Apa yang dimaksud dengan Puisi ?

puisi

( Aurora Ridha Zetana) #1

Puisi

Puisi berasal dari bahasa Yunani poites, yang artinya membangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa latin dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, dan menyair. Dalam perkembangan selanjutnya, maka kata tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan

Apa yang dimaksud dengan Puisi ?


(Bima Satria) #2

Puisi merupakan karya sastra yang memiliki karakteristik unik dibandingkan dengan genre karya sastra lainnya, yakni prosa dan drama. Keunikan puisi antara lain disebabkan oleh sifatnya yang cenderung berubah dan berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat yang menghasilkan kebudayaan. Karena keunikan itulah, batasan mengenai puisi sulit diterangkan secara lengkap dan memadai. Seiring dengan perkembangan karya sastra, termasuk puisi, pengertian puisi pun menjadi berubah.

Beberapa definisi puisi menurut para ahli adalah sebagai berikut :

  • I.A. Richards, berpendapat bahwa suatu puisi mengandung suatu makna keseluruhan yang merupakan perpaduan dari tema penyair (yaitu mengenai inti pokok puisi itu), perasaan-nya (yaitu sikap sang penyair terhadap bahan atau obyeknya), nada-nya (yaitu sikap sang penyair terhadap pembaca atau penikmatnya), dan amanat (yaitu maksud atau tujuan sang penyair).

  • Suharianto (1981) mengatakan bahwa karya seni umumnya atau puisi khususnya, tidak lain adalah hasil pengungkapan kembali kembali segala peristiwa atau kejadian yang terdapat di dalam kehidupan sehari-hari.

  • Wirjosoedarmo mengatakan bahwa puisi adalah bentuk karangan yang terikat oleh:

    1. banyak baris dalam tiap bait (kuplet/ strofa, suku karangan):
    2. banyak kata dalam tiap baris:
    3. banyak suku kata dalam tiap baris:
    4. rima:
    5. irama.

    Pendapat tersebut kiranya sudah tidak relevan lagi dengan wujud puisi pada zaman sekarang dalam hal terikat oleh jumlah baris tiap bait, banyaknya kata dalam tiap baris, dan banyaknya suku kata dalam tiap baris. Pada zaman sekarang penyair menghendaki kebebasan dalam mengekspresikan karyanya.

  • Alternbern mendefinisikan puisi sebagai pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum) (as the inteterpretive dramatization in metrical language).

  • Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lainnya sangat erat hubungannya.

  • Carlyle berkata bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Maksudnya penyair dalam menciptakan puisi itu memikirkan bunyi yang nerdu, bunyi dan irama yang ada dalam puisi tersebut serasi dan memepergunakan orkestrasi bunyi.

  • Wordswoth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatf, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan.

  • Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.

  • Dunton berpendapat sebenarnya bahwa puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosonal serta berirama. Berikutnya Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup kita. Misalnya peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat, seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya itu merupakan detik- detik yang paling indah untuk direkam.

  • Pradopo (1987) mengatakan bahwa puisi itu ekspresi pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi pancaindera dalam susunan yang berirama. Dengan demikian, puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang palaing berkesan.

  • Tarigan (1986) memberikan penjelasan bahwa istilah puisi berasal dari bahasa Yunani, yakni poiesis yang berarti penciptaan.

  • Waluyo (1987) memberikan definisi bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengkonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.

  • Sayuti (2003) merumuskan bahwa puisi adalah sebentuk pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek bunyi-bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya; yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengar-pendengarnya.

Berdasarkan definisi puisi seperti tersebut dapat ditarik simpulan bahwa sebuah karya seni disebut puisi jika memiliki ciri-ciri:

  1. merupakan ekspresi pengalaman yang ditulis dengan bahasa yang puitis;

  2. bersifat pemusatan dan pemadatan pada masalah yang disampaikan dan cara penyampaiannya;

  3. lebih mengedepankan efek emosional daripada intelektual;

  4. memanfaatkan unsur orkestra atau musik atau bunyi berupa rima dan irama;

  5. menimbulkan pengaruh, sugesti atau motivasi kepada pembaca atau pendengarnya atau katarsis.


(Calandre Kei Ashana) #3

Secara konvensional, sastra terdiri atas tiga genre, yakni puisi, prosa, dan drama. Puisi merupakan salah satu genre yang paling tua. Jika ditelusuri, sudah banyak definisi puisi. Dalam pandangan tradisional, puisi (poetry) merupakan ragam sastra yang terikat oleh unsur-unsurnya, seperti irama, rima, matra, baris, dan bait (Yusuf, 1995).

Menurut Shanon Ahmad, puisi merupakan emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindra, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.

Namun, definisi ini tentu tidak akan memuaskan kita. Perkembangan puisi yang luar biasa saat ini menjadi penyebab betapa sulitnya kita menerima definisi di atas secara utuh.

Perkembangan berikutnya dalam memandang puisi adalah yang biasa disebut orang puisi dengan media selain kata. Pada tahun 1974 dalam pertemuan sastrawan DKJ TIM, Danarto menurunkan puisi dalam bentuk kotak-kotak (Malna).

puisi

Visualisasi tersebut dianggap sebagai puisi walaupun tidak mengatakan apa-apa kecuali bidang segi empat dengan sembilan kotak. Puisi itu baru mengatakan sesuatu ketika diturunkan dalam bentuk tarian oleh Tri Sapto (yang ikut serta dalam pertemuan tersebut). Namun, bukan persoalan hasil kreatifnya yang relevan dengan tulisan ini, melainkan niat penulis untuk menyatakan bahwa itu adalah puisi. Danarto membuat sesuatu yang baru tentang puisi yang dinyatakan melalui media lain. Presentasi semacam ini tampaknya berangkat dari asumsi bahwa kalau pengalaman puitik itu merupakan pengalaman nirujar (nonverbal), maka ia sesungguhnya bisa dinyatakan melalui media apapun.

Tafsir Afrizal Malna menunjukkan bahwa Danarto berusaha menjelaskan adanya mobilisasi semiotik yang kian bersinggungan dengan berbagai wacana (dalam pengertian luas, yakni bukan hanya wacana ujar tetapi juga wacana nirujar). Kian maraknya budaya visual lewat media elektronik dan grafis ke dalam kehidupan masyarakat jadi kenyataan tersendiri. Betapa dunia rupa pun mampu menyampaikan pesan dan kode-kode komunikasi (untuk melakukan pemaknaan). Fenomena mobilisasi semiotik seperti ini yang menggoyahkan keyakinan-keyakinan teguh pada media yang sudah dianggap baku di tingkat penyelenggaraan materialnya – kian memperlihatkan dirinya dengan ikut sertanya sejumlah penyair yang memamerkan karya-karyanya dalam bentuk seni rupa, yang kemudian mereka sebut sebagai “puisi konkret”.

Hal serupa ditunjukkan pula melalui puisi rupanya Gendut Riyanto (1994) dalam bentuk sendok garpu. Kata telah dihunjam garpu. Begitupun dengan Remy Silado yang menyatakan bahwa ketika kata telah kehilangan lafal, yang ada tinggallah tanda
seru dan tanya berikut ini:

puisi

Hal ini menunjukkan bahwa kata telah kehilangan makna seperti dalam puisinya Radhar Panca Dahana “Berlayar Menuju Adam” (:kenapa harus mengatakan sesuatu kalau kalimat tidak lagi melahirkan kata).

Fenomena-fenomena tersebut menggambarkan bahwa kita makin sulit untuk menjelaskan puisi dari konsep penyimpangan penggunaan bahasa. Apalagi kini telah lahir genre baru dalam sastra, yakni sastra komputer. Seperti disimpulkan oleh Anbeek bahwa teks sastra tergantung kepada pembaca. Namun, untuk kepentingan akademis, kita perlu memadukan pemikiran di atas dengan pemikiran dalam perkembangan berikutnya.

Berdasarkan kajian di atas, pemikiran itu dapat berupa bahwa puisi merupakan karya emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindra, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur dengan memperhatikan pembaca.

Sumber : Maman Suryaman, Wiyatmi, Puisi Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, 2013


(wahyu musa gunawan ) #4

Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra yang memiliki pernyataan sastra yang paling dalam. Kata-kata yang dimunculkan mengandung pengertian yang mendalam dan penuh simbol-simbol. Membaca puisi merupakan sebuah kenikmatan seni sastra karena pembaca dibawa serta ke dalam pernyataan-pernyataan yang dicurahkan seorang penyair melalui baris-baris puisinya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

Rahmat Djoko Pradopo memberikan definisi puisi sebagai karangan terikat. Keterbatasan puisi tersebut berdasarkan keterikatan atas :

  1. Banyak baris dalam tiap bait,
  2. Banyak kata dalam tiap baris,
  3. Banyak suku kata dalam tiap baris,
  4. Rima
  5. Irama.

Apabila dilihat dari pengertian di atas, maka pengertian tersebut sudah tidak cocok lagi dengan wujud puisi zaman sekarang. Keterikatan puisi sudah tidak tervisualisasikan pada bentuk puisi-puisi modern pada saat ini.

Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani “poeima” membuat atau " pembuatan”, dan dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry. Puisi diartikan “membuat” dan “pembuatan”, karena lewat puisi pada dasarnya seseorang telah menciptakan sesuatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.

Pengertian tersebut sejalan dengan pendapat Shelley yang mengatakan bahwa puisi merupakan rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup kita. Misalkan saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat, seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai.

Menurut sejarahnya poeisis, yaitu penciptaan puisi dan seni (tetapi perhatikan bahwa kata poeisis secara etimologi tidak lain artinya daripada hanya “pembuatan” saja, tidak khas untuk seni) dapat pula diberikan sebagai perwujudan gagasan manusia selaku pencipta, yang berkembang secara berangsur-angsur. Baik dalam dunia klasik dengan karya seni sebagai bentuk tekhne yang tertinggi, tetapi masih dalam rangka peneladanan alam.

Sebagai sebuah genre, puisi berbeda dari novel, drama atau cerita pendek. Perbedaannya terletak pada kepadatan komposisi dengan konvensi yang ketat, sehingga puisi tidak memberi ruang gerak yang longgar pada penyair dalam berkreasai secara bebas. Wajar kalau puisi dikatakan sebagai the most condensed and concentrated from of literature (Parrine, 1974) yang maksudnya adalah puisi merupakan bentuk sastra yang paling padat dan terkonsentrasi. Kepadatan komposisi tersebut ditandai dengan pemakaian sedikit kata, namun mengungkap lebih banyak hal. Sebab itu, puisi dapat didefinifikan sebagai berikut:

Puisi dapat didefinisikan sebagai sejenis bahasa yang mengatakan lebih banyak dan lebih intensif daripada apa yang dikatakan oleh bahasa harian. (Parrine, 1979)

Definisi di atas menyatakan secara implisit bahwa puisi sebagai bentuk sastra menggunakan bahasa sebagai media pengungkapnya. Hanya saja bahasa puisi memiliki ciri tersendiri yakni kemampuannya mengungkap lebih intensif dan lebih banyak ketimbang kemampuan yang dimiliki oleh bahasa biasa yang cenderung bersifat informatif praktis. Oleh sebab itu, pesan yang disampaikan bersifat jelas dan tidak mengandung dimensi ambigu.

Terlepas dari beberapa pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa sifat yang terpenting dari puisi adalah puitis. Sesuatu disebut puitis bila hal itu membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas. Secara umum bila hal itu menimbulkan keharuan disebut puitis. Dalam hal ini puitik bukanlah referensi, acuan di luar ungkapan bahasa itu yang penting, tetapi kata-kata, pemakaian bahasa itu sendiri yang menjadi pusat perhatian itu walaupun fungsi-fungsi lain bukan tak ada dalam puisi.

Kepuitisan itu dapat dicapai dengan bermacam-macam cara, misalnya dengan bentuk visual, tipografi, susunan bait, dengan bunyi: persajakan, asonansi, aliterasi, kiasan bunyi, lambang rasa, dan orkestrasi, dengan pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan, sarana retorika, unsur-unsur ketatabahasaan, gaya bahasa dan sebagainya.

Aliterasi adalah ulangan bunyi konsonan yang biasanya terdapat pada awal kata yang berurutan untuk mencapai efek keindahan bunyi, sedangkan asonansi adalah ulangan bunyi vokal yang berurutan, runtun vokal.

Di antara kemungkinan cara yang disediakan oleh sistem bahasa, dalam bahasa puitik dipilih kemungkinan yang dari segi tertentu menonjolkan kuivalensi; bekuivalensi itu dapat terwujud dalam gejala yang sangat beranekaragam: ekuivalensi bunyi, dalam bentuk rima, aliterasi, asonansi; tetapi pula dalam skema mantra seperti dalam kidung dan kakawin, yang mempunyai kesejajaran, antara larik dengan larik, antara pupuh dengan pupuh dan di dalam larik ada macam-macam kesejajaran; seluruhnya disebut sistem mantra.

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa pemakaian bahasa yang tepat sangat dibutuhkan dalam puisi, sehingga dapat menggetarkan jiwa, dengan keindahan bahasa yang ada dalam puisi. Karena puisi itu ialah keindahan yang terdapat dalam karya seni, keindahan itu kita rasakan sebagai rasa senang, gembira, bahagia, terharu, kagum dan takjub.

Dalam keindahan terkandung kebenaran. Kebenaran di sini ialah kebenaran tentang arti kehidupan, kebenaran yang belum dispesialisasikan dalam bidang-bidang ilmu tertentu. Kebenaran dalam puisi irepresentasikan melalui rangkaian kejadian yang dialami oleh pelaku-pelakunya. Kebenaran yang sekaligus diserap oleh cipta, rasa dan karsa ini dekat pengertiannya dengan kebijaksanaan, kearifan, atau kelapangan dada (broad mindedness).

Puisi dianggap lebih berhasil bila mampu memberikan manfaat dan hiburan. Bermanfaat dapat diartikan mampu memberikan nilai-nilai yang mengarah pada tujuan manusia hidup di dunia. Demikian pula dengan penelitian jenis sastra seperti puisi misalnya, pokoknya diambil dari teori yang dikembangkan dalam poetika tulisan Aristoteles. Sifat bermanfaat dan nikmat (utile dan dulce) sebagai tujuan dari fungsi karya sastra, tetap merupakan tolak ukur sastra.

Nilai-nilai itu memunculkan hikmah-hikmah yang dalam dari suatu peristiwa maupun kisah-kisah yang muncul dalam pernyataan-pernyataan puisi. Nilai puisi tersebut juga mampu memberikan manfaat bagi pembaca dalam rangka membentuk pandangan hidupnya, karena puisi sangat erat hubungannya dengan falsafah dan agama.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa puisi sebagai salah satu karya seni memberikan gambaran kepada para pendengar, pembaca dan penikmat akan maksud dan nilai yang ada pada bait yang diungkapkan oleh penyair. Lalu dari beberapa definisi mengenai puisi oleh beberapa tokoh dapat ditarik benang merah bahwa garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya merupakan unsur-unsur yang berupa emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-campur yang dituangkan pengarang (penyair) dalam prosesnya.

Hakikat Puisi

Struktur fisik puisi adalah medium untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan penyair. I.A. Richard menyebut makna atau struktur batin itu dengan istilah hakikat puisi, ada empat unsur hakikat puisi, yakni: tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention). Keempat unsur itu menyatu dalam wujud penyampaian bahasa penyair.

  1. Tema

    Merupakan gagasan pokok atau subject-matter yang di kemukakan penyair. Pokok pikiran atau pokok persoalan itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Jika desakan kuat itu berupa hubungan antara penyair dengan Tuhan, maka puisinya bertema ketuhanan. Jika desakan yang kuat berupa rasa belas kasih atau kemanusiaan, maka puisi bertema kemanusiaan. Jika yang kuat adalah dorongan untuk memprotres ketidakadilan, maka tema puisinya adalah protes atau kritik sosial. Perasaan cinta atau hati yang kuat juga dapat melahirkan tema cinta, atau tema kedukaan hati karena cinta. Latar pengetahuan mempengaruhi penafsir-penafsir puisi untuk memberikan tafsiran tema yang sama bagi sebuah puisi, karena tema puisi bersifat lugas, obyektif, dan khusus.

    Tema puisi harus dihubungkan dengan penyairnya, dengan konsep-konsepnya yang terimajinasikan. Oleh sebab itu tema bersifat khusus (penyair), tetapi obyektif (bagi semua penafsir), dan lugas (tidak dibuat-buat).

  2. Perasaan (feeling)

    Perasaan penyair dalam menciptakan puisi ikut diekspresikan dan ikut dihayati pembaca. Tema yang sama akan dituturkan perasaan penyair secara berbeda, sehingga hasil puisi yang diciptakan berbeda pula. Menghadapi tema keadilan sosial atau kemanusiaan, penyair banyak menampilkan kehidupan pengemis atau orang gelandangan.

  3. Nada dan Suasana

    Apabila ada seseorang bicara, kita menagkap apa yang dibicarakan dan suara bicara kadang-kadang meninggi-merendah (nadanya), mengeras-melembut (tekanannya) atau mencepat-melambat (temponya). Selain itu jiga kita menangkap bagaimana sikap pembicara terhadap apa yang dibicarakannya.

    Penyair mempunyai sikap tertentu dalam menuliskan puisi, apakah dia ingin bersikap menggurui, menasehati, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca. Sikap penyair kepada pembaca ini disebut nada puisi. Sering kali puisi bernada santai karena penyair bersikap santai kepada pembaca. Hal ini dapat kita jumpai dalam puisi-puisi mbeling. Jika nada merupakan sikap penyair kepada pembaca, maka suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. Sikap pencipta yang dapat kita tangkap dari sajak, cerita atau drama disebut nada.

    Jika kita bicara tentang sikap penyair, maka kita berbicara tentang nada, jika kita berbicara tentang suasana jiwa pembaca yang timbul setelah membaca puisi, maka kita berbicara tentang suasana. Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya.

    Nada duka yang diciptakan penyair dapat menimbulkan suasana iba hati pembaca. Nada kritik yang diberikan penyair, dapat menimbulkan suasana penuh pemberontakan bagi pembaca. Nada religius dapat menimbulkan suasana khusyuk.

  4. Amanat (pesan)

    Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair dapat ditelaah setelah kita memahami tema, rasa, dan nada puisi itu. Tujuan atau amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisi. Amanat tersirat dibalik kata-kata yang disusun, dan juga berada dibalik tema yang diungkapkan.

    Ahmadun Yosi Herfanda berpendapat bahwa karya sastra yang bagus memang tidak hanya memancarkan pesona estetik (keindahan) tetapi juga mampu memberikan pencerahan batin dan intelektual kepada para pembacanya. Dalam bahasa pers ia mampu membangun semacam opini publik. Jika bangunan publik itu menguat dan meluas, maka dari situlah proses perubahan social-budaya dapat digerakkan.

    Berdasarkan tujuan penciptaannya karya sastra dapat dikelompokkan ke dalam empat orientasi, yaitu :

    • Karya sastra sebagai tiruan alam atau penggambaran alam.
    • Karya sastra sebagai media untuk mencapai tujuan tertentu pada pembacanya.
    • Karya sastra sebagai pancaran perasaan, pikiran, ataupun pengalaman sastrawannya
    • Karya sastra sebagai sesuatu yang otonom, mandiri, lepas dari sekelilingnya, pembaca maupun pengarangnya.

Sebenarnya apapun orientasi penciptaan karya sastra, karena merupakan suatu sistem tanda yang menyimpan makna, maka ia akan memiliki kemampuan yang tersembunyi (subversif) untuk mempengaruhi perasaan dan pikiran pembacanya. Banyak orang misalnya, meyakini bahwa karya-karya besar seperti Max Havelar (Multatuli), Uncle tom Cabin (Beecher Stower), dan sajak-sajak Rabindranat Tagore telah menginspirasi perubahan sosial di lingkungan masyarakat pembacanya masing-masing. Max havelar menginspirasi gerakan politik etis di Hindia Belanda, sajak-sajak Tagore mendorong gerakan pembebasan bangsa India dari penjajahan Inggris, dan Uncle Tom Cabin menginspirasi gerakan anti perbudakan di Amerika Serikat. Dapat disebut juga sajak-sajak cinta tanah air Mohammad Yamin dan Ki Hajar Dewantara yang ikut memupuk rasa kebangsaan anak-anak muda generasi 1920-an dan 1930-an, serta sangatlah mungkin menjadi sumber inspirasi lahirnya Sumpah pemuda.

Dari pandangan bahwa sastra sebagai sumber inspirasi untuk perubahan sosial-budaya, maka dapat dipahami bahwa sastra sebenarnya mempunyai orientasi pada kebermanfaatan, yaitu sebagai media pencerahan dan pencerdasan masyarakat.

Referensi
  • Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta :Balai Pustaka, 1991)
  • Rahmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005).
  • Aminuddin, Pengantar Apresiasi Karya Sastra, (Bandung: Sinar baru Algesindo, 2004), Cet. V.
  • A. Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta Pusat: PT Dunia Pusaka Jaya, 1984).
  • Siswantoro, Metode Penelitian Sastra, Analisis Struktur Puisi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010)
  • Herman J. Waluyo, Teori dan Apresiasi Puisi, (Jakarta: Erlangga, 1997).
  • S. Effendi, Bimbingan Apresiasi Puisi, (Jakarta: Penerbitan Nusa Indah-Percetakan Arnoldus, Cet.II 1974).
  • Ahmadun Yosi Herfanda, Antara Kecendikiaan dan Budaya Berkarya, (Makalah untuk Symposium Pemberdayaan Ummat, ICMI Orsat Kairo, di Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar, Kairo, 19 April 2002)

(mandala aditya) #5

Secara etimologis istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poites, yang artinya membangun, pembentuk, pembuat. Dalam bahasa latin dari kata poeta, yang artinya membangun, menyebabkan, menimbulkan, dan menyair. Dalam perkembangan selanjutnya, maka kata tersebut menyempit menjadi hasil seni sastra yang kata-katanya disusun menurut syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang kata kiasan (Sitomorang, 1983).

Puisi adalah susunan kata-kata yang dipilih dan dirangkai untuk menimbulkan efek dan daya sentuh, tentunya dengan maksud yang lebih luas. Kata-kata atau lebih luas lagi bahasa, sesungguhnya memiliki kekuatan-kekuatan, daya pukau, dan daya sentuh yang luar biasa. Kekuatan-kekuatan inilah yang dieksplorasi penyair untuk mengungkapkan maksud dan gagasannya agar dapat menyentuh perasaan, imajinasi, dan pikiran pembacanya. Dengan pemilihan kata-kata, dengan penggunaan majas, dengan eksplorasi bunyi, dengan penggambaran-penggambaran yang seolah bisa diindera pembaca, dengan susunan struktur dan kata-kata yang menimbulkan irama dan tempo yang dikehendaki, dan dengan berbagai potensi-potensi atau kekuatan-kekuatan bahasa lainnya.

Puisi merupakan hasil penafsiran penyair terhadap kehidupan (Aisyah, 2007).

Menurut Kosasih (2012), puisi adalah bentuk karya sastra yang menggunakan kata-kata indah dan kaya makna. Keindahan sebuah puisi disebabkan oleh diksi, majas, rima dan irama yang terkandung dalam karya sastra itu. Adapun kekayaan makna yang terkandung dalam puisi disebabkan oleh pemadatan segala unsur bahasa. Bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan yang digunakan sehari-hari. Puisi menggunakan bahasa yang ringkas, namun maknanya sangat kaya. Kata-kata yang digunakannya adalah kata-kata konotatif yang mengandung banyak penafsiran dan pengertian.

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang pendek dan singkat yang berisi ungkapan isi hati, pikiran, dan perasaan pengarang yang padat yang dituangkan dengan memanfaatkan segala daya bahasa secara pekat, kreatif, dan imajinatif. Secara bebas dapat dikatakan bahwa puisi adalah karangan yang singkat, padat, pekat (Suroto,1989).

Puisi merupakan karya sastra yang terikat ketentuan atau syarat tertentu dan pengungkapannya tidak terperinci, tidak mendetail atau tidak meluas. Isinya tidak sampai pada hal-hal yang kecil dan tidak sejelas karya sastra berbentuk prosa. Karya sastra puisi merupakan bentuk karya sastra yang mengungkapkan hal-hal yang pokok dan pengungkapannya dengan cara pengonsentrasian, pemusatan dan pemadatan. Pengonsentrasian, pemusatan, dan pemadatan dari segi isi maupun dari segi bahasa.

  • Dari segi isi, pemusatan yaitu pengungkapan berpusat pada masalah yang pokok saja. Pemadatannya yaitu bentuk yang berupa larik-larik tetapi dapat mencakup peristiwa yang sangat luas dan sangat mendalam. Sedangkan, pengonsentrasiannya yaitu peristiwa tidak langsung diungkapkan tetapi adanya pemilihan kembali pada peristiwa yang akan diungkapkan.

  • Dari segi bahasa terdapat pula penghematan, pemadatan, dan pengonsentrasian serta pemusatan. Penghematan bahasa dalam arti penggunaan kata yang sangat mendukung atau sangat tepat untuk digunakan. Pemadatan bahasa dalam arti penggunaan kata tertentu dan terbatas dapat mewakili peristiwa yang luas dan mendalam. Sedangkan, pengonsentrasian dan pemusatan bahasa adalah adanya pertimbangan yang sangat masuk dalam menggunakan atau memilih kata (Zainuddin, 1991).

Puisi merupakan salah satu karya sastra yang menggunakan bahasa imajinatif. Ciri khas puisi karena kekuatan puisi terletak pada kat-katanya. Puisi sering juga menggunakan lambang-lambang untuk menambah kepuitisannya dan menggunakan berbagai macam majas.

Menurut Herman J. Waluyo (2003), menyatakan bahwa puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi rima dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif).

Puisi adalah ekspresi yang konkret dan yang bersifat artistik dan pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama. Puisi adalah ekspresi dari pengalaman yang bersifat imajinatif, yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau menyatakan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa yang memanfaatkan setiap wacana dengan matang dan tepat guna (Blair & Chandka).