Apa yang dimaksud dengan Rasisme Simbolik atau Symbolic racism?

Rasisme adalah kepercayaan terhadap superioritas yang diwarisi oleh ras tertentu. Rasisme menolak kesetaraan manusia dan menghubungakan kemampuan dengan komposisi fisik sehingga kesuksesan
hubungan sosial tergantung pada warisan genetik dibandingkan kesempatan yang ada.

Apa yang dimaksud dengan Rasisme Simbolik atau Symbolic racism ?

Rasisme simbolik sebagai perpaduan antara perasaan anti minoritas dan moral tradisional serta agama yang diyakini. Hal ini merepresentasikan bahwa ketika mengakui rasisme tidak sesuai dengan nilai tradisi dan moral yang berlaku tetap ada penolakan terhadap perubahan
status qou atau prasangka rasial yang sudah berakar dalam masyarakat, sehingga rasisme dilakukan secara simbolik tidak dalam perilaku yang mendiskriminasi secara langsung. Sears, Kinder, McConahay dan Hough

Rasisme simbolik adalah sistem kepercayaan yang dimanifestasi dalam empat tema spesifik yaitu

  • diskriminasi rasial bukanlah hambatan untuk prospek kehidupan kaum minoritas,
  • kesulitan yang terjadi pada dasarnya terjadi karena keengganan kaum minoritas untuk bekerja,
  • tuntutan yang terus menerus dilakukan
  • peningkatan manfaat yang tidak beralasan.

Rasisme simbolik berbeda dengan rasisme gaya lama yang dikenal dengan old-fashioned racism sehingga dapat dibedakan dari manifestasi prasangka. Penekanan rasisme atau prasangka rasial secara tidak langsung atau simbolis merupakan bagian dari rasisme simbolik sedangkan rasisme gaya lama menekankan pada permusuhan antar kelompok secara terang-terangan serta keyakinan tentang inferioritas out-group.

Rasisme simbolik diyakini sebagai sebuah afek atau kecemasan yang disertai persepsi negatif
bahwa kelompok rasial yang berbeda atau minoritas melakukan pelanggaran terhadap nilai tradisi pribumi (Brown, 2005)

Tema dalam Rasisme Simbolik

Menurut Hendry dan Sears, 2002, terdapat empat tema yang dibahas didalam rasisme simbolik, yaitu :

  • Pertama, tanggung jawab dan kerja keras meliputi kesuksesan dan kegagalan orang dari ras minoritas tergantung pada usahanya untuk menggapai keberhasilan.

  • Kedua, tuntutan yang berlebihan yaitu orang dari ras minoritas menuntut terlalu banyak pada berbagai pihak.

  • Ketiga, orang dari etnis minoritas tidak lagi mendapatkan diskriminasi dan prasangka yang banyak dari etnis mayoritas.

  • Keempat, orang dari etnis minoritas telah mendapatkan hak yang selayaknya mereka terima.

Keempat tema ini disusun berdasarkan rasisme simbolik yang tidak dominan pada diskriminasi langsung tetapi prasangka secara tidak langsung karena memandang ras minoritas melanggar tradisi pribumi dan tekanan ras minoritas untuk menyetarakan hak dengan pribumi.

Faktor yang mempengaruhi Rasisme Simbolik

Rasisme simbolik adalah prasangka rasial secara tidak langsung. Sehingga faktor yang mempengaruhi berkembangkan rasisme simbolik secara umum juga sama dengan prasangka.

Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi Rasisme Simbolik, yaitu :

1. Kategorisasi dan Indentitas Sosial

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya dalam faktor yang mempengaruhi atribusi bahwa manusia membuat kategorisasi untuk mempermudah pemahamannya. Rosch (dalam Cottam dkk, 2012) mengungkapakan bahwa ada dua dua prinsip yang berperan dalam membentuk kategorisasi.

  • Pertama, kategorisasi memungkinkan individu yang mempersepsi untuk mendapatkan informasi yang lebih mudah dan mengurangi perbedaan kecil yang ada di antara objek-objek.

  • Kedua, individu memerlukan kategori yang cocok dengan realitas sosial dan fisik mereka.
    Kategorisasi akan memunculkan berbagai kelompok yang di dalamnya terdapat anggota yang disatukan karena berbagai persamaan baik realitas sosial maupun realitas fisik. Hal ini mendorong munculnya stereotip.

Streotip adalah keyakinan tentang karakteristik individu yang berbeda di dalam kelompok atau kategori sosial (Cottam dkk, 2012). Stereotip mencakup segala karakteristik pribadi secara fisik, afeksi, visual, atau prilaku yang dianggap mencerminkan kelompok tersebut. Ketika seseorang meyakini streotip tentang kelompok lain dan bertingkah laku diskriminatif maka ia dikatakan memiliki prasangka.

Ketika individu menjadi bagian dari kelompok tertentu maka akan terbagun identitas sosial di dalam dirinya karena assumed similarity effect atau mengasumsikan bahwa anggota in-group selain individu mempunyai sikap dan perilaku yang sama dengan dirinya. Individu akan mengkategorisasikan orang menjadi in-group (kita) dan out-group (mereka) dan muncul in-group favoritism effect atau kecenderungan untuk memberikan banyak penilaian baik pada anggota in-group daripada out- group.

Hal ini menyebabkan terjadinya group-serving biases yaitu pemberian atribusi positif pada kinerja anggota in-group dan atribusi negatif terhadap kinerja out-group (Taylor, 2012).

2. Kompetisi

Menurut teori konflik realistik, prasangka berakar dari kompetisi antarkelompok untuk mendapat komunitas harga atau kesempatan (Baron dan Byrne, 2005). Penelitian tentang kompetisi dapat menyebabkan prasangka dilakukan oleh Sherif (dalam Baron dan Byrne, 2012). Peneliti mengumpulkan beberapa anak laki-laki dalam perkemahan musim panas di daerah terpencil. Beberapa anak laki-laki itu dibagi menjadi dua kelompok dan mereka diberikan instruksibahwa akan diadakan kompetisi dan yang memenangkan kompetisi akan medapatkan tropi penghargaan. Kemudian, muncul konflik diantara kedua kelompok.

Diawali dengan saling mengejek lalu dibalas dengan penyerangan yang merusak barang-barang pribadi kelompok yang mengejek. Mereka melabeli lawan kelompoknya dengan pengecut dan memuji kelompoknya, sehingga muncul prasangka pada out-grup dan atribusi yang positif pada in-group.

3. Fundamental and Ultimate Attribution Errror

Ross (dalam Brown, 2005) dengan idenya fundamental attribution error meyatakan bahwa individu cenderung mengatribuskan penyebab interbnal pada tindakan orang lain dan mengatribusikan penyebab ekstenal pada perilakunya sendiri.

Berdasarkan ide tersebut Pettigrew (dalam Brown, 2005: 156-157) menyatakan bahwa rentan terjadinya ultimate attribution error yaitu contohnya dalam perilaku negative, individu mengatribusikan perilaku in- group berada dalam posisi eksternal yaitu karena terprovokasi dan out- group dalam disposisi internal karena tindakan agresif yang merupakan karakteristik mereka.

Hal ini berhubungan dengan afek negativistik dan afek positivistik. Afek negatifistik akan muncul ketika individu menghadapi orang yang tidak kita sukai sehingga individu cenderung menghubung perilaku negatif pada disposisi intenal dari pada faktor eksternal. Afek positivistik muncul ketika individu menghadapi orang yang disukai. Individu akan cenderung mengubungkan perilaku negatif dengan faktor-faktor eksternal (Cottam dkk, 2012).

4. Pembelajaran Sosial

Prasangka dapat dipelajari dan dikembangkan dalam mekanisme yang sama dengan sikap lainnya. Melalui proses belajar dengan mengobservasi sikap negatif yang diekspresikan oleh orang tua, guru, teman dan orang-orang disekitar serta reward berupa pujian atau persetujuan untuk menerima pandangan-pandangan yang berkembang (Baron dan Byrne, 2004).

Norma yang berlaku di dalam kelompok terutama yang mengatur tentang sikap terhadap kelompok lain mempengaruhi individu untuk bersikap sesuai dengan yang telah diatur. Hal ini dapat mengembangkan prasangka individu terhadap kelompok lain (Baron dan Byrne, 2004).

Pengalaman masa kecil yang mengalami secara langsung maupun melihat sikap rasial orang tua dapat mengembangkan prasangka rasial anak. Pengalaman anak ketika berinteraksi langsung di sekolah dengan orang yang memiliki ras berbeda mempengaruhi sikap rasialnya. Ketika terjadi hubungan yang baik maka anak akan cenderung memiliki kepedulian terhadap orang yang memiliki ras yang berbeda dan sebaliknya jika hubunngan dengan teman yang berbeda ras tidak baik maka akan berkembang rasisme di dalam sikap anak tersebut (Baron dan Byrne, 2004).

5. Kepribadian Otoriter

Kepribadian yang otoriter memiliki karakteristik dasar yaitu bertahan pada tatanan konvensional, tidak bisa menerima kritik dan saran, patuh pada kekuasaan dan ingin menjadi penguasa. Individu yang memuliki kepribadian otoriter memiliki sikap umum yaitu intolerir dengan sesama ras dan etnik apalagi dengan yang berbeda dengan mereka (Liliweri, 2009).

Rasisme adalah diskriminasi dan prasangka berdasarkan ras dan etnis (Hogg dan Vaugan, 2011). Leone (dalam Samovar, Porter dan McDaniel, 2010: 212) mendefinisikan rasisme sebagai kepercayaan terhadap superioritas yang diwarisi oleh ras tertentu. Rasisme menolak kesetaraan manusia dan menghubungkan kemampuan dengan komposisi fisik sehingga kesuksesan hubungan sosial tergantung pada warisan genetik dibandingkan kesempatan yang ada.

Rasisme adalah prasangka seseorang dan perilaku yang mendiskriminasi terhadap orang dari ras tertentu (Myers, 2012). Secara intstitusional praktik rasisme bahkan terjadi tanpa prasangka dengan merendahkan orang dari ras tertentu. Taylor dkk (2012) mendefiniskan rasisme sebagai antagonisme kontemporer terhadap kelompok rasial berdasarkan prasangka dan nilai bukan kepentingan diri. Hal ini lebih cenderung pada pengertian rasisme modern atau rasisme simbolik bukan pada rasisme gaya lama (old-fashioned racism).

Hendry and Sears (dalam Tarman dan Sears, 2005) mendefinisikan rasisme simbolik sebagai sistem kepercayaan yang dimanifestasi dalam empat tema spesifik yaitu diskriminasi rasial bukanlah hambatan untuk prospek kehidupan kaum minoritas, kesulitan yang terjadi pada dasarnya terjadi karena keengganan kaum minoritas untuk bekerja, tuntutan yang terus menerus dilakukan dan peningkatan manfaat yang tidak beralasan.

Sears, Kinder, McConahay dan Hough (dalam Kinder dan Sears, 1981) mendefinisikan rasisme simbolik sebagai perpaduan antara perasaan anti minoritas dan moral tradisional serta agama yang diyakini. Hal ini merepresentasikan bahwa ketika mengakui rasisme tidak sesuai dengan nilai tradisi dan moral yang berlaku tetap ada penolakan terhadap perubahan status qou atau prasangka rasial yang sudah berakar dalam masyarakat, sehingga rasisme dilakukan secara simbolik tidak dalam perilaku yang mendiskriminasi secara langsung.

Rasisme simbolik berbeda dengan rasisme gaya lama yang dikenal dengan old-fashioned racism sehingga dapat dibedakan dari manifestasi prasangka. Penekanan rasisme atau prasangka rasial secara tidak langsung atau simbolis merupakan bagian dari rasisme simbolik sedangkan rasisme gaya lama menekankan pada permusuhan antar kelompok secara terang- terangan serta keyakinan tentang inferioritas out-goup.

Rasisme simbolik diyakini sebagai sebuah afek atau kecemasan yang disertai persepsi negatif bahwa kelompok rasial yang berbeda atau minoritas melakukan pelanggaran terhadap nilai tradisi pribumi (Brown, 2005).

Berdasarkan definisi-definisi yang telah disebutkan maka dapat disimpulkan bahwa rasisme simbolik adalah rasisme yang terjadi secara tidak langsung seperti perilaku diskriminasi yang bertentangan dengan norma sosial saat ini yang menitik beratkan pada toleransi secara praktik sehingga rasisme simbolik berada pada persepsi negatif yang berasal dari pemahaman tradisional bahwa out-group memiliki sifat yang buruk.

Tema dalam Rasisme Simbolik


Ada empat tema dalam rasisme simbolik (Hendry dan Sears, 2002).

  • Pertama, tanggung jawab dan kerja keras meliputi kesuksesan dan kegagalan orang dari ras minoritas tergantung pada usahanya untuk menggapai keberhasilan.

  • Kedua, tuntutan yang berlebihan yaitu orang dari ras minoritas tergantung pada usahanya untuk menggapai keberhasilan. Tuntutan yang berlebihan yaitu orang dari ras minoritas menuntut terlalu banyak pada berbagai pihak.

  • Ketiga, orang dari etnis minoritas tidak lagi mendapatkan diskriminasi dan prasangka yang banyak dari etnis mayoritas.

  • Keempat, orang dari etnis minoritas telah mendapatkan hak yang selayaknya mereka terima.

Keempat tema ini disusun berdasarkan rasisme simbolik yang tidak dominan pada diskriminasi langsung tetapi prasangka secara tidak langsung karena memandang ras minoritas melanggar tradisi pribumi dan tekanan ras minoritas untuk menyamakan hak dengan pribumi (dalam Kinder dan Sears, 1981)