut tidak dibuat, maka perusahaan harus menanggung beberapa risiko kerugian, yaitu sebagai berikut :

    • Adanya barang yang sudah diproduksi dengan harapan dapat terjual namun tidak laku terjual dan tidak ada perjanjian barang tersebut tidak bisa ditukar sehingga perusahaan mengalami kerugian.

    • Pada saat barang sudah diproduksi namun ternyata ada sisa, maka ini memaksa perusahaan untuk menjualnya dengan harga yang murah dengan asumsi daripada barang tersebut tidak terjual di pasaran atau mengalami kadaluarsa.

    • Perusahaan tidak bisa melakukan penghematan biaya karena kontrak dagang dengan para mitra bisnis bersifat tunai dan tidak ada konsep service purna jual.