Apa yang dimaksud dengan Resiliensi?

Resiliensi

Resiliensi (Resilience) merupakan kapasitas seseorang untuk merespon secara sehat dan produktif ketika berhadapan dengan kesengsaraan atau trauma, yang diperlukan untuk mengelola tekanan hidup sehari-hari atau kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. Reivich dan Shatte (2002)

Apa yang dimaksud dengan Resiliensi ?

2 Likes

Resiliensi atau resilience mempunyai arti harfiah adalah daya pegas, daya kenyal atau kegembiaraan. Istilah resiliensi diformulasikan pertama kali oleh Block dengan nama ego-resillience yang diartikan sebagai kemampuan umum yang melibatkan kemampuan penyesuaian diri yang tinggi dan luwes saat dihadapkan pada tekanan internal maupun eksternal.

Berikut adalah definisi resiliensi menurut beberapa ahli psikologi,

  • Resiliensi sebagai kapasitas atau kemampuan untuk beradaptasi secara positif dalam mengatasi permasalahan hidup yang signifikan. R-G Reed

  • Resiliensi merupakan konstruk psikologi yang diajukan oleh para ahli behavioral dalam rangka usaha untuk mengetahui, mendefinisikan dan mengukur kapasitas individu untuk tetap bertahan dan berkembang pada kondisi yang menekan (adverse conditions) dan untuk mengetahui kemampuan individu untuk kembali pulih (recovery) dari kondisi tekanan. McCubbin (2001)

  • Resiliensi sebagai kemampuan individu untuk tetap mampu bertahan dan tetap stabil dan sehat secara psikologis setelah melewati peristiwa-peristiwa yang traumatis. Samuel

  • Resiliensi sebagai kemampuan untuk beradaptasi secara positif ketika dalam kondisi yang tidak menyenangkan dan penuh resiko. Nurinayanti dan Atiudina (2011

  • Resiliensi merupakan presence atau kehadiran good outcomes (hasil yang baik) dan kemampuan mengatasi ancaman dalam rangka menyokong kemampuan individu untuk beradaptasi dan berkembang secara positif. Roberts (2007)

  • Resiliensi merupakan kapasitas yang bersifat universal dan dengan kapasitas tersebut, individu, kelompok atau komunitas mampu mencegah atau meminimalisir ataupun melawan pengaruh yang bisa merusak saat mereka mengalami musibah atau kemalangan. Menurutnya, resiliensi juga dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain dukungan eksternal, kekuatan personal yang berkembang pada diri seseorang dan kemampuan sosial. Gotberg

  • Resiliensi merupakan sikap (trait). Trait ini merupakan kapasitas tersembunyi yang muncul untuk melawan kehancuran individu dan melindungi individu dari segala rintangan kehidupan. Individu yang mempunyai inteligensi yang baik, mudah beradaptasi, social temperament, dan berkepribadian yang menarik ada akhirnya memberikan kontribusi secara konsisten pada pengghargaan pada diri sendiri, kompetensi dan perasaan bahwa ia beruntung. Individu tersebut adalah individu yang resilien. Wolff

Menurut Emmy E Wenner, sejumlah ahli tingkah laku menggunakan istilah resiliensi untuk menggambarkan tiga fenomena, yaitu:

  • Perkembangan positif yang dihasilkan oleh anak yang hidup dalam konteks “beresiko tinggi” (high-risk), seperti anak yang hidup dalam kemiskinan kronis atau perlakuan kasar orang tua.

  • Kompetensi yang dimungkinkan muncul dibawah tekanan yang berkepanjangan, seperti peristiwa-peristiwa disekitar perceraian orang tua mereka; dan

  • Kesembuhan dari trauma, seperti ketakutan dari peristiwa perang saudara dan kamp konsentrasi.

Karakteristik Individu yang Memiliki Kemampuan Resiliensi


Menurut Wolin dan Wolin (1999), terdapat tujuh karakteristik utama yang dimiliki oleh individu resilien. Karakteristik inilah yang membuat individu mampu beradaptasi dengan baik saat menghadapi masalah, mengatasi berbagai hambatan, serta mengembangkan potensi yang dimilikinya secara maksimal, yaitu :

  • Insight

    Insight adalah kemampuan mental untuk bertanya pada diri sendiri dan menjawab dengan jujur. Hal ini untuk membantu individu untuk dapat memahami diri sendiri dan orang lain, serta dapat menyesuaikan diri dalam berbagai situasi.

  • Kemandirian

    Kemandirian adalah kemampuan untuk mengambil jarak secara emosional maupun fisik dari sumber masalah dalam hidup seseorang. Kemandirian melibatkan kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara jujur pada diri sendiri dan peduli pada orang lain.

  • Hubungan

    Seorang yang resilien dapat mengembangkan hubungan yang jujur, saling mendukung dan berkualitas bagi kehidupan, atau memiliki role model yang sehat.

  • Inisiatif

    Inisiatif melibatkan keinginan yang kuat untuk bertanggung jawab atas kehidupan sendiri atau masalah yang dihadapi. Individu yang resilien bersikap proaktif bukan reaktif bertanggung jawab dalam pemecahan masalah, selalu berusaha memperbaiki diri ataupun situasi yang dapat diubah serta meningkatkan kemampuan untuk menghadapi hal-hal yang tidak dapat diubah.

  • Kreativitas

    Kreativitas melibatkan kemampuan memikirkan berbagai pilihan, konsekuensi dan alternative dalam menghadapi tantangan hidup. Individu yang resilien tidak terlibat dalam perilaku negatif sebab ia mampu mempertimbangkan konsekuensi dari setiap perilaku dan membuat keputusan yang benar. Kreativitas juga melibatkan daya imajinasi yang dugunakan untuk mengekspresikan diri dalam seni, serta membuat seseorang mampu menghibur dirinya sendiri saat menghadapi kesulitan.

  • Humor

    Humor adalah kemampuan untuk melihat sisi terang dari kehidupan, menertawakan diri sendiri dan menemukan kebahagiaan dalam situasi apapun. Individu yang resilien menggnakan rasa humornya untuk memandang tantangan hidup dengan cara yang baru dan lebih ringan.

  • Moralitas

    Moralitas atau orientasi pada nilai-nilai ditandai dengan keinginan untuk hidup secara baik dan produktif. Individu yang resilien dapat mengevaluasi berbagai hal dan membuat keputusan yang tepat tanp rasa takut akan pendapat orang lain. Mereka juga dapat mengatasi kepentingan diri sendiri dalam membantu orang lain yang membutuhkan.

Resiliensi

Kemampuan Dasar Resiliensi


Menurut reivich dan Shatte (2002) terdapat tujuh kemampuan yang membentuk resiliensi dan hampir tidak ada satupun individu yang secara keseluruhan memiliki kemampuan tersebut dengan baik, yaitu sebagai berikut:

  • Regulasi Emosi

    Regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang di bawah kondisi yang menekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki kemampuan untuk mengatur emosi mengalami kesulitan dalam membangun dan menjaga hubungan dengan orang lain. Semakin kita terisolasi dengan kemarahan maka kita akan semakin menjadi seorang pemarah.

    Reivich dan Shatte (2002: 38) mengungkapkan dua buah keterampilan yang dapat memudahkan individu untuk melakukan regulasi emosi, yaitu tenang (calming) dan fokus (focusing). Individu yang mampu mengelola kedua keterampialan ini, dapat membantu meredakan emosi yang ada, memfokuskan pikiran-pikiran yang mengganggu dan mengurangi stress yang dialami individu.

  • Pengendalian impuls

    Pengendalian impuls adalah kemampuan individu untuk mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan serta tekanan yang muncul dalam diri seseorang. Individu yang memiliki kemampuan pengendalian diri yang rendah, cepat mengalami perubahan emosi yang pada akhirnya mengendalikan pikiran dan perlaku mereka.

  • Optimisme

    Individu yang resilien adalah individu yang optimis. Optimisme adalah seseorang melihat bahwa masa depannya cemerlang dan bahagia. Optimism yang dimiliki oleh seorang individu menandakan bahwa individu tersebut yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk mengatasi kemalangan yang mungkin terjadi di masa depan. Hal ini juga merefleksikan self efficacy yang dimiliki oleh seorang individu, yaitu kepercayaan individu bahwa ia dapat menyelesaiakan permasalahan yang ada dan mampu mengendalikan hidupnya.

  • Analisis Penyebab Masalah

    Causal analysis adalah kemampuan individu untuk mengidentifikasikan masalah secara akurat dari permasalahan yang dihadapinya. Selingman mengungkapkan sebuah konsep yang berhubungan erat dengan analisis penyebab masalah yaitu gaya berfikir eksplanatory. Gaya berfikir eksplanatory adalah cara yang biasa digunakan individu untuk menjelaskan sesuatu hal itu baik dan buruk yang terjadi pada dirinya. Gaya berfikir dengan metode ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

    1. Saya - bukan saya (personal)

      Gaya berfikir “saya” adalah individu yang cenderung menyalahkan diri sendiri atas masalah yang menimpanya. Sedangkan gaya berfikir “bukan saya” adalah menitik beratkan pihak lain yang menjadi penyebab atas kesalahan yang terjadi.

    2. Selalu - tidak selalu (permanen)

      Seseorang yang berfikir “selalu” beasumsi bahwa ketika terjadi kegagalan maka akan timbul kegagalan berikutnya yang menyertainya. Individu tersebut akan selalu merasa pesimis. Sedangkan individu yang optimis, cenderung memandang kegagalan dari sisi positif dan berusaha melakukan yang lebih baik dalam setiap kesempatan.

    3. Semua - tidak semua (pervasive)

      Gaya befikir “semua” memandang kegagalan pada sisi kehidupan akan menjadi penyebab kegagalan pada sisi kehidupan yang lain. Sedangkan gaya befikir “tidak semua” mampu menjelasakan penyebab dari suatu masalah yang ia hadapi.

    Menurut Revich, K., & Shatte, A. (2002) Individu yang resilien tidak akan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang mereka perbuat demi menjaga self-esteem mereka atau membebaskan mereka dari rasa bersalah. Mereka tidak terlalu terfokus pada faktor-faktor yang berada di luar kendalli mereka, sebaliknya mereka memfokuskan dan memegang kendali penuh pada pemecahan masalah, perlahan mereka mulai mengatasi permasalahan yang ada, mengarahkan hidup mereka, bangkit dan meraih kesuksesan.

  • Empati

    Empati mengaitkan bagaimana individu mampu membaca tanda-tanda kondisi emosional dan psikologis orang lain. Beberapa individu memiliki kemampuan dalam menginterpretasikan bahasa-bahasa non verbal yang ditunjukkan oleh orang lain, seperti ekspresi wajah, intonasi suara, bahasa tubuh dan menangkap apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki kemampuan berempati cenderung memiliki hubungan sosial yang positif. Sedangkan individu dengan empati yang rendah cenderung mengulang pola yang dilakukan oleh individu yang tidak resilien, yaitu menyamaratakan semua keinginan dan emosi orang lain (Revich, K., & Shatte, A. 2002).

  • Efikasi Diri

    Efikasi diri (Revich, K., & Shatte, A. 2002) adalah sebuah keyakinan bahwa individu mampu memecahkan dan menghadapi masalah yang dialami secara efektif. Efikasi diri juga berarti meyakini diri sendiri mampu, berhasil dan sukses. Individu dengan efikasi diri yang tinggi memiliki komitmen dalam memecahkan masalahnya dan tidak menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang digunakannya itu tidak berhasil. Efikasi diri adalah hasil pemecahan masalah yang berhasil sehingga seiring dengan individu membangun keberhasilan sedikit demi sedikit dalam mengahdapi masalah, maka efikasi diri tersebut akan terus meningkat. Sehingga hal tersebut menjadi sangat penting untuk mencapai resiliensi.

  • Reaching out

    Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, bahwa resiliensi bukan hanya seorang individu yang memiliki kemampuan untuk mengatasi kemalangan dan bangkit dari keterpurukan, namun lebih dari itu resiliensi juga merupakan kapasitas individu meraih aspek positif dari sebuah keterpurukan yang terjadi dalam dirinya (Revich, K., & Shatte, A. 2002).

Fungsi Resiliensi


Rutter mengungkapkan, ada empat fungsi resiliensi, yaitu:

  • Untuk mengurangi resiko mengalami konsekuensi-konsekuansi negative setelah adanya kejadian hidup yang menekan.

  • Mengurangi kemungkinan munculnya rantai reaksi yang negatif setelah peristiwa hidup yang menekan.

  • Membantu menjaga harga diri dan rasa mampu diri .

  • Meningkatkan kesempatan untuk berkembang.

Resiliensi bukanlah karakteristik kepribadian atau trait, tetapi lebih sebagai proses dinamis dengan disetainya sejumlah faktor yang membantu mengurangi resiko individu dalam menghadapi tekanan kehidupan. Hal serupa juga dijelaskan oleh O’leary dan Ickoviks yang menyatakan meskipun seorang individu mungkin memperoleh keuntungan dan perubahan positif dari sebuah tantangan hidup , namun tidak ada jaminan bahwa hasil yang sama akan nampak ketika menghadapi tantangan lain yang hampir bersamaan terjadi.

Tahapan Resiliensi


O’Leary dan Ickovics menyebutkan empat tahapan yang terjadi ketika seseorang mengalami situasi dari kondisi yang menekan (significant adversity) antara lain yaitu :

  • Mengalah

    Yaitu kondisi yang menurun dimana individu mengalah atau menyerah setelah menghadapi suatu ancaman atau keadaan yang menekan. Level ini merupakan kondisi ketika individu menemukan atau mengalami kemalangan yang terlalu berat bagi mereka. Outcome dari individu yang berada pada level ini berpotensi mengalami depresi, narkoba dan pada tataran ekstrim bisa sampai bunuh diri.

  • Bertahan (survival)

    Pada tahapan ini individu tidak dapat meraih atau mengembalikan fungsi psikologis dan emosi positif setelah dari kondisi yang menekan. Efek dari pengalaman yang menekan membuat individu gagal untuk kembali berfungsi secara wajar.

  • Pemulihan (Recovery)

    Yaitu kondisi ketika individu mampu pulih kembali pada fungsi psikologis dan emosi secara wajar dan mampu beradaptasi dalam kondisi yang menekan, walaupun masih menyisihkan efek dari perasaan negatif yang dialaminya. Dengan begitu, individu dapat kembali beraktifitas untuk menjalani kehidupan sehari-harinya, mereka juga mampu menunjukkan diri mereka sebagai individu yang resilien.

  • Berkembang Pesat (Thriving)

    Pada tahapan ini, individu tidak hanya mampu kembali pada tahapan fungsi sebelumnya, namun mereka mampu melampaui level ini pada beberapa respek. Pengalaman yang dialami individu menjadikan mereka mampu mengahdapi dan mengatasi kondisi yang menekan, bahakan menantang hidup untuk membuat individu menjadi lebih baik.

Luthar, Chiccetti dan Becker mengutarakan bahwa resiliensi mengacu pada proses dinamis yang meliputi adaptasi positif dalam konteks kesulitan yang signifikan (McCubin, 2001).

Charney dalam Mahmood dan Ghaffar (2014) mendifinisikan resiliensi sebagai proses adaptasi dengan baik dalam situasi trauma, tragedy, atau peristiwa yang dapat menyebabkan stres lainnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa resiliensi bukanlah ciri kepribadian melainkan melibatkan perilaku, pikiran, atau tindakan yang dapat dipelajari oleh siapa saja.

Ada dua konsep yang berkaitan dengan resiliensi yaitu :

  • Konsep yang pertama ialah resiliensi sebagai hasil dan resiliensi sebagai proses. Resiliensi sebagai hasil biasanya membandingkan dua kelompok. Satu didefinisikan sebagai memiliki hasil yang buruk seperti kejahatan, kehamilan remaja, dan penyalah gunaan obat dan alkohol. Sedangkan kelompok lainnya diklasifikasikan sebagai memiliki hasil positif seperti rentensi di sekolah, prestasi akademik, dan hubungan yang sehat.

  • Konsep yang kedua ialah resiliensi sebagai suatu proses, faktor yang mempengaruhi, atau dapat menyebabkan hasil yang positif maupun negatif. Resiliensi juga dapat dianggap sebagai konstruk yang memoderasi hubungan antara faktor resiko dan variabel hasil (McCubin, 2001).

Resiliensi secara umum didefinisikan sebagai kemampuan beradaptasi terhadap situasi-situasi yang sulit dalam kehidupan. Individu dianggap sebagai seseorang yang memiliki resiliensi jika mereka mampu untuk secara cepat kembali kepada kondisi sebelum trauma dan terlihat kebal dari berbagai peristiwa kehidupan yang negatif (Reivich & Shatte, 2002 dalam Pulungan, Tarmidi, 2012).

Newcomb ,1992 (dalam LaFramboise et al., 2006 dalam Tait, 2008) melihat resiliensi sebagai suatu mekanisme perlindungan yang memodifikasi respon individu terhadap situasi-situasi yang beresiko pada titik- titik kritis sepanjang kehidupan seseorang.

Ramirez (2007) menjabarkan, resiliensi sebagai kemampuan untuk pulih dengan cepat dari perubahan penyakit, depresi, kemalangan, daya apung, atau memliki kemampuan yang memungkinkan untuk kembali dalam keadaan semula setelah menghadapi suatu kegagalan. Seiring berjalannya waktu, beberapa reviewer di berbagai literarur mengungkapkan bahwa resiliensi lebih berfokus pada proses resiliensi seseorang individu berdasarkan pengalamannya.

Resiliensi dapat didefinisikan sebagai pengurangan kelemahan terhadap pengalaman yang beresiko, dan penanggulangan dalam menghadapi stres atau kesulitan (Rutter, 2006 dalam Rutter, 2012). Oleh karena itu, resiliensi merupakan konsep yang interaktif dimana kehadiran resiliensi harus disimpulkan dari variasi individu yang pernah mengalami stres atau kesulitan (Rutter, 1987 dalam Rutter, 2012).

Resiliensi harus dipandang sebagai suatu proses dan bukan sebagai atribut tetap seorang individu. Tentu saja, tidak tertutup kemungkinan bahwa beberapa individu akan menunjukkan resiliensi di berbagai situasi, tapi itu tidak bisa diasumsikan bahwa fitur yang sama akan dapat melindungi dalam kaitannya dengan semua risiko (Rutter, 2012).

Resiliensi psikologis sebagaimana yang didefinisikan oleh Maddi, Kobasa dan Kahn (dalam Sholichatun, 2008) merefleksikan sebuah keyakinan bahwa individu dapat melakukan sebuah respon di bawah kondisi stress secara efektif. Kondisi ini mencakup tiga konstruk yang saling terkait.

  1. Pertama adalah komitmen terhadap hidup, yaitu adanya kecenderungan untuk melakukan aktivitas harian secara penuh termasuk melakukan hubungan dengan diri dan orang lain sehingga mereka menghargai nilai-nilai, tujuan-tujuan dan prioritas-prioritas hidup mereka yang berbeda dari orang lain.

  2. Kedua adalah adanya pandangan individu bahwa perubahan adalah tantangan dan bahwa perubahan adalah hal yang normal.

  3. Ketiga, yaitu adanya keyakinan bahwa individu dapat mengontrol atau mempengaruhi kejadian-kejadian. Manifestasinya adalah adanya sebuah perasaan otonomi personan dan keyakinan bahwa individu dapat mempengaruhi nasib kehidupannya.

Menurut Block, 1971 (dalam Papalia 2001 dalam Widiowati, 2012) resiliensi dikonseptualisasikan sebagai salah satu tipe kepribadian dengan ciri-ciri, kemampuan penyesuaian yang baik, percaya diri, mandiri, pandai berbicara, penuh perhatian, suka membantu dan berpusat pada tugas. Garmezy, 1971 (Luther, et al ., 2000; Olsson et al., 2003; Richardson et al., 1990; Richman & Fraser, 2001; Rutter, 1987, 2001 dalam Everall, et al., 2006, dalam Widiowati, 2012) menyampaikan konsep yang berbeda, resiliensi bukan dilihat sebagai sifat yang menetap pada diri individu, namun sebagai hasil transaksi yang dinamis antara kekuatan dari luar dengan kekuatan dari dalam individu.

Resiliensi tidak dilihat sebagai atribut yang pasti atau keluaran yang spesifik namun sebaliknya sebagai sebuah proses dinamis yang berkembang sepanjang waktu. Hal ini senada dengan Masten, 2001 (dalam LaFramboise, et al., 2006 dalam Widiowati, 2012) yang mengungkapkan bahwa resiliensi merupakan sebuah proses dan bukan atribut bawaan yang tetahal. Resiliensi lebih akurat jika dilihat sebagai bagian dari perkembangan kesehatan mental dalam diri seseorang yang dapat dipertinggi dalam siklus kehidupan seseorang.

Konsep lain dalam bidang resiliensi psikologis yang membahas relevansi karakteristik internal dalam membantu seseorang untuk mengatasi dan menangani pengalaman hidup negatif, adalah hardiness (Bissonnette, 1998). Konsep hardiness pertama kali diidentifikasi oleh Kobasa (1982). Temuan awal menunjukkan bahwa individu, yang mengalami tingkat stres yang tinggi, namun tetap sehat memiliki struktur kepribadian yang berbeda dari individu yang mengalami tingkat stres yang tinggi dan menjadi sakit.

Struktur utama dari kepribadian ini, dilabeli sebagai hardiness, kemudian didefinisikan sebagai “penggunaan sumber daya ego yang diperlukan untuk menilai, menafsirkan dan menanggapi stres yang sehat”. Hardiness memiliki dimensi kontrol, komitmen, dan tantangan (Subramanian and Vinothkumar, 2009).

Salah satu cara potensial untuk memiliki resiliensi adalah kepribadian hardiness yang merupakan perasaan karakteristik bahwa hidup ini bermakna, mampu menentukan masa depan, dan perubahan yang berharga (Bartone, 2006). Hardiness muncul sebagai pola sikap dan keterampilan yang, bersama- sama, memfasilitasi resiliensi saat dibawah tekanan dengan mengubah keadaan penuh tekanan dari potensi bencana menjadi peluang untuk tumbuh dalam kebijaksanaan dan kinerja (Kobasa, Maddi, & Kahn, 1982; Maddi & Kobasa, 1984, dalam Maddi, Harvey, Khoshaba, Fazel dan Resurreccion, 2009).

Warner dan April (2012) mendefinisikan resiliensi dalam lingkup organisasi kerja sebagai kemampuan untuk tetap berfokus pada tugas, produktif dan terhubung dengan misi organisasi, meskipun mengalami masa-masa sulit. Hal ini mengharuskan pekerja, di semua tingkatan, untuk memiliki kekuatan dalam diri dan kapasitas sumberdaya yang memungkinkan mereka untuk mengatasi dampak yang terjadi karena adanya perubahan skala besar pada organisasi, seperti prioritas baru, kepemimpinan baru, strategi baru organisasi, inisiatif perubahan besar, teknologi baru, merger dan perampingan.

Menurut Vernold (2008) Guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang berencana untuk kembali ke posisi mereka pada tahun berikutnya memiliki tingkat kepuasan yang tinggi terhadap kemampuan resiliensi mereka, sedangkan guru- guru yang berencana meninggalkan posisi mereka memiliki tingkat kepuasan yang rendah. Selain itu Vernold (2008) juga menjelaskan bahwa dukungan lingkungan, peluang untuk partisipasi yang bermakna dan harapan yang tinggi dalam pekerjaan merupakan faktor-faktor penting untuk membangun resiliensi pada guru pendidikan khusus.

Individu yang resilien memiliki faktor pelindung yang memungkinkan mereka untuk secara efektif mengarahkan situasi stres. Mengingat sifat dari profesi guru, pendidik dihadapkan dengan berbagai kondisi yang stres setiap hari. Guru yang memiliki internal dan eksternal pelindung tenaga lebih cenderung memiliki kepuasan kerja yang lebih besar dan keinginan yang meningkat untuk tetap dalam profesi mereka. (Vernold, 2008).

Dalam situasi di mana seorang guru merasa didukung dan dihormati, maka mereka cenderung menjadi lebih resilien. Sebaliknya dalam situasi di mana mereka merasa terisolasi, tidak siap, dan tidak didukung, mereka cenderung kurang resilien. (Belknap, 2012).

Resiliensi ditandai dengan semacam tindakan dengan tujuan tertentu dalam pikiran dan semacam strategi bagaimana untuk mencapai tujuan yang dipilih yang melibatkan beberapa unsur terkait. Pertama, rasa harga diri dan kepercayaan diri; kedua, self-efficacy serta kemampuan untuk menghadapi perubahan serta adaptasi; dan ketiga, sekumpulan pendekatan dalam pemecahan masalah sosial (Rutter, 1985).

Rutter, 1985 (dalam Sholichatun, 2008) mengungkapkan adanya empat fungsi resiliensi, yaitu:

  1. untuk mengurangi resiko mengalami konsekuensi-konsekuensi negatif setelah adanya kejadian-kejadian hidup yang menekan,
  2. mengurangi kemungkinan munculnya rantai reaksi yang negatif setelah peristiwa hidup yang menekan,
  3. membantu menjaga harga diri dan rasa mampu diri, dan
  4. meningkatkan kesempatan untuk berkembang.

Resiliensi bukanlah karakteristik kepribadian atau trait tetapi lebih sebagai sebuah proses dinamis dengan disertainya sejumlah faktor yang membantu mengurangi resiko individu dalam menghadapi tekanan kehidupan.

Hal serupa dinyatakan oleh O’Leary dan Ickoviks (dalam Coulson, 2006 dalam Sholichatun, 2008) yang menyatakan meskipun seorang individu mungkin memperoleh keuntungan dan perubahan positif dari sebuah tantangan hidup, namun tidak ada jaminan bahwa hasil yang sama akan nampak ketika menghadapi tantangan-tantangan lain yang hampir bersamaan terjadi.

Berdasarkan definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa resiliensi merupakan suatu kemampuan respon dalam berdaptasi terhadap situasi sulit yang bersifat dinamis sehingga dapat berkembang sepanjang waktu dalam siklus kehidupan seseorang dengan disertai sejumlah faktor yang membantu mengurangi resiko individu dalam menghadapi tekanan hidup.

Referensi

http://etheses.uin-malang.ac.id/845/6/10410092%20Bab%202.pdf

Resiliensi digunakan untuk menggambarkan bagian positif dari perbedaan individual dalam respons seseorang terhadap stres dan keadaan yang merugikan lainnya menurut Smet (dalam Desmita 2009).

Menurut Desmita (2009) resiliensi adalah kemampuan atau kapasitas insani yang dimiliki seseorang, kelompok atau masyarakat yang memungkinkannya untuk menghadapi, mencegah, meminimalkan dan bahkan menghilangkan dampak-dampak yang merugikan dari kondisi yang tidak menyenangkan, atau mengubah kondisi kehidupan yang menyengsarakan menjadi suatu hal yang wajar dihadapi.

Menurut Ong dkk (dalam Rinaldi 2010) resiliensi adalah keberhasilan menyesuaikan diri terhadap tekanan yang terjadi. Penyesuaian diri menggambarkan kapasitas untuk membangun hasil positif dalam peristiwa kehidupan yang penuh tekanan.

Indikator-indikator Resiliensi

Berikut ini indikator- indikator resiliensi, yaitu sebagai berikut :

  1. Tetap bertahan dalam keadaan tersulit
  • Dapat mengendalikan perasaan yang tidak menyenangkan

  • Bersepakat dengan segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya

  • Tidak mudah berkecil hati karena kegagalan

  • Lebih kuat menghadapi stress

  • Dapat membuat keputusan yang sulit/tidak lazim f. Berfikir sebagai orang yang kuat

  1. Optimisme dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam kondisi tersulit
  • Ketika sesuatu terlhat mustahil tidak gampang putus asa

  • Mampu berfikir jernih dan fokus walaupun dibawah tekanan

  • Bangkit setelah menghadapi kesulitan

  • Tetap melakukan usaha terbaik apapun yang terjadi

  • Dapat mencari solusi untuk menyelesaikan masalah

  1. Tujuan yang diharapkan
  • Perasaan yang kuat akan tujuan hidup yang diharapkan

  • Melakukan pekerjaan untuk mencapai satu tujuan yang diharapkan

  • Mengontrol tujuan hidup yang ingin dicapai

  • Menyukai tantangan yang menghadang untuk mencapai tujuan yang diharapkan

  • Bangga dengan pencapaian yang diraih dalam hidupnya.

Fungsi-fungsi Resiliensi

Reivich dan Shatte (dalam Ginanjar, 2009) mengemukakan bahwa resiliensi memiliki empat fubgsi fundamental yaitu sebagai berikut:

  1. Mengatasi hambatan-hambatan pada masa kecil.

Melewati masa kecil yang sulit memerlukan usaha keras, membutuhkan kemampuan untuk tetap fokus dan mampu membedakan mana yang dapat dikontrol dan mana yang tidak.

  1. Melewati tantangan-tantangan dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap orang membutuhkan resiliensi karena dalam kehidupan ini kita dihadapkan oleh masalah, tekanan, dan kesibukan-kesibukan. Orang yang resilien dapat melewati tantangan-tantangan dengan baik.

  1. Bangkit kembali setelah mengalami kejadian traumatic atau kesulitan besar.

Kesulitan tertentu dapat membuat trauma dan membutuhkan resiliensi yang lebih tinggi. Pengalaman buruk yang sangat ekstrem dapat membuat seseorang merasa hancur secara emosional, keadaan seperti ini membutuhkan resiliensi untuk kembali pulih.

  1. Mencapai prestasi terbaik.

Beberapa orang memiliki kehidupan yang sempit, mempunyai kegiatan yang rutin setiap harinya. Merasa nyaman dan bahagia ketika segala sesuatunya berjalan dengan lancar.

Resiliensi adalah kemampuan untuk pulih secara efektif dari gangguan yang signifikan yang mengancam fungsi adaptif dan pengembangan (Osofsky et al., 2018). Resiliensi sebagai karakteristik pribadi mengarah pada adaptasi positif dan meminimalkan efek negatif dari stresor, memungkinkan orang untuk merehabilitasi dan menjaga kesehatan mereka terlepas dari masalah yang ada (Mohammadinia et al., 2017).

Menurut Rojas, (2015), resiliensi merupakan kemampuan menghadapi tantangan, resiliensi akan tampak ketika seseorang menghadapi pengalaman yang sulit dan tahu bagaimana menghadapi atau beradaptasi dengannya. Dapat disimpulkan bahwa resiliensi merupakan kemampuan individu untuk segera pulih ketika menghadapi suatu permasalahan yang sulit dan mudah beradaptasi serta menjadikan masalah itu sebagai pengalaman untuk berkembang dimasa yang akan datang.

Cara Meningkatkan Resiliensi

Meningkatkan resiliensi adalah tugas yang penting karena hal ini dapat memberikan pengalaman bagi manusia dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup. Dengan meningkatkan resiliensi, manusia dapat mengembangkan ketrampilan hidup seperti, bagaimana berkomunikasi, kemampuan yang realistik dalam membuat rencana hidup dan mampu mengambil langkah yang tepat bagi hidupnya, mereka akan mengembangkan cara untuk mengubah keadaan yang penuh tekanan menjadi sebuah kesempatan untuk pengembangan pribadi (Rojas, 2015).

Menurut Reivich and Shatte, (2002), resiliensi merupakan kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. Resiliensi dibangun dari tujuh kemampuan yang berbeda dan hampir tidak ada satu pun individu yang secara keseluruhan memiliki kemampuan tersebut dengan baik. Resiliensi bisa ditingkatkan melalui perubahan cara pandang individu terhadap permasalahan yang dapat dilihat dalam tujuh kemampuan yaitu:

1. Regulasi emosi ( emotion regulation )

Regulasi emosi merupakan kemampuan untuk tetap tenang di bawah tekanan. Orang yang memiliki resiliensi baik dapat mengontrol emosi dengan baik, khususnya ketika berhadapan dengan kesulitan atau tantangan, tetap fokus pada tujuan. Faktor ini penting untuk kesuksesan kerja, membentuk relasi yang intim dan menjaga kesehatan fisik.

2. Pengendalian Impuls ( impuls control )

Pengendalian impuls merupakan kemampuan mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaran serta tekanan yang muncul dari dalam diri seseorang. Individu yang mampu mengontrol impulsivitasnya adalah individu yang mampu mencegah kesalahan pemikiran sehingga dapat memberikan respon yang tepat pada permasalahan yang dihadapi. Faktor ini sangat berkaitan dengan regulasi emosi.

3. Analisis Kausal ( causal analysis )

Analisis kausal merupakan kemampuan seseorang dalam mengidentifikasi penyebab masalah dengan akurat. Jika seseorang tidak dapat mengidentifikasi penyebab masalah dengan akurat, maka akan cenderung untuk mengulang kesalahan yang sama. Individu yang memiliki resiliensi baik akan mampu berfikir diluar kebiasaan untuk mengidentifikasi kemungkinan penyebab dan solusi yang mungkin.

4. Efikasi diri ( self-efficacy )

Efikasi diri merupakan keyakinan pada kemampuan diri untuk menghadapi dan memecahkan masalah dengan efektif. Dengan efikasi diri yang tinggi, seseorang meyakini diri sendiri mampu berhasil dan memiliki komitmen dalam memecahkan masalah serta tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang digunakan itu tidak berhasil. Self- efficacy rendah dapat menghasilkan tekanan psikologis yang lebih karena individu merasa mereka tidak dapat mengendalikan diri atau lingkungan mereka (Alexander and Ward, 2018).

Sumber Resiliensi

Menurut Utami, (2017), menyatakan bahwa ada tiga sumber resiliensi yaitu:

1 . I am (Kemampuan Individu)

I am “adalah sumber resiliensi yang berisi tentang sikap, kepercayaan diri dan perasaan seseorang. Resiliensi dapat ditingkatkan ketika seseorang mempunyai kekuatan yang berasal dari dalam diri sendiri seperti kepercayaan diri, sikap optimis, sikap menghargai, dan empati.

2 . I can (Kemampuan sosial dan interpersonal)

I can ” adalah sesuatu yang dapat dilakukan oleh seseorang seperti, kemampuan interpersonal dan memecahkan masalah. Kemampuan ini didapatkan melalui interaksi dan sosialisasi dengan semua orang yang berada di sekitar mereka. Individu tersebut juga memiliki kemampuan untuk berkomunikasi serta memecahkan masalah dengan baik. Mereka mampu mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dengan baik.

3 . I have (Sumber dukungan Eksternal)

I have ” adalah sesuatu yang dimiliki seseorang yaitu berupa dukungan yang ia miliki untuk meningkatkan resiliensi.Dukungan ini berupa hubungan yang baik dengan keluarga, atau hubungan lain yang baik diluar keluarga. Melalui “I have” seseorang merasa memiliki hubungan yang penuh kepercayaan. Hubungan seperti ini dapat diperoleh dari orang tua, aggota keluarga lain, dan teman-teman yang mencintai serta menerima individu tersebut.

Faktor yang Mempengaruhi Resiliensi

Menurut Southwick and Charney, (2012), terdapat tiga faktor yang dapat mempengaruhi resiliensi antara lain:

1. Sosial Support

Sosial support adalah dukungan yang diberikan dari kelompok sekitar lingkungan tempat tinggal, seperti: dukungan Keluarga, community support, personal support, teman dekat, kerabat serta budaya dan komunitas dimana idividu tinggal.

2. Cognitive

Cognitive merupakan kemampuan yang cerdas dalam memecahkan masalah yang dihadapi, kemampuan dalam menghindar dari menyalahkan diri sendiri, control pribadi dan spiritualitas.

3. Psychological resource

Yang termasuk kedalam Psychological resource adalah empati, rasa ingin tahu, cenderung mencari hikmah dalam setiap pengalaman serta selalu fleksible dalam setiap situasi.