Apa yang dimaksud dengan Psychological reactance theory?

image

Teori Psychological reactance menyebutkan bahwa manusia bereaksi atas segala upaya yang dapat mengurangi kebebasan atau pilihan mereka. Ketika kebebasan dan pilihan hilang atau terancam, hal tersebut dilihat sebagai hal yang diinginkan lebih daripada sebelumnya.

Sebagai contoh, ketika produk terlihat kurang tersedia, mereka menjadi lebih bernilai di benak konsumen.

Apa yang dimaksud dengan Psychological reactance theory ?

Reaktansi psikologi atau psychological reactance adalah sebuah kondisi dimana apabila suatu kebebasan individu terhambat, maka individu tersebut akan mengadakan suatu reaksi dengan berusaha menemukan kebebasan yang hilang tadi, yang digunakan untuk mecapai suatu tujuannya.

Reaktansi sendir berarti sebuah motif untuk melindungi atau memulihkan rasa kebebasan seorang individu. Reaktansi muncul ketika ada seseorang yang mengancam aksi kebebasan kita.

Sebagai contoh, seorang individu membeli produk bajakan dikarenakan beberapa kendala, antara lain harga yang tinggi atau tidak tersedianya produk.

Reaktansi psikologis adalah ‘keadaan motivasi yang diduga terjadi ketika sebuah kebebasan dihapuskan atau terancam dengan penghapusan”.

Reaktansi adalah "keadaan yang memotivasi (sesorang) pada pemosisian kembali ketikaterancam atau kebebasan(nya)direnggutn (Brehm)

Restorasi langsung atas kebebasan meliputi melakukan perbuatan terlarang. Selain itu, kebebasan dapat diperoleh kembali secara langsung dengan cara :

  • meningkatkan kemungkinan untuk pilihan yang terancam,
  • menyimpangkan sumber ancaman,
  • mengingkari adanya ancaman
  • menjalankan suatu kebebasan yang berbeda untuk memperoleh rasa pengendalian dan
    pilihan.

Empat unsur yang penting bagi teori reaktansi yaitu: kebebasan, ancaman terhadap kebebasan, reaktansi, dan restorasi kebebasan.

.Teori ini menitikberatkan pada sifat kebebasan,yang sedang terancam dan hasil yang mungkin terjadi dari adanya reaktansi (Rains, 201 3). Teori reaktansi psikologis memiliki sejarah yang panjang pada penelitian di bidang komunikasi yang persuasif (Burgoon, et al., 2002).

Berbeda dengan konstruk atau teori yang didesain untukmenjelaskan dan memprediksi bagaimana mempengaruhi atau mempersuasi akan sukses, teori ini sering digunakan untuk menjelaskan bagaimana pesan atau kampanye yang sangat persuasif tidak akan sukses (Hornik, et al., 2008; Ringold, 2002).

Pada intinya, ketika pesan yang digunakan secara sengaja mengancam kebebasan dari audiens yang dituju dan menciptakan reaktansi psikologis, maka :

  • audiens akan memulihkan kebebasannya dengan menjadikannya sebagai sumber penghinaan (Smith, 1977),
  • melakukan sesuatu yang berbeda dengan yang dianjurkan (Worchel & Brehm, 1970),
  • mempersepsikan bahwa perilaku atau obyek yang terkait dengan kebebasan yang terancam menjadi lebih menarik untuk dilakukan atau dimiliki (Hammock & Brehm, 1966).