Apa yang dimaksud dengan Rasisme?

image

Rasisme adalah diskriminasi dan prasangka berdasarkan ras dan etnis

Apa yang dimaksud dengan Rasisme ?

Menurut Grosse, ras adalah segolongan manusia yang merupakan satu kesatuan karena memiliki kesamaan sifat jasmani dan rohani yang diturunkan sehingga berdasarkan itu dapat dibedakan dengan kesatuan yang lain. (Daldjoeni, 1991)

Asal mula istilah ras diketahui sekitar tahun 1600. Saat itu Francois Bernier seorang antropolog berkebangsaan Perancis, pertama kali mengemukakan gagasan tentang pembedaan manusia berdasarkan kategori atau karakteristik warna kulit dan bentuk wajah. (Liliweri, 2005) para antropologis menemukan tiga karakter yang membedakan tiap-tiap ras, yaitu:

  • Sesuai dengan keadaan anatomi, yakni warna kulit, tekstur rambut, bentuk atau ukuran badan dan bentuk muka atau kepala.

  • Dilihat dari sudut pandang fisiologis seperti contohnya penyakit bawaan dan perkembanga hormonal.

  • Yang terakhir adalah komposisi darah dalam tubuh.

“Ras dalam pertaliannya dengan makna rasisme, merujuk pada kelompok manusia yang ditentukan oleh dirinya sendiri atau oleh pihak lain, yang berlainan secara kultural berdasarkan ciri-ciri jasmaniah yang tidak dapat berubah. Jadi ras dalam rasisme ditentukan secara sosial, tetapi berdasarkan ciri-ciri fisik” (Daldjoeni,1991).

Rasisme


Rasisme adalah suatu gagasan atau teori yang mengatakan bahwa kaitan kausal antara ciri-ciri jasmaniahlah yang diturunkan dan ciri-ciri tertentu dalam hal kepribadian, intelek, budaya atau gabungan dari itu semua, menimbulkan superioritas dari ras tertentu terhadap yang lain. (Daldjoeni, 1991)

Sistem perbudakan pada abad 18-19 di Amerika adalah sistem awal terbentuknya rasisme yang meyakini bahwa ras, kelompok, suku atau warga kulit hitam memiliki atau berada di tingkat sosial yang lebih rendah dibandingkan dengan ras, kelompok, suku atau warga kulit putih di amerika (Marger, 1994)

Pemikiran secara rasisme, mempengaruhi dasar – dasar secara alami tentang pemikiran dan tindakan untuk memberikan perlakuan yang berbeda pada setiap anggota sebuah ras yang berbeda dengan ras yang lain. Sebuah suku bangsa diklasifikasikan sesuai dengan keanggotaan mereka pada suatu grup atau suku, yang menciptakan ke tidak seimbangan antara satu suku dengan yang lainnya. (Marger, 1994)

Bila dilihat sebagai sebuah sistem atau sebuah ideologi, rasisme terstruktur atau terbagi menjadi tiga pengertian yaitu:

  • Manusia secara alami sudah terbagi atau dibedakan sesuai dengan keadaan fisik.
  • Sesuai dengan keadaan fisik sebuah suku atau ras, juga kepribadian dan kemampuan intelektual.
  • Bila diliat dari dasar genetik sebuah suku, sebuah kelompok atau suku merasa lebih kuat atau lebih baik dari suku yang lain. (Marger, 1994)

Berbeda dengan ras, di sini rasisme merupakan perilaku oleh sekelompok ras tertentu yang menganggap kelompok mereka lebih superior dari pada ras yang lain.

Rasisme adalah suatu gagasan atau teori yang mengatakan bahwa kaitan kausal antara ciri – ciri jasmaniah yang diturunkan dan ciri – ciri tertentu dalam hal kepribadian, intelek, budaya atau gabungan dari itu semua, menimbulkan superioritas dari ras tertentu terhadap yang lain. (Daldjoeni, 1991).

Pemikiran secara rasisme, mempengaruhi dasar – dasar secara alami tentang pemikiran dan tindakan untuk memberikan perlakuan yang berbeda pada setiap anggota sebuah ras yang berbeda dengan ras yang lain. Sebuah suku bangsa diklasifikasikan sesuai dengan keanggotaan mereka pada suatu grup atau suku, yang menciptakan ke tidak seimbangan antara satu suku dengan yang lainnya. (Marger, 1994)

Bila dilihat sebagai sebuah sistem atau sebuah ideologi, rasisme terstruktur atau terbagi menjadi tiga pengertian yaitu:

  1. Manusia secara alami sudah terbagi atau dibedakan sesuai dengan keadaan fisik.
  2. Sesuai dengan keadaan fisik sebuah suku atau ras, juga kepribadian dan kemampuan intelektual.
  3. Bila diliat dari dasar genetik sebuah suku, sebuah kelompok atau suku merasa lebih kuat atau lebih baik dari suku yang lain. (Marger, 1994)

Rasisme dalam Narasi Sejarah

Rasisme adalah fenomena yang tidak asing bagi kita. Di belahan dunia manapun tindakan rasisme menjadi bagian dari sejarahnya sendiri, seperti di Italia, Inggris, Jerman, Amerika, Jepang bahkan negara Indonesia. Rasisme layaknya penyakit yang melanda beberapa kelompok masyarakat, dimana mereka beranggapan bahwa manusia lain yang memiliki perbedaan dalam hal budaya, kesukuan dan kepercayaan adalah lebih rendah dari manusia lainnya.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) rasisme diartikan sebagai paham atau golongan yang menerapkan penggolongan atau pembedaan ciri-ciri fisik (seperti warna kulit) dalam masyarakat. Rasisme juga diartikan sebagai paham diskriminasi suku, agama, ras, adat (SARA), golongan ataupun ciri-ciri fisik umum untuk tujuan tertentu (biologis). Secara historis rasisme berkembang ketika ras yang berbeda bertemu dalamkonteks kolonialisasi. Spoonley (1990) dalam bukunya yang berjudul Ethnicity and Racism mencoba menelusuri jejak-jejak rasisme, ia menyimpulkan bahwa ras adalah sebuah konsep kolonial yang berkembang ketika semangat untuk melakukan ekspansi melanda Eropa.

Mulai saat itu diperkenalkanlah konsep ras dalam ranah interaksi sosiologis dunia. Sebagai bagian dari ideologi kolonial, rasisme melegitimasi eksploitasi yang dilakukan masyarakat kolonial kulit putih Eropa terhadap ras lain. Paul Spoonley melacak kasus seperti itu juga menimpa warga keturunan Maori di tengah komunitas ras kulit putih di Selandia Baru. Begitu pula yang dialami masyarakat ras kulit hitam di Amerika (dalam Al Hafiz, Muhammad (2016). Racism In The Post Colonial Society).

Dalam tindak rasisme terdapat intimidasi baik verbal maupun non-verbal oleh oknum tertentu terhadap orang-orang yang dianggap minoritas. Adapun salah satu bentuk tindakan intimidasi tersebut terjadi di Israel, yaitu kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah Israel untuk mendeportasi warga Afrika berada disana. Selain itu, jika warga Afrika tidak bersedia untuk dideportasi maka akan dipenjarakan. Hal ini tentu mendapat protes dari warga Afrika di Israel karena merasa terintimidasi oleh kebijakan tersebut dengan melakukan aksi mogok makan dan turun ke jalan (Chaguza, Kelvin. (2018).

Rasisme hadir dalam bentuk perbedaan perlakuan terhadap seseorang yang dianggap berbeda, dengan memberikan penilaian yang diukur berdasarkan karakteristik ras, sosial atau konsep self-mental, yaitu anggapan bahwa jenis kelamin, agama, bahasa, bukan orientasi seksual yang dimilliki seseorang menjadi penentu derajat atau kedudukan manusia dalam perilaku sosial. Fenomena rasisme sebenarnya sudah muncul jauh sebelumnya. Pengertian rasisme itu sendiri selalu berubah seiring berkembangnya kehidupan manusia. Tribalisme, xenofobia, keangkuhan dan prasangka serta permusuhan dan perasaan negatif terhadap satu kelompok etnis atau
bangsa yang lain, kadang diiringi dengan sikap brutal sering kali dihubungkan dengan
rasisme (Fredrickson, 2005).

Istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial. Seperti salah satu contohnya, penentu nilai orang tersebut merupakan salah satu contoh praktek rasisme. Hingga saat ini, masalah rasisme masih terjadi di berbagai Negara salah satunya contoh kasusnya adalah di Missouri, Amerika Serikat pada 16 Agustus 2014 lalu.

Penembakan terhadap seorang remaja kulit gelap, pelaku penembakan adalah polisi Amerika Serikat yang menyarangkan delapan peluru di tubuh remaja kulit gelap. Hal ini terjadi dikarenakan remaja kulit gelap menyanyikan lagu Hip-Hop yang berlirik sangat kasar menyindir orang-orang kulit putih. Hal itulah, yang membuat polisi Amerika tega menyarangkan delapan peluru di tubuh remaja kulit gelap tersebut. Dengan adanya kejadian ini memicu kerusuhan di Missouri dalam beberapa hari, bahkan bukan hanya di Missouri namun terjadi hingga di Washington.

Perlakuan tidak adil terhadap suatu rasa atau golongan, disebut dengan diskriminasi. Perlakuan diskriminasi banyak membuat orang menjadi sengsara, semua hal tersebut dialami oleh beberapa masyarakat di berbagai negara, karena hal itulah ada sebagian orang yang ingin mengubah pemikiran tersebut kearah yang lebih baik. Perlakukan diskriminasi itupun pernah dialami oleh salah satu tokoh dunia Nelson Rolihlahla Mandela. Nelson Mandela adalah seorang politikus sekaligus revolusioner antiapartheid yang berusaha untuk mengahapus diksriminasi terhadap orang-orang kulit hitam yang ada di Afrika Selatan pada tahun 1999 silam. Tak hanya itu, Hariiet Tubman juga menjadi salah satu tokoh yang menolak keras rasisme.

Harrriet Tubman adalah seorang perempuan keturunan Amerika dan Afrika yang sangat menentang praktek perbudakan yang banyak menimpa kulit hitam, ia melakukan suatu pemberontakan dan berhasil memimpin 13 misi untuk menyelamatkan para budak dan berhasil menyelamatkan 70 orang budak. Berdasarkan pemahaman mengenai rasisme yang telah dijabarkan sebelumnya, peneliti berupaya untuk memahami rasisme dan menjabarkannya menurut pola pemikiran peneliti. Dengan demikian, rasisme merupakan suatu paham mengenai perbedaan yang terjadi di kehidupan manusia, dengan membuat satu ras lebih unggul dari ras lainnya sehingga ras tersebut memiliki keinginan untuk menguasai serta menjatuhkan rasa atau kelompok lain.

Seiring berkembangnya zaman, pemahaman tentang rasisme pun ikut berkembang. Mulai dari pemahaman formal yang didapat melalui pelajaran sekolah, hingga sesuatu yang didapat melalui teknologi digital. Salah satu cara untuk memahami tentang isu rasisme di era digital saat ini dengan melalui film. Film merupakan bagian dari komunikasi yang menampilkan gambar bergerak hingga menghasilkan suatu cerita. Dimana cerita tersebut merupakan pesan yang disampaikan kepada khalayaknya. Menurut Effendi, film adalah hasil budaya dan alat ekspresi kesenian. Film sebagai komunikasi massa merupakan gabungan dari berbagai tekhnologi seperti fotografi dan rekaman suara, kesenian baik seni rupa dan seni teater sastra dan arsitektur serta seni musik (Effendi, 1986).

Menurut Horton dan Hunt, ras adalah suatu kelompok manusia yang agak berbeda dengan kelompok-kelompok lainnya selain dalam segi ciri-ciri fisik bawaan, dalam banyak hal juga ditentukan oleh pengertian yang digunakan oleh masyarakat. Para ahli antropologi fisik umumnya membedakan ras berdasarkan lokasi geografis, ciri-ciri fisik – seperti warna mata, warna kulit, bentuk wajah, warna rambut, bentuk kepala – dan prinsip evolusi rasial.

Rasisme adalah suatu gagasan atau teori yang mengatakan bahwa kaitan kausal antara ciri-ciri jasmaniah yang diturunkan dan ciri-ciri tertentu dalam hal kepribadian, intelek, budaya atau gabungan dari semua itu, menimbulkan superioritas dari ras tertentu terhadap yang lain. Rasisme berasal dari dominasi dan menyediakan dasar pemikiran sosial dan filosofis pembenaran untuk merendahkan dan melakukan kekerasan terhadap orang berdasarkan warna.

Banyaknya rasisme, dapat menunjukkan dua pribadi sikap dan kekuatan struktural. Bentuk-bentuk dari rasisme itu sendiri dapat merupakan kejadian brutal terbuka atau bahkan dapat tidak terlihat oleh institusional. Rasisme adalah suatu sistem penindasan untuk tujuan sosial. Di Amerika Serikat, tujuan asli rasisme untuk membenarkan perbudakan dan manfaat ekonomi yang besar. Ras dalam definisi berdasarkan geografis adalah kumpulan individu atau kelompok yang serupa dalam sejumlah ciri dan yang menghuni suatu teritori serta acapkali berasal mula sama.

E. Von Eickstedt membedakan masyarakat atas dasar prinsip evolusi rasial, yaitu :

  1. Leukoderm (leuko artinya putih). Termasuk di dalam ras ini Europid, Polinesid, Weddid, Ainuid, dengan ciri-ciri umum: wajah dan bagian-bagiannya menonjol, rambut lurus hingga berombak, hidung sempit, tinggi, pigmentasi agak terang. Contoh: orang-orang Eropa dan Polinesia.

  2. Melanoderm (melano artinya hitam). Termasuk di dalam ras ini adalah Negrid, Melanesid, Pigmid, Australid, dengan cirri-ciri umum: warna kulit agak gelap, rambut agak keriting, hidung sangat lebar, wajah prognat, bibir sangat tebal. Contoh: orang Afrika, Aborigin di Australia, dan Melanesia.

  3. Xantoderm (xanto artinya kuning). Termasuk di dalam ras ini adalah Mongoloid, Indianid, Khoisanid, dengan cirri-ciri umum: wajah mendatar dengan pangkal hidung rendah dan pipi menonjol ke depan, celah mata mendatar dengan epicantus internus (kerut mongol), rambut hitam, lurus, tebal, warna kulit kekuningan. Contoh: orang Asia, Indian, Eskimo, dan bangsa Khoisan di Afrika.

Perilaku Rasisme


Ketika orang-orang dari budaya yang berlainan berkomunikasi, penafsiran keliru atas sandi merupakan pengalaman yang lazim. Menurut Devito dalam buku Komunikasi Antarbudaya karya Ahmad Sihabudin, dalam mempelajari komunikasi antarbudaya kita perlu memperlihatkan hal-hal berikut:

  1. Orang dari budaya yang berbeda berkomunikasi secara berbeda;
  2. Melihat cara perilaku masing-masing budaya sebagai sistem yang mungkin tetapi bersifat arbitrer;
  3. Cara kita berpikir tentang perbedaan budaya mungkin tidak ada kaitannya dengan cara kita berperilaku.

Bagi kebanyakan orang, memiliki identitas budaya, kebangsaan, atau keagamaan tertentu masihlah penting. Sayangnya, ini seringkali meyebabkan munculnya etnosentrisme (ethnocentrism), kepercayaan bahwa budaya anda sendiri, bangsa anda sendiri, atau agama anda sendiri lebih hebat dan superior dibandingkan dengan yang lain. Etnosentrisme adalah sesuatu yang universal, mungkin karena hal ini membantu keberlangsungan hidup dengan meningkatkan keterikatan seseorang dengan kelompoknya dan meningkatkan keinginannya untuk bekerja keras atas nama kelompok.

Pada dasarnya, etnosentrisme terletak pada identitas sosial yaitu, kami. Setelah mereka menciptakan kategori “kami”, mereka mempersepsikan orang lain sebagai “bukan kami”. Prasangka, stereotip, diskriminasi, rasisme merupakan situasi yang melibatkan evaluasi negatif dari beberapa kelompok. Prasangka adalah praduga dari penilaian negatif mengenai suatu kelompok dan setiap individu dari anggotanya. Prasangka adalah sikap. Sikap adalah kombinasi yang jelas dari perasaan (feelings), kecenderungan bertindak (inclination to act), dan keyakinan (beliefs).

Orang yang memiliki prasangka mungkin membenci seseorang yang berbeda dengan dirinya dan berperilaku dengan cara yang diskriminatif. Evaluasi negatif yang menandai prasangka sering kali didukung oleh keyakinan negatif, inilah yang disebut dengan stereotip. Sebuah stereotip (stereotype) adalah ringkasan kesan terhadap sekelompok orang dimana semua anggota dalam kelompok dilihat memiliki sifat-sifat yang sama. Stereotip dapat saja bersifat negatif, positif atau juga netral. Bagaimanapun juga, stereotip merefleksikan perbedaan antar orang, dan mereka juga mendistorsikan kenyataan dalam tiga cara.

  1. Pertama, mereka melebih-lebihkan perbedaan antar kelompok, membuat kelompok yang distereotipkan terlihat aneh, asing, atau berbahaya, tidak seperti “kami”.

  2. Kedua, mereka menghasilkan seleksi selektif, orang-orang cenderung untuk melihat bukti-bukti yang sesuai dengan stereotip dan menolak adanya persepsi yang tidak sesuai dengan stereotip.

  3. Ketiga, mereka mengabaikan perbedaan masing-masing anggota dalam kelompok asing ini. Stereotip menciptakan kesan bahwa setiap anggota kelompok tersebut ini pastilah sama.

Prasangka adalah sikap yang negatif; diskriminasi adalah perilaku negatif. Menurut Dovidio dan Wagner dalam buku Psikologi Sosial karya David G. Myers, Perilaku yang mendiskriminasikan terkadang bersumber dari sikap yang penuh prasangka. Akan tetapi, sikap dan perilaku sering kali dihubungkan dengan bebas. Sikap berprasangka tidak berarti akan menghasilkan tindakan permusuhan, ataupun tidak semua tekanan muncul dari prasangka.

Rasisme merupakan praktik-praktik yang dilakukan di institusional yang mendiskriminasikan, bahkan saat tidak ada maksud untuk berprasangka. Perilaku rasisme terdapat dalam adegan film The Help dimana para ibu-ibu rumah tangga di kota Jackson rupanya berhasil dipengaruhi oleh Hilly dan mereka kemudian membangun toilet khusus untuk pembantu-pembantunya yang berkulit hitam.

Robert Blauner menggambarkan rasisme sebagai kecenderungan untuk orang-orang yang dikategorikan budaya berbeda dalam hal ciri-ciri fisik mereka, seperti warna kulit, warna rambut, tekstur wajah, dan bentuk mata. Dalmas Taylor menawarkan pendekatan terkait yang fokus pada komponen perilaku rasisme. Taylor mendefinisikan rasisme sebagai efek kumulatif dari individu, lembaga, dan budaya yang mengakibatkan penindasan etnis minoritas. Pendekatan Taylor berguna dalam bahwa ia mengakui bahwa rasisme dapat terjadi pada tiga tingkatan yang berbeda: individu, kelembagaan, dan budaya (Lustig dan Koester, 2003).

Neubeck menjelaskan bahwa terdapat dua jenis rasisme. Tipe pertama adalah Personal Racism (individu atau kelompok kecil) yang mengungkapkan perasaan negatif dengan kata-kata dan/atau tindakan terhadap orang berkulit hitam. Tipe kedua adalah Institutional Racism, dimana institusi melakukan operasi rutin berskala besar seperti bisnis dan sistem kerja politik untuk untuk merugikan kelompok minoritas umumnya.

  1. Personal Racism
    Personal Racism terjadi ketika individu (atau kelompok kecil individu) memiliki sikap curiga dan/atau terlibat dalam perilaku diskriminatif dan sejenisnya. Manifestasi Personal Racism adalah stereotip individu atas dasar dugaan perbedaan ras, menghina nama dan referensi, perlakuan diskriminatif selama kontak interpersonal, ancaman, dan tindak kekerasan terhadap anggota kelompok minoritas yang diduga menjadi ras inferior. Berikut adalah contoh tindakan Personal Racism;

    • Seorang petugas mempekerjakan orang kulit hitam hanya untuk pekerjaan tingkat rendah, berdasarkan stereotip tentang kemampuan atau takut bahwa kulit hitam akan membawa reaksi negatif dari para pekerja putih,

    • Seorang guru berasumsi bahwa anak-anak di kelas yang bukan anggota dari mayoritas kulit putih tidak bisa belajar dan karena itu mereka hanya diberi sedikit perhatian,

    • Pengemudi mobil berhenti di lampu merah, melihat ada pemuda berkulit hitam mendekati penyeberangan, pengemudi bergegas mengunci pintu mobil karena beranggapan bahwa mungkin pemuda berkulit hitam tersebut berbahaya.

    Di sisi lain, Personal Racism juga dapat berupa tindakan nyata dari kebencian rasial. Ini sering mendapatkan perhatian media, terutama ketika tindakan yang mengancam jiwa atau membawa implikasi kekerasan. Dalam beberapa tahun terakhir “kejahatan kebencian” atau “kejahatan Bias” terhadap orang kulit hitam (juga terhadap orang-orang Yahudi, laki-laki gay, dan lesbian, dan lain-lain) telah mengakibatkan cedera serius dan kematian, menginspirasi beberapa negara untuk mengeluarkan undang-undang kejahatan rasial untuk pencegahan tindakan rasisme.

  2. Institutional Racism
    Rasisme kelembagaan melibatkan perlakuan yang diberikan khusus untuk masyarakat minoritas di tangan lembaga tersebut. Institutional Racism menarik perhatian pada fakta bahwa kelompok-kelompok seperti penduduk asli Amerika, Afrika-Amerika, latino-Amerika, dan AsiaAmerika sering menemukan diri mereka menjadi korban rutin kerja struktur organisasi tersebut. Tidak seperti beberapa bentuk Personal Racism, rasisme yang terjadi melalui operasi sehari-hari dan tahun ke tahun dari lembaga berskala besar seringkali sulit untuk mendeteksi tanpa investigasi. Berikut contoh dari tindakan Institutional Racism;

    • Aturan Senioritas diterapkan hanya kulit putih yang dipekerjakan. Baru-baru ini pekerja minoritas lebih tunduk pada PHK dibandingkan kulit putih,

    • Tes atau akademik kredensial secara rutin digunakan untuk karyawan potensial ketika tes tersebut diarahkan untuk pengetahuan dan pengalaman yang paling mungkin dimiliki oleh anggota kelas menengah kulit putih,

    • Kebijakan kredit dari bank dan lembaga keuangan lainnya dilaksanakan dengan cara-cara yang membuat sulit untuk mendapatkan hipotek atau pinjaman untuk perbaikan rumah di lingkungan minoritas.

    Institutional Racism merupakan fenomena sosial dimana yang putih berada dalam posisi untuk menggerakkan dan mempertahankan. Kuncinya adalah kekuasaan atas struktur organisasi dan operasi mereka. Sejak orang kulit berwarna gelap umumnya tidak memiliki akses ke posisi kekuasaan di lembaga-lembaga utama yang mempengaruhi mereka, mereka tidak mampu melakukan diskriminasi terhadap orang kulit putih pada tingkat ini. Satu bisa bicara, misalnya, tentang insiden “black racism” pada tingkat personal. Tapi harus diingat bahwa minoritas tidak pernah memiliki, dan tidak memiliki hari ini, sarana tindakan rasisme pada institusi yang sama dan dengan efek yang sama dengan kulit putih (Neubeck, 1997).

Referensi

Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.

Beberapa penulis menggunakan istilah rasisme untuk merujuk pada preferensi terhadap kelompok etnis tertentu sendiri (etnosentrisme), ketakutan terhadap orang asing (xenofobia), penolakan terhadap hubungan antar ras ( miscegenation ), dan generalisasi terhadap suatu kelompok orang tertentu (stereotipe)

Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida. Politisi sering menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara. Istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial.

Rasisme, diskriminasi rasial, prejudice dan berbagai sikap intoleransi masih hidup subur tidak hanya di bagian-bagian dunia yang secara stereotip dihubungkan dengan keadaan itu seperti halnya Amerika Serikat. Sikap intoleransi itu ada dimana-mana, dengan berbagai baju.

Rasisme secara umum dapat diartikan sebagai serangan sikap, kecenderungan, pernyataan, dan tindakan yang mengunggulkan atau memusuhi kelompok masyarakat terutama karena identitas ras. Rasisme juga di pandang sebagai sebuah kebodohan karena tidak mendasarkan (diri) pada satu ilmu apapun, serta berlawanan dengan norma-norma etis, perikemanusiaan, dan hak-hak asasi manusia. Akibatnya, orang dari suku bangsa lain sering didiskriminasikan, dihina, dihisap, ditindas dan dibunuh.

Permasalahan rasisme nampaknya sangat menarik untuk dicermati dan mendorong banyak filmmaker Hollywood untuk mengangkat tema ini ke layar lebar, khususnya tentang kehidupan masyarakat multietnis di Los Angeles yang di penuhi rasisme, diskriminasi rasial, dan prejudice. “Crash” – (2006) karya Paul Haggis, adalah film drama gelap tentang rasisme, kecurigaan dan prasangka. Mengangkat tema multikulturalisme, kesenjangan, kriminalitas, dan rasialisme di dalam masyarakat kota yang tampaknya masih digemari masyarakat Amerika Serikat (AS), film Crash menggambarkan tentang potret kesenjangan dan pandangan rasialisasi warga Los Angeles dalam gambaran keseharian mereka. Tentang 3 multikulturalisme ini, AS yang di kenal dan memosisikan diri sebagai Land of diversity —menerima segala ras dan bangsa—seakan makin kuat dengan cap itu lewat Crash.

Referensi

Sumber : http://thesis.umy.ac.id/datapublik/t4190.pdf

Pengertian Rasisme

Kata rasisme berasal dari bahasa Inggris yaitu racism . Rasicsm sendiri berasal dari kata race yang mengandung beberapa arti, yaitu :

  • Pertama, suatu kelas populasi yang didasari oleh kriteria genetik.
  • Kedua, kelas dari genetik atau tipe gen.
  • Ketiga, populasi yang mana populasi yang di maksud secara genetis berbeda dengan populasi atau ras yang lain.

Sederhananya, rasisme ialah bentuk pandangan terhadap ideologi atau paham masyarakat yang menolak atau adanya ketidaksenangan terhadap golongan masyarakat tertentu yang berdasarkan ras, derajat, atau yang lainnya.

Pengertian Rasisme

Jika tadi pengertian rasisme secara umum, berikut ini adalah pendapat para ahli mengenai definisi dari rasisme. Adapun para ahli tersebut yakni sebagai berikut :

  • KBBI (kamus besar Bahasa Indonesia)

Rasisme menurut KBBI adalah sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat dalam ras manusia menentukan hasil budaya atau individu – bahwa ras tertetu lebih unggul dan memiliki hak dalam mengatur ras lain.

  • Alo Liliweri

Definisi rasisme menurut Alo Liliweri yaitu ialah ideologi yang didasarkan pada diskriminasi terhadap seseorang maupun kelompok, karena ras mereka bahkan menjadi doktrin politik.

  • Human Rights and Equal Opportunity Commission

Definisi rasisme berdasarkan Komisi Hak Asasi Manusia dan Kesetaraan adalah ideologi yang berkontribusi terhadap pernyataan mitos tentang kelompok etnis dan ras yang merendahkan kelompok atau komunitas tertentu.

  • Pramoedya Ananta Toer

Menurut Pramoedya Ananta Toer, rasisme adalah pemahaman yang menolak sekelompok orang berdasarkan atau ras yang berbeda. Dengan kata lain, ia memiliki kelainan atau perbedaan daripada umumnya.

  • Oliver C. Cox

Oliver C. Cox berpendapat bahwa rasisme adalah suatu peristiwa, suatu situasi yang mengevaluasi berbagai tindakan dan nilai-nilai dalam suatu kelompok berdasarkan pada perspektif kulturalnya yang memandang seluruh nilai sosial masyarakat lain di luar mereka itu suatu kesalahan dan bahkan tidak dapat diterima.

Penyebab Rasisme

Timbulnya perbuatan atau suatu tindakan yang rasis tentunya disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor internal maksudnya muncul karena tidak adanya kesadaran diri sendiri dan dari faktor eksternal yaitu berasal dari luar diri yang menjadi pendorong seseorang melakukan tindakan rasis/rasisme.

  • Sosialisasi dalam keluarga

Segala sesuatu yang orang tua ajarkan kepada anak-anak mereka pasti akan melekat pada anak-anak mereka sendiri, baik dan buruk. Ironisnya, orang tua biasanya menjadi salah satu faktor yang memunculkan rasisme, sehingga rantai kebencian terjadi dan tidak putus karena terus diindoktrinasi antar generasi.

  • Keputusan Kebijakan Pemerintah

Secara umum, penyebab paling umum dari rasisme terjadi karena keputusan kebijakan pemerintah. Ini dipengaruhi oleh otoritarianisme para pemimpin pemerintahan. Contohnya adalah periode orde lama dan baru, etnis Cina telah didiskriminasi dan membatasi ruang lingkup.

  • Budaya dan Adat Istiadat

Keragaman budaya dan adat istiadat tak bisa di pungkiri bahwasanya keduanya menjadi salah satu faktor penyebab rasisme karena perbedaan budaya dan adat istiadat memengaruhi pikiran, pemahaman, dan pendapat atau pandangan terhadap sesuatu sehingga dapat menimbulkan sikap rasis di antara kelompok etnis atau antar suku.

Selain faktor-faktor tersebut di atas, rasisme dapat disebabkan oleh ketidaksetaraan ekonomi, kesenjangan dalam struktur dan infrastruktur bahkan rasa cinta yang berlebihan terhadap sesuatu.

Dampak Rasisme

Hasil penelitian menunjukkan mengenai bagaimana akumulasi pengalaman dari tindakan rasis yang diterima oleh seseorang seperti umpatan maupun dalam bentuk serangan fisik menjadikan seseorang merasa ketakutan saat berada di tempat umum dan merasa tidak aman karena seseorang tersebut berasal dari etnis minoritas yang menjadi target kebencian etnis mayoritas.

Tindakan menghindari tempat-tempat umum karena trauma dari tindakan rasis yang diderita sebagai akibat diskriminasi rasial telah mengakumulasi dampak yang sangat besar pada kesehatan mental etnis minoritas.

Sederhananya, dampak negatif yang ditimbulkan dari perlakuan rasis ini setidaknya ada dua yakni sebagai berikut :

  1. Rasisme dari perspektif kesehatan dapat memengaruhi sifat, mentalitas, dan kepribadian seseorang.
  2. Rasisme dapat menyebabkan masalah sosial seperti konflik yang terjadi di Papua